Uye chapter 2 sudah tiba!
Maap para pembaca warningnya ketinggalan. Terimakasih atas reviewnya.
Warning: OOC (sakura 25, Kakashi 30), AU
Selamat membaca.
"AAARRGGHHHH" Sakura menjerit kesakitan dan mengeratkan cengkramannya. Darah semakin deras mengucur.
"Aku minta ambulance secepatnya, keadaanya semakin parah. Dia harus segera mendapat pertolongan" petugas berkata pada rekannya lewat HT yang adadi tangannya. "Apa? Baru tiba dua puluh menit lagi, pendarahannya semakin parah, Dia akan mati kehabisan darah darah jika menunggu selama itu" dengan nada emosi ia merbicara kepada rekannya.
Wanita itu melirik nama yang tertera pada seragam petugas yang ada disampingnya. "Tuan Sandres", "Kita bisa membawanya ke rumah sakit dengan mobilku, dia pendarahan, jika terlambat akan berbahaya" usul wanita itu.
"Ah iya, ide bagus nona….?"
"Hyunga" wanita itu memperkenalkan diri "Anda yang menggendong, saya membawa tas dan mengemudikan mobil. Okey" merekpun berdiri. Hyunga melepas sepatu hak tinggi yang dikenakan oleh Sakura. Perlahan tubuh Sakura diangkat oleh petugas. Mereka berlari menuju mobil Hyunga.
Beberapa orang menatap dengan rasa ingin tahu tentang apa yang terjadi, siapa, mengapa petugas mengendong wanita yang bersimba darah.
Petugas mendudukan tubuh Sakura kemudian menghampiri Hyunga yang sedang memasukkan barang-barang ke dalam bagasi. "Nona Hyunga lebih baik anda yang menemani, dan saya yang mengemudi" Hyunga lalu menganguk dan memberikan kunci mobilmya kepada petugas.
Hyunga masuk kedalam mobil, duduk disamping Sakura. Mesin mesin mobilpun hidup. Mereka melesat menuju rumah sakit terdekat.
"Nyonya siapa nama anda?" Hyunga menambil salah satu tangan Sakura dan kemudian mengenggamnya.
"Sakura…Sakura Hatake" Sakura menjawab dengan mengeratkan genggaman tangannya.
"Nona Hyunga tolong tanyakan apa Nyonya Hatake memiliki seseorang yang dapat dihubungi" Sanders mengemudi dengan sangat cepat menuju rumah sakit terdekat.
Sebelum Hyunga bertanya, Sakurasudah terlabih dahulu menjawab "Tolong hubungi arg.. manager saya… Tsunade.. tolong hubungi kontak bernama Tsunade di Handphone saya" Sakura mengapai tasnya. Mengeluarkan sebuah Handphone berwarna hitam dan memberikannya ke Hyunga.
Hyunga menerima Handphone dari Sakura. Dengan cepat ia membuka daftar kontak "T, S, U, N, A, D, E apa ejaanku benar" Sakura hanya menganguk.
Hyunga telah mencoba beberapa kali menelpone tapi tidak diangkat. Sekali lagi Hyunga mencoba danakhirnya terdengar seorang wanita berkata "Ah maaf Sakura handponku tertinggal di mobil, jadi aku tidak tahu kau menelponku".
"Apa benar anda manager Sakura Hatake?"
"Iya, anda siapa? Kenapa menggunakan handphone Sakura" Tsunade bertanya dengan nada khawatir.
"Saya Hyunga Hyunga, Sakura Hateke sedang mengalami pendarahan. Kami sedang menuju rumah sakit…" Hyunga berhenti danbertanya pada laki-laki yang sedang mengemudikan mobilnya "Tuan Sanders kita menuju rumah sakit mana?".
Dengan sedikit menoleh kebelakang dia menjawab "Rumah sakit bersalin st. Maria".
Hyunga melanjutkan pembicaraanya dengan Tsunade. "Rumah sakit bersalin st. maria "
"Baik tolong jaga dia, saya menuju ke sana" Tsunade menghidupkan mesin mobilnya dan mengemudi menuju rumah sakit.
Dokter keluar dari balik pintu dan berjalan menuju Tsunade yang sedang duduk di kursi depan ruangan. Tsunade kemudian bangkit dari duduknya.
Dari wajahnya terpancar kehawatiran. Dia telah bersama Sakura sejak Sembilan tahun yang lalu. Menemani Sakura dari awal karirnya. Dialah yang menyaksikan pertumbuhan Sakura. Dari sakura berusia 16 tahun hinga 25 tahun. Dari Sakura remaja hinga memiliki tiga anak. Tidak heran jika dia mengangap sakura seperti anaknya sendiri.
"Dokter bagaimana keadaanya, apa Sakura baik-baiksaja?" Tsunade bertanya kepada dokter.
"Apa anda walinya?" Dokter kembali bertanya kepada Tsunade.
"Saya managernya".
"Pasien mengalami keguguran. Janinya belum keluar seutuhnya, kami membutuhkan persetujuan dari suami ataupun keluarga untuk melakukan kuret. Usaha ini untuk membersihkandan mengambil janin yang masih tertinggal di dalam rahim untuk menghindari infeksi. Kami membutuhkan dengan segera persetujuan itu."
Tsunade menatap dokter dengan penuh tanda tanya. Sakura hamil, tapi dia tidak menggetahui tentang hal itu. Jika Sakura hamil kenapa tidak mengurangi jadwalnya, kenapa dia masih menggunakan sepatu hak tinggi.
Tsunade kemudian menelpone Kakashi untuk meminta izin menandatangani surat persetujuan dari rumah sakit.
Di tempat lain
Kakashi sedang terduduk di sofa ruang tv-nya. Wajahnya sangat kusut seperti cucian yang baru saja diperas.
Dia sedang memeikirkan apa yang dilahukan tadi malam. Rasa bersalah menyelimuti perasaanya. Bayangan saat-saat manis bersama Sakura menghantui fikirannya.
Menghadiri pesta teman satu clubnya, minum hingga mabuk, tanpa dia sadari pulang dengan membawa seorang wanita. Astaga dia telah menghianati Sakura tadi malam.
Dalam fikirannya terlintas bagaimana jika Sakura mengetahui jika ia telah melakukan "'itu"' dengan wanita lain? Bagaimana jika Sakura mengetahui jika ada wanita lain yang sedang menggunakan kamar mandi mereka? Apakah Sakura akan membenci dan kemudian meniggalkannya? Sudah jelas jika Kakashi tidak akan mampu melihat Sakura tersakiti, apalagi olehnya sendiri.
Semakin Kakashi memikirkan betapa kejadian ini akan menyakiti Sakura, semakin ia merasa bersalah.
Tiba-tiba handphonennya dering. Dengan malas Kakashi mengambil handponenya. Pada layar handphonya terpampang ID Tsunade. 'Tsunade? Ada apa dia menelphoneku?'
"Hallo Kakashi, sesuau terjadi pada Sakura. Dia keguguran, dokter meminta persetujuan untuk melakukan kuret. Ini harus segera dilaksanakan. Apa aku boleh menandatangani persetujuan itu?" Tsunade berbicara dengan tidak memberikan kesempatan Kakashi untuk berbicara.
Kakashi bingung dengan apa yang dikatakan Tsunade "Tsunade, bicara dengan jelas apa yang terjadi pada Sakura?".
"Sakura keguguran. Aku tidak tahu kenapa. Apa kamu setuju jika Sakura dikuret, bila kamu setuju akau akan menandatanganni berkas berkasnya" Tsunade menjelaskan dengan lebih ljelas dari pada tadi.
"Astaga, Tolong lakukan yang terbaik. Jika kuret memang harus dilakukan, aku setuju. Tsunade tolong urus administrasi Sakura. Aku akan terbang segera". Kakashi memutuskan telephone.
Kakashi kemudian berjalan menghampiri wanita yang sedang duduk di dapurnya. Wanita yang entah siapa namanya, siapa dia, darimana asalnya. Dia sedang memakan roti panggang dan segelas susu.
"Cepat kami selesaikan rotimu dan segera keluar dari sini, aku ada urusan" Kakashi berbicara kepada wanita itu dengan nada dingin.
Wanita itu menoleh dan tersenyum manis kearah Kakashi. Namun dia tidak membalas dan berbalik. Dia merasa tersinggung, kemudian mengambil tasnya dan berjalan keluar dengan cepat.
Pintu ruangan inap sakura terbuka. Saat pintu terbuka terlihat seorang berambut merah jambu tertidur di atas ranjang rumah sakit. Di sudut ruangan terlihat dua orang wanita sedang bermain dengan tiga orang anak balita.
Semua mata menuju arah pintu, saat menyadari ada orang lain yang memasuki ruangan. Kedua anak laki-laki langsung berlari ke arah laki-laki berambut perak yang berjalan masuk.
"Kakashi akhirnya kau datang juga" Tsunade menyapa Kakashi yang telah datang dari LA.
"Bagai mana keadaan Sakura?" Kakashi menggendong kedua putera kembarnya, satu di depan dan yang satu lagi di depan.
"Dia masih belum sadar setelah kuret. Dokter berkata kemungkinan besar dia keguguran karena setres atau terjatuh. Usia kandungannya masih tiga minggu, aku rasa dia juga tidak mengetahui jika dia sedang hamil, karena dia mengatakan apapun padaku".
Sakura mulai membuka matanya. Dia terkejut karena di tangan kirinya tertanam beberapa jarum infus. Samar-samar ia mendengar pembicaraan Tsunade dengan Kakashi.
Air matanya mulai mengalir 'Tuhan ibu macam apa aku ini? Aku kehilangan anakku bahkan sebelum aku menyadari kehadirannya'.
Suara tangisnya pun tak terbendung lagi. Kini semua perhatian orang dalam ruangan tertuju padanya.
"Sakura" Kakashi menenggam tangan sakura. Dia mencoba untuk menenangkan isternya. "Sizune tolong panggil dokter,cepat"
TBC
Terimakasih telah membaca. Jangan lupa kolom reviewnya ya, please?
Tunggu chapter berikutnya .Saya miss shadows, sampai jumpa di chapter 2, ja...!
