UNEXPECTEDLY HAPPEN
Author: Annadine Amoris
Rated T
Romance, Friendship
Kamichama Karin © Koge Donbo
Unexpectedly Happen © Annadine Amoris
"You may feel lost and alone, but God knows exactly where you are, and He has a good plan for your life."
"Hanazono-san, bisa bicara sebentar?"
Eh, tapi...
Dia pengen APPAAAA?!
"Eh?" tanyaku bingung, sedangkan si blonde ini dengan yakinnya mulai jalan keluar kelas—ngasih aba-aba tuh suruh ngikutin. Dan jangan lupakan dengan 'teman' yang mulai ngelirik-lirik dan kode-kode juga.
Aku pandang-pandangan sama Miyon dan dia mengangguk serius. Aku pun juga mengangguk pelan dan mengikuti si blonde misterius itu.
Aku cukup menjaga jarak biar para manusia di koridor nggak ikut-ikutan ngelirik ke arahku. Haah, yakin banget sih dia kalo aku bakal ngikutin dia. Nggak sekalipun dia nengok ke belakang buat ngecek apa aku ngikutin dia apa nggak. Tuh kan! Kesannya kan kayak aku buntutin dia! Lagian, kenapa tiba-tiba dia pengen ngomong! Ngomong ya ngomong aja, pengen aku diintrogasi kazuners nanti, hah? Ini juga kenapa aku ikutin diaaa, kalo dia ngapa-ngapain gimanaaa
"Etto, ne, K-kujyou-san, kenapa tiba-tiba pengen ngomong?" aku nggak tahan untuk nggak GR ya.
Si blonde ini sudah berhenti berjalan tapi masih memunggungiku. Kami sudah ada di suatu tempat teduh di dekat taman sekolah yang agak sepi. Aku masih jaga jarak aman. Kalo dia mau apa-apa, aku masih bisa kabur. Yosh!
"Kau anaknya Hanazono, kan?" Kami-sama, kenapa dia punya suara yang menghangatkan ituu
"Kau sudah tau sendiri." Jawabku berusaha santai. Jangan lupa nafas karin. Ayo, ayo, tarik nafas..
"Kau mungkin sudah tau, mungkin nggak, mungkin nggak peduli," Kata Kazune yang masih misterius. Kami-sama, dia ngomong apa? Aku nggak ngerti, Kami-sama bantu aku x.x
"Mak-sud-nya?" tanyaku pelan-pelan.
Si blonde ini menghembuskan nafas pasrah. "Mungkin kamu nggak peduli, tapi aku peduli."
KAMI-SAMA! Aku masih bingung, tolong buat makhluk misterius di depanku ini mengerti x.x
"Sini handphone-mu." Kata kujyou yang sekarang membalikkan badannya sedikit dan mengulurkan tangan kanannya.
Eh?
Aku masing masang tampang blo'on. Hah? Ngomongin apa sih dia? Eh? Sekarang malah minta hp aku? Jir mau nya apa sih!
Kasih gak ya, kasih gak ya, kasih gak ya—
"Sebentar doang." Katanya lagi penuh penekanan. Kali ini dia keliatan serius banget. Syerem. Semoga aku gak akan ketemu makhluk yang kayak gini lagi.
Aku mikir dengan cepat apa yang harus aku lakuin. Mungkin pura-pura hp nya ketinggalan di tas? Terus diskusi dulu bareng Miyon? Ah, kalo kayak gitu sih ntar pasti ketemu banyak orang dan aku harus menerima pandangan iri itu. Tapi, entah kenapa sekarang hp-ku sudah ada di tangan kananku! PINTER!
Karna udah ku keluarin juga, dengan pasrah ku kasihin aja deh ke dia. Kalopun dia pengen nyolong hp aku, apa untungnya? Dia kan kaya (pastinya), dia pasti mampu beli hp yang lebih kece, dong. Lagian aku bisa lapor ke guru-guru juga. Ato mungkin kantor polisi?
Sebelum imajinasiku melayang kemana-mana, si blonde ini sudah menyerahkan kembali smartphone pink-ku itu. Ooh, nggak mau nyolong hp ternyata. Terus apa dong?
Aku menerima kembali hp ku itu, dengan tatapan minta penjelasan tentunya.
"Itu nomor hp ku." Kata Kazune yang sekarang berjalan mendekat—
—dan berjalan melewatiku, kembali ke arah kelas. Sial. Jantung, kembali ke posisi semula. Jangan melayang-layang. Kaki, ayo jangan patah disini. OTAK! AYO CEPET MIKIR INI APA MAKSUDNYA!
"Dengar baik-baik. Aku pengen kamu untuk langsung beritahu aku kalo ada sesuatu yang mencurigakan antara mamamu dan papaku. Mungkin kamu gak tau, tapi aku rasa mereka ada apa-apanya akhir-akhir ini. Mungkin kamu nggak peduli, tapi aku peduli." Katanya lagi dengan tenangnya dan tetap berjalan. Aku mengikutinya—lagi.
"Dan," katanya tajam. "Aku nggak menantikan nomor itu bocor ke orang yang nggak diharapkan." Entah kenapa suaranya terdengan sinis gimana gitu.
Aku masih diam seribu bahasa. Apa maksudnya? Dann.. otakku yang payah baru mulai berfungsi dan menyusun puzzle-puzzle membingungkan itu jadi satu.
Dan aku syok.
Berkali-kali mulutku membentuk O besar tapi tidak mengeluarkan suara apapun. Dan. Dia. Dengan. Santainya. Tetap. Berjalan. Ke depan.
"OH!" ...setidaknya saat ini ada suara yang keluar—tapi sedikit terlalu keras.
"OHO! A-aku sebenarnyaa pengen minta tolong hal yang sama, tapi..."
"Bagus." Katanya dingin.
"A-aku... AH! Ee-Yoroshiku ne~~ Kazune-kun~" aku yang kehabisan kata-kata tanpa sengaja nyebut nama kecilnya. MAMFOS. Mukaku langsung memanas, tapi, ah~ SUDAH TERLANJUR KHEHEHEHHE~! Kepalang basah! Nyebur aja sekalian!
Che, si blonde ini cuma mendengus pelan.
Tapi, tunggu dulu.
JADI KITA UDAH KERJASAMA NIH CERITANYA? BENERAN? WAA-
Coba deh Kami-sama buat Kazune mau kerjasama sama aku, baru deh aku bakal rajin menabung dan belajar juga...
Krik krik. Krik krik.
WAA-AKU TERJEBAK UCAPANKU SENDIRI-
KKYYAAAA- NAZAR-KU QAQ
"Jadi gitu..." kata Miyon saat akhirnya aku menyelesaikan ceramah panjang-lebar ngejelasin dari Kazune yang minta hp ku dan ternyata dia itu ngasihin nomer telp nya, sampe nazar-ku yang mau gak mau harus aku jalanin—aku takut Kami-sama bakal mencabut kebaikan hatinya padaku karna aku gak menepati janji TT_TT bisa aja aku ke sekolah besok pagi dan ternyata yang terjadi sekarang itu cuma mimpi... HIKSU
"Yaa gitu deh.." jawabku pelan. Kini kami sedang ada di perjalanan pulang. Tapi karna aku mau cerita dulu, akhirnya kita mampir di taman di dekat rumah kami. Sekolah kan masih pulang cepet, gak bakal takut kesorean lah.
"Bagus dong!" kata Miyon semangat. "Kalian udah kerjasama!"
"Iya sih..." balasku dengan senyuman penuh kemenangan. "Nggak didudga-duga juga... Kita gak perlu repot-repot deh nyari kelemahannya dia—lagian dia udah sempurna gitu, emang punya kelemahan?"
"Ehehehe..." Jawab Miyon. "Haah syukur deh... Kalo sama Kujyou yang genius itu, pasti dia—entah gimana caranya—bakal bisa dapetin ide cemerlang untuk ortu kalian~! Hahaha! Ternyata dia selama ini juga mikirin hal yang sama kayak kamu..."
Aku cuma mengangkat bahu.
"Plus kamu dapet nomer telponnya dia juga..." kata Miyon penuh penekanan—dan sindiran. Sial.
"Emang kenapa?" kataku sok santai. "Cuma nomer telpon doang, kalopun dia gak mau ngasih, aku bisa meres Micchi atau Yuki."
Miyon cuma cemberut aja. Haha! Saatnya pembalasan! "Kenapa? Iri ya? Oooh Miyon gak bisa dapetin nomer telponnya Yuki... Haah sayang ya..." kataku.
"Huh! Siapa juga yang butuh nomer telponnya dia!" kata Miyon membela diri. Kheheheh~
"Tanyain lah besook~" ujarku.
"Ngapain ditanyain!" Kata Miyon sambil membuang mukanya—yang mulai memerah bung.
"Ayo lah Miyoon, besok yuk kita tukeran nomer telpon sama Micchi dan Yuki..!" ajakku. Err... tapi apa ngga dianggep GR tuh? Bukan berarti aku suka sama Micchi ya, dia terlalu, err, childish? Nah tipe yang kayak gitu itu enak dijadiin temen, jadi, ya, aaaa aku gamau jadi PHP lah! (cie Karin nge-friendzone...)
Miyon mijit-mijit kepalanya. Cie puyeng.. "Kamu... mau jadi mak comblang ya, Karin?" tanya Miyon dengan tatapan menyelidik.
'Emang~^^' kataku dalam hati.
"Ayolah, Miyon, cuma nomer telpon ajjaahh..." pintaku dengan mata berbinar-binar.
"Kamu aja yang minta. Ayoo ah jalan lagi, semakin sore nih." Kata Miyon yang langsung berdiri dan menyeret tas nya dari kursi taman ini.
"Yey~ siap, bos~"
"Jangan lupa besok mulai pulang seperti biasa, bawa buku tulis dan liat jadwal pelajarannya. Jangan. Salah. Bawa. Buku."
"Ya, mama~"
Aku tidur terlentang di kasurku dengan malas. Haaah bosen lagi... Tadi udah makan malem sama mama, dan sekarang emang udah malem banget sih.
Aku mengambil handphone-ku dan mulai mengotak-atiknya sampai—
Brrt.. brrt...
PLAK.
Aku yang kaget akan getaran mendadak hp-ku itu, tanpa sengaja malah melepaskannya dari genggamanku dan—berkat gravitasi bumi ini—dengan mulus menampar pipiku keras.
'Ittai...'
Aku mengelus-elus pipiku yang pasti sudah memerah sekarang. Aku pun mengubah posisi tidur-ku menjadi posisi duduk ajah. Siapa sih yang nge-SMS malem-malem begini?
Jangan-jangan... *.* Si blonde itu? AAA~ Masa? Masa? Aaah~ perhatian banget sih...
Aku mulai deg-deg-an dan dengan tak sabar meng-unlock hp-ku dan memasukkan passcode-nya.
Lalu aku membuka message, DAAN—
'JGN LUPA bsk bawa buku tulis pelajaran yg sesuai di jadwal, jgn lupa alarmnny! Jgn salah srgm jg~!' dari Miyon. Sial.
"Ohayou gozaimasu~" kataku dan Miyon bebarengan. Beberapa anak membalas sapaanku, dan yang paling keras itu ya—
"OHAYOOU KARIN-CHAN~" —kalo bukan Micchi, siapa lagi?
Aku duduk di tempatku yang biasanya. Miyon juga. Dan, yah, seperti biasa, Yuki mulai mendekat dan kita mulai ngerumpi~ Tapi, si blonde ini masih menghilang, bung. Entah dimana dia sekarang. Perpus? Bukannya jam-jam segini perpus masih tutup? Eh, gatau juga sih, aku kan jarang ke perpus -.- (baca: gak pernah)
Sreek.
Tuh kan. Panjang umur. Baru aja dipikirin, eh doi dateng. Ish ish ishh...
"Ohayou, Kazune kun~" sapa Micchi juga. Kazune cuma membalas 'hn' saja. Di tangan kanannya terlihat dua buku yang cukup tebal, bung. Buku itu dia masukkan ke kolong mejanya dann... YASHH berhasil masuk ke kolong meja dengan selamat, bung! *lu kata sepak bola -_-*
"Itu buku apa, Kazune kun?" tanyaku dengan polosnya. Kazune menoleh ke arahku sejenak.
Krik krik. Krik krik.
Krik krik. Krik krik.
ASOYY AKU UDAH SOKAP KE DIA (XoX) SOKAP LEVEL: MAX
"Wah, kelihatan sulit ya~" kata Micchi sambil mengambil salah satu buku di kolong meja Kazune itu. Makasih Micchi, engkau adalah penyelamat suasana awkward ini... u,u Jasamu tak kan kulupakan sampai akhir hayatku~
"Itu buku medical, ya?" Kata Yuki sambil ikut-ikutan liat isi buku tebal itu. Raut mukanya bingung tapi manggut-manggut aja setelah baca cuplikan buku itu.
"Waah, ini buku perpus..." kata Miyon sambil nunjuk label putih yang ada di sisi buku itu. Aaa~ Minna, makasih ya sudah menyelamatkanku~ (〃・ิ‿・ิ)ゞ
"P-perpus emangnya udah buka yaa?" tanyaku asal. Yah, mau gimana lagi. Gak papa deh kalo aku dikacangin. Maap yah udah lancang nanya-nanya yang ga jelas TT_TT
"Hn," jawabnya pendek. Banget. Aku dan kawan-kawan pun sweatdrop di tempat. Dasar galaksi andormeda emang sulit diraih yak.
"Ini buat bahan penelitian yang tou-san kasih." Jelas Kazune. Kita pun menyuarakan 'ooo' serempak.
"Sugoii ne, K-kujyou-san baca buku yang kayak gini..." kata Miyon takut-takut.
"O-Ooh! Aku juga pernah di kasihtauin tou-san tentang ini!" kata Micchi sambil nunjuk-nunjuk sesuatu dari buku itu—yang aku gak bisa liat tentunya. Mereka berdiri, sedangkan aku duduk. Haah, lagian, buku kayak gitu itu jenis buku yang gak bakal pernah aku ngerti...
Haduhh.. kok bisa awkward sih, kalo ngomong sama dia?
"Ah~ buku kayak gitu, aku sih gak ngerti." Kataku hopeless.
"Hm, memang." Kata cowok blonde di sebelahku. Ya ampun, bisa gak sih bales yang nggak kejem-kejem amat? -_-
"Ne, dasar Kazune-kun, selamat puyeng sendiri ya mikirin buku ini." Kata Micchi sambil menyerahkan buku itu. Dia masang tampang hopeless dan geleng-geleng juga.
Untuk mencegah suasana menjadi awkward kembali, harus ada yang berkorban. Ternyata kali ini Yuki yang angkat suara, permirsah. "N-ne, kemarin ada tanteku dari Hokkaido—" Yuki lari-lari kecil ke tempat duduknya di depan dan menyeret tasnya... "—dateng ke tokyo dan bawain ini~"
Dan dengan hati-hati Yuki membuka tas nya dan menunjukkan box yang ada di dalamnya.
"Waah~ Oleh-oleh dari Hokkaido kah?" tanya Miyon dengan mata yang berbinar-binar melihat box yang dibawa Yuki.
"Yaps. Nanti pas istirahat kita makan, yuk! Kalo di sini kan banyak anak-anak, gak enak kalo mereka nggak dikasih juga. Ne, Kazune-kun? Kita makan sama-sama, ya!" ajak Yuki.
"Terserah."
"Yey~ Di kantin ya, istirahat pertama. Dijamin enak banget deh!" kata Yuki dengan semangatnya. Dia pun memulai ceritanya tentang pengalaman pertamanya ke Hokkaido.
...dan sebelum suasana berubah jadi makin awkward, bel pertanda pelajaran pertama dimulai pun berbunyi.
Aku gak pernah se-bersyukur ini saat mendengar bunyi bel itu.
Huh, liat aja, Kujyou Kazune! Suatu saat, kamu akan kubuat gak bisa jaim lagi! *smirk* *smirk*
To Be Continued...
A/N:
Halo lagi~!
Cepet kan ya updatenya :3 Hehehe... Karna aku udah ngerjain setengah chapter ini saat chapter 2 di update, jadi chapter ini bisa cepet~ :3
Aku bikin dia—maksudnya Kazune—lebih dingin daripada yang di cerita aslinya, dan sempet kesulitan juga pas bikin adegan suasana awkward itu. Kalo terlalu awkward, ceritanya malah jadi gak seru. Tapi kalo kurang awkward, Kazune-nya malah jadi OOC. Jadi, ya, alhamdulillah ya chapter ini selesai juga. *fyuuh...
Chapter ini—aku akuin—jelek banget. Ide-ide yang kemaren bermunculan entah kenapa nggak muncul lagi :v Soalnya dari kemaren malem, entah kenapa aku kepikiran buat bikin fanfic one shoot—tentang Himeka yang baru aja pindah ke Inggris. Kan lumayan tuh, pengalaman pribadi aku juga. Aku tau persis rasanya jauh dari rumah, pengen pulang, tapi gak bisa, aaa jadinya yang dipikirin ya ide-ide buat fic itu aja, sampe hampir lupa pernah janji update cerita ini .-. Gomen, ne, kalo chap ini kurang memuaskan. Chap selanjutnya bakal lebih baik deeh! (`o´)/
P.S. Oiya, seperti yang aku bilang, aku akan bikin Fic baru! Judulnya masih dipikirkan, ceritanya tentang kehidupan Himeka di Inggris—dan rencananya mau aku jadiin plot twist! Mungkin chapter 4 cerita ini ditunda dulu, ne! sehabis aku publish cerita baru itu, segera dilanjoot deh cerita ini~^^ Ditunggu, nee~ ❤(◕‿◕✿)
.
.
.
Belfast, 15th February 2015, 03:45 PM GMT
Annadine Amoris x
