Nyaann Nyaann Nyaann ohayou minna~

Gomenne... Nia baru bisa update sekarang karena harus bikin karya ilmiah!

Semoga Nia ga bikin readers kecewa

Here it is, chapter 2 of 'Can't Let You Go'... A K Fanfic!

Happy reading, minna~


DISCLAIMER : K sepenuhnya milik Gora Hands, but this story belongs to me ^_^

WARNING : Ga jelas, abal-abal, typo, alur tak menentu, dan perasaan tak terlalu tersampaikan

DANGEROUS WARNING : Yaoi, semua hal yang mempengaruhi readers tidak menjadi tanggung jawab author

PAIRING : Yata MisakixFushimi Saruhiko


Senin pagi.

Seharusnya masyarakat-masyarakat biasa pada umumnya akan memulai hari mereka dengan bangun tidur, mandi, lalu sarapan sereal atau roti panggang dan minum segelas susu hangat. Seharusnya masyarakat-masyarakat biasa pada umumnya mengecup kedua orangtuanya dan suami atau istrinya sebelum berangkat ke sekolah atau ke tempat kerja. Sayangnya, hal ini sama sekali tidak berlaku untuk dua golongan yang sekarang terlihat super sibuk, terlebih Scepter 4. Setelah mendapat informasi dari Kamamoto bahwa jenazah sahabatnya, Yata Misaki, yang akan dikebumikan siang itu raib, masalah mereka bertambah satu. Dan itu yang membuat seluruh anggota klan biru kalang kabut.

Mari kita pikir-pikir kembali.

Yata Misaki merupakan seorang anggota di HOMRA.

Yata Misaki tidak memiliki hubungan apapun dengan Scepter 4.

Nyawa Yata Misaki tidak dihabisi mereka, melainkan oleh segerombolan pemerkosa liar.

Lantas, mengapa Scepter 4 repot-repot membantu HOMRA mencari seorang Yata Misaki?

Jawabannya mudah saja. Karena para anggota Scepter 4 tidak ingin terkena lemparan luapan amarah dan jeritan frustasi-atau bahkan percobaan bunuh diri-dari seorang teman kerja mereka, Fushimi Saruhiko. Mereka sangat mengerti temannya yang satu itu memiliki perasaan khusus terhadap pemuda berambut cokelat kastanye yang kemarin sudah terbujur kaku a.k.a. is dead di peti kayu buatan Kusanagi Izumo. Jadi, lebih baik mereka segera menemukan mayatnya sebelum Fushimi datang.

Ya, sebelum Fushimi datang. Sebelum. Fushimi. Datang.

Seingat memori-memori di otak mereka, seorang Fushimi Saruhiko selalu datang lebih pagi dari semua orang yang ada di Scepter 4. Bahkan, Munakata yang terlihat tidak peduli sedikit terkejut dengan keterlambatannya. Namun, ia dapat memaklumi alasan yang mungkin akan dilontarkan oleh pemuda berambut dark blue itu. Munakata pun sudah mempersiapkan diri agar tidak tertawa terguling-guling jika nanti melihat penampilan bawahannya-dalam benaknya-yang berantakan dengan mata cengkung, sembab, dan terdapat lingkaran hitam di bawahnya serta sikapnya yang menjadi lebih ketus dari sebelumnya.

Tetapi, persepsi Munakata, serta semua orang ada yang dalam kantor yang terbilang mewah itu, salah besar. SALAH. BESAR. 180 derajat terbalik.

Fushimi Saruhiko sedang berdiri disana-di depan pintu masuk ruang kerja Scepter 4 sambil memasang kacamatanya. Semua orang terbengong-bengong akan kehadirannya-termasuk Munakata, seorang raja biru dan Awashima, letnan perempuan yang disegani. Bukan karena mereka tidak dapat menemukan lingkaran hitam yang seharusnya menggantung di bawah kelopak matanya. Bukan pula karena penampilannya yang jauh dari kata acak-acakan. Juga bukan karena kedua bola matanya yang berkilat cerah.

Seorang Fushimi Saruhiko, laki-laki berumur 19 tahun. Pemuda yang dikenal dengan 'Silent Killer' itu sedang mengulas senyum di bibirnya yang merekah. Bukan senyum sinis atau cengiran ejekan yang biasa ditunjukkannya. Benar-benar sebuah senyuman tulus. Pipinya pun bersemu kemerahan, yang menunjukkan suasana hatinya yang sedang berbunga-bunga. Dan yang paling mengagetkan adalah sa-

"Ohayou, Munakata-sama..."

-at ia menyapa atasannya-yang masih melongo-dengan nada dan intonasi bersahabat.

Merasa didiamkan, Fushimi mendesah pelan lalu mengambil cappucino yang digenggam Awashima dan menenggaknya hingga tetes terakhir. Ia pun duduk di kursi hitam depan layar komputer. Namun, fokusnya pada pekerjaan terpecah sehingga ia tidak bisa berkonsentrasi dikarenakan tatapan heran dari rekan-rekan kerjanya. Semua sedang mempelototinya tajam. Jika dipikir-pikir, Fushimi mirip dengan seorang anak polos yang dianggap bersalah dan siap dimarahi oleh kedua orang tuanya.

"Apa?" tanya Fushimi datar, masih dengan tersenyum simpul. Tak mendapat jawaban apa-apa, ia mendengus.

Tiba-tiba kerah kemeja Fushimi-yang diberi luaran jas kebanggaan Scepter 4-ditarik secara paksa oleh Munakata dan dibawa ke dalam ruangannya. Tubuhnya dihempaskan hingga duduk di salah satu sofa yang ada. Raja biru itu memiliki firasat bahwa Fushimi menyembunyikan sebuah rahasia yang besar-yang tidak boleh diketahui oleh siapapun. Munakata memang merasa aneh dengan kelakuannya hari itu.

Yang pertama, Fushimi Saruhiko tersenyum. Mimpi apa dia semalam sampai mau repot-repot tersenyum kepada mereka?

Kedua, Fushimi Saruhiko menyapa Munakata. Jin baik apa yang sedang bersemayam dalam dirinya saat ini?

Ketiga, Fushimi Saruhiko tidak marah atau tersinggung sedikitpun dengan kelakuan kasar Munakata.

Keempat, Fushimi tenang. Kelewat santai malah. Apakah ia tidak tahu mantan partner kesayangannya hilang sore kemarin? Mengapa ia tidak ikut mencari sosok pemuda dengan iris kuning kemerahannya? Pertanyaan-pertanyaan itu berkeliaran mengelilingi benak Munakata. Sedangkan yang akan ditanya dan membuat pusing semua orang itu hanya menatap laki-laki di hadapannya kalem.

"Kau kenapa, hah?!" Munakata berucap-setengah berteriak-dengan tatapan tajam ke arah bawahannya.

"Hn, aku tidak apa-apa..."

"Benarkah? Kau tampak tidak waras, tahu?"

"Maaf, aku bukan tahu. Aku-"

"Ah ya. Biarkan aku mengulangi pertanyaanku... kau tampak tidak waras, tempe!"

"What the-?!"

"Jadi, apa yang membuatmu menjadi seperti ini?"

"Seperti yang kau lihat, tidak ada apa-apa yang terjadi, bukan?"

"BOHONG!"

"Kalau kau sudah tahu aku bohong, lantas mengapa kau bertanya, hmmm... Munakata-sama?"

"ARGH! Tak tahukah kamu bahwa Yata menghilang?" saat ini, Munakata sangat berharap Fushimi balik memelototinya sampai bola matanya hampir keluar dari tempatnya dan mulutnya melongo lebar. Lalu, ia balas meremas kerahnya dan berkata dengan nada yang dingin.

Lagi-lagi, persepsinya salah.

"Aaahh... Mi... sa... ki... Jasadnya menghilang kemarin sore, kan?" Fushimi tetap menatap iris Munakata lembut. Ia melepas kacamatanya yang mulai berembun-karena nafas Munakata yang terlalu dekat-dan membersihkannya dengan tissue. "Kau tidak perlu mengiterogasiku seperti ini, bukan?"

"Ah... ya. Gomenne." Munakata mundur selangkah dan memasang wajah stoic-nya kembali. Ia menghela nafas pelan. "Aku hanya bingung kau bisa setenang ini setelah mantan partnermu menghilang."

Fushimi menautkan alisnya. Sesaat kemudian, ia tersenyum kembali. "Tenang saja, Munakata-sama... Ia tidak berada jauh dariku, kok..." Fushimi melangkah keluar dari ruangan atasannya. "Sepertinya aku akan membolos hari ini. Izinkan aku, sekali lagi saja."

"Baiklah... Eh, tung-"

BLAM!


My heart still not change, and will never be changed

My thoughts are all decomposed

My constant desire is pronounced

While a painful wound is remaked


(Munakata's POV)

Aku benar-benar dipusingkan oleh kelakuan salah satu bawahanku hari ini. Setelah dibuat kalang kabut dengan hilangnya seorang berandalan yang merupakan anggota HOMRA, aku sukses dikejutkan Fushimi akan perilakunya. Seharusnya ia bunuh diri, atau setidaknya merasa frustasi dan menyesal karena kehilangan orang yang dicintainya. Seharusnya aku melihat kilatan dendam di manik biru tuanya dan nafsu membunuh yang menggebu-gebu. Oke, aku memang kejam. Tapi, bukankah semua itu memang sifat aslinya?

Salah. Semua perkiraanku salah besar.

Fushimi Saruhiko tersenyum. Manis sekali. Tunggu. Apa kataku tadi? Manis? Aku mulai gila! Tapi jujur, aku baru tahu pemuda dingin macam dia bisa tersenyum selembut itu. Apakah Yata sering melihatnya tersenyum? Jika iya, aku cemburu. Amat. Sangat. Cemburu. Walaupun wajah Aka no Ou-Suoh Mikoto-tidak pernah meninggalkan benakku, namun aku benar-benar terbuai dengan senyuman Fushimi.

Catat itu. Seorang Munakata Reishi bisa takluk oleh senyuman Fushimi Saruhiko!

Walaupun begitu, aku sedang berpikir keras kali ini. Aku tidak terlalu memedulikan baik Fushimi maupun senyum menawannya lagi. Aku hanya bingung dengan segelintir kalimat yang ia ucapkan sesaat sebelum meninggalkan ruangan kerjaku yang bernuansakan biru laut.

'Tenang saja, Munakata-sama... Ia tidak berada jauh dariku, kok...'

Sampai kapan bocah ingusan itu memanggilku dengan embel-embel 'sama'? Dia bukanlah pelayanku dan aku bukan majikannya, semua orang tahu itu. Fushimi merupakan anak buahku dan aku adalah atasannya, seharusnya ia cukup memanggilku dengan sebutan 'Munakata' atau 'Reishi'. Tidak perlu tambahan apapun.

Dan, kata-kata terakhirnya. Yata-san ada di dekat Fushimi? Apa maksudnya? Mungkin, Fushimi sudah merelakan kepergian mantan partnernya itu. Atau semalam ia mendapatkan mimpi yang terbilang indah. Atau mungkin maksudnya adalah Yata-san selalu berada di hati Fushimi. Apapun itu, aku cukup senang dengan perubahan sikapnya. Andai saja, ia selalu tersenyum dari dulu. Kalau begitu, aku...

"Permisi, Munakata-san. Ada yang ingin bertemu dengan anda." Seorang letnan perempuan berambut cokelat muda sedang membungkukkan tubuhnya kepadaku di ambang pintu. Terdapat rona merah muda samar di lesung pipinya. Hanya ada satu orang di dunia ini yang bisa membuatnya seperti itu.

"Kusanagi-san ya... Baiklah, aku akan kesana sekarang juga."

(End of Munakata's POV)


A powerful love was made

A lunatic passion was created

Clean and common feeling was dead

You and I, we covered in sins... tonight


(Someone's POV)

Di seluruh negara di dunia, rumah duka merupakan salah satu tempat yang tidak ingin dikunjungi. Bangunan ini selalu dirundung oleh awan-awan gelap dengan berbagai kesedihan yang menyelimuti. Tak jarang beberapa orang yang berkabung di dalamnya tampak histeris, bahkan ada yang sampai tak sadarkan diri.

Rumah duka juga menjadi titik penentuan kehidupan seseorang di dunia lain yang akan datang. Ada yang memasuki surga, dan ada pula yang menempati neraka. Namun, selain kedua dimensi yang berlainan tadi, terdapat satu kondisi dimana manusia yang meninggal tidak dapat pergi ke alam baka. Wujudnya bukan berupa zat padat dan tidak terang seperti cahaya. Sosoknya sama dengan sebagaimana mestinya arwah-arwah lain-tembus pandang. Yang membedakan, tubuhnya masih terjebak di kehidupan duniawi. Melayang-layang layaknya bola-bola kapas. Sosok gaib itu dapat pergi kemanapun, tidak diperhatikan oleh siapapun. Bahkan paranormal yang ahli sekalipun tidak akan mampu mendeteksi keberadaan mereka.

Tetapi, apa serunya hidup tanpa memiliki tujuan? Apa fungsinya memiliki sepasang sayap indah di punggung dan iris mata yang berkilauan jika tidak bisa membagi kesenangan itu kepada apapun?

Hal inilah yang dirasakan oleh seorang pemuda, yaitu aku. Sudah berpuluh-puluh kali kakiku yang tak menapak ke tanah menyusuri dunia. Beratus-ratus kali bahu kecilku tertabrak orang-orang yang berseliweran, tanpa terasakan. Tatapan aku begitu sendu, seakan tak ada hal lain yang bisa dilakukan. Aku lebih memilih mati, daripada harus melewati ambang kehidupan tanpa disadari seorang pun.

Hembusan nafas hangat keluar melalui mulut mungil milikku. Tidak ada ekspresi yang terlukis disana. Semuanya terasa hambar. Helaian bulu-bulu halus yang bertengger di bagian belakang tubuh ini semakin lemah, tertekuk ke bawah. Warna putihnya kian memudar, digantikan oleh kepucatan. Walaupun baru sehari mendekam di sebuah dimensi transparan, aku merasa sangat kesal.

Bosan. Jenuh. Lelah.

Sungguh, rasanya seperti orang gila jika terus-terusan berada disana. Aku tak tahu-dan tak akan pernah tahu-mengapa hanya pemuda malang sepertiku yang mendapatkan nasib tidak beruntung dan sangat mengenaskan. Oh ayolah, semua orang juga akan berpikir seperti itu ketika mereka menempati dunia yang luas ini sendirian. SENDIRIAN.

Aku pun mengendarkan pandangan ke sekeliling, menerawang jauh menembus dimensi dimana tubuh ini sedang berdiri sekarang. Tiba-tiba tatapan mataku berhenti, terfokus ke satu arah. Aku mengucek iris cerah di wajah ini, tak percaya. Tanpa disadari, seulas senyum kecil menghiasi bibir peach-ku. Tubuh ini pun langsung bergerak sendiri, ingin menghampiri apa yang tengah aku lihat.

Terperanjat. Sosok bercahaya itu-aku-diam membeku.

Menggigil. Bulu-bulu kudukku berdiri, menegang.

Penglihatanku tidak salah. Sebelum meninggal, aku amat sangat yakin tidak memiliki masalah kesehatan. Tetapi sekarang, aku benar-benar berharap mata ini membutuhkan lensa kontak. Atau rabun sekalian. Atau bahkan buta. Otak dan hatiku sama-sama shock untuk melihat kenyataan ini.

Seorang laki-laki sedang berdiri, terdiam di pojok taman kota. Rambut dark blue dan kacamata yang berkilauan terkena cahaya matahari cukup membuatku tahu siapa namanya.

Hanya saja...

Tangan orang itu terkepal erat, sampai urat-uratnya bermunculan.

Muka orang itu merah padam, dengan mata yang membengkak.

Bergetar. Mulut orang itu bergerak pelan dan mendesis tajam.

"KEMANA PERGINYA KAMU, MISAKI?!"

(End of Someone's POV)


TO BE CONTINUED~


Cut cut cut cut! Apa-apaan ini update? Pendek sekali... Nia baru menyelesaikan tugas sekolah seminggu ini, jadi baru dapet inspirasi sekarang.

Maaf kelamaan, readers! Silahkan hukum Nia, tapi jangan yang berat-berat ya =_= Lain kali bakalan lebih cepet deh...

Gimana nih, udah tahu belom kemana tubuh Misaki-chan pergi? Kira-kira menurut readers, yang nyulik dia siapa?

Nia akan membuat kalian semua kebingungan! Muahahahahahahaha~ *evil devil laugh*

Jadi, silahkan memberi kritik dan saran serta pendapat readers tentang fanfic ini agar bisa menulis cerita lain yang lebih baik lagi...

Oh ya, Nia mau membalas review-review terdahulu ya~

REVIEWERS

Anggarita sama : Hehehe arigatou sudah me-review... Ini dia chappie 2-nya, semoga bisa menghapuskan rasa penasaran tingkat dewanya Anggarita-san ^_^ Sebenarnya umur Nia masih 13 tahun, beberapa bulan lagi naik kelas 1 SMA. Nia malu karena masih muda -_-

Kasane Teto-chan : Arigatou buat review-Nya... Halo juga Teto-san ^_^ Nia seneng bisa bikin fanfic yang seru buat Teto-san dan juga readers yang lainnya. Fushimi emang cemburuan. Keluar dari HOMRA gara-gara Misaki lebih memperhatikan Mikoto. Nia nggak akan ninggalin fic ini, tenang saja. Gomen ya Teto-san, Nia masih di bawah umur jadi nggak bisa bikin rate M *bow*

Reini : Fushimi is a psycho boy! Benar sekali! Arigatou untuk review-Nya... Misaki gimana ya? Ini dia chapt 2 dari Can't Let You Go, semoga bisa sedikit menghilangkan rasa penasaran Reini-san ^_^

Chinchinchihaya : Arigatou atas review Chihaya-chan! Ini udah update chappie 2, semoga suka ^_^ Apakah Misaki benar diculik oleh Fushimi? Muehehehehehe~ Silahkan menyelamatkan Misaki yang entah ada dimana xD Umur Nia baru 13 tahun, Chihaya-chan... Hehehe

Araina sama : Arigatou review-Nya! Kok ga bisa ngomong apa-apa? Huwahahahaha~ Perasaannya tersampaikan ya? Yay! Dikira Nia ga bakal keliatan sedihnya Fushimi. Ini yang jahat author udah bikin Misaki meninggal hehehehe... Awashima dibikin ga sabaran di chapt sebelumnya, sekali-kali pingin membuat Fushimi MENDERITA! *disate Fushimi*

Nisa Piko : Ini dia update chappie 2nya, Nisa Piko-san. Arigatou ya udah repot-repot me-review ^v^ Kasian Anna-chan, sedikit yang bikin fanfic tentang gadis cilik binti manis binti unyu itu jadi sedikit dimasukin di fanfic ini xD Bagus juga tuh kalau Misaki jadi zombie... Harusnya ga nakut-nakutin cewek, Misaki kan ga berani sama cewek. Wkwkwkwkwk... Benarkah Misaki dibawa oleh Fushimi? Hihihihihi

Ice-cy : Tadinya mau dibikin One Shoot Story, tapi ceritanya kepanjangan. Jadi, dibikin beberapa chapter, gomen gomen... Benarkah Fushimi yang mengawetkan Misaki? Hihihihihihi~ Fushimi sudah dibenci Misaki, sekarang cintanya satu-satunya itu meninggal.. Ckckckck Misaki jahat *bukannya yang bikin fic ini Nia ya? Jadi author-Nya yang jahat!* Oke oke, bakal dibanyakin SaruMi scene! Arigatou atas review-Nya ^_^

Via Heartfilia : Inilah update yang sedikit terlambat dari Nia -_- Kira-kira pertanyaan Via-san terjawab nggak ya di chappie ini? Hehehehehehe~ Arigatou sudah me-review fanfic Nia-chan =3


Yosh! Nia ucapkan terima kasih kepada pada readers yang login atau non-login, yang me-review ataupun yang tidak... Namun, Nia berharap ada yang mau memberikan kritik dan saran lainnya... Tunggu kisah kelanjutannya, ya!

Read and Review, onegai?