Naruto is belongs to Masashi Kisimoto
.
.
Diletakannya dupa yang sebelumnya telah dia bakar itu di depan pigura seorang wanita muda yang memiliki warna mata serta rambut yang mirip dengannya itu. Menangkupkan tangannya di depan dada lalu memejamkan mata selama beberapa lama.
Menghela nafas pelan. Hari ini adalah tepat sebelas tahun kematian kedua orang tuanya. Itachi yang hampir setiap tahun merayakan peringatan kematian kedua orang tuanya bersama Sasuke, malam ini terpaksa melakukannya seorang diri mengingat adik semata wayangnya itu sedang tidak bersamanya untuk hari ini dan beberapa hari ke depan.
Dipandanginya foto wanita itu lalau beralih menuju sebuah pigura yang terletak di sampingnya. Uchiha Fugaku. Masih segar dalam ingatannya tentang peristiwa itu. Saat itu dia bersumpah akan membalas pembunuh kedua orang tuanya. Namun setelah mendengar kabar bahwa pelaku ditemukan tewas dengan tak kalah mengenaskan, entah mengapa dendam itu seolah menguap begitu saja. Yah..kedua orang tuanya memang mengajarkan padanya juga Sasuke untuk tidak memiliki dendam terhadap siapapun. Sekalipun orang itu telah melukaimu dan membuat hidupmu sengsara. Lagipula kedua orang itu juga telah mendapat balasan yang setimpal. Pada akhirnya dia juga ikut mendoakan kedua orang tersebut agar juga mendapat ampunan dari Kami-sama. Justru yang jadi pikirannya adalah sikap Sasuke yang terlihat berbeda sejak kejadian itu. Membuatnya tumbuh menjadi orang yang dingin dan tak berperasaan. Bungsu itupun menjadi seorang yang sangat pendiam terhadapnya. Dia hanya akan menajaknya bicara jika itu memang benar-benar sesuatu yang mendesak.
Selesai melakukan ritualnya, Itachi menelusuri ruangan itu. Ruangan itu memang dirancangnya khusus untuk meletakkan barang-barang milik kedua orang tuanya. Bukannya apa, hanya dia tidak mau mengambil resiko jika ada barang penting milik kedua orang tuanya yang tiba-tiba hilang dan berimbas pada hal lain.
Saat membuka laci dilihatnya sebuah buku bersampul merah maroon yang terlihat sudah kusam. Ditiupnya debu yang menempel pada buku tersebut. Ternyata itu adalah sebuah buku album. Dibaliknya lembar demi lembar album foto itu. didalamnya foto Sasuke kecil mendominasi, membuat Itachi tersenyum kecil. Foto-foto Sasuke kebanyakan diambil secara diam-diam mengingat pemuda itu tidak suka dijadikan objek foto. Saat Itachi membuka lembar terakhir salah satu dari lembar foto itu jatuh, dipungutnya benda itu.
Disana memperlihatkan empat remaja dengan seragam hitam khas anak SMA. Itachi mengenali salah satunya sebagai sang ibu, Uchiha Mikoto. Disamping Mikoto seorang perempuan cantik beriris hijau yang tengah tersenyum manis. Salah satu matanya tertutup poninya yang berwarna coklat. Lalu seorang lelaki berambut hitam panjang dengan kulit pucat, Itachi sempat bergidik melihat wajahnya yang menurutnya menyerupai ular itu. kemudian pandangannya terhenti pada orang terakhir di foto itu yang berambut merah. Dibawah foto tersebut terdapat tanggal yang menurut Itachi waktu pemngambilan gambar itu. seketika iris hitamnya melebar.
"Bagaimana mungkin.." 27 Juni. Hari ini. Tanggal kematian kedua orang tuanya.
.
.
"Kau.." Iris Kankurou melebar memaandang wajah lelaki itu. dia tidak mungkin tidak mengingatnya. Lelaki itu..
"Aku sudah menduga kalau kalian akan melakukannya" ucap pria misterius itu seraya berjalanmendekati Kankurou. Kankurou memasang sikap waspada begitu pula dengan Temari dan Gaara yang sudah bangkit.
"Bagaimana mungkin kau bisa kesini?" Tanya Kankurou heran. Pria itu jelas-jelas tadi siang berada di dalam sel di depan sel pria yang telah mencekik Gaara. Jadi bagaimana mungkin sekarang dia bisa berdiri di depan mereka bertiga dengan sikap tenang namun menakutkan itu?bukankah ini terlalu tidak masuk akal?kecuali jika memang..
"Pihak kepolisian bersekongkol denganmu?" Tanya Kankurou lagi setelah pertanyaan sebelumnya tak mendapat jawaban membuatnya kesal.
"Fufufu..mana mungkin aku melakukan hal serendah itu, bocah"
"Aku bukan bocah!"
"fufufu..baiklah..baiklah. bagaimana kalau kita melakukan perkenalan terlebih dahulu?" Pria itu menyeringai lalu melemparkan tiga shuriken kearah Gaara, Kankurou serta Temari. Ketiganya menghindar dengan cepat.
"Catat namaku, bocah. Ki-mi-ma-ro" ucap pria bernama Kimimaro itu melesat dan hendak menebas Gaara dengan pedangnya namun berhasil dihindari. Gaara terus menghindari gerakan gesit Kimimaro, tidak mendapat kesempatan untuk melawannya karena kecepatan pemuda berambut pputih itu. Kankurou mengarahkan pisaunya dan berhasil mengenai Kimimaro, namun hanya berupa goresan yang tak terlalu dalam. Kimimaro meninju perut Kankurou dan membuatnya oleng. kembali terfokus pada Gaara yang telah melayangkan tendangan pada perutnya.
"Hilangkan senyum memuakkanmu itu" desis Gaara hendak menghujamkan pisaunya namun Kimimaro berhasil menghindar dengan melompat keatas melayangkan kakinya pada Gaara namun berhasil dihindari. Mendengar langkah yang mendekat diayunkan kakinya dan berhasil menendang pinggang Kankurou dan membuatnya menabrak lemari.
"Kurou!" pekik Temari.
"Aku..baik-baik saja"
Giliran Temari mengambil pistol kedap suara dalam sakunya lalu menembakkan kearah Kimimaro secara membabi buta. Kimimaro berguling guna menghindari tembakan-tembakan itu. Temari mendecih lalu dilemparnya pistol itu ketika pelurunya habis. Kimimaro maju dan meninju perut Temari. Temari terus menghindar pukulan Kimimaro.
DUAG
Tangannya yang terkepal berhasil mengenai wajah Kimimaro. Dari arah belakang Gaara menendang Kimimaro dan membuatnya membentur lemari dengan keras. Kimimaro membuang ludahnya yang bercampur darah kemudian bangkit dan mengambil sesuatu dari sakunya.
"Aku hanya ingin mengajak kalian bekerja sama dan ini hany sebatas perkenalan..kenapa klin menanggapinya serius sekali" ketus Kimimaro.
"Cih..kau pikir kami begitu bodohnya mempercayaimu begitu saja setelah penyeranganmu ini!omong kosong!" Temari maju dan mengambil pistol terakhirnya, bersiap menarik pelatuk.
"Temari hentikan" Temari menatap tak percaya Gaara yang menurutnya telah membuat keputusan bodoh. Temari hanya mengatakan dalam hati, tentu saja dia masih sayang nyawa jika berani mengatainya bodoh.
DRAP
DRAP
Kankurou yang masih meringis kesakitan segera bangkit dan kalang kabut saat telinganya mendengar langkah-langkah yang terburu-buru. Sepertinya menuju ke tempat mereka berada. Temari pun tak kalah paniknya. Dipandanginya Gaara yang masih berdiri dengan angkuh seolah menantang Kimimaro yang tak kalah angkuhnya.
"Apa maumu?"
"Gaara kau gila?kau tidak dengar suara orang-orang yang mendekat itu?ayo cepat keluar dari tempat ini!" seru Kankurou. Temari tersenyum puas mendengar Kankurou yang menyuarakan isi kepalanya dan mengatai Gaara gila. Setidaknya itu tidak berasal dari bibirnya dan – berharap- bisa membuat Gaara sadar akan keputusan sepihaknya.
"Apa jaminanmu?"
"Kau bisa melubangi kepalaku saat ini juga jika aku berbohong" Kimimaro menyerahkan pistolnya pada Gaara. Gaara menetap sebentar Kimimaro lalu pistol di depannya, diraihnya pistol itu lalu menarik pelatuknya.
DOR
DOR
.
"Gaara!"
.
Sakura berguling ke kanan, ke kiri, kanan lagi dan begitu seterusnya. Pergerakannya membuat ranjangnya berderit di tengah malam yang sunyi itu. malam ke dua puluh tujuh bulan Juni.
"Jidat diamlah kau mengganggu tidurku!" seru Ino dengan suara serak yang terobaring di ranjang sebelah Sakura.
Sakura mengabaikannya. Sekarang gadis itu telentang dengan mata yang menerawang langit-langit kamarnya. Dipegangnya tenggorokannya yang terasa kering. Merutuki pemilik kontrakan yang tidak menyediakan dispenser di dalam kamarnya. Diliriknya jam yang menempel di dinding kamarnya. Tepat pukul sepuluh malam.
GLEK
Perlu pemikiran yang masak-masak jika dia ingin keluar dari tempat 'aman'nya tengah malam seperti ini dan menuju dapur hanya untuk mengambil segelas air. Akan lain ceritanya jika dia adalah seorang gadis pemberani yang tidak takut dengan hal-hal yang 'tak kasat mata'. Dia boleh ditakuti karena pemegang sabuk hitam cabang olahraga karate di sekolahnya, tapi soal urusan nyali di tempat gelap..kau tidak bisa mengandalkannya.
Ditelengkan kepalanya ke arah Ino, tidak. Gengsinya terlalu tinggi untuk sekedr meminta padanya untuk menemaninya. apalagi hanya sekedar pergi ke dapur yang bahkan hanya berjarak beberapa meter dari kamarnya. Setelah melalui pertimbangan yang cukup memakan waktu, dia mengambil keputusan.
Tenang Sakura, tidak ada apa-apa disana
Dibuka pintunya pelan. Selama perjalanan dia bersikap setenang mungkin. Keadaan benar-benar sepi, bulu kuduknya mendadak berdiri saat melewati kamar para laki-laki. Suara dengkuran yang saling bersahut-sahutan membuatnya meneguk ludah dengan kepayahan. Baru disadarinya bahwa suara orang ngorok akan seseram itu.
Menghela nafas lega saat sudah berada di dapur. Langkahnya terhenti. Matanya menatap horor sekitarnya. Telinganya tak sengaja mendengar seperti suara pisau yang beradu dengan papan. Meneguk ludah dengan kepayahan - lagi- disapunya seluruh ruangan dapur itu dengan matanya. Disana. Di dekat jendela yang terbuka dia bisa melihat seseorang sedang berdiri membelakanginya. Siku pria itu bergerak keatas kebawah. Sepertinya memang itu suara yang didengarnya tadi. Dengan kaki gemetar Sakura mundur ke belakang, mencoba menjauhi tempat itu. Tidak mungkin dia akan berteriak meminta tolong mengingat ini sudah malam semuanya pasti sudah tertidur pulas, ditambah walaupun dia berteriak minta tolong orang itu pasti tetap akan menang dalam hal kecepatan mengingat jarak mereka yang hanya sekitar enam meter.
PRANG
Sakura merutuki dalam hati kecerobohannya. Pupilnya mengecil saat melihat orang itu berbalik dan berjaln kearahnya. Kali ini dia harus benarbenar berteriak. Namun orang itu bergerak cepat dan membungkam mulutnya.
"Apa yang kau lakukan disini?" Sakura membelalakkan mata mendengar suara berat khas pria itu.
.
.
"Dia telah bergerak, Tuan"
"Hm baiklah terus awasi mereka, Ibiki"
"Baik Tuan"
Ditutupnya sambungan telepon itu lalu menyandarkan punggungnya di kursi empuknya. Menghela nafas frustasi lalu jemarinya menekan beberapa angka di handphone miliknya.
"Matsuri, pesankan dua tiket ke Tokyo segera" kembali sambungan telepon dia putuskan setelah mendapat jawaban dari orang di seberang. Dia harus segera sampai disana sebelum semuanya menjadi rumit dan berantakan. Orang itu tidak bisa biarkan bertindak semaunya sendiri, dia tidak tahu imbas apa yang akan didapat oleh orang lain karena tindakan sembrononya.
"Hahhhh..anak itu dari dulu memang merepotkan. Semoga mereka baikbaik saja.."
.
.
TBC
Sudah tahu kan orang terakhir siapa? Ternyata secepat ini dia muncul –"
Review please? :)
