Balas review!

Berliana-Arnetta03: Ya, ini udah update! Makasih reviewnya! :D

Kuro 'Kaito' Neko: Kaito-san! Karena Kaito-san udah nanya dua kali soal GumiGumiya, jadi saya kasih tau deh! Mereka itu temennya Len yang cuma numpang lewat! #Dibakar GumiGumiya Ah! Yang terakhir itu saya bercanda 'kok! Makasih reviewnya! :D

billa neko: Benar sudah sempurna? Saya terharu! Kukira banyak kesalahan! T^T Makasih ya, reviewnya! :D

Hasegawa Michiyo Gled: Uwaaah! Belum ada yang pernah bilang gini sama saya! Makin terharu! T^T Makasih reviewnya! Ini udah update! :D

Alfianonymous22: Ini udah update, hehe! Makasih reviewnya ya! Gomen updatenya lama! :D

.

Yosh! Langsung aja!


Disclaimer: I do not own Vocaloid.


Len POV


"Kenapa berhenti, Rin?" tanyaku melihat Rin yang tiba-tiba saja berhenti.

Kemudian Rin mengarahkan jari telunjuknya ke depan. Aku pun mengikuti ke mana arah jari telunjuk Rin mengarah. Jari telunjuk Rin mengarah ke dua orang murid berambut hijau lumut yang kelihatannya sedang besenda gurau di sana.

"Gumi dan Gumiya?" tanpa sadar aku menggumamkan nama kedua murid itu. Tapi kenapa mereka ada di sekolah ini? Memakai seragamnya pula? Jangan-jangan…

"Len, mereka ke sini." Kata Rin tiba-tiba.

"Hai! Kau Len ver perempuan yang aku temui kemarin, kan?" Gumi menyapa Rin. Len ver perempuan? Panggilan macam apa itu!

"Oi, Gumi. Tidak sopan memanggilnya seperti itu! Ayo minta maaf!" Gumiya menjitak kepala Gumi pelan. Gumi merintih kesakitan, "Iya iya… maaf…" katanya.

"Namaku Kaganemi Rin! Senang bertemu dengan kalian!" Rin membungkuk dengan sopan seraya memperkenalkan diri.

"Ah, panggil saja aku Gumiya dan yang di sebelahku ini adalah Gumi, tunanganku." Kata Gumiya sambil menunjuk Gumi sementara Gumi hanya nyengir-nyengir. Hah? Sejak kapan mereka tunangan?

"Sejak kapan kalian bertunangan?" kulihat mereka berdua terkejut mendengar suaraku. Jelas, dari tadi aku berdiri di belakang Rin. Mungkin tadi mereka tidak melihatku karena terhalang oleh Rin.

Aku pun mensejajarkan diriku dengan Rin dan saat itu juga aku bisa melihat wajah terkejut Gumiya dan Gumi lebih jelas.

"LEN!" Gumi berteriak senang dan langsung memelukku tapi langsung dilepas kembali. "Bagaimana kabarmu, Len?" tanya Gumi kemudian sambil memegang kedua bahuku.

"Baik-baik saja. Kalian sendiri kenapa ada di sini, di Jepang?" tanyaku.

"Yaa untuk menemuimu. Memangnya apa lagi? Kudengar kau bertunangan, Len? Siapa tunanganmu?" Gumi bertanya lagi tanpa jeda.

"Apa dengan Rin?" tanya Gumiya sambil menunjuk Rin yang sedari tadi diam. Aku mengangguk.

"APA?!" Teriak mereka bersamaan.

"Daripada berteriak seperti itu. Lebih baik jawab pertanyaanku yang belum kalian jawab. Sejak kapan kalian bertunangan?" tanyaku mengingatkan mereka.

"Kami sudah bertunangan sejak dua bulan yang lalu sebelum kami ke sini." Jawab Gumiya sementara Gumi hanya nyengir-nyengir. Yah, itu kebiasaannya…

Aku pun ber'oh'ria.

Tiba-tiba saja Rin memegang lengan kiriku, sontak aku menoleh ke arahnya.

"Sudah saatnya ke kelas." Katanya. Aku mengangguk.

"Baiklah, Gumi, Gumiya, ini saatnya untuk ke kelas. Kami pergi dulu," pamitku pada Gumi dan Gumiya. Mereka mengangguk.

Aku dan Rin pun berjalan menuju ke kelas.

Beberapa menit kemudian kami berdua sampai di kelas. Aku langsung duduk di kursiku, begitu juga Rin.

"Kalian dari mana saja?" tanya Miku tiba-tiba.

"Tidak dari mana-mana. Barusan aku dan Rin bertemu dengan teman lamaku," jawabku dan Miku ber'oh'ria.

"Pantas saja lama, kukira lagi pacaran, hehehe." Tawa Miku.

Ctak.

Seketika muncul perempatan di pelipis Rin, "Apa kau bilang, Miku?" tanyanya dengan aura dark di sekelilingnya. Hiiiyy!

"Aku dan Len tidak mungkin pacaran di sekolah! Bodoh!" Teriak Rin kemudian sampai semua murid di kelas menoleh ke arahnya.

"Apa lihat-lihat?" tanya Rin galak. Semuanya langsung melanjutkan kegiatannya masing-masing. Miku jadi diam. Mungkin takut dengan amukkan Rin.

Setelah itu guru pun datang untuk mengajar.

~Time Skip~

Dua jam sudah berlalu dan seluruh murid sudah diizinkan untuk pulang. Aku mengemasi barang-barangku.

"Len, hari ini kau pulang duluan saja. Aku mau ke supermarket dulu," kata Rin tiba-tiba.

"Baiklah, tapi soal pulang duluan… aku antar kau saja, ya?" tanyaku.

Rin menghela nafas pelan, "Terserah kau saja." Katanya. Aku pun tersenyum.

"Kalau begitu ayo kita berangkat!" Kataku sambil menggenggam tangan Rin. Tapi, bukannya jalan, Rin malah diam. Wajahnya memerah. Kenapa ya? Apa sakit?

"Rin, apa kau baik-baik saja? Kenapa wajahmu memerah?" aku pun memutuskan untuk bertanya.

Kulihat Rin kaget mendengar pertanyaanku dan langsung meraba-raba wajahnya, "S-Siapa yang merah! Dasar pembohong!" Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Haha, dasar aneh! Sebenarnya dia itu kenapa, sih!

"Ya sudahlah, tidak usah dipikirkan! Ayo ke supermarket sekarang!" Kataku dan perlahan dia pun membuka wajahnya lagi.

Setelah itu kami berdua pergi.


Someone POV


"Berikan dokumen penting ini lagi padaku besok setelah kau cek, ya?" tanya ketua. Aku hanya mengangguk.

"Bagus, sekarang kau kuizinkan pulang." Aku pun berterima kasih pada ketua sebelum pergi meninggalkan ruangan OSIS.

Ketika menutup pintu ruangan OSIS aku melihat sepasang murid berambut honey blonde sedang berjalan di koridor. Kelihatannya mereka baru keluar dari kelas. Mereka adalah Kaganemi Rin dan Kagamine Len. Tentu saja aku tahu, aku kan satu kelas dengan keduanya.

Kulihat mereka berjalan sambil berbincang-bincang. Tanpa sadar aku meremas dokumen penting yang sedang kupegang.

"Menyebalkan sekali, sih! Kenapa mereka begitu dekat! Grrr!" Gumamku kemudian. Setelah itu aku pun memutuskan untuk mengikuti mereka diam-diam.


Rin POV


Aku dan Len masih dalam perjalan menuju supermarket. Tinggal beberapa menit lagi, mungkin kami bisa sampai. Sedari tadi aku maupun Len tidak ada yang berbicara. Yah, semenjak keluar dari gerbang sekolah, suasananya menjadi sangat hening. Ditambah lagi aku merasa ada sesuatu yang mengikuti kami dari belakang. Namun setiap kali menoleh, aku tidak melihat apapun.

Aku menatap Len yang berjalan di sebelahku. Bahkan tanganku masih digenggamnya. Memikirkannya saja sudah membuat wajahku memanas, karena itu aku segera menepis pikiran itu jauh-jauh.

Drrrrttt…!

Tiba-tiba saja ponsel milik Len berbunyi. Len segera mengambil ponsel dari dalam saku celananya kemudian membaca isi pesan yang baru masuk itu.

"Hmm… ini nomor siapa, ya?" gumamnya.

"Kenapa, Len?" tanyaku.

"Kau tahu nomor ini?" Len balik bertanya sambil menunjukan pesan masuk yang baru saja didapatnya dari seseorang. Aku melihat isi pesan masuk itu beserta nomornya.

From: 08xxxxxxx

To: Kagamine Len

Hai, Len! Kau sedang apa? Kau pasti bertanya-tanya nomor siapa ini? Aku akan memberimu petunjuk! Namaku berinisialkan Y! Dan aku satu kelas denganmu! Semoga kau bisa menebaknya, ya! Aku adalah penggemar rahasiamu! ;)

Setelah membaca semua isi pesan itu, aku mulai berpikir.

"Di kelas kita yang namanya dari huruf Y itu banyak, loh! Akan sulit menebaknya," kataku. "Dan ketika membaca kalimat terakhir dari pesan itu… aku yakin dia itu perempuan." Lanjutku.

"Perempuan, ya…" gumam Len.

"Ya sudah biarkan saja. Yang penting kita harus cepat-cepat ke supermarket, nanti aku tidak bisa bertemu dengan pangeran jeruk di sana!" Kataku tidak sabar.

Len pun memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celananya dan kembali menggenggam tanganku.

"Ya sudah kalau itu maumu, Princess…" kata Len dan kami berdua pun melanjutkan perjalanan kami lagi.

Aku sempat merasakan tatapan membunuh dari belakangku, namun aku abaikan saja karena aku yakin bahwa aku akan tetap aman selama Len berada di sampingku.

Beberapa menit kemudian aku dan Len akhirnya tiba di salah sebuah supermarket di pinggir kota. Aku langsung melesat masuk dan berlari ke arah tempat di mana jeruk ditata rapi untuk dijual.

"Pangeran jeruk~! Akhirnya kutemukan juga dirimu~!" Ucapku ketika melihat jeruk-jeruk yang segar di sana. Beberapa orang di sekitarku menatapku sweatdrop. Yah, siapa peduli~

Setelah membawa beberapa jeruk ke dalam kantong kresek, aku segera menuju ke kasir untuk membayar. Antriannya panjang sekali tapi ngomong-ngomong Len di mana, ya? Tadi kan aku meninggalkannya begitu aku masuk sini?

"… ba… Mba…" tiba-tiba saja lamunanku buyar oleh sebuah suara dari penjaga kasir. Aku tidak tahu kalau sekarang sudah giliranku yang membayar. Aku pun segera membayar.


Len POV


Begitu kami sampai di supermarket, Rin langsung berlari meninggalkanku masuk ke dalam. Mungkin dia memang tidak sabar untuk membeli jeruk-jeruk kesayangannya itu. Aku segera menyusulnya masuk, namun sebelum aku membuka pintu supermarket tersebut, seseorang memegang ujung bajuku.

Aku menoleh ke belakangku dan mendapati seorang gadis berambut ungu diikat dua panjang di bagian depannya, namun di bagian belakangnya rambutnya pendek. Aku tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas karena tertutup oleh poninya yang panjang itu.

"Kau siapa?" tanyaku.

Perlahan bibirnya membentuk sebuah senyuman, "Y." Jawabnya.

Aku terkejut mendengar jawabannya. Y? Bukankah itu seseorang yang mengirimiku pesan tadi, ya?

"Kau yang ta-" kata-kataku terpotong ketika dia menyimpan jari telunjuknya di bibirku.

"Ssst, aku sudah tahu apa yang akan kau katakan." Katanya.

Perlahan gadis itu berjalan mendekatiku dan memelukku.

"E-Eh… apa-apaan kamu i-ini?" kataku kaget. Dia tidak menjawabnya dan malah memelukku semakin erat. Aku mencoba untuk melepaskan pelukkannya, tapi aku tidak bisa.

"Bisa tolong lepaskan aku? Aku harus menyusul Rin di dalam." Kataku padanya.

"Rin? Oh? Kenapa harus menyusulnya? Memang dia itu siapamu?" tanyanya tanpa melepaskan pelukkannya.

"Rin itu… dia itu tu-"

Brugh!

Lagi-lagi perkataanku terpotong oleh suara benda jatuh. Aku menoleh ke arah kantong kresek berisi jeruk yang sudah jatuh ke lantai sebelum menoleh ke arah orang yang menjatuhkannya. Itu Rin!

Kulihat wajahnya kaget melihatku dan gadis yang tidak kuketahui namanya ini. Setelah itu dia berlari meninggalkanku. Aku mendorong gadis yang memelukku ini keras-keras dan segera berlari mengejar Rin.

"Rin! Tunggu!" Teriakku padanya, namun dia tetap berlari meninggalkanku dan semakin lama, dia semakin menghilang dari hadapanku.

Aku pun berhenti mengejarnya dan segera mengatur nafasku. Tanpa kusadari gadis berambut ungu tadi mengikutiku. Dia hanya tersenyum dengan wajah misteriusnya itu.

"Maumu apa, sih! Kau itu siapa! Lihat! Rin jadi salah paham, kan!" Teriakku marah padanya.

"Mauku? Tentu saja ini adalah mauku!" Katanya. "Melihatmu dan Rin bertengkar adalah mauku!" Lanjutnya.

"Jadi kau sengaja memelukku? Iya?!" Kataku masih marah. Gadis itu masih tersenyum, "Kalau iya kenapa? Itu adalah bagian dari rencanaku." Jawabnya.

"Cih, kau menyebalkan!" Kataku langsung berlari meninggalkannya. Daripada meladeni gadis aneh itu, lebih baik aku segera mencari Rin.

Tak lama aku tiba di rumah. Aku segera berlari menuju lantai dua, di mana kamar Rin berada. Aku mengetuk pintu kamarnya secara perlahan, berharap bahwa Rin mau membukanya untukku.

"Rin, kau ada di dalam? Tolong buka pintunya, aku bisa jelas-"

"Tidak ada yang perlu dijelaskan! Biarkan aku sendiri! Pergi sana!" Rin memotong ucapanku.

"Tapi Rin? Kau marah 'kan?" tanyaku.

"Siapa yang marah? Memangnya apa alasanku marah? Tidak peduli kau mau berpelukan dengan Yukari, atau gadis lainnya! Pergi sana, Len!" Ucap Rin.

"Yukari? Kau tahu gadis itu, Rin?" tanyaku lagi.

"Tentu saja aku tahu, bodoh! Dia itu teman sekelas kita! Tidak mungkin aku tidak mengenalnya! Aku kan sudah lama satu kelas dengannya!" Jawab Rin.

"Rin, aku tidak memaksamu untuk percaya padaku, tapi setidaknya dengarkan dulu penjelasanku… gadis tadi, yang kau sebut Yukari itu, dia tiba-tiba saja datang dan memelukku secara tiba-tiba, aku ingin dia melepaskanku tapi dia malah semakin memelukku," jelasku panjang lebar.

Tiba-tiba saja Rin membuka pintu kamarnya. Aku bisa melihat matanya yang sembab dan wajahnya yang memerah karena menangis. Rin nangis?

"Rin nangis?" gumamku. "Kenapa kau tidak jelaskan dari tadi, bodoh!" Ucapnya tidak menghiraukan gumamanku tadi.

"Ish! Bukannya barusan Rin baru saja bilang padaku kalau Rin tidak butuh penjelasan dariku?" tanyaku kesal. Tiba-tiba saja Rin menginjak kakiku lalu menekannya.

"Ow! Sakit! Kenapa kau menginjakku!" Rintihku. "Itu hukuman untukmu karena sudah membuatku nangis!" Ucapnya.

"Rin nangis karena cemburu 'kan?" tanyaku sambil tersenyum. Aku senang kalau Rin cemburu, itu berarti dia menyukaiku. Tapi setelah aku bertanya seperti itu Rin malah menginjakku lagi. Sakit!

"Bukan, bodoh! Tapi jeruk yang sudah kubeli kutinggal di supermarket!" Jawabnya kemudian menutup pintu kamarnya.

"Dasar tsundere…" gumamku sambil mengelus kakiku yang diinjak Rin tadi. "Aduh… jadi merah 'kan?"

"Oi, Len? Ngapain di situ?" tanya Kaito tiba-tiba. Di lehernya terdapat handuk kecil, mungkin habis mandi.

"Gara-gara Rin 'nih… sakit tau!" Ucapku sambil menunjukkan kakiku yang merah.

"Ahaha! Apa yang dilakukan Rin? Kok' bisa gitu?" tanya Kaito sambil menertawakanku.

"Kena injakkan cinta," jawabku setengah bercanda. Kaito semakin memperkeras tawanya.

"Berisik! Aku mau tidur!" Teriak Rin dari dalam kamarnya. Kaito langsung menghentikkan tawanya.

"Rasain 'tuh…" gumamku. Kaito hanya mencibir.

"Eh, ngomong-ngomong kau udah balikkan belum sama Miku?" tanyaku.

Kaito kelihatan kaget mendengar pertanyaanku, tapi perlahan dia segera menjawabnya.

"Belum, kenapa bertanya seperti itu?"

"Aku… ah, tidak apa-apa. Lebih bagus kalau kau balikkan lagi dengannya," ucapku sambil tersenyum. "Lagipula dia masih menyukaimu."

"Hah? Masa' sih? Miku masih menyukaiku?"

Aku mengangguk.

"Aku mau ke dapur dulu, dah."

Selama aku berjalan ke dapur, aku masih bisa melihat Kaito yang masih bengong di tempatnya.


Rin POV


Aku merebahkan diriku di atas tempat tidurku. Dasar Len bodoh! Dia itu menyebalkan sekali! Aku percaya pada penjelasannya tadi, tapi bisa-bisanya dia mengatakan bahwa aku marah karena cemburu padanya! Dari pada berkata seperti itu lebih baik Len membelikan aku jeruk-jeruk yang baru!

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Uh uh uh! Baiklah aku mengaku! Aku cemburu! Aku cemburu padanya! Puas aku sudah berkata seperti itu? Tapi tentu saja aku tidak bisa bilang dengan jujur padanya tadi. Melakukannya sama saja dengan membuat lautan merah di wajahku.

Aku mengakui bahwa aku sudah menyukai Len yang entah sejak kapan, tapi itu kenyataannya. Aku hanya baru menyadarinya saja. Dan sepertinya… aku ingin pertunanganku dan Len dipercepat.


To Be Continued


Author: Saya rasa ini makin gaje T^T

Yukari: Kenapa aku jadi antagonis di sini?! Aku gak terima! #bunuh diri

Author: Jangan! Nanti siapa yang jadi penggantinya?!

Yukari: Tapi aku gak mau jadi jahat! QAQ

Author: Ya udah, kalau maunya gitu. Mintain review sama reader gih!

Yukari: Beneran? Ya udah, kalau gitu, reviewnya minna! Segala macam kritikkan, atau semacamnya silahkan dituangkan di kotak review di bawah supaya aku gak jadi jahat lagi!

Rin: Kenapa bagian aku dikit banget di bagian akhir itu?

Author: ...