Bawa lari dendam itu.

Bawa ke tempat kau bisa menemukan kekuatan untuk melawannya

Tapi..persiapkan pula mentalmu akan hal itu

Karna tanpa sepengetahuanmu,dia terlibat di dalamnya.

Naruto is belongs to Masashi Kisimoto

.

.

Sakura terus berjalan tanpa arah. Mengabaikan berbagai tatapan sekitar. Heran,ngeri,dan terpana(?). Ya setidaknya itulah yang terpancar dari mimik wajah mereka melihat penampilan Sakura yang tidak mencerminkan seorang gadis manis. Dengan rambut berantakan,tubuh yang dipenuhi luka-luka serta peluh yang terkena sinar matahari sehingga membuat tubuh mungilnya terlihat berkilauan.

Akhirnya Sakura memutuskan untuk pergi ke tempat dimana dia biasanya berlatih. Tempat yang jauh dari hiruk pikuk mansia dan tersembunyi.

Sesampainya Sakura menyenderkan tubuhnya dibawah sebuah pohon yang lumayan rindang. Memejamkan matanya,menyembunyikan manik Emerald miliknya dan meresapi angin yang menyapu lembut wajah manisnya. Mengingat kembali pertengkarannya dengan sang Aniiki beberapa saat yang lalu. Aniiki yang jarang dia temui sekalipun mereka tinggal satu atap. Aniiki berwajah datar. Aniiki yang sering mengacak rambut soft pink-nya dengan penuh kasih sayang sewaktu mereka masih kanak-kanak. Aniiki yang entah mengapa terasa asing dan sulit untuk sakura dekati.

''Arrghhhh!''

Sakura meninju rumput hijau di bawahnya. Menyebabkan rasa perih dan nyeri muncul dari luka di tangannya yang belum tersntuh obat sama sekali. Namun tidak dipedulikannya rasa sakit itu. Hatinya jauh lebih sakit. Sakit karena hubungan yang sangat tidak baik antara dia dengan Gaara.

Tidak tahukah pemuda itu bahwa dia sangat merindukannya?merindukan sosok kakak yang penuh kasih sayang. Tapi pemuda itu sepertinya tidak mempedulikannya. Gaara lebih memilih untuk memprioritaskan profesinya daripada Sakura. Begitulah yang muncul dalam benak gadis itu.

Gadis itu sendiri tidak tahu tentang profesi kakaknya tersebut. Kesibukan Gaara dan sifat dinginnya membuat keduanya seolah adalah orang lain,bukan seperti saudara kandung. Bagi Sakura.

Sakura pernah mencoba untuk mendekati dan berbicra dengan Gaara,layaknya berbicara dengan kakak sendiri. Namun respon yang diberikan pemuda itu membuat Sakura enggan untuk mendekatinya lebih jauh. Nada bicara yang dingin,tajam seperti tatapan matanya. Pernah satu kali Sakura menghilangkan pistol milik Gaara. Dan bisa ditebak,Gaara mendiamkannya selama beberapa hari. Yah..walaupun Gaara selalu mendiamkannya.

''Sas-''

SREKK SREK

Mata Sakura menyipit melihat semak yan tak jauh darinya bergoyang. Bkan bergerak karena tiupan angin. Segera dia bangkit berdiri dan memasang kuda-kuda. Dapat dirasakannya jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. 'Tidak Sakura,kau tidak boleh takut. Lawan dia,' inner Sakura.

''Siapa disana!tunjukan dirimu janga beraninya bersembunyi pengecut!'' seru Sakura mencoba untuk memanas-manasi.

Tak berapa lama kemudian sesuatu menghampiri Sakura. Membuatnya semakin mengepalkan erat tangannya. Dan ketika dia sudah akan melancarkan serangannya...

''Shiro..''

.

.

.

Shikamaru menatap bosan pemandangan di depannya. Naruto yang berjalan mondar-mandir sambil sesekali mengacak rambut jabriknya dengan frustasi.

Neji berkutat dengan laptop di depannya tanpa berminat untuk melihat wajah masam Naruto yang hanya akan menambah pening di kepalanya.

''Kemana sih si Sasuke Teme itu?pergi seenak jidatnya sendiri huh''

''Kupastikan kepalamu akan pecah jika Sasuke mendengarnya''

GLEK

Naruto menelan susah payah ludahnya. Ucapan Shikamaru yang sebenarnya hanya setengah mengancam itu berhasil membungkam mulut berisik Naruto. Dipegangi kepala berhiaskan surai jabrik itu dengan tatapan horor. Bayangan-bayangan Sasuke dengan seringaian khasnya yang memecahkan kepala duren miliknya muncul dalam khayalan Naruto.

Sedangkan Shikamaru hanya tertawa dalam hati melihat reaksi sahabatnya itu.

''Haruno Sakura..''

Ucapan Neji membuat Naruto menoleh kearahnya dengan pandangan heran. Sedangkan Shikamaru memilih untuk meletakan kepalanya diatas meja. Tak berniat untuk menanggapi.

''Kenapa kau menyebut nama Sakura-chan,Neji?'' tanya Naruto penasaran.

''Menurutmu dia itu...seperti apa?''

Kini Shikamaru menegakkan kepala nanasnya,mulai tertarik dengan topik pembicaraan kali ini. Naruto memasang ekspresi berpikir sebelum menjawab pertanyaan yang menurutnya sangat mudah.

''Bukankah kau pernah menjadi wasit saat duel antara Sasuke dan Sakura?masa kau belum tahu seperti apa wajahnya?''

Perempatan siku muncul di kening Neji,walaupun samar. Sedangkan Shikamaru menjitak kepala duren itu pelan. Membuat pemiliknya meringis.

''Hei..apa masalahmu,Shika?kenapa memukul kepalaku?''

''Maksud Neji bukan seperti apa wajahnya,tapi seperti apa orangnya. Sifatnya. Tingkah lakunya,baka.''

Naruto bergumam 'oh' mendengarnya.

''hmm jadi apa yang membuatmu bertanya seperti itu Neji kau suka Sakura-chan ya..'' goda Naruto yang sama sekali tak berpengaruh bagi Neji.

''Katakan saja atau kubelah kepalamu''

'kenapa sih mereka suka sekali menyiksa dan mengancamku akan membunuh di bagian kepala,' inner Naruto.

''baiklah,menurutku Sakura-chan itu orangnya ceria,kuat dan...sebatang kara''

Kali ini Neji dan Shikamaru terkejut dengan ucapan Naruto. 'sebatang kara?'.

''Darimana kau tahu kalau dia sebatang kara,Naruto?'' tanya Shikamaru.

''Sakura-chan itu temanku sewaktu SD. Dulu kami pernah berteman,tapi sejak kematian orang tuanya Sakura-chan dipindahkan ke New York. Setelah itu aku tak mendengar kabar lagi tentang dia. Tapi anehnya,waktu kami pertama kali bertemu setelahdia kembali dari New York dia seperti tidak mengenaliku lagi. Padahal dulu kami lumayan dekat..''

Shikamaru dan Neji menangkap nada kesedihan di akhir cerita Naruto. Ternyata dibalik sifatnya yang sok kuat itu gadis itu memiliki riwayat hidup yang menyedihkan. Shikamaru mengernyit,erasa ada yang janggal dengan cerita Naruto.

''Kau bilang dia sebatang kara,lalu kalau memang benar darimana dia bisa mendapat uang untuk bersekolah di Konoha High School,Naruto?''

Neji mengiyakan ucapan Shikamaru dalam hati. Naruto menatap sebentar kearah sahabatnya itu lalu kemudian menepuk dahinya. Menyadari kebodohannya.

''Ahh..iya dia masih punya pa-''

''Tadaima!''

Shikamaru dan Neji merutuk dalam hati ketika mendengar suara seseorang yang telah memotong pembicaraan penting mereka. Itachi diam-diam merasa agak merinding ditatap Neji dan Shikamaru dengan pandanga yang seolah berkata mengganggu-suasana-saja. Lelaki yang merupakan kakak Sasuke itu hanya nyengir tanpa dosa.

.

.

.

''kau yakin akan menerima misi ini,Gaara?'' tanya Kankurou heran.

''Hn''

Di sebelah mereka Temari menautkan alisnya heran akan perubahan sikap Gaara. Tadi dia sempat marah-marah dan mengusir dirinya serta Kankurou seusai 'insiden' antara pemuda bertato 'Ai' itu dengan adik kandungnya sendiri. Selang dua jam Gaara menghubungi mereka dan mengatakan untuk bersiap-siap pergi menjalankan misi di Iwagakure. Wanita itu tahu bagaimana perasaan Gaara. Bagaimana sakitnya melukai adik sendiri,karena ia pun pernah mengalaminya.

''Apa kau sudah mengatakan soal misi ini pada Sakura,Gaara?''

Gaara tak merespon pertanyaan Temari. Entahlah..pemuda itu merasa seperti seorang pecundang setelah melukai adiknya yang seorang perempuan kemudian mengatakan padanya untuk pergi selama beberapa hari kedepan. Dia tak mempunyai nyali untuk bertatap muka dengan adik yang disayanginya tersebut. Dan mungkin dengan tindakan diam-diam Gaara ini justru malah membuatnya benar-benar seperti seorang pengecut.

''hey,kau mau kemana Gaara?'' tanya Kankurou begitu melihat Gaara menaiki angga menuju lantai dua.

''Mengambil pistolku''

Sesampainya di lantai dua Gaara memutar knop pintu di depannya. Bau cherry menyapa indera penciumannya begitu memasuki kamar yang bernuansa hijau dan pink itu. Mendudukan pantatnya diatas ranjang empuk milik sang adik. Tangan kekarnya menggapai sebuah pigura yang terletak diatas meja di sampingnya. Memandangi sebuah foto keluarga yang sangat disayanginya.

''Maafkan aku Saku..''

mengingat perlakuannya terhadap sang adik tadi membuat hatinya nyeri. Sang adik yang jarang dijumpainya. Sang adik yang terus dia pikirkan setiap waktu,bahkan ketika menjalankan misi sekalipun. Sebenarnya bukan maunya untuk hidup seperti ini. Menyembunyikan profesinya dari Sakura. Menyembunyikan identitasnya dari orang luar. Bersikap tidak ramah pada adiknya semata wayangnya. Tapi..bukan juga tanpa tujuan yang jelas dia bersikap seperti ini. Karena..dia hanya ingin melindungi keluarganya.

''Kaa-san..Tou-san akan kuberi pelajaran pada orang yang telah memisahkan kalian dari kami..''

TBC

Maafkan saya yang baru melanjutkan chapter ini,story Blood yang sepertinya tak ada peminatnya membuat saya sempat down. Dan membuat saya sempat berpikiran untuk tidak melanjutkan Which One? Tapi,ah sudahlah forget it then -_-

ada beberapa yang akan saya jawab disini..

soal incest..entahlah saya belum kepikiran untuk itu hhehe

Sasori?ditunggu saja chapter yang akan Allah sudah akan saya munculkan.

Pairing kali ini SasuSaku :) jadi maaf bagi yang request GaaSaku belum bisa mengabulkan.

Terima kasih atas review kalian yang membantu saya untuk tetap lanjouutt :)