UNEXPECTEDLY HAPPEN
Author: Annadine Amoris
Rated T
Romance, Friendship
Kamichama Karin © Koge Donbo
Unexpectedly Happen © Annadine Amoris
"Running away from your problem is a race you'll never win."
Hosh hosh hosh...
Aku berlari secepat yang kubisa. Sesekali aku melirik jam tangan yang melingkar manis di pergelangan tanganku ini. Sial, aku semakin telat dari waktu yang kujanjikan.
Kakiku pegal dan mati rasa, tapi aku harus cepat-cepat karna aku sudah sangat terlambat datang ke tempat kita janjian. Berkali-kali aku nyaris menabrak orang yang berlalu-lalang di trotoar ini, dan berjuta maaf kulontarkan begitu saja—tanpa benar-benar merasa bersalah tentunya. Otakku dipenuhi bayangan wajah kesal nan menyeramkan seorang Kujyou Kazune—yang sudah kubuat menunggu hampir 30 menit! Ah, iie, 30 menit kan waktu aku baru berangkat dari rumah, berarti sekarang sudah hampir 40 menit aku telat!
Eh, tunggu dulu, janjian sama Kazune? Iya! Gila gak sih, janjian sama orang paling kejam dan galak se-galaksi bimasakti, dan aku malah telat! Bisa habis aku dipanggang dia. Ato mungkin direbus. Mungkin digoreng. Mungkin ditumis. Mungkin disate. AAAH! Udah udah! Malah mkirin makanan jadi laper :G Mana aku gak sempet sarapan lagi!
Eh, jangan mikir yang ngga-ngga loh, ya! Ini janjian bukan dalam rangka nge-date kok :v Jadi gini, setelah sensei nyuruh Kazune buat ngajarin aku belajar, kan kita bingung tuh, mau belajar dimana? Karena gak mungkin di rumahku maupun di rumah Kazune—dan di sekolah juga gak bisa, akhirnya dia nge-SMS aku dan bilang kita mendingan ketemuan di perpus kota. Dan. Ini. Perintah. Jam 9. Hari sabtu. Bawa buku-bukunya. Jangan sampe telat.
Dan, di hari sabtu pagi yang cerah ini, nyatanya aku masih molor sampe jam 9, permirsah. Makasih ya Miyon yang BARU ngingetin aku ada janji sama Kazune PAS jam 9. Alhasil, aku langsung bangun, lari ke kamar mandi; cuci muka, sikat gigi, dan ganti baju—sempet bingung juga mau make baju yang mana—dan langsung ribet sendiri nyari buku-buku pelajaranku dan langsung cabut ke arah perpus itu. Gak sarapan. Gak minum. Gak makan. Sial. Kenapa tadi malem aku lupa nyetel alarm?
Dan, yah, aku ngga naik mobil okaa-san karena jam segini biasanya jalanan mulai macet. Dan aku ngga naik sepeda karna... Err, lagi ngga mood naik sepeda :v Lagian udah lama juga ngga sepedaan ._. Daerah sekitar perpus kan rame juga, bisa-bisa sepedaku dicolong orang.
Jadi, disinilah aku sekarang, di depan perpus kota yang besar. Aku masih ngos-ngosan, dan mulai celingak-celinguk nyari seorang cowok berambut blonde di sekitar tempat ini. Err... dia bilang ketemuan di depan perpusnya kan? Apa di dalemnya? Tapi kayaknya di depannya deh.
Aku bersandar di dinding perpus ini dan mulai merogoh tasku dan mencari hp-ku. Ah, ini dia. Aku mulai mengecek SMS yang dia kirim kemarin malam. Sebelum aku sempat membukanya—
"Oy."
Ini dia. Your worst nightmare, Karin. Here we go. Aku mendongak perlahan, menatap orang yang memanggilku itu. Yosh, siap-siap dipanggang ya Karin. Ato mungkin direbus. Mungkin digoreng. Mungkin ditumi—sudahlah.
Yep, ini dia. Mataku bertemu dengan mata shappire itu—ah, masih sama seperti pertama kali aku melihatnya. Masih jernih. Masih indah.
Dan aku kembali ke dunia nyata.
"A-Ano... Gomennasai!" kataku sambil nunduk-nunduk 90 derajat. Aku bersiap sedia mendapat omelan pedas cowok di depanku ini. Bersiap untuk dipanggang. Direbus. Digoreng. Dibunuh juga bisa aja.
"Hn, 45 menit telat." Kata Kazune santai sambil melirik jam tangan putih di pergelangan tangan kirinya.
Aku mulai meluruskan punggungku lagi perlahan-lahan. Err... Gitu doang reaksinya?
"Sudah kuduga." Katanya santai sambil menyeruput kopi Starb*cks di tangan kanannya.
Otakku dipenuhi sejuta tanda tanya. "Err... Nggak marah, nih?"
Dia menatapku sejenak. "Well, aku sudah mengira kamu bakal telat, jadi aku baru dateng kesini 5 menit yang lalu dan karna kamu belom dateng juga, aku mampir kesitu dulu," katanya sambil mengarahkan dagunya ke arah kafe tempat dia membeli kopinya itu.
...
...
...Dia... baru dateng 5 menit yang lalu?
Dan aku lari kesini sampe kakiku mau copot?
Sampe ngga sarapan?
Sampe make baju asal-asalan?
Sampe takut dipanggang-rebus-goreng-tumis-sate?
Bunuh. Bunuh. Bunuh. Bunuh. Bunuh. Inner aura-ku mulai mengatakan demikian.
AKU YANG TELAT, TAPI ENTAH KENAPA MALAH AKU YANG PANAS! GGGRRR—KUBUNUH KAU KAZUNE—!
Krauk-Krauk-Krauk—
Eh?
Aku menunduk dan memegang perutku yang berbunyi itu. Sial. Kenapa harus di depan dia? Mukaku mulai memanas karena malu. Semua aura membunuhku hilang entah kemana.
Kazune menaikkan sebelah alisnya. Hening sejenak.
Aku membuang mukaku ke arah kanan, dan melihat ada mesin minuman yang kelihatannya menggiurkan. Ah, minum yang dingin-dingin bisa bikin seger. Tapi, perutku kan kosong, bisa-bisa aku masuk angin. Aku memindahkan pandanganku ke arah rerstoran cepat saji yang ada di sebelah perpustakaan ini. Ah, Kami-sama, aku benar-benar lapar...
Tanpa sadar aku sudah menatap restoran itu cukup lama—dan ternyata Kazune sudah menatapku selama itu. Aku buru-buru kembali ke dunia nyata dan baru aja mau bilang kita langsung aja mulai belajar, saat Kazune menyelaku.
"Kalau lapar makan saja dulu," Katanya santai dan kembali menyeruput kopinya. Che, kenapa dia kayak gak ada rasa bersalah gitu? Tapi... aku emang laper banget TT^TT Kalo laper gini kan nggak bisa konsen belajar...
"Oke," kataku cepat dan mulai berjalan ke arah restoran itu.
Aku membuka pintu restoran yang cukup ramai ini. Ah, wanginya enak banget... Jadi tambah lapeer... Aku mulai mengantri.
Sambil ngantri, aku merogoh-rogoh tasku kembal untuk mencari dompetku.
...
...Loh, kok gak ada?
Tadi perasaan udah aku masukin deh.
Atau... Nggak?
Aku menatap horror tasku ini, dan berjalan keluar antrian. Aku berdiri di dekat pintu dan mulai menggali tasku ini. Eh, dimana nih dompetnya ._. Aaah! Tadi kan aku udah masukin juga!
...Kalo ketinggalan gimana dong?
...Ngemis-ngemis minta beliin makan sama Kazune?
...Yakin?
AH, nevermind. Ini dia dompetku ketemu—ada di bagian depan tasku, ternyata. Fyuuh, syukurlah. Udah ngeri aku kalo harus minta traktir sama Kazune.
Aku kembali ke antrian. Dan mulai mikir harus pesen apa. Chicken burger apa Beef burger ya? Aku tersenyum dan membuka dompetku—siap-siap bayar dari sekarang.
...Krik-krik. Krik krik.
A-are?
I-ini... Aku menatap horror dompetku ini.
Kosong.
Kosong.
Ah, ada koin 100 yen.
Kosong.
Kosong.
KOSSSONG, PERMIRSAH!
Aku kembali keluar dari antrian dan berdiri di dekat pintu—lagi. Beberapa orang menatapku heran.
Ah, siapa peduli dengan mereka! Mendingan peduliin ini dompet aja.
Dompet ini kosong, permirsah. KOSONG! Kami-sama, kenapa ini terjadi padaku T-T Kami-sama gak pernah se-PHP ini TT^TT
Ah! Aku baru ingat. Aku sudah memasukkan dompet yang salah! :o Beberapa hari yang lalu aku beli dompet baru di toko aksesoris di pusat kota karena dompet lamaku resleting tempat koinnya rusak, dan aku memindahkan semua uang yang ada ke dompet baruku itu—kecuali 100 yen yang ketinggalan ini, permirsah.
SIAL! KENAPA AKU BISA LUPA KALO UDAH BELI DOMPET BARU! :O
Aku bingung harus apa. Perutku mulai konser dan kenyataannya konsernya makin rame. Ya ampun. Ini tidak bisa dibiarkan. Gimana, nih? Aku cuma punya 100 yen, dan itu sama sekali ngga cukup untuk beli makanan apapun. Aku menggigit bibirku dan mengalihkan pandanganku ke pintu kaca di depanku.
Dan aku kaget saat seorang cowok blonde yang sangat kukenal membuka pintu ini dan berjalan masuk. Aku bisa merasakan beberapa cewek tersepona—ralat—terpesona melihatnya. Suasana di dalam restoran ini mendadak berubah dan orang-orang mulai melirik ke arah Kazune.
Dia menatapku datar. Aku masih dalam posisi menggigit bibir plus sebuah dompet kosong di tangan kananku. Aku buru-buru menutup dompet itu dan berusaha menutup-nutupinya—yang jelas sudah terlambat.
"Lama." Katanya datar. "Kenapa lagi, hah? Pasti lupa bawa duit." Lanjutnya sambil menatap dompet yang berusaha kututupi ini.
Aku bingung harus jawab apa. Bela diri? Tapi kan yang dia omongin emang bener. Marah? Well, walaupun kurang-lebih ini emang salahnya, tapi disini terlalu banyak orang yang menatap kami—maksudnya menatap Kazune—dan ini samasekali bukan tempat yang tepat untuk marah-marah.
Aku malah diem dan menatap ke arah lain. Aku terlalu malu untuk natap dia. Hah, gak biasanya aku kayak gini. Bukan, bukan gak biasanya aku telat janjian / lupa bawa duit / kelaperan gini, tapi aku gak biasanya bisa malu banget di depan seseorang. Mungkin karna Kazune sifatnya begitu? Atau... karna aku yang sifatnya begini?
Kazune menatapku seolah-olah aku makhluk paling menyedihkan yang pernah ada. Yah, aku emang menyedihkan. Mau gimana lagi?
Dengan cuek dia jalan ngelewatin aku dan masuk ke antrian. Aku menengok ke arahnya perlahan. Dia... Ngantri?
...Jangan-jangan mau beliin aku makanan?
Ah, aku gak mau terlalu berharap. Siapa tahu dia yang laper dan beli makanan buat dia sendiri—lebih tepatnya untuk godain aku dan bikin aku tambah laper. Yah, mungkin aja.
Aku mengalihkan pandanganku ke lantai restoran ini; gak mau mikirin lebih lanjut tentang Kazune. Aku berusaha mikirin hal-hal lain, tapi sayangnya karna aku laper banget, aku gak bisa mikirin apapun. Aku mikirin buku-buku pelajaran sekolah, tapi ujung-ujungnya malah kepikiran buku resep burger. Aku ganti mikirin keuangan dunia, tapi setelah mikirin tentang duit, aku malah ngebayangin duitnya buat beli es krim. Aku ganti mikirin pertandingan basket amerika di tv-tv, tapi ujung-ujungnya aku malah ngebayangin pemainnya capek dan minum p*cari sweat. Sial.
Kresek.
Lamunanku tentang burger, es krim, dan p*cari sweat buyar seketika saat aku merasakan ada semacam paper bag yang menyentuh pundakku. Aku menengok ke arah sumber suara dan menemukan cowok blonde itu berdiri tepat di sebelahku dan di tangan kanannya terdapat sebuah paper bag bertuliskan logo restoran ini. Aku menatapnya sejenak.
"Cepet makan ini dan kita langsung cabut belajar terus pulang. Cepet mulainya, cepet selesainya." Katanya cuek. Ekspresinya datar, sulit ditebak. Tangan kanannya masih menggenggam paper bag coklat ini. Astaga, kelihatannya enak sekali.
Err, tapi... Ini gak mimpi kan?
"Mau gak?" tanyanya sedikit membentak. Tapi kali ini, bentakannya itu bentakan lembut(?).
"Eeeh iya iya!" kataku cepat dan langsung merebut paper bag itu dari tangan Kazune dan dengan antusias langsung membukanya—itu sebelum Kazune menarik paksa tanganku dan menggeretku ke tangga menuju lantai atas.
"Makan. Sambil. Duduk." Katanya dingin. Oh, gitu toh. Emang sih, di lantai dasar ini setiap meja udah penuh. Tapi masih ada lantai 2, jadi kami berdua naik ke situ. Paper bag ini—yang tadi kulihat berisi chicken burger plus french fries plus cola—kupeluk dengan kedua tanganku. Eh... Chicken burger? ._. Aku lebih suka beef sih... Ah tak apa lah yang penting ditraktir ^^
Kazune sudah melepaskan genggamannya dari lengan kananku, dan kami menaiki tangga ini dalam diam.
Whoaa di lantai atas ini ternyata rame juga, bung. Ah, untung aja ada satu meja di dekat jendela kaca yang baru saja dibersihkan oleh mba-mbanya. Bagos. Tempat strategis. Sambil makan bisa sambil lihat keramaian jalanan Tokyo di pagi hari ini.
Aku duduk di salah satu kursi yang ada, dan menaruh tas berisi buku-bukuku di kursi di sebelahku. Kazune sendiri duduk di depanku. Saat dia mendapatkan posisi yang nyaman, dia duduk bertopang dagu dan menatap ke arah jendela kaca di sebelah kami ini. Aku sendiri mulai sibuk mengeluarkan sarapanku ini dengan senyum senang terlukis di wajahku.
"Ini buat aku semua, nih?" tanyaku pada Kazune melihat hanya ada satu chicken burger di dalam paper bag ini.
Dia tetep gak menoleh kearahku dan hanya menggumamkan 'hn' pelan saja.
Ah, bodo amat deh. Aku terlalu lapar untuk mikirin Kazune. "Yosh! Itadakimasu~"
Aku menggigit salah satu bagian dari burger ini sampai mulutku penuh dan mengunyahnya nikmat. Aku tertawa kecil dan berkata 'oishii' kepada Kazune.
"Makan jangan sambil ngomong," katanya santai. Matanya tetap terpaku ke arah kaca itu. Aku mengikuti arah pandangnya dan... gak ada apa-apa. Dia bengongin apa, ya? Di jalanan itu ada banyak orang berlalu-lalang, tapi gak ada yang menarik juga.
Tanpa sadar, ternyata Kazune sedang menatapku yang sedang mengunyah burger itu besar-besar.
"Apa?" tanyaku padanya sambil mencomot dua french fries sekaligus ke dalam mulutku.
"Haah, kau bisa gendut kalo makannya begitu." Katanya sadis.
"Apa pedulimu," kataku tak kalah sadis dari Kazune. Aku dengan masa bodohnya kembali menggigit burger yang semakin sedikit ini.
Ah, sayang sekali, Karin... Kau jadi gak sempet ngeliat Kazune tersenyum.
Kami sama-sama nggak berniat memulai percakapan baru. Aku dengan cepat langsung menghabiskan sisa burger dan french fries ini—biar kita bisa cepet belajar dan aku bisa cepet pulang.
Gulp.
Yosh. Aku sudah menelan kunyahan terakhir dari french fries-ku. Cola-nya masih ada setengah gelas, tapi itu kan bisa diminum nanti.
Aku langsung berdiri dan bilang ke Kazune, "Tunggu disini. Aku mau cuci tangan dulu."
Tidak ada respons. Bodo amat. Aku membawa cola dan tasku bersamaku, dan langsung melenggang ke arah toilet cewek dan mulai mencuci tanganku yang berminyak. Aku celingak-celinguk ke sekitar dan baru sadar gak ada orang di toilet ini. Otakku mulai membayangkan hal-hal serem seperti hanako—yang konon mati di toilet—atau mungkin ada darah tiba-tiba muncul dari kran ini...
Aku menggeleng cepat-cepat. Haah, aku ini udah gede, kenapa masih takut sama hantu begituan?
Tapi emang serem sih. Suasana di toilet ini sepi mencekam, beda banget sama suasana di luar yang rame dan berisik.
Aku melirik sebentar ke arah cermin mengkilap di depanku.
Ya. Am. Pun. Bayangan manusia di depanku itu terlihat sangat menyedihkan. Rambut asal disisir, bando miring, ada mayonnaise di sudut bibir, muka polos bebas make-up, dan jangan lupa dress yang berantakan.
Aku sedikit cemberut. Hm, ini perlu perbaikan. Gak apa-apa lah Kazune kubuat menunggu sebentar lagi. Sekali lagi aku celingak-celinguk memastikan gak ada orang di sekitar, dan langsung mengeluarkan make-up bag yang—untungnya—kubawa dari rumah. Aku menyisir ulang rambutku, membenarkan letak bandana putihku, memakai bedak tipis plus lip gloss pink. Aku juga sempat memakai sedikit mascara. Nah, lebih baik. Aku segera merapikan make-up bag ku dan memasukkannya kembali ke dalam tas.
Aku menunduk dan menatap pakaian yang kupakai. Aku memakai dress putih selutut yang asal ambil dari lemari dan ikat pinggang kecil warna coklat yang asal kupakai, plus sendal selop coklat muda. Aku membenarkan letak ikat pinggang ini dan merapikan dressku. Aku keliatan kayak mau piknik... Tapi yaudah lah mau gimana lagi -_-
Aku memastikan diriku sudah rapi dan melenggang kembali ke tempat Kazune.
Aku membuka pintu toilet ini, dan jalan ke tempat Kazune menungguku.
...
...
...Eh...
Kazune mana?
Kok dia gak ada?
Aku menatap seorang cowok negro gendut dengan 2 bungkus burger di depannya. Dia duduk persis di tempat Kazune tadi duduk.
...
...Dia... Ninggalin aku apa transformasi, ya?
To Be Continued...
A/N:
Moshi-moshi, Minnaa~~
Huhuhu maap yah aku gak jadi update di hari senin seperti yang aku bilang TT^TT Jadinya malah hari selasa... Eh, kalo di Jakarta udah rabu sih :v Tapi disini masih selasa lah pokoknya. Bodo amat.
Eh, bukannya aku gak berusaha ya; ini sebenernya ide tiba-tiba mentok, belom lagi banyak manusia otaku di fb yang ngajak kenalan—yang bikin konsentrasi ilang—dan juga game SIF lagi ada event. Sekolah juga dari subuh sampe maghrib plus PR yang numpuk dan tugas Romeo n Juliet yang make bahasa Inggris 400 tahun lalu—bisa dibilang Inggris Purba—yang bikin puyeng pastinya.
Jadi berhubung di dunia nyata aku lagi ada bad day dan rada-rada stress juga, fic ini mungkin jadi agak aneh gimana gitu ya :v
Anyway, bentar lagi anniv 1 bulan story ini di publish nih ^^ *ngapain dirayain -_-* Aku sih pengennya chap 5 di update pas hari itu—harusnya 29 Februari tapi berhubung gak ada tanggal 29 di bulan Februari tahun ini, diganti jadi 1 Maret aja ya :v Tergantung akunya juga sih, berhubung besok ada semacam festival science di sekolah dan hari Kamis ada ulangan plus hari Jum'at ada persiapan lomba hockey + netball, jadi... Review aja lah! X3 /ganyambung
Gitu aja deh yah. Mau lanjut nonton drama neh /plak
Jaa ne! :*
.
.
.
Belfast, 24th February 2015, 07:17 PM GMT
Annadine Amoris x
