Naruto is belongs to Masashi Kisimoto

.

.

Pagi itu suasana di meja makan yang dihuni oleh para siswa kelompok 7 Konoha High School tampak sedikit berbeda. Bukan, bukan dengan noda biru yang tercipta di wajah rupawan si bungsu Uchiha. Melainkan lebih condong pada aura yang dapat dirasakan oleh beberapa dari mereka terasa lebih gelap dari biasanya. Beberapa dari mereka? Tentu saja karena sekarang si duo jabrik kuning dan coklat tetap melahap makanan yang tersedia di depan mereka dengan lahap tanpa mempedulikan..ah tidak lebih tepatnya feeling mereka yang sama sekali tidak peka dengan aura hitam yang tidak kunjung berkurang dan malah bertambah pekat sejak beberapa menit yang lalu itu.

Hinata tak menyentuh makanannya sama sekali, hanya memainkan kedua jari telunjuknya dan meneguk ludah berkali-kali. Disampingnya, Ino menyeruput susu lowfat miliknya sambil melirik dua manusia yang dicurigainya sebagai sumber aura pekat saat ini. Lalu mengernyit saat melihat warna kebiruan di jidat Sasuke. Sejak kapan Uchiha Sasuke punya tanda lahir seperti itu? Sepengetahuan Ino selama ini dia tidak pernah melihatnya, atau mungkin hanya tidak menyadarinya karena terlalu sibuk memperhatikan pemuda Shimura yang tengah tersenyum kearahnya.

"Eh?" Ino salah tingkah saat Sai melemparkan senyum kearahnya. Pada akhirnya gadis itu hanya membalas senyuman sang pemuda, dalam hatinya melonjak kegirangan dan bersyukur pada Kami-sama karena sudah disuguhi senyum menawan pemuda berambut hitam klimis itu. Setidaknya bisa sedikit mengurangi suasana tidak menyenangkan pagi itu untuknya seorang.

"Ehm..bisakah kita mulai sekarang?" semua memandang aneh pada Sai.

'apanya yang bisa dimulai?' gumam dalam hati beberapa dari mereka secara serempak. Seperti bisa membaca arti tatapan teman-temannya itu Sai kembali membuka suara dengan senyum yang sepertinya memang tak pernah luntur dari wajah pucatnya itu.

"Dari tadi aku merasakan aura yang sangat tidak menyenangkan berasal dari Sakura-san dan Sasuke-san, dan kurasa kalian bisa menyelesaikan masalah kalian setelah acara sarapan pagi ini selesai" Sontak Sakura dan Sasuke memberikan deathglare masing-masing pada Sai yang sebenarnya sama sekali tak mempan baginya. Lihatlah bahkan sekarang pemuda itu masih saja tersenyum tanpa dosa kearah dua manusia itu.

"Hafa makhudmu Hai?" Tanya Naruto dengan mulut yang penuh dengan ramen. Kuah yang berasal dari mulutnya tercecer kemana-mana membuat Sakura dan Ino mengernyit jijik.

"Telan dulu makananmu, baka!" seru Ino dan Sakura bersamaan dan hanya dibalas cengiran rubah Naruto.

"Sudah te-teman-teman..ku-kurasa kita sebaiknya segera me-menyelesaikan sarapan kita..ma-masih banyak pekerjaan yang menunggu.." ucap Hinata hati-hati dengan tetap memainkan jari telunjuknya tanpa memandang kearah lawan bicaranya. Nampaknya jari telunjuknya jauh lebih menarik daripada wajah-wajah masam itu. Lebih tepatnya dua wajah masam di seberangnya.

Sakura hanya mampu mengumpati dalam hati. Mengumpati entahlah siapa..tapi yang jelas penyebab kekesalannya adalah Uchiha yang duduk di depannya dengan wajah yang menurutnya menyebalkan. Bahkan pemuda itu sempat-sempatnya menatapnya tajam dan seolah berkata lihat-apa-yang-sudah-kau-perbuat. Bukan Akasuna Sakura namanya jika tak mampu melawan tatapan mematikan pemuda itu. Hal itu tak luput dari pandangan gadis Yamanakan yang duduk tepat di sebelah kanannya. Gadis itu sempat mengernyit lalu menatap bergantian Sakura Sasuke Sakura lalu Sasuke lagi begitulah seterusnya sampai gerakannya terhenti dan digantikan dengan seringai menyebalkan.

Fufufu..nampaknya usahamu untuk merebut Sora dari tangan Sakura akan berhasil Ino, tinggal menunggu ijin dari Kami-sama saja.

.

.

Sepanjang perjalanan Sakura menggerutu tak jelas. Bukan tanpa alasan bibirnya tanpa henti mencucapkan sumpah serapah serta menyempilkan kata 'Sasuke' di dalamnya. Seusai sarapan pagi tadi pemuda itu mendatanginya yang saat itu sedang menaiki tangga menuju kamarnya. Tanpa diduga jidatnya disentil dengan sangat tidak berperasaan olehnya. Memasang wajah tanpa dosa, Sasuke hanya mengatakan alasan yang membuat Sakura hampir saja melemparinya dengan sandal kayu yang kebetulan sedang dipakainya saat itu jika tidak dihentikan oleh Hinata.

"Itu balasan untuk perbuatanmu yang sudah melukaiku tadi malam" Hell yeah, padahal jelas-jelas pemuda itu yang menjadi pihak paling bersalah dalam konteks ini tapi bisa-bisanya dia mengelak dan malah melakukan pembalasan padanya dengan sangat kejam.

FLASHBACK ON

Sakura semakin bergetar ketakutan saat sosok yang dilihatnya itu semakin mendekat. Dia merasakan saat itu juga jantungnya hampir meloncat keluar.

"Kya-hmbh" Sakura melotot saat sosok itu membungkam mulutnya. Tangan kecilnya memukul-mukul pergelangan kokoh itu sekuat tenaga. Sakura benar-benar ketakutan. Matanya menyapu liar sekeliling ruangan itu, tanpa sengaja dia melihat kebawah kearah alas kaki yang sedang dipakainya. Tangannya meraih sandal itu dan tanpa ragu membenturkannya pada jidat pria itu. Pria itu kesakitan dan melepaskan tangannya dari mulut Sakura membuat gadis itu kembali bias bernafas lega. Bangkit berdiri kemudian tangannya menggapai dinding di sekitarnya, mencari letak saklar. Saat lampu sudah menyala, matanya menatap horror pria yang tadi sempat membungkam mulutnya. Nafasnya tercekat saat melihat wajah yang terlihat menatapnya garang itu.

GLEK

'Matilah kau Sakura..'

"Pinkie sialan.." gumam rendah pemuda yang ternyata Sasuke itu sambil menatap tajam Sakura yang hanya meringis kecil. Menampakkan raut bersalah karena dengan seenak jidat lebarnya sudah memukul dahi mulus Sasuke dan kini menorehkan memar disana.

FLASHBACK OFF

"Tidak..tidak itu bukan salahku. Aku hanya dalam posisi yang terancam saat itu. Huh!" Sakura menggelengkan kepalanya keras. Menolak mentah-mentah perasaan bersalah yang sempat menggelayutinya karena telah memukul pemuda itu.

Dari kejauhan Sakura melihat Hinata dan Ino sedang berjalan kearahnya. Namun sepertinya kedua orang itu tidak melihatnya, melirik sekilas sebuah pohon yang terletak tak jauh darinya, Sakura langsung bersembunyi dibalik pohon itu. Tepat saat Hinata melambaikan tangan padanya.

"Loh..se-sepertinya ta-tadi aku melihat Sakura-chan di-disini tapi kenapa se-sekarang sudah tidak ada" gumam Hinata pada Ino yang mengernyit.

"Kau yakin, Hinata?" Tanya Ino dan hanya dijawab oleh anggukan pelan Hinata. "Hmm..sudahlah nanti pasti dia akan menyusul. Ayo cepat nanti kita bias diomeli nenek-nenek yang kemarin lagi"

Hinata mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu. Saat matanya menangkap warna merah muda dan akan berseru tiba-tiba Ino menarik lengannya setengah memaksa.

"Hahhh..untunglah mereka tidak melihatku," Sakura menghembuskan nafas lega begitu kedua sahabatnya itu berlalu dari sana. Hari ini dia memutuskan untuk bolos satu hari dari 'pekerjaannya'. Bukan tanpa alasan tentu saja, penat dan bosan. Hey..Nona Akasuna kau lupa? Bukan hanya kau yang diberi 'pekerjaan' itu, teman-temanmu pun juga mendapatkannya dan mereka jtetap bersikap professional dan bertanggung jawab. Tidak sepertimu yang malah melarikan diri dan malah berjalan-jalan tanpa arah yang jelas meninggalkan teman-temanmu yang mungkin akan memakanmu hidup-hidup saat kau kembali nanti. Sakura bergidik ngeri membayangkannya, tapi diindahkannya dan tetap berjalan menyusuri bagian-bagian dalam desa itu. Mencari sesuatu yang sekiranya bisa menghilangkan rasa jenuhnya.

.

.

Langkah kaki yang penuh wibawa itu menggema. Beberapa pelayang rumah membungkukkan badan ketika sosok itu melewati mereka. Aroma maskulin nan memabukkan memenuhi penciuman beberapa diantara pelayan wanita itu. di belakang sosok itu seorang gadis mengikuti dengan langkah yang anggun. Senyum ramah terpatri di wajah manisnya, menyapa beberapa pelayan yang membalas senyumnya.

"Ibiki, dimana anak itu?" Tanyanya dengan suara berat khasnya itu pada seorang pria berkepala botak yang tengah mengenakan setelan jas berwarna hitam serta kacamata hitam yang bertengger di hidungnya.

"Ada di halaman belakang, Sasori-sama," jawab pria itu sopan.

Sasori hanya menjawab dengan gumaman tak jelas. Meneruskan langkah kakinya menuju tempat yang disebutkan oleh pelayannya tadi.

"Err..Sasori-sama sa-"

"Kau istirahatlah. Kamarmu ada diatas" Ucap Sasori memotong kalimat gadis di belakangnya yang kini Nampak kecewa atas jawaban pemuda itu. dengan berat hati Matsuri mengikuti seorang maid yang sebelumnya telah Sasori panggil untuk menunjukan kamar yang akan ditempatinya.

Sasori memandang ke depan. Benar saja apa yang dikatakan Ibiki. Dia ada disana. Didekatinya orang itu dengan langkah tenang. Setelah berdiri di depan orang itu yang terlihat sedang meringis menahan nyeri itu, Sasori segera melayangkan tinjunya mengenai wajah pemuda yang memiliki rambut serupa dengannya itu.

BUAGH

"Apa ma-" Gaara melotot saat mendapat serangan tiba-tiba, namun matanya yang semula melotot penuh amarah itu kini terlihat berubah menjadi dingin. Mendecih lalu menatap sinis dari ujung kaki sampai ujung kepala Sasori yang berdiri menjulang di depannya yang masih terduduk di lantai setelah terjungkal dari kursi.

"Cih..apa yang kau lakukan disini" Sasori tak langsung menjawab. Matanya menatap datar Gaara yang menatapnya tajam. Dapat dilihatnya iris jade itu kini dipenuhi oleh api kebencian. Kebencian yang Sasori tahu apa penyebabnya.

"Seharusnya aku yang bertanya begitu. Apa yang kau lakukan selama aku tak ada disini? Melakukan tindakan terbodoh yang bahkan bias membahayakan kalian?" Pertanyaan..ah tidak pernyataan yang terlontar dari Sasori tak direspon oleh Gaara. Pemuda itu bangkit lalu meninggalkan Sasori tanpa mengucapkan apapun.

Rahang Sasori mengeras, namun hanya beberapa saat. Bukannya dia takut atau apa, tapi dia menyadari bahwa disini dalam konteks ini dialah yang sepenuhnya bersalah. Dialah yang tidak becus untuk menjalankan peran sebagai kakak. Kakak tertua.

Mendudukan diri di kursi yang sebelumnya ditempati oleh Gaara beberapa saat yang lalu. Disenderkannya punggung kokohnya pada sandaran kursi itu. memejamkan mata lalu memijit pelipisnya pelan. Dia benar-benar tidak tahu. Belum atau mungkin tidak siap untuk dihadapkan pada situasi seperti ini. Pulang ke Tokyo. Bertemu dengan mereka. Bertemu dengan wajah-wajah yang telah lama tak dilihatnya. Ah..dia baru tersadar. Dia belum melihat satu lagi warna hijau di mansionnya itu. Dia belum melihat hijau yang meneduhkan itu. hijau cerah dan penuh dengan keramahan serta keceriaan, bukan hijau pucat dan dingin yang beberapa saat lalu menjadi sasaran emosinya.

Namun disisi lain dia juga bersyukur. Bersyukur karena belum melihat Sakura. Dia sama sekali belum siap untuk melihat wajah yang amat dirindukannya itu. dia belum siap untuk menghadapi kebencian – mungkin – yang berasal dari gadis itu untuknya.

Sembilan tahun bukan waktu yang sebentar. Bukan waktu yang sebentar untuk terpisah dari dua manusia yang menjadi satu-satunya harta yang masih dimilikinya. Bukan kemauannya untuk terpisah dari mereka. Dia melakukan itu untuk kepentingan bersama. Ya, kepentingan bersama demi masa depan mereka. Ada banyak hal yang dilakukannya selama berada dalam jarak bermil-mil dari duo Akasuna beriris hijau itu. mengurus salah satu perusahaan yang sempat ditinggalkan oleh mendiang ayahnya. Di usia yang masih sangat dini dia sudah disuguhi oleh berkas-berkas yang awalnya dia tak tahu apa kegunaannya. Untuk memahaminya saja butuh dibaca paling sedikit sebelas kali untuk anak tingkat 3 SMA. Tapi tidak untuk Sasori, bersyukur pada Kami-sama telah menganugerahinya otak jenius. Hanya butuh tiga tahun di usia sedini itu untuk dia bisa mengelola perusahaan yang kini menempati peringkat dua di benua Eropa. Benar-benar mencengangkan.

Tapi untuk apa kesuksesan itu jika kini dia malah mendapat siksaan batin yang berasal dari salah satu saudara kandungnya itu. Gaara memang tidak mengatakan secara terus terang membencinya. Tapi naluri Sasori sebagai kakak tentu saja sangat kuat, dia bias merasakan kebencian itu.

"Kami-sama.."

.

.

"Hey Gaara..berhentilah. ini sudah botol ketiga, dan lihatlah kau sudah mabuk bodoh!" Bentak Kankurou yang duduk di samping Gaara. Pemuda itu menundukkan kepalanya diatas meja bar.

"Heghh..ber..henti menasehatiku..aku..satu..lagi..Hoyy..berikan..satu lagi padaku!" Pinta Gaara pada bartender berambut coklat yang berdiri di depannya dengan memasang wajah bingung. Bartender itu berada dalam dilemma. Disisi lain dia merasa harus berhenti untuk menyuguhi sebotol vodka pada Gaara, namun di sisi lain dia juga merasa ketakutan pada pemuda itu jika tidak menurutinya mengingat beberapa menit yang lalu pemuda itu hampir saja mencekiknya jika saja Kankurou tidak datang lalu menghentikan aksi gila Gaara.

"Tapi..anda sudah mabuk, Tuan"

"Kau tuli, hah! Berikan padaku satu lagi!" Bukan hanya Kankurou, bartender itu serta beberapa penghuni bar disana terlonjak kaget mendengar teriakan Gaara.

''B-baiklah"

Kankurou hanya memandang nanar Gaara. Meremas rambut coklatnya frustasi, Gaara benar-benar keras kepala. Khas Akasuna. Dia melirik handphone yang terletak di dalam saku kemeja Gaara. Dengan gerakan kilat disambarnya benda itu lalu menekan beberapa tombol yang dihapalnya diluar kepala.

Kankurou melonjak senang begitu teleponnya diangkat. Suara feminism menyapa pendengarannya.

"Ada apa Kankurou?" Kankurou merutuki dalam hati atas ketidaksopanan gadis itu karena memanggilnya tanpa embel-embel 'Nii' namun ini bukan waktunya untuk itu.

"Sakura, kau harus pulang sekarang. Gaara mabuk. Keadaannya sangat buruk"

"Apa? Gaara-nii mabuk?!" Kankurou menjauhkan benda itu dari telinganya.

"Tak perlu berteriak begitu. Cepatlah pulang sekarang. Oh tidak..sebaiknya kau langsung ke Hana's bar saja. Kami disini"

"Baiklah..aku kesana"

"Ya..hati-hati" Kankurou mendesah lega. Namun kelegaannya hilang saat mendengar suara cegukan Gaara.

"Arrgghhhh…kenapa kau merepotkan sekali sih, Gaara"

.

TBC

Chap selanjutnya akan ada SasoSakuGaa ^^

Review please?