Urban Legend

Kuroko No Basuke Fujimaki Tadatoshi

Rated T

Genre Horor/Mystery

Warning : AU, OOC, Geje, Typo, Dll

Sumber Inspirasi : Blog mengakubackpaker

Inspirasi Pola Penulisan : Suki Pie

.

.

.

.

.

.

Enjoy


Security Guard

Malam sudah semakin larut, namun dua mahasiswa masih sibuk mengerjakan tugsanya yang memang mendesak itu.

"Hah, aku kira akan menyelesikan tugas ini dengan cepat?"

"Berhenti mengeluh dan cepat kerjakan tugasmu, Taiga."

Kagami Taiga kembali memfokuskan dirinya pada tugas yang sedang dilakukan dilaptop miliknya. Sedangkan temannya terlihat sedang menuliskan catatan penting dibuku kecilnya. Saat mereka berdua sedang terfokus pada tugasnya masing-masing, seorang satpam menghampiri mereka.

"Ini sudah malam dan perpustakaan hampir ditutup." Kata Satpam tadi. "Apa yang kalian lakukan disini?"

Tatsuya menoleh kearah datangnya satpam tersebut.

"Maaf pak, kami harus menyelesaikan tugas ini secepatnya, karena tugas ini harus dikumpulkan jam 7 pagi." Tatsuya menjelaskan.

"Dan bisakah kami tinggal lebih lama lagi? Kami janji tidak akan terlalu lama, sebentar lagi tugas kami akan selesai."

Satpam tersebut terlihat memikirkan permintaan barusan. "Baiklah. Tapi untuk berjaga-jaga saya akan berada disini sampai kalian selesai."

Mendapat izin dari sang Satpam, Kagami dan Tatsuya tersenyum kecil seraya mengagguk. Ya setidaknya suasana perpustakaan tidak terlalu sepi bagi mereka berdua .

"Tok"

"Eh?"

Sedang asik-asiknya menulis, pensil Tatsuya justru jatuh dan bergulir kearah sang Satpam. Ketika Tatsuya mencoba mengambil pensil tersebut, seketika ia melihat sesuatu yang menakutkan.

"Taiga, ayo kita pulang!" Tatsuya mengatakkannya sambil membereskan samua alat tulisnya.

Taiga yang sedang terfokus pada tugasnya justru mengangkat alisnya. "Huh? Kenapa? Kita belum selesai, kan?"

"Sudah jangan banyak bertanya, pokoknya kita pulang sekarang!" Terdengar nada memaksa dari suara Tatsuya saat mengatakannya.

"Aku tidak akan pulang hanya dengan alasan yang tidak jelas seperti itu. Lagipula aku mau menyelesaikan tugasku dulu." Dan Kagami pun menolak untuk pulang.

"Kalau begitu terserah padamu Taiga. Tapi aku akan pulang sekarang."

Tatsuya pun pergi dari sana dengan sedikit terburu-buru, tanpa menoleh sedikitpun kearah satpam tadi. Meskipun, sebenarnya Tatsuya enggan untuk meningglkan temannya disana sendiri, oh tidak, Kagami tidak sendiri.

Dengan heran dan rasa kesal, Kagami tetap melanjutkan tugasnya. Hanya sedikit lagi dan tugasnya akan segera selesai. Dua menit kemudian, ponsel milik Taiga yang berada disebelah laptop bergetar. Ada pesan mauk dari Tatsuya. Tidak menuggu lama, Taiga pun membuka pesan tersebut.

'Jatuhkan pena ke belakangmu, lalu ambil. Kamu akan mengerti."

Taiga jelas bingung dengan isi pesan tersebut, tapi tetap saja ia melakukannya. Ia menjatuhkan penanya dan membungkuk untuk mengambilnya.

Lalu iapun melihat sesuatu yang mengerikan.

Kaki satpam tersebut tidak menyentuh tanah. Tidak menyentuh sedikitpun.

Taiga saat itu sudah sangat ketakutan, namun ditahannya perasaan takut itu dan segera membereskan alat-alat tulis dan mematikan laptopnya.

"Loh, kamu sudah mau pulang? Bukankah tugasmu belum selesai?"

Dengan sedikit gugup Taiga menjawab, "Aku harus segera pulang. Ta… ta-di Ayahku memberi pesan untuk segera pulang. "

Saat Kagami hendak pergi, tepatnya saat melewati satpam tersebut, Kagami berani bersumpah saat itu juga untuk tidak mendekap diperpustakaan saat tengah malam.

"Jadi kamu pulang bukan karena tahu aku ini apa?"


Pernahkah kau berfikir bahwa jika kau sedang sendiri, kau benar-benar sendiri? bagaimana dengan sosok yang tidak bisa kau lihat tapi dia bisa melihatmu? Mungkin sosok itu juga sedang membaca cerita ini bersamamu. Siapa tahu?


Square

Seirin sedang melakukan pelatihan diatas gunung. Tidak semuanya ikut, hanya beberpa saja. Kuroko, Izuki, Kagami, Hyuuga, dan Teppei. Tapi sepertinya cuaca tidak mendukung mereka. Badai salju tiba-tiba datang dan mereka yang tersesat semakin memperburuk keadaan.

Hingga Kuroko tidak dapat mempertahankan nyawanya. Kondisi tubuhnya yang lemah membuatnya tidak bisa bertahan dengan cuaca seperti.

Meskipun begitu, keempat temannya menolak untuk meninggalkan jenazah Kuroko. Mereka membawa tubuh Kuroko yang sudah tidak bernyawa lagi hingga menemui pondok kecil diatas gunung tersebut. Hari pun sudah malam, dan mereka tidak ingin mengambil resiko untuk semakin tersasar di gunung ini.

Mereka memasuki pondok tersebut. Keadaan sangat gelap tanpa penerangan sedikitpun. Dan mereka menyimpan mayat Kuroko ditengah ruangan.

"Kita tidak boleh tertidur. Atau kita tidak akan bangun lagi nanti." Ujar Kagami.

"Ya, aku tahu. Tapi kkita harus melakukan sesuatu agar tidak tertidur." Sambung Teppei.

"Aku tahu. Bagaimana kalau kita meminkan sebuah permainan?" Keadaan masih gelap gulita. Sehingga mereka tidak bisa melihat satu sama lain. Mereka hanya menebak-nebak melalui suara.

"Permainan apa?" Sahut Hyuuga.

"Begini, ruangan ini kan berbentuk kotak. Bagaimana jika masing-masing dari kita berempat berdiri di tiap pojok ruangan. Nah, saat permainan dimulai, salah satu dari kita berlari ke pojok ruangan terdekat dan menepuk punggung temannya yang ada di situ. Lalu ia yang ditepuk punggungnya harus berlari lagi untuk menepuk punggung temannya yang ada di pojok terdekat dengannya. Begitu terus hingga kembali ke orang pertama dan diteruskan sampai fajar tiba."

"Itu ide bagus," semua orang tampaknya setuju, "Dengan begitu kita akan bergerak semalaman dan tubuh kita akan terasa hangat."

Akhirnya mereka melakukan permainan itu. Masing-masing dari mereka, Izuki, Teppei, Hyuuga, dan Kagami berdiri di pojok ruangan. Izuki mulai berlari ke Teppei dan menepuk pundak Teppei. Teppei kemudian langsung berlari dan menepuk pundak Hyuuga. Hyuuga lalu berlari menepuk pundak Kagami. Dan begitu seterusnya, mereka melakukan permainan itu hingga pagi.

Saat fajar datang mereka tersenyum lega. Cahaya mulai menerangi pondok tersebut. Dan Hyuuga megetahui tempat tersebut dan bagaimana caranya mereka untuk pulang.

Namun saat mereka menyadari bentuk ruangan tersebut, mereka mulai sadar ada yang tidak benar.

Dan mereka mulai ketakutan.

Karena permainannya tidak sesimpel itu.

Permainan dimulai dengan Izuki yang berlari ke Teppei, lalu Teppei yang berlari kea rah Hyuuga dan Hyuuga yang berlari kearah Kagami. Sampai disini tidak ada masalah.

Lalu permasalahannya, agar Kagami bisa menepuk pundak Izuki, dia harus berlari dua kali karena Izuki sudah berada di titik Teppei. Tapi diantara mereka tidak pernah ada yang berlari dua kali.

Meskipun ruangan ini berbentuk segiempat tapi untuk memainkan permainan ini mereka membutuhkan lima orang untuk melakukannya.

Serempak merka memandanga tubuh Kuroko yang sudah terbujur kaku.

Ya, mereka tau.

Karena sejak awal mereka memang berlima.


Uwaaaaaaa gomen denga author hiatus ini yang datang dan pergi seenaknya.

Salahkan Ujian yang semakin mendekat! aaargghh aku muak dengan ujian.

Well sebenernya fic ini cuman pelampiasan aku aja, tapi diusahakan selalu memberikan yang terbaik.

So, RnR?