Just Be Friends – bagian ke 3

Disclaimer by: Masashi Kishimoto

inspired story : from one of scene scent of the woman.

this fic by: Kanon1010


"Dokter," panggil Naruko dikala matanya masih menatap lurus ke arah taman.

"Hn?"

"Apa dokter bisa menari tango?"

"…"

"…"

Butuh waktu dua detik bagi Sasuke untuk mencerna perkataan Naruko.

"Tidak." balas Sasuke singkat, meskipun di dalam hati ia bertanya-tanya apa maksud dengan pertanyaan mendadak yang ditujukan Naruko untuknya.

Naruko akhirnya menoleh ke arah Sasuke dan menyunggingkan senyum tipis. "Begitu ya, ku kira dokter bisa."

"Memangnya ada ap –" ucapan Sasuke terputus sejenak karena terdengar suara yang lebih besar menginterupsi suaranya. "Naruko!" ternyata itu adalah suara Neji yang sedang berjalan ke arah mereka dengan sebuah minuman digenggamannya.

"Tidak ada apa-apa dok, saya permisi dulu maaf mengganggu anda." Naruko mendorong kursi rodanya dan menuju ke arah Neji, dimana ditempatnya Neji telah sigap menggantikan Naruko mendorong kursi rodanya dan membawanya kembali ke kamar.

Bagaimana dengan Sasuke? tentu saja dibalik wajah datarnya satu kata terngiang-ngiang sejak tadi yaitu kata 'Tango'.

…..…

Pukul 21.00 waktu Konoha, Naruko terbangun dari tidurnya. Ia merasa sedikit nyeri dibagian perutnya dan kepala yang pusing. Ia mencoba memencet tombol pemanggil perawat namun sia-sia saja, tenaga yang ia miliki tak cukup kuat untuk menjangkau alat tersebut. Beruntunglah Sakura yang baru saja masuk kedalam kamar dan melihat Naruko dalam keadaan sekarat langsung membantu gadis itu dan memanggil Sasuke.

Pukul 21.30, Naruko sudah kembali tenang setelah mendapatkan perawatan dari Sasuke dan juga diberikan obat.

"Sasuke," panggilan Sakura hanya dibalas gumaman tak jelas dari Sasuke. "Bolehkah aku minta sedikit bantuan darimu?."

Sasuke memasukan tangannya dalam kantung jas putihnya. "Bantuan?"

"Bisakah kau menemaniku hari minggu nanti datang ke Konoha square?" Sasuke yang hanya menaikan sebelah alisnya mengisyaratkan agar Sakura meneruskan perkataannya. "Temani aku datang kesebuah acara disana, karena pacarku mendadak tak bisa menemaniku kesana. Kau mau kan?"

"Hn."

"Apa itu artinya kau mau?" Sakura nampak bahagia mendapat jawaban Sasuke.

"Baiklah, jam berapa?"

"Jam 3 sore kita berangkat dari rumah sakit saja ya."

"Hn."

"Makasih banyak Sasuke, sekarang kau istirahatlah biar Naruko aku yang jaga. Malam ini dokter jaga Suigetsu dan Juugo kan?"

"Hn, selamat malam." kemudian Sasuke beranjak pergi meninggalkan kamar rawat tersebut. Tak lupa sebelum ia keluar, ia sempat memperhatikan wajah Naruko yang damai di dalam mimpinya. Sasuke sempat terdiam memandang wajah itu, wajah Naruko yang ia tau adalah wajah penuh senyum, tawa kadang pula disertai rajukan seperti anak kecil. Tapi jika sedang dalam pose seperti ini, ia merasa wajah gadis itu nampak seperti gadis lugu dan dewasa.

"Naruko! lihat, lihat aku punya kejutan." Sakura mengguncangkan tubuh Naruko yang sedang duduk di atas ranjang sambil bercermin memastikan makeupnya sudah sempurna.

"Aduh, nee-chan ada apa sih? nanti make up ku hancur nih."

"Ih anak ini, lebih milih atau… Tadaaa!" Sakura mengeluarkan secarik kertas dan menunjukkannya di hadapan Naruko.

"Kyaaaaa! make up tiket konser Yuuya Matsushita! aku menang ya nee-chan?" Naruko merebut tiket konser tersebut dari tangan Sakura dan loncat-loncatan kegirangan.

"Ets! bukan kamu yang menang tapi aku donk, yang buat cerita 'kan aku." ujar Sakura dengan sombongnya. Perlahan Naruko menghampiri Sakura dengan cengiran lebarnya lalu memeluk sosok wanita yang lebih tua darinya tersebut.

"Iya… iya… Saku-nee yang paling cuantik, dan keren makasih ya udah menangin tiket konser ini buatku." kemudian Naruko mengecup pipi Sakura dengan penuh semangat membuat Sakura tertawa.

Sakura melepaskan pelukan Naruko dan mengajaknya duduk kembali. "Tiket konser itu ada dua, yang satu lagi siapa yang akan kau ajak?"

"Hmmm siapa ya?" sejenak Naruko berpikir lalu ia menjentikan jarinya. "Aha, aku tau! nee-chan tunggu sini ya semoga dia mau."

Dengan cepat Naruko memakai sendal khusus pasien rumah sakit dan berlari ke arah seseorang yang ingin diajaknya. Dari jauh hanya terdengar teriakan Sakura dan beberapa suster lainnya yang mengatakan 'Hati-hati' namun tak digubris oleh gadis tersebut.

tok…tok…tok…

"Hn, masuk." balas sosok tersebut dari dalam ruangannya.

"Permisi, dokter Uchiha boleh masuk?" Naruko memasukan setengah tubuhnya mengintip apa yang sedang dilakukan orang tersebut di dalam.

"Hn, ada apa?" tanya Sasuke to the point. "Ada keluhan?"

Naruko menggelengkan kepalanya lalu mengeluarkan tiket yang baru saja ia terima dari Sakura. "Lihat dok, aku memenangkan tiket konser Yuuya Matsushita."

"Terus?" balas Sasuke tak se-excited Naruko.

"Ih si dokter ini, tentu saja aku mengajakmu untuk nonton bersama, apa dokter mau menemaniku? ya anggap saja sebagai permintaan maafku lagi, aku merasa dokter belum sepenuhnya memaafkan perbuatanku mengenai kartun itu." Naruko memainkan ujung bajunya, pertanda gugup.

"Kapan?"

"Hari Minggu di Konoha Concert Hall jam 3 sore, apa dokter bisa?"

Seketika Sasuke ingat akan janjinya menemani Sakura hari minggu nanti. Disatu sisi ada kesempatan berjalan berdua bersama Sakura di sisi lain yang tak ia mengerti, ia tak mau menghancurkan harapan gadis dihadapannya tersebut.

"Maaf, saya ada acara hari tersebut."

Seketika senyuman yang mengembang di wajah Naruko hilang dalam sekejap, ia tersenyum maklum meskipun ia sedih karena kesempatan bisa lebih dekat dengan dokter judes itu lenyap.

"Begitu ya, kalau begitu saya permisi dokter dan maaf mengganggu waktu anda." Naruko berpamitan tanpa melihat wajah Sasuke, ia tak ingin Sasuke melihat wajah kecewannya. Sasukepun bukan orang bodoh yang tak bisa melihat pancaran kecewa Naruko.

Tak lama kemudian setelah pintu ruangannya ditutup sosok Naruko muncul lagi dibalik pintu. "Maaf dok lupa nanya, apa aku boleh keluar untuk nonton konser tersebut?" Naruko menggarukkan belakang kepalanya yang tak gatal. "Aku hanya takut nanti dikira kabur dari rumah sakit karena tidak mendapatkan ijin darimu."

"Hn, boleh."

"Terima kasih dok." Narukopun menyunggingkan senyumnya untuk Sasuke dan segera pergi meninggalkan ruangan tersebut.

Di tengah jalan menuju kamarnya Naruko bertemu Neji yang lagi-lagi datang untuk menjenguknya. Melihat tiket konser di tangan Naruko, Neji menawarkan diri menemaninnya nonton konser tersebut.

"Jam setengah dua aku jemput dari rumah sakit ya, jadi kita tidak terlambat sampai disana." ujar Neji sambil mengetikkan pengingat di ponselnya.

"Siap! makasih ya udah mau nemenin Naru."

"Anything for you."

Sebaris kalimat yang membuat Naruto merona. Ia menyukai Neji, tapi bukan suka seperti perasaannya pada Sasuke. Dari jauh Sosok Sasuke yang tak sengaja lewat dekat kamar Naruko setelah mengambil laporan dari laboratorium mengenai kondisi pasiennya, sedikit mengepalkan tangannya ketika melihat Neji yang sedang mengusap kepala Naruko dan wajah merona Naruko yang makin membuat mood Sasuke mendadak buruk.

"Dokter, ini laporan mengenai nona Namikaze tertinggal." seorang suster dari bagian lab menghampiri Sasuke dan memebrikan laporan yang tertinggal tersebut.

"Hn." Sasukepun melanjutkan perjalanannya kembali ke ruangannya. Ia sendiri tak mengerti dengan rasa kesal yang membuat badmood seketika itu dikarenakan apa, mungkin ia harus mengunjungi temannya Kabuto yang memiliki profesi sebagai psikiater.

Poor Sasuke, ia merasa ia sudah gila akibat perasaan yang belum disadarinya itu…

...


Hari minggu, pukul 15.00 waktu Konoha.

Satu kata untuk kondisi Konoha Concert Hall saat ini, yaitu PENUH. Ternyata banyak sekali yang datang untuk menonton konser dari penyanyi berwajah tampan tersebut. Tangan Neji tak pernah lepas menggenggam tangan Naruko untuk jaga-jaga saja biar Naruko tak hilang di kerumunan orang-orang itu.

Naruko dan Neji mendapatkan posisi di bangku VVIP, karena tiket yang dimenangkannya memang khusus tiket VVIP.

"Naru, kau belum cerita bagaimana caranya Sakura itu memenangkan tiket ini? memangnya cerita seperti apa yang dibuatnya?" Neji berbisik di telinga Naruko, mengingat lampu mulai sedikit meredup menandakan bahawa acara segera dimulai.

"Aku juga kurang tau, kata Saku-nee sih cuma ceritanya di masa lalu. Dia belum sempat cerita." balas Naruko sambil menaikan kedua bahunya. "Lihat, sudah dimulai." Naruko menyalakan light sticknya bersiap menyambut kedatangan sang idola.

Lampu sorot berwarna-warni bersinar di panggung, mengiringi backsound yang sedang diputar untuk menyambut kedatangan sang bintang idola. Tiba-tiba semua lampu padam dan terdengar dentingan piano mengalun dari sudut panggung sebelah kiri.

Kimi no heya…. saigo ni deru yoru ni…~

Lagu lonely Rain, membuka penampilan Yuuya Matsushita. Lagu yang sangat pas dengan suasana diluar yang sedang tersirami air hujan. Naruko yang melihat fansnya bernyanyi mulai menjeritkan namanya dan bertepuk tangan Neji yang melihat kelakuan Naruko hanya bisa tersenyum simpul dan ikut-ikutan menggerakan light sticknya ke kanan dan ke kiri mengikuti gerakan yang lain.

Konser tersebut berlangsung sekitar tiga jam, dan sudah saatnya melakukan penutupan. Sang artis mengelap peluh keringatnya kemudian mengambil micnya maju menuju ke depan panggung.

"Hari ini, saya berterima kasih sangat kepada kalian semua yang sudah bersedia datang dan menonton pertunjukan yang kusuguhkan. Apa kalian puas?" teriak Yuuya sambil menyodorkan mic ke arah penonton dan semuanya membalas dengan teriakan 'puas' membuat sang artis tersenyum.

"Saya senang jika kalian semua puas dan terhibur. Sebelum saya menutup konser ini ada seseorang yang saya harap dia mau naik ke atas panggung." Yuuya membuk secarik kertas yang diberikan salah seorang staff. "Uzumaki Naruko, ada disini?" ujar Yuuya setelah membaca tulisan di kertas tersebut.

Naruko yang merasa namanya dipangggil menoleh ke Neji dengan wajah bingung. Perlahan-lahan ia berdiri dari tempat duduknya dan naik keatas panggung. Kedatangan Naruko disambut dengan tepuk tangan dari penonton dan Yuuya.

Yuuya menyambut kedatangan Naruko yang sudah disampingnya dengan sebuah pelukan yang langsung mendapatkan sorakan iri dari penonton lain.

"Nona Naruko ini adalah pemenang tiket lomba yang diadakan. Syaratnya hanya dengan membuat sebuah karangan mengenai true love, sesuai dengan tema konser ini. Apa kau senang?" Yuuya bertanya kepada Naruko.

"Senang sekali, pake banget pake sangat." dengan cueknya Naruko memeluk tubuh Yuuya dan berkata, "Yang lain jangan iri ya, hihihi." Kelakuan Naruko tersebut mau tak mau membuat beberapa penonton, Yuuya seta Neji tertawa.

"Dari ratusan bahkan ribuan cerita yang masuk, kenapa saya memilih cerita Naruko adalah ceritanya yang sangat menggambarkan true love, Meskipun cerita ini tak berakhir happy ending."

Yuuya mengajak Naruko duduk disebuah kursi yang sudah disediakan staff di atas panggung. "Jadi ceritanya kusingkat saja ya, tentang seorang gadis yang memiliki penyakit mematikan. Sang kekasih tetapi setia menunggunya dan merawatnya, meskipun keluarga sang kekasih menentang hubungan mereka karena perbedaan umur dan status. Namun Kekuatan cinta memang besar, sang gadis yang hanya memiliki waktu 2 bulan lagi berusaha memberikan hari-hari terakhirnya dengan melakukan apa yang ingin ia lakukan, hingga…"

Microphone diberikan kepada Naruko, dengan maksud Naruko yang melanjutkan cerita tersebut. "Hingga waktu gadis itu habis, dikala ajal sedang mencabut nyawanya keluarga sang kekasih akhirnya memberikan restu dan ia pergi selama-lamanya dalam pelukan kekasihnya. Namun, ada satu hal yang belum sempat dilakukan gadis tersebut yaitu menikah. Di hari pemakamannya sang kekasih menikahi sang gadis yang telah tak bernyawa tersebut."

Penonton terdiam mendengarkan cerita tersebut bahkan ada yang menitikan air mata. "Begitulah akhirnya, meskipun jiwa raga sudah tak ada yang namanya cinta akan terus kekal…" ucapan terakhir Naruko disambut tepukan tangan yang sangat meriah.

Yuuya merangkul tubuh Naruko. "Darimana inspirasi cerita tersebut kau dapatkan?"

"Ini kisah nyata yang dialami oleh seseorang, dan akupun sangat berterima kasih pada orang tersebut yang telah mengijinkanku untuk menuliskannya."

Tepuk tangan kembali terdengar. Kemudian Yuuya memberikan kenang-kenangan pada Naruko dan juga foto bersama. Buat Naruko hari ini sangat menyenangkan.

…...

Jam tangan Naruko menunjukan pukul 22.00, Neji sedikit merasakan keanehan pada Naruko selama perjalanan pulang. Naruko nampak diam dan tertidur, ketika sampai Neji mencoba membangunkan Naruko.

"Ne-neji…. sas-sakit…" lirih Naruko yang mencoba membuka matanya yang terasa berat sambil memegang perutnya yang terasa melilit.

"Astaga, Naruko!" dengan sigap Neji langsung membuka pintu dan memanggil beberapa suster sambil membawakan ranjang dorong. Namun sialnya ketika Naruko baru saja diletakan diatas ranjang, dari belakang nampak Sasuke dengan wajah paniknya juga sedang meletakan tubuh Sakura yang melemah di atas ranjang. Naruko sempat melihat sedikit dan semakin menambah rasa sakitnya, matanya terasa sangat berat dan kegelapan mengambil alih kesadarannya.

….

Ruangan ICU nampak begitu ramai akibat datangnya kedua pasien dengan penyakit mematikan tersebut. Saat ini Sakura telah dinyatakan dalam kondisi stabil dan sudah dipindahkan ke dalam kamarnya. Tapi bagaimana dengan Naruko? gadis itu kondisinya sangat kritis, mungkin akibat ia terlalu lelah.

Sasuke bolak-balik memeriksa keadaan Naruko, serta menyuntikkan beberapa obat. Sekitar 30 menit ia telah dinyatakan stabil dan dapat kembali ke kamar. Neji bersikeras menunggu Naruko hingga ia sadar kembali, saat ini ia sedang berada di cafetaria sekedar membeli kopi untuk membuatnya terjaga. Beberapa kali, Neji menawarkan pada Naruko agar ia pindah ke kamar rawat yang lebih privat, namun ditolak gadis itu dengan alasan ia tak mau tidur sendirian.

Di dalam kamar rawat Sasuke melihat dua tubuh dalam kondisi tak bisa dikatakan baik, terbaring dengan infus yang terpasang di masing-masing lengannya. Dua sosok berbeda, satu berambut merah muda, dan satu lagi kuning. Ia akui, ia masih sangat menrauh perhatian pada Sakura teman sekolahnya dulu yang sempat ia sukai, meskipun ia tak pernah berani menyatakan perasaannya karena selalu di dahului oleh orang lain.

"Hah…" Sasuke menghela napas dan memijat keningnya yang terasa berat. Beralih matanya dari Sakura ke Naruko. Gadis ceria yang jarang menampakan wajah kesakitannya itu membuat Sasuke seakan kehabisan tenaga setiap kali menghadapi tingkahnya. Kadang gadis itu kabur saat pemeriksaan rutin hanya untuk bertemu suster Karin dan memintanya diajari berdandan, hanya dia pasien kurang ajar yang berani memanggil Sasuke dengan julukan 'dokter teme', dan juga Sasuke tidak sebodoh dan sepolos itu. Ia tau kalau gadis itu menyukainya, namun gengsi dan juga harga diri tinggi membuat Sasuke mengindahkan sikap suka dari Naruko karena ia masih merasa terbayang-bayangi oleh sosok Sakura.

"Sas-sasuke…" sebuah lirihan atau igauan terdengar dari bibir Naruko. Sasuke yang baru saja hendak keluar menoleh kearah Naruko yang masih terpejam dan juga Sasuke melihat setetes air mata mengalir dari matanya.

'Apa aku berbuat sesuatu yang menyakitinya?'

….

Hari telah berganti, Narukopun telah sadar setelah Sakura yang sadar terlebih dahulu. Disampingnya telah duduk Neji dan disebelah Sakura ada seorang pemuda yang berwajah tampan dan nampak sangat baby face apalagi ditambah dengan rambut merahnya yang semakin membuat kharisma pemuda atau pria tampan dan imut tersebut.

"Ah Naru-chan kenalkan dia Sasori, kekasihku."

Pria bernama Sasori tersebut mengulurkan tangan sekedar mengenalkan diri dan dibalas oleh Naruko. "Uzumaki Naruko, tapi Sasori-nii boleh memanggilku dengan Naru saja. Eh tapi, bolehkan aku memanggilmu nii-san? karena Saku-nee sudah kuanggap seperti kakakku." Naruko menatap Sasori sedikit takut, soalnya tatapan pemuda tersebut sejak tadi hanya datar dan tak terlalu banyak bicara, mengingatkannya pada Sasuke.

Tapi tak disangka-sangka, Sasori tersenyum lembut dan mengacak-ngacak rambut Naruko. "Anggap saja aku juga kakakmu Naru, Sakura sering sekali bercerita mengenaimu dan terima kasih sudah mau menemaninnya selama disini."

Naruko tersipu malu melihat senyuman Sasori, ia merasa orang yang dianggapnya keluarga bertambah satu. "Malah, aku yang harus berterima kasih karena ada Saku-nee aku tak kesepian lagi selama satu setengah tahun ini."

"Ets! tapi Naru-chan gak boleh naksir pacarku yang tampan plus manis ini ya." Sakura dengan gaya bercandanya memeluk lengan Sasori.

"Bhuu~ Nee-chan aku gak naksir kok, Cuma lagi flirting aja kok." kedip Naruko pada Sasori yang dihadiahi cubitan dari Neji.

Pagi itu diawali dengan senyuman, semoga hari ini harinya menjadi baik. Itulah harapan Naruko ketika melihat pemandangan kamarnya yang begitu ramai.

"Satu… dua… tiga… Maju. Satu… dua.. aaarrrgghhh susahhh!"

Tiga hari telah berlalu semenjak kejadian konser dan juga perkenalannya dengan kekasih Sakura, Sasori. Sudah dua hari Neji tak menampakan batang hidungnya, ia memang berkata akan pergi ke luar kota selama seminggu karena ada urusan keluarga yang sangat mendadak.

Sekarang Naruko sendirian di taman, dengan sebuah buku dan berlenggak-lenggok seperti robot. Sasuke yang melihat tingkah aneh dari pasiennya itu, berjalan menghampiri Naruko yang tak sadar jika dokter tersebut sudah duduk dengan posisi Naruko membelakanginya.

"Huh! semangat Naruko! masa sama tarian patah-patah ini aja kalah."

Sasuke tak bisa menahan senyumnya mendengar keluhan Naruko, maka ia berinisiatif berdiri dibelakang Naruko.

"Tegakan badanmu dan fokus pada ketukan lagu." suara barito Sasuke mengagetkan Naruko. Segera saja ia menoleh ke sumber suara yang sedang berdiri sambil melipat kedua tangannya.

"Katanya dokter gak bisa, jangan sok tau deh." balas Naruko dengan mencibir.

"Memang saat itu aku bilang tidak, tapi maksudnya tidak pada saat itu."

"Cih, ngeles aja bisanya."

Naruko kembali memusatkan bacaannya mengenati tutorial dasar tango. Ia mengikuti langkah yang dianjurkan buku tersebut. Tak sampai 10 detik ia membanting bukunya.

"Buku bodoh! daritadi gak bisa-bisa, dasar pembohongan publik." Naruko mengumpat kesal karena dalam buku itu tertera keterangan 'Mudah belajar tango dalam seminggu' dan sekarang sudah dua minggu tak ada satu gerakkan yang ia kuasai.

Sasuke memunggut buku tersebut dan membacanya sekilas dan memukul kepala Naruko dengan buku tersebut. "Dasar dobe."

"Eh! apa dokter bilang? dasar dokter teme! jangan mengejek orang seenak kepala pantat ayammu itu donk…- upsss" Naruko keceplosan mengejek rambut kebanggan Sasuke yang sudah sejak lahir berbentuk seperti itu, kata halusnya sih gaya 'emo'.

"Kau memang dobe, lihat buku ini sudah memberikan tutorial secara lengkap. Lagipula gak cukup dengan hanya membaca, ikuti aku."

Sasuke memeluk pinggang Naruko dan mendekatkan tubuh mereka, tangan kanannya menggenggam tangan Naruko dan tangan Naruko yang satu lagi ia letakan di dada bidang Sasuke.

"E-eh do-dok a-apa harus se-seperti ini?" Naruko merasa gugup berdekatan dengan Sasuke dalam jarak sedekat itu.

"Hn, ikuti dan fokus dengarkan perkataanku dan jangan memandangi wajah tampanku terus." ujar Sasuke kepedean yang langsung didorong tubuhnya oleh Naruko. Namun tak berselang lama, Sasuke menarik kembali tubuh Naruko.

"Kita mulai," Sasuke melangkahkan kakinya ke kiri dan Naruko mengikutinya. Hingga tak terasa Naruko mulai lancar dan mengikuti arus pergerakan Sasuke.

Sesekali mereka saling mengumpat dan mengejek kata teme dan dobe, kadangpula Naruko tertawa melihat ekspresi Sasuke yang kakinya tak sengaja diinjak. menit-menit berikutnya, tanpa buku Naruko sudah mulai lancar dengan gaya dasar hingga tak terasa sore telah memayungi mereka berdua.

"Hah~ cape juga ternyata." Naruko mengelap peluh keringat, meskipun lelah tetapi ia merasa sangat bahagia. "Dokter terima kasih telah mengajariku." ucap Naruko tulus.

"Kukira kau tak akan berkata seperti itu dobe."

"Grrr dasar dokter teme! maaf deh kalau jadi mengganggu waktu anda." Naruko berpura-pura merajuk.

"Hn, tak apa." rajuan Naruko berhenti takkala mendengar kata yang dilontarkan Sasuke. "Buat apa kau berlatih tango?"

"Kudengar rumah sakit ini akan merayakan hari ulang tahunnya, dan aku berniat mengisi acara disana. Oh ya! bagaimana jika dokter menjadi pasanganku? mau yaa~?" Naruko memandang Sasuke dengan melas.

Tanpa menjawab ajakan Naruko, Sasuke mulai bangun dari duduknya dan melangkah masuk gedung. "Sudah hampir malam, masuklah."

"Dokter uchiha yang tak tampan mau yaa… ya…" Naruko mengikuti Sasuke sambil sesekali menarik lengan jas dokter Sasuke dan berusaha membujuknya.

Dari lantai tiga, dua pasang mata tampak tersenyum menyaksikan kejadian yang terjadi tadi. Kedua orang yang tak lain adalah Karin dan Suigetsu merasakan perbedaan aura Sasuke akhir-akhir ini.

Semoga saja Sasuke terus menunjukan perubahan seperti ini, terutama kepada Naruko….

….

….

Kebahagiaaan Naruko berlipat ganda setelah mengetahui Sasuke bukanlah kekasih Sakura dan sekarang ditambah adegan semi romantisme yang baru terjadi. Boleh dikata, senyum terus mengembang di wajah Naruko, kadang juga ia tertawa sendiri dan menutupi wajahnya dengan selimut. Bayang-bayang kejadian tadi siang masih terlintas di kepalanya seakan-akan kilasan tersebut seperti film yang diputar berulang-ulang. Ia masih bisa merasakan kehangatan tubuh Sasuke dan juga kedua tangan mereka yang saling bertautan. Bisa dipastikan kalau Sakura sedang ada disini, ia pasti sudah mengintrogasi dan menggoda Naruko habis-habisan.

Sama halnya dengan Naruko yang hampir setengah hilang kewarasan dengan berblushing ria, Sasuke di rumahnya pun masih membayangkan kejadian tadi.

"Tubuhnya mungil dan nyaman sekali dipeluk."

Sasuke tersadar dengan apa yang baru saja diucapkannya dan segera menutup mulutnya. Namun, mau bagaimanapun ia tidak bisa mengelak dari bayang-bayang wajah, tingkah dan tubuh Naruko. Baru kali ini ia dan gadis itu berdekatan satu sama lain, bercengkrama dengan akrab meskipun diselingi pertengkaran adu mulut dan baru kali ini juga ia berdansa dengan seorang gadis meskipun suasana taman tersebut tak mendukung namun bagi Sasuke itu merupakan pengalaman pertamanya.

"Kurasa aku harus segera menghubungi Kabuto, ada yang salah di otakku."

…..

…..

….. To Be Continue…..


pojokan Kanon1010 :

maaf ya, agak lama dipublish. soalnya ada kejadian gak menyenangkan yang menghampiri kanon jadi kanon kehilangan mood buat ngetik.

saatnya balas review, hayoo~ siapa yang udah review?...

Ini dia ! ^^…

Naozumi Ariadust : ini sudah lanjut, apa nao mau menunggu chapter selanjutnya kembali ? ^^

Dhekyu : Kanon belum tau nih endingnya Naru meninggal atau nggak, semoga nggak ya ^^…

Moku-chan : kalau mood bagus banget lancar ngetiknya moku, kalo nggak mood lama deh *lirik fic lain yang masih belom dilanjutin* :( … makasih tetap mau membaca ^^

Neerval-Li :ITU! kata-kata itu bolehkah kanon pinjam ? itu ngejleb banget kata-katanya T_T… ini pertama kalinya kanon masukin pairing NejiNaru eh, semalem jadi galau gara-gara baca komiknya Neji mati T_T

Moodmaker : makasih MM udh setia, semoga setia kamu nular ke sasuke *ga nyambung* heheheheh

dwidobechan : udah donk, kekasihnya si imut itu… heheh maksih udah baca dwi ^^

mendokusai144 : hahhah gomen gomen, ini cerita kan terinspirasi dari salah satu drama korea, dimana dia kena penyakit kanker. kalo mau liat chara naru yg angst tapi ga penyakitan, di salah satu fic kanon ada kok ^^

HimeLOVE : happy ga ya? hihiihi semoga kanon gak galau. hahahha XDD tapi emangnya ini kena sadnya ya? kanon malah ga ngerasa sad.

NamikazeNoah : goreng aja si chiken, bikin jadi ayam goreng! *dibunuh sasuke* makasih udah baca ya ^^

Haruna Mitsuoka : nih sesuai apa yang kanon PM… udah kanon lanjutin ^^.. makasih lho buat kiriman PM kamu, membuat kanon jadi pengen cepet-cepet publish. heheh ^^ semoga puas sama chapter ini ya.

Ciel-Kky30 : makasih dibilang keren.. kanon emang keren kok *ditabok* hahah XDD makasih udha baca ya ^^

Han-yukie : tadi maunya dipasangin sama rock lee, tapi pas ngetik sambil bayangin sakura pacaran sama rock lee agak aneh juga hihiih maka terpilihlah sasori ^^

Narita Menari-nari : memangnya sedih ya? tapi, sasuke emang jago nari tango kok ^^… masih mau nunggu chap selanjutnya?

TanuKuma : ini kelanjutannya, tunggu lagi selanjutnya ya heheheh.. makasih udah dibilang bagus ^^

Mithaza. Sung : yang panname natsumi no akira itu kamu juga ya? soalnya tulisannya sama heheh…. hontou? udah dibca semua? makasih ya .. haduh kanon jadi malu :) … semoga kamu masih mau nunggu chap selanjutnya ya ^^


Yosh! makasih buat semua yang udah baca, baik yang review atau nggak… ^^

semoga kalian masih mau nunggu kelanjutannya … sampai jumpa di chapter selanjutnya ^^