Akhirnya saya update juga... Udah, langsung baca aja dan moga nggak mengecewakan, ya! :D
Disclaimer: Vocaloid selama-lamanya bukan punya saya.
Rin POV
Malam ini udaranya sangat dingin. Padahal hujan sudah berhenti sejak tadi sore, sampai-sampai aku memakai jaket bermotif jeruk kesayanganku.
Saat ini aku sedang tidur-tiduran di atas tempat tidurku yang empuk. Toh, makan malam sudah selesai. Ayah juga sudah pulang kerja dan sekarang ayah sedang bersama ibu di ruang tengah. Mereka biasa menonton acara hiburan di sana. Kalau Len mungkin ada di kamarnya soalnya setelah makan malam selesai, Len langsung pergi ke kamarnya. Len memang akan tinggal di sini, di rumahku. Tidak tahu sampai kapan.
Semakin lama udaranya semakin dingin saja, padahal jendela kamarku sudah ditutup rapat-rapat.
"Hachoo!"
Aku pun bersin saat itu. Tiba-tiba aku melihat Len berdiri di mulut pintu kamarku sambil memakai jaket bermotif pisang dan syal yang melingkar di lehernya. Sejak kapan dia ada di situ?
"Kedinginan, Rinny?" tanya Len.
Aku mengangguk pelan. Len pun masuk ke kamarku dan duduk di pinggir tempat tidurku.
"Mau apa kau ke kamarku?" tanyaku.
"Hanya ingin melihatmu, Rinny~" jawab Len.
"Terserah…" Ucapku sambil memalingkan wajahku. Len hanya terkekeh pelan.
"Hachoo!" Aku bersin lagi. Aku pun mencoba menggosok-gosokkan telapak tanganku untuk menghangatkan diri. Yah, itu memang hangat tapi aku masih tetap kedinginan.
"Dingin sekali~" ucapku.
"Pakai saja syal milikku, ini!" Ucap Len sambil melepas syal yang dipakainya dan memakaikannya padaku.
"Eh, tidak usah! Kau juga pasti kedinginan!"
"Aku hanya tidak mau kau sakit, Rinny."
"Baiklah, terserah kau saja!"
Aku pun menenggelamkan wajahku di syal milik Len yang aku pakai. Rasanya hangat dan tercium sedikit harum pisang.
CKLEK
Tiba-tiba saja pintu kamarku dibuka seseorang. Ternyata itu ibu.
"Di sini rupanya kau, Len. Barusan tante pergi ke kamarmu tapi kau tidak ada di dalam." Ucapnya pada Len. Mencari Len, toh?
"Ah, tante. Ada perlu apa mencariku?" tanya Len.
"Tidak, hanya mau mencek keberadaanmu dan juga Rin. Ngomong-ngomong kenapa Len pakai baju tebal-tebal seperti itu?" tanya ibuku pada Len.
"Aku alergi dingin, tante." Jawab Len.
"Eh, Len alergi dingin?" tanyaku tiba-tiba.
Len mengangguk sebagai jawaban 'iya'.
"Kenapa bisa sama? Toh, aku juga alergi dingin!" Ucapku.
"Mungkin kita berjodoh, Rinny~" goda Len.
"Kau menyebalkan!"
"Hahaha! Kalian ini lucu sekali, ya!" Ucap ibuku sambil tertawa. Memang ini lucu?
"Tidak. Kenapa ibu tertawa?" tanyaku sambil mengembungkan kedua pipiku.
"Itu karena kalian berdua lucu. Uhm, ini sudah malam. Ibu mau tidur dulu, ya! Oyasumi~" ucap ibuku sambil menutup pintu kamarku dari luar lalu pergi.
"Heh, kau!" Ucapku pada Len setelah ibu pergi.
"Apa?"
"Kenapa kau tidak bilang kalau kau alergi juga, huh?"
"Aku tidak tahu, Rinny." Ucap Len sambil menggeleng.
"Huh! Baiklah!" Ucapku sambil mendengus.
"Kenapa kau begitu marah, Rinny?" tanya Len.
"Tidak ada jawaban! Nih! Aku kembalikan syal milikmu!" Jawabku sambil melepas syal milik Len dan mengembalikannya.
"Kenapa!?" tanya Len.
"Hachoo!"
Belum sempat aku menjawabnya, aku bersin. Lalu aku merasa ada cairan dingin dan kental keluar melalui hidungku.
"Ah, sial… Mimisan lagi…" Gumamku sambil menyentuh cairan kental itu dengan jari telunjukku. Setiap kali aku kedinginan, hal ini pasti selalu terjadi.
"Ah, kau mimisan." Ucap Len tiba-tiba.
Len segera berjalan mengambil tisu di atas meja belajarku lalu kembali duduk di pinggir tempat tidurku dan mulai membersihkan mimisan di hidungku.
"Len, kau tidak perlu melakukannya. Aku bisa sendiri," ucapku.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin membantumu, Rinny." Ucap Len sambil terus membersihkan mimisanku.
Kenapa dia perhatian sekali padaku? Apa dia suka padaku?
"Kenapa kau perhatian sekali padaku, Len?" tanyaku.
"Karena aku…" jawab Len menggantungkan kalimatnya.
"Karena apa?"
"Karena aku s-" kalimat Len segera terpotong oleh pintu kamarku yang tiba-tiba saja dibuka. Itu Luki atau ayahku.
"Ayah?" ucapku.
"Rin, ayah kira kau sudah tidur." Ucap ayahku.
"Belum ayah… Rin kedinginan, nih." Ucapku.
"Sudahlah… Ini sudah malam. Kalian cepat tidur saja sana, oyasumi." ucap ayahku sambil menutup pintu kamarku lalu pergi.
Setelah itu aku pun menatap Len yang masih duduk di pinggir tempat tidurku.
"Kenapa kau masih di sini? Sudah tidur sana!" Suruhku padanya.
"Tapi Rin-"
"Ini sudah malam, kita teruskan saja bicaranya besok." Ucapku sambil mendorong Len keluar kamar lalu menutup pintu kamarku rapat-rapat.
Pagi-pagi sekali aku berangkat ke sekolah. Itu karena aku ada jadwal piket, kalau aku telat atau tidak piket bisa-bisa aku dihukum atau didenda sama ketua kelas. Ketua kelasku itu Hatsune Miku. Meskipun dia itu teman dekatku, tapi dia bukan termasuk orang yang pilih kasih. Jadi, aku akan tetap dihukum atau didenda.
"Bagus, Rin! Kau datang sangat pagi!" Ucap Miku riang ketika aku sampai di kelas.
"Itu semua berkat kau juga, Miku." Ucapku.
"Haha, sudah cepat piket sana!" Suruh Miku padaku.
Aku pun langsung menjalankan perintah Miku. Menyapu lantai, mengepel lantai, membuang sampah, dan lain-lain.
"Hhhhh, dimana yang lainnya? Kenapa dari tadi aku terus yang bekerja!" Aku mulai kesal karena yang lainnya tidak membantuku bekerja, terutama Neru. Dari tadi dia sibuk dengan ponsel barunya.
"Heh, kau!" Teriakku pada Neru.
"Apa, huh?" tanya Neru sambil memandangku sinis.
"Setidaknya kau bantu aku piket! Kau tidak lihat apa? Aku lelah melakukan semuanya sendirian!" Ucapku dengan kesal.
"Aku sudah piket, kok." Ucap Neru dengan santai sambil terus memainkan ponselnya.
"Mana buktinya?" tanyaku.
"Miku." Jawab Neru sambil menunjuk Miku.
"Miku, apa benar yang dikatakan oleh Neru?" tanyaku langsung pada Miku.
"Uhm… I-Iya." Jawab Miku yang kelihatannya ragu-ragu. Aku rasa ada yang aneh dengannya…
Aku pun menatap Neru tajam.
"Apa yang telah kau lakukan pada Miku?" tanyaku. Neru hanya tersenyum sinis.
"Hanya mengancamnya untuk menurunkan jabatannya sebagai ketua kelas. Itu saja~" Neru kemudian menjawab.
"Rin…" Aku bisa mendengar Miku memanggilku dengan cemas.
"Miku! Seharusnya kau ini tidak lemah! Kalau kau memang tidak mau diturunkan jabatannya, lawan dia! Jangan takut akan ancamannya!" Aku setengah berteriak pada Miku.
"Sudahlah, Rin. Aku tahu aku itu lemah… Tapi, aku… Aku sangat menyukai jabatanku sebagai ketua kelas. Hiks!" Miku pun menangis.
Aku memang benci pada Neru. Dia selalu berbuat jahat pada Miku. Mentang-mentang Miku itu lemah, jadi Neru bisa seenaknya saja mempermainkan Miku. Aku lelah terus membela Miku, aku ingin dia berubah menjadi seorang yang pemberani.
Sekarang aku sudah terlalu berlebihan. Aku sudah membuatnya menangis. Aku mau minta maaf padanya karena aku merasa bersalah.
"Miku, maafkan aku…" Ucapku sambil langsung memeluknya.
"Hiks… Iya… Rin…" Ucap Miku.
Saat itu juga Kiyoteru-sensei pun masuk ke kelas dan memulai pelajarannya.
.
.
.
Akhirnya pulang sekolah juga. Hari ini aku pulang bersama Miku, karena aku ingin mengajaknya mampir ke rumahku. Sekarang keadaan Miku sudah baikan. Dia sudah riang kembali seperti biasanya.
Aku dan Miku masih ada di perjalanan pulang. Rumahku hanya tinggal beberapa blok lagi.
"Nah, Rin! Ngomong-ngomong, kau sudah bertemu dengan tunanganmu?" tanya Miku.
"Sudah…" Jawabku.
"Hmm, bagaimana? Apa kau suka?" tanya Miku.
"Dari tampangnya sih keren, tampan. Tapi sifatnya itu yang menyebalkan." Jawabku.
"Haha! Kau ini lucu sekali, ya!" Miku pun menertawakan aku. Ada yang lucu?
"Kenapa? Ada yang lucu?"
"Tidak, kok. Ayo cepat sebelum sore!" Ucap Miku sambil menarik tanganku.
Beberapa menit kemudian, kami berdua pun sampai di rumahku.
"Aku pulang!" Teriakku sambil membuka pintu rumah.
Aku segera berjalan masuk ke dalam rumah diikuti Miku dari belakang. Saat di koridor rumah, aku melihat ibu sedang berbincang dengan seseorang di telepon.
Saat itu juga ibu menutup teleponnya.
"Telepon dari siapa, bu?" tanyaku.
"Dari Lola, ibunya Len." Jawab ibuku.
"Ibunya Len?"
"Iya, dia bilang dia mau ke Jepang menyusul Len, juga ayahnya." Ucap ibuku sambil tersenyum.
"Oh, begitu…" Ucapku ber'oh'ria.
"Rin, ibu bosan mendengar pertanyaan Len. Dari tadi dia bertanya kapan kau pulang berkali-kali!" Ucap ibuku.
"Dimana dia sekarang?" tanyaku.
"Di kamarmu." Jawab ibuku singkat.
"Ka-Kamar…"
Tanpa menunggu lama, aku langsung berlari dengan kecepatan inhuman menuju kamar.
"Rin! Tunggu aku!" Teriak Miku sambil mengikutiku dari belakang.
BRAK
Pintu kamarku dibuka keras-keras dan ternyata Len memang sedang ada di kamarku. Dia tidak sedang melakukan apa-apa, tapi dia sedang tidur sambil memeluk boneka pisang milikku. Awalnya boneka pisang itu ada di atas lemari. Ah, mungkin Len mengambilnya. Boneka pisang sebesar guling itu memang enak untuk dipeluk. Apalagi kalau sedang tidur.
Aku melangkah masuk ke dalam kamarku dan menyimpan tas sekolahku. Aku baru saja berpikir kalau Len melakukan hal-hal yang aneh di kamarku, tapi ternyata tidak.
"Rin, jadi ini tunanganmu?" tanya Miku sambil berjalan mendekat ke arah Len. Maksudnya untuk melihatnya lebih jelas.
"Iya," jawabku.
"Waaah, yang seperti ini kau bilang menyebalkan?" tanya Miku sambil terkekeh pelan.
"Memang berbeda jauh dari tampangnya…" Ucapku.
"Rin, ibu membawakan kalian minuman." Ibuku tiba-tiba datang membawa minuman. Jumlah minumannya ada tiga, mungkin yang satunya lagi untuk Len. Tapi dia kan sedang tidur.
"Sudah ya, ibu kembali ke dapur." Ucap ibuku lalu pergi.
Aku pun melihat Len yang sedang tertidur pulas di atas tempat tidurku. Kemudian aku berjalan mendekat ke arahnya dan duduk di samping tempat tidur.
"Rin, kau mau apa?" tanya Miku.
"Sssst!" Ucapku.
Aku mengeluarkan ponsel yang tersimpan di saku blazer sekolahku. Mencoba mengambil gambar Len yang sedang tidur.
KLIK
Aku segera menekan tombol 'ambil gambar' dan kemudian menyimpan gambar itu di galeri gambar.
"Rin, mau kau apakan gambar itu?" tanya Miku.
"Iseng saja." Jawabku.
Memang tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya suka saat Len sedang tidur, dia terlihat seperti seorang… Pangeran.
"Oh ya, Rin. Jangan sampai Neru tahu kalau kau punya tunangan…" Ucap Miku tiba-tiba.
"Kenapa?" tanyaku.
"Neru itu perusak hubungan orang. Aku sudah melihat semua perbuatan Neru dengan mata kepalaku sendiri, namun Neru mengancamku agar tidak memberi tahu siapa pun." Jelas Miku padaku.
Aku hanya ber'oh'ria.
"Jangan dianggap remeh. Waktu itu saja tunanganku dibatalkan, karena dia berubah menjadi membenciku, tidak tahu kenapa. Aku sangat sedih, padahal aku mencintainya. Sekarang dia ada di luar negeri, tepatnya di Amerika." Tambah Miku sambil menunduk dan hampir menangis.
"Jadi, dulu kau punya tunangan?" tanyaku tidak percaya.
Miku perlahan mengangguk.
"Kira-kira, siapa tunanganmu itu?"
"Naman-"
"Rin… Suka…" Tiba-tiba saja aku mendengar suara Len. Apa dia sudah bangun?
Aku menoleh ke arahnya dan aku pikir dia terbangun, tapi ternyata dia hanya mengigau saja.
"Kita teruskan nanti saja." Ucapku pada Miku.
Miku hanya mengangguk lalu melirik jam tangannya.
"Ah, sudah sore. Aku pulang dulu, ya!" Ucap Miku.
Aku mengangguk lalu mengantarnya sampai ke depan rumahku.
"Sampai ketemu besok, Rin!" Ucap Miku sambil melambai.
Aku membalas lambaiannya lalu kembali ke kamarku.
Len masih tertidur. Ini kan sudah sore. Tidak mungkin kan dia tidur terus. Aku pun terpaksa membangunkannya. Aku pun merangkak di tempat tidurku untuk membangunkannya.
"Len!" Ucapku sambil mengoyang-goyangkan tubuhnya.
Dia tidak bangun.
"Len, bangun!" Aku mencoba hal yang sama sekali lagi.
Len tetap tidak bangun. Dan sekarang dia malah merubah posisi tidurnya dan memelukku seolah aku ini adalah gulingnya.
"Len lepaskan aku!" Ucapku sambil berusaha lepas dari pelukannya. Kenapa dia kuat sekali, sih!
Aku baru menyadari sesuatu kalau wajahku sangat dekat sekali dengan wajahnya. Dan kenapa wajahnya semakin mendekat saja ke arahku? Apa Len benar-benar belum bangun atau sekarang dia sudah bangun, namun pura-pura tidur?
"Len, lepaskan aku!" Aku semakin meronta ingin dilepas. Namun Len tidak kunjung melepaskan pelukannya. Aku tahu kalau dia sudah bangun, sial! Aku dijebak!
Tiba-tiba saja aku merasakan sesuatu yang lembut di bibirku. Itu bibir Len. Dia menciumku. Ciuman pertamaku direbut olehnya? TIDAAAK! HANCURLAH HIDUPKU!
Ciuman itu berlangsung cukup lama dan semakin dalam saja. Aku hanya diam dan menutup mata karena aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Meskipun terkadang aku meronta ingin dilepas.
Hingga pada akhirnya, Len pun melepaskan bibirnya dari bibirku dan melonggarkan pelukannya sehingga aku pun melepaskan pelukannya dan langsung berdiri sambil menunjuknya.
"K-Kau! Cepat bangun sekarang juga! Aku tahu kau pura-pura tidur semenjak aku membangunkanmu!" Ucapku setengah berteriak.
Len pun perlahan membuka matanya dan tersenyum.
"Rinny sudah tahu rupanya~" ucap Len.
"Kau menyebalkan! Sangat, sangat menyebalkan!" Teriakku lagi.
"Aku tahu kau menyukainya~"
"Jangan bahas soal itu! Anggap saja kita tidak pernah melakukan apapun!"
Aku pun membawa boneka jeruk milikku dan langsung berjalan keluar kamarku.
Aku lebih memilih untuk tidur di sofa ruang tengah malam ini dari pada aku harus tidur di tempat tidurku yang baru saja di pakai oleh Len si menyebalkan itu.
"Rin, kenapa kau cemberut seperti itu?" tanya ibuku yang sedang menonton televisi di sana, di ruang tengah.
"Tidak kenapa-napa."
Aku pun duduk di sebelah ibuku sambil memeluk boneka jeruk yang aku bawa.
"Biasanya kau tidak seperti ini," ucap ibuku.
"Iy-" ucapanku terpotong secara tba-tiba ketika melihat sosok Len kini berada di mulut pintu ruang tengah.
"Ah, Len kemarilah!" Ibuku memanggil Len.
Aku hanya memalingkan wajahku sambil memasang muka sebal.
'Apa bisa aku menyukai atau jatuh cinta pada orang seperti itu?'
To Be Continued
Mau dilanjutkan lagi? Atau stop sampai di sini? Ada typo? Gaje? Review, ya! Makasih buat yang udah review! :D
