Hey semua maaf ya aku lama tidak update fanfic ini. Aku tersesat di dunia yang bernama dushi. Jadi merasa bersalah he he he he. Jujur di chapter ini alur ceritanya pernah dicuri kucing.

Warning: AU, OOC, ( Kakashi 30 tahun, Sakura 25 tahun)

Disclaimer: Semua tokoh utama milik pencipta Naruto yang sebenarnya (kecuali tokoh tambahan, kerasiku sendiri) alur dan ide cerita adalah hasil kreasiku sendiri.

Uantuk semua yang telah membaca dan mereview chapter sebelumnya saya ucapkan terima kashi banyak. Selamat membaca Reader-sama

Chapter 3

Ini adalah hari ketiga sakura berada di rumah sakit. Perlahan keadaannya membaik. Keadaan, bukan kedaanya yang membaik tapi hanya fisiknya saja yang mengalami kemajuan.

Sakit yang sakukra rasakan dua hari yang lalu perlahan menghilang. Sedikit perih masih terasa di bagian bawah tubuhnya. Tindakan medis yang ia dapatkan adalah penyebab rasa perih itu.

Perlahan Sakura bangkit dari posisi terlentangnya. Ia duduk menghadap jendela yang terdapat di sebelah ranjangnya. Sakura menyadari jika tubuhnya masih sangat lemas. Fikirannya melayang – layang tak tentu arah. Apakah ini nyata? Apakah ini hanya sebuah mimpi buruk?

Air mata tak pernah berhenti mengalir sejak ia mendapatkan kembali kesadarannya. Berkali – kali sakura memejamkan mata, berharap terbangun dari mimpi terburuk yang pernah hadir dalam hidupnya. Semua usahanya percuma, karena ini bukanlah mimpi.

Hanya cukup satu malam untuk menghancurkan hidupnya. Tidak pernah Sakura merasa seperti ini. Kehilangan sosok suami setia dan seorang janin mampu melemparkan Sakura ke titik terendah dalam hidupnya.

Janin yang malang, belum genap satu bulan kehadirannya tapi sudah harus pergi. Tidak memberi kesempatan kepada sang ibu untuk menyambut kedatangannya.

Perlahan pintu terbuka, menghantarkan jiwa sakura kembali ke raganya. Sepasang kembar berlari dengan cerianya mendekati sang ibu. Sakura menghapus air mata dan segera memasang senyum terhangatnya.

"Bunda . . . ." keduanya memanjat kursi di samping tempat tidur sakura. Dengan sedikit bantuan dari sang ayah, mereka duduk di samping ibunya, satu di kiri dan satunya lagi di kanan.

Sedikit berebut mereka memeluk leher sakura. Membombardir pipi Sakura dengan ciuman bertubi – tubi.

"Ugh pangeran-pangeran bunda" Sakura membalas kecupan dari kedua bocah itu.

"Kapan Bunda pulang?" salah satu dari bocah itu bertanya dengan dengan nada manjanya yang imut.

"Sampai dokter mengizinkan bunda pulang" dengan cueknya Sakura menjawab sambil mendudukan putri kecil mereka di pangkuannya.

Mandengar jawaban sang ibu yang tidak memuaskan, bibir si kembar mengerucut seketika. Kakashi dan Sakura hanya bisa tertawa geli melihat tingkah mereka. Walaupun secara fisik Sakura tertawa, namun jauh di dalam hatinya tetap menangis. Hanya demi anak-anaknya Sakura harus terlihat ceria, dan bahagia. Hanya untuk mereka.

"Aaahahh Bunda! Padahal kami ingin –" ucapan mereka terpotong oleh kehadiran orang lain ke ruangan itu. "Nyonya Hatake" terdengar suara lembut dari arah pintu.

Sesosok wanita berambut pirang sepingang menampakkan diri dari balik pintu. Kacamata dan jas putih yang dia kenakan menambah karismanya. Dengan senyum hangat tepasang di wajahnya, wanita itu melangkah masuk diikuti seorang perawat di belakangnya. Langkah demi langkah mereka berjalan mendekati ranjang tempat sakura berada.

"Selamat pagi Nyonya Hatake, bagaimana keadaan anda hari ini?" sang dokter menyapa sakura yang sedang bercengkrama dengan ketiga anaknya.

"Selamat pagi Dok, saya sudah merasa lebih baik" Sakura membalas sapaan dokter yang sedang berdiri di sampinganya.

Setelah melakukan beberapa pengecekan sang dokter pun kembali memasukan stetoskopnya ke dalam saku. "anda mengalami banyak kemajuan" sang dokter tersenyum mengetahui perkembangan Sakura.

Dua tangan mungil memegang lengan jubah panjang dokter wanita itu "Dokter kapan bunda pulang?".

"Rupanya kedua Tuan Hatake ini merindukan bunda ya" dengan senyum hangat sang dokter mengusap pipi kedua pasangan kembar Hatake di depannya "Aku rasa besok". Jawaban itu sontak membuat seisi ruangan terisi sorakan riang.

Malam ini adalah malam pertama Sakura kembali ke rumahnya. Sudah beberapa jam ia mencoba untuk tidur namun sangat sulit untuk jatuh terlelap. Suara nafas yang teratur terdengar dari seseorsng yang tertidur lelap di sampingnya.

Kembali Sakura menaikkan selimut sampai menutupi lehernya. Matanya mulai menjelajahi seluruh ruangan. Tidak ada yang berubah. Interior kamar yang bernuansa cokelat membuat ruangan ini lebih hangat.

Sebuah pintu kaca terletak di samping ruangan,memberikan kesempatan Sakura untuk melihat hujan salju yang sedang turun. Setelah beberapa saat Sakura menatap butiran salju yang turun, matanya mulai terasa berat. Perlahan sakura terlelap dalam tidurnya.

Sakura terbangun saat mendengar pintu kamarnya terbuka. Perlahan sakura terduduk dan membalikan badannya ke arah pintu. Saat pintu terbuka, masuklah sesosok anak kecil berambut merah muda yang wajahnya sangat pucat.

Anak itu terus mendekat kearah Sakura yang meringkup ketakutan di atas tempat tidurnya. Sengiran kejam mengembang di wajah pucatnya. Ia berhenti tepat satu langkah dari ranjang Sakura.

"Ibu. . .ibu . . .ibu . . .apa pantas aku memanggilmu ibu" suara kecilnya diselimuti oleh nada dingin yang penuh amarah. Nafas Sakura terhenti sejenak saat mendengar anak itu memanggilnya ibu.

"Apa begitu kau membenciku ibu? Kenapa kau tidak menyadari kehadiranku" air mata Sakura mulai jatuh mendengar ucapan menyedihkan dari anak itu.

"Kenapa kau membunuhku, kenapa kau tidak memberiku kesempatan untuk hidup" sakura mulai gemetar melihat tubuh anak itu meleleh menjadi darah.

Tangis Sakura tak kunjung terhenti walaupun anak itu telah hilang dan berubah menjadi darah yang menggenagi karpet bulu.

Di tengah keheningan Sakura merasakan sesuatu yang bergerak-gerak dibawah selimut. Bergerak terus ke atas mengikuti bentuk kakinya. Debar jantung Sakura berambah cepat. Dengan segera Sakura membuka selimutnya.

"AAAAAAA" Sakura menjerit melihat apa yang merambat di kakinya. Seorang janin yang masih dibalut darah melatah di bawah selimutnya. Dengan reflek Sakura melempar janin itu kemudian lari keluar kamar meninggalkan janin yang tertawa penuh kemenagan.

Sakura terus berlari melewati lorong yang gelap dan mencekam. Sedikit semburat cahaya terlihat dari celah sebuah pintu besar. Dengan nafasnya yang tersendat Sakura membuka pintu itu. Dengan cepat ia tutup kembali pintu kayu itu dengan harapan apa yang dilihatnya tidak bisa ikut masuk ke sini.

Kelegaan menghampiri sakura. Sakura membalikan badannya, kali ini ia kembali terkejut. Dua orang sedang berada di atas ranjang dengan keadaan tidak mengenakan apapun.

Seorang pria berambut perak yang sangat Sakura kenal sedang berbaring untuk menerima perlakuan wanita berambut cokelat di atasnya. Kedua matanya tertutup rapat tampak sangat menikmati apa yang ia rasakan.

Sakura membeku saat melihat adegan wanita yang pernah dia lihat sebelumnya melakukan breast, massage, ever ke suaminya.

Tanpa Sakura sadari pintu di belakangnya terbuka. Sakura werasakan sebuah benda menembus punggungnya. Dia menunsuk dan melihat sebuah pisau menembus perutnya.

Sakura bangun dari tidurnya, tanpa sadar ia langsung berlari keluar kamar.

Kakashi yang merasakan pergerakan tiba-tiba juga ikut terbangun. Dengan seikt kesadaran yang ia kumpulkan Kakashi melihat sakura yang tengah berlari keluar.

Kakashi mengejar sakura yang berlari walau kepalanya masih pusing karena tebangun dngan tiba-tiba. Langkahnya menjadi lebih pelan melihat sakura terduduk di depan dinding kaca. Rambut pinknya berkilau di bawah sinar bulan.

"ssstt Sakura tenang itu hanya mimpi" Kakashi mengangkat sakura untuk berdiri dari duduknya. Dengan erat Kakashi memeluk sakura yang sedang menangis. (untuk lebih dramatis bayangkan kamu melihat mereka dari belakang sakura)

(sekarang ubah sudut pandang kalian dari belakang punggung kakashi) Sakura mengangkat kedua tangannya untuk membalas pelukan Kakashi. Semakin tinggi ia mengangkat semakin sulit untuknya. Dan dengan berat hati Sakura menyerah. Dia tak mampu untuk memeluk Kakashi lagi, itu terlalu sakit untuknya.

TBC

Huft akhirnya selesai juga, aku harap ini tidak terlalu mengecewakan. Terima kasi telah membaca sampai jumpa lagi