Hola! Author kembali dengan membawa chapter enam dari fic gaje ini! Yosh! Langsung balas review aja deh!
.
.
Harada Ayumi-chan
Iya, ini udah update! Makasih reviewnya! ^^
Kuro 'Kaito' Neko
Rin sama Len emang berdua sih pas Neru diusir tapi... nggak ngapa-ngapain kok, lagian ini rate T haha!
Eh? Di fav? Makasih! *bungkukkin badan berkali-kali*
Ya, ini udah! Makasih reviewnya! XD
Ayano Futabatei
Ini udah lanjut! Makasih reviewnya ya! ^^
Tsunneko Mai-chan
Makasih udah suka sama fic gaje ini!
Iya, ini ujiannya udah beres hehe!
Dan ini udah update! Makasih reviewnya! :D
Namikaze Kyoko
Ya, memang bener! Tapi kalau soal bunuh Neru... gimana nanti aja deh! XD
Ini udah update! Makasih reviewnya! :D
sonedinda
Ini udah, makasih reviewnya! :)
djokroe
Udah lanjut! Makasih fav sama reviewnya! ^^
Nakashima Erie
Ini udah dibikin hehe! Makasih ya reviewnya! ^^
anon gaje
Ini udah lanjut! Makasih reviewnya! ^^
.
.
.
Yosh! Langsung disclaimer!
Disclaimer: Kalau Author punya Vocaloid mungkin Vocaloid nggak akan laku.
Normal POV
Rin dan Len terdiam. Mereka saling bertatapan satu sama lain sambil memasang wajah bingung sementara pintu kamar Rin diketuk Neru dan Kaito berkali-kali.
"Rin! Len! Bukakan pintunya! Cepat!" Teriak Kaito tidak sabaran sambil terus mengetuk pintu kamar Rin.
"Rin, biar aku bukakan pintunya ya?" tanya Len tiba-tiba. Rin segera mengangguk. Len kemudian membukakan pintunya dan dengan terburu-buru Kaito pun masuk ke kamar Rin diikuti oleh Neru di belakang.
"Dimana?" tanya Kaito yang lagi-lagi tidak sabaran.
"Apanya yang dimana?" tanya Rin pura-pura tidak tahu.
"Foto Miku!" Jawab Kaito. "Dimana? Kalian lihat tidak?"
"Foto Miku? Maksudmu ini?" ucap Rin sambil menunjukan foto yang ditemukannya tadi.
"Iya! Itu! Berikan!" Ucap Kaito langsung merebut foto itu dari tangan Rin.
"Kau yakin itu Miku, heh?" tanya Rin.
"T-Tentu saja. Ciri-cirinya memang seperti ini," jawab Kaito. Dari nadanya berbicara jelas terdengar kurang yakin.
"Kau yakin?" tanya Rin lagi.
"Tentu saja." Jawab Kaito lagi. Kemudian Rin pun menatap Neru yang sedari tadi diam di belakang Kaito. Neru langsung memberi Rin sebuah tatapan tajam dan dibalas dengan tatapan yang sama dari Rin. Rin pun menatap Kaito lagi.
"Ya sudah kalau kau yakin dengan jawabanmu itu." Ucap Rin sambil menghela nafas.
"…"
Kaito pun terdiam. Ia sendiri sebenarnya masih belum yakin dengan jawabannya sekarang. Tidak terasa air mata Kaito keluar dari kedua matanya.
"K-Kaito?" ucap Neru khawatir.
"Heh? Playgirl bisa khawatir juga, ya?" ucap Rin yang terdengar seperti nada mengejek.
"Sudah kubilang jangan panggil aku dengan sebutan itu!" Ucap Neru kesal.
"Baiklah kalau itu maumu, Neru."
"…"
Semuanya pun menjadi hening. Paling hanya terdengar suara tangisan kecil yang berasal dari Kaito.
TING TONG
Tiba-tiba saja bel rumah keluarga Rin atau Kagamine berbunyi, pertanda ada tamu.
"Biar aku yang bukakan pintunya." Ucap Len tiba-tiba.
Rin mengangguk pelan kemudian Len pun turun ke lantai satu untuk membukakan pintu untuk tamu. Ketika pintu dibukakan, terlihatlah sosok seorang gadis berambut teal diikat twintail. Siapa lagi kalau bukan Miku.
"Lho? Miku?" ucap Len sambil memasang wajah polos.
"Len? Aku datang ke sini, mau bertemu dengan Rin." Ucap Miku.
"Oh, ikut aku. Dia ada di kamarnya," ucap Len langsung membelakangi Miku dan berjalan menuju ke kamar Rin.
.
.
.
Sedari tadi keadaan kamar Rin hening. Tidak ada seorang pun yang berbicara. Tangisan kecil Kaito sudah berhenti, hanya saja wajahnya menjadi agak sedikit kusut akibat tangisannya.
"Tidak ada yang perlu ditangisi, tapi kenapa aku menangis." Gumam Kaito tapi cukup didengar oleh Rin maupun Neru.
"Kau masih mencintai Miku, kan? Aku tahu, itu sangat terlihat jelas." Ucap Rin pada Kaito.
"Maaf kalau aku kasar padamu, Rin. Tapi aku ingin kau tidak usah ikut campur urusanku," ucap Kaito.
"Siapa bilang aku ikut campur? Aku hanya mau memberitahumu, itu saja." Ucap Rin.
"Jadi? Tahu apa kau?" tanya Kaito.
"Pertama, aku tahu kalau orang yang di foto yang sedang kau pegang itu adalah bukan Miku. Kedua, kau harus bertemu Miku dan minta maaf padanya. Ketiga, Neru adalah dalang dari semua masalah yang kau hadapi selama ini. Keempat, kau harus sadar kalau selama ini kau salah paham." jawab Rin panjang lebar.
"Bukan Miku katamu?" tanya Kaito dengan tatapan tidak percaya. "Orang di foto ini bukan Miku?"
"Hey Rin! Jadi kau salahkan aku heh? Apa salahku?" protes Neru.
"Tenang dulu Neru. Hee, Kaito, itu memang bukan Miku, tapi itu Neru." Ucap Rin. "Coba kau amati lebih teliti foto itu,"
"Tidak! Kaito! Tahu apa dia! Jangan percaya! Itu bukan aku!" Ucap Neru setengah berteriak namun diabaikan oleh Kaito. Kaito tampak serius mengamati foto yang dipegangnya itu sampai pada akhirnya Neru pun marah dan menjambak rambut Rin.
"A-Apa yang kau l-lakukan!" Ucap Rin kaget dengan tindakan Neru.
"Pengganggu! Kau pengganggu! Mati saja kau!" Ucap Neru tiba-tiba sambil terus menjambak rambut Rin.
"Kyaaa! Lepaskan! Sakit!" Teriak Rin kesakitan.
"Tidak! Aku akan melakukan hal yang sama seperti dulu aku merusakan rambut Gumi! Haha!" Ucap Neru sambil tertawa sinis.
"Hentikaaaan! Aku mohon!" Teriak Rin lagi. Ia benar-benar merasa kesakitan.
"RIIIN!"
Tiba-tiba saja Len datang dan mendorong Neru sehingga Neru jatuh menimpa meja belajar milik Rin. Rin juga ikut terjatuh namun segera ditangkap oleh Len.
"Len, apa Rin tidak apa-apa?" tanya Miku khawatir. "Apa yang terjadi di sini?"
"Kaitoo! Ada apa denganmu! Kenapa kau tidak menyelamatkan Rin, hah!" Teriak Len marah.
"Aku terlalu sibuk dengan pikiranku tadi, maaf. Aku tidak tahu kalau Rin diserang oleh Neru," ucap Kaito.
"Apa katamu?!"
"Sudahlah Len. Rin pasti baik-baik saja. Kau tidak usah khawatir," ucap Miku.
"K-Kepalaku berdarah…" Gumam Neru tiba-tiba. "Len… tega sekali… kamu…"
"Lagipula, kenapa kau menyakiti Rin? Aku tidak akan membiarkan seorang pun menyakiti Rin, termasuk kau juga." Ucap Len sambil menatap Neru tajam. "Padahal, aku percaya padamu, Neru… Tapi setelah kau menyakiti Rin… aku jadi tidak tahu lagi."
Semuanya pun menjadi hening.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Aku tidak mau dibenci lebih banyak orang lagi… Baiklah… Aku mengaku… kalau yang di foto itu bukan Miku. Yang ada di foto itu aku sendiri…. Aku sedang memeluk Mikuo di hari halloween. Saat itu aku sedang menggunakan wig yang persis seperti rambut Miku, tapi aku tidak tahu kalau aku akan menggunakan foto itu sebagai aksi jahatku pada kalian. Jadi, maafkan aku… sebenarnya Miku itu sangat baik. Aku hanya cemburu padanya karena ia bisa memiliki seorang kekasih yang dicintainya seperti Kaito, sedangkan aku… sedangkan aku ditinggal Mikuo ke luar negeri." Jelas Neru panjang lebar, kemudian Neru pun menangis.
"Neru jangan menangis! Aku tidak pernah membencimu, kok!" Ucap Miku tiba-tiba sambil memeluk Neru.
"Aku tahu, Miku! Aku tahu kau selalu baik padaku!" Ucap Neru tetap menangis.
"Jangan menangis lagi, ya? Duduklah, aku mau mengobati luka berdarah di kepalamu." Ucap Miku seraya menenangkan Neru.
Neru pun berhenti menangis, sementara Miku mengobati luka di kepala Neru.
"Kamu bilang kamu ditinggal Mikuo ke luar negeri, ya?" tanya Miku yang sekarang sedang memakaikan perban di kepala Neru, tentu saja bagian keningnya saja.
"Iya. Bukannya kau itu adiknya?" tanya Neru.
"Iya… Sebenarnya, Mikuo tidak meninggalkanmu, kok. Entah dia lupa bilang atau apa… tapi dia bilang padaku, kalau dia akan pulang ke Jepang lagi dan alasannya adalah kau." Ucap Miku sambil tersenyum.
"Aku? Kenapa aku?"
"Dia akan menemuimu lagi."
"Menemuiku… lagi?"
"Nah! Sudah selesai!" Ucap Miku dengan riang kemudian membereskan perban, gunting, dll.
"Eh, Miku… barusan kau ke sini mau apa?" tanya Rin yang tiba-tiba saja teringat sesuatu.
"Oh, maaf… jadinya lupa, hehe! Kau kan meneleponku sejak tadi? Saat itu ponselku mati, karena itulah…" Jelas Miku terkekeh pelan.
"Oh itu… sekarang aku sudah tidak membutuhkanmu lagi, kok. Sana pulang!" Ucap Rin cuek.
"Rin ngusir Miku, ya?" tanya Miku berkaca-kaca.
"Bercanda! Jangan nangis, ah!" Ucap Rin tertawa. Seketika wajah Miku berubah lagi menjadi ceria. Neru hanya tersenyum menatap kedua temannya yang sedang bercanda ini.
Sementara Len dan Kaito yang kelihatannya sedang sibuk membicarakan sesuatu.
"Kaito, sekarang kan kau sudah tahu kalau Miku tidak punya salah. Geez… Aku pernah bilang padamu waktu itu, Miku itu orangnya baik. Masih ingat?" tanya Len.
Kaito mengangguk.
"Lalu?"
"Karena kebodohanku, akan aku teraktir kau beli pisang selama sebulan." Ucap Kaito sambil menghela nafas.
"APA? SUNGGUH!" Teriakkan Len membuat Rin, Miku, dan Neru menoleh ke arahnya.
Kaito mengangguk sambil tersenyum.
"Aku tahu kalau Kaito itu baik sekali! Ya kan?" ucap Len tiba-tiba bersemangat.
"Hehe, kalau soal pisang kau jadi seperti anak kecil ya, Len? Kalau kubatalkan bagaimana?" tanya Kaito.
Tiba-tiba saja Len jadi pundung. "Jangan dibatalkan…"
"Haha! Benar-benar, deh! Kalau begitu dimulai dari besok saja, ya?"
"Iya."
"Kenapa masih cemberut? Kan aku hanya bercanda?"
"Oi oi, kalian berdua! Kalian sedang membicarakan apa?" tanya Rin yang sedari tadi memperhatikan mereka, begitu juga Miku dan Neru.
"Soal pisang kan?" tanya Neru. "Yang kudengar sih itu... kalau tidak salah."
"Pisang?" Miku kebingungan.
"Apanya yang pisang?" tanya Rin pada Neru dan Miku.
Miku menggeleng sementara Neru hanya diam.
"Pisangnya kenapa? Len, pisang kenapa?" tanya Rin tidak mengerti.
"Oi, aku sudah bilang kalau aku bercanda, kan? Besok aku belikan yang banyak, deh!" Kata Kaito sambil menepuk pundak Len.
Len pun menoleh ke arah Kaito dengan berkaca-kaca. "Benarkah?"
Kaito mengangguk. "Tentu saja benar!"
Tiba-tiba saja wajah Len pun berubah menjadi cerah dengan senyum lebarnya.
"Hey, Rin?" kata Kaito memanggil Rin.
"Ya?"
"Lihat apa yang dilakukan tunangan bodohmu ini sekarang?" tanya Kaito.
"Dia memang terkadang aneh," jawab Rin cuek.
Miku dan Neru hanya terkekeh pelan, sementara Len pundung lagi. "Dikatai aneh oleh Rin lebih buruk daripada tidak dibelikan pisang…"
"Aku tidak tahu harus bilang apa…"
.
.
.
Malam pun tiba. Keluarga Len maupun Rin tengah bersiap-siap untuk pergi makan malam. Rin sedang sibuk memilih gaun di kamarnya, ia terus mengobrak-abrik lemari pakaiannya sampai kamarnya dipenuhi gaun yang tidak dipilihnya.
"Mana yang bagus, ya?" gumam Rin.
Setelah lima menit kemudian, Rin masih belum juga menemukan gaun yang cocok untuknya. Lily atau ibunya Rin pun masuk ke dalam kamar Rin.
"Ya ampun, Rin. Kenapa sampai berantakan seperti ini?" tanyanya.
"Habisnya aku kesal, sih! Tidak ada gaun yang cocok untukku!" Jawab Rin dengan kesal.
"Untuk apa kau cari gaun yang cocok untukmu? Ibu sudah menyiapkan gaun untukmu dari kemarin! Nih, pakailah!" Ucap Lily sembari melemparkan gaun di tangannya ke arah Rin dan Rin menangkapnya.
Mata Rin segera melebar ketika melihat gaun itu dari atas sampai ke bawah.
"B-Bagus sekali!"
"Baguslah kalau Rin menyukainya~! Ibu akan membantumu memakainya~!" Kata Lily seraya menghampiri Rin.
"Baiklah, tolong ya..." Kata Rin sambil melepas pakaiannya satu persatu, kemudian memakai gaun itu.
Sekarang Rin terlihat sangat cantik. Ia memakai gaun berwarna cream selutut dengan renda di setiap sisinya. Di belakang lehernya terdapat sebuah pita cream besar, hasil dari ikatan sebuah tali di lehernya.
"Manisnya~!" Kata Lily.
"Ah, terima kasih, Ibu." Balas Rin sambil tersenyum.
"Tapi sepertinya ada yang kurang, deh!" Ucap Lily sambil memasang wajah berpikir.
"Ada yang kurang? Apa itu?" tanya Rin heran.
Lily pun memegang kedua bahu Rin, kemudian menghadapkan Rin pada kaca meja rias milik Rin.
"Duduk!" Perintah Lily menyuruh Rin duduk di kursi.
Kemudian Rin pun duduk, menuruti perintah ibunya.
"Apa yang akan Ibu lakukan padaku?" tanyanya.
"Lihat saja nanti," jawab Lily sambil tersenyum.
Lily kemudian menyentuh rambut Rin, lalu mengambil sisir dan menyisir rambut Rin. Setelah itu ia memasang empat jepit cream kecil di poni Rin dan mengikat rambut Rin menjadi ponytail kecil di belakang dengan sebuah pita berukuran normal yang senada dengan gaunnya.
"Sepertinya... Ibu baru menyadari sesuatu, deh!" Kata Lily setelah selesai menata rambut Rin.
"Hmm?" Rin hanya menatap polos bayangan Ibunya dari kaca.
"Ternyata kamu itu mirip Len!" Lanjut Lily sambil tersenyum.
Rin hanya diam, menatap bayangannya dalam kaca. 'Aku mirip dengan Len, ya?' batinnya.
"Rin? Ayo berangkat! Yang lainnya sudah menunggu!" Kata Lily membuyarkan lamunan Rin.
"Ah, iya!"
.
.
.
Sementara itu di suatu tempat, lebih tepatnya di bandara. Seorang gadis berambut hijau lumut sebahu keluar dari sebuah pintu pesawat sambil memegang gagang koper di tangannya.
"Gumiya! Apa kau sudah selesai?" tanya gadis berambut hijau lumut itu sambil menoleh ke arah laki-laki berambut senada dengannya.
"Tunggu sebentar, Gumi!" Jawab laki-laki yang dipanggilnya Gumiya tersebut. "Nah! Sudah!" Katanya langsung menghampiri Gumi.
Kemudian mereka berdua pun keluar dari bandara.
'Aku sudah tidak sabar untuk menemui kalian,' batin Gumi.
.
.
.
To Be Continued
Yosh! Segitu dulu! Maaf telat update! Setelah ini Author bakalan langsung bikin chapter tujuhnya deh! Tapi nggak tahu selesainya kapan! #PLAAK
Soal Neru... Iya! Dia jadi baik! Ada masalah? Kalau soal pairnya Neru, itu Author nggak sengaja ngetik nama Mikuo gitu aja! #dibunuh
Ya udah deh! Yang udah review sebelumnya makasih ya! Berkenan untuk review lagi?
