Just Be Friends – bagian ke 6
Disclaimer by: Masashi Kishimoto
inspired story : from one of scene scent of the woman.
this fic by: Kanon1010
…
Kushina dan Minato menunggu dengan resah di depan ruang operasi. Sesekali tangan Minato menggengam tangan Kushina, memberikan kekuatan untuk percaya bahwa anak mereka satu-satunya akan baik-baik saja.
Kekalutan itu tak hanya dialami oleh kedua orang tua Naruko, tetapi juga Sasuke yang sedang berjuang sekuat tenaga menghidupkan Naruko kembali.
Sasuke sempat panik ketika mendadak tekanan darah Naruko menurun drastis, bahkan bisa dibilang ia hampir putus asa dan mau menyerah saja. Tetapi jika ia menyerah, percuma gelar dokter yang disandangnya selama ini tidak bisa menyelamatkan nyawa seseorang dan itu pasiennya sendiri.
Semenjak semakin dekat dengan Naruko, Sasuke bertekad akan menjadi dokter yang tak seperti dulu (meskipun sifat juteknya tetap tak bisa hilang).
"Tisu." Perintah Sasuke agar suster yang bersamanya mengelap keringatnya.
Tangan Sasuke masih cekatan merapihkan jahitan terakhir di tubuh Naruko. Setelah jahitan terakhir dipotong ia dapat bernapas lega. Dibukanya masker yang menutupi hidung dan mulutnya tersebut, lalu melepas penutup kepala. Ia sempat duduk sejenak menghilangkan lelah akibat berdiri selama kurang lebih 4 jam.
Tak lama kemudian, Sasuke keluar dari ruangan dengan disebelahnya Naruto yang akan dibawa ke kamar rawatnya.
"Dokter Uchiha, bagaimana dengan Naruko?" Kushina langsung menghampiri Sasuke.
"Masa kritisnya telah lewat, kami berhasil mengeluarkan beberapa sel kanker yang telah menyebar tersebut. Namun kami belum berhasil mengambil induk sel kanker yang terdapat di kantung empedu. Jika kami mengambil sel induknya juga, ditakutkan kondisi pasien akan semakin parah atau mungkin akan menghilangkan nyawa pasien." Jelas Sasuke panjang lebar.
"Kami percayakan Naruko di tangan yang tepat. Tolong jaga kepercayaan kami ya dok." Ucap Minato menatap tajam Sasuke. Ia ingin tau apakah pemuda yang bertitle dokter itu menyanggupi permintaannya atau tidak.
Dan yang ia lihat, sorot mata penuh tanggung jawab…
"Terima kasih atas kepercayaan anda, akan saya pegang tanggung jawab tersebut." Balas Sasuke tanpa ragu.
Minato menepuk pundak Sasuke, lalu membawa Kushina menuju kamar rawat Naruko.
…
Jam telah menunjukan pukul 00:00, tepat tengah malam dan hari telah berganti. Sasuke masih berada di dalam ruangannya, sepertinya dia tak akan pulang malam ini. Ada beberapa hal yang ingin ia pelajari mengenai beberapa penyakit pasiennya, terutama Sakura dan Naruko.
Nampaknya kejenuhan telah menghampiri Sasuke, tubuhnya bergerak bangkit dari tempat duduknya. Sedikit perenggangan untuk menghilangkan kekakuan tubuhnya.
Meskipun ini tengah malam, tapi keadaan di rumah sakit sangatlah ramai meskipun tak seramai di siang hari. Hanya dalam film-film keadaan rumah sakit di gambarkan sunyi, senyap, gelap dan mengerikan ketika malam hari. Tapi buktinya sekarang yang terbias oleh retina onyxnya lampu terang, beberapa suster dan dokter jaga berlalu-lalang. Tak jarang juga ada penjenguk yang mungkin keluarga pasien yang melakukan jaga.
Sasuke berjalan menuju cafetaria sekedar untuk membeli kopi. Tapi bukannya berjalan ke arah cafetaria, kaki jenjang itu malah bergerak ke arah sebuah kamar rawat. Sesampainya di ruang rawat tersebut, ia melihat melalui kaca di pintu, Naruko tengah tertidur lelap. Disampingnya sang ibu tertidur dengan bertopang tangan.
"Masuk saja dok," Dibelakangnya Minato berdiri dengan menyunggingkan senyuman sambil membawa segelas minuman, yang mungkin ia beli di mesin minuman.
"Tidak, saya hanya kebetulan lewat saja. Kalau begitu saya permisi dulu."
"Apa anda sibuk dok?"
"Hn, tidak terlalu."
"Bisa kita bicara sebentar?"
Sasuke memandang Minato sekilas, mau menolakpun ia merasa tak enak. Entah mengapa dihadapan pria paruh baya tersebut ia tak bisa berkutik, seakan pria tersebut memiliki aura seorang kepemimpinan yang kuat. Oleh karena itu Sasuke hanya bisa mengatakan.
"Hn."
…..
Minato dan Sasuke sedang duduk berhadapan di cafetaria. Tak terlalu ramai memang, karena waktu masih menunjukan setengah satu malam. Keduanya menyesap aroma kopi yang memenuhi indra penciuman mereka.
"Jadi, dokter Uchiha… bisa anda bilang jujur pada saya, berapa lama lagu Naruko bisa bertahan?"
Terkejut.
Sasuke ragu memberitahukan yang sebenarnya atau berbohong di hadapan pria tersebut.
"Tak perlu ragu, katakan saja sejujurnya saya sudah mempersiapkan diri dengan kemungkinan terburuk yang ada." Minato meminum kopinya sedikit lalu matanya sedikit menerawang ke arah jendela. "Kami tau, umurnya pasti tak akan lama lagi atau bisa jadi hanya beberapa minggu. Kami bahkan tak becus menjadi orang tua, meninggalkan anaknya seorang diri, berjuang melawan penyakit tersebut."
"Ia tak pernah mengeluh kesakitan ketika kami saling berkomunikasi, ia menyimpannya sendiri. Semenjak ia di rawat disini, kami khawatir apa ia akan kuat? apa ia akan baik-baik saja? berbagai pertanyaan berkecamuk dalam pikiran kami."
Sasuke mendengarkan pria paruh baya dihadapannya bercerita dengan seksama. bosan? tentu saja tidak, justru Sasuke merasa ingin mengetahui lebih lanjut apa yang dikatakan Minato.
"Sejak kecil ia sudah sering kami tinggal berpergian, kadang kami titipkan ia di rumah neneknya. Ketika beranjak sekolah menengah atas ia tinggal sendirian, ia mengurus dirinya sendiri, bisa dibilang kami kurang memberikan kasih sayang kami padanya. Tapi, melihatnya tersenyum lebar lalu bercerita dengan riang mengenai orang-orang di rumah sakit ini membuat kami tenang." Minato menatap cangkir minumannya yang tinggal setengah.
"Maaf sebelumnya, maksud anda menceritakan hal ini semua apa?"
Tersenyum. Hanya itu yang dilakukan Minato, tentu saja ia menceritakan hal tersebut bukan tanpa alasan. Ia melihat ada yang berbeda dengan putrinya dan sang dokter di hadapannya saat ini.
"Hanya meminta sedikit bantuan lagi dok, tentu saja meskipun ini berat tetapi inilah keinginan dari Naruko. Ia berkata hal ini ketika kami bertiga sedang bersama."
"Apa itu?"
"Bisakah, kami membawa putri kami keluar dari rumah sakit? ia berkata ia sudah lelah dengan pengobatan selama satu setengah tahun ini."
"Tapi, kondisi putri anda sedang dalam masa kritis." Nada bicara Sasuke mulai meninggi meskipun wajahnya masih menampakkan ekspresi yang sama.
"Kami tau, namun kami hanya ingin menghabiskan waktu bersamanya sebanyak mungkin. Hingga kondisinya stabil, lalu kami akan membawanya."
"Maaf, untuk hal itu saya belom bisa memutuskan. Saya bekerja secara profesional dan tujuan saya adalah membuat pasien-pasien saya sembuh."
Minato tertawa pelan mendengar pernyataan dari Sasuke. "Kalau begitu, apakah ada pasien anda yang sembuh dari penyakit kanker dok?"
Kalimat yang membuat Sasuke mati kutu. Pasien yang sembuh dari kanker? itu mengingatkannya pada salah seorang pasien ibu-ibu yang diusirnya dari rumah sakit, karena menjalani terapi selama 3 tahun tetapi tak membuahkan hasil.
Minato beranjak dari tempat duduknya dan menepuk pundak Sasuke sekilas. "Tak perlu dipikirkan sampai seperti itu dok, maaf jika perkataan saya kurang mengenakkan. Saya permisi dulu."
Kepergian Minato meninggalkan Sasuke yang masih diam terpaku memikirkan apakah ia benar telah menjalankan tugasnya sebagai dokter?
Dan apa ia bisa mengijinkan kepulangan Naruko? tanpa ia sadari ada yang terasa kosong saat memikirkan Naruko tak lagi di rawat, dan ia khawatir bagaimana jika tiba-tiba penyakit gadis itu kambuh.
Nampaknya, malam ini pikiran Sasuke mengusut seperti benang kusut.
…..
Naruko terbangun keesokan harinya, terasa sedikit ngilu dibagian pinggangnya. Rupanya bekas operasi kemarin baru terasa sekarang.
"Selamat sore sayang, tunggu sebentar ibu panggilkan dokter dulu ya."
Naruko hanya diam mencoba mendengarkan apa yang ibunya katakan. Sepertinya kesadarannya belum pulih sepenuhnya. Ia masih merasa linglung dan tubuhnya terasa sangat lelah membuatnya berbicarapun sulit.
Tak lama kemudian Sasuke beserta Suigetsu dan Juugo dan juga Konan datang untuk memeriksa Naruko.
"Apa yang terjadi padaku dok?" kalimat pertama yang keluar dari bibir Naruko.
"Kemarin kami melakukan operasi untuk mengangkat beberapa bibit kanker yang hampir menyebar ke organ vital lain." Jelas Suigetsu.
"Oh…~"
Keheningan terjadi lagi, Naruko merasa masih sangat lemas hingga tak tau apa lagi yang ingin dikatakannya. Ia merasa kantuk mulai menyerang ketika suster Konan selesai menyuntikkan sebuah cairan obat.
"Kami permisi dulu, saat ini ia sedang tertidur efek obat yang tadi diberikan. Ia harus banyak beristirahat agar pemulihannya lebih cepat dan bekas operasi mengering." Jelas Sasuke lalu mengundurkan diri keluar dari kamar rawat Naruko.
Sasuke sebenarnya kurang mengerti apa yang sedang terjadi dengan dirinya, yang ia tau ia selalu terbayang jika melihat ranjang tersebut tak akan ditempati oleh orang yang sama.
…
…...
3 hari kemudian, meskipun tidak bisa dikatakan sehat tetapi Naruko dalam kondisi yang bisa dikatakan sudah lumayan membaik. Minato dan Kushina kembali ke Suna sejak kemarin untuk mengurus beberapa hal yang tak diketahui dengan pasti oleh Naruko.
Bosan…
Bagaimana ia tak merasa bosan jika selama tiga hari hanya berdiam diri di dalam kamar, tak boleh kemana-mana karena Sasuke melarang keras. Narukopun melirik notebooknya yang tergeletak di samping ranjang. Selama ini ia memakai notebook itu hanya untuk berbincang dengan teman-temannya, atau juga membaca beberapa webtoon buatan orang lain.
Ada rasa rindu terhadap salah satu website tersebut, dimana ia biasanya menuangkan cerita dalam bentuk gambar, sekarang malah sudah lama terbengkalai akibat Sasuke marah besar waktu itu.
Meskipun Sasuke melarang mempublish webtoon buatannya, tetapi Naruko masih sering membuat secara diam-diam dan hanya menyimpannya di dalam folder.
"Hmm, kalau ku aktifkan lagi akun ini tak apa kan? yang penting aku tidak mempublishnya."
Tangan lentik itu dengan lincah bermain diatas keyboard memasuki dunia kesukaannya, dunia yang menjadi tempat ia menuangkan segala hal yang ia rasakan, dunia yang seperti buku harian akan tetapi dalam bentuk gambar.
Senyam-senyum sendiri yang dilakukan Naruko selama beberapa menit memandangi layar monitor.
"Kau membuka itu lagi."
Suara berat dan datar itu mengejutkan Naruko dari acara membacanya.
"Do-dokter saya tidak mempublish apapun kok, beneran deh aku cuma membaca saja." Tampak Naruko gelagapan ketika Sasuke melihat apa yang sedang ia lakukan, bahkan ia tak menyadari kehadiran Sasuke disampingnya. Apa mungkin Sasuke itu… hantu?
"Hentikan pemikiran bodohmu itu dobe."
"Dokter Uchiha tau apa yang ku pikirkan?" Naruko semakin horror saja menatap Sasuke yang seakan-akan telah membaca pikirannya.
"Dobe, aku tidak membaca pikiranmu. Dari wajahmu saja sudah bisa terbaca apa yang kau bayangkan."
Naruko mempoutkan bibirnya, lalu menampilkan ekspresi bingung. "Ada apa dokter kemari?"
"Hn, apa ada tempat yang ingin kau kunjungi?"
Naruko berpikir sejenak, kemudian tampak senyuman mengembang di wajahnya. "Kita kesana besok ok!"
...
"YA! kau gila apa kita kesini?"
Gurat-gurat kekesalan Sasuke nampak di wajah tampan dokter muda tersebut. Pasalnya ia tak menyukai tempat yang di datangi Naruko sekarang.
"Tapi, kemarin dokter nanya ke tempat mana yang ingin ku kunjungi. Maka itulah disini tempat yang ingin ku kunjungi, for the last time."
"Hn."
Naruko menarik tangan Sasuke untuk memasuki tempat tersebut, meskipun wajah Sasuke menunjukan ketidaksukaannya namun Naruko tersenyum lebar dengan semangat menarik Sasuke untuk mengikutinya.
Kalian pikir mereka kemana?
Taman bermain? – jawabanya salah.
Game center? – Salah juga.
Aquarium? planetarium? – salah juga.
Mereka ke tempat pagelaran komik atau bisa dibilang seperti pameran komik terbesar se-Konoha. Naruko sangat ingin datang ke acara ini sejak dua tahun lalu, tapi tak pernah kesampaian. Salah satu yang ingin ia lakukan sebelum meninggal adalah membaca komik sebanyak mungkin.
Kekanakan, konyol? mungkin saja. Namun baginya yang menganggap bahwa hidupnya tak akan lama lagi, menganggap hal ini sebagai salah satu cara agar ketika ia meninggal nanti tak memiliki penyesalan.
"Kalau begitu ayo kita mulai memborong!" teriak Naruko semangat.
Sasuke awalnya berpikiran Naruko akan membawanya ke tempat yang telah disebutkan sebelumnya, ternyata otak jeniusnya meleset. Memang Naruko itu tak bisa ditebak dan berbeda dari kebanyakan gadis lainnya.
Sasukepun menyerah dan mengikuti gadis itu dari belakang. Tanpa disadarinya kadang sebuah senyum tipis tercetak di wajahnya ketika melihat tingkah Naruko dalam memilih berbagai macam komik tersebut.
"Ini! buat dokter."
Acara berbelanja komik telah usai, Naruko membawa dua bungkus tas plastik yang berisi komik-komik dan juga berbagai tanda tangan dari beberapa mangaka idolanya.
"Maaf, aku tidak suka membaca komik." tolak Sasuke ketika Naruko memberikan sebuah komik.
"Haiss, simpan saja. Nanti kalau ada waktu luang bisa dibaca, hitung-hitung hadiah ucapan terima kasihku buat dokter karena sudah menemaniku hari ini. Terima kasih ya." Senyum Naruko dengan tulus hingga membuat rona merah macam blush on terpoles di wajah Sasuke.
"Tenang saja, ceritanya tidak terlalu tentang cinta-cintaan aku jamin dokter pasti suka." Lanjutnya.
Dengan ragu-ragu Sasuke menerima komik bersampul dengan gambar guguran daun tersebut, lalu menyimpannya di dalam saku jaketnya yang lumayan besar. Kemudian mereka kembali menyusuri hari yang mulai beranjak senja untuk membawa Naruko kembali ke rumah sakit, mengingat kondisi Naruko yang belum boleh terlalu lelah.
Tak ada obrolan atau suara yang keluar dari keduanya. Sasuke yang merasa aneh biasanya Naruko berkicau dan bertanya mengenai segala macam malah tak ada suara sedikitpun. Perlahan Sasuke menolehkan kepalanya kesamping dan mendapati Naruko tengan tertidur lelap dengang posisi kepala miring menyender ke jendela. Beberapakali Sasuke melihat kepala Naruko yang terkantuk oleh jendela, rasa tak tega ia menepikan mobilnya sejenak dan mengambil sebuah bantal kecil dan selimut di jok belakang dan memakaikannya ke Naruko.
Tampak lebih nyaman dan tenang ketika Naruko menggunakan kedua peralatan tersebut. Sasuke memang selalu menyediakan selimut kecil dan bantal di mobilnya, soalnya keponakannya anak dari Itachi suka tertidur di dalam mobil.
Merasa posisi Naruko sudah aman, Sasuke kembali memacu kendaraannya namun dengan kecepatan yang sedikit lebih pelan dengan harapan kebersamaannya dengan Naruko bisa sedikit lebih lama.
….
Setelah mengantar Naruto kembali ke rumah sakit, Sasuke merebahkan tubuhnya yang lelah di atas ranjang kesayangannya. Ranjang beralaskan sprei berwarna biru tua itu seakan-akan melepas lelah yang menempel di tubuhnya. Meskipun tubuhnya lelah tetapi hatinya tidak merasakan lelah, justru ia merasakan sebuah perasaan yang sudah lama tak ia rasakan lagi.
Mata onyxnya menoleh ke meja nakas disebelah tempat tidurnya dan menatap sejenak sebuah buku yang hanya berukuran 17X10 centi meter dengan halaman kurang lebih 200. Terakhir Sasuke memiliki buku atau yang lebih jelasnya komik adalah ketika ia berada di sekolah menengah pertama, itu juga karena Itachi yang memberikannya.
Sasuke bangkit dari tempat tidurnya dan memandang komik dengan judul "my memory" dengan cover cukup sederhana background biru langit dan ditengahnya hanya bergambar bunga clover yang berkelopak 4.
"Khas anak perempuan, dasar dobe."
Sasuke tertawa kecil mengingat Naruko memberikannya komik tersebut secara cuma-Cuma. Namun ketika ia membuka halaman pertama komik tersebut tercetak sangat jelas nama seseorang yang sangat dikenalnya, bahkan nama tersebut adalah nama seseorang yang belum 24 jam berpisah dengannya.
Uzumaki Naruko
"My Memory"
…
…
…
…To be Continue…
Pojokan Kanon1010:
gomenasai! bener-bener maaf fic ini lama di update dan sekalinya update malah super duper pendek.
bukan maksud kanon menelantarkan fic ini, hal ini dikarenakan dosen pemibimbing skripsi kanon ngajak ngebut selesai-in skripsi dalam waktu 3 bulan! so kanon bener-bener lagi ga ada waktu buat ngetik. Pikiran kanon keburu buntu sama baby skripsi. jadi kanon minta maaf buat semua temen-temen pembaca yang nungguin.
oh ya kanon mau buat kesepakatan nih. kanon "mungkin" bisa update cepat tapi jumlah wordnya dikit (mungkin Cuma 2k). kan biasanya kanon sampe 4k.
jd mau 2k tapi update cepet atau tetep 4k sampe 5k tapi lumayan lama dan ga tentu, bagaimana?
buat yang udh review maaf ga bisa kanon balas satu-satu, tapi kanon tetap ucapkan terima kasih buanyak! ^^
kalau begitu kanon tunggu responnya dan sampai jumpa di chapter selanjutnya ^^…
have a nice day
