Just Be Friends – bagian ke 5
Disclaimer by: Masashi Kishimoto
inspired story : from one of scene scent of the woman.
this fic by: Kanon1010
…
Naruko masih shock, masih kaget, mengenai pernyataan Sasuke yang mau menjadi pasangan dansanya. Rasanya dia mau joget-joget kegirangan demi meluapkan kesenangan. Namun nyatanya dia cuma duduk terbengong dan plus mendapatkan jitakan cinta dari sang dokter.
"Dobe, jadi mau tanda tangan atau tidak?" tanya Sasuke dengan nada ketus akibat diabaikan selama 15 detik.
"E-eh iya mau! asik!" Dengan girangnya Naruko menandatangani surat pernyataan keikutsertaan dalam mengisi acara HUT Rumah Sakit tersebut, lalu menyerahkannya pada Sasuke. "Dokter, kita latihannya kapan? nggak mungkin 'kan, kita langsung tampil tanpa persiapan…"
"Hn, besok di rumahku. Jangan lupa bangun pagi dobe!" kemudian Sasuke melangkah keluar kamar Naruko. Dibalik pintu ia menghela napas, melepas sesuatu yang dirasanya sejak tadi, yaitu debaran jantung.
Setelah sosok Sauke menghilang dari pandangan Naruko, yang ia lakukan adalah berjoget-joget di atas ranjang sambil ketawa-ketawa sendiri kaya orang gila. Lagi asik joget-joget meluapkan bahagia, pintu kamar mendadak dibuka dan terlihatlah Sakura, Sasori dan ibunya yang menatap Naruko dengan pandangan aneh.
"Hehehe, tadi ada lagu dangdut seru kalian mau ikutan joget?" ujar Naruko salah tingkah.
…
...
Keesokan harinya sesuai perkataan Sasuke, Naruko sekarang berada di kediaman Sasuke. Rumah bergaya minimalis berkesan modern dan elegannya, rumah ini terasa sangat luas hanya untuk ditempati Sasuke seorang.
"Kucing!" Teriak Naruko begitu di ruang tamu melihat seekor kucing hitam berbulu lebat, tanpa basa-basi ia langsung menerjang kucing tersebut dan mengelus bulunya yang lembut. "Nama kucingnya siapa dok?"
"Onyx." Jawab Sasuke singkat sambil menyiapkan minuman untuk Naruko.
"Onyx? aneh kenapa nggak Kuro atau blacky?"
"Terlalu pasaran." Sasuke meletakan nampan berisi dua gelas berbeda isi, yang satu isi Jeruk hangat yang satu lagi kopi. "Tunggu sebentar aku mau mencari kaset lagunya dulu."
Naruko mengangguk dan menikmati minuman yang disediakan Sasuke. Eh– tunggu, Jeruk? sejak kapan Sasuke tau minuman kesukaan Naruko jeruk? pemikiran tersebut membuat Naruko berpikiran kalau Sasuke memperhatikannya. Tapi itu hanya pemikiran sekilas, mungkin karena Naruko pasiennya makanya Sasuke bisa tau kesukaannya, itu bukan hal yang aneh lagi.
"Sudah siap?"
Naruko berdiri dari duduknya dan menarik napas, "Apa yang harus kulakukan pertama kali dok?"
"Sasuke, jika di luar Rumah Sakit kau bisa memanggilku itu."
"Sas-sassuke…"
"Hn." Sasuke maju menuju Naruko lalu tanpa aba-aba memeluk pinggang Naruko dan membawa sebelah tangan gadis itu menyentuh dadanya, dan sebelah lagi terulur ke samping saling bertautan dengan tangannya.
Jantung Naruko berdetak kencang akibat jaraknya dan Sasuke hanya sekitar 15 centi. "Kalau aku mundur kau maju, ikuti alur dari gerakkanku." Ucap Sasuke yang membuyarkan lamunyan Naruko.
"I-Iya dok, Eh maksudku Sasuke."
Dimulai dari kaki Sasuke mundur kebelakang lalu diikuti Naruko maju kedepan, lalu bergantian Naruko mundur dan Sasuke maju. Terkadang ada gerakan memutar badan. Selanjutnya Naruko hanya mengikuti intruksi Sasuke, kedua tubuh itu saling bergerak melenggak lenggok dengan hotnya dan diakhiri dengan Naruko berputar lalu tubuhnya dipeluk Sasuke.
Napas keduanya memburu dengan cepat, secepat detakan jantung mereka berdetak sangat cepat seperti saling bersahut-sahutan, muka Naruko memerah sempurna entah karena kelelahan atau akibat sentuhan Sasuke.
Tersadar dengan posisi mereka seperti itu, Naruko segera melepaskan pelukan Sasuke dan mencoba kembali bersikap normal.
"Ta-tadi itu menyenangkan sekali! sepertinya kita akan berhasil besok."
"Hn." Sasuke berlalu begitu saja masuk ke dapur untuk menambah minuman yang ada di gelasnnya.
Setelah kepergian Sasuke, Naruko mengelus-ngelus dadanya mencoba meredakan detakkan jantung yang tak tak beraturan tersebut. Berdekatan dengan Sasuke seperti itu, kapan lagi coba. Maka dari itu ia senyam senyum sendiri kegirangan.
"Apa minumanmu mau ditambah?" tanya Sasuke sambil membawa sebuah teko yang berisi jus jeruk.
"Eh, i-iya boleh terima kasih." Jus jeruk segelas langsung habis dalam sekali teguk.
"Pelan-pelan nanti tersedak."
"Uhuk..uhuk..uhuk…"
"Hn, dobe."
Naruko yang baru meredakan tersedaknya menatap Sasuke sedikit kesal. "Hey dokter teme, bukannya membantu malah menghina."
"Salahmu."
…
Waktu sudah menunjukan pukul 3 sore. Sudah dua kali mengulang gerakkan dan mereka sudah tak secanggung pertama kali, Naruko optimis kalau mereka bisa memberikan penampilan terbaik di acara besok.
Sasuke ikut kembali ke Rumah Sakit hanya sekedar mengantarkan Naruko dan kembali pulang. Sepanjang menuju kamar rawatnya Naruko selalu menebar senyuman. Memang biasannya dia juga seperti itu, namun senyumannya kali ini berbeda dengan biasanya dan kalian taulah alasannya.
Kushina, ibu Naruko datang agak malam bersama Minato ayahnya Naruko. Mereka sengaja datang malam karena sebelumnya Naruko telah berkata akan pergi bersama Sasuke. Sedangkan Sakura, sudah kembali ke rumahnya namun ia berjanji akan datang besok untuk melihat penampilan Naruko.
"Kamu belum tidur sayang?" Kushina masuk ke dalam kamar anaknya, mendapati Naruko sedang menonton televisi.
"Ayah, ibu! belum kok, aku belum ngantuk soalnya nunggu kalian datang dulu." Naruko memeluk kedua orang tuannya dengan erat.
"Bagaimana dengan latihan hari ini dengan si ganteng itu." Kushina mulai menggoda Naruko lagi. Ia sangat suka melihat wajah anaknya yang merona, karena Naruko tampak seperti anak kecil berumur 10 tahun. Lain dengan Minato sang ayah yang langsung melirik istrinya dengan curiga.
"Siapa itu si ganteng?"
"Ih, si ayah ini siapa lagi kalau bukan dokternya Naruko. Dokter Uchiha itu kan ganteng, ya kan Naruko." Senggol Kushina ke Naruko yang sukses membuat wajah tan itu merona sempurna.
"Mana dia? ayah mau ketemu, seganteng apa sih dia? Masih ganteng juga ayah." Minato membanggakan dirinya dengan berlebihan, membuat ibu-anak tersebut tertawa melihat tingkah pria tersebut.
"sudahlah~ ayah, ibu. Pokoknya kalian lihat penampilan kami besok ya, tapi Naru belom punya baju nih."
"Tenang saja, lihat nih ibu bawa apa." Naruko membuka bungkusan yang dibawa Kushina dengan penuh rasa penasaran. Ketika bungkusan tersebut dibuka, tampaklah sepotong gaun berwarna hitam dengan tali spageti. Bagian bawah gaun tersebut berpotongan dari pendek lalu memanjang kebawah samping, pokoknya gaun khas untuk tarian tango.
"Ini buat aku?" Naruko memandangi gaun tersebut dengan mata berbinar-binar.
"Tentu saja, mana mungkin itu untuk ayahmu."
"Makasih ayah, Ibu." Naruko memeluk lagi keduannya. Rasanya jika setelah usai pementasan tersebut nyawanya diambil ia tak akan menyesal, kebahagiaan ini sudah cukup untuknya.
"Apa kamu suka? bagaimana jika dicoba sekarang, ayah penasaran mau melihat Naru memakai gaun." tawar Minato yang memang penasaran dengan baju tersebut jika menempel indah di tubuh Naruko.
Naruko menggeleng dan mengatakan akan menggunakan pakaian tersebut besok saja, sekalian kejutan. Kushina dan Minato mengelus kepala putri mereka dengan lembut, melihat putrinya bahagia itu sudah lebih cukup bahkan mungkin sebenarnya tak cukup untuk menggantikan keberadaan mereka yang jarang menjenguk kondisi putrinya.
Maklum saja, pekerjaan Minato dan Kushina yang menjadi seorang arkeolog membuat mereka sering berpindah tempat dan meneliti hasil penemuan. Mereka beruntung mendapatkan putri seperti Naruko yang tegar tanpa kedua orang tua disisinya. Meskipun begitu, komunikasi antar mereka tak pernah putus, kalau tidak menelpon mereka pasti tak pernah absen saling berhubungan melalui skype.
…
…
….
Balon warna-warni, pita-pita, dan beberapa ornamen hiasan telah memperindah ruangan aula Rumah Sakit Konoha dengan meriah. Kursi-kursi sudah diatur seapik mungkin, hidangan makanan dan minuman juga telah mengisi sudut ruangan. Para tamu undangan telah berdatangan. Para peserta pengisi acara menunggu dibelakang panggung.
Acara dibuka dengan pidato singkat dari pemilik rumah sakit, yaitu Doktor besar Jiraya. Lalu dilanjutkan dengan beberapa sambutan dari panitia acara dan selanjutnya dimulai dengan penampilan para peserta pengisi acara.
Sasuke menggunakan setelan tuxedo hitam membuatnya terlihat sangat tampan, bahkan para suster yang melihat gaya Sasuke beda dari biasannya semakin terpana dengan ketampanan sang dokter. Tapi sayangnya sang objek tersebut tak menampakan rawut wajah yang ramah, ia memandang jam tangannya sejak tadi. Hal itu dikarenakakan Sasuke menunggu kedatangan Naruko yang sejak 10 menit lalu ia menunggu.
Awalnya Sasuke datang langsung ke kamar rawat Naruko, bermaksud agar mereka berdua bisa ke aula bersama. Namun apa yang ia dapat, Sakura menghadang di depan pintu melarang Sasuke menjemput Naruko. Sasuke sempat terpana dengan penampilan Sakura, padahal gadis itu hanya memakai pakaian semi formal, namun bedanya rambut yang biasa digerai ia gulung dengan cantik membuat Sasuke merasakan perasaan seperti dulu.
"Kau tunggu saja di aula Sasuke! nanti Naruko kami yang antar."
"Kenapa?"
"Naruko belom selesai berpakaian, apa kau mau melihatnya hm? tak kusangka kau mesum juga ya Suke." Tawa Sakura melihat wajah Sasuke yang sedikit panik.
"Ck, jangan lama-lama aku tak suka menunggu." Sasuke pun berjalan meninggalkan kamar Naruko dan menuju aula. Samar-samar ia mendengar suara teriakan Sakura yang mengatakan "Kau tidak akan kecewa setelah melihatnya."
….
Sasuke mulai kesal disuruh menunggu 10 menit. Inilah yang tak ia sukai dari wanita, mereka membutuhkan waktu berdandan yang sangat lama. Apalagi ia tau kalau Naruko itu suka memakai make up.
"Ck, si dobe itu lama betul! satu menit lagi ia tak datang akan kubatalkan saja." Sasuke ngedumel dan mulai melihat jamnya mulai menghitung.
"Maaf dok, saya lama."
Belum satu menit dari hitungan Sasuke, Naruko sudah menampakkan dirinya. Sasuke sudah mau memarahi Naruko yang datang terlambat. Tapi mendadak lidahnya kelu tak bisa mengucapkan satu katapun. Bisa dibilang saat ini Sasuke sangat terpana dan terpesona dengan sosok Naruko dihadapannya.
"Apa ini terlalu berlebihan dok? ini semua ibu dan Sakura-nee yang lakukan. Jika aneh aku akan berganti pakaian." Naruko menoleh kearah samping tak berani menatap Sasuke yang tampan saat ini, ia merasa risih dengan pakaiannya sekarang.
Sebenarnya penampilan Naruko tidak aneh atau berlebihan sama sekali, justru sangat cantik (jika tidak cantik, Sasuke tak mungkin terpana seperti itu). Gaun hitam pemberian kedua orang tuanya itu melekat sempurna di tubuh Naruko. Belum lagi kedua kaki jenjangnya itu dipercantik dengan high heels 12 centi berwarna hitam. Jangan lupa lihat rambutnya yang biasa di kuncir dua, atau di gerai berantakan, sekarang tampak sangat cantik dengan digulung keatas menyisakan sedikit rambut disampingnya. Lalu riasan wajahnya yang tak terlalu tebal tapi cukup membuat wajah pucat itu tampak segar. Naruko malam ini tampil sangat cantik, kesan dewasa dan elegan terpancar dari aura dirinya.
"Dok, dokter teme!" Naruko menggerakkan tangannya dihadapan wajah Sasuke.
Sasuke segera kembali ke posisi wajahnya semula. Ia berharap Naruko tak menyadari tatapan kagumnya.
"Hey dok! aku tanya apa penampilan ku aneh?"
"Hn."
"Terus kenapa dari tadi mereka melihatku seperti itu?" tunjuk Naruko kepada kumpulan dokter muda yang memandanginya terus menerus.
Sasuke segera mengeluarkan jurus tatapan mautnya pada sekumpulan dokter muda yang sedang menatap dan membicarakan Naruko. Hanya sekali lirikan, semuanya kabur tak mau mencari masalah dengan Sasuke.
"Ck, merepotkan."
…
...
'Ya, penampilan selanjutnya…. wow! ini dia penampilan dari seseorang yang tidak kita duga! mari kita panggilkan Dokter Uchiha Sasuke bersama pasangannya Uzumaki Naruko yang akan menampilkan tarian tango… tepuk tangan…~'
Tepuk tangan meriah mengiringi kedatangan Sasuke dan Naruko. Mereka berdua muncul diatas panggung lalu menunduk memberi hormaat. Ruangan aula hening seketika, Sasuke dan Naruko mengambil posisi. Musik dinyalakan.
Sasuke dan Naruko bergerak sesuai alunan musik, keduannya nampak larut dalam alunan musik khas negara argentina tersebut. Naruko nampak sangat sexy di mata Sasuke. Bahkan sekarang ia tak canggung memeluk pinggang Naruko.
Gerakan tarian mereka semakin membuat penonton terpukau. Buat yang mengenal Sasuke mereka takjub melihat Sasuke yang biasanya kaku, jutek, dan kurang bersosialisasi bisa bergerak lincah dan menampilkan ekspresi wajah beda dari biasanya.
Mereka sangat serasi, yang satu sangat cantik dan satu lagi sangat tampan. Tarian tango itu seakan-akan menyatuhkan keduannya. Akhirnya tarian tersebut usai dengan gerakkan Naruko memeluk leher Sasuke dan kakinya satu di tekuk oleh tangan Sasuke. Riuh tepuk tangan berserta standing appaluse mengapresiasi penampilan mereka.
Naruko menarik napas sebanyak-banyaknya, begitu pula Sasuke. Tarian itu cukup menghabiskan tenaga mereka berdua. Mereka menunduk berterima kasih dan segera berjalan ke belakang panggung. Dari arah penonton kedua orang tua Naru dan Sakura menonton penampilan mereka, lalu segera ikut menyusul kebelakang panggung.
"Naruko! / Naru-chan." Panggil Kushina dan Sakura bersamaan.
Naruko melihat kedatangan mereka segera memamerkan senyumannya. "Kalian lihat? bagaimana tadi? hancur kah?" Kushina menggelengkan kepalanya dan mengelus kepala anaknya itu. Peluh keringat mengucur dari pelipis Naruko, tarian itu benar-benar membuatnya lelah.
"Syukur...lah." Naruko terjatuh dalam pelukan Kushina dan tak sadarkan diri. Sasuke segera memanggil salah seorang suster dan membawa Naruko ke ruangannya dengan cara bridal.
Kushina merapalakan doa dalam pelukan suaminya, wajah cemas terpatri di kedua orang dewasa tersebut. Bagaimana bisa wajah ceria tadi mendadak langsung berubah menjadi tak sadarkan diri.
Saat ini mereka menunggu di luar dan Sasuke di dalam bersama para asisstennya dan seorang suster memeriksa keadaan Naruko. Tanpa mengganti pakaiannya Sasuke memeriksa kesehatan Naruko, syukurlah ia hanya kelelahan mungkin juga tadi Naruko tidak sempat meminum obatnya.
Sasuke memberitahukan bahwa Naruko butuh istirahat dan dilarang melakukan kegiatan apapun yang membuatnya lelah. Kushina, Minato, Sakura dan Sasori menghela napas lega. Padahal Sakura memiliki penyakit sama seperti Naruko, tapi ia jarang terlihat kesakitan mungkin karena ada Sasori disampingnya.
"Ngh…ayah, ibu…" Naruko sadar dari pingsannya. Meskipun saat ini ia masih mengenakan gaun tapi wajahnya tak secerah tadi, yang ada sekarang wajah pucat sehari-harinya.
"Kami disini sayang, apa yang kamu rasakan?" Kushina duduk disamping ranjang Naruko dan mengelus-ngelus rambut Naruko yang sudah lepas dari sanggulannya.
"Bahagia, bahkan jika sekarang tuhan menjemputku aku tak akan menyesal. Karena aku sudah bertemu dan melihat senyuman ayah, ibu, Sakura-nee, Sasori-nii, para dokter, para suster dan juga dokter Uchiha. Terima kasih telah ada disampingku, aku sangat bahagia."
Kalimat Naruko membuat Kushina menangis sambil memeluk Naruko, Sakura dan lainnya pun tak bisa menahan air mata mereka. "Dokter Uchiha," panggil Naruko dan membuatnya mengurungkan diri keluar kamar rawat.
"Terima kasih dok, sudah menemaniku malam ini. Hari ini kau keren sekali, sering-seringlah tersenyum itu membuatmu semakin tampan."
Sasuke terdiam dan membalikkan tubuhnya membelakangi Naruko, ia tak kuat menatap gadis tersebut dalam kondisi lemah seperti itu. "Hn, beristirahatlah."
"Ayah, ibu aku mengantuk bolehkah aku tidur?" tanya Naruko.
"Tentu sayang, kami akan disini menjagamu."
"Benarkah? kalau begitu aku tenang. Selamat malam."
"Selamat tidur sayangku." Minato menegcup kening Naruko. "Jangan lupa terbangunlah esok hari." tambahnya setelah melihat deru napas Naruko yang teratur
Kejadian malam ini tak akan dilupakan oleh semuannya, terutama Sasuke….
…
…
...
….
Hari berganti tanpa terasa. Seakan 24 jam itu berjalan dengan cepat. Sasuke bangun dengan malas lalu berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Di tatap wajahnya lewat cermin, terlihat sedikit kacau.
Perasaannya sedikit tak nyaman, seakan pertanda sebuah firasat yang tak mengenakkan. Sasuke pria dengan tipe yang berpikiran rasional, hal semacam pertanda tersebut tak mempengaruhi harinya. Oleh karena itu, ia segera membersihkan diri, sarapan lalu berangkat ke Rumah Sakit.
Datar. Itulah yang dirasakan Sasuke hari ini. Tak ada pasien yang terlalu membutuhkannya, tak ada kumpulan para suster dan dokter di pagi hari yang dulu selalu Sasuke tegur, dan tak ada kehebohan dari Naruko. Eh, tunggu kemana Naruko?
Sasuke baru menyadari tak hadirnya sosok Naruko di hari ini. Buktinya gadis itu belum melakukan kerusuhan yang membuat Sasuke memijit pelipisnya.
Sasuke tak tenang. Maka ia meninggalkan berkas-berkas laporan para pasiennya dan berjalan menuju kamar Naruko.
Sesampainya di depan kamar Naruko, Sasuke tak menemukan sosok gadis tersebut, yang ada hanyalah kamar kosong beserta pakaian pasien yang tergeletak di ranjang.
"Dokter mencari nona Uzumaki?" Seorang suster menegur Sasuke yang ketahuan sedang mengintip kamar Naruko dari balik kaca pintu.
"Hn."
"Tadi pagi, nona Uzumaki pergi bersama orang tuannya. Katanya hanya berjalan-jalan sebentar, nanti dia akan menghubungi dokter."
"Hn, terima kasih."
Suster tersebut menunduk dan mengurungkan diri. Lagi-lagi perasaan tak enak dirasakan Sasuke. Apa ini sebuah pertanda?
"Maaf dok, nona Haruno datang untuk pemeriksaan." Suster Konan menghampiri Sasuke, lalu Sasuke kembali ke ruangannya.
...
"Jadi bagaimana keadaanku Sasuke?" Tanya Sakura yang saat ini menatap Sasuke dengan cemas.
"Hn, sepertinya kita harus melakukan pengangkatan di beberapa daerah. Karena kanker ini telah menyebar ke organ tubuh lainnya." Jelas Sasuke sambil mengamati hasil ronsen.
"Apa itu harus?"
"Jika kamu masih mau hidup." Balas Sasuke menatap langsung mata Sakura.
"Baiklah, akan kubicarakan dulu dengan ibuku dan Sasori."
Setelah pemeriksaan tersebut, Sasuke mengantar Sakura sampai di depan.
"Sakura," panggil Sasuke pelan. Sakura menoleh dan menatap Sasuke bingung. "Boleh ku katakan sesuatu?"
"Apa itu? Katakanlah."
"Sebenarnya, ketika masih kita sekolah dulu... Aku menyukaimu." Sakura kaget dengan pernyataan tiba-tiba dari Sasuke. "Tapi, dengar dulu ini hanya ungkapan ketika aku menyukaimu dulu. Aku hanya tak ingin terpendam lama. Sekarang aku hanya menganggapmu teman biasa."
Sakura tertawa pelan mendengar penjelas Sasuke yang bisa dibilang panjang dan jarang sekali kalimat sepanjang itu terucap darinya. "Apa sekarang sudah ada yang lebih istimewa? Naruko?"
Sakura kembali tertawa namun kali ini bukan tawa kecil melainkan tertawa terbahak-bahak. Bagaimana ia bisa menahan tawa itu ketika begitu nama Naruko disebut terlihat sekilas rawut wajah Sasuke yang menjadi salah tingkah.
"Entahlah, aku masih kurang yakin."
"Sebaiknya yakin secepat mungkin, agar tidak menyesal sebelum terlambat." Sakura menghentikan sebuah taksi dan menaikinya. "Ingatlah Sasuke jika kau terlambat maka kau akan kehilangan selamanya. Aku pulang dulu, soal operasi itu akan segera ku kabari." pamit Sakura dan taksi pun berjalan menjauhi Sasuke yang masih berdiri di pinggir jalan.
Mata kelamnya memandang ke langit yang mulai tetutupi awan mendung.
Hujan.
Satu kata mewakili apa yang menurutnya akan terjadi jika awan mendung itu tak mau beranjak dari atas sana. Ia baru menyadari bahwa di balik awan mendung tersebut terdapat langit biru cerah, mirip dengan bola mata seseorang.
Bola mata milik Naruko.
...
...
Kaki Sasuke baru saja melangkah masuk lobi Rumah Sakit hendak kembali ke ruangannya dan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Namun Jugo dan Suigetsu salah satu assistennya selama ini menghampirinya dengan wajah panik.
"Ada apa?"
"Pasien bernama Naruko, terus mengeluh kesakitan di bagian perutnya."
"Dimana dia sekarang?" Sasuke berlari bersama kedua asisstennya.
"Di ruang gawat darurat. Nampaknya kanker tersebut semakin menggerogoti tubuhnya."
Dengan tergesah-gesah ia sampai di dalam ruang gawat darurat. Dimana ia melihat Naruko meronta-ronta kesakitan, sebelah tangannya digenggam erat sang ibu dan sebelah tangannya memegang perut bagian kanan.
"Maaf nyonya Uzumaki, bisa anda tunggu di luar?"
"Ta-tapi Naruko bagaimana, dok?"
"Serahkan putri anda pada kami."
Kushina dan Minato mengganguk dan menunggu di luar ruangan tersebut. Namun tak berapa lama kemudian ia melihat putri mereka di bawa menuju ke ruangan lain.
"Mau dibawa kemana Naruko?" Minato menghalangi salah satu assisten Sasuke.
"Kami akan membawanya ke ruang operasi pak, bapak dan ibu bisa mengikuti kami tapi tunggu di luar."
"Tapi kenapa? Apa yg di operasi?"
"Sepertinya tumor yang ada di kandung empedu Naruko telah meluas di daerah vena porta. Oleh karena itu dokter Sasuke akan mengangkat tumor di daerah tersebut, jika tidak diangkat akan sangat berbahaya untuk Naruko." Jelas dokter tersebut, membuat Kushina dan Minato terdiam. "Maaf, saya harus segera membantu dokter Sasuke, permisi."
Di dalam ruang operasi.
Beberapa kali suster mengelap keringat yang keluar dari pori-pori kulit Sasuke. Sasuke begitu serius melihat kondisi tubuh Naruko. "Pisau." Ia berkata hanya sepatah dua patah kata memberi instruksi pada asisstennya.
'Hiduplah... Kumohon dobe, kau harus kuat.' Ucap Sasuke dalam hati ketika tangannya mulai menyayat tiap lapisan kulit tubuh Naruko.
"Dok! Tekanan darah menurun." Seru salah seorang suster, mengagetkan konsentrasi Sasuke.
"Segera berikan transfusi darah!"
"Baik!"
'Hiduplah! Kumohon hiduplah...'
...
...
...
...To Be Continue...
Pojokan Kanon1010:
Nyaphoo!~ teman-teman sekalian, bagaimana chapter ini? Pendek? Makin ga jelas? Atau apa? Silahkan kalian utarakan apapun itu.
Tapi, sebelum kalian mengeluarkan unek-unek di chapter ini. Kanon lihat ada wajah-wajah baru yang memenuhi kolom review.. Siapa sajakah itu? Mari kita lihat teman-teman yang sudah memberikan reviewnya : ^o^
Yuki No Fujisaki : bukan sering bad mood, cuma kanon males buka laptop! Hahaha XDD. Tp tenang kanon cicil kok... Meskipun agak lama.
Dwidobechan : yah begitulah si teme... Dan maaf ga bisa update kilat, soalnya hujan jd terlambat (ga nyambung)
Kaname : makasih ... ^^ kilatnya diganti sama update santai ya hihihi.
Widi orihara : makasih koreksinya, sudah di perbaiki. :)
Moku-chan : makanya moku ajarin si Sasuke deh, daripada dia gila beneran hahahh XDD
Dhekyu : ciee mereka dansa bareng. Tp maaf ya kalo pendeskripsian pas adegan nari kurang. Soalnya kanon seraching gerakan tango, kurang lengkap.
Neerval-Li : iya sih yang tega sebenernya authornya kenapa dibikin begitu (lho? Kanon donk) eheheheh :p
Zoccshan : apakah Sasukenya OOC ? Kanon sih cuma pengen nunjukin sifat lembutnya Sasuke sedikit. Jd masih pengen ttp dia jutek. Chapter ini apa masih ada yg miss? Kanon masih tunggu koreksinya. Yang di chap sebelumnya udh kanon perbaiki. Makasih ya n_n
Haruna Mitsuoka : maaf ga cepet ya... :( semoga menikmati ...
UzuKyu Huri-chan : salam kenal juga ^^ kanon paggilnya siapa nih? ... Kanon berusaha agar karakter sasuke ga ooc. Semoga klo agak ooc ga terlalu parah. Buat karin sama sui emang dia udah kaya pengganti minato sama kushina.
Ciel-kky30 : skrg kanon bayngin Naru narinya hot banget hahahha XDD
NamikazeNoah : siiip! ^^
Shiro Yuki : doakan naru ga mati tapi tewas *dihajar seRT* hihiihih selamat menunggu chap selanjutnya ya n_n
Anne Garbo : gak kok, itu klise banget ceritanya. Jadi ditunggu saja apa naru mati atau nggak ^m^
Adeuzumakichan : bagaimana chapter ini? Penasaran kan... Kalau gitu tunggu chap selanjutnya *maksa* hihihihi mksh udh review ^^
MoodMaker : mau donk! Kalo dia gak mau jadi pasangan naru, kanon pecat dia jadi pacar naru hiihihih
Yennz : makasih n_n... Happy end atau nggak... Terus ikutin fic ini..
Earl Louisia vi Duivel : kalau realnya, org dengan penyakit kaya naru bertahan 6 - 12 bulan aja. Namanya ini juga fic, jd kanon bebas bikin Naruko hidup kapan aja hihhi. Kenapa ga nemu? Mungkin earl jarang main di pairing Naruko jd ga nemu deh. Soal Gaara, kemungkinan gak akan muncul. Kanon bosen kalo saingan Sasuke, gaara mulu. Buat pekerjaan minakushi udah kanon jelasin di chapter ini.
Chikashiki Uchiha : iya, memang garis besarnya di ambil dari beberapa scene di drama tersebut. Emangnya gak baca ya? Di tiap chapter kanon tulis 'inspired story : from one of scene scent of the woman.'Setiap chapter kanon tulis itu. Lain kali lebih teliti ya...
LoveNaru-chan : hmmm sampe berapa chapter kanon juga belom tau.. Jadi tungguin aja ya. Tp ga sampe 10 chap mungkin.
Dark takuma : makasih udh review ya ^^...
Han-yukie : kayanya sih keduannya, bagaimana kalau kita cuci otaknya si teme itu biar cepet sadar fhufhufhu *ketawa jahat*
Aisanoyuri : salam kenal juga ai. Untuk soal drama itu emang bener, kan kanon udah tulis di tiap chapter judul dramanya. Maaf ga cepet update. Makasih buat semangatnya ^w^
Kira hanazawa : makasih kira n_n apakah menikmati chapter ini? Semoga menikmati ya...
..
Nah! Itu dia teman-teman yang sudah meluangkan waktu untuk memberikan review. Chapter kemaren banyak teman-teman baru yang muncul, kanon harap semoga baik teman-teman lama maupun baru, betah di fic kanon ini ya. dan buat yang masih merasa mau juga berinteraksi di pojokan kanon1010 sama kanon, masih kanon buka selebar-lebarnya masukan, kritikan, sanggahan dan apapun itu buat fic ini. so! kanon tunggu di chapter depan.
Kalau begitu sampai jumpa di chapter selanjutnya! ^^...
Have a nice day..
