Hi hi! Rukia di sini! Udah update tapi nggak yakin bakal menarik! Haduh mengecewakan nggak ya? Udah deh, langsung ke disclaimer aja! Selamat membaca! ._.


Disclaimer: I will never own anything here.


Normal POV


Saat ini Rin sedang duduk di ruang tengah bersama Len dan Lily. Wajahnya cemberut, tidak seperti biasanya. Itu karena insiden barusan, sepertinya.

"Rin, kalau kau memang ada masalah cepat ceritakan pada ibu, ya?" ucap Lily sambil mengelus-elus rambutnya.

Rin tidak mau menjawab. Ia masih memalingkan wajahnya ke samping.

"Rin, kalau kau seperti ini terus ibu tidak akan membelikanmu jeruk lagi!"

"Biar saja…" Ucap Rin cuek.

Saat itu juga Lily mulai khawatir dengan Rin. Sebenarnya kenapa dia?

Lily pun menatap Len dengan wajah penuh kekhawatiran.

"Len, kau tahu masalahnya, kan?" tanya Lily sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya.

"Biar saja, tante Lily. Rin tidak apa-apa, kok…" Ucap Len santai.

"Yang benar? Kau tahu masalahnya?" tanya Lily masih khawatir.

Len mengangguk. "Biar aku yang selesaikan masalah ini,"

"Ah, tante mempercayaimu. Sekarang tante bisa tenang," ucap Lily sambil menghela nafas lega.

Lily pun melirik ke arah jam dinding.

"Ah, sudah jam enam sore. Sebaiknya tante buat makan malam dulu," ucap Lily sambil langsung memakai celemek lalu pergi ke dapur.

Tinggalah Rin dan Len di ruang tengah. Sepertinya Rin agak sedikit takut semenjak Lily atau ibunya pergi.

"Ah…" Gumamnya.

"Rin." Len mencoba untuk berbicara dengan Rin.

"Jangan dekat-dekat," ucap Rin tanpa menoleh atau menatapnya sedikitpun.

"Rin, kenapa kau jadi begini, sih? Oh, ayolah! Aku kan hanya menci-"

"Jangan bahas soal itu lagi! Aku benci kau!" Ucap Rin setengah berteriak sambil melempar boneka jeruk yang sedari tadi dipeluknya ke wajah Len, tapi Len berhasil menangkapnya.

"Uh, jadinya Rin marah…" Gumam Len.

Beberapa menit suasana di antara mereka hening.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Oh ya, kenapa kau panggil aku Rin? Bukankah kau selalu memanggilku dengan sebutan Rinny?" tanya Rin yang akhirnya menoleh ke arah Len.

"K-Kau menangis?" ucap Len ketika Len melihat wajah Rin yang sembab.

"Aku tidak butuh pertanyaan seperti itu. Sekarang aku ingin kau jawab pertanyaanku!" Ucap Rin sambil memalingkan wajahnya lagi dari Len. Menyembunyikan wajah sembabnya.

"Itu tidak penting. Sekarang jawab aku kenapa kau menangis?" tanya Len.

"Karena kau telah merebutnya!" Jawab Rin.

"Merebut apa?" tanya Len yang masih belum mengerti.

"Pikirkan olehmu sendiri!" Rin pun pergi meninggalkan Len ke kamarnya.


Rin merebahkan dirinya di atas tempat tidur kemudian menatap langit-langit kamarnya. 'Apa aku terlalu jahat? Tapi Len memang menyebalkan!' Pikirnya.

Rin sebelumnya memang tidak pernah bersikap seperti ini kepada teman-temannya, apalagi Miku. Mungkin ia hanya merasa kesal saja pada Len yang sepertinya memperlakukan Rin berbeda dari yang biasanya seorang teman lakukan. Bahkan Len sudah berani mencium Rin.

"Rin! Sabarlah!" Rin terus memaksa dirinya untuk tegar meskipun terkadang ia kesulitan melakukannya.

Tiba-tiba saja pandangannya tertuju pada ponsel kuning di sebelahnya.

"Ponsel siapa ini?" tanya Rin meskipun di ruangan itu hanya ada dirinya.

Rin pun mengambil ponsel itu dan mengutak-atik dalamnya. Saat ia menekan tombol yang membuat layarnya menyala, disanalah ia melihat foto Len dengan seseorang. Bukan perempuan, tapi laki-laki berambut biru tua dan matanya juga berwarna senada.

"Ini temannya Len, toh?"

Rin pun membuka isi folder yang menyimpan semua foto Len. Hampir semua fotonya sedang bersama teman birunya itu.

"Rin," tiba-tiba saja pintu kamar Rin dibuka. Itu Len. Rin pun menyembunyikan ponsel Len di belakangnya.

"L-Len, mau apa kau kemari?"

"Jangan berpikir yang aneh-aneh lagi, Rinny. Aku hanya mau mengambil ponselku, kok." Ucap Len sambil berjalan masuk.

"P-Ponselmu tidak ada di sini…" Rin berbohong. Tentu saja Rin tidak ingin ketahuan mengutak-atik ponsel Len. Bisa-bisa Len melakukan sesuatu yang dianggap aneh lagi olehnya.

"Bagaimana bisa? Sedari tadi siang, aku berada di kamarmu, Rinny." Len memasang wajah berpikir. "Atau jangan-jangan…" Lanjutnya sembari menggantung ucapannya.

"Tidak, kok. Aku tidak menyembunyikan ponselmu!" Ucap Rin tiba-tiba.

"Nah! Kau bilang begitu malah aku jadi curiga. Cepat kembalikan!" Perintah Len tiba-tiba pada Rin sambil mengulurkan tangannya.

"A-Apanya, sih!" Rin menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Kembalikan atau aku cium lagi kau!" Len menatap Rin tajam.

'Kenapa Len bisa seseram itu?' tanya Rin dalam hati.

"Cepat kembalikan Rinny sayang," ucap Len sambil terus mengulurkan tangannya, meminta ponselnya dikembalikan.

"Apa-apaan kau memanggilku sayang? Ponselmu tidak ada di sini," Rin masih tetap berbohong.

"Rin, aku tahu kau berbohong."

"Apa buktinya?"

"Jelas! Kau terlihat gugup! Biasanya kalau tidak ada apa-apa, kau selalu cuek."

"Jadi?"

"Kau ketahuan Rinny sayang~"

'Mungkin aku memang harus jujur saja,' pikir Rin.

"Jadi, Rinny?" tanya Len sambil memasang senyum licik di depan Rin.

"Baiklah, ini aku kembalikan!" Ucap Rin dengan kesal sambil mengembalikan ponsel milik Len.

"Kau ini memang payah sekali dalam hal seperti ini." Ucap Len sambil menjitak pelan kepala Rin. Rin pun merintih kesakitan sambil mengelus-elus kepalanya yang habis dijitak Len.

"Dan kau juga mudah reda kalau sudah marah," sambung Len.

"Apa maksudmu?" tanya Rin yang kelihatannya kurang mengerti.

"Jangan pura-pura tidak tahu! Jadi, kita damai?" Len menjitak kepala Rin lagi.

"Uhm…" Rin tampak berpikir sebentar.

"Jadi?" tanya Len.

"Damai saja!" Sambung Rin sambil mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh tangan Len. 'Baiklah, mulai hari ini aku tidak boleh marah-marah lagi. Aku harus lebih dekat lagi dengan Len dan juga membuat ayah dan ibu senang, meskipun aku masih kesal dengan insiden yang tidak mau aku ingat itu. Uhh, aku benar-benar sudah membuat ibu khawatir…' Pikir Rin menyesal.

"Nah, itu baru Rinny!" Ucap Len senang sambil memeluk Rin erat-erat.

"Se-Sesak!"

"Wah wah wah! Coba lihat siapa yang sudah ceria lagi!"

"Ibu! Jangan mengagetkan aku!" Rin langsung melepaskan pelukannya dari Len ketika melihat Lily datang.

"Ibu tidak mengagetkanmu. Ibu hanya mau mengantarkan cemilan sebelum makan malam," ucap Lily sembari menyimpan dua pudding di meja kecil untuk Rin dan Len.

"Terima kasih," ucap Rin dan Len bersamaan.

"Ya. Oh ya, besok malam kita akan makan malam di restoran bersama keluarganya Len. Jadi kali ini kau harus ikut ya, Rin?" Ucap Lily sambil tersenyum.

"Ibu dan ayah ke Jepang?" tanya Len dengan tatapan tidak percaya.

Lily mengangguk.

"Iya, mereka akan sampai di Jepang malam ini, Len." Jelas Lily.

Tiba-tiba saja terdengar suara pintu depan dibuka.

"Ah, Luki sudah pulang. Sebaiknya ibu keluar dulu," Ucap Lily lalu pergi.

Suasana pun menjadi hening.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Jadi?" tanya Rin membuyarkan keheningan.

"Jadi apa?" tanya Len yang tidak mengerti maksud Rin.

"Orangtuamu mau ke Jepang?"

"Kau sudah mendengarnya sendiri dari ibumu barusan, dan besok kau harus ikut makan malam bersama."

"Hmmm… Padahal aku malas sekali," Rin menghela nafas.

"Kenapa malas?" tanya Len.

"Soalnya setelah pulang sekolah besok, aku mau beli jeruk di toko buah, berkunjung ke rumah Miku, jalan-jalan ke taman bersama Miku, dan malamnya aku mau melihat bintang bersama Miku." Jelas Rin.

"Hal itu bisa kau lakukan lain kali, Rinny." Ucap Len.

"Eh! Tapi-"

"Sebenarnya temanmu Miku itu yang mana, sih?" Len memotong pembicaraannya dengan wajah kesal.

"Tadi siang dia ke rumah. Kebetulan sekali saat itu kau sedang tidur,"

"Jujur, Rin. Miku itu bukanlah nama yang asing bagiku, soalnya temanku di Amerika sering sekali menceritakan tentangnya." Ucap Len.

"Eh?! Apa dia tunangannya Miku?!" Rin berubah menjadi kaget.

"Dia bilang begitu tapi… Dia langsung bilang kalau dia membencinya sekarang."

"Persis seperti yang diceritakan oleh Miku padaku," Rin menunduk sedih.

"Mereka sedang dalam masalah, ya?" tanya Len dengan wajah polos.

Rin mengangguk. "Dan aku tau siapa dalang dari balik semua ini,"

"Siapa?" tanya Len.

"N-"

DRRRT

Jawaban Rin terpotong oleh ponsel Len yang tiba-tiba saja berbunyi.

"Ah, menganggu saja…" Gumam Len sambil merogoh saku celananya untuk membawa ponsel miliknya yang berbunyi itu.

"Dari siapa itu?" tanya Rin ketika Len sibuk membaca pesan di ponselnya.

"Kaito, lebih tepatnya Shion Kaito." Jawab Len.

"Shion Kaito? Apa dia laki-laki yang berambut biru itu?" tanya Rin lagi.

"Ya. Dialah yang selalu menceritakkan Miku padaku," jawab Len.

Rin pun ber'oh'ria. 'Jadi Kaito itu tunangannya Miku, toh?'

"Eh, tapi bagaimana kau bisa tahu kalau itu Kaito?" tanya Len.

"Ah eh itu…"

"Kalau tidak mau menjawab ya tidak apa-apa," Len sengaja memotong ucapan Rin. Mungkin karena Len sudah bisa menebaknya.

Rin pun menunduk lalu mengangguk pelan.

"Rin! Len! Makan malam sudah siap!" Teriak Lily dari arah dapur.

Dengan segera mereka berdua pun berjalan menuju ke dapur untuk makan malam.


Sementara itu di rumah Hatsune Miku, salah satu temannya Rin yang sangat manis dan juga cantik. Ia tampak sedang menyisir rambutnya yang panjang dengan sisir.

Tubuhnya sudah terbalut oleh piyama berwarna merah muda dengan motif bawang daun.

"Hhhh… Sepi," Miku menghela napas.

Miku memang tinggal sendirian di rumahnya yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah Rin. Orangtuanya sudah meninggalkannya sejak kecil karena kecelakaan.

Satu-satunya kenang-kenangan dari ibunya Miku hanyalah sebuah kotak musik.

Bila kotak musik itu dibuka, maka akan menampakkan seorang gadis yang sedang menari.

Miku pun menatap kotak musik itu. "Hidupku menyedihkan sekali, ya?" Gumamnya.

"Halooo! Ada orang di rumah!" Teriak seseorang dari luar rumah secara tiba-tiba.

Miku pun menengok dari jendela kamarnya yang berada di lantai dua. "Neru?".

Ketika Miku sedang menengok Neru yang berada di luar rumahnya, Neru pun menoleh dan mendapati Miku di sana.

"Miku!" Teriaknya.

"Kau mau apa ke sini?" tanya Miku.

"Biar aku jelaskan nanti, sekarang, biarkan aku masuk!" Ucap Neru.

Dari pada mendapati sesuatu yang buruk dari Neru, lebih baik ia turut dan langsung membiarkan Neru masuk dan melakukan sesukanya.

Miku dan Neru pun duduk di ruang tamu.

"Jadi? Mau apa kau ke sini?" tanya Miku sambil menuangkan segelas teh manis.

"Hmm, aku mau bilang kalau malam ini Kaito akan ke Jepang." Ucap Neru sambil tersenyum manis namun dibalik semua itu ia hanya ingin membuat Miku sedih atau juga cemburu.

"Oh, baguslah… Semoga hubungan kalian semakin baik saja, ya~" ucap Miku sambil tersenyum. Menahan rasa sakit yang sudah menghujani dadanya saat ini.

"Kalau kau berniat merebut Kaito milikku atau bahkan menyentuhnya, kau akan aku buat dipecat dari jabatan sebagai ketua kelas, mengerti?" Neru tersenyum licik di depan Miku.

Miku tampak menelan ludah, tapi setelah itu ia mengangguk. Tentu saja itu terpaksa.

"Hmm, dan sekarang aku mau menjemputnya di bandara. Kau mau ikut, Miku?" ajak Neru.

"A-Aku ikut menemui K-Kaito bersamamu?" tanya Miku dengan tatapan tidak percaya.

"Iya, kalau kau tidak mau ikut ya sudah! Bye!" Ucap Neru langsung pergi sambil melambai.

"Eits! Tunggu dulu!" Langkah Neru terhenti ketika sesuatu menarik pergelangan tangannya, yang tak lain adalah tangannya Miku.

"Apa?" tanya Neru.

"Aku… Aku ikut!" Ucap Miku gugup yang diakhiri dengan nada serius.

Neru pun tersenyum sinis, "Ya sudah, cepat kalau begitu.".

Miku pun mengangguk lalu bersiap-siap.


Malam ini bukan hanya Miku dan Neru saja yang ke bandara. Tapi keluarga Rin, dan juga Len pun akan ke bandara untuk menjemput keluarga Len.

"Nah, sudah siap!" Ucap Lily sambil tersenyum.

"Cepat masuk ke mobil, kita berangkat sekarang!" Ucap Luki sambil mengklaksonkan mobilnya.

Lily, Len, dan Rin pun masuk ke dalam mobil dan memulai perjalanan menuju bandara.

"Huwaaa! Jeruk!" Mata Rin membesar dan bercahaya ketika melihat toko buah selama di perjalanan, sementara Lily dan Luki hanya terkekeh pelan ketika melihat sifat Rin yang tampak kekanak-kanakannya itu keluar.

"Rinny kenapa tidak mampir saja sebentar untuk membeli beberapa jeruk?" tanya Len.

"Tidak, jangan sekarang." Jawab Rin.

"Kenapa?"

"Tidak ada. Persediaan jeruk di rumah masih banyak,"

Len pun ber'oh'ria.

DRRRT

Tiba-tiba saja ponsel milik Len berbunyi lagi, pertanda ada pesan masuk. Len pun segera membaca pesan masuknya.

From: Kaito

To: Len

Len, aku menyusulmu ke Jepang malam ini. Maaf baru memberitahumu sekarang! Sampai ketemu di sana! Oh ya, orangtuamu juga bersamaku! :)

"Mau apa dia ikut ke Jepang," gumam Len pelan.

"Apa? Siapa yang ke Jepang?" tanya Rin tiba-tiba.

"Jadi kau dengar ucapanku barusan?"

Rin mengangguk.

"Sebenarnya tidak ada apa-apa." Ucap Len.

"Yang benar? Siapa yang ke Jepang?" tanya Rin kurang percaya dan sekaligus penasaran.

"Sudah, lihat saja nanti." Ucap Len memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jaketnya.

Rin pun kembali diam dan menatap jalanan dengan penuh rasa penasaran.


"Ahhh! Haus sekali! Antar aku beli minum, ya?" ucap Neru sambil terengah-engah.

"Uhhh! Sudah aku bilang kan, jangan terburu-buru. Lagipula Kaito tidak akan kemana-mana, kok!" Ucap Miku yang keadaannya sama seperti Neru.

"Bukan itu masalahnya… Masalahnya aku tidak memberitahu Kaito kalau aku akan menemuinya di sini!" Ucap Neru.

"Uhhh! Biar aku saja yang beli minum! Kau tunggu saja di sini ya, Neru!" Miku pun berlari meninggalkan Neru untuk membeli dua botol minuman.

Miku terus berlari mencari sebuah tempat yang menjual sesuatu untuk diminum.

"Nah! Itu dia!" Ucap Miku tiba-tiba ketika ia melihat tempat seperti toko kecil. Mungkin sesuatu yang sedang dia butuhkan saat ini ada di sana.

Miku pun menghampiri tempat itu dan segera membeli dua botol minuman untuknya dan Neru.

Ketika Miku berbalik untuk kembali ke tempat ia dan Neru tiba di bandara, ia terdiam oleh sebuah mobil hitam yang tiba-tiba saja berhenti di depannya.

Perlahan kaca jendela mobil itu terbuka dan menampilkan sosok wajah yang tidak asing bagi Miku.

"Rin?" ucap Miku ketika ia melihat Rin di dalam mobil itu.

"Miku? Malam-malam begini kenapa kau ada di sini?" tanya Rin.

"Uh oh, aku hanya mau…"

"Ayo ikut aku! Ayo masuk!" Sambil memotong pembicaraan Miku, Rin pun membuka pintu mobil dan langsung menarik tangan Miku untuk masuk.

"Tapi Rin-"

"Sudah tidak apa-apa!" Ucap Rin sambil tersenyum senang.

"Hei, Rinny! Kau ini memotong pembicaraan orang seenaknya saja! Dia kan belum sempat menjawab pertanyaanmu!" Tiba-tiba saja Len menjitak kepala Rin seperti sebelumnya yang pernah ia lakukan.

"Weee! Terserah aku saja, Len perv!" Ucap Rin sambil menjulurkan lidahnya pada Len.

"Beraninya kau memanggilku seperti itu," ucap Len agak kesal.

"Itu memang kenyataannya, Len! Dan ayah, ibu! Ayo kita maju lagi!" Ucap Rin dengan riangnya.

Perjalanan pun diteruskan. Sebenarnya ini sudah benar-benar sampai, hanya saja sedang mencari tempat untuk memparkirkan mobilnya.

Sementara itu Neru masih menunggu Miku. Ia sudah mulai kesal dan sesekali matanya melirik ke arah jam yang berada di bandara.

"Huh! Miku itu kemana saja, sih!" Gumamnya kesal.

Setelah beberapa detik Neru menunggu, sosok yang ia tunggu-tunggu muncul juga. Ya, Neru kaget karena Miku tidak kembali sendirian melainkan ada Rin dan Len yang berada di samping Miku. Tentu saja Neru tidak tahu Len, makanya ia bertanya-tanya siapakah laki-laki yang berwajah mirip Rin itu.

"Uhm, Miku?" tanya Neru.

"Uhh, iya… Neru, maafkan aku ya… habisnya Rin me-" Miku terlihat takut dan Rin segera memotong ucapannya.

"Hee! Jadi kau sedang bersama Miku, huh? Apalagi yang akan kau lakukan padanya?" tanya Rin sinis pada Neru.

"Tidak ada." Jawab Neru balik menatap Rin sinis.

"Bohong!"

"Aku bersungguh-sungguh,"

"S-Sudah-sudah! Jangan b-bertengkar!" Ucap Miku mencoba membuat perdamaian, meskipun ia tahu kalau Rin bukanlah tipe pemaaf begitu juga Neru.

"Tidak sebelum aku mendorongnya jatuh dan menangis!" Ucap Rin membantah.

"Oi oi! Sebenarnya ada masalah apa ini?" tanya Len kebingungan.

"Masalah apa yaaa~" Ucap Neru sambil memasang tampang menggoda.

Len langsung merinding melihat tingkah Neru.

Rin langsung berjalan dekat ke arah Neru dan menatapnya tajam sampai mereka berhadapan sangat dekat.

"Jangan coba-coba kau dekat dengan Len." Ucap Rin pelan.

"Ooh jadi Len yaaa~"

"Iya, terus kau mau apa, huh?"

"Mencurinya darimu,"

"Oh ya? Aku yakin dia takkan menyukaimu."

"Oh, tentu saja dia akan menyukaiku. Aku kan cantik!"

"Huh! Sombong sekali kau!"

"Miku sebenarnya perempuan yang sedang dengan Rin itu siapa?" tanya Lily tiba-tiba berbisik di telinga Miku.

"Anu… Tante, dia Neru." Jawab Miku.

"Neru?"

Miku mengangguk.

"Oh, sepertinya kalian punya masalah ya?" tanya Lily lagi.

"Uhm, begitulah~" Jawab Miku ragu-ragu.

Lily pun mengangguk mengerti.

"Luki, ikut aku menjemput Leon dan Lola." Ucap Lily sambil menarik tangan Leon pergi dan meninggalkan Rin, Len, Miku, dan Neru.

"Ah, mereka mau kemana?" tanya Len melihat Lily dan Luki pergi.

"Tidak tahu." Jawab Miku.

Mendengar bahwa yang menjawabnya itu Miku, Len langsung menoleh pada Miku.

"Kau Miku?" tanya Len.

"Iya." Jawab Miku sambil mengangguk. "Aku sudah tahu kau, Rin yang menceritakannya padaku".

"Iya, namaku Kagamine Len." Ucap Len.

"Ah, nama marga kalian sama?" tanya Miku.

"Ya, itu hanya kebetulan saja." Jawab Len cuek.

"Begitu ya…"

"Kau kenal Kaito, kan?" tanya Len tiba-tiba.

"Ah, itu…" Miku tersentak kaget, ia jadi menunduk sedih.

"Uhm, kalau tidak mau dibicarakan. Tidak usah saja… Aku sudah mengerti." Ucap Len.

Miku mengangguk mengerti.

Len kemudian menghampiri Rin yang masih sibuk dengan Neru.

"Rinny?"

"Ah, Len." Ucap Rin menoleh ke arah Len.

"Sudah selesai, kah?" tanya Len sambil menggaruk-garuk pipinya yang tidak gatal.

"Aku harap begitu." Jawab Rin sambil menatap Neru sinis.

Neru balik menatapnya sinis.

"Len! Yo, aku di sini!" Seseorang tiba-tiba memanggil nama Len.

"Eh, Kaito, ayah, ibu!" Ucap Len sambil menyeringai lebar.

"K-Kaito…" Ucap Miku kaget melihat seseorang yang masih sangat ia cintai berada di depannya.


To Be Continued


Oh ya, mau kasih bocoran nih! Di chapter 4, Len bakal sekolah di sekolah yang sama kayak Rin, Kaito juga sama. Ya udah ah, kebanyakan kasih bocorannya. XD

Waktu mikirin idenya kata didiscontinued selalu aja kepikiran. ._.

Jadi, mendingan dilanjut atau nggak ya? Bingung nih! Jangan lupa review, ya! ._.


Namikaze Kyoko: Kalau begitu ayo bakar Neru bareng-bareng! Makasih udah review! :D

nyan-nyaanX3: Iya, ini udah update! Iya, Len yang ngambil first kissnya Rin. Pengennya siapa? Makasih udah review! :D