Naruto is belongs to Masashi Kisimoto
.
.
"Kau baik-baik saja, Gaara?" Gaara mendengus bosan untuk yang kesekian kalinya mendengar pertanyaan Temari yang ke sebelas kalinya dalam kurun waktu satu jam tadi. Bukannya Gaara tidak memahami maksud Temari hanya dia juga merasa risih dengan kecemasan Temari yang menurutnya berlebihan.
"Hn"
"Hentikan pertanyaan bodohmu itu, Temari. Aku saja yang hanya menjadi pendengar merasa bosan apalagi Gaara yang sejak tadi menjadi objekmu" Temari mendelik tajam Kankurou yang malah menguap tak peduli.
Sejak kejadian 'pencekikkan' yang menimpa Gaara membuatnya jadi lebih banyak diam. Yah memang pada dasarnya Gaara adalah orang yang tak banyak bicara tidak seperti Kankurou yang bahkan kadar kecerewetannya melebihi perempuan. Tapi tetap saja Temari merasa khawatir. Apalagi melihat goresan sepanjang lima centimeter di leher Gaara. Pasti terkena kuku pria tadi.
Kankurou menenggak habis minuman dingin yang baru saja Temari letakkan di atas meja dengan rakus. Temari hanya menggeleng pelan lalu meneguk air itu dan membiarkannya membasahi kerongkongannya yang sedari tadi terasa kering kerontang. Diliriknya Gaara yang masih berpose seperti tadi. Duduk tenang dengan tanga yang terlipat didepan dada. Temari yakin pemuda itu masih memikirkan pria itu.
"Bukannya ini terasa aneh?" Tanya Kankurou memecah keheningan.
"Tidak ada yang aneh dari minuman ini. Mungkin lidahmu yang telah kehilangan fungsinya dengan baik" jawab Temari asal.
"Cihh..bukan itu maksudku!" Kankurou menggeram kesal. "Pria itu..dia sepertinya mengalami gangguan mental"
"Kalau dia mengalami gangguan mental, tak seharusnya dia berada di rumah tahanan khusus penjahat kelas atas seperti itu. Rumah sakit jiwa adalah tempat yang tepat baginya.." yeah..kurasa imbuh Temari dalam hati.
"Justru itu yang membuatnya terasa aneh. Dia mengalami gangguan jiwa-"
"masih mungkin-gangguan-jiwa" ralat Temari seraya menekankan tiga kata terakhirnya.
"Yeah..apapun itu, terserah. Jadi kalau memang'mungkin' dia mengalami gangguan jiwa kenapa dia justru tetap dibiarkan berada disana?bukannya itu justru akan merepotkan? Jadi kurasa.." Kankurou memberi jeda sejenak membuat keduanya- ah tidak..maksudku seorang diantara rekannya penasaran tingkat akut akan kelanjutan kalimatnya."Pihak kepolisian menyembunyikan sesuatu"
Gotcha!
Sesuai dugaan Kankurou, Gaara mengerutkan dahinya heran.
Pria berambut mera itu membenarkan dalam hati perkataan Kankurou. Gangguan jiwa. Penjahat kelas kakap. Lalu tiba-tiba dia teringat sesuatu.
Merah. Mata yang merah menyala. Meskipun hanya sekilas tapi Gaara sempat melihatnya dengan jelas. Dia sendiri tidak tahu ada manusia yang memiliki mata sejenis itu. Mungkinkah dia memakai softlens?Gaara mengenyahkan pemikiran konyolnya. Saat itu sesuatu seperti membisikkan Gaara untuk tidak menatapnya lama. Dia tidak tahu apa itu dan mengapa dia menurutinya begitu saja. Saat sebuah jarum jarum bius menembus kulitnya perlahan mata itu memudar dan tertutup.
"Kenapa kita tidak meminta data tentang riwayat hidupnya saja?"
"Baka..mana mungkin pihak kepolisian memberikannya semudah kau mengatakannya" Lagi-lagi Temari mendelik-entah yang keberapa kalinya- pada Kankurou karena telah mengatainya. Baru kali ini ada orang yang berani mengatainya begitu. Jika tidak mengingat kondisi saat ini mungkin dia akan melempar kepala coklat itu sampai ke Suna.
"Kecuali kalau kita-"
"Mengambilnya. Segera"
.
.
Hinata mati-matian menahan diri agar dia tidak pingsan saat ini juga. Mengambil nafas dalam-dalam lalu membuangnya dengan susah payah. Berkali-kali matanya melirik kearah Naruto yang berdiri tak jauh darinya. Kulit tan pemuda itu basah akan keringat. Wajahnya juga sedikit memerah. Hinata menundukkan kepala menghindar untuk menatap pemuda yang diam-iam disukainya itu agar tidak benar-benar pingsan.
Ino yang berdiri di sebelah Hinata mengernyit dahi cemas.
"Kau baik-baik saja, Hinata?" Tanya Ino seraya mencoba melihat wajah Hinata.
"T-tidak Ino-chan. Aku b-baik baik saja"
Sakura yang penasaran dengan kedua temannya itu berjalan mendekati mereka. Dilihatnya Hinata yang masih menundukkan kepala.
"Kau kenapa, Hinata?"
"Hinata-san pasti sedang merona melihat Naruto" ucap Sai sambil tersenyum tanpa dosa.
"Hah?apa maksudmu, Sai?" Tanya Ino heran. Sedangkan Sai masih mempertahankan senyumnya, tak menjawab pertanyaan Hinata.
"Dia pasti malu sekali melihat Naruto sekarang ini" celetuk Kiba sambil melirik Naruto yang tengah lari di tempat.
Ketujuh anak muda itu memang saat ini sedang melakukan olahraga pagi di depan 'tempat tinggal' mereka atas usulan dari Naruto yang beralasan bahwa olahraga itu sangat penting bagi kesehatan, selain itu juga agar bias mempererat tali pertemanan mereka. Sasuke awalnya menolak mentah-mentah ide itu, tapi karena tidak tahan melihat raut 'imut' Naruto akhirnya dengan sangat berat hati dikabulannya permohonan pemuda itu. Tidak ingin menyiksa matanya dengan pemandangan mengerikan itu. Lebih baik melihat keriput di wajah Itachi daripada harus disuguhi jurus mematikan Naruto itu.
"Eh. Oh..apa maksudmu Kiba?" Tanya Naruto yang baru sadar menjadi objek pembicaraan. Kiba hanya memutar bola matanya bosan dan jengkel. Menhentikan aktifitasnya sejenak yang tenah mernggangkan otot-ototnya.
"Bodoh. Tentu saja Hinata malu melihatmu yang hanya memakai kaos tipis itu sedang berkeringat seperti sekarang. Apalagi melihat kulit gosongmu" ejek Kiba namun sepertinya Naruto tak menggubris atau lebih tepatnya tak menyadarinya.
"Oh..jadi kau malu melihatku begini Hinata-chan?tenang saja kau bisa melihat yang lebih dari ini. Kau boleh menikmati tubuh seksi ini sesuka hatimu sekarang"
TOENG
BRUK
Sepertinya Naruto tak menyadari sikap bodohnya barusan. Dan apa-apaan tadi?kata-katanya yang terbilang vulgar itu ternyata berdampak buruk bukan hanya bagi Hinata yang telah jatuh pingsan tetapi juga telah membuat nyawanya terancam.
"Eh..Hinata-chan kenapa pingsan?" Tanya Naruto dengan tampang bodohnya.
"Dasar bodoh.." gumam Sasuke.
"Mari kita tundukan kepala sejenak demi keselamatan Naruto, Akamaru" ucap Kiba yang dibalas Akamaru.
"Guk!"
"Naruutooo.." Naruto menoleh kearah Sakura yang diselimuti aura hitam. Meneguk ludahnya susah payah. Belum sempat menjalankan niatannya untuk kabur sebuah bogem mentah mendarat di pipi kirinya dengan sangat tidak berperasaan.
BUAK
"Selamat jalan, Naruto" ucap Sai sambil tersenyum.
"Bodoh" komentar Ino dengan wajah yang masih sedikit merona yang ditujukan pada Said an Naruto.
.
.
Malam ke dua puluh tujuh bulan Juni. Suasana di tempat itu tak bisa membuatmu untuk berlama-lama disana. Jangankan berlama-lama, hanya sekedar melewati tempat itu saja mungkin kau tidak akan sudi.
Langit malam itu benar-benar gelap tanpa ada penerangan dari bintang-bintang yang biasanya menampakkan diri. Suara gemerisik daun yang saling bergesekan karena tiupan angin, serta nyanyian dari burung hantu seolah menambah kesan mistis.
Bangunan itu tampak menjulang tinggi dan suram. Seorang penjaga terlihat susah payah menahan rasa kantuknya. Diliriknya jam tangan yang melingkar di lengannya. Tiga ratus detik sebelum menginjak jam dua belas tepat. Tanpa disadarinya tiga sosok berkostum hitam sedang berjalan mengandap-endap ditengah malam mencekam itu.
Gaara berjalan memimpin di belakangnya Temari lalu terakhir Kankurou yang terlihat beberapa kali meraba tengkuknya. Tempat yang gelap itu sedikit mengurangi nyalinya.
Gaara menghentikan langkahnya karena dihaang oleh sebuah tembok yang menjulang tinggi. Tidak menyadari gerakan Gaara yang berhenti tiba-tiba, Temari menabrak punggung kokoh Gaara dan kehilangan keseimbangan.
"Aw!" pekiknya pelan merasakan sakit di kaki kirinya, sepertinya terkilir.
"Kau kenapa, Temari?' Tanya Kankurou berbisik.
"Sepertinya kakiku terkilir" ujar Temari sambil menggigit bibir bawahnya menahan sakit. Gaara merogoh sesuatu dalam kantongnya yang ternyata adalah sebuah balsam. Dicoleknya balsam itu lalu dioleskan pada kaki Temari.
"rencana B" ucap Gaara setelah mengobati Temari.
"Aku ikut" Gaara mengernyit tak suka tapi akhirnya dia mengalah dan membiarkan Temari.
Ketiganya bangkit lalu berjalan mengendap-endap menuju pintu gerbang tempat dimana sang penjaga berdiri. Kankurou merutuki diri saat tak sengaja menginjak ranting.
"Siapa disana?" mereka segera berguling ke semak-semak saat sebuah cahaya menyorot. Dengan cepat Gaara bangkit kembali dan menembakkan jarum bius kearah petugas yang hampir memergoki mereka.
BRUK
"Ugh..berat sekali pria ini. Makan apa sih dia?" keluh Kankurou seraya menyeret petugas tadi menuju semak-semak lalu membekap mulutnya dengan lakban dan mengikat tubuhnya.
"Bagus. Ayo cepat waktu kita tidak banyak!"
.
Gaara, Kankurou serta Temari melangkah hati-hati saat sampai di ujung tangga. Sejauh ini tak ada sesuatu atau seseorang yang menghambat langkah ketiganya, semuanya berjalan dengan baik bahkan sedikit melenceng dari rencana.
"Ini aneh sekali. Kenapa dari tadi aku tidak melihat satu petugas pun" bisik Kankurou menyuarakan isi hatinya.
"Makanya cepat, dimana ruangannya?"
"Ah itu dia yang berada di ujung sana" tunjuk Kankurou dengan dagunya yang tak bisa dilihat kedua rekannya. Semakin mempercepat langkahnya. Kankurou memencet angka-angka yang tidak Temari dan Gaara ketahui.
Darimana dia tahu?
TING
Menyeringai, lalu Kankurou masuk diikuti Temari dan Gaara di belakangnya. Ruangan itu terlihat cukup mewah untuk ukuran tempat penyimpanan berkas-berkas info tahanan. Sebuah lemari es berukuran kecil terletak di sudut ruangan. Tiga buah lemari sedang yang Kankurou yakini salah satunya menyimpan data tentang pria itu.
Gaara merasa dibalik ketenangan ini pasti ada sesuatu yang tersembunyi. Tapi dia tidak bisa memprediksinya. Bersikap tetap waspada, itulah yang hanya dia bisa lakukan.
SYUUTT
BRUK
Temari dan Gaara tersungkur di lantai. Temari meringis merasakan kakinya yang belum kembali normal menyentuh sisi lemari. Gaara mengedarkan matanya dan melihat sebuah kunai tergeletak tak jauh darinya. Matanya memicing waspada.
Gerakan Kankurou terhenti. Dia melirik kedua rekannya yang masih belum bangkit. Lalu dialihkan matanya, menelisik setiap sudut ruangan. Dia tak mengetahui apa yang terjadi, hanya mendengar suara Gaara dan dan Temari yang membentur lantai. Disana..seseorang berdiri dengan angkuh di sudut ruangan dekat jendela yang tampak tertutup.
Siapa dia?bagaimana mungkin aku tak menyadarinya?kenapa?
Sosok itu menyeringai dibalik tudung yang menutupi wajahnya. Dibukanya tudungnya perlahan."Sudah kuduga"
Iris Kankurou melebar menyadari wajah itu mulai terlihat.
"Kau.."
.
.
TBC
Terimakasih atas tanggapan yang baik dari kalian. Dan maaf saya 'masih' belum bisa memunculkan Sasori..dia belum bisa saya panggil karena memang perannya belum saya berikan disini. Tapi saya 'usahakan' akan segera saya munculkan. Ditunggu saja, masih panjang jalan ceritanya karena saya juga belum menyinggung soal bagaimana Sakura 'mengetahuinya'.
RnR?
