Just Be Friends – bagian ke 7

Disclaimer by: Masashi Kishimoto

inspired story : from one of scene scent of the woman.

this fic by: Kanon1010


"Pasien Uzumaki Naruko kemana?" tanya Sasuke pada salah satu suster yang sedang membereskan tempat tidur Naruko.

"Sudah tidak disini lagi dok." Balas suster tersebut dengan memegang nampan yang terletak disamping ranjang Naruko.

"Maksudnya? pindah kamar?"

"Lho, memangnya dokter Uchiha tidak tau? nona Uzumaki sudah keluar dari rumah sakit ini tadi pagi."

Mendengar pernyataan suster tersebut, tak ayal membuat Sasuke berlari ke bagian administrasi untuk mengecek kebenaran perkataan suster tersebut.

Sesampainya di bagian administrasi tanpa permisi atau apa Sasuke langsung bertanya kepada salah satu staff disana.

"Apa benar pasien bernama Uzumaki Naruko sudah keluar dari rumah sakit ini?"

"Tunggu sebentar saya periksa dok." Sekitar 3 menit Sasuke menunggu sang staff yang sedang mencari nama Naruko melalui pencarian komputer. "Ah, benar dok baru tadi pagi sekitar pukul 06.00 pasien bernama Uzumaki Naruko keluar dari rumah sakit."

"Siapa yang mengizinkannya keluar?"

"Menurut keluarga pasien, anda sendiri yang memberikan izin. Ini surat pengantarnya." Staff tersebut memberikan secarik kertas yang berisikan surat keterangan dari Sasuke dan sudah ada tanda tangan Sasuke.

Sasuke mengucapkan terima kasih pada staff tersebut dan pergi menuju ruangannya sambil membawa surat keterangan tersebut. Sepanjang jalan Sasuke memikirkan kapan dia memberikan tanda tangan di surat tersebut. Bahakan jika ini tanda tangan tiruan itu hal mustahil, karena tanda tangan Sasuke bisa dibilang lumayan rumit sama serumit orangnya.

'Dokter, buat kenang-kenangan tolong tanda tangani komik ini ya.'

"Jadi pas itu ya, si dobe itu pintar juga. Lihat saja ku seret lagi kamu dobe."

Sasuke mengacak rambutnya karena berhasil ketipu Sama Naruko yang kemarin ketika sedang membeli sebuah komik di salah satu stand ia meminta tanda tangan Sasuke, tanpa diketahui Sasuke Naruko telah meletakan kertas karbon dibalik lembaran komik tersebut yang diatasnya telah diletakkan surat keterangan tersebut.

…...

Tok…Tok…Tok…

"Hn, masuk."

Suigetsu masuk ke ruangan Sasuke dengan wajah yang tak tau digambarkan seperti apa. Sepertinya Sasuke tau maksud kedatangan Suigetsu untuk apa.

"Sasuke! apa benar Naruko sudah keluar dari rumah sakit?" Sasuke mendengus dalam hati membenarkan perkiraannya.

"Hn."

"Memangnya dia sudah sembuh total? aduh Sasuke, apa jangan-jangan kau mengusirnya sama seperti waktu kau mengusir nyonya Meiterumi waktu itu?"

Sasuke mendelik tajam ke Suigetsu karena telah mengingatkannya pada moment kurang mengenakan itu. "Dia berhasil menipuku untuk mendapatkan tanda tanganku di surat keterangan."

"Maksudnya?"

"Hn, dia berpura-pura menyuruhku menandatangani salah satu komiknya yang ternyata sengaja disiapkannya untuk mengelabuiku."

Suigetsu menepuk jidatnya, karena selama menjadi assiten Sasuke yang ia kenal sebagai salah saorang yang jenius ternyata bisa dikelabui oleh salah satu pasiennya.

"Terus apa yang mau kamu lakukan sekarang?"

"Menyeretnya lagi." Suigetsu menatap Sasuke intens, membuat pemuda bermarga Uchiha itu sedikit risih. "Ada apa?"

Suigetsu menjauhkan wajahnya yang menatap Sasuke, "Bagaiman bisa kau menyeretnya? memangnya kamu siapanya dia? bukankan ada surat keterangan yang meskipun itu akal-akalan Naruko tapi tetap aja itu tanda tangan aslimu. Kurasa kau tak bisa menyeretnya kembali, itu hak pasien Sasuke."

Sasuke terdiam, membenarkan perkataan Suigetsu. Ia memang tak bisa mengembalikan Naruko semudah itu. Bagaimanapun, Naruto telah keluar dari ruamh sakit tempat Sasuke bekerja dan juga ia telah menghentika perwatan dengan Sasuke. Lain hal jika Naruko belum memutuskan perawatan di tangan Sasuke.

Sasuke mengacak rambutnya dan menatap malas pada tumpukan laporan kesehatan para pasiennya.

sebulan lagi…

Itu prediksi yang ia ketahui mengenai keadaan Naruko. Hanya sebulan waktu yang dimiliki gadis itu. Sasuke tau ia bukanlah tuhan yang menentukan nasib pasiennya, namun bila menurut berbagai laporan perkembangan tubuh Naruko kemungkinan itu bisa saja terjadi.

"Sial…"


….…

Hampir seminggu berlalu, dan Sasuke masih belum mengetahui keberadaan Naruko. Diam-diam ia mencari tau dimana Naruko berada, mulai bertanya dari beberapa Suster yang dekat dengannya hingga ke Sakura yang malah tidak mengetahui jika Naruko sudah keluar dari rumah sakit.

Frustrasi, mungkin Sasuke merasa ingin menyerah saja tidak mendapatkan petunjuk apapun.

Tangannya beranjak membuka laptopnya dan berpikir membuka webtoon Naruko, mungkin saja ia mendapatkan petunjuk meski kemungkinannya sangat kecil.

Halaman pertama ia mensearch nama Naruko dan hasilnya ditemukan satu akun yang bernama Naruko1010. Sasuke mengklik nama tersebut dan didapati ada sekitar puluhan komik series di akun Naruko.

Sasuke mengklik pada kolom biodata yang hanya berisi nama berserta keterangan mengenai diri Naruko.

Sasuke mencoba membaca salah satu komik buatan Naruko, dan matanya terhenti pada salah satu series yang hanya berisi 6 panel.

gambar 1 : dengan gaya Naruko versi chibi sedang berbunga-bunga.

"Kalian tau, hari ini aku berdansa dengan dokter Uchiha. Aku rasa hanya mimpi tapi ini mimpi yang sangat indah."

gambar 2 : Naruko sedang bersama Sasuke

"Kami saling berdekatan satu sama lain, pasti dia tau jantungku berdetak kencang."

Sasuke membaca cerita tersebut sampai habis dan tak ia sadari senyuman terpatri di wajahnya. Sebenarnya ia tau kalau Naruko diam-diam mempublish komik buatannya meskipun saat itu Sasuke marah dan melarangnya.

Sasuke hampir putus asa, karena tak menemukan lagi new entri di akun Naruko. Tapi begitu ia mau mengclose matanya melihat laporan di halaman situs itu yang memperlihatkan satu posting terbaru yang ternyata dari Naruko.

Tak ada komik hanya sebuah kata-kata dengan gambar chibi Naruko.

"Pembaca sekalian, terima kasih telah selalu setia membaca

karya-karyaku selama ini. Dengan ini Naru resmi menghentikan akun ini.

maafkan kalau Naru ada salah ya dan terima kasih buat yang sudah membaca komik buatanku yang sudah terbit di pagelaran komik tempo hari.

Oh ya satu lagi, mungkin orang ini gak akan baca, tapi untuk dokterku tersayang, maaf ya sudah menyusahkanmu selama ini. Semoga dokter senang membaca komikku yang khusus kupersembahkan untukmu.

Kyaaa~ wajahku sudah sangat memerah.( /)"

Sasuke melirik sekilas ke komik yang masih teletak manis diatas meja kerjanya. Tangannya bergerak mengambil komik tersebut dan mulai membacanya.

Sama seperti komik-komik yang ada, diawali dengan daftar isi. Halaman selanjutnya terbuka menampakkan gambar hamparan rerumputan dan sebuah kincir angin.

'Jika kau hanya memiliki 7 hari untuk hidup, apa yang akan kau lakukan?'

…..…

Sasuke berjalan menuju ke sebuah kedai ramen di bagian selatan kota. Menurut berita yang beredar kedai ramen tersebut sudah sangat terkenal dengan kelezatannya.

Sasuke bukanlah orang yang menyukai makanan semacam itu, bahkan ia sangat menghindari makanan yang telah ia cap sebagai bukan makanan sehat. Tetapi ada sebuah alasan ia mendatangi tempat semacam itu.

"Selamat datang, silahkan masuk." Sapa seorang pelayan wanita kepada Sasuke dan mengantarnya menuju ke salah satu meja.

Tak lama kemudian pelayan tersebut kembali menghampiri Sasuke dengan membawa kertas dan pulpen. "Mau pesan apa tuan?"

"Satu miso ramen dan ocha panas." Jawab Sasuke singkat sambil matanya memperhatikan ke sekiling kedai tersebut.

"Baiklah tunggu sebentar. Ayah, satu miso ramen dan secangkir ocha!" teriak wanita tersebut kepada seorang pria paruh baya dengan ikat kepala.

Selagi menunggu, Sasuke memperhatikan papan yang terpasang di dekat meja kasir. Dimana di papan tersebut tak hanya daftar menu ada juga foto-foto yang tertempel. Matanya menangkap satu sosok yang dikenalnya dengan baik.

"Silahkan, ini pesanannya." Pelayan wanita tersebut meletakan mangkuk ramen dan minumannya. "Selamat menikmati."

"Maaf, boleh saya tanya?"

"Ada apa ya?"

"Siapa gadis yang ada di dalam foto di papan itu?" tunjuk Sasuke pada objek yang dimaksud.

"Yang dikuncir dua itu? Namanya Naruko, dia salah satu pelanggan tetap. Foto itu diambil sekitar dua tahun lalu, katanya untuk kenang-kenangan sebelum ia pergi." Pelayan wanita yang bernama Ayame itu memandang foto dirinya dan ayahnya berserta Naruko tersebut. "Tapi benar saja, setelah foto itu diambil, dua hari kemudian Naruko menghilang tak ada kabar. Semoga saja ia selalu sehat, maaf apa anda mengenalnya?"

"Tidak, hanya penasaran." Jawab Sasuke singkat.

"Oh begitu, baiklah saya permisi." Pelayan bernama Ayame itu mengundurkan diri dari hadapan Sasuke dan melanjutkan melayani pelanggan lainnya.

Pandangan Sasuke masih tertuju pada foto Naruko yang terpajang tersebut, kemudian ia mengeluarkan komik karangan Naruko.

'Panggil saja aku Aoi, ketika mendapatkan pertanyaan apa yang akan kulakukan jika hanya memiliki waktu 7 hari? aku ingin melakukan hal yang kusukai. pertama mengunjungi kedai ramen kesukaanku.'

Sasuke mencocokkan isi komik tersebut yang bergambar sosok gadis dengan rambut pendek sedang bermonolog sambil menatap awan.

Senyuman terulas dari wajahnya, sepertinya ia sudah menemukan sesuatu yang membuatnya senang.


…...

"Dokter Uchiha! waktunya pemeriksaan rutin." Tegur Juugo yang sudah siap dengan peralatan pemeriksaan.

"Hn."

Seperti biasa, kaki angkuh Sasuke berjalan sepanjang lorong rumah sakit dengan ditemani asisten-asistennya, membuat perhatian orang-orang disekitarnya tertuju kepadanya. Bukan Sasuke namanya jika peduli dengan hal semacam itu, ia malah menganggap mereka tak ada.

"Selamat pagi tuan Jiraya." Sapa sasuke pada seorang pria paruh baya yang sedang tiduran di kasur.

"Pagi dok." Balas pria paruh baya itu sopan.

"Kita mulai pemeriksaannya, Suigetsu tolong cek tekanan darahnya dan Jugo mana laporan terakhir mengenai tuan Jiraya." Dengan sigap keduanya melakukan perintah Sasuke, tak perlu waktu lama untuk melakukan pemeriksaan, hanya sekitar 8 menit dan selesai.

"Baik, keadaan anda sudah mulai stabil saya harap anda menurut minum obat dan juga jangan terlalu sering menggoda para suster." Ujar Sasuke dengan datarnya.

"Hehehe itu tidak benar dokter." Jiraya menggaruk kepalanya yang tak gatal guna mengakali kegugupannya. Maklum, meskipun sudah paruh baya, Jiraya memang terkenal suka menggoda para suster yang sedang mengantarkan obat atau lewat di sekitar kamarnya.

"Baiklah, kami permisi dulu dan selamat berisitrahat." pamit Suigetsu dan keluar dari kamar bersama Sasuke.

Setelah beberapa pasien yang diperiksannya, termasuk Sakura. Sasuke berniat kembali ke ruang kerjannya.

'Dokter Uchihaaaaa temeeeee!'

Sasuke berbalik badan dengan pandangan mencari-cari kesekitar. Ia merasa mendengar suara Naruko yang berteriak memanggil namanya, seperti biasa. Namun sosok itu tak ditemukannya, hanya sebuah ilusi.

Sasuke mengacak rambutnya dan merasa ia sudah gila sampai bisa mendengar suara Naruko. Ia merasa kosong saat gadis itu tak ada lagi. Segera Sasuke kembali ke ruangannya dan membaca lanjutan komik tersebut.

"Waktu yang kupunya hanya 3 hari lagi, sepertinya ada yang terlewatkan. Aku belum menikah."

Sosok tokoh utama yang ingin dipanggil sebagai Aoi itu berjalan kesebuah toko pakaian pernikahan dan mencoba satu-persatu pakaian disana dan meminta pegawai disana memfotonya.

"Tentu saja, aku ingin merasakan menggunakan pakaian pengantin." Ujar Aoi sambil menatap hasil fotonya. "Sayang, sang pengantin wanita tak memiliki pendamping."

Aoi berjalan pulang dan memikirkan apa lagi yang ingin dilakukannya.

…..…...

Sasuke, berjalan menuju ke rumah kakaknya yang terletak cukup jauh dari pusat kota.

"Sasuke! ini kejutan." Pekik sang kakak, Uchiha Itachi girang melihat kedatangan sang adik yang memang jarang berkunjung.

"Sasu, ayo masuk kebetulan nee-san baru selesai masak. Ayo kita makan." Ajak sang kakak ipar sambil menarik tangan Sasuke.

Acara makan di kediaman Uchiha sulung itu sangat ramai, itu semua karena celotehan-celotehan yang keluar dari bibir anak pasangan Itachi dan Deidara itu. Nama anak yang bernama Obito itu selalu mengeluarkan celotehan yang membuat ayah-ibunya tertawa.

Selesai makan, Deidara membawa Obito ke dalam kamar untuk ditidurkan dan Itachi bersama Sasuke duduk di ruang tengah.

"Jadi, apa yang membawamu kemari? bukan hanya numpang makan kan suke?" canda Itachi.

"Hn, bukan aku ingin minta tolong meminjam sesuatu."

"Pinjam? uang?"

"Bukan, tapi…. bisakah aku meminjam pakaian pernikahan kalian?" jawab Sasuke cepat.

"APA? buat apa Sasuke? kau mau menikah? kenapa tak mengenalkannya pada kakakmu ini?" cecar Itachi. Maklum saja, adiknya Ini tipe orang yang susah di dekati. "Jadi siapakah wanita yang sial mendapatkan hatimu itu Sasuke?"

"Berisik."

Itachi menyesap kopi hangatnya lalu menatap Sasuke dengan jail. "Jadi kau tak mau menceritakannya? baiklah tak ada pinjam meminjam." Ancam Itachi.

"Hn, nanti kalau sudah pasti. Aku pergi dulu." Sasuke melenggang pergi begitu saja, meninggalkan Itachi yang masih penasaran mengenai sikap aneh adik satu-satunya itu.

Deidara, keluar dari kamar Obito sambil membawa secangkir kopi untuk Itachi.

"Lho? Sasuke sudah pulang?" tanyanya seraya mendudukan diri disamping sang suami.

"Hn, dia meminjam pakaian pernikahan kita."

"Kadang kelakuan anehnya mirip denganmu sayang."

"Hn, karena kita sama-sama Uchiha."

..

..


...

Hari berganti begitu cepat, tak terasa bagi Naruko yang menikmati sisa hidupnya. Semilir angin menerpa tubuhnya seakan bisa menerbangkan jiwa itu kapan saja.

Tangannya bermain diatas rumput ilalang yang setinggi lututnya, menyentuh tiap gesekan dari tumbuhan tersebut.

Jalannya terhenti di depan sebuah kotak surat berwarna merah, ia pandangi sejenak kotak surat tersebut. Sebuah kotak surat yang konon kabarnya bisa mengantarkan surat kepada orang-orang yang sudah meninggal.

Jadi, Naruko mengirim surat ke siapa?

Ia menarik napas sejenak dan bersiap memasukkan surat tersebut. Surat dengan tinta berwarna biru diatas kertas berwaran putih.

"Surat untuk siapa?"

Suara itu.. Suara yang sangat dirindukan Naruko, ia berbalik badan dengan harapan jika pemilik suara itu adalah orang itu, Dokter Uchiha Sasuke.

"Tidak sesuai harapanmu ya?" orang tersebut tersenyum mengejek.

Naruko mentap bingung sosok pemuda berambut orang kemerahan, tubuh yang cukup atletis didukung wajah yang lumayan tampan.

"Siapa?" hanya itu yang bisa Naruko ucapkan pada sosok pemuda yang sedang berjalan ke arahnya, lebih tepatnya ke arah kotak surat tersebut. Tanpa disangka pemuda tersebut membuka kunci kotak surat itu dan mengambil beberapa surat di dalamnya lalu memasukkannya kedalam tas.

"Apa kau si pengantar surat itu?"

"Maaf, waktu habis." Pemuda yang bahkan tak Naruko ketahui namanya itu, berjalan menjauhi Naruko. Tapi tak lama kemudian ia berbalik menatap Naruko. "Pikirkan kembali sebelum mengirim surat itu, lagipula surat yang bisa masuk kedalam sana, hanya surat dari peneyesalan orang-orang yang ditinggalkan. Bukan untuk dikirimkan untuk diri sendiri.

Naruko tertegun, tak bisa berucap apa-apa mendengar penuturan pemuda itu. Pemuda itu semakin jauh, jauh, dan tak tampak lagi sosoknya. Naruko terduduk disamping kotak surat itu.

Surat yang ia pegang, ia robek dan membiarkan potongan kertas itu terbawa angin.


...

"Jadi, bisakah aku mengajukan cuti untuk dua minggu?"

Seorang wanita dengan wajah tegas di usia yang tak bisa dikatakan muda, memadang salah seorang dokter rumah sakit tempatnya bekerja dengan tatapan menyelidik. Ia membenarkan kacamata yang sedikit melorot dan menganggu pemandangannya.

"Jadi, benar kau akan membawa kembali pasienmu itu, dokter Uchiha?"

Wanita berkepala 5 itu balik bertanya pada Sasuke yang sedang mengajukan surat permohonan cuti sementara selama dua minggu. Tentu saja sebagai kepala dokter, Hashirama Mito terkejut dengan permohonan Sasuke yang tiba-tiba. Setaunya Sasuke seorang dokter yang pantang mengajukan ijin semacam ini. Bahkan dikala di saat waktu jatah libur, ia tetap bekerja dengan alasan tak bisa meninggalkan pasien-pasiennya.

Tapi sekarang? mendadak ia mengajukan cuti, dimana ada beberapa pasien yang sedang membutuhkannya.

"Apa berita itu benar Dokter Uchiha?" Sasuke cuma diam menatap Hashirama Mito . "Berikan alasan logis dan kuat kenapa saya harus memberikanmu ijin? anda tak lupa dengan pasien-pasien anda yang berada disini kan?"

Sasuke diam sejenak, lalu mentap wajah sang kepala dokter dengan wajah tanpa ragu. "Dia salah satu pasien saya juga dan saya bertanggung jawab terhadap keadaan dirinya."

"Anda menempatkan diri sebagai dokternya atau sebagai seseorang yang dibutuhkannya, atau mungkin anda yang membutuhkannya?" Balas Mito tanpa menunggu Sasuke selesai berbicara.

…...

Sudah hampir dua minggu, Naruko menghabiskan waktunya bersama kedua orangtuanya. Kushina dan Minato setia mendampingi anaknya, meskipun mereka harus bolak-balik rumah sakit untuk mengantar Naruko, berobat jalan. Minato hanya bisa pasrah mengikuti permintaan anaknya yang tak mau dirawat di rumah sakit.

Selama menghabiskan waktunya, Naruko selalu pergi ke suatu tempat sambil membawa buku sketsa dan melakukan kegiatan yang disukainya.

"Hampir waktunya, apa masih bisa bertemu?"

Lirih Naruko pada angin yang berhembus, dengan harapan ucapan kecilnya bisa terdengar sampai ke seseorang yang dirindukannya.

Sejak awal masuk rumah sakit tempat Sasuke bekerja, Naruko sudah membulatkan tekadnya untuk menyukai dokter yang terkenal tanpa belas kasihan itu. Naruko berpikir mungkin karena Sasuke tak memiliki kekasih makanya ia terlalu cuek dan dingin, maka dimulailah pengejaran Naruko agar Sasuke menyukainya.

Namun, semenjak Sakura datang ia tau mengapa Sasuke menjaga jarak pada setiap wanita. Ternyata ia masih menyimpan rasa pada gadis berambut pink tersebut. Sedikit sakit saat Naruko mengetahui kenyataan tersebut dan mulai saat itu ia mundur secara perlahan untuk mengejar Sasuke. Mungkin tanpa ia ketahui usahanya itu membuat sebuah ruang di hati terdalam Sasuke.

Naruko memejamkan matanya menikmati semilir angin di padang rumput tersebut. Padang rumput dimana ada sebuah kincir angin yang bergerak jika ada angin datang. Sebuah tempat yang dapat menenangkan Naruko. Bahkan ia sempat terpikir dengan keinginannya jika ia telah meninggal nanti, ia ingin dimakamkan di tempat tersebut.

"Hah, sepertinya kertasnya mulai habis." Naruko melihat beberapa lembaran terakhir dari buku sketsanya. "Semoga saat lembaran ini habis, maka habis juga masa hidupku."

Naruko memeluk buku sketsa yang berisikan gambar-gambar wajah sang Uchiha Sasuke.


…...

Hari minus dua, Aoi sudah bersiap dengan pakaian khasnya yaitu t-shirt dengan kaus putih dengan rambut dikuncir satu. Aoi memutuskan untuk berkunjung ke sebuah panti asuhan. Salah satu keinginannya sebelum meninggal, membantu sesama.

"Aoi."

"Kuro-kun." Balas Aoi ketika mendapati seseorang yang ia kenal di masa lalu,

Tanpa melanjutkan kata-kata atau menyapa Aoi, penuda bernama Kuro itu langsung memeluk tubuh Aoi dengan erat. Aoi masih bingung dengan perlakuan Kuro. Ia masih diam di tempat tanpa membalas pelukan Kuro.

Kemudian air matanya mengalir ketika Kuro membisikan satu kata.

"…."


Sasuke mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, menuju ke arah dimana seseorang itu berada. Mungkin ia terlalu munafik menyangkal perasaannya, dan untuk kali ini ia yakin bahwa apa yang dilakukannya saat ini benar dan sesuai dengan keinginan hatinya.

Terlihat….

Rambut kuning keemasan yang terbelai angin…..

Tubuh mungil yang sangat rapuh….

Dan senyuman yang dirindukan oleh Sasuke…

-Grep- Sasuke memeluk sosok tersebut dari belakang, membuat sosok tersebut menegang kaget dengan sentuhan tak terduga tersebut.

Dia, Uzumaki Naruko akhirnya ditemukan.

"Naruko…..Daisuki…"


….

TO BE CONTINUE

….


Pojokan Kanon1010:

YO! minna-chan ^^ apa kabar?

hei kalian marah sama kanon, karena kelamaan update dan sekalinya update malah pendek *pundung* (T_T).

maaf banget *bow* bulan-bulan kemarin, kanon sibuk sama skripsi dan sekarang sudah free, hei im graduate now! akhirnya sudah menyandang gelar *pamer* hahahah XDD kanon sama dosen lagi bekerja keras bilan-bulan kemarin.

sekarang kanon usahakan updatenya cepet, fic lain juga kanon usahakan juga ^^

fic JBF ini sepertinya chapter depan adalah ending. Oh ya ada yang nyadar ga di bagian akhir kanon masukin adegan seperti di film POSTMAN TO HEAVEN. Hihihii kanon suka film itu selain jalan ceritanya yang unik yang main kim jaejoong, idola kanon hahahah.

oh ya maaf kanon belom bisa balas review, but makasih ya buat yang review + fav+ follow+ ih kanon ga nyangka, lagi masa off kemarin masih banyak yang mau baca fic-fic kanon sekali lagi TERIMA KASIH ^^ *kiss*

buat : Ayame Nakajima, Sonianerrissa, Namikaze Ryuuki Ananta, Velovexiaa, Momo haku, ddpoetrieyahoo, Anne Garbo, Adeuzumakichan, Ness Kurama Desu, Moku-chan, lawliet Uzumakie, Zoccshan, Neerval-Li, Wazuka Arihyoshi, dwidobechan, Fran Fryn Kun, AzuraCantlye, Yanna Suboto, Aisanoyuri, Yuki no Fujisaki, Hanazawa kay, Kuas tak bertinta, Dee chan – tik, NamikazeNoah, Hanyukie, Miakro, Shiro Yuko, Kaname, Dhekyu, Dark takuma, Lovenaru-chan dan tentu saja KAMU SEMUA YANG UDAH BACA FIC KANON1010 ^0^

sekali lagi terima kasih masih setia menunggu ^^

dan sampai jumpa di chapter depan….

have a nice day ^^