-Behind your Sweet Smile : Chapter 5 -
a Russia/America fanfic
Warning : OOC, Typo(s), AU yg sedikit nyelonong ke IC, Yaoi, rate M for this chap
Hetalia © Hidekaz Himaruya
Confederate States of America/Allen Theodore Jones © Ais-Chan
Story © Me


"Apa? Tidak.. mereka adalah musuh. Tidak mungkin Mr. Russia berani menculik Kak America seperti ini, Mr. President. Lagipula Kak America bukanlah seseorang yg menyerah begitu cepat." Allen memasang wajah tidak percaya. Iris Biru tua-nya menatap seorang kepala Negara yg duduk dengan manis di hadapannya.

Tidak mungkin Kak Alfred bisa menyerah secepat ini! Ini bukan Kak Alfred yg biasanya!, rutuknya dalam hati.

Allen Theodore Jones. Personifikasi dari Negara yg Hilang. Negara Konfederasi Amerika. Adik kandung dari Alfred. Bukan. Lebih tepatnya saudara kembar. Sama seperti Alfred, Allen mempunyai rambut yg begitu mirip dengan Kakaknya itu. Hanya saja.. Bola mata yg dimiliki oleh Allen berwarna lebih tua dibandingkan dengan Alfred.

"Kalau kau tak percaya. Apa sugesti-mu kali ini, Allen? Katakan padaku." sang presiden mengernyitkan dahinya.

"E-Entahlah.." Helaan nafas keluar dari mulut Allen. Duduknya begitu tak tenang memikirkan Kakaknya yg ada dunia antah berantah."Aku tidak begitu yakin Kak America diculik olehnya. Mr Russia.. bukanlah orang yg begitu-"

"Nekat? Kau pikir dia tersenyum setiap hari menunjukkan kalau dia adalah orang baik? Itu salah besar, Allen.. hh.. aku mengerti perasaanmu. Russia adalah sahabatmu. Kau juga tak ingin melukai perasaannya. Tapi ini sangat penting, Allen.."

Allen tak menjawab, pikirannya buyar kemana-mana."Ini menyangkut nyawa Alfred." ketika mendengar itu, Allen tersentak kaget. Matanya tertuju pada sang Presiden.

"Aku tidak takut kalau suatu saat Russia menyerang kita. Aku hanya takut kalau sampai Alfred membocorkan semua rahasia-rahasia FBI kepada sang Russo itu. Atau bahkan disiksa.. atau dibunuh. Kau mau itu terjadi pada Kakakmu?"

Allen terdiam. Russia adalah sahabat dekatnya. Tapi America adalah kakaknya. Argh! Kalau dia lebih memilih Russia. Bisa-bisa America terbunuh. Kalau dia memilih America. Russia bisa membencinya. Atau mungkin yg lebih buruk lagi.

Dua-duanya berakhir buruk….. Shit.

"Aku… A-Aku memilih…"

oOo

"Al.. hari ini kita makan di luar."

"Luar? Tapi di luar kan cuman salju. Memang aku mau kau beri makan es, hm, Ivan?" Ivan tertawa kecil."Oh ayolah, ini tidak lucu! Dasar Ivan jelek.."

"Enak saja, Aku ini Tampan, da." ucap Ivan dengan pe-denya. Bah.. tampan dari Hong Kong? "Lihat saja.. kau tertarik padaku kan, Al? ya kan, ya kan?"

Wajahku memerah sampai ke telinga, Aku tergagap. Dari mana dia tau kalau aku me-.. M-maksudku aku tidak menyukainya! Dia mesum, dia so(k) keren! Gah~ "Dasar bodoh! S-siapa juga yg menyukaimu, ha?"

"Itu, buktinya.. wajah Al memerah, da."

"I-Ini karena panas, tahu! Huh!" Aku memalingkan muka karena malu. Sementara dia tertawa puas. Sialan kau~ dasar Kolkolhz!

"Maaf, Maaf.. ayo.. aku tunjukkan tempat-nya. Kau pasti menyukai-nya. Aku yakin itu..."

"T-Tunggu, Hei!" Ivan menarikku keluar. Ia menarikku ke atas. Rumahnya. Atap? Disitu telah tersiap meja makan yg lumayan besar. 3 buah lilin menyala berdiri di atasnya. Setangkai bunga mawar yg entah sejak kapan terduduk manis di dalam vas di atas meja. Makanan juga sudah ada di atas meja makan.

"Kau yg menyiapkan semua ini?"

"Da.. duduklah. Aku sudah membuatkan pirogi. Aku harap kau suka."

Um… ini perasaan-ku saja atau ini mirip sekali dengan Candle Light Dinner di film-film Hollywood? Makan di atas atap yg beratap-kan bintang bintang yg bertaburan di langit malam. Suasana yg.. menurutku..

Romantis?

"Aku tidak percaya kau suka begini, Ivan. Maksudku.. lihatlah.. jujur saja, setelah aku tinggal bersamamu selama sebulan lebih.. kau ternyata bukan orang yg seperti mereka bicarakan.."

Ivan meneguk vodka-nya, lalu melihat ke arahku."Mereka?"

"Iya. Maaf, mungkin ini membuatmu marah. Sebenarnya aku dan 'orang-orangku' selalu mengintai-mu dan pemerintahanmu selama ini. Mereka pikir kau adalah orang yg mengerikan dan sadis dan- Argh! Segala hal yg buruk mereka timpa-kan kepadamu." Ivan terdiam. Sudah kuduga dia marah.

"Maafkan aku, Ivan. A-Aku benar benar tidak tahu. Aku salah.. aku berbohong pada perasaanku sendiri. Aku sudah berbuat kasar kepadamu dan-"

"Kenapa aku harus marah, Al?" Dia menyelaku. Lalu memasang wajah tersenyum-nya yg khas itu."Itu bukan salah-mu atau.. salah orang-orangmu. Lagipula itu sudah yg lalu kan? Dan.. apa maksudmu? Kau.. berbohong pada perasaanmu sendiri?"

-Deg

Sial. Aku keceplosan.

"Ah, um.. Aku.. sebenarnya Aku menyukaimu."

"-Senang bisa mendengarnya." Ivan menyela-ku. –lagi-. Lantas aku tatap wajahnya. Dia masih tersenyum. Senyuman yg kekanak-kanakan itu.. gah..

Kami makan dengan suasana hening. Entahlah.. mungkin aku agak canggung karena sudah bilang kalau aku menyukai-nya. Apa dia benci padaku?

Ivan curi-curi pandang. Aku tahu karena tadi aku sempat meliriknya. Dia tertawa kecil, "Manis.."

"H-Ha? Manis?"

"Iya.. kau, Al. Wajahmu kalau tersipu malu manis sekali."

"H-Hentikan itu! Aku tidak manis! Coret kata 'manis'-nya! Hmph!"

"Da, da, da. Dan.. ehem.. Soal.. um, kau menyukai-ku. Kau sungguh-sungguh? Maksudku.. ini bukan lelucon kan?"

Aku menggeleng pelan, "Tidak. Aku serius." tiba-tiba sebuah ide yg tak normal muncul di kepalaku. Mungkin dengan ide itu, dia akan percaya kalau aku benar-benar menyukai-nya. Fufu~ begini-begini aku jago dalam hal itu..

"Apa buktinya?" Checkmate.

"Nanti aku buktikan. Setelah makan malam, Kau mandi-lah dulu. Setelah itu aku akan buktikan semuanya. Setuju?"

Ivan sedikit tersipu, pipi-nya merona merah muda. Dia memalingkan wajah berusaha untuk tidak melihatku."Da.. setuju."

oOo

[Alfred POV : END]

Sebenarnya, apa yg Alfred pikirkan?, Ivan bertanya-tanya dalam hati. Ia Membasahi rambutnya dengan air. Jujur, jantungnya berdegup keras dan kepala-nya menjadi panas. Seakan baru kemarin saja kejadian di mobil malam itu terjadi.. dimana Alfred ia perkosa dengan kedua tangannya sendiri.

Ivan menghela nafas sambil memakain kaos dan celana panjang miliknya, dia melangkah keluar dari kamar mandi "Aku sudah sele-"

Katakan kalau ini Mimpi..

Bola mata violet Ivan menangkap sosok itu. Yang Berdiri di depan jendela, menatap rembulan dan bintang. Dengan memakai kaos putih longgar sampai bahu. Dan.. dia hanya memakai celana dalam. Itu Alfred.

Alfred yg menyadari Ivan sedang memandanginya membalikkan badan, menatap Ivan. Tersenyum dengan lembut "Sudah selesai?"

Ivan menatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sangat menggoda.. tunggu dulu. Harus tahan. Harus tahan.. "A-Al? Kenapa kau.. um.. uh.." salah tingkah.

"Ini bukti-nya Ivan. Silakan berbuat sesukamu.." Entahlah.. tapi.. Alfred merasa risau. Bagaimana kalau Ivan menolaknya? Bagaimana?

Ivan mencondongkan tubuhnya "Kau benar-benar menggoda, Al." bersamaan dengan berakhrnya kalimat tersebut, sebuah ciuman lembut membungkam mulut Alfred sebelum ia sempat berkata-kata.

Kedua pupil pria Amerika itu membesar sebagai reaksi tak terduga. Tunggu dulu—hei, ini terlalu cepat. Bukan. Ini kan yg kau inginkan, Alfred?

Kerisauannya terhapus seketika saat ia merasakan Ivan mulai memagut bibir bawahnya, melumatnya dengan lembut. Seolah memohon izin untuk memasuki area privasinya. Sentuhan nyaman itu membuat Alfred memejamkan mata, mempersilahkan Ivan untuk berbuat sesuka hatinya. Setelah mendapat ijin, Ivan menjelajahi setiap sudut bingkai mulut Alfred tanpa melewatkan satu celah pun.

Merasa perlu untuk mengambil nafas, Alfred mendorong Ivan untuk menjauh. Memberikan ruang baginya untuk bernafas. Kemudian kembali dilihatnya wajah musuh bebuyutan-nya itu. Ia belum pernah melihat ekspresi Ivan seperti yg ditunjukkannya seperti ini. Subtil, sekaligus penuh gairah. Yah.. mungkin dia pernah sejak peristiwa hari itu. Dimana ia diperkosa.

Nafasnya sedikit terengah-engah, "H-Haah.. sentuh aku, Ivan.. sentuh aku.." Alfred memohon, menarik Ivan perlahan.. tapi pasti. Menyatukan kedua tubuh mereka.

Ivan tersenyum, "Dengan senang hati."

Ia kembali memberikan sebuah ciuman mendalam yg memecahkan ambang batas pertahanan Alfred, sementara sebelah tangannya bergerak, melepaskan kaos yg Alfred pakai.

Alfred tersentak ketika merasakan bagian pribadi mereka saling bersentuhan, hanya terpisah oleh garmen tipis dari pakaian mereka. Disela-sela itu, Alfred menyambut semua ciuman dan rengkuhan-nya. Dengan satu gerak cepat, Ivan berhenti sejenak. Ia menidurkan Alfred di atas ranjang dan melepaskan polo shirt yg dikenakannya, membuangnya ke lantai. Dan Ia berpindah ke atas Alfred, sedikit menindih tubuhnya.

Alfred terdiam, matanya fokus mengamati bagian atas tubuh Ivan yg sekarang terbuka. Ia menelusuri jemarinya dari leher sampai ke dada. Mengingat setiap lekukan dan otot yg membentuk tubuh atletis yg tak pernah ia liat sedekat ini. Alfred menelan ludah.

"Al.." jari-jari panjang Ivan mulai menjamah bagian leher, sesekali meninggalkan jejak dengan bibirnya di bagian jenjang itu.

"H-Hnn, Ivan.." Alfred mengerang kecil. Menghujam rambut sang Russo, seolah meminta-nya untuk tidak berhenti. Tubuh Alfred menggeliat ketika Ivan mulai menggigit kecil kulit lehernya.

Pria Rusia itu turun ke dada Alfred, menjilat puncak-nya. Sesekali ia memilin dan menggigit puncak yg agak menegang itu. Sampai pada titik ini, Ivan perlahan melepas celana dalam yg Alfred kenakan, menyentuh bagian pribadinya.

"Ngh.. a-ahn.." rangsangan seksual itu membuat Alfred mendesah. Membuat lawan mainnya menyeringai seolah senang mendengar setiap desahan yg pria Amerika itu keluarkan."Nhh.. mhh.."

Ivan berhenti sejenak untuk melihat wajah pasangannya, yg kini sepenuhnya telah diwarnai oleh semburat merah, mata-nya setengah terpejam, namun ia tidak pernah melepaskan pandangannya sendiri dari Ivan.

Manis.. sungguh wajah yg Manis.

"Al, bolehkah Aku—"

Diantara desahan nafasnya, Alfred mampu merespon dengan anggukan singkat."T..Tentu.. lanjutkan saja."

Ivan menegakkan badan-nya. Membuka resleting dari celana panjang yg ia kenakan. Membiarkan 'Menara'-nya keluar. Ivan meletakkan kedua kaki Alfred di pundaknya, membuka jalan masuk ke dalam tubuh Alfred.

"Jangan terlalu gugup.." Ivan mulai menciuminya, tangannya bergerak halus meraba bagian belakang Alfred yg sensitif."Katakan saja kalau ini sakit, da"

Alfred mulai mengerang ketika Ivan mendorong menara-nya masuk. Sedikit jeritan lolos dari sela-sela bibirnya ketika benda tersebut bergerak masuk lebih dalam. Gestur repetitif itu mengakibatkan kontraksi otot yg menghasilkan sensasi kenikmatan yg tinggi.

"A-Ahng, nn.. Ah..!" tubuh Alfred serasa menegang. Bulir-bulir air mata keluar dari mata-nya. Ia menahan rasa sakit yg luar biasa itu, tergantikan dengan rasa kenikmatan yg mampu membuatnya lupa akan segalanya.

Ivan bergerak dengan satu hentakan, membuat benda itu terbenam jauh di dalam lubang Alfred. Ia bernafas terengah-engah. Berusaha mengatur nafasnya sebelum melanjutkan lagi.

"B-Bergeraklah.." Ivan sedikit terkejut ketika mendengar pinta Alfred."Ivan.. kau dengar aku?"

"Da.. kau benar-benar tidak apa-apa dengan ini? Apakah itu tadi sakit?"

"Sedikit.." Alfred tersenyum tipis."Aku mohon jangan berhenti sampai di sini.. kau bilang kau akan menyentuhku kan?"

Ivan tertawa kecil, memegang pinggang Alfred. Memberinya aba-aba."Dasar tidak sabaran.." Ivan mulai bergerak di dalam diri Alfred dengan ritme yg tidak terlalu pelan, juga tidak terlalu cepat.

Alfred dapat merasakan otot-otot di seluruh tubuhnya terus meregang dengan tajam, rangsangan yg luar biasa ia rasakan ketika Ivan mengenai titik stimulasi utama yg membawanya menuju kenikmatan seksual. Aliran hangat dan sensasi familiar mulai menggelitiki falusnya.

"Ah.. I-Ivannh.. l-lebih cepat.. lagi..h! Ngh!" Alfred mendesah, berharap agar Ivan mendengarnya. Seolah mengerti apa yg Alfred inginkan, Ivan mempercepat tempo-nya.

Dalam waktu yg bersamaan, Ivan membungkukkan badannya, mencium bibir Alfred yg basah akan saliva. Pria Amerika itu menyambutnya. Membiarkan Ivan memporak poranda-kan mulutnya.

Sedikit lagi.. sedikit lagi..

Ivan menyetakkan badannya, mengenai titik lemah Alfred di dalam, membuatnya mendesah keras akan kenikmatan yg ia rasakan. Tubuh mereka kembali berelaksasi, melepaskan seluruh ketegangan yg nikmat, mencapai tujuan akhir dari perjalanan tanpa batas mereka.

Alfred tersenyum lemah, mengusap pipi Ivan dengan penuh sayang."..Terima kasih.. Aku mencintaimu, Ivan. Sangat."

Ivan tersenyum. Detik itu juga.. Ia merasa kalau Alfred adalah sepenuhnya miliknya… Ia mengulurkan tangan besarnya, menyingkirkan poni yg menghalangi dahi Alfred, lalu mencium dahinya.

"Hei—Aku belum mendengar jawabannya."

Alfred menggeliat di pelukan Ivan dengan manja. Pria Rusia itu hanya bisa terkikik kecil melihat partner-nya begitu antusias dalam hal ini.

"Da—" Sekali lagi, Ivan mengecup bibir Alfred dengan lembut. Menatap iris biru safir-nya dengan penuh arti.

.

.

.

"Aku juga Mencintaimu, Al.."


.

.

.

Tsuzuku


[A/N]

Gyahh—Pusing saya nulis beginian *nancep ke Monas*
Saya tidak tahu apakah ini Hot atau tidak. saya baru tiga kali nulis fic rate M ._.
Dan saya benar-benar tidak pernah merencanakan akan jadi seperti ini. Sungguh. *pasang wajah semoe-moenya*
Chapter selanjutnya—mungkin feels. Slight pairnya Siberia x Confederate States of America ( CSA )
Makasih yg sebanyak-banyaknya karena udah baca *sujud* sampai jumpa di chapter selanjutnya~

Review?