A/N: Hai, aku kembali! Maaf ya updatenya lama! Masalahnya sih… waktu bikin chap ini, ideku kadang muncul dan kadang ilang, jadi, bikinnya dikit-dikit deh! Tapi gak apa-apa… yang penting udah selesai dan bisa dipublish lagi! Satu lagi… maaf ya kalau ceritanya makin gaje, hehe! Kali ini balas reviewnya libur dulu, yah! Disclaimer! GO! :D


Disclaimer: Meskipun udah terjun dari gedung pencakar langit, Author tidak akan pernah punya Vocaloid.


Normal POV


"Huwaaa~! Indah sekali~!" Kata Rin dengan mata berbinar-binar ketika ia keluar dari mobil. Keluarga Rin dan Len kini sudah tiba di sebuah restoran mewah di kota Tokyo. Semuanya segera masuk dan mengambil tempat duduk yang memiliki enam kursi. Rin dan Len duduk berhadapan sementara di sebelah mereka yang tidak lain dan tidak bukan adalah orang tua mereka masing-masing.

"Dari dulu ibu ingin sekali pergi ke restoran ini!" Kata Lily sambil terkekeh pelan.

"Ayah juga." Kata Luki atau ayahnya Rin sambil tersenyum. "Apa Rin juga begitu?"

"Ah, eh? Tidak, sih... tapi Rin suka tempat ini. Sangat indah sekali," kata Rin ikut tersenyum.

Tak lama kemudian pelayan restoran tersebut pun datang. Semuanya segera memesan makanan beserta minuman menurut selera mereka masing-masing.

"Aku permisi sebentar..." Kata Rin kemudian berdiri dari kursinya. "Mau kemana, Rin?" tanya Len. "Toilet. Kenapa? Kau mau ikut?" tanya Rin. "T-Tidak!" Jawab Len dengan terbata-bata. Sementara yang lainnya terkekeh pelan melihat tingkah Rin dan Len.

"Uhm, Len. Sudah sejauh mana hubunganmu dan Rin? Apa kalian sudah begitu dekat?" tanya Lily tiba-tiba.

"Ah, itu… ya… begitulah…" Jawab Len ragu-ragu.

Sementara itu di toilet. Rin tampak sedang mencuci tangannya, kemudian sedikit membereskan penampilannya yang berantakan. Saat itu Rin tidak sengaja menatap bayangan orang di sebelahnya dari kaca di depannya. Rambutnya berwarna hijau lumut sebahu dan ia tampak sedang menyisir rambutnya. Tiba-tiba saja pandangannya menatap ke arah Rin.

"Len?" ucapnya.

"E-Eh?" Rin memandangnya dengan heran. 'Kenapa dia memanggilku Len? Apa dia temannya Len?' batin Rin.

"Ah, maaf! Aku tidak sengaja memanggilmu Len! Habisnya, kau mirip sekali dengan temanku, sih!" Ucap gadis berambut hijau lumut itu sambil tertawa hambar. "A-Ah sudah dulu, ya!"

Orang itu pun pergi meninggalkan Rin.

"Aneh…" gumam Rin.

Kemudian Rin pun kembali duduk ke meja makan.

"Sudah selesai, Rin? Pesanan kita sudah datang lima menit yang lalu, lho!" Kata Lily pada Rin.

"Uhm, sudah." Balas Rin langsung memakan makanan pesanannya. "Oh iya, Len..." Kata Rin memanggil Len.

"Hmm?" kata Len sambil menoleh ke arah Rin. "Kenapa?"

"Sepertinya aku melihat temanmu barusan," kata Rin sambil terus makan.

"Oh ya, siapa?" tanya Len.

"Tidak tahu." Jawab Rin dengan singkat.

Len hanya menatap Rin dengan heran.

Sementara itu…

"Gumiya..." kata seorang gadis berambut hijau lumut sebahu yang tadi bertemu dengan Rin di toilet.

"Ya, Gumi? Ada apa dengan mukamu?" tanya seorang laki-laki yang dipanggilnya Gumiya itu.

"Entahlah, sepertinya aku sedang sakit, ya." Jawab Gumi.

"Sakit?" kata Gumiya kurang paham dengan perkataan Gumi.

"Tadi, aku bertemu dengan Len versi perempuan di toilet." Kata Gumi sambil duduk di hadapan Gumiya. Ternyata mereka berdua juga sedang makan malam di restoran yang sama dengan Rin dan Len. Hanya saja meja yang mereka tempati letaknya sangat jauh dari meja yang ditempati oleh Rin dan Len.

"Pffft!" Gumiya menahan tawanya.

"Jangan tertawa! Aku serius!" Kata Gumi sambil mengembungkan kedua pipinya dengan sebal. "Sampai-sampai tidak sengaja mengucapkan nama Len lagi! Huu, aku ini memalukan, ya!"

Gumiya pun mengacak-acak rambut Gumi, "Sudah-sudah! Sekarang kau mau pesan apa? Biar kupanggilkan pelayan," katanya.

Seketika Gumi pun melupakan kejadian tadi dan segera tersenyum senang kemudian membalas perkataan Gumiya, "Salad yang banyak wortelnya!" Katanya dengan riang.

.

.

.


Rin POV


Dua jam telah berlalu, aku bersama semuanya sudah pulang ke rumahku. Setelah selesai makan malam di restoran tadi, kami memutuskan untuk langsung pulang dan beristirahat. Berhubung besok sudah mulai sekolah lagi dan aku harus mengerjakan PR yang belum sempat kukerjakan sampai selesai.

Aku duduk di meja belajar di kamarku sambil memegang pensil dengan buku yang tertumpuk dengan rapi di atas meja belajarku. Itu semua adalah buku PR-ku, kalau kau ingin membantuku mengerjakannya, aku tidak akan melarangnya.

Sambil berpikir, aku terus menulis setiap jawaban yang menurutku tepat di setiap soal yang tertera di buku PR-ku. Soalnya tidak terlalu sulit dan juga tidak terlalu mudah, aku hanya mengerjakannya sebisaku dan apabila ada soal yang tidak kumengerti, aku hanya melewatnya dan mengerjakan soal yang lain. Setidaknya aku bisa bertanya pada guru tentang soal yang sulit itu besok.

Tidak lebih dari satu jam, aku sudah selesai mengerjakan semua PR-ku. Meskipun tidak semuanya selesai, tapi lebih baik mengerjakan dari pada tidak, kan?

Karena saat ini aku haus, aku pun berjalan menuju ke dapur. Aku membuka lemari es dan mengambil satu botol jus jeruk kemudian meminumnya.

"Belum tidur, Rin?" tanya seseorang tiba-tiba. Aku menoleh ke arah orang tersebut dan ternyata itu Len.

"Belum, aku baru saja selesai mengerjakan PR." Jawabku.

"Oh ya, Rin… aku masih penasaran dengan orang yang kau temui di restoran. Apa benar dia temanku?" tanya Len tiba-tiba.

"Kalau dia bukan temanmu, lalu kenapa dia memanggilku Len. Lalu, dia juga bilang kalau aku mirip dengan temannya yang kupikir itu pasti kau," kataku dengan santai.

"Hmm, ciri-cirinya, Rin masih ingat, kan?" tanya Len lagi.

"Uhm, sepertinya iya." Jawabku. "Memangnya dia itu siapa? Mantanmu, ya?" tanyaku dengan polos.

Len segera menggeleng, "B-Bukan! Aku tidak pernah punya pacar sebelumnya!" Bantahnya. Aku hanya ber'oh'ria, "Jadi, bagaimana ciri-cirinya?" tanya Len kemudian.

Aku diam sebentar sambil mengingat-ngingat, "Rambutnya berwarna hijau lumut sebahu, lalu dia pakai baju serba oranye. Hanya itu yang bisa kuingat," kataku.

"Jadi… Gumi, ya?" gumam Len.

"Gumi?" tanyaku dengan wajah kebingungan. "Dia teman lamaku, Rin." Kata Len menjelaskan, ya, meskipun penjelasannya singkat tapi setidaknya aku bisa mengerti siapa itu Gumi.

Len pun berdiri dari kursi meja makan kemudian berjalan keluar dapur, "Mau ke mana?" tanyaku. "Aku lelah, mau tidur." Jawab Len.

"Baiklah, selamat tidur, Len."

"Iya, selamat tidur juga, Rin."

Sekali lagi aku meminum jus jeruk yang masih tersisa sedikit sampai habis, setelah itu aku pergi tidur.

.

.

.


Len POV


KRIIINGG…!

Sebuah alarm di kamarku berbunyi dan membuatku terbangun dari tidurku. Dengan malasnya aku menginjakkan kakiku di lantai dan berjalan ke kamar mandi untuk mandi. Setelah selesai mandi, aku memakai seragam Voca High School. Ya, mulai hari ini, aku akan bersekolah di sekolahnya Rin. Pasti kau sudah tahu soal ini, kan?

Setelah selesai memakai seragam, aku berjalan ke ruang makan untuk sarapan. Kulihat disana sudah ada Kaito, Rin, orang tuaku, dan juga orang tuanya Rin. Mereka sedang duduk di meja makan sambil menunggu sarapan dihidangkan.

"Selamat pagi, semua!" Kataku sambil duduk di kursi meja makan yang masih kosong. Kebetulan, kursi kosong itu ada di sebelah Rin. "Selamat pagi, Len." Balas semuanya serempak.

"Hari ini sarapan untuk Len, banana split. Suka?" tanya ibuku sambil tersenyum. Aku sweatdrop, "Ini masih pagi lho, bu… bisa-bisa aku sakit perut nanti." Kataku.

"Aku yakin Len tidak akan sakit perut," kata Kaito sambil makan sarapannya. Aku menoleh ke arahnya sambil mengangkat alisku, "Kenapa bisa begitu?" tanyaku.

"Len tidak mau sakit perut, kan? Kalau begitu biar aku saja yang makan banana splitnya sementara Len buat sarapan yang lain! Jadi nanti aku yang akan sakit perut!" Jawabnya dengan santai.

.

.

.

"Bodoh…" kudengar Rin bergumam.

"A-Ah! Tidak boleh! Mau sakit perut mau tidak ya terserah! Yang penting banana split ini tetap kumakan!" Aku setengah berteriak. Sementara yang lain cengo melihatku. Apa banget dah…


~Time Skip~


"Awww, kalian sudah datang?" kata Neru ketika aku sudah berada di kelasku yang baru. Ya, aku satu kelas dengan Rin. Kau tahu? Kaito juga. Aku tidak tahu apa dia masih menolak berada di kelas yang sama dengan Miku, jadi, jangan tanya aku!

"Ya, kau bisa lihat sendiri kan?" kata Rin membalas perkataan Neru. Neru mencibir, "Geez, jangan bersikap dingin padaku, Rin…" katanya.

"Aku tidak bersikap dingin padamu. Dari dulu aku memang seperti ini, kok." Kata Rin kemudian duduk di bangkunya.

"Ah, Rin? Sejak kapan kau datang?" tanya Miku tiba-tiba. "Len juga ada di sini? Dan… Kaito juga?"

"Rin, aku, dan Kaito sudah datang dari tadi dan iya, kami satu kelas dengan kalian mulai hari ini." Kataku.

"Huwaaa, masa? Senangnya~!" Kata Miku senang. "Lebih banyak teman kan lebih seru~!"

Semuanya hanya tersenyum mendengar perkataan Miku, begitu pula aku.

"Jadi, di mana kami duduk?" tanya Kaito tiba-tiba.

"Karena bangku di belakang kami kosong. Bagaimana kalau kalian berdua duduk di sana saja?" usul Rin padaku dan Kaito.

Kulihat Kaito tampak berpikir sebentar sebelum akhirnya dia mengangguk.

"Kalau Kaito setuju, aku juga setu-"

"Tunggu dulu!" Potong Neru dengan setengah berteriak. "Aku punya rencana!"

Semuanya menatap Neru dengan heran. Rencana dia bilang?

"Rencana? Rencana apa?" tanya Rin.

"Begini…" Saat itu juga aku tidak mendengar apapun yang dikatakan Neru, sebab dia mengatakannya sembari berbisik di telinga Rin.

Namun tidak lama kemudian, Neru menjauhkan bibirnya dari telinga Rin dengan senyum kucingnya. Kulihat Rin hanya menengadahkan kepalanya sambil menyimpan jari telunjuk di bibirnya sebelum akhirnya dia bergumam, "Ide bagus, tuh." Gumamnya yang cukup didengar oleh semua.

"Geez… kalian sedang membicarakan apa, sih? Kenapa aku tidak diberitahu juga?" tanya Miku tiba-tiba.

Kulihat Neru dan Rin menatap Miku dengan senyuman yang membuat Miku menjadi menatap keduanya dengan heran.

"Kalian kenapa?" tanyanya.

"Hatsune Miku!" Panggil Neru mengikuti gaya seorang tentara.

"Y-Ya?"

"Hari ini kau duduk bersama Shion Kaito!" Kata Neru kemudian.

"E-Eh?"

Saat itu juga aku mulai tahu apa yang Neru rencanakan. Kalau Miku duduk dengan Kaito itu berarti aku duduk dengan Rin?


Rin POV


Kulihat Miku yang menatapku dan Neru dengan heran.

"K-Kenapa aku harus dengan Kaito?" tanyanya dengan nada yang terdengar agak sedikit panik.

"Aku hanya mengikuti apa yang baru saja Neru katakan padaku," kataku sementara Neru mengangguk.

"Jangan berani membantah," kata Neru. "Atau kau tidak akan menjadi ketua kelas lagi di kelas ini!"

Miku menatap Neru seakan Neru adalah seekor beruang mengerikan yang akan memangsanya. Namun perlahan Miku menunduk yang berarti dia pasrah dengan apa yang akan terjadi padanya hari ini.

"Baiklah…" kata Miku sambil menghela nafas sementara aku dan Neru saling melempar senyum.


~Time Skip~


"Huwaaa! Aku gugup sekali tadi!" Miku langsung berlari memelukku dan Neru bersamaan begitu bel istirahat berbunyi. Kulihat Neru hanya menggeleng, "Ck ck ck, lalu bagaimana kau bisa jadian lagi dengan Kaito kalau kau gugup terus?" tanyanya.

Miku hanya menggeleng, "Tidak tahu! Jangan tanya soal itu, huhu! Aku gugup sekali!" Katanya kemudian menenggelamkan kepalanya dalam pelukan.

Aku menghela nafas pelan sebelum mendorong Miku pelan, lebih tepatnya melepaskan pelukannya, "Aku lupa sesuatu… barusan, aku disuruh Prima-sensei untuk menyimpan kembali buku-buku dari perpustakaan, jadi, aku mau ke perpustakaan dulu, ya!" Kataku langsung berjalan ke tempat di mana tumpukan buku paket yang habis dipakai selama pelajaran Sejarah.

Aku mengangkat tumpukan buku paket Sejarah itu. Kau tahu? Rasanya berat sekali! Ditambah lagi perpustakaan itu letaknya di lantai dua paling ujung! Mungkin aku lebih baik pingsan sekarang!

"Hai manis~! Perlu bantuan~?" tiba-tiba saja sebuah suara terdengar untukku. Dari suaranya… itu seperti suara Len, tapi sialnya, aku tidak bisa melihatnya saking tingginya tumpukan buku paket yang sedang kubawa ini.

"Aku tidak butuh bantuanmu, Len! Pergi sana!" Kataku padanya. Tapi, bukannya pergi, Len malah tertawa.

"A-Apa yang lucu?" tanyaku terbata-bata.

"Aku tidak bisa melihatmu, Rin! Rasanya seperti sedang berbicara dengan monster buku yang tsundere!" Len masih tertawa.

Monster buku? Tsundere?

Aku hanya mendengus sebal dan langsung berjalan keluar kelas menuju perpustakaan, meninggalkannya yang masih tertawa terbahak-bahak.

Aku berjalan dengan pelan menelusuri koridor hingga tangga, 'Ugh! Membawa jemuran di tangga saja sudah susah, apalagi buku! Aku harus ekstra hati-hati!' Batinku.

Aku mulai menyesal tidak mengiyakan bantuan Len tadi. Kini aku mulai merutuki diriku sendiri karena itu. Aku pun mulai menaiki satu anak tangga hingga anak tangga lainnya.

"Rin! Kenapa kau meninggalkan aku!" Teriak Len tiba-tiba. Aku pun menghentikan langkahku di tengah-tengah anak tangga. Jujur, aku takut jatuh saat ini…

"Apa? Kenapa kau mengikutiku?" tanyaku masih merasa sebal dengannya.

"Aku khawatir denganmu! Biar kubantu kau saja, ya!" Katanya langsung berdiri di sebelahku dan mengambil sebagian tumpukan buku paket yang kubawa.

Aku hanya pasrah saja, "Terserah kau saja…" kataku.


~Time Skip~


"Fuuhh… akhirnya selesai juga," desahku ketika selesai mengembalikan tumpukan buku paket Sejarah. Kini aku dan Len sedang berdiri di depan pintu perpustakaan.

"Sekarang kita mau ke mana, Rin?" tanyanya.

"Kembali ke kelas saja." Jawabku langsung pergi sementara Len langsung mengekoriku dari belakang.

Selama di koridor menuju ke kelas, aku dan Len tidak berbicara apapun. Suasananya sangat hening, paling hanya terdengar suara guru yang sedang mengajar di kelasnya. Tiba-tiba saja aku melihat ada seorang murid laki-laki dan perempuan yang sedang bercanda dari kejauhan. Sontak aku menghentikan langkahku.

"Kenapa berhenti, Rin?" tanya Len.

Aku menjawab pertanyaan Len dengan mengarahkan jari telunjukku pada dua orang murid yang membuatku terdiam itu. Tatapan Len langsung mengikuti ke mana jari telunjukku mengarah dan saat itu juga Len menggumamkan nama yang pernah kudengar darinya sebelumnya.

"Gumi dan Gumiya?"


A/N: Oke, sampai di sini dulu ceritanya. Makasih yang sudah mau mereview dan membaca cerita ini. Tunggu chapter berikutnya, ya! Jaa! ^_^