"Alexythimia sialan!"
.
.
allihyun presents
a SasuSaku Fanfiction
Psychologist
AU. Ficlet(s). Typo(s). OOC. Gombal XD
DLDR is on term
Naruto and its chara © Masashi Kishimoto
Psychologist © allihyun
.
Part IX
Alexythimia
Bagi Uchiha Sasuke bicara soal perasaan, kasih sayang, cinta atau hal apapun yang berkaitan dengan emosi tidak harus disampaikannya dengan kata-kata. Ada hal-hal lain yang bisa dia tunjukkan untuk memberi tahu orang lain tentang apa yang dirasakannya. Orang lain yang dia maksud adalah semua orang, termasuk Sakura.
Seperti saat ini, misalnya.
Saat Sasuke hanya dihadapkan pada punggung Sakura yang tertelungkup sepenuhnya di atas sofa apartemennya dengan muka sepenuhnya tenggelam dalam pelukan bantal sofa biru-nya. Terdengar suara tangis Sakura yang tersamarkan oleh bantal yang menutupi wajahnya. Gadis itu belum berganti dari posisinya sejak tiga puluh menit yang lalu, membuat Sasuke yang dari awal tidak mengerti sepenuhnya apa yang tengah terjadi hanya bisa menepuk-nepukkan tangannya pada bahu Sakura.
Mata jelaganya terlihat lebih gelisah daripada biasanya, tapi toh pemuda itu tidak bisa mengeluarkan kata. Selain karena tidak tahu masalah awalnya apa (Sakura sudah berurai air mata saat memencet bel apartemennya dan langsung menghambur masuk memeluk bantal sofanya begitu Sasuke membuka pintu, pemuda itu bahkan belum sepenuhnya sadar dari tidur kilatnya), lagipula Sasuke tidak pandai dalam mengucapkan kata-kata hiburan. Menghibur tidak termasuk dalam daftar keahliannya.
Jadi, dari segala hal yang bisa dilakukannya adalah menepuk-nepuk punggung kekasihnya itu dan menyiapkan sekotak tissue di depan mereka. Setidaknya dia paham kalau seorang gadis pasti butuh tissue untuk menyeka air mata dari wajah mereka. Ini adalah usaha terbaik yang bisa dilakukannya saat ini.
Beberapa saat kemudian Sakura akhirnya mengalihkan posisinya. Gadis itu terlihat berantakan dengan bekas aliran air mata menjelajah wajahnya ditambah rambutnya yang terlihat kusut dan lengket di beberapa sisi wajahnya. Mata hijaunya menyorot Sasuke dengan pandangan marah yang kentara.
"Sasuke-kun, kau berengsek!"
"AP- hei, aku bahkan tidak tahu kenapa kau menangis dan sekarang kau mengataiku berengsek?"
"Kauyakin kau sungguh tidak tahu? Atau kau sedang berusaha membodohi dirimu sendiri, ha?" Kali ini bahkan Sakura menatap lurus langsung pada bola mata Sasuke di depannya. Yang dipandang hanya bisa meneguk ludahnya, gelisah. Sesungguhnya, Sasuke merasa kurang yakin dengan apa yang dimaksud Sakura. Pemuda itu merasa tidak pernah melakukan sesuatu yang sekiranya dapat membuat gadis di depannya ini bisa marah bahkan sampai menangis.
Kecuali, kecuali—
"Apa ini soal studiku ke Columbia?"
Sakura tidak berbicara lagi, tangannya mencengkeram lengan baju Sasuke dengan kencang , bibirnya membentuk garis lurus tipis, air matanya kembali mengalir.
"Kautahu aku bukan gadis cengeng yang suka menangis, tapi kau selalu membuatku menangis dengan cara yang bodoh seperti ini, baka! Kenapa kau tidak pernah bilang padaku soal kelanjutan studimu ini, ha? Kau pikir aku ini apamu, sih? Masa iya aku harus tahu kabar ini dari gadis penggosip kampus yang jadi fans setiamu itu! Sasuke-kun, aku ini apamu, ha?" Sedu sedan mengiringi setiap kalimat yang meluncur dari bibir Sakura. Tangan gadis itu kini dipekerjakan untuk memukul-mukul lengan Sasuke dengan tenaga yang sia-sia.
Sasuke memijat keningnya, tiba-tiba saja merasa lelah. Bukan maksudnya untuk merahasiakan ini dari Sakura, hanya saja Sasuke ingin memberitahunya di waktu yang tepat. Sebenarnya, jauh, jauh sebelum Sasuke akhirnya mendapat lisensi untuk studi S2 Psikologi di Columbia, mereka pernah membicarakan hal ini. Hanya sebagai wacana, dan mereka tidak pernah mendiskusikannya lagi.
Sampai akhirnya beberapa waktu lalu Sasuke mendapat kesempatan untuk mengajukan aplikasinya ke Columbia University melalui jalur khusus, pemuda itu mengikutinya, tanpa memberi tahu Sakura. Dengan rencana awal dia akan memberi tahu Sakura ketika hasilnya sudah keluar. Sayangnya, niatnya sudah didahului oleh orang lain.
"Apa kau takut aku akan menghalangi kepergianmu, begitu? Kaupikir aku sepicik itu?"
Sasuke kembali menggeleng.
"Atau kaumau memberiku kejutan, ha? Selamat Uchiha Sasuke, aku sekarang terkejut! Pacarku kurang dari dua minggu lagi akan segera pergi ke lain benua, selama entah berapa tahun, dan aku baru tahu hari ini, dari orang lain. Sasuke-kun, kau sungguh pacar yang baik!"
Dalam satu tarikan Sasuke membawa Sakura dalam pelukannya. Membiarkan gadis itu memukul-mukul dada bidangnya yang hanya berlapiskan kaos dengan irama yang lemah. Sasuke membiarkan gadisnya itu mengungkapkan perasaannya itu semaunya. Dalam hatinya, Sasuke merutuki ketidakmampuannya untuk berkata-kata pada situasi krusial seperti ini. Padahal, lidahnya sudah kelu ingin mengucapkan kata-kata yang sekiranya mampu membbuat Sakura lebih tenang. Tapi, apa daya, tak ada satu silabel kata apapun yang meluncur dari bibirnya.
Alexithymia sialan!
Frustrasi dengan dirinya sendiri, Sasuke mengangkat wajah Sakura dalam cakupan tangannya, kemudian membawanya dalam ciuman yang panjang dan sarat emosi.
Berharap permintaan maafnya, penyesalannya dan juga rasa sayangnya bisa tersampaikan lewat ini.
===udah===
Alexythimia : ketidakmampuan seseorang untuk mengekspresikan sekaligus mendeskripsikan perasaannya melalui kata-kata.
Hai halo, maaf yah yang ini gak gombal tapi galau XDDD di sini lagi panas soalnya hwhwhw thanks for reading btw ;)
Story only= 707words
211014, kepanasanXD
-allihyun.
