Satu kesalahan yang baru saja dilakukan Sakura tanpa disadarinya
Tidakkah dia mengetahui tentang karma?
Tidakkah dia pernah mendengar bahwa sesungguhnya mulut lebih berbahaya daripada mata pisau?Kau akan merasakannya Sakura..
tidak hari ini..tapi besok
besok ketika segalanya sudah mencapai batas akhirnya..

Naruto is belongs to Masashi Kisimoto

.

.

BUGH
Gaara memukul perut seorang pria bertubuh besar yang sekarang dalam keadaan babak belur. Sang pria meludah darah, kemudian mendengus kesal karena berhasil dilukai oleh makhlluk merah di depannya.
''Lumayan juga kau bocah. Tapi tak semudah itu mengalahkanku!'' kemudian pria itu mengambil sebuah pistol dari saku jasnya dan menembaki Gaara dengan membabi buta namun tak satu pun peluru tersebut mengenai Gaara. Gaara mengambil sebuah kursi lipat yang saat itu kebetulan ada di sampingnya. Dijadikannya kursi tersebut sebagai tameng. Ketika melihat pria itu lengah dengan secepat kilat Gaara melempar kursi itu kearahnya. Lalu diterjangnya tubuh itu dan memukulinya habis-habisan. Tangannya merogoh sebuah benda dari dalam kantong senjatanya.
''Ini akibatnya kau berurusan denganku,brengsek''
JLEB JLEB JLEB
Tiga tusukan masing-masing dia tancapkan di jantung,perut dan tenggorokan pria itu. Sebelum menjemput ajalnya sang pria sempat kejang-kejang dan melihat Gaara dengan raut yang begitu kesakitan dan tersiksa. Gaara hanya menatapnya dingin dan benci.
Di sisi lain Kankurou yang melihat pemandangan itu hanya mendecih. Dan karena terlalu berkonsentrasi pada Gaara,pria itu tak menyadari bahwa kini sebuah besi melayang kearah tengkuknya. Namun belum sempat benda itu menyentuh kulitnya,sebuah suara tembakan membuat Kankurou menoleh kearah belakangnya. Di depannya tergeletak seorang pria yang bersimbah darah di bagian kepalanya. Rupanya Temari yang menyadari bahaya yang mengancam Kankurou segera mengambil tindakan dan membunuh pria itu. Diputar-putar pistol yang ada dalam tangannya lalu dimasukannya ke dalam saku gadis berambut pirang tersebut. Kemudian tersenyum mengejek kearah Kankurou. Sedangkan Kankurou merasa harga dirinya sebagai lelaki 'sedikit' tercoreng karena telah diselamatkan oleh seorang wanita. Selain itu juga kepekaannya akan keberadaan musuh yang tidak ada sama sekali.
''tidak..kita belum menemukannya'' ujar Gaara datar. Temari dan Kankurou paham siapa orang yang dimaksud oleh Gaara. Misi mereka baru berjalan setengahnya,namun mereka tak akan menyerah sebelum menemukannya. Terutama Gaara,dia sangat ingin menodai tangannya dengan darah kotor
.

.

Naruto menatap bingung kearah papan tulis di depan yang berisi angka-angka dan deretan rumus logaritma yang sama sekali tak dimengertinya. Diedarkan matanya ke seluruh penjuru kelas. Memusingkan. Lalu dia melirik kearah samping kanannya dimana sahabat Uchihanya duduk. Pria itu menatap datar kearah depan. 'Sasuke sih tidak memperhatikan pasti akan mengerti angka-angka dan rumus sialan itu,' pikirnya dalam hati.

Kemudian pandangannya terarah pada Shikamaru yang sedang menguap bosan dengan mata yang terkantuk-kantuk. 'hahh membosankan'. Tiba-tiba matanya terhenti kearah tempat dimana Sakura duduk. Gadis itu menatap kearah luar jendela. Angin yang berhembus dari jendela yang tak tertutup menerbangkan helaian merah mudanya. Nafas Naruto tercekat. Jantungnya berdegup tak berarturan hanya dengan melihatnya. Lalu digeleng-gelengkan kepalanya berusaha menepis perasaan asing yang mendadak menyerangnya. Sasuke yang menangkap tingkah aneh sahabatnya itu hanya melirik sekilas.
''Apa ada yang tidak kau mengerti,Naruto?'' tanya Iruka melihat Naruto menggelengkan kepalanya seperti orang yang frustasi dengan materinya.
''E-Eh..tidak Iruka Sensei saya mengerti semuanya!'' ucap Naruto lantang membuat beberapa pasang mata menatapnya kagum dan heran. Setahu mereka Naruto kan mempunyai kapasitas otak yang err..dibawah standar. Mengagumkan dan mengherankan jika tiba-tiba dia mengatakan mengerti semua materi itu dengan cepat. Padahal mereka yang sedari tadi melotot kearah Iruka dan papan tulis saja sulit sekali mencerna tulisan-tulisan yang seperti cekeran ayam itu. Sasuke mengangkat alisnya sebelah. Tidak percaya dengan apa yang barusan dikatakan oleh Naruto. Sama halnya dengan Shikamaru yang kini menegakan kepalanya menatap pria jabrik itu penasaran. 'Dia ini sedang mengigau atau apa sih?tidak sadara dengan efek dari kata-katanya. Dasar baka!' ucap Shikamaru dalam hati. Bukannya dia kejam atau apa mengatakan seperti itu hanya saja dia masih peduli dengan nasib yang akan menimpa sahabatnya itu karena perkataannya yang tidak difikir terlebih dulu. Sedangkan Iruka langsung menunjukan wajah berbinar ketika mengetahui bahwa salah satu murid dalam daftar blacklistnya langsung bisa memahami materi sulit yang baru saja dia ajarkan. Padahal belum ada satu jam dia menerangkannya,namun Naruto bisa langsung menangkap materi itu. Lalu dengan lantang dan bahagia Iruka menyerukan sesuatu yang membuat sebagian siswa menahan nafas,sebagian menatap horor dan ssisanya menatap prihatin pada Naruto yang masih cengar-cengir tak berdosa.
''Baik kalau begitu kerjakan 5 soal di halaman 234,lima belas menit lagi serahkan padaku!''
''pffttt..'' Shikamaru menahan tawanya sedangkan Sasuke mendengus geli melihat wajah tersiksa Naruto yang sepert sedang menahan pipis.
'Kami-sama selamatkan aku' doa Naruto dalam hati dengan keringat dingin yang menghiasi keningnya.
''Buahahahaha kau memang hebat ,Naruto. Aku salut padamu!'' Kiba mengacungkkan jempolnya kearah Naruto yang hanya memandangnya pasrah. Tenaganya sudah cukup terkuras untuk meladeni ejekan temannya itu.
''hahh..awalnya kupikir kau benar-benar mengerti dengan materi tadi,Naruto. Tapi ternyata..'' Shikamaru tak melanjutkan kata-katanya ketika Sai tiba-tiba menengahi.
''Sudahlah teman-teman. Mungkin Naruto-san"saat itu sedang sangat kelelahan jadi dia tidak sempat mencerna apa yang diucapkan Iruka Sensei. Benar kan,Naruto'' Sai tersenyum polos kearah Naruto yang menatapnya jengkel.
Sontak semua yang mendengar ucapan Sai seketika tertawa tebahak-bahak. Bahkan Kiba sampai memegangi perutnya yang terasa sakit karena terlalu banyakl tertawa. Teman-temannya memang memiliki bakat untuk melawak. Sasuke mendengus geli dengan kelakuan Sai yang kelewat polos.
Naruto yang jengkel karena dijadikan bahan tertawaan memilih untuk menyantap ramen yang baru saja mendarat di meja di depannya. Mengabaikan sikap menyebalkan para sahabatnya.
Tanpa sadar matanya melihat tiga makhluk berjenis kelamin berbeda dengannya tengah bersenda gurau di meja seberang. Pandangannya terhenti pada seorang gadis bermahkota pink yang tengah tertawa. Tanpa sadar terdapat sedikit semburat merah di kedua pipinya. Ramennya pun terlupakan begitu saja.
Sasuke melirik Naruto yang menghentikan acara menyantap ramennya di depan mulut. Diikutinya arah pandang pemuda jabrik itu. Merah muda. Tiba-tiba pemuda Uchiha itu sedikit diliputi perasaan bersalah mengingat kejadian kemarin antara dia dengan gadis merah muda itu.
''Sepertinya Haruno Sakura jauh lebih menarik daripada ramen dan tomat'' sindir Kiba.
Sasuke nampak tak peduli dan mengalihkan matanya kearah lain. Sedangkan Naruto menatap Kiba dengan tampang bodohnya.
Neji mendengus melihat tingkah kedua temannya.
''Apa maksudmu Kiba?'' tanya Naruto sambil mengunyah ramennya.
''baka! Telan dulu makananmu sebelum bicara!'' Shikamaru menjitak kepala Naruto karena kuah ramennya sedikit 'muncrat' kearahnya. Sai tersenyum melihatnya.
''Apa yang kau tertawakan,Sai'' komentar Kiba.
''tidak ada'' jawab Sai sambil tersenyum-lagi-.
Sasuke tak mempedulikan obrolan tak penting dari para sahabatnya. Pikirannya kembali terfokus pada gadis itu,tak menyadari Neji yang menatap penuh arti kepadanya karena tertangkap basah sering mencuri pandang kearah Sakura.
.

.
''Apa?jadi aku satu kelompok dengan Uchiha pantat ayam itu?''
Ino dan Hinata menutup telinga mereka mendengar suara menggelegar Sakura. Memang sih sekarang mereka bertiga sedang berada di rumah gadis pink itu dan artinya dia bisa berbuat semaunya. Tapi setidaknya dia juga seharusnya memikirkan keberadaan kedua sahabatnya yang tengah duduk manis di sampingnya dan bagaimana nasib indra pendengaran mereka karena mendengar suara toanya dalam jarak sedekat itu.
''Tidak perlu berteriak seperti itu,jidat. Kau mau membuatku dan Hinata tuli apa!'' sahut Ino yang juga ikut berteriak sambil sesekali mengelus telinganya. Berharap dapa sedikit meredakan sakitnya.
Sakura tak menanggapinya. Sekarang gadis itu malah sibuk mondar-mandir sambil sesekali menggerutu tak jelas dan merutuki sebuah nama yang sempat disebutnya tadi. Ingin sekali Sakura protes pada sensei yang telah menempatkannya satu kelompok bersama pemuda itu,tapi setelah dipikir matang-matang sepertinya usahanya akan sia-sia. Alih-alih sang Sensei akan mengabulkan 'permohonannya' malah justru sang Sensei akan memarahinya habis-habisan karena tidak menyetujui keputusannya.
Mengabaikan sahabatnya yang sedang kalang kabut,Hinata menggeser laptop Sakura ke pangkuannya. Selain tak ingin mengambil resiko melihat laptop itu akan menjadi korban amukan Sakura,dia juga penasaran dengan nama-nama dalam kelompoknya.
Uchiha Sasuke
Haruno Sakura
Yamanaka Ino
Hyuga Hinata
Shimura Sai
Inuzuka Kiba
Uzumaki Naruto
tepat di nama terakhir tiba-tiba Hinata merasakan jantungnya berdegup lebih cepat. 'kenapa Naruto lagi ?'
Ino yang tadinya menatap kuku-kukunya beralih memandangi seluruh penjuru ruangan rumah Sakura. Mata Aquamarine miliknya terhenti pada sebuah foto keluarga yang terpasang di dinding sebelah kanannya. Gadis itu menatap sendu foto tersebut. Setiap kali mengingat keluarga sahabatnya itu dia merasakan sesak di dadanya. Merasa sedih dan kasihan akan nasib yang menimpa Sakura. Tumbuh tanpa kasih sayang kedua orang tua. Kakak yang selalu sibuk dengan pekerjaannya dan hampir mengabaikan adiknya. Setidaknya itulah yang dilihatnya.
''Kakak pandamu itu kemana,jidat?'' tanya Ino kemudian sambil celingukan.
''Tentu saja bercumbu bersama pekerjaannya. Kau tahu sendiri kan,Pig?''
''Loh..bukannya sekarang hari Sabtu?bukannya biasanya Gaara ada di rumah jika hari Sabtu?''
Sakura menatap intens gadis pirang itu. Ino sendiri merasa risih dipandang seperti itu.
''H-hey kenapa menatapku seperti itu!'' bentaknya namun tak berpengaruh bagi Sakura.
''Kau sepertinya hafal diluar kepala dengan jadwal Gaara-nii. Jangan bilang..'' jeda Sakura membuat Ino penasaran.

''apa?''
''Kau ingin menjadi kakak iparku''
perttanyaan atau lebih tepatnya pernyataan Sakura membuat Ino membelalakkan matanya. Sedetik kemudian rona merah menghiasi pipinya.

''ja-jangan bergurau Sakura! Mana mungkin aku menyukai kakakmu yang seperti manusia es itu. Benar-benar seperti duplikat Sasuke''
Sakura menatap tajam Ino. Alasannya selain karena gadis itu menyamakan kakaknya dengan 'manusia pantat ayam' itu juga karena telah menyebut nama yang menurutnya dilarang keras disebut di dalam area rumahnya.

''Jangan menyebut makhluk pantat ayam itu di rumahku'' ujar Sakura ketus membuat Ino menyeringai.

''Aha..jangan bilang..'' Ino melirik Hinata yang sedari tadi hanya menyimak perdebatan tak pentingnya dengan Sakura. Hinata menatapnya dengan tanda tanya di kepalanya. Begitu pula dengan Sakura yang penasaran dengan lanjutan kata-kata Ino.
''apa?''
''Kau menyukai Sasuke''
Sama seperti reaksi Ino yang terkejut dan akan tuduan Sakura,sekarang gadis itu pun melakukan hal yang sama. Melotot kearah Ino,namun tak berpengaruh bagi gadis Yamanaka itu. Sedangkan Hinata terkikik geli melihat reaksi Sakura yang menurutnya lucu.

''Aku menyukai Uchiha sialan itu?hah..yang benar saja. Ambil Shiro jika aku menyukainya!''
Tanpa sadar Sakura mengucapkan kata-kata terlarang yang akan membuat hidupnya berada dalam 'kegalauan' dan kebimbangan. Selain karena telah menyeret 'pihak ketiga' yang 'tak berdosa dan tak mengetahui apa-apa'-Shiro- gadis itu juga tidak tahu akibat dari perkataannya. Tidakkah dia pernah mendengar bahwa mulutmu harimaumu,yang intinya menyuruh kita agar berhati-hati dalam bertutur kata dan agar tidak termakan oleh perkataan sendiri? Tidakkah dia mengetahui tentang karma?

''Baiklah..batas akhir perjanjian kita adalah tanggal 23 Juli yang artinya adalah hari terakhir tugas kelompok kita''ujar Sakura, ''Dan jika itu tidak terbukti kau harus mencium Sai di tengah lapangan basket. Bagaimana?''

Ino mendelik lalu beberapa saat kemudian nampak berpikir keras. 'Tak masalah bagiku mencium Sai-kun jika aku kalah . Toh aku menyukainya. Tapi jika aku menang..'
Hinata hanya menatap kedua sahabatnya bergantian. Dia tak ingin terlibat dengan taruhan konyo itu. Cukup melihat siapa yang akan menjadi pemenangnya besok.
Ino menyeringai lebar mendengar ucapan Sakura. Diulurkan tangannya dan disambut dengan baik-dan setengah terpaksa- oleh gadis itu. Tanda bahwa mereka telah sepakat dengan perjanjian yang baru saja dibuat.
Berawal dari situlah kehidupan mereka akan berubah. Terutama Sakura. Dan Hinata menjadi saksi konkret dalam perjanjian yang akan mengubah kehidupan Sakura secara perlahan tanpa disadari dan ingin selalu dihindarinya.

TBC

dengan sangat terpaksa saya harus republish chapter ini dikarenakan kemarin sempat terjadi kesalahan teknis . PC tiba-tiba trouble o.O-padahal kemarin pas aku paste sih masih baik-baik aja- selain itu saya juga tidak sempat untuk mengecek kembali -_- karena sedang terburu-buru. Gomen minna-san..

Terima kasih bagi salah satu reader yang sudah mengingatkan akan kesalahan dalam chapter ini dan juga kritiknya :)) -maaf lupa pen name nya:)-

dan untuk seorang flamers yang sempat mampir di fict saya TERIMA KASIH. Hn kalau tidak berminat silahkan tinggalkan area ini. Atau mungkin anda bisa menunjukan sebuah fict karya anda sendiri yang menurutmu 'bagus' pada saya..kalih saya bisa belajar dari anda bagaimana cara menulis fict bagus bagi seorang newbie. To say is easy but to do is difficult

Review please ^^