Just Be Friends – the last

Disclaimer by: Masashi Kishimoto

inspired story : from one of scene scent of the woman.

this fic by: Kanon1010


-Sometimes we just need someone who can make us happy today, to erase all bad memories in yesterday- by LTBA

.

.

.

.

Naruko POV

Jika waktu bisa dihentikan, pasti banyak orang sudah menghentikan waktu….

Tapi, apakah dengan menghentikan waktu kita bisa melangkah lebih jauh? apa dengan menghentikan waktu semua akan baik-baik saja? bagaimana dengan masa depan?

Mungkin, bagiku saat ini aku hanya minta 5 menit waktu berhenti. Mencoba mempercayai apa yang sedang terjadi saat ini bukanlah sebuah ilusi atau khayalan yang selalu kuimpikan.

Menikmati tiap sentuhan yang pria ini berikan. Pelukan hangat yang selalu kuinginkan setiap melihat punggungnya. Ucapan manis yang selalu kuinginkan setiap melihat bibirnya berbicara.

Tuhan… aku tak mengaharapkan apapun lagi, aku tak memikirkan kapan kematian datang menjemputku.

Aku hanya ingin menikmati saat selama aku bisa menghirup udara ini…

Selama mataku masih bisa melihat matahari terbit…

Dan saat aku masih diberikan begitu banyak cinta dari orang-orang diseklilingku…

Terima kasih Tuhan… telah memberikanku kehidupan meskipun hanya singkat namun sangat berarti untukku.

End Naruko POV


…...

"Apa yang membuatmu datang?" Naruko bertanya pada Sasuke yang duduk disebelahnya. Keduanya menikmati angin yang berhembus, melihat kincir angin yang bergerak akibat terpaan angin dan kedua tangan mereka saling bertautan.

"Hn, hanya ingin menyeret seorang pasien." Jawab Sasuke singkat tanpa mengalihkan pandangannya kedepan.

"Pasti pasien itu sangat nakal. Benarkan, dokter Uchiha?"

Naruko tertawa kecil melihat ekspresi wajah Sasuke yang terpatri senyum kecil. Senyuman yang sangat manis menurutnya. Bayangkan selama ini ia hanya melihat wajah Sasuke yang datar, atau ekspresi jutek selama hampir setiap hari. Tentu saja saat melihat ekspresi yang saat ini merupakan hal langka bagi Naruko.

"Daisuki."

"Terima kasih, tapi bisakah kita hanya menjadi teman?" Naruko menghela napas sejenak, tanpa mendengar jawaban Sasuke, ia bisa membaca apa yang mau dikatakan Sasuke dari wajahnya yang tampak bingung. "Iya, bisakah kita hanya berteman tanpa ada hubungan yang lebih jauh? aku sangat senang mendengarnya tapi kau sendiri tau, apa kau siap aku tinggal pergi? oleh karena itu lebih baik kita hanya berteman Sasuke, Just be friends itu sudah cukup bagiku."

Sasuke mengeratkan genggaman tangannya. "Aoi meninggalkan Kuro tanpa alasan yang jelas yang membuat keduanya berpisah. Setelah keduanya kembali bertemu dan setelah Kuro mengatakan bahwa ia sangat mencintai Aoi. Namun untuk kedua kalinya Aoi meninggalkan Kuro. Tapi apa yang Kuro temui, hanya sebuah batu nisan yang dingin dengan ukiran nama Aoi, membuat Kuro merasa sebagai pemuda bodoh yang tak bisa memperjuangkan dan mencari tau apa yang membuat Aoi meninggalkannya seperti itu."

Naruko terdiam mendengar Sasuke yang menceritakan isi dari bagian akhir komik yang ia buat. "Maaf saja, seorang Uchiha tak sebodoh tokoh Kuro yang kembali dibodohi kedua kalinya oleh Aoi. Aoi dan Uzumaki Naruko berbeda, Kuro dan Uchiha Sasuke berbeda. Mungkin bodohnya Aoi memang mirip denganmu, tak ingin melihat orang yang dicintainya bersedih. Tapi, apa setelah itu Kuro tak akan lebih terpuruk? kau ingin aku terpuruk karena muncul dan melihatmu telah bersatu bersama tanah?" Naruko menunduk dan menggeleng lemah.

"Oleh karena itu, biarkanlah aku mendampingimu hingga saat itu benar-benar datang. Aku tak munafik jika mengatakan ini hal menyebalkan karena baru saja memilikimu tapi harus kehilanganmu. Tapi aku tau bahwa tuhan lebih mencintaimu dan ia yang memilikimu, maka ia memanggilmu lebih cepat. Jadi bolehkah aku berada disampingmu hingga hari itu datang?"

Tatapan onyx Sasuke yang tajam dan penuh keyakinan itu, membuat Naruko seakan tak bisa berkutik lagi. Ia hanya bisa menghambur dalam pelukan Sasuke sambil mengeluarkan air mata dan berkata terima kasih berulang kali.


….

Kusina, merengut kesal melihat wajah Sasuke yang minim ekspresi. Ibu satu orang anak itu berulang kali menarik kedua pipi Sasuke agar pria tampan itu mau sedikit saja menampilkan senyumnya.

"YA! Sasu-chan! berapa harga senyumanmu sih? susah banget buat senyum sedikiiiit saja." Kushina merengut kesal dan kembali mencubit-cubit pipi Sasuke.

"Ibu! sudahlah, memang itu sudah ciri khas dokter Uchiha."

"Betul itu sayang, jangan terlalu memaksa. Nanti disuntik bius sama Sasuke mau?" Minato ikut menimpali perkataan Naruko.

"Kalian ini, masa dengan baju seperti ini wajahnya datar begitu. Jangan-jangan ia tak serius mencintai putri kesayangan kita." Kushina memicingkan matanya dan bergaya ala detektif.

"Kushina-san, bisakah anda memfoto kami sekarang juga?"

"Baiklah, ambil posisi. Satu….. Dua….. Tiga….."

Jepret…

Hasil dari foto dengan menggunakan kamera polaroid itu adalah, foto Sasuke dan Naruko yang sedang menggunakan pakaian pengantin yang tentu saja pakaian itu merupakan milik Itachi yang dipinjamnya beberapa hari lalu ia pinjam.

Di dalam foto itu Naruko dengan pose duduk disebuah kursi putih sambil menggenggam buket bunga yang dibuat dari hasil petikan bunga di taman belakang rumahnya. Dress berwarna putih tanpa lengan itu membuat Naruko sangat cantik, Lalu Sasuke berdiri disebelah Naruko sambil tersenyum tampak sangat tampan. Di pose yang kedua Sasuke menggendong Naruko dengan cara bridal lalu mengecup pipi Naruko.

Kushina tak kuasa menahan tangisannya melihat Naruko tampak sangat bahagia. Seakan gadis itu tak memiliki penyakit yang menggerogoti tubuhnya.

"Kita ke rumah sakit ya." Bujuk Sasuke yang sedang melepaskan tuxedonya.

Naruko menggeleng. "Maaf Suke, tapi aku ingin menikmati hidup selayaknya orang normal. Bukannya aku menyerah, tapi aku hanya ingin benar-benar menikmati apa yang masih bisa kurasakan saat ini."

"Baiklah, aku tak akan memaksa." Sasuke mengecup mesra kening Naruko.

Hei, jika dilihat apa Sasuke terlalu out of character? mungkin sebagian mengatakan setuju dengan Sasuke yang OOC. Tapi hanya di depan orang yang Sasuke cintailah ia bisa bersikap OOC semacam itu. Apa kalian masih ingat ketika Sakura kembali muncul dihadapan Sasuke? bukankah ia juga ooc?


…..

Rencana Tuhan memang tak ada yang bisa menebaknya….

Manusia memang hanya bisa merencanakan, tapi sang sutradara adalah tuhan…

Kita manusia hanyalah pemeran dalam panggung yang bernama kehidupan….

…..


"Dokter, pasien kamar 402 saat ini sedang kritis." Suigetsu berjalan disamping Sasuke menuju ruang operasi dimana salah satu pasiennya sedang dalam kondisi kritis dan ia harus segera melakukan operasi.

"Segera siapakan semuanya dan kita akan melakukan pencangkokan, keluarga yang akan mencangkokkan sumsum tulang belakangnya sudah berada di ruang operasi juga?" tanya Sasuke yang memakai pakaian operasi.

"Sudah dok, semua sudah siap."

"Hn, kita mulai."

….

...

Sudah lewat 2 bulan, sejak prediksi Sasuke pada kehidupan Naruko. Sekali lagi manusia hanya bisa merencanakan, namun mukzizat tuhan lebih berkuasa. Karena ia sang sutradara kehidupan.

Meskipun telah melewati prediksi atas hidup Naruko, lantas tak membuat Naruko sembuh total, tentu tidak. Naruko masih harus menjalani kemoterapi yang sangat dianjurkan oleh sang kekasih. Ia tak memaksa Naruko tinggal di rumah sakit lagi, ia bisa melakukan rawat jalan. Namun sesekali ia menginap di rumah sakit jika dalam kondisi yang mengkhawatirkan.

Saat ini, Naruko sedang duduk di kursi roda dengan infus disampingnya. Ia menatap keluar jendela dari kediaman Sasuke sambil memegang buku sketsanya. Sejak sebulan yang lalu Naruko diajak Sasuke untuk tinggal bersama. Tentu saja Kushina dan Minato awalnya menolak keras, namun mendadak Minato diperintahkan untuk ke pedalaman Amegakure. Minato yang tak mau meninggalkan Naruko menolak tawaran tersebut dan melanjutkan pekerjaan yang ada meskipun harus berjauhan karena laboratorium penelitian mereka jauh dari Suna.

Karena kondisi Naruko semakin melemah, mereka membiarkan Sasuke membawa Naruko dan tinggal di kediamannya.

"Menggambar lagi?" Sasuke memeluk Naruko dari belakang dan mengecup pipi yang mulai mengurus itu.

"Tidak, hanya sedang memandang jalanan." Senyum Naruko dan mengecup balik pipi Sasuke. "Tumben sudah pulang?"

"Setelah melakukan operasi, aku mengantuk. Lebih baik pulang." Sasuke merebahkan dirinya di sofa tak jauh dari Naruko duduk. "Sebelum tidur, apa ada yang kau rasakan hari ini dobe?"

"Hentikan panggilan dobe itu, teme!" Naruko mempoutkan bibirnya yang sudah tak semerah cherry lagi. "Tidak ada, aku merasa sehat, segar bugar."

"Kau tak berbohong? obat sudah diminum?"

"Sudah dokterku, lebih baik sekarang dokter yang satu ini mandi, soalnya masih tercium aroma bekas operasi, darah dan obat-obatan menempel di tubuhmu." Naruko berpura-pura menutup hidungnya.

"Hn."

Melihat Sasuke yang menjauh dan memasuki kamar mandi, Naruko menatap lirih arah Sasuke pergi dan ia menangis dalam diam, menahan sakit yang sebenarnya menjalar perutnya sejak tadi. Namun ia menahan sakitnya agar Sasuke tak cemas, ia tau kekasihnya itu sangat lelah.

"Gomenasai Sasuke…"


…..

Sasuke menatap nanar objek dihadapannya, hampir memasuki akhir musim dingin di bulan Maret. Udara yang mulai menghangat dan bunga-bunga musim semi mengiringi kepulangannya kepada sang pencipta.

Akhirnya hari itu tiba…..

Hari dimana ia kembali kepada sang pencipta. Segala upaya telah Sasuke lakukan, namun disaat terakhir ia mengatakan.

"Aku lelah, bolehkah aku tidur?"

Ia lelah… masa hidupnya telah berakhir… namun, tak ada kesedihan di wajah itu. Hanya senyuman manis menghiasi wajah tidur lelapnya. Ia tertidur dimana sebelum ia memejamkan mata, ia melihat orang-orang yang disayanginya berada disekitarnya. Tak ada penyesalan, ia pergi dengan perasaan bahagia.

….

Hari itu, sehari sebelum ia pergi ketika ia terbaring lemah di ranjang. Dimana Sasuke setia menemaninya selama 24 jam mengontrol kesehatan sang kekasih.

"Suke, ayah dan ibu dimana?" tanyanya dengan suara lirih.

"Mereka sedang pulang untuk berganti baju, ada apa?" tanya Sasuke mengusap rambut Naruko yang mulai kusam.

"Katakan pada ibu, tolong bawakan bento yang banyak saat kesini."

"Hn?"

"Bolehkah kita berpiknik? tenang kita makan bersama di kamar ini saja." Naruko tersenyum pelan dan mengusap tangan Sasuke. "kumohon, undang juga dokter Sui, dokter Juugo, suster konan dan lainnya juga ya."

Sasuke menghela napas panjang dan mentap Naruko lembut. "Baiklah, akan kuberitahu mereka. Sekarang tidur, sejak siang kau belum tidur dobe."

Naruko tertawa pelan, meskipun wajahnya pucat tapi bagi Sasuke Naruko tetap seperti Naruko yang manis. "Sepertinya aku akan merindukan panggilan dobe itu."

"Tidurlah…."

Keesokan harinya, sesuai keinginan Naruko yang ingin berpiknik atau kenyataanya hanya berkumpul dan makan bersama. Orang-orang yang Naruko kenal, dan orang-orang yang membantunya selama ini hadir dan berkumpul dalam ruang kamar VVIP tersebut. Sakura dan Sasori juga datang.

"Bagaimana sayang, makanannya enak?" tanya Kushina yang menyuapkan sushi kedalam mulut Naruko.

"Makanan buatan Ibu selalu enak!" Naruko mengacungkan kedua jempolnya.

Semuanya bersenang-senang, meski tak terlalu ribut mengingat mereka berada di rumah sakit bukan di lapangan.

Satu persatu Naruko memandangi waajah orang-orang tersebut dan senyum terus terkembang di wajahnya melihat orang-orang itu dengan berbagai ekpresi.

"Apa yang kau perhatikan?" Sasuke duduk disebelah Naruko dan memeluk pinggang Naruko.

"Hanya memandang wajah mereka semua, aku ingin mengingat ekspresi terakhir di wajah mereka semua." Naruko menoleh memperhatikan wajah Sasuke. "Aku juga ingin mengingat wajah mu." Naruko mengelus wajah Sasuke dari atas sampai ke dagunya. "Mata ini, mata yang selalu melotot kalau ku goda dokter uchiha teme namun sekarang tatapan mata ini selalu menghangatkan. Hidung ini, selalu mendengus jika aku membuat terlalu banyak ulah. Bibir ini, selalu berkata ketus dan irit mengeluarkan kata tapi sekarangm bibir ini mengeluarkan kata-kata penenang dan lembut."

Sasuke mempererat pelukannya pada Naruko, ia merasa tak enak seakan apabila pelukan itu ia longgarkan Naruko akan pergi dan tak bisa ia jangkau lagi.

"Maaf karena menyusahkanmu dari awal pertemuan hingga akhir. Terima kasih, karena berada disisku hingga saat itu tiba dan aku mencintaimu dokter uchiha teme." Perkataan Naruko membuat Sasuke tanpa sadar mengeluarkan air mata yang lain pun tertegun mendengar kata-kata Naruko untuk Sasuke.

"Sudah, kau terlalu banyak bicara dobe."

"Besok musim semi datang…. mereka menyambutku." Naruko merebahkan kepalanya dipundak Sasuke. "Aku lelah dan aku ingin tidur, Oyasumi semuanya."

Genggaman itu melemah, Sauke tau Sasuke mengerti namun ia hanya meminta biarkan ia memeluk Naruko hingga gadis itu benar-benar terlelap dalam tidur panjangnya.

"Tidurlah dan bermimpi yang indah."

....

"Sasuke, kami pamit." Suigetsu menepuk pundak Sasuke memberikan kekuatan pada kawannya itu.

Satu persatu orang-orang meninggalkan pemakaman tersebut, meninggalkan Sasuke berserta Minato dan Kushina. Sasuke masih setia duduk disamping nisan Naruko. Tubuh gadis itu telah bersatu dengan tanah.

"Sasuke, ayo pulang." Ajak Minato.

"Duluan saja, nanti aku menyusul."

"Baiklah, kami tunggu." Minato sambil memeluk Kushina yang terisak melepas kepergian sang buah hati. berjalan menuruni bukit dimana Naruko tinggal untuk tidur selamanya.


Sasuke POV

Kau datang dan pergi sesuka hatimu…

Kau mendobrak dinding pertahanan yang kubuat selama ini…

Kau, bagaikan matahari….

Lihat, aku benarkan dobe. Aku tak sebodoh tokoh Kuro dalam komikmu. Aku berada di sisimu hingga hari ini tiba. Kau pun tak seperti Aoi yang pergi dalam kesunyian, dan tanpa senyuman. Tapi kau pergi dengan senyum manismu dan tanpa beban sama sekali.

Aku tak akan terpuruk seperti Kuro, karena apa? karena aku selalu berada disampingmu, menemanimu menikmati hari dimana kau masih bisa bernapas dan merasakan hangatnya matahari.

Terima kasih telah hadir dalam hidupku….

Maaf jika perasaan ini datang telalu lama, dan membuatmu menunggu….

Aku mencintaimu tanpa sebuah alasan, jika mencintaimu memerlukan alasan apabila alasan itu sudah tercapai, aku tak bisa mencintaimu lagi…

Karena aku tak bisa menjadi sahabatmu, aku hanya ingin menjadi seseorang yang spesial melebihi sahabat bagimu…

Selamat tidur kekasihku…..

End Sasuke POV


"The End"

.


Pojokan kanon1010:

AYEEEYYY! tamat juga fic ini….

maaf ya buat yang mau happy ending gak kanon kabulin, tadinya mau happy ending, tapi pas lagi asik ngetik ide mengalir dan jadilah semacam ini. maaf jika mengecewakan di endinganya :'(

makasih buat semua yang sudah mengikuti fic ini dari awal sampai akhir, udah mau nunggu meskipun lama updatenya. Makasih buat pujian, masukan, kritikan yang selama ini kalian berikan untuk kanon *hugs*

oh ya apa fic ini terlalu angst? kayanya banyak yang nangis baca fic ini… maaf ya yang jadinya sedih baca fic ini .. lain kali kanon buat yang happy lovey dovey deh heheheh :3.

ok! maaf reviewnya tidak kanon balas, Cuma kanon sudah baca semua reviewnya dan kanon sangat… sangat berterima kasih yang mau review, mau fav fic ini, follow fic ini, fav kanon juga. silent reader juga makasih banyak ^^

sampai jumpa di fic kanon1010 lainnya…..

have a nice day ^0^