STAR LIGHT
Chapter 3: Forgiveness
Genre: Angst, Hurt/comfort
Rate: T
Pairing: D18, 8018, G27, 8059, 2G (G x Giotto)
Disclaimer: nangis darah pun ga bakalan jadi milikku,KHR serta charactersnya selamanya tetap Amano Akira-sensei ( ;3;)
WARNING! Typo mungkin bertebaran :v, fic gaje, author newbie, harap maklum ( ;A;) rada OOC mungkin ._.)
Enjoy!
.
.
When your heart was betrayed by someone who means the world for you
"Giotto!" Giotto menoleh pada sosok pemuda berambut caramel yang memanggilnya dengan riang dan tersenyum lembut kepadanya.
"Kau seharusnya tidak perlu menjemputku, Tsunayoshi." Seraya mengelus lembut rambut Tsuna, Giotto menatap wajah kekasihnya tersebut. Manis, lugu, cerah. Tidak pernah berubah sekalipun.
"Aku tak sabar menunggumu" ucap Tsuna tersipu malu. Aww, wajahnya sekarang makin imut dihias blushing dari uke moe itu.
Tertawa kecil mendengar ucapan Tsuna, Giotto merendahkan kepalanya dan mengecup bibir Tsunayoshi kemudian berjalan kearah mobil yang sudah menunggu mereka.
"Giotto!" Tsuna meneriakkan nama Giotto dengan nada yang (menurut Giotto) sangat imut.
…
Dino menghela nafas berat. Ia tak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya walau ia telah pulang ke Itali. Bahkan faktanya tumpukan kertas yang menggunung itu tidak tersentuh sekalipun.
Pikirannya tak bisa fokus. Satu-satunya hal yang ada dipikirannya hanya seseorang, Hibari Kyouya seorang. Terlintas lagi pemandangan ketika Mukuro Rokudo memeluk Kyouya didepannya, dengan santainya… ah, tidak. Bukan itu yang mengganggunya. Apa yang mengganggunya adalah apa yang ia lihat sebelumnya—ketika Yamamoto Takeshi mengecup Kyouya.
Ya. Kejadian itu, ia melihat semua dengan mata kepala sendiri. Ingin rasanya menerobos masuk dan mengatakan Kyouya miliknya, tapi…
Dia tidak berhak untuk hal itu lagi.
Dia bukan siapa-siapa lagi.
Dino menyandarkan tubuhnya disandaran kursi kerjanya yang empuk, menyamankan diri dan memejamkan matanya, membiarkan dirinya terbuai di alam mimpi.
"Giotto! Lari!" suaranya parau, meneriakkan namamu. Kakimu sudah tak sanggup lari lagi, tetapi satu hal yang kau ketahui, kau tak ingin dia meninggalkanmu. Tidak—kau sudahkehilangan banyak orang.
Suara besi beradu, suara tangisan memecah langit, jeritan memilukan—semuanya. Kau dapat mendengar itu semua dengan jelas. Bau darah segar, nafas tersengal memohon oksigen, mayat dimana-mana.
"Giotto!" lagi, kau mendengar suaranya memanggilmu, memastikanmu tetap aman. Kau menoleh, dan mendapati dirinya yang sedang menembaki pria-pria berbaju hitam yang mengejar kalian. Kakimu sakit, tetapi kau harus terus hidup. Pemandangan yang kau lihat sepanjang jalan membuatmu harus menahan muntah.
Suara tembakan bersahutan, bau mesiu bercampur bau karat. Ledakan dimana-mana, menyisakan puing-puing bangunan.
Sekali lagi kau menoleh, mengharapkan orang itu tetap ada, memastikannya tetap hidup dan mengikutimu.
Dan memang, ia tetap mengikutimu, tetap melindungimu, tetap ada…
Dia tersenyum padamu, dan hal itu membuatmu merasa tenang.
Jalan buntu didepan kalian. Dan Dia melihatmu cemas.
Tangannya terulur merengkuh wajahmu dan berbisik,
"Tenanglah, aku disini…" Dan kau tahu hal itu.
"Giotto…" Ia menatapmu dengan serius, dan kau menatapnya penuh cemas. Senyumnya kembali merekah dan iapun melanjutkan, "…Pergilah sekarang Giotto."
Kau mengerang pelan. Kau tahu bahwa tak mungkin kau bisa meninggalkannya seorang diri. Bagaimanapun,
Yang diincar adalah dirimu, bukan dirinya.
Dan kau tak pernah mengerti mengapa ia bersedia mengorbankan nyawanya hanya demimu.
"Tapi—" ia sadar bahwa akan ada interupsi darimu. Karena itu ia tidak membiarkanmu menyelesaikan kalimatmu.
Ia mengecupmu singkat. Lembut dan sekilas. Kemudian ia mengelus surai pirangmu.
"Aku akan pulang nanti malam…" Dan kau hanya bisa melihatnya berbalik menghadang orang-orang berpakaian hitam tersebut.
Dan suara tembakan adalah hal terakhir yang kau lihat.
Giotto tersentak. Hari masih gelap dan ia melirik jam dinding. Pukul 03.00 pagi.
Ia mengucek matanya pelan sebelum menyadari bekas airmata yang mengalir di pipinya.
"Mimpi itu…"
"Giotto-kun?" Giotto menoleh dan mendapati sosok kekasihnya yang menatapnya dengan cemas. "Kau tidak apa-apa?"
"Tidak." Mendesah pendek, "Aku tidak apa-apa Tsunayoshi-kun. Maaf membangunkanmu"
Tsuna menggeleng pelan sebelum menyunggingkan senyum angelic-nya, berharap hal itu membuat Giotto tenang. "Kau benar-benar tak apa? Kau menangis…"
"Aku baik-baik saja..." katanya membalas senyuman Tsuna. "Hanya mengalami mimpi buruk…"
Dino menggeliat pelan. Ia bisa merasakan sakit di punggung serta lehernya. Well, ia membuat catatan di dalam otaknya untuk tidak pernah tidur di kursi kerja lagi.
Masih pukul 04.00 pagi. Tapi bagi Dino itu sudah siang. Salahkan dirinya yang tertidur saat seharusnya ia mengerjakan lembar tugasnya.
Lembar tugas yang menggunung. Musuh semua CEO perusahaan. Dan ia yakin lembaran ini tak akan pernah ada habisnya. Selesai 500 masuk 1000. Ia salut melihat Tsuna yang lebih muda darinya dapat menyelesaikan semua tugasnya walaupun Vongola merupakan perusahaan multi yang paling terkemuka di dunia.
Ah, oke lah.. walau dibilang CEO pun, sebenarnya itu hanya kedok. Mereka pengendali dunia bisnis permukaan sekaligus bisnis gelap. Mafia. Dan itu artinya tugas CEO bertambah 2x lipat.
Ia menghela nafas pendek. Mungkin ia harus menyerahkan penghargaan kepada Romario yang begitu sabar menghadapinya. Dan mungkin ia juga harus mulai meniru sikap Kyouya yang disiplin dan bertanggung jawab.
… Ah. Kyouya lagi. Ia sebenarnya lelah memikirkan diri Kyouya. Tapi apa mau dikata, ia tak bisa melupakan seorang Hibari Kyouya, bahkan walau hanya sedetik pun.
'Ah tidak! Lupakan dia Dino! Kau harus mulai mengerjakan tugasmu sekarang…' sugestinya pada diri sendiri.
Tetapi memberi sugesti pada diri sendiri itu adalah ide yang buruk. Semakin keras ia berfikir untuk melupakannya, semakin ia tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaan.
Dan hasilnya? Pikirannya malah dipenuhi oleh Kyouya dan ia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi.
Ia bahkan lupa caranya berkonsentrasi pada pekerjaan.
Tidak, ia tidak lupa. Hanya saja alasan itu menghilang, alasannya untuk berkonsentrasi.
Yup, dia bisa berkonsentrasi selama ini hanya karena satu hal.
Pikirannya untuk menemui Kyouya secepat mungkin.
Tetapi sekarang berbeda. Ia tidak bisa lagi menemui Kyouya, ia tidak bisa lagi mendapatkan ciuman mesra dari tonfa Kyouya.
"Hahaha…" Dino menertawai dirinya sendiri. Dirinya yang begitu kosong, dirinya yang begitu tak bersemangat.
Dirinya yang begitu menyedihkan sekarang.
BRAK! Ia menggebrak mejanya, membiarkan tumpukan kertas yang tersusun rapi awalnya menjadi berserakan di ruang kerjanya. Persetan dengan kertas-kertas tersebut. Tidak ada yang bisa menghentikan seorang Dino Cavallone bergalau ria.
KNOCK! KNOCK! Suara pintu diketuk. Dino mengerang pelan. Oh, siapa yang berani mengganggu Don Cavallone yang sedang galau itu? sepagi ini?
KNOCK! KNOCK! Kedua kaliya pintu diketuk. Mau tak mau Dino mempersilahkan siapapun yang ada dibalik pintu tersebut masuk tanpa menunjukkan sikap sopan sekalipun. Ia bisa berbuat apapun yang ia mau bila ia menginginkannya.
"Ck. Kasihan Romario." Suara familiar yang rerdengar membuat Dino mendongak dan menemukan Alfonso Cavallone yang sedang mengutipi kertas-kertas di lantai.
"Fratello?" Dino membulatkan matanya. Oh Tuhan, ia hanya bisa berharap kakaknya itu tidak berbuat macam-macam ketika ia sedang galau begini.
"Kau tahu, Dino? Kau boleh saja bergalau tapi setelah menyelesaikan pekerjaanmu. Bukannya pekerjaanmu sudah dibantu oleh Romario?" Ujar Alfonso (sok) bijak.
"Geez. Persetan dengan kertas-kertas itu. tak pernah ada habisnya." Sungut Dino kesal. 'Ini orang baru datang juga udah sok ngasih ceramah,' Batin Dino.
"Ayolah. Kapan kau jadi begini? Diputusi oleh cowo karnivor itu? gak heran sih." Sebuah perempatan muncul di dahi Dino. 'sabar Dino, sabar..' ujarnya pada diri sendiri.
"Cowo karnivor itu apa bagusnya sih." Satu lagi perempatan muncul. 'Dia kakakmu Dino, tahan. Tahan..' masih sabar mensugesti diri sendiri.
"Cowo gituan banyak di dunia ini…" kali ini bukan hanya satu tetapi 2 perempatan bertambah.
"Alfonso.." akhirnya Dino membuka mulutnya. Berbagai kata-kata nista telah siap untuk dilontarkan. Hanya tinggal menunggu waktu saja.
"Hm?" Alfonso hanya menatap Dino dengan wajah tanpa dosa. Seandainya saja ia bukan kakak Dino, mungkin Dino sudah membunuhnya beberapa detik yang lalu.
"Silahkan menjelek-jelekkan aku yang ceroboh dan tak berguna tapi ganteng ini, dan tolong jangan katakan apapun tentang Kyouya."
Alfonso menaikkan sebelah alisnya mendapati reaksi tersebut dari adiknya. "Kau masih cinta padanya?"
"Tidak—" Dino menarik nafas sejenak, "—Hanya saja aku tak ingin teringat dirinya lagi." Well. Semuanya bohong. Ia tidak akan pernah bisa melupakan Kyouya.
"Lalu kenapa ragu menikahi Fay?" kata-kata Alfonso sukses membuat kesabaran Dino runtuh.
"Al—" sebuah map mendarat di wajah Dino. Dan siapa lagi pelakunya kalau bukan Alfonso. Dan map itu juga sukses menginterupsi semua kata-kata nista yang sudah siap dilontarkan Dino.
"Kau menyedihkan. Kau bahkan tak berhak menjadi suami Fay bila kau bersikap lemah begini. Bahkan kujamin si karnivor itu tak sudi melihatmu seperti ini."
Tsuna mendesah pelan. Tangan mungilnya masih sibuk memeriksa dan memparaf semua lembaran kertas di mejanya. Well, walaupun lembaran itu tak pernah ada habisnya, tetap saja Tsuna tak mau Reborn memakinya lagi.
Ia harus berterimakasih kepada Reborn. Karena Reborn lah ia bisa mengerjakan tugas yang seharusnya mustahil untuknya. Well, dan berkat ketakutannya pada Reborn, ia bisa mengerjakan tugasnya dengan baik walaupun pikirannya kacau.
Ia mencemaskan Giotto…
"Giotto, kenapa kau berbohong padaku?" gumamnya lirih.
Alfonso berjalan menyusuri lorong sempit itu, matanya menjelajahi lorong tersebut. Berusaha menemukan sosok pria berambut merah.
Tapi alih-alih menemukan sosok pria tersebut, yang ia lihat adalah sosok pria berambut perak berpakaian Interpol yang sedang bermain dengan borgol ditangannya.
"Alaude?!" Alfonso terlihat kaget. Begitu juga Alaude.
"… " satu hal dalam pikiran Alaude, ia pasti akan menghajar orang yang menugaskannya kesini.
Suasana rumah sakit Namimori terbilang lumayan sepi. Dan Giotto sendiri tidak menyangka bahwa fasilitas rumah sakit ini tidak jauh berbeda dengan rumah sakit tempatnya di Itali. Siapa yang menyangka bahwa rumah sakit di kota kecil ini memiliki berbagai peralatan canggih?
Giotto melangkahkan kakinya menjelajahi rumah sakit yang tidak terduga ini. Paling tidak ia harus bisa mengenali rumah sakit ini sebelum mengenali pasien-pasiennya. Bodoh rasanya bila ia dipanggil saat darurat dan ia tersesat di rumah sakit yang terbilang lumayan besar.
Matanya menangkap sosok pria berpakaian dokter dengan hitam berantakan yang sedang berbincang dengan dokter lainnya. Ragu tetapi penasaran, ia pun mendatangi pria tersebut.
"Shamal?" Giotto memastikan.
Pria itu menoleh. Ah, dia memang Shamal. "Yow Giotto." Sapa Shamal. Giotto menyadari dokter lainnya,
"Verde?" dan Verde hanya menatapnya kemudian berlalu.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Giotto penasaran.
"E-eh, itu…" Shamal menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Oke, Giotto pun menganggap bahwa hal itu rahasia yang tidak bisa diketahuinya sekarang. Bagaimanapun ia bisa dibilang dokter baru disini.
"Ah. Aku mengerti." Dan Shamal menarik nafas lega mendengarnya.
Kyouya berdecak kesal. Ia berniat menghabiskan waktunya untuk focus bekerja, tapi batuk disertai darah membuatnya tak bisa berkonsentrasi. Alhasil disinilah dia, di depan wastafel, kembali mencuci jejak darah di tangannya.
"Kuso.." Kyouya meraih pisau yang ada di dekatnya dan mengarahkannya ke nadi pergelangan tangannya.
Dan ia pasti akan memotongnya tanpa ragu
Bila tidak ada tangan yang menghentikannya.
"Kyouya…"
Yosh! Akhirnya selesai! Ini chapter emang dibuat gantung banget. Salahkan author ini yang emang mau buat gantung.
Kuroko: ==" dasar author gaje. Bilang aja gak ada ide buat lanjutin.
Alicia: lho elu kok ada disini... … Gue lagi banyak ide! Banget~
Kuroko: halah. Tapi gatau gimana nuanginnya. Sama aja.
Alicia: *mojok*
Kuroko: Lagipula kenapa ini chap yang harusnya jadi spoiler untuk chap selanjutnya dan komplikasi pair lainnya malah paling pendek?
Alicia: =_= tapi buatnya paling lama lho.. yang lain cuma 1 minggu ini sampe 1 bulan..
Kuroko: deritamu
O-oke, mari kita skip convo kakak adik gaje tersebut dan balas reviewnya. (Makasih banget yg udh mau review XD)
LalaNur Aprilia Ahaha. ini kan enggak Family lagi :DD udh diganti~ semoga suka ya.. maaf lama apdet.
DarkLidyaNuvuola Del CieloKufufu~ salah. Goku itu kekasihnya Yama .. jadi Yama seperti two-timing gitu XD
Ahaha, tenang aja.. pair 6918 cuma selingan aja kok. rencananya buat All18 tapi ujung" nya ke D18 juga kok ..
.
.
Akhir kata,
sumbangkan review kalian di kotak review bila berkenan QwQ
Arigatou
