Disclaimer:
Danball Senki W © Level-5
Warning:
Masih sama dengan chapter sebelumnya, hanya saja yang ini lebih gila. :v
Genre(s):
Pervo, garing, humor gagal.
[OMAKE]
.
.
Sebetulnya, program yang dikembangkan oleh Mizel sekarang sudah selesai hingga 100%. Mizel ingin menginformasikan Jin tentang hal ini, hanya saja bibirnya masih terkunci rapat, sehingga sang android pun merasa bingung bagaimana cara memberitahukan hal tersebut pada Jin.
"Mmm…" Mizel berusaha memberi isyarat pada Jin dengan sebuah gumaman. Hanya saja sang pemuda salah menafsirkan gumaman tersebut dan malah mengira bahwa suara yang dihasilkan oleh Mizel barusan adalah lenguhan sang android. Jin malah membalas gumamam Mizel dengan gumaman lainnya, "Hmm.."
..Aduh, bagaimana ini, pikir Mizel dalam benak komputernya. Sebetulnya ia ingin sekali menggerakkan tangannya, namun sayang, tubuh androidnya belum bisa menerima perintah tersebut. Akhirnya, Mizel memutuskan untuk mencoba cara lain. Didorongnya bibir Jin menggunakan lidahnya supaya Jin melepas ciuman tersebut.
Jin terkejut saat merasakan lidah Mizel di bibirnya. Pemuda itu mengira bahwa sang android sudah mempelajari semua hal tentang berciuman sampai ke akar-akarnya, termasuk berbagai macam tipe dan variasi berciuman.
…Dasar Jin saraph, ia malah seenaknya saja menyimpulkan kalau saat itu Mizel sedang memintanya untuk memperagakan adegan french kiss. Maka, Jin pun menjawab 'undangan' dari Mizel dengan menjelajahi areal di dalam mulut Mizel.
Hal ini jelas-jelas membuat Mizel semakin bingung dan kaget. Bukannya memutus ciuman, kok, sekarang Jin malah bergerilya di dalam mulutnya…?
Mizel kembali bergumam, kali ini dengan suara yang lebih keras. Akan tetapi di telinga seorang Kaidou Jin, gumaman Mizel tersebut terdengar layaknya sebuah simfoni. Pemuda itu tetap melanjutkan pekerjaannya menelusuri setiap sudut sang android yang bisa ia jelajah, tak mengindahkan gumaman-gumaman yang senantiasa Mizel hasilkan.
…Oh tidak. Jin sudah mulai rusak.
Dalam keadaan terjepit, Mizel mengirimkan sinyal SOS kepada seluruh LBX dalam radius terdekat. Dengan kemampuan ghost jacking miliknya yang sudag terupgrade, dikendalikanlah para LBX tersebut untuk menolong dirinya.
Hiro yang saat itu sedang menenggak susu cokelat di dapurnya, harus nyaris tersedak minumannya sendiri saat ia melihat sejumlah besar LBX asing tiba-tiba saja masuk mengerubuni rumahnya. "Hiii…!" jeritnya ngeri sambil menyingkir ke arah tembok ketika LBX-LBX tersebut menyerbu rumahnya dan berjalan menuju ke lokasi yang sama, yakni laboratorium milik Haruka.
Detik berikutnya, Hiro merasa seperti mendengar suara ledakan yang cukup keras yang diikuti oleh teriakan seseorang yang ia kenal. Akan tetapi, Hiro merasa kurang yakin dengan pendengarannya.
Akhirnya, Hiro pun memutuskan untuk berjalan keluar dari dapur dan mencari beberapa batang korek kuping.
Mizel dan Jin masih saling diam saat keduanya dijemput oleh butler keluarga Kaidou dengan sebuah mobil (kali ini Jin tidak dijemput menggunakan pesawat jet seperti yang sebelumnya).
Melalui room mirror mobil, sang butler memperhatikan bocchannya dengan tatapan cemas. Sejujurnya, kakek itu merasa lega karena pada akhirnya sang tuan muda kembali pulang ke rumahnya di kediaman Kaidou. Namun, ketika ia mendatangi kediaman Oozora untuk menjemput tuan mudanya tersebut, apa yang sang butler uzur itu dapat adalah pemandangan sang tuan muda yang sudah terkapar seraya mencium lantai, dengan beberapa bekas terbakar dan sabetan pada sekujur bajunya.
Hanya dengan clue seperti itu, sang butler sudah dapat menyimpulkan bahwa apa yang menimpa pada diri tuan mudanya, tak lain dan tak bukan, adalah karena ulah sang android.
Ngomong-ngomong soal Mizel, rupanya saat ini yang bersangkutan sudah pulih total. Tubuh androidnya sudah mampu ia gerakkan, benar-benar berbeda dari beberapa saat yang lalu di mana untuk menggerakkan tanganya saja pun, sang android masih mengalami kesulitan.
Android itu menggumamkan sebuah kalimat yang sama sekali tak terduga. "..Dasar... Jin..mesum."
Oke, Jin tahu betul kalau di sini dirinyalah yang bersalah.
(Haah, lagi-lagi salah, lagi-lagi salah.)
Oleh karena itu, Jin pun memantapkan batinnya untuk mengahadapi Mizel yang hingga saat ini kelihatannya masih sebal padanya.
...Baiklah, Mizel yang ngambek memang merupakan salah satu momok tersendiri bagi seorang Kaidou Jin. Tapi setidaknya, hal tersebut masih jauh lebih baik ketimbang Mizel yang cemburu dan mematikan pasokan lampu seluruh kota—
Tok. Tok.
Pintu kamar Jin diketuk dua kali.
Mengira bahwa yang mengetuk pintu adalah sang butler, Jin pun menjawab, "Ya, masuklah."
Ckrek.
"Permisi..."
...Ah.
Suara itu. Suara milik Mizel. Padahal Jin belum siap untuk menghadapi Mizel sekarang.
Aduh, bagaimana ini.
Jin hanya diam seribu bahasa ketika Mizel masuk dan menutup pintu kamarnya kembali karena ia tak tahu harus mengatakan apa. Sementara itu, sang android juga belum mengucapkan apapun sejak terakhir kali ia masuk ke dalam kamar Jin. Suasana yang sunyi dan dan canggung seperti ini terasa mencekam bagi seorang Kaidou Jin. Akhirnya, ia memutuskan untuk sedikit mencairkan suasana.
"Mizel, maaf... waktu itu, aku..."
"..Ng, tidak apa-apa." Jawab Mizel singkat dan tetap datar, membuat Jin hanya mampu menelan ludahnya.
"Apa sekarang.. kau masih marah...?"
"..Tidak." Balas Mizel singkat.
"Jadi, sekarang... kau sudah tidak marah lagi...?"
Mizel terdiam selama beberapa saat.
"...Iya. Hanya saja, ada sesuatu yang mengganggu pikiranku..."
(..Eh? Sesuatu yang mengganggu pikiran Mizel...?)
"..Apa itu..?" celetuk Jin menyuarakan isi kepalanya.
Mizel kembali terdiam, kali ini agak lebih lama dari yang sebelumnya.
"Soal... ciuman yang waktu itu..."
Uh, oh.
Kali ini sejumlah keringat dingin benar-benar meluncur dari pori-pori kulit Jin.
"Y-ya..? Ada apa dengan ciuman yang...waktu itu?" tanya Jin dengan hati-hati.
"..Saat itu..kenapa... Jin... bisa menciumku seperti itu...?"
Nah. Kaidou Jin benar-benar kehabisan alasan.
"Err... itu..."
"Dari mana Jin bisa tahu cara berciuman yang seperti itu...?"
"...Eng... Dari cuplikan film yang pernah tak sengaja kutonton di televisi..?"
Mizel hanya menatap lurus ke arah Jin.
"...Dari buku novel yang pernah kubaca..?"
Mizel masih menatap lurus ke arah Jin.
"Dari..dari... artikel di majalah?" cicit Kaidou Jin.
"Jin..." akhirnya Mizel membuka mulutnya. "Aku akan menggeledah isi kamarmu."
"Ap—"
Belum sempat Jin menyuarakan keterkejutannya, tahu-tahu kamarnya sudah diserbu oleh pasukan Vector milik Mizel dari berbagai arah.
"Vector, geledah seluruh isi kamar Jin sekarang juga. Jangan lewatkan apapun meski hanya sebutir pun debu,"
...Dan, Jin hanya bisa pasrah dan lemas saat sekelompok LBX hitam tersebut menjalankan eksekusi yang diperintahkan oleh Mizel pada mereka.
"...Sekarang, jelaskan padaku apa ini..."
Saat ini, Jin sedang duduk sambil menunduk lemah di hadapan Mizel yang berkuasa.
"Ini... buku."
"..Buku apa?"
"Buku bacaan," masih sempat-sempatnya Jin bermain bego-begoan dengan Mizel. Sepertinya, ia sudah tak sayang nyawa.
"..He," entah kenapa Mizel tersenyum sado. "Tentang apa..?"
Jin membungkam mulutnya.
Mizel kembali bertanya sekali lagi. "...Tentang apa?"
Jin masih keras kepala membungkam mulutnya.
Mendapat perlawanan keras dari pihak yang sedang ia interogasi, akhirnya Mizel memutuskan untuk menggunakan cara yang agak kasar.
"Triton... semprot Jin dengan air."
Triton yang saat itu sedang berada di bawah kendali ghost jacking Mizel pun menyemprotkan sejumlah air ke wajah Jin.
Bruush.
Kemudian dalam hitungan detik, sekujur tubuh Jin sudah basah kuyup.
"Itu baru peringatan pertama," tutur Mizel. "Selajutnya aku akan memerintahkan Triton untuk meggunakan Ocean Blast padamu."
..Sadis.
Sungguh sadis.
Sadis sekali kamu, Mizel...!
Saat ini, Jin mulai curiga kalau Mizel yang sekarang ada di hadapannya bukanlah Mizelnya yang biasa, melainkan Mizel yang satunya lagi—sisi paling kejam dan jahat yang pernah Mizel miliki (dan berwarna hijau terang). Sebab, Mizelnya yang polos, manis, dan baik tak akan pernah tega berlaku demikian padanya.
...Atau, itu cuma sebatas perasaannya saja...? Semoga saja begitu. Bisa jadi juga, saat ini Mizel sedang berada dalam mode sado atau yangire.
Yah, semoga saja begitu. Sebab kalau tidak, itu berarti program Mizel sedang rusak.
Lamunan Jin dibuyarkan oleh suara Mizel yang kembali berbicara padanya. "Ini kesempatan Jin yang terakhir, jadi gunakanlah baik-baik..." ancam Mizel dengan serius. "...Ini buku tentang apa..?"
..Haah, apa boleh buat. Mau diapakan juga, Jin sudah tahu kalau ia bakal dieksekusi oleh Mizel. Akhirnya Jin memutukan untuk menjawab pertanyaan Mizel demi memperpanjang sedikit kesempatan hidupnya.
"...Buku... tentang cara berciuman."
Hening.
"He.." Mizel lalu mengangkat buku itu, melihat-lihatnya sekilas dan kembali menaruhnya. "...Jin mau jadi master ciuman, rupanya..." sindir Mizel.
Ugh.
Satu-satunya cara untuk keluar dari masalah ini adalah dengan cara meminta maaf.
"Maaf..."
Tak ada reaksi apapun dari Mizel. Android itu tetap diam di tempatnya tanpa berbicara maupun bergerak sedikit pun.
"..Alasan."
"Eh...?"
"Katakan alasan kenapa Jin bisa menyimpan buku ini..."
"Err... itu...," Jin menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, semburat merah tipis muncul di kedua pipinya. Sepertinya memang tidak ada cara lain, selain mengatakan yang sebenarnya.
"Itu.. karena... aku..."
"Ya?"
Deg.
Perkataan normal Mizel barusan terdengar seperti perintah dan ancaman bagi Jin.
"Itu..."
Mizel masih diam dan menunggu jawaban dari Jin.
"Sebenarnya..."
Satu, dua, tiga, empat. Yak!
"..K-kau tau sendiri kan, Mizel... kalau aku ini bukan tipe orang yang...r-romantis..." tutur Jin malu-malu, "Jadi...aku... berusaha untuk.. bisa sedikit lebih romantis saat bersamamu—" Jin melanjutkan perkataannya dalam satu kali nafas, "—oleh karena itu aku mencoba mempelajarinya lewat buku..."
"Hem..." Mizel bergumam pelan. "Lantas, kenapa Jin membeli buku ini...?"
"...Waktu itu, saat aku pergi ke toko buku.. karena bingung harus membeli buku yang seperti apa, akhirnya aku minta tolong salah satu petugas di sana untuk memilihkan," jelas Jin. "Karena dasarnya aku memang tak terlalu tahu banyak, jadi aku langsung setuju saja saat petugas di sana merekomendasikan sebuah judul padaku.. Begitu sampai di rumah dan membacanya, ternyata..." Jin berdeham dan tak melanjutkan kembali kalimatnya. Ah, biarlah. Yang penting sekarang ia sudah lebih plong.
Hening melanda keduanya selama beberapa saat.
"...Aho."
Kemudian, Triton kembali menyemprotkan sejumlah air ke wajah Jin.
Crot.
Crot.
...Ah, kalau ini sih sudah pasti perbuatan Mizel. Tapi, Jin sama sekali tidak mengerti kenapa Mizel melakukannya.
Mungkinkah... saat ini Mizel sedang memasuki mode tsundere...?
"H-hatsyim!"
Oh la la. Barusan itu suara Jin yang bersin. Kelihatannya, ia mulai masuk angin karena kedinginan disiram Triton.
Seolah melupakan semua hal yang sudah terjadi (baca: semua hal yang sudah Mizel lakukan pada Jin), Mizel membalikkan tubuhnya ke arah Jin dan mendekatinya.
"Jin...kau sakit..?"
Oh no. 'Suster Mizel' adalah salah satu hal lain yang Jin takuti sedunia.
Masalahnya, android itu sama sekali tak becus dalam merawat orang sakit. Alih-alih membuat penyakitnya sembuh; apa yang ia lakukan malah membuat pasiennya terbunuh.
Jin segera menggeleng kepalanya. "Tidak. Tadi itu cuma gatal karena debu—"
"—Tapi hidung Jin berair..."
"...Tidak. Ini karena barusan Triton menyiramku dengan air,"
"..Tapi badan Jin menggigil..."
"Bukan, ini bukan menggigil. Ini namanya gemetar..."
Mizel hanya menatap lurus ke arah Jin.
"..S-sungguh Mizel, aku tidak apa-a..ha...HATSYIM...!"
"...Jin, kondisimu sudah semakin parah. Ini tidak bisa dibiarkan..."
"T-tunggu dulu, Mi—"
"...Selamat tidur, Jin."
Kemudian Mizel menyegat Jin dengan listrik agar sang 'pasien' menjadi pingsan dan lebih mudah ia tangani.
"Hm... berarti malam ini aku harus masak bubur lagi..." gumam Mizel setelah membungkus Jin yang tak sadarkan diri di kasurnya dengan selimut dan berlalu begitu saja dengan langkah ringan.
(Malam itu, Jin harus kembali merasakan dicekoki bubur yang rasanya tak karuan untuk kali kedua dalam hidupnya.)
—FIN—
A/N:
Maaf endingnya aneh, saya udah ga ada ide lagi mau diapain, jadinya saya asal aja nulis. #ming
Tersunya BAYANGIN KALO SEANDAINYA BAGIAN INI GA SAYA CUT DAN PISAH, PASTI FIC-NYA BAKAL ANCUR TOTAL SEMUANYA AHAHAHAHA. #gila #stress #saraph
