Naruto is belongs to Masashi Kisimoto

.

.

Uap panas mengepul dari sebiah cangkir keramik berwarna putih yang terletak diatas sebuah meja berbahan kayu jati dengan beberapa pelitur di kaki-kakinya.

Sebuah tangan terulur dan melakukan gerakan mengangkat cangkir tersebut kemudian meletakkan kembali dengan zat cair di dalamnya yang kini telah berkurang beberapa milliliter.

Tangan putih tersebut kemudian terlipat di depan dada berbalut kaos putih tipis yang mencetak bentuk bidang. Dilihat keatas maka kau dapat menemukan sepasang jade pucat yang menatap lurus kearah depan dengan tatapan datar. Satu kedipan membuat jade tersebut tersembunyi kemudian nampak kembali saat kelopak itu terbuka.

Dilihat dari jarak satu jengkal tangan maka kau dapat menemukan pantulan dua orang berbeda gender yang sedang adu pukul dari mata bening tersebut. Tak jarang senjata tumpul pun digunakan oleh salah satu atau malah kedua orang tersebut. Bunyi benturan antara katana yang terbuat dari kayu memenuhi gendang telinga sang pemuda jade yang masih mengamati pergerakan lincah orang yang berada dalam radius lima meter di depannya.

TUK TUK TUK

Kembali menyesap ocha yang masih mengepul hangat dan menyisakan seperempat dari cangkirnya.

"Hoo..lihatlah sang tuan muda nampaknya sedang asik menikmati ocha-nya dan lima tusuk dango sementara di depannya teman-temannya sedang mandi keringat. Lihat, bahkan lenganku lecet-lecet" seru seorang pemuda berambut coklat dengan tampang dibuat semelas mungkin. Membuat Gaara mendecih.

Menyudahi latihannya, pemuda berambut coklat tadi berjalan kearah Gaara dengan seorang perempuan berambut pirang yang membuntutinya. Tanpa permisi dan mencuci tangannya lebih dulu tangan kanan Kankurou mencomot satu tusuk dango yang terhidang di depannya kemudian mengambil tempat duduk di samping Gaara. Dilahapnya rakus makanan tersebut sambil sesekali menggumamkan kata 'enak' di sela-sela kegiatan mengunyahnya. Tak mengacuhkan Temari yang mengernyit jijik melihat caranya makan.

"Kau sudah menemukan petunjuk tentangnya, Gaara?" Tanya Temari setelah meneguk satu gelas air yang tersedia diatas meja di depannya. Menarik kursi dan mengambil tempat di sebelah kanan Gaara.

Gaara hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban. Pemuda itu menatap Kankurou yang tengah memakan dango yang sepertinya merupakan tusuk kedua.

"Hey apa-apaan tatapanmu itu?" seru Kankurou tak suka melihat tatapan Gaara yang seolah mengatakan berapa-hari-kau-tidak-makan- itu.

"Kau benar-benar ridak mengingatnya?" Gaara sesaat menolehkan kepalanya kearah Temari kemudian membuang muka kearah lain. Kerutnya berkerut samar. Mencoba mengingat-ingat kejadian menyakitkan sebelas tahun yang lalu.

Tiga anak kecil berbeda gender terlihat meringkuk di bawah meja kaca yang terletak di sudut ruangan. Salah satu dari anak tersebut yang berjenis kelamin perempuan menatap kedua anak lelaki yang di kanan kiri sisi tubuhnya. Kening lebarnya berkerut melihat raut cemas dari kedua anak itu. Tangannya yang mungil meraih piyama tidur bergambar beruang dari salah satu anak tersebut.

"Nii-chan apa yang terjadi?kemana-" belum sempat menyelesaikan kalimatnya, mulut mungilnya sudah dibekap oleh tangan mungil lain.

"Tenanglah, Saku. Kita hanya sedang bermain petak umpet. Kalau kau bersuara kita akan ketahuan dank au akan menggantikan Tou-chan dan Kaa-chan untuk berjaga" bisik seorang anak berambut merah menyala.

Sakura hanya mengangguk pelan. Gadis yang memang dasarnya tak bias diam itu mulai merasa bosan karena sudah dari satu jam yang lalu mereka hanya duduk diam tanpa melakukan kegiatan atau sekedar ngobrol ringan. Saat akan menggerakkan bibir mungilnya tiba-tiba sebuah suara teriakan memecah kesunyian malam itu.

KYAAAA

"Kaa-chan!" serunya panik dan hendak melangkah keluar tapi gerakannya langsung dihentikan.

"Nii-chan itu tadi suara Kaa-chan kan?kenapa dia berteriak?" Tanya Sakura setengah panic.

"Kaa-chan mungkin tak sengaja melihat kecoa. Kau tahu sendiri kan, Saku kalau Kaa-chan takut sekali dengan kecoa" ucap kakak Sakura yang memiliki wajah baby face sambil tersenyum.

Keadaan kembali hening setelah teriakan wanita yang tak lain adalah ibu dari ketiga makhluk bertubuh kecil tersebut.

PRANGGG

DOR DOR

Ketiganya membulatkan mata. Raut wajah ketakutan nampak di masing-masing wajah itu. Air mata pun terlihat menggenang di ketiga pasang mata berbeda warna itu. Salah satu dari sepasang mata itu telah berhasil meneteskan liquid bening. Menetes tanpa halangan melewati pipi gembul itu. Bibirnya bergetar. Tangan mungil itu menggenggam erat piyama bergambar kucing milik salah satu kakaknya. Sang pemilik piyama melirik adiknya yang tengah ketakutan, tangan mungilnya menarik kepala merah muda itu dan mendekapnya dalam dadanya.

"Tenanglah, Saku. Itu hanya suara..yang berasal daro tivi" ucap anak itu dengan suara yang agak bergetar sambil tangannya mengelus kepala merah muda Sakura. Menengokkan kepalanya kearah samping kirinya ketika sepasang telinganya mendengar suara gigi yang gemelutuk. Sang adik lelakinya terlihat mengepalkan tangan erat. Urat-urat di dahinya menampakkan diri. Dia tak bias melihat mata jade itu sekarang seperti apa. Tapi tanpa melihat pun dia bias tahu bahwa kini pasti jade itu menyiratkan pandangan yang sama dengannya. Marah.

"Tidaaakkkk henti-"

DEG

Ketiga makhluk itu merasa seolah jantung mereka melewatkan satu detakan. Emerald, Jade pucat dan jade itu mengecil. Mematung selama beberapa saat. Suara tadi..

Pemuda cilik di samping Gaara tersentak kaget saat gadis yang sebelumnya berada dalam kungkungannya tiba-tiba berontak dan berlari menjauhi kedua orang itu. Tanpa babibu kedua pemuda cilik itu berlari mengejar sang bungsu yang entah mengapa kekuatan berlarinya menjadi sangat cepat.

BRAK

"Tou-chan!"

JDUG

Pupil Gaara mengecil melihat Sakura yang sebelumnya membuka paksa pintu di depannya kini jatuh tersungkur. Berlari cepat, didekatinya sosok mungil itu. Darah merembes dari kepalanya. Merubah rambut merah mudanya menjadi berwarna merah.

"Sasori-sama..Gaara-sama!"

Kedua kepala itu menoleh ke belakang dan mendapati seorang lelaki paruh baya menghampiri mereka. Tak lama kemudian sirine mobil polisi terdengar. Tanpa sengaja Jade Gaara menatap kedua tubuh yang tergeletak di depannya. Matanya seketika memanas dan air mata mengalir deras.

Sekelebat dilihatnya seorang pria Nampak menyeret seorang anak kecil untuk segera menjauh dari sana. Gaara tak dapat melihat jelas keduanya yang sudah melesat secepat kilat. Tapi dia melihat mata itu.

Mata merah yang menyala.

"Gaara..kau tak apa?" Temari mengibaskan tangannya di depan Gaara yang sedari tadi hanya melamun. Mengedipkan mata beberapa kali untuk kembali mengambil alih pikirannya yang melayang ke masa suram yang tidak ingin diingatnya itu.

"Hn"

"Bukankah tersangka itu dihukum sebelas tahun?kenapa tak kau coba untuk mencarinya di kantor polisi. Sia-ittai.. apa yang kau lakukan!" Kankurou mendelik kearah Temari yang memasang tampang tak berdosa setelah menjitak kepala coklatnya dengan kekuatan super.

"Kenapa tak kau katakana dari tadi, baka!kau membuat banyak waktu terbuang tahu!" seru Temari galak.

"Salah sendiri tidak tanya dari tadi" sungut Kankurou sambil mengelus kepalanya.

"Hn kita berangkat sekarang"

.

TBC

Akhirnya update juga. Jangan lupa review ya ^^ dan saya ucapkan terima kasih untuk para pembaca yang masih menunggu kelanjutannya.

Thanks a lot, guys J