Just Be Friends – bagian ke 4

Disclaimer by: Masashi Kishimoto

inspired story : from one of scene scent of the woman.

this fic by: Kanon1010


"Phuf hi hi hi…"

"Apa yang sedang kau tertawakan Kabuto? ada yang lucu?" Sasuke mendelik kesal pada sosok dokter berkacamata bulat tersebut. Sudah sejak tadi Kabuto tertawa tak jelas yang malah membuat Sasuke semakin kesal. "Bisakah kau hentikan tawa itu sebelum ku bedah otakmu?"

Perlahan Kabuto, nama dokter tersebut berusaha meredakan tawanya. "Ok! ok maaf Sasuke hanya saja, kau mendatangiku hanya karena sebuah perasaan yang tak kau mengerti? kau gila."

"Ya! benar kan aku gila? apa benar aku gila?" Sasuke malah semakin kesal, ia bingung apa yang sebenarnya terjadi.

Semuanya berawal tadi pagi ketika Sasuke mampir ke ruangan Kabuto salah satu dokter yang dikenalnya. Kabuto adalah dokter yang menangani masalah kejiwaan, bisa dibilang psikiater.

Sasuke berkata pada Kabuto bahwa ia memerlukan penanganan terhadap jiwanya, ia merasa ada yang sedang salah pada dirinya saat ini. Kabuto yang tak menyangka dengan kedatangan Sasuke langsung memberikan perawatan khusus.

Awalnya Kabuto mengira Sasuke benar-benar sedang mengalami gonjangan jiwa. Setelah ditanya-tanya berbagai pertanyaan barulah ia tau apa yang dialami temannya tersebut, hanya sebuah perasaan yang tak pernah dirasakan oleh orang se-stoic Sasuke dan itu membuat kabuto geli dan tak dapat menahan tawanya.

"Ok! sekarang serius, jadi semenjak kejadian di taman kau selalu memikirkannya?"

Sasuke mengangguk….

"Bahkan semalam kau memimpikannya?"

Sasuke mengangguk lagi …

"Dan sekarang, tadi kau sempat melihatnya mendadak jantungmu berdetak cepat dan ketika melihatnya bersama seseorang kau merasa marah?"

Sasuke mengangguk nurut mengiyakan semua pertanyaan Kabuto.

"Wah wah nampaknya ini parah," Kabuto membenarkan letak kacamata bulatnya. "Obatnya hanya satu."

"Apa separah itu? apa itu penyakit jantung? apa penyakit hati?" tanya Sasuke dengan wajah serius.

"Bukan, itu namanya penyakit c-i-n-t-a."

"Cinta? maksudmu, aku cinta sama dia?"

"Yup betul sekali, dan obatnya adalah kau nyatakan saja cinta padanya."

"Kau gila Kabuto!"

Sasuke mendadak keluar ruangan Kabuto tanpa mengucapkan terima kasih atau basa-basi lainnya. Ia mengelak mengenai diagnosis dari Kabuto.

"Hoy! Sasuke … Sasuke … dasar keras kepala."

'Cinta? apa itu? sudah muak aku dengan kata cinta tersebut. Namun aku memang merasakan seperti debaran, hal yang dulu sempat kurasakan ketika sekolah bersama Sakura dan sekrang kurasakan padanya?' batin Sasuke.

Ketika ia masih berkutat seru dengan pikirannya, mendadak terdengar suara tawa yang sangat ia hapal. suara tersebut terdengar riang dan ceria namun ketika Sasuke hendak menghampiri sosok sumber suara tersebut. Ada penganggu disebelah sang pemilik suara.

"Hyuuga …"

Melihat Naruko dan Neji yang sedang tertawa, tanpa sadar membuatnya mengepalkan kedua tangannya menahan sebuah luapan kemarahan. Ia semakin kesal ketika melihat Neji membopong Naruko dengan meletakkan sebelah lengan gadis tersebut dipundaknya.

"Dokter Uchiha…, dokter…."

Sasuke menoleh ke sebelahnya dan mendapat seorang suster tengah memanggilnya. "Hn."

"Maaf dok, sudah saatnya pemeriksaan rutin."

"Hn."

Setelah beberapa pasien telah ia periksa, sekarang saatnya ia memeriksa Naruko. Dengan didampingi oleh keempat assistennya.

"Selamat siang dok." sapa Naruko ramah kepada semuanya.

"Siang Naru-chan." jawab lainnya serempak dan sebuah gumaman tak jelas dari Sasuke.

Moodnya sedang tak bagus. Itulah pendapat keempat asistennya yang melihat Sasuke memeriksa Naruko yang agak asal-asalan.

"Maaf dok, anda belum memeriksa tekanan darah nona uzumaki."

"Hn aku tau bisakah kalian diam." bentak Sasuke yang maksudnya menutupi kesalahannya.

Naruko entah iseng atau sengaja malah menjewer kuping Sasuke. Membuat sang pemilik telinga menjerit kesakitan dan memberikan jitakan plus tatapan mematikan khas gaya sang Uchiha.

"Dasar dokter Uchiha-teme! jitaknya kira-kira dong benjol nih." Naruko mengusap-ngusap hasil jitakkan Sasuke.

"Eh perempuan sarap! kenapa kau menjewerku terlebih dahulu?"

"Salah sendiri, bukannya minta maaf sama yang lain malah kau bentak. Aku jadi gemas ingin menjewermu." balas Naruko cuek.

Sasuke tadinya memang mau marah, namun ketika melihat tawa kecil, bahkan ekspresi cemberut dari Naruko membuatnya mengurungkan niat tersebut bahkan ia malah menyukai ekspresi tersebut, ia ingin terus melihat ekpresinya.

"Jugo, lanjutkan pemeriksaan aku ke ruangan duluan."

Semuannya nampak terkejut dengan kelakuan Sasuke yang menurut mereka jarang nampak. Biasannya dia akan membalas Naruko dan akan menjadi tontonan menarik bagi mereka, namun sekarang keliatan Sasuke agak mengalah dengan Naruko.

"Apa dia salah makan sehingga keracunan?" tanya Naruko polos seraya memiringkan kepalanya dan membuat lainnya tertawa mendengar perkataan gadis tersebut.


Hari ulang tahun rumah sakit tinggal dua hari lagi dan Naruko belum sama sekali menemukan pasangan dansannya mungkin ia akan mengundurkan diri dalam mengisi pentas acara tersebut. Lagipula dansa tanpa pasangan sama saja bohong. Ia sudah meminta tolong Neji membantunya, tapi Neji bilang dia tidak mengerti dansa tango dan juga ia tak bisa datang karena ia harus pergi lagi mengurus perusahaan keluarganya.

Dan inilah Naruko yang tengah melamun di balik jendela dengan sekotak jus jeruk di tangannya.

"Sudah makan belum?" tanya Sakura yang sedang duduk di ranjang sambil disuapi potongan buah oleh Sasori. Sakura kembali lagi kerumah sakit kemarin, karena mendadak tubuhnya kembali lemah.

"Huum sudah…" balas Naruko malas-malasan. Sakurapun mengangkat bahunya membalas tatapan penuh tanya dari Sasori. "Saori-nii apa kau mau menjadi pasanganku?tinggalkan Sakura-nee sehari saja."

Tanya Naruko tiba-tiba yang membuat Sakura tersedak serta Sasori yang langsung menepuk-nepuk punggung kekasihnya itu.

"Hey, apa maksudmu itu Naru-chan?"

Naruko menoleh ke arah Saskura dan menghabiskan isi jus jeruknya. "Saku-nee kenapa? makanya kalo makan hati-hati." ujar Naruko polos membuat Sakura tak tahan ingin menjitak kepala pirang itu.

"Oh iya, Sasori-nii mau jadi pasanganku gak buat acara ulang tahun rumah sakit nanti?"

"Pasangan buat apa?"

"Nari tango." segera saja Sakura tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Naruko.

"Diam kau Sakura!" bentak Sasori menahan malu.

Bagaimana Sakura tidak tertawa terbahak-bahak, Sasori meskipun sikapnnya sangat lembut tetapi ia pria yang kaku. Jangankan menari tango, olahraga saja ia malas. Katanya sih itu akan membuatnya berkeringat dan itu sangat tak mengenakkan.

"Maaf, maaf. Naruko kau salah besar meminta Sasori menjadi partner menari, dia tak pandai melakukan itu. Tadi kau bilang mau nari tango ya?" Naruko menganggukkan kepalanya. "Sudah meminta tolong Sasuke? dia itu pandai menari tango, dulu waktu masih sekolah dia selalu menjadi juara lho."

"Benarkah?"

"Iya, meskipun orangnya jutek dan pendiam tapi dia menjadi idola setiap gadis, termasuk aku dulu." Sasori mendelik tajam ke arah Sakura. "Tapi itu dulu lho~ sekarang kan aku sudah punya si rambut merah yang lebih keren dari dia." cengir Sakura.

"Ternyata sifat jeleknya itu emang sudah dari lahir ya, kasian yang menjadi keluargannya pasti di pelototin mulu. Apa mukanya itu gak kaku ya datar terus, seperti tv. Flat." Naruko mengikuti gaya Sasuke yang sedang memberikan gaya ala Uchihanya dan itu sukses membuat gelak tawa dari Sakura dan Sasori.

"Ehm.. maaf saja ya kalo saya memiliki wajah seperti itu."

Semuanya langsung menoleh ke arah sumber suara yang ternyata Sasuke telah berdiri dengan sejumlah kertas di tangannya. Dalam hati Naruko berkata 'mati aku' karena telah menirukan gaya si dokter jutek tersebut.

"Heheh biar gitu, dokter Uchiha tetep keren kok! t-o-p banget deh, ya kan Saku-nee?" Naruko mengacungkan dua jempolnya sebagai penegasan kalau apa yang dikatakannya itu benar, namun ketika ia menoleh ke Sakura meminta pertolongan malah Sakura berpura-pura sedang bermain ponsel dan itu sukses membuat Naruto cemberut dan aura hitam dari sang dokter sudah membuat Naruko merinding.

'Benar-benar mati aku…'

Sasuke melangkah ke arah Sakura dengan wajah tanpa ekspresinya menghiraukan ringisan Naruko yang kesakitan mengusap kedua pipinya karena dicubit dengan sangat tidak berkepripasiennan oleh Sasuke.

"Jadwal kemoterapimu diubah jadi jam 4." ujar Sasuke

"Baiklah, oh ya Sasuke apa Sasori boleh ikut menemaniku? tolong~" Sasuke melirik sekilas ke arah pria bersurai merah tersebut.

"Hn."

Ketika pertama kali Sakura mengenalkan Sasori kepada Sasuke ada perasaan kesal dan iri. Ia selalu saja menatap Sasori dengan tatapan tak suka kadang malah benci dan selalu melarang bila Sakura meminta Sasori menemaninya saat melakukan kemo yang sangat menyakitkan itu.

Tapi sekarang, ketika melihat kedua insan itu ia merasa biasa saja dan tak menampakkan rasa tak sukannya.

"Sekarang yang hrus diambil darah adalah kau dobe!" Sasuke menarik lengan baju Naruko. Sedangkan Naruko yang masih asik menghilangkan perih bekas cubitan Sasuke hanya bisa kaget.

"E-eh mau kemana, dokter mau ngajak kencan ya? jangan kasar gini donk tanpa begini aku juga mau kok dok." ucap Naruko ngawur membuat Sasuke memutar bola matanya bosan.

"Sekarang waktunya ambil darah."

"Bukannya besok jadwalnya?"

"Diganti, besok akan ada rapat jadi semuanya dilakukan hari ini." balas Sasuke sambil cuek berjalan dengan Naruko dibelakangnya mengikuti.

Naruko hanya diam mengikuti Sasuke dari belakang. Jujur ia membenci saat pengambilan darah, karena itu sangat menyakitkan. Kebanyakan orang diambil darah secara wajar melalui lengan, tapi kalau Naruko melalui punggungnya dan itu amat sangat menyakitkan. Apalagi saat ini tidak ada Neji yang biasa menemaninnya saat melakukan ini.

Tak sampai lima menit, mereka sudah sampai kedalam sebuah ruangan. Naruko telah tiduran di ranjang dengan posisi menyamping bersiap menahan sakit ketika jarum suntik tersebut menembus kulitnya.

Naruko merasa sudah tak kuat, wajahnya yang tadi masih cerah mendadak langsung pucat dengan dipenuhi keringat dingin. Tanpa intruksi siapapun, Sasuke menggenggam tangan Naruko dengan erat seakan memberikan kekuatan pada gadis tersebut.

Naruko tentunya tak menyadari akan perilaku Sasuke, yang ia tau hanya sebuah perasaan hangat dan menenangkan lebih dari apa yang didapatnya ketika bersama Neji. Sebelum kegelapan menelan seluruh kesadarannya, ia sempat melihat wajah Sasuke yang sedikit panik dan juga merasakan sentuhan lembut di kepalanya.

"Bolehkah aku berharap sedikit, Sasuke?"…..

Sasuke Pov

'Ayolah, kau pasti kuat ini bukan pertama kalinya kau melakukan ini dobe.' ujarku dalam hati begitu melihat ia begitu kesakitan ketika jarum suntik tersbut menembus kulit tannya.

Keringat dingin serta ringisan kesakitan meluncur dari bibirnya. Ini bukan pertama kali aku melihat ekspresi kesakitan itu, tapi ini pertama kalinya aku tak kuasa melihat ekspresi tersebut. Rasanya lebih baik ia bertingkah konyol daripada seperti ini. Apa benar kata Kabuto, bahwa aku telah menyukainya?

"Argghh… sass-saakittt…"

Tuh kan, dia kesakitan lagi rasanya ingin sekali aku melepas suntikan tersebut dan mengatakan bahwa ini semua sudah berakhir, namun tak ada yang bisa kulakukan ini sudah prosedur untuk pengobatannya, tanpa kusadari sendiri bahwa tanganku sudah mengenggam erat tangannya yang dingin.

Bahkan ia membalas genggaman tanganku. Tapi aku harus tetap profesional, saat ini dia adalah pasien dan aku dokternya.

Waktu lima menit terasa sangat lama bagiku, kulihat ia sudah terlelap karena obat bius yang diberikan suster kepadanya, dan lagi! terjadi lagi di luar kesadaranku aku mengelus kepalanya itu.

Fix hari ini seorang Uchiha Sasuke sangat out of character hanya karena perasaan tak jelas kepada Uzumaki Naruko….

End Sasuke pov


Naruko mengerjapkan matanya berkali-kali, mencoba membiasakan cahaya yang masuk kedalam matanya. Setelah dikira matanya sudah terbiasa dengan cahaya ia mendudukkan dirinya seraya memijit sedikit kepalanya yang terasa berdenyut akibat obat bius. Segelas air disamping ranjangnya menjadi penghilang dahaga. Tampak Sakura sedang tidur terlelap, ia melihat ke arah jam yang menunjukan pukul 01.00. Sudah tengah malam, pantas saja Sakura sudah terlelap.

Merasa bosan, ia berjalan keluar kamar sambil membawa infusnya, sekedar ke cafetarian mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk mengganjal perutnya.

Beberapa dokter dan suster jaga ia sapa, meskipun beberapa dari mereka menyuruh Naruko kembali ke kamar namun tak dihiraukannya. Sesampai di cafetaria, hanya terlihat Ayame salah satu penjual di cafetaria yang membuka jualannya hingga 24 jam.

"Ramennya masih ada?" tanya Naruko pada Ayame yang sibuk membersihkan beberapa piring.

"Masih ada, mau yang seperti biasa Naru?" dibalas anggukan oleh Naruko. "Tumben belum tidur?" tanya Ayame lagi.

"Baru bangun, biasa tadi sore habis pengambilan darah lihat punggungku saja masih nyeri." ringis Naruko manja, sedangkan Ayame hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah Naruko.

"Kalau gitu lebih baik kamu duduk manis nanti ramennya kuantar."

Naruko menuruti perkataan Ayame, ia pun mengambil tempat duduk dekat jendela. Sejauh mata memandang cafetaria ini sangat sunyi, hanya ada beberapa orang dan suara tv yang meramaikan suasana. Di balik jendela nampak hujan sedang membasahi bumi, terlihat dari jendela yang basah dan berembun.

"Ramen dan segelas jeruk hangat datang!"

"Terima kasih."

"Sama-sama, selamat menikmati." ucap Ayame lalu mengundurkan diri membiarkan Naruko menikmati makanannya.

Di saat Naruko sedang asik menikmati makanannya, Sasuke baru saja bersiap untuk pulang. Hari ini mendadak ada yang harus di operasi sehingga yang biasannya ia pulang sekitar pukul 11 mundur menjadi lebih malam. Mungkin ini yang namanya takdir dari sang penulis yang sengaja membiarkan Sasuke yang berjalan keluar malah berbelok melewati cafetaria dan melihat Naruko sedang makan.

Kaki Sasuke ragu ingin menghampiri Naruko atau terus melanjutkan perjalanan, ternyata ia putuskan untuk kembali terus pulang dan mengacuhkan keberadaan gadis itu. Karena ia tak tau harus berbuat apa jika menghampiri Naruko.

….…

Keesokan harinya, pukul 15.00 Naruko mendapatkan tamu istimewa.

"Ibu!" teriak Naruko kegirangan ketika melihat sosok sang ibu yang masih tetap dengan rambut merahnya. Tak urung langsung saja Naruko menerjang seseorang yang sudah dirindukannya itu.

Terakhir ibu Naruko yang bernama Kushina itu mengunjunginya adalah dua atau tiga bulan yang lalu. Akibat pekerjaannya membuat ia sangat sulit mengunjungi anak sematawayangnya itu.

"Apa kabarmu sayang?" Ibu Naruko mengelus lembut rambut Naruko.

"Baik! ibu sendiri? apa ibu kelelahan?" Kushina hanya menggelengkan kepalannya dan mengecup kening anaknya. "Ayah mana?"

"Ayahmu minta maaf karena mungkin akan datang terlambat, kau tau sendiri apa pekerjaannya." Kushina masih mengelus kepala anaknya. Ia merasa miris melihat kondisi Naruko yang tampaknya semakin kurus tapi wajah ceria itu masih selalu bertengger manis.

"Iya, Naru ngerti kok ibu saja yang datang Naru sudah senang," Naruko memeluk ibunya erat. "Ibu! bagaimana kalau kita jalan-jalan? aku kenalkan sama seluruh staff disni. Mereka baik-baik lho selalu menjaga Naru."

"Apa si tampan itu ada disini juga?"

"Tentu donk"

…...

Naruko mengajak Kushina berkeliling, menyapa mengenalkan kepada beberapa suster dan dokter yang dikenalnya. Meskipun Kushina merasa lelah tapi, melihat senyuman ceria Naruko membuatnya bahagia. Awalnya ia merasa ragu meninggalkan Naruko sendirian di rawat jauh dari pengawasannya dan Minato, namun sekarang ia merasa tenang dengan perlakuan staff rumah sakit yang baik padanya. Lagipula rumah sakit ini yang terbaik di seluruh Jepang.

"Ah! dokter Uchihaaa~" teriak Naruko begitu melihat sosok Sasuke yang berjalan di lorong.

Sasuke yang sudah hapal betul suara Naruko menoleh dan berisap menjitak pasiennya itu karena sudah berteriak, namun diurungkannya karena malihat sosok wanita paruh baya disebelah Naruko.

"Ibu, ini yang namanya dokter Uchiha Sasuke," Naruko berbicara pada ibunya lalu beralih apda Sasuke. "Dokter, ini ibuku hari ini dia datang berkunjung."

"Selamat sore." Sasuke menundukkan badannya memberikan hormat pada Kushina.

"Hmmm~…" Kushina memperhatikan Sasuke dari atas sampai bawah dengan pandangan menyelidik, Sasuke yang ditatap seperti itu merasa agak risih. "Boleh juga, jadi dia ini dokter yang selalu kau ceritakan itu, tampan. Naruko pintar juga memilih pacar.

"I-Ibu! dia bukan pacar Naru!" Sangkal Naruko cepat dan dipastikan wajahnya sudah sangat memerah tak berani menatap Sasuke.

"Nah dokter tampan, untuk selanjutnya kuserahkan anakku padamu ya." ujar Kushina sambil menepuk pundak Sasuke.

"I-IBU! maaf dok, kami pe-permisi." Naruko langsung menyeret ibunya dari hadapan Sasuke sebelum ibunya berbicara yang ngawur.

Sasuke yang masih bingung dengan kejadian barusan hanya bisa menatap kedua perempuan itu pergi menjauh, namun masih terdengar suara bisik-bisik Naruko yang mengatakan 'Ibu apaan sih!' itu membuat Sasuke tersenyum tipis.

Entah apa yang membuatnya tersenyum, yang pasti ia merasa senang dengan kehadiran Naruko dan ibunya.


Saat ini Naruko dan ibunya tengah duduk di taman menikmati suasan sore hari. Naruko memeluk lengan ibunya dan bersender manja pada Kushina.

"Ibu! jangan bilang Naru pacarnya dokter Uchiha donk!"

"Memang kenapa? oh iya ibu lupa, dia emang bukan pacar kamu tapi calon pacar iya kan." goda Kushina sambil mencubit pelan pipi Naruko.

"IBU! itu gak mungkin." Naruko bangkit dari pelukan ibunya. "Itu gak akan mungkin terjadi." ucapnya penuh penegasan.

"Kenapa kamu bicara seperti itu?"

"Ibu, lihat saja dia tampan, sehat, dan juga dia menyukai seorang wanita meskipun wanita itu sudah memiliki kekasih." Naruko menunduk memainkan ujung bajunya.

"Hei Naru, lihat ibu," Naruko menatap wajah ibunya dengan sendu. "Tak ada yang tak mungkin di dunia ini Naru. Kalau kamu tak berusaha mana mungkin itu akan terjadi."

"Tapi bu, apa mungkin aku bisa bebas dari kematian?"

"Bicara apa kamu! kamu pasti sembuh, meskipun kamu tak menjadi pacarnya setidaknya dirimu menjadi sosok yang spesial di hidupnya. Seperti kamu, spesial di hidup ibu." Kushina menasehati anaknya lembut.

"Caranya?"

"Jadi diri sendiri dan tunjukan bahwa perasaanmu tulus padanya, apalagi katamu dia itu juteknya amit-amit. Mulailah menghilangkan sifat juteknya tersebut, mungkin dari sekedar saling dekat dia bisa suka sama kamu."

"Makasih ibu,Naru sayang ibu." ibu-anak tersebut saling berpelukan erat, saling berbagi kasih sayang.

"Sebaiknya kita masuk Naru, lihat langit sudah mulai gelap." Naruko mengangguk dan memakai sweater yang sempat dibawa keduanya berjalan bergandengan tangan.

"Ibu, selain si dokter jutek ada satu lagi lho yang dekat sama aku."

"Siapa? wah anak ibu genit ya, ditinggal ayah-ibu malah genit disini."

"Ih ibu bukan cowo kok, tapi ini cewe namanya Sakura. Dia sekamar denganku, tadi dia gak ada di kamar, mungkin sedang jalan-jalan sama pacarnya." jelas Naruko.

"Oh, yang kamu ceritain tempo hari itu ya?"

"Iya, dan dia wanita yang disukai dokter Uchiha, tapi meskipun begitu aku sangat sayang sama Sakura-nee dia seperti kakakku dan kekasihnya juga sangat baik jadi aku sama sekali tidak membenci mereka." Naruko dan ibunya telah sampai di kamar.

"Ibu senang kamu betah disini," Kushina merapihkan selimut Naruko. "Ibu ke parkiran dulu ya, sepertinya ponsel ibu tertinggal." Naruko mengangguk memberi tanda setuju.

Tak lama kepergian ibunya, Naruko memencet remote tv mencari acara yang bagus untuk disaksikan.

"Dokter, ada apa memangnya sudah jamnya minum obat ya?"

"Ini." Sasuke memberikan secarik kertas pada Naruko.

"Apa ini?"

"Formulir buat partisipasi acara ulang tahun rumah sakit nanti."

"Sepertinya aku tak jadi ikut, karena tak memiliki pasangan dansa." balas Naruko cemberut sambil membaca isi formulir tersebut, namun matanya langsung tertuju kepada salah satu kolom yang menyatakan tanda tangan peserta. Disana terpampang jelas nama dan tanda tangan dari Sasuke. "Ini kok ada nama dokter?"

"Aku yang akan menjadi pasanganmu nanti."

"HEEEHHHHH!"

. To Be Continue ….


Pojokan Kanon1010

Nyapho! teman-teman sekalian! gimana nih komentar kalian mengenai chap 4 ini? tapi sebelum kanon menerima komentar kalian semua, kanon balas dulu komen teman-teman di chapter sebelumnya.

dan inilah teman-teman yang sudah memberikan reviewnya ^^ :

Moku-Chan : sesudah di periksa kabuto Sasuke masih tetap gila. hahahahha :D *kanon di suntik Sasuke*

Haruna Mitsuoka : maunya kanon itu bisa update tiap hari, namun apa boleh buat tangan kanon itu males ngetik padahal jalan ceritanya udah ada T_T. udah tau kan kabuto siapa? yang pasti dia bukan pacarnya sasuke *dicekek orochimaru*. semoga setelah membaca chap 4 ini kamu gak bosen lagi ya.. ^^

DheKyu : *kasih tisu* udah cepcep jangan nangis nanti kanon ikutan nangis. tapi serius deh emang sedih ya? kanon malah ngetik ga merasa sedih *plak*, buat Naruko ga meninggal.. hmmmmm akan kanon pertimbangkan ^^

NamikazeNoah : NejiNaru itu Cuma sekilas aja sih, kanon ga berencana bikin banyak mereka jadi maaf ya kalo jarang muncul NejiNaru-nya :(

Naozumi Ariadust : *acungin jempol* maksih ^^. jadi bagaimana dengan chap 4 ini?

dwidobechan : iya Neji masih hidup.. masih ga rela nerima keadaan Neji mati! *nangis guling-guling lagi*

Neeval-Li : Sasuke itu pinter di otak doank, soal perasaan bodoh banget *di timpuk sepatu*. Kanon belom tau mau di pake pas secene apa, tapi nanti kanon kasih tau hihihi.. nge-jleb abis soalnya itu kata-kata. iya Neji mati gara-gara ngelindungin Naruto sama hinata T-T.

Yuki No Fujisaki : aduhh kanon jadi malu nih / *sembunyi dibelakang Neji*. makasih ya yuki :*

Dark Takuma : Kanon ga bermaksud nyiksa naru kok~ *tarik-tarik baju*. makasih udah baca ya ^^

Ciel-Kky30 : happy ending? 50:50 deh hihihih. Kanon juga bayangin mereka dansa tango malah cengar cengir dikira gila hahahah.

Han-yukie : GaaSaku, kanon susah bayanginnya. bagi Kanon pasangan Gaara itu Cuma Naruto soalnya Cuma dia yang deket sama Gaara. bagaimana chap ini masih gemes apa tambah gemes (?) hihiih ^^

Zoccshan : hahah iya gak apa-apa, sekarang udah keliatan belum tanda italicnya? kalau ada yang masih miss bilang aja ya ^^ kanon siap menerima koreksi supaya next time tulisan kanon semakin baik ^^. makasih udah baca…

Shiro yuki : Kanon juga berdebar ketika mendapat review hihiih.. semoga chap 4 ini puas juga ya… ^^ makasih

Yashina Uzumaki : Siaaappp! ^^

RiviaPutri : *kasih tisu biar berhenti nangisnya* heheheh :3

MoodMaker : mungkin Naruko harus pake lem biar Sasuke nempel *eh(?)* hihihi sankyuu MM ^^….

yak! itu dia balasan buat teman-teman yang sudah mereview di chapter sebelumnya, kanon ucapkan terima kasih banyak sudah memberikan komentar ^^… buat yang merasa nama kalian masih belum ada di pojokan kanon1010 ? kanon tunggu komentar kalian di chapter 4 ini ^^ di chapter selanjutnya pasti kanon balas, sama seperti teman-teman yang lainnya.

kalau begitu! sampai jumpa di chapter selanjutnya….

have a nice day ^0^…..