Hai! Malem semua! Saya balik lagi! Udah pada makan malem belom? :D
Saya nggak percaya. Padahal saya banyak tugas, tapi masih bisa update fic. meski... telat. Mohon maklumi, ya! :)
Oh ya, mau balas review dulu XD
.
.
Kuro 'Kaito' Neko: Oh gitu ya... makasih ya sarannya. Tenang aja, Miku selalu milik Kaito. Mereka cuma butuh waktu! Oh ya, makasih reviewnya! XD
Satsuki Kurokawa: Gimana kalo misalnya Neru jadi baik? Masih benci kah? Btw, makasih reviewnya! XD
Harada Ayumi-chan: Sabar-sabar *ngelus-ngelus punggung Ayumi-chan* Makasih reviewnya! :D
Namikaze Kyoko: Ya, ini udah apdet. Makasih reviewnya~ :D
HaNiichan: Ini nggak lupa apdet hehe. Makasih reviewnya! :D
Miidori: Keren? Makasih! Terharu saya! T.T Gpp sih kalo lupa, salah saya juga yg lama apdet #plak Eh? jadiin Neru sate? Silahkan! Makasih reviewnya! XD
Shana Granger: Makasih udah review dan fav fic gaje ini. Iya Neru player tingkat dewa #dibunuh
Chalice07: Wow! Sadisnya! Iya ya... moga Rin ma Len nggak kayak Miku ma Kaito! Makasih reviewnya! XD
Chisami Fuka: Iya gpp :) tenang aja... Len selalu milik Rin, Len nggak bakal dibuat suka sama Neru kok! Makasih udah review! :D
Nisikagawa Rina: Makasih reviewnya! Sebenarnya dari dulu pengen banget bisa masukin humor tapi, ternyata saya nggak sengaja masukin humor di fic ini? Kaget loh! Ternyata ada humornya ya? Ntar dicoba nambahin humor deh! Eh? Masak Neru? Oke! #megang spatula andalan author (?)
.
.
Udah deh! Mulai baca aja! Disclaimer dulu! :D
Disclaimer: I do not own anything.
Normal POV
'Rin dipeluk… Huwaaa! Aku iri!'
"L-Len…" Lagi-lagi Rin kaget karena Len memeluknya seperti tadi malam.
Tiba-tiba saja pandangan Len tertuju pada Neru yang sedang berdiri di belakang Rin.
"Eh? Kamu perempuan yang kemarin diantar Kaito itu, kan?" tanya Len masih memeluk Rin.
Merasa diajak bicara, Neru langsung membenarkan posisi berdirinya menjadi tegak.
"I-Iya, itu aku! Aku Neru, Akita Neru!"
"Oh…" Len ber'oh'ria. "Aku Kagamine Len." Lanjutnya.
Neru tersenyum lebar, akhirnya dia tahu juga nama lengkap Len meskipun dia agak sedikit bingung karena nama marga Len sama dengan Rin.
"Nama margamu… sama seperti Rin?"
"Oh itu, itu hanya kebetulan saja, kok. Kami tidak bersaudara," Len menjelaskan. Neru agak sedikit kecewa dengan penjelasan Len. Jelas saja! Neru ingin Len mengatakan bahwa Rin itu saudaranya! Tapi kenyataannya bukan, kan!
"Begitu ya…"
"L-Len lepaskan a-aku," kata Rin sambil melepaskan pelukan Len.
"Oh iya, aku lupa. Maaf, Rin!" Kata Len melepaskan pelukannya.
Rin pun berlari ke kamarnya untuk berganti pakaian. Sebenarnya Rin sudah sangat merona, karena itu dia menyembunyikan semuanya dengan cepat-cepat pergi.
"Kalau boleh tahu, Rin itu siapamu ya, Len?" tanya Neru, penasaran terpampang di wajahnya.
"Calon tunanganku. Kenapa?"
'What! Tunangan? Aku tidak boleh diam saja, aku tidak boleh diam sajaa!' batin Neru berteriak.
"Sudah ya, aku mau menyusul Rin dulu!" Kata Len sambil melambai pada Neru lalu berbalik dan berjalan menuju ke lantai dua, kamar Rin.
Neru pun menghela napas lalu mencari Kaito.
Sementara itu Len mengetuk pintu kamar Rin.
"Rin, boleh aku masuk?"
"Ah? Ya, tentu! Silahkan masuk!"
Rin tampak sudah selesai berganti baju, sekarang ia sedang duduk di lantai kamarnya sambil menulis sesuatu di buku. Len pun duduk di samping Rin dengan posisi sambil memeluk kakinya dan menyandarkan kepalanya pada lututnya, kemudian memperhatikan Rin.
"Kau sedang apa, Rin?"
"Menulis."
"Menulis? Menulis apa?"
"Bukan apa-apa." Kata Rin langsung menyobek kertasnya di buku lalu melemparnya ke tempat sampah.
Tiba-tiba saja pintu kamar Rin dibuka oleh seseorang.
"Lho? Playgi-"
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu!"
"Mau apa ke sini?" tanya Rin sambil memalingkan wajahnya dengan kesal.
"Kaito menyuruhku main denganmu, soalnya dia sibuk." Kata Neru.
"Oh, kalau begitu kemarilah!" Len berdiri kemudian menarik tangan Neru untuk duduk.
"Kalian sedang apa di sini?" tanya Neru.
"Tidak melakukan apa-apa." Jawab Rin dingin.
Rin mengeluarkan ponsel dari saku roknya kemudian menelepon seseorang. Selama menelepon Neru berbincang-bincang sedikit dengan Len. Rin hanya menggerutu sebal melihatnya.
"Eh! Len dari Amerika?" Kata Neru sambil tersenyum lebar.
"Yap."
"J-Jadi sama dengan Kaito, dong? Kalian sudah kenal sejak lama, ya?"
"Iya, kami memang bersahabatan."
"Eh, eh, Len! Kau kenal Miku tidak?"
"Hmm, aku hanya tahu kalau dia itu tunangannya Kaito, dan sekarang aku sudah kenal dengannya. Bukankah kemarin aku bertemu dengannya?"
"Hehe iya, tapi tunangan mereka batal, kan? Kau ingin tahu kenapa?" Neru tersenyum jahil pada Len.
"Uhm…" Len pun terlihat ragu-ragu.
"BISAKAH KALIAN DIAM SEBENTAR, HUH?!" Teriak Rin marah masih menelepon. "KENAPA MIKU TIDAK MENGANGKAT TELEPONNYA?!"
"Biasa sajalah, Rin…" Kata Neru sinis.
"Terserah!"
"Jadi kenapa tunangan mereka batal?" tanya Len.
"Haha! Ingin tahu, ya? Karena Miku sudah berbuat perbuatan yang tidak disukai Kaito! Miku itu sangat jah- UMPH!"
Ucapan Neru terhenti karena tiba-tiba saja Rin menyumbat mulutnya Neru dengan banyak kertas, sehingga Neru kesulitan berbicara.
"!"
"Ha! Tidak bisa bicara, ya? Ini akibatnya kalau kau berbicara yang tidak-tidak tentang Miku!" Kata Rin tersenyum kemenangan. Kemudian Rin menatap Len gelap.
"Len… Kalau kau masih mau mendengarkan cerita si aneh ini… Akan kubuat kau tidak bisa bertemu hari esok! Mengerti?!"
"R-Rin, kau seram!"
"Cukup bilang ya atau tidak!"
"I-Iya, Rin! Aku mengerti!"
Rin pun kembali dengan ponselnya, sementara Len bernapas lega.
"Bukannya itu bagus kalau misalnya aku kenal seseorang selain Rin di Jepang," kata Len.
"Iya, tapi jangan dia!" kata Rin sambil menunjuk Neru yang sedang berusaha untuk membebaskan mulutnya dari gumpalan kertas.
"Asal kau tahu ya, Rin. Aku juga akan sekolah di sekolahmu,"
"Eh?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kyaa! Len mau sekolah di sekolah yang sama denganku? Kita bisa satu bangku, dong!" Kata Neru sambil memeluk Len. Sepertinya dia sudah selesai mengeluarkan gumpalan kertas dari mulutnya.
"E-Eh kau jangan peluk aku!" Kata Len sambil mendorong Neru, jadinya Neru jadi terlepas dari Len.
"Maaf ya, Len! Habis aku terlalu senang, sih!" Ucap Neru sambil terkekeh pelan. "Rin… Kau… Jangan cemburu, ya?" Tambahnya sambil tersenyum licik yang tidak disadari oleh siapa pun di sana.
Rin mengepalkan kedua tangannya erat-erat.
.
.
.
.
.
.
.
"Neruu… Keluar dari kamarku, SEKARANG!" Kata Rin marah sambil menunjuk ke pintu.
"Ya, ya, ya, aku keluar! Jaa!" Kata Neru dengan santainya. "Bye my dear, Len!"
"Apa maksudnya dengan 'My dear', huh?" tanya Len bingung. "Rin, kau baik-baik saja, kan?"
"Iya."
"Kelihatannya kau sangat membenci Neru, ya?" tanya Len.
"Iya, dia itu sangat menyebalkan." Jawab Rin lesu sambil berjalan ke atas tempat tidurnya kemudian berbaring.
"He? Kau mau apa Rin?"
"Tiduran saja, lagipula Miku tidak mengangkat telepon dariku."
"Kaito? Masih sibuk?" Neru mengetuk pintu kamar Kaito.
"Sudah tidak, kok." Kata Kaito membukakan pintu kamarnya. "Oh ya, Rin dan Len dimana?"
"Di kamar Rin." Jawab Neru, jujur.
"Oh." Kaito pun ber'oh'ria.
"Ah, Kaito, siapa perempuan ini?" Tiba-tiba saja ibunya Len, Lola datang dengan nampan penuh dengan kue.
"Ah, Tante, perkenalkan ini Neru, temanku." Kata Kaito sambil tersenyum.
"Neru? Oh, salam kenal. Aku ibunya Len, Kagamine Lola." Lola balik tersenyum. "Oh ya, Kaito? Kau kan sudah ada di Jepang… Apa kau tidak rindu pada Miku?"
"Miku? Kenapa Tante bertanya seperti itu? Kukira semuanya sudah lupa," Kaito menunduk sedih bercampur marah.
"Hee! Tante melupakan Miku? Tidak mungkin begitu, dia kan sangat baik dan juga cantik!"
'Kelihatannya aku sudah berhasil membuat Kaito membenci Miku sepenuhnya,' pikir Neru sambil tersenyum licik. 'Sekarang giliran…'
Lola memandang wajah Kaito dengan heran. Kaito masih menunduk, ia bingung harus percaya atau tidak dengan ucapan Lola. Dari hatinya yang terdalam, sebenarnya Kaito sangat merindukan Miku.
Padahal kejadian masa lalu itu tidak pernah dilakukan Miku. Ini semua adalah penyebab Neru. Tapi sayangnya, Kaito tidak tahu akan hal itu.
Flashback: On
"Waaa! Pohon sakuranya cantik sekali!" Miku tersenyum lebar, pipinya merona melihat pohon sakura berguguran dengan indahnya. Kaito hanya tersenyum melihat tingkah Miku yang kadang kekanak-kanakan seperti itu.
Miku dan Kaito terus berjalan menyelusuri taman tanpa merasa lelah. Sampai akhirnya Neru menemukan mereka berdua.
"Oi! Kaito, Miku!" Katanya sembari melambai, kemudian berlari menghampiri mereka.
"Neru?" kata Miku.
"Hai, Miku! Selamat siang!" Kata Neru sambil tersenyum.
"Ah, selamat siang." Miku membalas ucapan Neru.
"Kalian sedang apa di sini?"
"Hanya jalan-jalan. Kenapa?"
"Uhm, tidak… Pertunangan kalian akan dilaksanakan nanti malam, kan? Waaa! Selamat ya!"
"Terima kasih!"
"Sudah ya, aku pergi dulu!" Kata Neru sambil melambai lalu pergi.
Miku dan Kaito pun saling berpandangan, kemudian mereka saling melempar senyum.
Mereka tidak menyadari kalau Neru sedang tersenyum licik saat ia pergi.
"Miku, mau beli es krim?"
"Hmm, iya."
"Rasa apa?"
"Bawang daun!"
"Geez… Es krim rasa bawang daun sungguh diragukan keberadaannya." Kata Kaito sweat drop.
"Apa maksudmu dengan 'Sungguh diragukan keberadaannya', huh?" tanya Miku kesal.
"Haha!" Kaito pun tertawa.
"Apanya yang lucu!" Miku semakin kesal, kini ia mengembungkan kedua pipinya. Sungguh imut!
"Tidak, ayo pergi beli es krim." Kata Kaito sambil memegang tangan Miku.
Sampai pada malam tiba. Malam itu udaranya sangat dingin. Miku sedang bersiap-siap untuk acara pertunangannya. Ia sedang memakai dress berwarna teal yang sangat bagus. Miku juga menghiasi rambutnya dengan jepit bunga yang indah.
Miku terus memperhatikan pantulan dirinya dalam cermin. Senyum terukir jelas di wajahnya.
"Aku akan jadi tunangannya Kaito…" Gumamnya. Jantungnya berdetak tidak karuan.
"Miku, kau sudah siap? Sebentar lagi jemputan datang!" Kata seseorang berambut hijau pendek, ia adalah Gumi, teman baik Miku sebelum Rin.
"Uhm, iya, aku sudah siap." Kata Miku.
"Waaa! Kau cantik sekali, Miku! Seperti bidadari!" Mata Gumi melebar melihat penampilan Miku, ia cantik, sangat cantik.
"Ah, jangan bilang begitu. Aku jadi gugup, nih!" Kata Miku malu.
"Ya sudah, ayo kita menunggu jemputan di gerbang!" Kata Gumi sambil menarik tangan Miku.
"T-Tunggu!"
Miku dan Gumi pun menunggu jemputan yang akan mengantarkan mereka kemana Miku akan bertunangan dengan Kaito. Setelah lima menit kemudian, jemputan pun tiba. Gumi dan Miku segera masuk ke dalam mobil dan menuju ke tempat pertunangan akan dilaksanakan.
"He? Miku, bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Gumi selama dalam perjalanan.
"Gugup… tapi juga senang…" Jawab Miku sambil menyimpan kedua tangannya di dada.
"Baguslah! Yang penting malam ini adalah malam yang paling indah untukmu!"
"Ya… T-Terima kasih, Gumi…"
Beberapa menit kemudian Gumi dan Miku pun sampai di tempat pertunangan Miku dan Kaito. Gumi tanpa segan-segan langsung menarik tangan Miku keluar dari mobil dan berlari menuju ke arah Kaito yang sedang berdiri di sana.
"He? Gumi? Miku?"
"Kaito! Ini princessmu tiba!" Teriak Gumi masih berlari menghampiri Kaito.
"Berhenti berteriak seperti itu! Memalukan tahu!" Kata Miku yang ditarik-tarik Gumi sedari tadi.
"Ayaya, tapi kau senang kan?"
"Siapa bilang! Aku maluu!"
"Kaito! Selamat malam!" Sapa Gumi di depan Kaito, sementara Miku masih sibuk mengatur nafasnya.
"Miku tidak apa-apa, kan?" tanya Kaito.
"Kami baru saja olahraga kecil!" Kata Gumi berbohong sambil memeletkan lidahnya.
"Olahraga kecil?"
"S-Siapa bilang begitu! Kaito aku ditariknya lari!" Kata Miku.
"Hey! Aku cuma bercanda tahu! Begitu saja sudah marah!"
"Uuh, maaf."
"Hey semua!" Sapa Neru dari belakang Miku dan Gumi. "Well, Miku… Kau manis juga ya malam ini."
"Iya dong! Miku kan gadis termanis dan tercantik di dunia! Ngomong-ngomong kenapa kau di sini, huh?" tanya Gumi sambil memasang wajah penyelidik.
"Kenapa? Tidak boleh? Aku juga mau ikut merayakan pesta pertunangan Miku dan Kaito sepertimu, Gumi." Jawab Neru santai.
"Heee? Kau mencurigakan!" Kata Gumi.
"Terserah, sekarang ikut aku!" Tiba-tiba saja Neru menarik Gumi menjauh dari Miku dan Kaito ke arah pohon, dan di sana dia melepaskan Gumi.
"Kau menarikku sampai tanganku berbekas! Sakit tauu!" Rintih Gumi.
"Kau tahu tidak? Aku bermaksud menyebarkan foto ini malam ini, lho!" Kata Neru tidak menghiraukan rintihan Gumi barusan.
"Foto apa ini?" Gumi pun segera merebut foto yang sedang dipegang oleh Neru dan melihatnya.
Matanya yang tadinya biasa-biasa saja menjadi terbelalak ketika melihat foto itu.
"Ini bukan Miku, kan? Wajahnya tidak seperti ini! Rambutnya juga! Ini bohong! Dia tidak mungkin melakukan ini!" Kata Gumi tidak percaya dengan foto yang baru saja dilihatnya itu.
"Ini Miku!" Kata Neru sambil tertawa licik.
"Ah! Aku tahu! Kau mau menghancurkan pertunangan mereka, kan?" tebak Gumi.
"Iya, kau mau membant-"
PLAK
"Aku tidak mau membantumu! Untuk apa! Tidak berguna! Kau jahat!" Teriak Gumi sambil menampar Neru. Semua orang yang ada di sana jadi menoleh padanya, termasuk Miku dan Kaito.
"Apa yang terjadi?" tanya Miku.
"Miku, kau akan hancur! Kaito lihat ini! Miku manis bukan?" tanya Neru sambil menunjukan foto miliknya itu.
Mata Miku terbelalak, begitu juga Kaito.
"D-Darimana kau dapat foto ini? Sungguh ini bukan aku!" Kata Miku.
"Bukan kau? Ini jelas kau! Lihat! Dan siapa laki-laki yang sedang bersamamu? Kenapa kalian berpelukan?" Neru mendekatkan foto itu pada wajah Miku dan Kaito yang berada di sebelahnya.
"Ini bukan aku! Kaito ini bukan aku! Percayalah!"
Kaito menunduk. Pikirannya berantakan, wajahnya menjadi gelap, dan ia mengepalkan kedua tangannya.
"Neru! Kau ini pembohong! Ini bukan Miku! Kau jahat!" Tiba-tiba saja Gumi menjambak rambut panjang Neru.
"Arrgght! Kau ini menyusahkan saja!" Neru balik menjambak rambut Gumi.
Neru dan Gumi pun bertengkar. Miku yang khawatir dengan mereka berdua segera menghentikan pertengkaran.
"Jangan sentuh aku!" Teriak Neru ketika Miku hendak menyentuhnya.
"Huweeee! Rambutku!" Gumi mendapati rambutnya rusak karena pertengkarannya dengan Neru.
"Sudahlah tidak apa-apa! Nanti juga rambutmu tumbuh lagi!" Kata Miku berusaha menghibur Gumi.
"Neru…" Tiba-tiba saja Kaito memegang lengan Neru. Neru pun segera menoleh pada Kaito.
"Ya?"
"Ayo pergi." Kata Kaito langsung menarik Neru pergi meninggalkan tempat yang tadinya akan dijadikan tempat pertunangan.
"K-Kaito! Kau mau kemana?" Tanya Miku.
"Kemana? Aku mau pulang ke Amerika! Semuanya! Mohon maaf! Pertunangan dibatalkan! Silahkan pulang ke rumah kalian masing-masing dan oh ya… Miku… hubungan kita cukup sampai di sini…" Kata Kaito. Setelah mendengar ucapan itu, semuanya menatap Kaito dengan heran lalu segera pulang.
Miku terdiam. Air mata mulai jatuh melalui kedua matanya. Gumi pun memeluk Miku, membiarkan Miku menangis dipelukannya.
"Hiks… Ibu… Kenapa hidup ini begitu jahat padaku… Hiks!"
Flashback: Off
"Kaito? Kenapa kau jadi melamun?" tanya Lola yang masih membawa nampan.
"Ah eh? Ada apa?" tanya Kaito baru sadar dari lamunannya.
"Ah sudahlah. Aku mau simpan beberapa cemilan untukmu di kamar, kau suka?"
"Ya."
Lola pun masuk ke kamar Kaito dan menyimpan beberapa cemilan, sementara Kaito menarik lengan Neru ke ruangan lain.
"K-Kaito?"
"Neru? Kau masih simpan foto yang waktu itu, kan?" tanya Kaito tiba-tiba.
"Foto apa?" tanya Neru polos.
"Bagaimana bilangnya, ya? Pokoknya foto yang waktu itu kau tunjukan padaku saat aku dan Miku mau bertunangan." Jawab Kaito sambil memasang tampang berpikir.
"Oh kalau itu sih a-"
"Cepat berikan! Aku mau lihat sekali lagi!"
"Kenapa kau jadi aneh, Kaito?" tanya Neru yang tubuhnya sedang digoyang-goyangkan oleh Kaito karena Kaito yang ingin melihat foto Miku yang waktu itu.
"Apanya yang aneh? Cepat berikan fotonya!" Kata Kaito tidak sabar.
"Ada di tasku, tunggu sebentar." Kata Neru langsung mengotak-atik tas yang di bawanya.
"Ada tidak?"
"Ada, tunggu sebentar."
"Cepat!"
"Tunggu… Rasanya aku selalu menyimpannya di sini. Kok tidak ada, ya? Apa jatuh saat aku di kamar Rin?"
"Eh?"
Suara merdu keluar dari mulut Len yang tengah menyenandungkan lagu kesukaannya sambil memainkan PSP berwarna kuning miliknya. Di sebelahnya terdapat Rin yang sedari tadi terdiam karena suara Len yang merdu dan membuatnya merasa damai dan tenang.
"Kamu baru saja bernyanyi, Len?" tanya Rin sambil menatap langit-langit kamarnya.
"Ah, kenapa? Suaraku jelek, ya? Harusnya aku tidak bernya-"
"Nggak jelek! Bagus, kok! Menderngarnya saja, hatiku serasa damai dan tenang!" Kata Rin memotong pembicaraan Len.
"Begitu, ya… Syukurlah…"
"Dan karena itu… Aku ingin memberimu sedikit hadiah." Kata Rin sambil mengedipkan kedua sebelah matanya.
"Hadiah?" tanya Len bingung.
Rin mengangguk sementara Len semakin bingung.
"Tutup matamu… Len."
"A-Apa?"
"Tutup saja!"
Setelah itu, Len pun menutup matanya. Kemudian Rin tersenyum lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Len dan mencium pipi Len. Len merasakan sesuatu yang lembut mendarat di pipinya, sontak ia langsung membuka matanya dan mendapati Rin sedang mencium pipinya.
"R-Rin apa yang kau lakukan?" tanya Len kaget.
"Kau pikir aku sedang apa? Membunuhmu? " tanya Rin balik, wajahnya agak sedikit merona.
"… Bukanka-"
"Ah, kupikir hadiahku akan membuat Len senang. Bukannya dulu Len pernah melakukan hal yang sama meskipun… waktu itu aneh karena aku… Ah! Lupakan!" Rin langsung merubah posisinya menjadi duduk. "Len payah ah!"
"Payah? Hey! Maksudmu itu apa sih?"
"Sudahlah, itu tidak penting." Rin pun berdiri dan berjalan keluar kamarnya.
SRAK
Tiba-tiba saja langkah Rin terhenti karena ia merasa menginjak sesuatu. Rin segera menoleh ke bawah dan mendapati sebuah foto, kemudian mengambilnya.
"Foto apa ini?" tanya Rin.
"Ada apa Rin?" tanya Len segera berdiri di samping Rin.
"Coba lihat ini, Len." Kata Rin sambil menunjukan sebuah foto yang baru saja ditemukannya.
"Ini Miku kan? " tanya Len.
"Miku? Tunggu dulu!" Rin mengamati foto itu lebih teliti. "Memang mirip Miku. Tapi aku rasa ini bukan Miku,"
"Bukan Miku? Ini jelas Miku! Lihat rambutnya, wajahnya!" Kata Len sambil menunjuk Miku di foto.
"Tapi… Len, wajah Miku… kurasa tidak seperti ini." Kata Rin masih mengamati foto itu. "Sejak kapan rambut tealnya jadi agak gelap? Wajahnya… kenapa mirip Neru, ya?"
"Neru? Jadi yang ada di foto ini Neru?"
"Aku tidak yakin."
"Rin! Len! Izinkan kami masuk! Ada barang yang tertinggal!"
"Eh?"
"Jangan-jangan foto ini!"
To Be Continued
Udah dulu ya... segitu dulu chap. kali ini. Sekarang saya butuh review dari readers sekalian, tapi yang nggak review juga nggak apa-apa! Oh iya, doain saya ya! Saya mau ujian nih minggu besok. moga lancar. amin. Well! Sampai ketemu di chap depan ya! Papay! :D
