Naruto is belongs to Masashi Kisimoto

.

.

Menghela nafas panjang, disapunya peluh yang menetes lalu mengalir menuju pipi halusnya. Manik kehijauan itu menyala redup. Sudah dua jam dia bersama kedua teman satu kelompoknya mengobati beberapa pasien yang mayoritas adalah para manusia yang tidak bis a dikatakan masih muda.

Setelah rapat yang berdurasi tiga jam empat belas menit yang dipimpin oleh sang ketua kelompok, Sasuke, pembagian tugas pun dilakukan. Dan disinilah sekarang Sakura berada. Duduk di salah satu kursi yang terdapat di dalam sebuah balai kesehatan di desa yang jauh dari Konoha central. Melayani satu demi satu penduduk yang mengeluh berbagai macam penyakit yang berbeda-beda. Meringis iba saat mendengar penuturan dari beberapa 'pasien' mereka yang mengatakan bahwa mereka sama sekali belum pernah menyentuh butir-butir obat.

Beruntung sakura dan beberapa murid kelas dua-yang sedang menjalani program wajib dari sekolahnya- itu sempat diberikan pelatihan dengan sangat keras oleh beberapa guru pembimbing sehingga mereka tidak merasa gagap saat harus menangani beberapa penyakit-yang untungnya hanya penyakit ringan dari para 'pasien'nya.

KRUYUKK

Sakura langsung merutuki perut bodohnya yang berteriak disaat yang tidak tepat. Hinata yang duduk di sampingnya terkikik geli. Begitu pun dengan Ino yang malah tertawa terbahak. Semakin membuat bungsu Akasuna itu ingin melemparnya ke dalam sumur yang terletak tak jauh dari balai itu.

"Hahaha..sebaiknya kau isi dulu perutmu itu, Saku. Aku miris mendengarnya" ujar Ino setelah berhasil meredakan tawanya dan disetujui oleh Hinata dengan menganggukan kepala indigonya.

Sakura ingin menolak tapi saat alarm yang berasal dari perutnya kembali bersuara dengan sedikit lebih keras dan memalukan, mau tak mau membuatnya menuruti perintah teman pirangnya itu. Melemparkan tatapan sedikit bersalah pada Hinata dan Ino kemudian dia langkahkan kakinya mencari kedai makanan yang bisa mengatasi penderitaan perutnya. Emeraldnya terhenti di sebuah kedai ramen yang berada dalam jarak dua puluh meter di depannya. Tanpa ragu segera dia berjalan kesana. Melempar senyum pada beberapa penduduk desa yang menyapanya sopan. 'Darimana mereka tahu namaku?' pikirnya heran.

"Sakura-chaannn disini!" Sakura bersumpah akan mendepak kepala duren itu dan menyumpal mulutnya dengan beberapa botol obat yang tersedia di tasnya mendengar teriakan melengking pemuda itu. Tidak di Konoha tidak dimana tetap saja pemuda Naruto tidak mengenal sopan santun. Berteriak dengan suara toa miliknya di kedai ramen yang bukan di Konoha.

Berojigi dan menggumamkan kata maaf-mewakili sikap Naruto- pada beberapa pengunjung yang menatapnya aneh.

"Tidak perlu berteriak seperti itu, baka!" umpat Sakura setelah memesan satu mangkuk ramen dan duduk di sebelah Naruto. Rupanya anak itu tidak sendirian, di sampingnya duduk dengan tenang seorang pemuda berambut raven yang sepertinya sama sekali tak terganggu dengan kebisikan Naruto.

"hehe..oh ya kenapa kau disini, Sakura-chan?"

"Aku lapar dan hanya kedai ramen ini tempat makan yang kutemukan" jawab Sakura malas kemudian melahap ramen mengepul yang sudah tersaji di depannya.

"Paman, aku pesan satu mangkuk lagi!" seru Naruto lantang. Sasuke mengernyit samar sambil melirik teman kuningnya tersebut.

"Uhukk..uhuk" Sakura terbatuk dan buru-buru menandaskan air putih yang disodorkan Naruto padanya.

"Caramu makan buruk sekali, Akasuna" desis Sasuke. Sakura mendelik tak suka kearahnya dan memilih untuk tak meladeninya.

"Kau tak apa Sakura-chan?" Tanya Naruto sekaligus menetralkan suasana yang mendadak tidak mengenakkan tersebut.

"Tidak. Aku hanya merasa aneh, kau sudah makan sebanyak itu dan masih mau pesan satu mangkuk ramen lagi?" Tanya Sakura seraya menunjuk beberapa tumpuk mangkuk kosong di depan Naruto.

"Melihatmu membuatku lapar, Sakura-chan" ucap Naruto sambil nyengir tanpa dosa membuat Sakura cengo beberapa detik.

BRUUSHHH

Kedua manusia itu melirik sesosok manusia yang baru saja menyemburkan ocha yang seharusnya meluncur di kerongkongannya tersebut. Sakura menatap sinis pemuda itu dan membalikkan kata-katanya tadi. "Caramu minum buruk sekali, Uchiha. Sangat tidak sopan"

Sasuke menatap tajam Sakura lalu meninggalkan kedua temannya itu dalam diam.

"Hey Teme mau kemana kau?!" tanya Naruto dengan suara toanya-lagi.

"Pulang"

Sakura?tertawa puas dalam hati atas kemenangannya.

.

.

"Kau yakin ini selnya?" tanya Kankurou pada sipir yang mengantarkan mereka-Gaara dan Temari termasuk- sampai di depan sebuah sel penjara yang terletak di ujung rumah tahanan tersebut. Sipir itu menganggukan kepala meyakinkan.

"Hmm baiklah kau boleh pergi" perintah Kankurou dan dibalas anggukan-lagi oleh petugas tadi.

"Kenapa kau tak minta pada sipir tadi untuk menyuruhnya keluar saja jadi kita bisa lebih nyaman dan leluasa menemuinya, baka!" umpat Temari merutuki kebodohan teman satu timnya itu.

"Sipir itu tadi mengatakan kalau dia berbahaya" bisik Kankurou sambil melirik pria yang tengah meringkuk di sudut ruangan. keadaan sel yang gelap tak bisa membuat mereka melihat dengan jelas ke dalam.

"Darimana kau tahu?"

"Saat kau dan Gaara masih tertinggal di belakang tadi"

Gaara tak menanggapi ocehan kedua rekannya tersebut. Sepasang jade tajam miliknya mencoba menelisik ruangan di depannya. Di sudut sana dapat dilihatnya seorang pria sedang meringkuk. Bau anyir mendadak menerpa indera penciuman mereka, reflek menutup hidung.

"Bau apa ini?" tanya Temari menahan mual.

"Menjauh dari tempat itu. Kalian tidak mungkin tahan melihatnya" kepala pirang dan coklat itu menoleh bersamaan menuju sumber suara yang datang dari sel di belakangnya. Sedangkan Gaara masih setia memandang datar pria yang sama sekali tak bergerak tersebut.

"Apa maksudmu?" tanya Kankurou mendekati sel di belakangnya itu. Hampir saja dia terlonjak kaget saat seorang pria dengan cambang dan beberapa luka bekas goresan menghiasi wajah yang terlihat lecek itu muncul dengan tiba-tiba di balik jeruji besi di depannya.

"Jangan mendekatinya. Sesuatu..dia..semua yang mengunjungi..gangguan jiwa..bunuh diri.." ucap pria itu dengan susunan bahasa yang berantakan. Kankurou mengernyit heran.

"Ap-"

"ARRGGGHHHHHH!"

Kankurou dan Temari terlonjak kaget mendengar teriakan yang berasal dari sel yang menjadi tujuan mereka itu. Perasaan takut melanda mereka berdua. Dalam hati pun bertanya-tanya tentang apa yang tersimpan atau apa yang terjadi di balik jeruji besi itu. Suasana mendadak menjadi mencekam. Aura di tempat itu berubah menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Sangat dingin.

Tak ada bunyi apapun, selain degup jantung yang berdetak bertalu-talu dan dapat di dengar oleh masing-masing empunya sendiri karena terlalu kerasnya mungkin. Tak berapa lama terdengar deru napas yang memburu serta cekikikan yang terdengar mengerikan bagi yang mendengar. Sebenarnya apa yang terjadi?

Semuanya terjadi begitu cepat hanya dalam satu hembusan napas pendek. Dua lengan kurus dan kotor mencengkeram leher Gaara dari balik jeruji.

"Khh.."

"Gaara!" seru Kankurou dan Temari bersamaan. Keduanya melotot menyaksikan pemandangan yang tersaji di depan mata.

"Sudah kubilang fufufu.."

.

"Bagaimana, Matsuri?"

"Sejauh ini semuanya masih berjalan dengan baik, Tuan"

"Hmm.."

Sang gadis menatap dalam diam pria yang duduk membelakanginya. Asap Nampak mengepul mengisi ruangan yang didominasi dengan warna cream tersebut. Gadis yang bernama Matsuri tersebut mengernyit tak suka lalu menutup mulutnya dengan telapak tangan mungilnya. Menghalau asap beracun tersebut untuk masuk di indra penciumannya.

"Hn kau boleh keluar, aku tahu kau benci asap rokok" sempat ragu kemudian gadis itu melaksanakan perintah atasannya tersebut.

BLAM

Tak ada bunyi atau kegiatan apapun dalam ruangan itu sepeninggal sang gadis. Hanya asap yang masih mengepul dan gerakan menghisap batang rokok yang dilakukan sang pria yang masih setia memandangi lampu-lampu berbeda warna yang dia nikmati dari lantai sepuluh gedung kantor perusahaan miliknya.

Mematikan rokoknya dan melemparnya ke asbak berbentuk kotak dengan warna perak yang terletaktak jauh dari tempatnya. Tangan kekarnya terulur dan mengambil handphone yang tersembunyi di dalam saku celananya. Menatap sebuah foto keluarga yang memperlihatkan tiga bocah cilik berbeda gender yang tengah tersenyum atau lebih tepatnya nyengir lebar kea rah kamera. Senyum kecil nan sendu terpeta di wajah pemuda itu melihatnya.

"Bersabarlah..aku akan menemui kalian" ucapnya pelan.

.

.

Mungkin aka ada sedikit penambahan genre dalam fict ini mengingat ide yang tiba-tiba saya rombak -_- belum sempat memunculkan Sasori.

dan maaf saya tidak bisa update kilat karena tugas yang menumpuk di real life. Review please ^^