Naruto belong to Masashi Kisimoto

.

.

Angin menerbangkan 'bulu' seekor kelinci dan helai rambut kedua anak manusia berbeda gender yang kini tengah duduk di bawah pohon ek. Sejak satu setengah jam yang lalu tak ada pembicaraan diantara keduanya. Sasuke memejamkan onyxnya seraya menyandarkan punggungnya di batang pohon. Sedangkan Sakura sibuk memperhatikan Shiro-seekor kelinci yang pernah ditemukannya ketika sedang latihan-yang sedang sibuk memakan wortelnya.

Sakura sebenarnya merasa sangat tidak nyaman dengan kesunyian ini,tapi rasa benci dan amarahnya pada pemuda di sampingnya itu membuatnya enggan untuk sekedar bertanya 'kenapa kau bisa ada disini Sasuke?' atau 'bagaimana keadaanmu Sasuke?'.

Sakura membuang jauh pertanyaan terakhirnya yang menurutnya teramat menggelikan. Bagaimana bisa dia menanyakan sebuah pertanyaan bodoh yang sepertinya akan mendapat beberapa jawaban.

Pertama,bagaimana mungkin dia bertanya tentang keadaannya jika kini kedua matanya menyaksikan sendiri pemuda itu tampak baik-baik saja dan tidak ada satu luka pun di tubuhnya. 'tentu saja dia tidak terluka,dia tidak mungkin memukul balok dan kaca tanpa alasan yang jelas seperti yang kau lakukan,Sakura,' inner Sakura. 'Hey..aku kan sedang marah waktu itu adalah sebuah alasan yang jelas!' debat Sakura dalam hati tidak setuju dengan innernya.

Kedua,tidak mungkin Sakura bertanya pada orang yang jelas-jelas 'mengalahkannya' dan menjadi 'penyebab' pertengkarannya dengan Gaara. Walaupun inner Sakura mengatakan pemuda itu tak ada andil dalam permasalahannya dan itu adalah ulah bodoh yang dilakukan Sakura sendiri dengan kesadarannya,tapi Sakura tetap tidak setuju. Baginya jika Sasuke tidak mengalahkannya mungkin dirinya dan Gaara tidak akan bertengkar dan berujung pada Gaara yang melukainya. Ego bungsu Akasuna itu menjerit,mengatakan bahwa Sasuke bersalah dan dia adalah korban. Ckck dasar egois.

Sasuke melirik Sakura dari sudut matanya. Dilihatnya tangan dan kaki gadis itu penuh luka. 'Gadis gila,' pikirnya.

''Aww,'' Sakura meringis pelan merasakan perih di tangannya.

Sasuke melirik-lagi- ke arahnya. Kemudian dikeluarkannya sebuah kotak berwarna putih dengan tanda plus berwarna merah di bagian atasnya.

''ini,'' disodorkannya kotak itu pada Sakura. Sakura menatap Sasuke lalu kotak itu bergantian.

''apa ini?''

Kalau tidak mengingat dia adalah seorang 'Uchiha' mungkin Sasuke sudah menepuk jidatnya gemas dengan respon gadis itu. Tapi dia tetap menjaga imagenya dan menunggu tindakan selanjutnya dari gadis itu tanpa menjawab pertanyaan bodohnya. Lama tak mendapat respon akhirnya dengan terpaksa Sasuke menarik paksa tangan gadis itu. Membuat sang empu meringis kemudian mendeliknya tajam.

''H-hey Uchiha apa-apaan kau ini!''

''Diamlah!''

Sakura-masih-mendelik tak suka kearah Sasuke yang seenaknya memerintahnya. 'memang dia pikir siapa dirinya?' inner Sakura. Namun nyali gadis itu mendadak menciut ketika Sasuke menatapnya tajam dan memilih untuk menerima perlakuan pemuda itu dengan setengah hati. Dengan hati-hati Sasuke membersihkan dan mengobati luka-luka itu lalu melilitkannya perban. Sesekali Sakura meringis ketika Sasuke menekan lukanya terlalu keras-menurutnya-.

Satu hal yang membuat Sasuke heran akan dirinya. Sasuke yang biasanya cuek dan tidak peduli dengan orang lain tiba-tiba bersikeras untuk mengobati luka seorang gadis. Catat ini 'seorang gadis'.

Pernah suatu hari dia meninggalkan seorang wanita dalam keadaan yang 'tidak baik-baik saja' karena dirinya. Dengan langkah ringannya pemuda itu meninggalkan 'wanitanya' begitu saja tanpa menoleh ke belakang seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa diantara mereka. Tiba-tiba wanita itu meneriakkan sesuatu yang tak berpengaruh baginya. 'suatu saat akau akan merasakan sakitnya kehilangan,Uchiha!'

Namun dengan Sakura dia tidak bisa melakukannya,meninggalkannnya begitu saja dalam keadaan seperti itu.

''gadis bodoh''

Sakura mendelik kearah Sasuke ketika mendengar kata-kata barusan. Perempatan siku muncul di kening lebarnya.

''Apa maksudmu,Uchiha!''

Sasuke mendengus lalu sedetik kemudian dia menyeringai tanpa sepengetahuan Sakura.

''Kau marah karena aku mengalahkanmu eh?''

''ka-''

''atau kau memukul benda-benda tak berdosa karena kau tak mempunyai tempat pelampiasan yang lain?''

''…''

''dengan kata lain..kau kesepian?''

DEG

Sakura terkejut dengan kosa kata barusan. Kesepian? Dadanya terasa sesak ketika mendengar dan meresapi satu kata tersebut. Orang tuanya telah meninggal. Kakaknya?jangan tanyakan itu mereka terlalu sibuk dengan urusannya. Matanya memanas. Kepalanya pun terasa berat untuk sekedar berdiri tegak dan menatap pemuda Uchiha itu.

''ka-''

''diam..'' bibir Sakura bergetar.

''ternyata-''

''DIAM KAU BRENGSEK!''

Sasuke-agak-terkejut ketika gadis itu membentaknya. Sakura mencengkeram kerah bajunya. Matanya berkaca-kaca dan kosong. Sasuke menatap datar padanya.

''Ka-kau tidak tahu apa-apa tentangku jadi..'' Sakura menundukan kepalanya sebentar lalu menatap nyalang Sasuke dan melanjutkan kata-katanya,''jangan berbicara seolah kau mengetahui segala tentangku,Uchiha!''

Sakura melepaskan cengkeramannya dengan kasar dan pergi meninggalkan Sasuke dengan air mata yang mengalir di pipi ranumnya. Sasuke menatap punggung Sakura yang kian menjauh. Termenung sejenak, dan sedikit menyesali perkataannya. Namun tak lama kemudian seringai menghiasi wajah tirusnya.

.

.

.

''Temeee..darimana saja kau!'' seru Naruto ketika melihat kedatangan sang tuan rumah. Namun Sasuke tak mempedulikannya dan berjalan melewati ketiga orang lainnya yang memandang heran kearahnya.

''hoiii Teme mau kemana kau?hari ini kita ada jadwal latihan,Teme kau mendengarku tidak sih?''

''ada apa dengannya?'' tanya Shikamaru entah pada siapa melihat Sasuke yang kini menaiki tangga.

Neji mengarahkan pandangannya pada Itachi yang masih termangu pada adiknya itu. Sebagai kakak tentu saja Itachi tahu pasti sesuatu telah terjadi pada adiknya. Namun dia memilih untuk membiarkannya,karena pasti Sasuke tak akan menceritaka padanya dan orang lain.

.

Sasuke merebahkan tubuhnya di ranjang empuknya. Ditatapnya langit-langit kamarnya. Pikirannya kembali pada kejadian beberapa saat yang lalu. Mata Sakura yang berkaca-kaca. Nada kemarahan,kesedihan,dan kekecewaan dalam perkataanya. Padahal Sasuke hanya berniat untuk menggoda tapi ternyata respon yang didapat jauh dari dugaannya. Mengacak rambutnya frustasi. ;kenapa tiba-tiba aku peduli padanya? Sial!' inner Sasuke. Menegakkan tubuhnya lalu berjalan menuju kamar mandi. 'mungkin air lebih baik'.

.

.

.

''Tadaima!''

Walaupun tahu tidak akan ada yang menyahut salamnya-kecuali para maid yang kebetulan di ruang utama- Sakura tetap mengucapkannya. Dia tak melihat pemuda berambut merah itu di rumahnya. Pecahan guci dan tetesan darahnya yang tadi menghiasi marmer pun kini telah hilang yang Mungkin telah dibersihkan oleh para maid. 'pasti dia pergi lagi,cih!' pikirnya. Kakinya melangkah menuju tangga yang menghubungkan ke lantai dua. Mengabaikan beberapa maid yang berojigi. Sakura mengernyit heran mendapati pigura yang terletak diatas meja kini berpindah ke atas ranjang. Tangannya terulur mengambil benda tersebut. Emeraldnya menatapnya nanar. Sebuah potret keluarga bahagia. Lengkap dengan kedua orang tua serta kedua kakaknya. Diletakannya kembali benda tersebut diatas meja. Lalu matanya beralih pada perban yang melilit kedua tangannya. Seketika otaknya kembali mengingat Uchiha tadi. Uchiha yang dengan seenaknya mengatakan hal yang tak diketahuinya. Namun separuh hati Sakura membenarkan ucapan sang Uchiha. Kesepian?apakah benar dia kesepian?kemana keluarganya?kemana orang-orang terdekatnya?siapa yang hbisa membantunya keluar dari ruang bernama kesepian?apa yang membuatnya kesepian?

Kepala Sakura berdenyut memikirkannya. Refleks gadis itu menghantam kaca pigura di depannya. Matanya menatap marah,sedih,kecewan dan..kesepian kearah benda yang kini bagian kacanya retak tersebut. Tak dipedulikannya darah yang kembali merembes dari lilitan perbannya yang kini berwarna merah.

''Kaa-san..Tou-san..''

Setitik air mata menetes diatas pigura itu,tepat diatas wajah sang ayah.

.

.

''Sakura!''

Iris hazel itu seketika terbuka ketika samar-samar didengarnya suara kesedihan sang adik. Diusapnya kasar wajah manisnya. Berfikir bahwa mungkin itu hanya sebuah halusinasi. Lalu sedetik kemudian kepalanya menoleh pada sebuah pigura di sampingnya. Tangannya terkepal erat hingga berdarah,namun tak dipedulikannya. Matanya memandang benda tersebut dengan tatapan yang sulit diartikan.

.

.

TBC

Ini udah aku panjangin loh hhehe..monggo reviewnya :)

Hatur Nuhun.