Ada kalanya Uchiha Sasuke harus mengalami kegagalan, termasuk gagal gombal.
"SEKALI LAGI KAU MENGGOMBAL TIDAK AKAN ADA STOK TOMAT LAGI DI LEMARI ES-MU UNTUK SATU BULAN KE DEPAN, SASUKE-KUN!"
Uh oh, kenapa hari ini begitu menyebalkan?
.
.
allihyun presents
a SasuSaku Fanfiction
Psychologist
AU. Drabble. Typo(s). OOC. Gombal XD
DLDR is on term
Naruto and its chara © Masashi Kishimoto
Psychologist © allihyun
.
Part VI
Anxiety Disorder
Hari libur harusnya diisi dengan kegiatan bersantai, atau tidur seharian, atau mungkin pergi berkencan bagi yang sudah berpasangan. Tapi sepertinya hal itu tidak berlaku bagi seorang Uchiha Sasuke.
Tidak ketika dia sedang merasa ingin membobol tembok kamar birunya sekarang juga demi melampiaskan rasa kesalnya.
Salahkan Haruno Sakura karena telah membuat bungsu Uchiha itu sampai merasa begitu kesalnya hingga bisa membuat rambutnya raven birunya berubah menjadi merah menyala. Ah, merah. Warna itu membuat ingatan laki-laki bermata onyx itu berputar kembali menyalakan kaset memorinya pada kejadian tadi pagi.
Di mana pria dengan muka terganteng se-Konoha (versi fangirls-nya, tentu saja) itu ditolak mentah-mentah ketika sedang mempunyai niatan baik mengantar gadisnya untuk berangkat ke tempat observasi modifikasi perilaku di yayasan tunadaksa yang jauhnya hanya sekitar sepuluh menit jalan kaki dari apartemennya. Pupus sudah rencananya untuk memperketat 'perlindungan'nya terhadap gadis musim semi itu dari tatapan sexy milik Sabaku no Gaara, pria berambut merah yang dulu sempat membuat Sasuke ingin menelannya hidup-hidup. Pasalnya bungsu Sabaku itu pernah terang-terangan menyatakan perasaannya pada Sakura walau pun tahu Sakura sudah jelas-jelas resmi menyandang status Calon Nyonya Uchiha. Uh oh, pria mana yang tidak panas melihat pacarnya dilirik terang-terangan oleh rival gantengnya di kampus, eh? Sialnya lagi, kali ini Gaara lah yang menjadi partner sekelompok Sakura untuk tugas observasi ke yayasan. Hanya berdua. Catat itu. Berdua.
Memang tugas kali ini dibagi-bagi menjadi dua orang, sih, di setiap kelompoknya. Berterima kasih lah Sasuke pada kertas undian yang memasangkan dirinya dengan Naruto—lagi-lagi Naruto—dan Sakura dengan Gaara. Ingin tukar pasangan, tapi Sakura bersikeras kalau itu terlalu kekanak-kanakan. Toh gadis itu memang tidak ada rasa khusus pada Gaara, Sasuke bisa jamin itu. Tapi Gaara? Melihat senyum dikulum laki-laki beralis botak itu saat mengetahui hasil undian sudah membuat otak kanan Sasuke mengarang cerita 'indah' di luar kendalinya. Ditambah lagi Sakura lebih memilih berangkat bersama Gaara ke tempat observasi dengan alasan Gaara sudah lebih dulu berdiri di depan pagar rumah Sakura, sementara Sasuke tengah memakai sepatu di apartemen pribadinya. Intinya, Sasuke keduluan Gaara.
"Ck, kenapa Sakura belum menghubungiku juga sih?" gerutu Sasuke pada ponsel touchscreen hitamnya. Yah sebagai ganti tidak bisa mengantar, Sasuke menuntut Sakura untuk menghubunginya kalau sudah sampai di tempat. Tapi sudah satu jam berlalu tanda panggilan masuk atau email dari si pinky itu belum ada yang muncul.
Geram, Sasuke mulai mencoba menghubungi Sakura duluan. Ditekannya speed dial angka satu dan mendengar nada tunggu menggaung dari sebelah sana. Ditunggu beberapa saat, masih saja nada tunggu yang berakhir dengan bunyi tut-tut-tut yang menyahutnya. Panggilannya tidak diangkat. Sasuke mengernyit tidak suka melihat ponselnya. Bibir tipisnya mendesah pelan, lalu diulangnya lagi percobaan yang sama dan mendapatkan hasil yang sama juga. Panggilannya terabaikan.
Otak kanan Sasuke lagi-lagi bekerja di luar kendalinya. Bayangan Sakura sedang tertawa-tawa sambil saling berbisik dengan Gaara ketika observasi membuatnya kembali merasakan akar-akar rambutnya seolah bisa terbakar. Sambil sebelah tangan mengetuk-ngetukkan jari di meja, sebelah tangan lagi Sasuke mulai mengetikkan email dengan diksi yang menggambarkan tidak sabar menunggu telepon dari Sakura.
"Sedang apa? Sudah sampai? Panggilan dariku kenapa tidak diangkat? Bls."
Yakin dengan apa yang ditulisnya, Sasuke menekan send ke di layar ponselnya. Kali ini tidak butuh waktu lama untuk menunggu balasan dari Sakura. Selang satu menit sudah ada balasan dari anak gadis tunggal keluarga Haruno itu.
"Aku sudah sampai Sasuke-kun, maaf tidak bisa mengangkat aku sedang observasi dengan Gaara-kun sekarang, tidak bisa angkat telpon. Gomennasai."
Sekali lagi Sasuke merasa rambutnya akan habis terbakar api merah. Sufiks –kun yang digunakan Sakura untuk memanggil Gaara membuatnya ingin langsung melesat ke tempat mereka observasi dan segera membentengi Sakura dari jangkauan pria bertatoo kanji Ai itu. Bisa-bisanya Sakura menyamakan sufiks panggilan untuknya dan Gaara.
"Kalau panggil alis botak itu tidak usah pakai kun kun segala!"
Send.
Tring-tring. Email masuk, dari Sakura lagi.
"Aku sudah terbiasa memanggil Gaara-kun seperti itu, Sasuke-kun."
Alis Sasuke berkedut. Terbiasa katanya, huh?
"Kubilang jangan pakai kun!"
Send.
Kali ini tidak ada balasan.
"Saku?"
Send.
Masih tidak dibalas.
"Hei, kau tidak sedang macam-macam dengan mata panda kan?"
Send.
Tetap tidak ada balasan.
"Katakan, kau sedang apa sekarang?"
Send.
Hasilnya tetap nihil. Sakura tetap tidak membalas emailnya kali ini. Padahal bayangan-bayangan liar di kepala Sasuke makin menjadi-jadi. Sekarang di kepalanya penuh dengan gambaran Gaara yang tersenyum gentle dan Sakura yang entah kenapa tersipu-sipu malu dengan pipi semerah tomat tercintanya yang minta dilahap. Jangan tanya kenapa Sasuke bisa berkhayal sejauh itu. Logikanya sedang macet sekarang. Pria beriris kelam itu memandang cemas ke arah jam dinding birunya dan kemudian kembali menyambangi ponsel hitamnya. Mencoba menghubungi ponsel Sakura melalui panggilan. Dan kali ini—
—di reject. Reject. Reject. REJECT?
"Demi segala tomat yang ada di lemari es-ku! Apa yang sebenarnya sedang kau lakukan Sakura? Kau membuatku menderita anxiety disorder secara mendadak! Tanggung jawabmu segera aku tunggu!"
Send.
Tring-tring.
"Jangan mengarang-ngarang cerita lagi Sasuke-kun, aku dan Gaara-kun sedang sibuk nih!"
Sasuke semakin menautkan kedua alis hitamnya, jidatnya sampai menimbulkan kerutan abstrak ketika membaca email terakhir dari Sakura barusan. Sibuk katanya? Dengan Gaara-kun? –kun? Gadis itu masih berani menambah sufiks –kun? Sibuk seperti apa yang dia maksud sebenarnya? Ah, Sasuke mulai kembali kehilangan kendali otak kanannya.
"Kau sibuk aku merana. Aku serius kena anxiety disorder, Sakura! Aku cemas ada apa-apa denganmu, rasanya tidak tenang tahu kau dengan si mata panda itu, otakku tidak bisa berhenti memikirkanmu, kalau saja teleportasi itu nyata, aku sudah ada di depanmu sekarang! Kutunggu tanggung jawabmu! Obati anxiety disorder-ku!"
Sasuke tersenyum miring. Amat sangat yakin dengan isi email terakhirnya. Sakura tidak pernah bisa mengelak dari kata-kata manis. Dan Uchiha Sasuke—walau pun benci manis—bukan berarti tidak bisa berkata manis. Apa pun bisa dia lakukan, asalkan Sakura mau mengalihkan atensi padanya.
Seperti sekarang. Saat dengan senyum penuh kemenangan Sasuke mengangkat panggilan masuk dari Sakura. Pria Uchiha itu berdehem pelan sebelum bersiap meluncurkan rentetan protes yang tertahan di ujung lidahnya. Namun belum lagi bibir tipis itu terbuka, gendang telinganya sudah menerima sambutan berupa—
"SEKALI LAGI KAU MENGGOMBAL TIDAK AKAN ADA STOK TOMAT LAGI DI LEMARI ES-MU UNTUK SATU BULAN KE DEPAN, SASUKE-KUN!"
—teriakan murka dari Calon Nyonya Uchiha di seberang sana. Tanpa sempat Sasuke membalas, panggilan itu sudah terputus dengan iringan bunyi 'prakk' dan tut-tut-tut yang panjang.
Sasuke melongo. Baru kali ini siasat gombalnya gagal. Ditambah lagi ancaman Sakura untuk menghabisi stok tomatnya untuk sebulan mendatang. Uh oh, kenapa hari ini begitu menyebalkan?
Sasuke kembali menggeram. Dengan sekali gigitan dihabiskannya separuh lebih bagian tomat yang ada di tangannya. Sudah pasti dirinya yang awalnya sudah kesal jadi bertambah kesal.
Untuk kali ini, Uchiha Sasuke gagal menggombal.
.
.
Padahal, kalau saja Sasuke tahu. Di seberang sana, Sabaku no Gaara tengah terheran-heran melihat muka Haruno Sakura yang tidak henti-hentinya tersipu malu ketika melihat layar ponselnya.
Uh oh, ada apa gerangan dengan rekan sekelompoknya itu?
===udah===
Anxiety disorder = adalah gangguan kecemasan yang paling umum dan sering terjadi berupa gangguan mental yang diwujudkan dalam bentuk perilaku yang berbeda daripada biasanya. Biasanya timbul karena adanya dorongan emosi dan suasana hati (Fobia termasuk salah satu jenis anxiety disorder)
Halooo minaaa, saya balik lagi mengisi drabble yang keluar jalur (?) ini. Hehe. Part kali ini tentang anxiety disorder, gimana Akasuna no ei-chan? Sesuai harapan kah. Gomen kalau aneh -..-
Part ini lebih panjang dari yang lainnya yah? Heumm, tadinya mau bikin yang pendek aja. Sebenernya sih adegannya pendek tapi entah kenapa pas diketik malah jadi panjang (?). haha, yasudah lah. Tetep mohon kritik dan sarannya yah buat semuanya, terutama buat chapter yang panjang lebih dari biasanya ini =="
Btw, mau tanya. Sebenernya drabble yang baik dan bener itu kaya gimana yak? Maksudnya ada ketentuan tertentu atau gak? Kalau yang kayak gini termasuk kumpulan drabble atau ficlet? *masih susah bedain* hehe.
Special thanks buat yang udah review chapter kemaren:
dheeviefornaruto19, Hima Sakusa-chan, emerallized onyxta, desypramitha2, Ramen panas, skyesphantom, NaNo Kid, Brown Cinnamon, hanazono yuri, Dypa-chan, akasuna no ei-chan, Sakumori Haruna, UchiHarunoKid, Neko Darkblue, aguma
mind to RnR again? Gracias Amigos ! XD
see ya next part :D
story only= 1104word
250613, stillwithabunchoftask
-allihyun.
