UNEXPECTEDLY HAPPEN

Author: Annadine Amoris

Rated T

Romance, Friendship


Kamichama Karin © Koge Donbo

Unexpectedly Happen © Annadine Amoris


"Friends pick us up when we fall down, and if they can't pick us up, they lie down and listen for a while."


Beberapa minggu telah beralu sejak saat itu. Tidak ada event yang penting. Waktu itu, saat istirahat pertama, Yuki memang membagi-bagikan oleh-oleh dari Hokkaido itu untuk kami berempat. Dan aku juga dengan santainya berhasil bikin kita tukeran nomer telepon—tetapi Kazune ngga mau ikutan, sayangnya.

Oh ya, ngomongin Kazune, dia tetep jadi galaksi Andromeda, permirsah. Masih jauh. Masih bersinar. Tapi mungkin karna dunia ini hampir kiamat, galaksi ini—entah kenapa—mendekat, bung. Yaps! Dia nggak se-dingin saat pertama kali kita ketemu. Yah, ini semua berkat Micchi, sih. Dia terus gangguin dan godain Kazune sampe Kazune sebel sendiri dan bales ngejek Micchi dan tanpa sadar melenyapkan sifat jaimnya. Sekarang dia juga bisa lebih santai dan menerima keberadaanku dan Miyon—yang entah kenapa jadi sahabat deket mereka.

Temen-temen sekelas mungkin juga mulai terbiasa dengan kami ber-lima. Bisik-bisiknya mulai berkurang, dan kami mulai jadi 'teman'. Eh, itu baru yang sekelas. Kalo 'teman' yang di luar kelas sih, ya masih sering ngomongin kita deh kayaknya. Ah, biarin aja. Nanti mereka juga bosen sendiri.

Dan juga, Miyon kayakya makin dekat dengan Yuki. Dia juga mulai santai dan ngga kaku-kaku amat di dekat Yuki. Haah syukurlah. Mungkin kapan-kapan aku harus bikin acara mak comblang untuk mereka berdua. Tapi gimana caranya ya? Miyon kan lebih pintar dariku, bisa-bisa dia langsung sadar aku lagi menyiapkan sebuah rencana untuk dia dan Yuki.

Ha! Lagipula, gak ada waktu deh buat mikirin acara mak comblang ini. Kenapa? Karena, dalam waktu dekat, tes pertama akan segera berlangsung!

Kyaa~ Aku benci tes~~ Yah, harus belajar extra, dong? Huwaaa, aku gak suka belajar... Yah, walaupun aku (secara gak sengaja) pernah ber-nazar untuk rajin belajar dan menabung, nyatanya aku ngga sanggup nepatin janjiku itu TT^TT Kami-sama maapin Karin yah... Ah abis Kami-sama juga kenapa ngasihin Karin otak yang pas-pas-an, kalo mau aku dapet nilai bagus ya bantuin Karin lah, Kami-sama~ *Ini kenapa malah jadi nyalahin Kami-sama... Jangan ditiru yah :D /plak*

Hah... Kirimkan bala bantuan dong Kami-sama~ Aku mana mampu berusaha sendiri menghadapi semua ini, hiksu T-T


"Hanazono-san, bisa jawab pertanyaan nomer 5?"

"Eh?" aku kaget karna tiba-tiba diminta sensei untuk menjawab salah satu pertanyaan itu. Gawat! Aku sama sekali ngga ngerti! Meskipun sedari tadi aku berusaha untuk menyimak dengan baik penjelasan sensei, aku masih gak pahaam~ Haah, kalo aku nyimak aja tetep nggak ngerti, gimana kalo aku bengong doang? Masuk telinga kanan keluar telinga kiri dah tuh -,-

"Etto, sensei..." aku mulai hopeless dengan diriku sendiri.

"Makanya perhatikan dengan baik, Hanazono-san." Kata sensei itu.

Aku ingin menjawab, tapi tidak bisa. Aku ingin bilang aku sudah menyimak sedari tadi, hanya saja otakku tidak bisa memprosesnya dengan baik. Aku ingin bilang begitu, tapi tidak ada suara apapun yang keluar dari mulutku. Baru setelah aku mengumpulkan keberanian untuk bicara, sensei sudah mulai bicara lagi dan melemparkan pertanyaan itu ke orang lain. Matanya menjelajah ke seluruh kelas. Ia menatap Kazune, tapi, ah—dia pasti tahu cowok di sebelahku ini bisa segalanya, jadi lebih baik memberikan kesempatan menjawab itu ke orang lain saja.

Aku menatap meja tulisku ini dengan tatapan hopeless—lagi. Aku menggaruk rambutku pelan. Kenapa sih aku bisa nggak ngerti persoalan ini? Anak yang lain aja bisa!

Aku sedikit cemberut saat mendengar jawaban dari soal nomer 5 itu—akhirnya Yuki yang menjawabnya. Tuh kan, benar. Kenapa anak yang lain bisa?


"Karin-chan, daijobu ka?" tanya Miyon saat—akhirnya—bel istirahat pertama berbunyi. Aku menghela napas panjang.

"Ya nggak lah," kataku pasrah. Aku merapikan buku-bukuku dan memasukkannya kembali ke dalam tas.

"Ne, tenang saja Karin-chan. Manusia kan diberi kelebihan dan kekurangannya masing-masing," kata Micchi santai sambil mengemut permen yang entah dia dapat dari mana. Haah, itu kan nasihat yang sudah kudengar ribuan kali. Adaaa aja yang mengatakan hal itu padaku.

"Hm, sayangnya belajar bukan kelebihanmu, ya. Sayang sekali, padahal manusia dibuat untuk terus belajar." Kata Kazune sadis. Kalo Micchi yang bilang begitu, sih, aku bisa aja ketawa. Tapi kalo Kazune yang bilang begitu... Itu mah beda cerita.

"Huh, ngapain ngatain aku segala. Mending kalo kamu mau ngajarin aku belajar atau apa, jangan ngatain doang bisany—" belum selesai aku bicara, ucapanku ini dipotong oleh Micchi.

"Nah! Iya tuh, Kazune-kun~ Kamu kan orang terpintar se-galaksi bimasakti, kenapa ngga ajarin Karin aja, lah~" usul Micchi asal.

Aku memberi Micchi tatapan yakali-gitu!

"Nah! Iya iya! Kazune-san, tolong lah ajarin Karin-chan! Ne, ne? Ayolah Kazune-san... Kalo nggak kan aku yang harus ngajarin Karin-chan... Hiksu, menyedihkan sekali T-T" kata Miyon yang sok mellow itu. Hah, Miyon! Kukira kita kan teman, Miyon! TT^TT

Yuki yang melihat adegan itu cuma bisa geleng-geleng kepala.

Kazune memandang sinis ke arah kami semua. "nggak akan."

"ayolah Kazune-san..."

"O-Oy, siapa yang bilang aku pengen diajarin dia—"

"Kazune-kun~! Ini kesempatan menambah wawasanmu juga!"

"aku menolak."

"Kazune-san! Pleeaseee Kazune-san! Yuki-kun bantuin dong!"

"M-Miyon, Micchi, siapa juga yang pengen diajarin orang kayak d—"

"Sumimasen," debat kami pun terpaksa terhenti karna anak di depan pintu itu.

"Ano, apa ada Hanazono Karin?" mata cewek itu menjelajah ke seluruh penjuru ruangan.

Hah, dia nyari aku? Siapa tuh? Fans? :o Ya ampun! Meskipun udah berminggu-minggu ngobrol sama Kuyou Kazune dkk, aku ngga pernah di datengin kayak gini! :o

"Di sini," kataku sambil bangkit dari tempat dudukku dan mendekati gadis itu dengan tatapan bingung tentunya.

Gadis itu dengan malu-malu melanjutkan, "Mmm, d-dengan Kuyou-san juga..."

Krik krik. Krik krik.

Hah? Apa-apaan nih? Mau ada interview ato gimana? Sekarang aku udah ada di depan cewek itu, sedangkan Kazune masih ragu antara ikut berdiri atau ngga.

"Ano ne, sensei memanggil Hanazono-san dan Kujyou-san ke ruang guru, aku ngga tau kenapa." Kata gadis itu kepadaku—melihat Kazune yang belum juga beranjak dari tempat duduknya.

Hah, di panggil guru? Che, udah GR-GR juga dikira fans atau apa, eh ternyata dipanggil guru. Eh, DIPANGGIL GURU? Kami-sama! Apa salahku? Ya Tuhaannn, rasanya aku bener-bener bakal belajar super rajin asalkan ngga kena hukuman dari guru!

Tuh. Kan. Aku. Malah. Nazar. Lagi.

Kazune, jelas, mendengar ucapan gadis ini dan langsung beranjak dari kursinya dan berjalan santai ke arah kami.

"'Sensei'? Sensei siapa, yang mana?" tanyaku pelan.

"Err, Matsumoto-sensei, katanya sih wali kelas 3-1 juga," kata gadis itu pelan. Dia mungkin mulai salting karena Kazune mendekat. Dia pun pamit pergi.

"Haah, lihat masalah apa lagi yang kau perbuat," kata Kazune di tengah-tengah perjalanan kami ke ruang guru. "Dan kenapa aku ikut dipanggil," bisik Kazune kesal. Aku cuma bisa cemberut aja—mengingat aku juga nggak tahu asal-muasal pemanggilan ini.

Ruang guru ada di lantai dasar, sedangkan kelas kami kebetulan ada di lantai 3, jadi lumayan jauh tuh. Ah, ya, aku harus bergegas sebelum bel pelajaran selanjutnya berbunyi!

Huwaa~ lagian ini kenapa aku sampe dipanggil guru? Aku berusaha mengingat-ingat pelanggaran apa yang sudah kuperbuat, tapi seingatku ngga ada yang parah-parah amat... Aku beberapa kali mepet masuk sekolah, tapi kan mepet doang, ngga telat (makasih ya Okaa-san yang bela-belain nganterin aku ke sekolah kalo misalnya aku udah telat)! Aku mungkin dapet nilai PR yang jelek, tapi aku selalu ngumpulin tepat waktu (makasih ya Miyon-chan yang selalu ngingetin setiap deadline para tugas mengerikan itu)! Aku mungkin ngga bisa jawab pertanyaan sensei, tapi aku selalu nyimak penjelasan mereka (makasih ya Kujyou Kazune yang auranya sangat mengerikan aku sampe ngga berani ngelakuin hal lain selain merhatiin sensei)! Haah, emangnya aku separah itu apa, sampe dipanggil sensei?

Dan, di sinilah kami sekarang, di depan ruang guru. Aku menggeser pintu ini perlahan, dan menjulurkan kepalaku sedikit ke dalam.

Tampak di sudut ruangan, ada Matsumoto-sensei dan buku-bukunya. Dia tampak menyadari keberadaanku, dan menyuruhku masuk.

"Ah, Hanazono-san, bisa masuk sebentar? Etto, Kujyou-san tunggu di situ dulu ya." Katanya lembut. Kami berdua mengangguk patuh dan aku berjalan mendekati Matsumoto-sensei.

"Ne, Hanazono-san, bagaimana sekolahnya?" Matsumoto-sensei tersenyum dan berbasa-basi sejenak.

"Ah, untuk urusan itu, kan Matsumoto-sensei lebih tau daripada aku sendiri." Kataku pasrah.

Lagipula, jawabannya sudah jelas—yaitu Sangat. Tidak. Memuaskan.

Matsumoto-sensei tersenyum simpul. Dari ekspresinya, terlihat dia ingin langsung to-the-point.

"Ne, Hanazono-san, berhubung waktu istirahat pertama itu nggak begitu panjang, jadi langsung aja ya... Mmm, jadi begini. Saya sudah terima laporan terbaru nilai murid dari guru-guru. Hanazono-san pasti tau dong maksud saya." Katanya tenang dan berusaha bikin suasana hepi.

Ah, ternyata itu... Aku ternyata nggak bikin pelanggaran apa-apa. Fyuuh untung aja. Udah ngeri aku kalo disuruh bersihin toilet atau apa lah...

Tapi, maksud Matsumoto-sensei apa ya? Aku memasang tampang bingung.

"Jadi, menurut sebagian besar guru-guru, kemampuan Hanazono-san untuk menyerap pelajaran itu kurang," jelas Matsumoto-sensei melihat tampang bingungku.

Oh, gitu ternyata... Eh, APPA? Emang aku separah itu ya ._.

"Hanazono-san tenang dulu. Ngga parah-parah amat kok, tapi, yah... Gimana ya..." Matsumoto-sensei mulai ragu dan menggigit ujung bibirnya. Eh, dia bisa baca pikiran ya?

"Kan ulangan pertama akan segera berlangsung, nih, Hanazono-san... Sensei cuma mau tanya, kamu udah siap?" tanyanya berusaha ceria.

"Ya gitu, deh, sensei..." Kataku hopeless. "Biasanya aku belajar bareng Miyon." Lanjutku membela diri untuk mengurangi imej malas.

"Ujung-ujungnya malah ngobrol kemana-mana kan?" tebak Matsumoto-sensei tepat sasaran. Aku cuma bisa nyengir pasrah.

Matsumoto-sensei cuma bisa tersenyum. "Nah, Hanazono-san, sensei tahu kamu bisa. Kamu cuma butuh lebih banyak dorongan aja." Katanya lembut. "maka dari itu..."

"Maka dari itu...?" tanyaku pada sensei yang tiba-tiba memutus kata-katanya itu.

"Kujyou-san, bisa masuk sekarang?"

Eh? Kazune daritadi masih di sini ya? :o Yaah yah yah yah aku lupa :o Kalo dia daritadi nguping gimana? Abis deh aku dikatain dia. Eh, ini juga kenapa sensei manggil Kazune? Nah nah nah :o

Kazune dengan anggunnya memasuki ruang guru itu dan berdiri di sebelahku.

Mastumoto-sensei kembali tersenyum dan melanjutkan pembicaraannya. "Nah, jadi, saya cuma mau minta Kujyou-san tolong bantu Hanazono-san belajar ya. Setidaknya untuk ujian yang akan datang itu—walapun saya berharap sampai seterusnya juga sih... Saya lihat kalian juga dekat, jadi nggak ada masalah kan?"

...

...

...

Krik krik. Krik kr—

WUAPPPAAA?


"HAHAHAHHAHAH—" tawa Micchi dan Miyon tak bisa dielakkan lagi. Sekarang ini istirahat kedua dan aku baru dapet kesempatan untuk ngejelasin ke mereka kenapa aku dan Kazune tadi dipanggil ke ruang guru. Yap, setelah sensei memberikan perintah itu, aku dan Kazune sama-sama diam mematung—tapi gak berani membantah. Dan suasana ini sangat awkward sampe-sampe kita nggak ngomong sepatah katapun selama perjalanan balik ke kelas.

Dan sekarang, kami berlima sedang ada di taman sekolah—karna aku mau nyeritain apa yang terjadi, taman ini tempat yang tepat, permirsah. Kalo di kantin ada terlalu banyak orang—dan aku baru saja selesai menceritakan kejadian tadi. Miyon dan Micchi tersenyum puas. Yuki tersenyum lebar. Kazune helpless dan mijit-mijit kepalanya.

"Yessshh! Baru aja tadi aku mintain Kazune-kun untuk ajarin Karin-chan, eh ternyata sensei punya pemikiran yang sama juga! ARIGATOU KAMI-SAMA, AILOPYU SOMAY~ EH MAKSUDNYA SO MAACHHH~~!" teriak Miyon senang.

"KAMI-SAMA BAIK DEEH~!" Micchi ikut-ikutan teriak ke arah langit yang terbuka itu.

Tapi... sebenernya ada 1 masalah lagi...

Kami-sama telah mengabulkan DUA nazar-ku dan sekarang giliran aku yang HARUS menepati janjiku.

...kalo mau aku dapet nilai bagus ya bantuin Karin lah, Kami-sama~ Kirimkan bala bantuan dong Kami-sama~

...Ya Tuhaannn, rasanya aku bener-bener bakal belajar super rajin asalkan ngga kena hukuman dari guru!

DUA! Ini entah kenapa Kami-sama bener-bener ngirim bala bantuan berupa Kujyou Kazune dan aku yang ternyata juga ngga dapet hukuman dari sensei. DUA permirsah, DUA!

Aku cuma bisa menghela napas pasrah. Aneh ya, doa-ku dikabulin kok malah jadi bete gini ya -_-"

Gimana gak bete kalo bala bantuan yang Kami-sama kirim itu berupa Kujyou Kazune -_- Manusia paling sadis, kejam, galak, dan dingin se-galaksi bimasakti? Yang bener aja, Kami-sama!

Kami-sama: Eh eh eh ini udah dikabulin juga doanya, bukannya bersyukur malah marah-marah -_-

Aku melihat empat manusia di depanku ini. Micchi dan Miyon yang masih godain dan nyindir-nyindir Kazune, plus Yuki yang kadang-kadang belain Kazune dan kadang-kadang dukung Miyon juga.

Apa ya jadinya tes-ku nanti kalo belajarnya diajarin Kazune?

Eh, yang lebih penting lagi, BELAJAR BARENGNYA GIMANA? Aa! Gak mungkin di rumahnya Kujyou karena aku gak mau punya urusan lagi sama Mr. Kujyou! Tapi juga gak mungkin di rumahku, kan? Bisa gawat kalo mama tau ada anaknya Mr. Kujyou di sini. BISA GAWAT KALO DIA TAU AKU DEKET SAMA KAZUNE QAQ

TERUS DIMANA DOONG? Di sekolah? Pulangnya aja sore banget, ntar kalo pulang kemaleman kan serem! Lagipula nunggu sekolah biar jadi cukup sepi kan lama!

Gimana doong, Kami-sama!


To Be Continued...


A/N:

Waai, jadi~^^ Akhirnyaaa, setelah ngumpulin ide untuk berhari-hari lamanya, fic ini jadi juga yo! ヾ(*´∀`*)ノ

Gimana gimana? Gak jelek kan? Gak bagus gak apa apa lah, asalkan ngga jelek ._. Makasih ne atas semuanya yang udah review, jadi makin semangat~~ Aaa kalian para author pasti tau rasanya saat kalian bangun pagi, buka laptop, eh pas buka FF banyak yang review, aa~~ \(*≧∇≦*) Jadi semangat, asli. Terus review, ya! :*

Gomen, ne, kalo menurut kalian chap ini alurnya kecepetan atau mungkin kurang panjang... (tapi ini 2000+ words kok, ngga pendek-pendek amat .-.) Abisnya, aku sendiri sampe ngga tahan bikin adegan awkward; rasanya tuh Kazune pengen aku remek-remek dan aku bilangin ke dia mendingan jadi sadis aja daripada awkward... Hehehe~ Lagipula aku kira ngga ada event penting yang mungkin terjadi di saat-saat kayak gitu. Kalo emang mama Karin plus papa Kazune ada sesuatu, pasti mereka bisa menyembunyikannya dengan baik, dong. Jadi masalah tentang mereka berdua ditampilin nanti aja, disimpen buat klimaks. Sekarang yang penting Karin dan Kazune harus cukup deket dulu untuk bisa nyelesai-in persoalan rumit ortu mereka ini p(^-^q)

Hmm, btw anyway, sebenernya bikin FF itu bakal lebih gampang kalo ganti-ganti POV (Point of View), tapi menurut aku yang kayak gitu itu bikin bingung dan somewhat nyebelin, jadi aku usahain POV-nya tetep Karin, yah ._.

Chapter depan bakal banyak Kazune-nya, nih! Apa ya yang bakal terjadi di antara Karin dan Kazune, yaa? Aku sendiri juga gak tau ʅ(´◔౪◔)ʃ /plak *lu kan authornya, gimana sih*

Chapter selanjutnya ditunggu, ne~ Insyaallah akan di update senin besok. Tergantung mood, kheheheh~~ Jangan lupa review! Jaa na!

P.S. Yang punya Google+ add aku doong~ Baru bikin nih khusus sebagai Annadine Amoris. Oiyaa, sama buat kalian yang punya FB, aku juga udah add beberapa author disini~ tolong di accept yaa~! Link cek bio yaps *hugs*


.

.

.

Belfast, 20th February 2015, 07:01 PM GMT

Annadine Amoris x