Behind your Sweet Smile: Chap 3

Warning : OOC, Yaoi, BL, Typo(s), Abal
Pairing : Russia x America/RusAme/RusMerica
Hetalia belongs to Hidekaz Himaruya
Behind your Sweet Smile belongs to Me, miaw :3

Hai, Hai.
Ini chap 3-nya.
huehuehuehuehue~ XDD #abaikan
Maaf, chap yg kemarin pendek banget karena saya kehabisan ide.
Juga, maaf karena update telat.
Saya ada masalah di RL \(^w^)/
Ya udah yuk, Cekidot.

.

.

.

Aku hanyalah setitik debu yg ingin menjadi sebuah Gurun. Dengan energi positif yg bisa aku dapati dimana-dimana. Debu yg berjalan, beterbangan pada semua tempat. Tidak memperdulikan benda atau makhluk di alam semesta raya yg menghinaku.

Aku adalah Aku. Ha.. mungkin ini adalah hal yg konyol karena aku bukan Manusia. Melainkan seorang Personifikasi.. tapi.. bukankah aku juga mempunyai tubuh, perasaan dan jiwa seorang Manusia?

Ada kalanya seorang mahkluk bernama Manusia harus rela dirinya dibenci oleh seseorang. Karena dari kata "Benci"-lah, semua manusia tahu dimana letak kekurangannya. Dari kata "Benci"-lah, manusia belajar untuk mencintai. Dari kata "Benci"-lah, manusia belajar untuk menghargai apa yg dia punya. Dan juga.. dari kata "Benci"-lah, aku tahu bagaimana perasaannya yg sesungguhnya.

Setelah kejadian malam itu.. aku tidak mengingat apa-apa lagi. Kini aku terbangun di sebuah Gudang kotor dengan jendela kecil yg terbuka. Bau busuk menyeruak. Memang benar-benar tidak layak untuk ditinggali.

Aku benar-benar tidak tahu.. aku dimana, kenapa aku disini.. semuanya menjadi sebuah pertanyaan yg berdebat satu sama lain di pikiranku. Menyedihkan. Sangat menyedihkan. Seorang 'The United States of America' disekap di sebuah gudang kotor yg tak layak ditinggali. Bah..

"Sial.." Cih. Badanku lengket sekali.. ini karena semalam ya? Ha, masa bodoh. Itu semua karena perlakuannya. Aku tidak peduli. Awas saja..

"Alfred.." Suara itu."Kau sudah bangun, da?" Itu dia. Orang yg paling aku Benci.

"Mau apa kau?"

"Aku tidak perlu memberitahumu jawaban tentang pertanyaanmu. Bersihkan dirimu. Kau kotor sekali" Dia menarik tubuhku untuk berdiri.

"Jangan sentuh aku! Kau.. cih.. jangan pura-pura baik kepadaku, Russia. Aku tahu apa yg ada di pikiranmu, dasar Komunis! Sekarang katakan dimana aku dan bawa aku kembali ke rumah! Kalau orang-orangku tahu tentang hal ini mereka bisa melempar nuklir ke rumahmu!"

Dia mendongakkan kepala dengan sombong dan tertawa,"Jangan membuatku tertawa, Alfred. Kau bisa apa? Kau yg sekarang mungkin hanya bisa meminta-minta kepadaku" Kebencianku padanya bertambah. Aku layangkan tanganku untuk memukulnya tapi..

Dia menangkisnya "Fufu.. sudah lama sekali aku tidak melihat wajahmu seperti ini, Al. Turuti perintahku, atau aku akan menghancurkan semua yg kau sayangi, The United States of America. Kau mengerti.. Alfred?"

"Persetan denganmu! Aku tidak akan pernah menuruti apa yg kau katakan! Sekarang aku mengerti kenapa semua keluargamu meninggalkanmu! Itu karena kau adalah seorang Pembunuh! Monster! Kau tidak layak untuk hidup!" Hilanglah akal sehatku sudah..

"Kau pikir aku peduli dengan semua yg kau katakan itu, Alfred? Ha. Aku tidak peduli sama sekali. Kau masih beruntung karena aku membiarkanmu hidup. Sekarang ikut aku, kau seperti anjing jalanan saja.." dia menarikku lagi. Kali ini genggamannya lebih kuat.

"Apa yg kau lakukan! Lepaskan aku!" dia tidak bergeming. Dan menarikku ke kamarnya."Russia! lepaskan aku!" Tidak ada jawaban.

"Kau tidak mengerti kata DIAM, Alfred?" Dia mengenggam tanganku dengan kuat seperti akan dihancurkan dan menarikku kedalam kamar. Dilemparkannya aku di tempat tidur miliknya lalu Ia menyeringai."Rupanya.. kau masih butuh pelajaran lain, Da?" ucapnya sinis.

Badanku gemetar. Tidak. Tidak lagi. Aku tidak mau! Cukup! "A-Apa yg akan kau lakukan?" dia menyeringai lagi."Aku tidak mau lagi, Russia! Cukup! Aku sudah capek dan aku tidak mau melakukan hal yg terhina seperti itu! lakukanlah pada orang lain! Jangan padaku!"

"Kau pikir aku mau memperkosamu atau apa, hm? Jangan bodoh.." Dia.. melemparkanku sebuah handuk, lalu menunjuk ke arah pintu kamar mandi."Mandi. Sekarang."

Aku terdiam sebentar, menatap wajah tanpa ekspresinya dan kedua bola mata ungu yg dimiliki oleh sang Russo di hadapanku ini. Aku tetap terdiam. Tak tahu harus bagaimana. Memang ini kesempatan buatku untuk lari karena disitu ada jendela terbuka, pintu terbuka.. dan juga.. ada telefon disitu

Tapi kenapa tubuhku membeku? Seolah-olah temperatur kamar ini membunuhku perlahan. Bukan. Bukan karena temperatur kamar ini.. itu karena.. aura yg dikeluarkan oleh dia.. musuh terbesarku.

"Kau dengar apa yg aku katakan, Alfred? Mandi. Sekarang. Atau aku yg akan memandikanmu"

"Cih. Lebih baik aku mandi di tumpukan lumpur bersama babi daripada harus dimandikan olehmu.." aku beranjak dari tempat tidur. Berjalan ke arah kamar mandi dan.. menyalakan showernya.

Kau tahu? Dia.. terlihat baik. M-mungkin tidak terlalu baik seperti sifat-sifat para 'Nation' lain. Tapi ada sesuatu yg mengganjal ketika aku melihat wajahnya atau senyumnya. Keh. Tidak mungkin kalau ini Cinta. Dia musuhku. Kenapa aku harus mencintainya?

Lagipula dia membenciku. Kenangan yg manis diantara kami hanyalah pada saat kami berdua masih kecil. Dan aku juga tidak yakin dia akan mengingat semua hal tetek bengek yg terjadi dalam ratusan tahun itu. Bah..

"Alfred? Kenapa kau melamun?" dia menggosok-gosok rambut basahku dengan sebuah handuk yg dibawanya. Aku tidak menjawab. Membiarkan dia mengeringkan rambutku yg begitu basah karena air tadi. Dia tertawa kecil, "Kau lapar,da?"

"Hm.." Aku hanya bisa mengangguk kecil. Perutku keroncongan dari tadi. Dan demi untuk menjaga harga diriku, aku ingin menahannya. Karena aku tidak ingin terlihat lemah di hadapannya. Sangat tidak ingin.

"Pakai baju ini. Hanya itu yg ukurannya kecil. Kuharap kau tidak keberatan." Dia memberikanku sebuah baju. Lalu dia pergi keluar kamar.

..Entah. Aku rasa.. ada sesuatu yg salah denganku. Jantungku berdegup kencang. Tidak, Alfred. Bukan itu. Bukan!

"Susu? Ha, Kau pikir aku apa? Anak kucing?"

"Jangan cerewet, da. Minum. Aku tahu kau suka Susu yg memakai madu sebagai pemanis. Minum ini dulu.. nanti aku bawakan makanan lain" Aku mendecih dan mengambil segelas susu itu."Kau sudah tidur selama 2 hari dan tidak baik untuk langsung mengisi perutmu dengan makanan yg berat.."

"…Kau yakin susu ini tidak kau campur dengan Racun?"

Dia menepuk Jidatnya,"Segitu burukkah aku dimatamu, Alfred?" Sangat. Karena aku /lumayan/ yakin dengan ucapannya. Jadi yah.. Aku minum saja susu itu. Awalnya aku agak ragu. Bisa saja kan kalau dia misalnya menambahkan sesuatu benda yg aneh ke dalam susu ini. Bah..

"Hangat.." Enak sekali. Aku meliriknya sebentar dan meneguk susu itu sekali lagi. Dia tersenyum rupanya."Terima kasih.. Russia"

Russia mengangguk."Da.. tidak perlu berterima kasih. Ini, Kau mau roti manis?"

"..Kau tidak makan?"

"Nyet. Jangan pikirkan aku. Aku bisa makan yg lain nanti"

Tanpa berpikir panjang aku memotong Rotinya menjadi dua bagian dan memberinya bagian yg sudah aku potong itu, "B-Bagaimanapun lebih enak makan bersama-sama dasar bodoh.. makan bagianmu. L-Lagipula roti ini lumayan besar kan? B-bukan berarti aku peduli atau apa! Makan sana!"

Aku salah tingkah. Nice.

"Kalau kau yg minta, baiklah, da. Ahahaha" Dia tertawa kecil lalu melahap roti itu. Yah.. tidak ada salahnya untuk berbagi bukan?

Aku tidak menyangka aku bisa sedekat ini dengannya. Sangat tidak menyangka. Padahal kemarin.. kemarin aku berpikir dia akan menyiksaku atau mungkin.. membunuhku. Ha.. rupanya perkiraanku salah.

Dia manis. Seperti roti ini..

.

.

.

Tsuzuku

Huehuehuehue akhirnya saya update juga.
Terima kasih buat yg sudah membaca dan mendukung saya XD
Chap Selanjutnya bakal jadi Romance yg WOW :U *gelinding*
Sekali lagi Terima Kasih~, Ciao~

RnR?