Mawar merah melambangkan cinta...

Sebuah pita merah melambangkan sebuah benang merah...

Jika keduanya dikaitkan, maka akan membentuk suatu ungkapan...

Lalu apa maksudmu memberikannya padaku?

Hanya sebagai lelucon atau kewajiban?


.

"Enam Puluh Lima Menit"

Disclaimer: Vocaloid dan semua yang ada di cerita ini bukan milik saia, kredit masih dimiliki pemilik masing-masing. Saia cuma punya ide fic ini, .w.

Warning(s): Typo(s), AU, All Miki's PoV, dan segala keanehan yang mungkin ada

Don't Like, Don't Read.

Tombol back-nya belum minggat kok~

.


.

.

.

.

Hari ini adalah acara upacara terakhir untuk kelas tiga, katanya sih untuk penghormatan kepada sekolah karena telah membimbing kami. Dan karena hari ini upacara terakhir, maka semua petugasnya adalah kelas tiga. Haaah, pada akhirnya kami seperti disiksa lagi untuk terakhir kalinya oleh sekolah.

Aku berdiri di barisan kelasku dengan tenang, dari kelasku hanya Pak Ketua Ted sama Neru yang ditunjuk jadi petugas, juga Rion sama Ryuuto sebagai mantan OSIS, yang lainnya tetap membentuk barisan normal. Aku berada di barisan paling depan diapit sama Haku dan Yuuma. Muridku itu minim, cuma 20 anak sedangkan yang lainnya minimal memiliki 24 anak. Lagi, kelasku itu cowoknya cuma empat... ngenes kan?

Terus sekarang diambil cowoknya tiga, tersisa Yuuma doang sebagai pemimpin...

Aku berusaha tetap fokus pada kepala sekolahku yang saat ini tengah mengoceh tentang sesuatu yang entah apalah itu, sepertinya penting... tapi kalau nadanya monoton terus gitu apalagi lama banget gini, bagaimana aku bisa tetap bertahan buat dengerin?

Aku menghela napas lelah, sudah hampir duapuluh menit dan kepala sekolahku tetap betah buat nyerocos. Ampun dah, memangnya mulut pak kepsek nggak berbusa ya?

.

.

.

.

Akhirnya, setelah tigapuluh menit berlalu, baru kepala sekolahku mengakhiri pidato panjangnya... tentang apa? Aku sendiri juga nggak ngerti.

Kami pun dituntut untuk berdiri selama duapuluh menit lagi untuk sampai dipenghujung upacara. Aku berani bersumpah, hari ini adalah upacara terakhir dan terlama sepanjang aku bersekolah di sini.

.

.

.

.

.

Saat upacaraku memasuki babak akhir...

Wakil kepala sekolahku, Pak Shion Taito, akhirnya naik ke atas podium, untuk apa? Tentu saja untuk menghukum murid-murid yang terlambat. Setiap upacara ada saja deh murid yang telat, aku bahkan sampai tidak ingat kapan terakhir kali aku upacara tanpa melihat murid dihukum.

Aku melirik ke kanan dan ke kiri, aku sudah bosan. Ingin rasanya mundur dan duduk-duduk di belakang, tapi tentu saja aku segera membuang pikiran itu jauh-jauh. Entah kenapa aku merasa kalah kalau menyerah sekarang. Aku menghela napas sekali lagi dan kembali menatap Pak Shion yang memberikan sedikit ceramahnya.

"...baiklah, bagi murid kelas tiga. Silakan kembali ke barisan masing-masing."

Aku mengerjap-ngerjapkan mataku bingung. Tidak ada hukuman? Tumben.

Aku kemudian mundur untuk memberikan tempat bagi Ted, Rion, dan Ryuuto. Setelah semua petugas dan yang seharusnya dihukum kembali ke barisannya masing-masing. Pak Shion kembali bercerita kepada adik-adik kelasku. Bagaimana angkatanku saat penerimaan siswa baru, anak angkatanku yang sering kena hukuman dari yang ringan sampai yang terparah, bagaimana angkatanku membuat kacau kakak kelas yang dulu, dan bagaimana angkatanku membuat beliau terharu karena merupakan angkatan paling berprestasi dan mudah di atur.

Tentu saja ucapan Pak Shion itu membuat kami semua terharu, membuat kami terkenang masa-masa kelam sampai masa-masa terang kami. Dan aku sempat tidak bisa menahan tawaku saat Pak Shion menyebutkan anak-anak yang dulu terkena hukuman membersihkan kamar mandi selama seminggu karena ketahuan main kartu, salah satunya aku sih.

Yah, kalau diingatkan kayak gini, rasanya bener-bener terakhir gitu ya...

Saat kami sedang enak-enaknya mengingat kenangan kami. Tiba-tiba sebuah lagu diputar dari belakang podium.

.

.

(Barbie and The Twelve Dancing Princess Theme Song - Shine)~~

.

.

Aku merasakan hidungku mampet, cairan hangat turun dari ujung mataku, bahkan Haku sudah sesunggukan sedari tadi. Aku merogoh saku seragamku, namun nihil. Sial, aku tidak membawa tisu ataupun sapu tangan.

"Kakak-kakak kami sekalian, terima kasih atas kenangan yang sudah kakak berikan selama kami di sini. Kami tahu bahwa kakak akan berhasil mencapai cita-cita kalian. Kami tahu bahw kalian akan terbang tinggi. Kami tahu kalian akan mendapatkan hasil terbaik dari harapan kalian. Jadi, kami sebagai adik, akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kakak. Kami tahu selama kakak mengenal kami, kami merupakan sosok yang bandel, susah diatur, kadang kurang ajar, dan banyak salahnya sama kakak. Tapi dalam hati kami, kami tetap menghormati kakak, kami tetap akan mendoakan kakak. Karena bagi kami, kakak adalah kakak kami yang sebagian dari kami tidak miliki di rumah. Jadi, semoga kakak akan lulus dengan diiringi kebahagiaan. Maafkan kesalahan kami ya, Kak."

Ucapan ketua OSIS yang merupakan adik kelasku itupun sukses membuat wajahku terbanjiri air mata. Dia mengatakan hal itu sudah seperti orang mapan saja, padahal sendirinya juga masih bocah. Setelah pidato kecil itu, semua adik kelasku berhamburan ke barisan kelas tiga. Memberikan setangkai mawar merah sebagai wujuh kasih sayang mereka pada kami.

Dari barisan kelasku, orang yang pertama mendapatkan bunga adalah Pak Ket. Ara, sudah kuduga. Walaupun seperti itu, ketua kelasku itu sebenarnya cukup populer di kalangan adik kelas. Hahaha, aduh, pacarnya marah nggak tuh.

Kedua baru Yuuma. Wajar juga sih, dia kan ace-nya klub voli. Siapa juga yang ngga kenal bocah cool-di-luar-tapi-gila-di-dalam itu?

Baru selanjutnya diikuti Haku, Ryuuto, Rion, dan teman sekelasku yang lain. Aku tersenyum senang melihat wajah berseri mereka ketika menerima bunga, kadang juga menggoda mereka sedikit. Aku? Ah, aku tidak yakin akan dapat, aku kan tidak terkenal di kalangan adik kelas.

"Kak Furukawa,"

Suara panggilan namaku itu mengagetkanku, aku segera menoleh ke arah belakang dan menemukan Utatane Piko di belakangku. Aku memiringkan kepalaku heran.

"Ada apa Utatane?" tanyaku, dia menatapku lurus dan mengeluarkan sebuket bunga mawar merah yang disusun rapi dengan sebuah pita merah yang terikat di sana.

"Kumohon terimalah, semoga berhasil dalam ujianmu." Ucapnya. Aku yang masih terkejut pun tak bisa berkata apa-apa, aku hanya bisa memandangnya dengan mata yang kembali berair.

Utatane kemudian memelukku singkat dan berbisik sebelum melepaskan pelukannya, "Aku akan menunggu,"

Pemuda berambut perak itu segera berlari pergi ketika aku berhasil pulih dari keterkejutanku atas tindakannya. Dasar bocah, main pergi begitu aja. Eh? Tapi kenapa yang lain setangkai punyaku buket ya?

"Ahem,"

"Ciee, yang ternyata punya gebetan brondong."

"Kok nggak kabar-kabar sih, Mik."

"Jahat nih, main rahasia-rahasiaan sama temen sendiri."

Nah kan, aku jadi bahan bully-an satu kelas. Aku menggembungkan pipiku dan mengerucutkan bibirku kesal. Aku paling tidak suka dapat banyak perhatian, sekarang gara-gara bocah ubanan itu aku jadi sasaran satu kelas.

Aku tidak menghiraukan ledekan mereka dan beralih memandangi buket mawar yang ada di tanganku. Buketnya indah sekali, sayang deh jadinya. Saat aku sibuk mengamati bunga yang kudapat, tak kusadari Pak Shion sudah membubarkan kami dan mengizinkan kami kembali ke kelas masing-masing.

Aku segera mengikuti teman-temanku untuk kembali ke kelas, walaupun masih tetap jadi bahan bully-an.

"Tunggu, memangnya kalian kapan ketemunya? Miki kan jarang sambang adik kelas, kok ini malah bisa dapet gebetan." Komentar Gumi yang kebetulan berjalan di sampingku.

"Sudah kubilang dia bukan gebetanku, aku cuma ketemu dia sekali tahu."

Itu jujur kok, aku memang cuma pernah ketemu cowok bernama Utatane Piko itu sekali. Setelah itu aku tidak pernah melihatnya lagi walaupun dia anak OSIS.

"Eeeh!? Bohong! Kau nggak pake susuk kan, Mik?" tuduh Haku, aku segera menepuk pundaknya keras.

"Sembarangan, dasar nenek lampir." Cibirku, Haku menatapku tidak suka. Tapi sebenarnya aku tahu kalau dia hanya bercanda, tentu saja aku juga sedang bercanda. Hanya saja ya, hubungan kami nggak pernah bisa baik. Jadi aku dan dia selalu terlihat seperti bermusuhan padahal tidak.

"Tapi ya, keren loh dia. Semua adik kelas cuma ngasih bunga terus pergi tapi dia dengan lantangnya nyemangatin kamu dan meluk kamu loh! Aduh, kayak di drama-drama romantis aja~" Gumi mulai terbang ke dunia khayalnya sendiri.

Aku sweatdrop melihat tingkah temanku yang lebih absurd dari biasanya hari ini.

"Ah, aku harus ke koperasi sebentar, tunggu aku ya." Ucap Haku, aku dan Gumi mengangguk dan duduk di dudukan batu dekat taman sekolah. Daerahnya kelas dua sih, tapi nggak masalah deh.

"Ngomong-ngomong, menurutmu kenapa cowok yang ngasih kamu bunga itu berani banget?" tanya Gumi tiba-tiba.

Aku melihatnya heran, Gumi sedang memandangi tiga buah mawar yang masing-masing di ikat dengan pita merah, kuning, dan biru. Dapet tiga dari tiga orang berbeda kah?

"Utatane Piko maksudmu? Mungkin ini wajib untuk adik kelas?" jawabku, Gumi menatapku sebentar dan menghela napas.

"Kau tahu, Mik. Mawar merah itu melambangkan kasih sayang, sedangkan pita merah itu melambangkan sebuah benang merah." Ucap Gumi, aku tertawa mendengarnya.

"Kau terlalu banyak membaca novel dan menonton drama, Mi." Balasku, Gumi membawa setangkai mawar merah dengan pita merah ke tangan kanannya, dan mengarahkan bunga tu padaku.

"Dasar nggak peka, nggak sensitif, nggak pernah pakai naluri, makanya kamu nggak pernah punya pacar sampai sekarang." cerca Gumi, hatiku seperti tertusuk pisau tajam saat Gumi bilang seperti itu. "Sama seperti wanita, cowok juga butuh keberanian buat ngungkapin perasaannya, apalagi kepada yang lebih tua."

"Kau mau bilang kalau Utatane menyukaiku?" tanyaku.

"Tentu saja! Kalau tidak, dia tidak mungkin bertindak sejauh itu, bodoh!" ejek Gumi lagi, aku tertawa miris.

"Mi, kau tau aku pernah berharap ketinggian kan? Dan jatuh itu raasanya sakit, udah deh nggak usah ngomporin aku." Balasku, Gumi memandangku sedih.

"Kau belum move on, Mik?" tanya Gumi, aku tersenyum sedih.

"Gimana bisa move on kalau yang dimaksud ketemu tiap hari, kelas sebelahan, pulang sejalan, ketemu di gerbang dan seangkatan?"

"Tspi ini jelas banget kalau si Utatane ini suka sama kamu!?" Gumi berkata dengan yakin.

"Mi, udah deh, jangan bikin aku sakit kepala. Dia cumang ngelakuin ini karena kewajiban, atau malah dia kena dare dalam permainan truth or dare dari temennya, nggak usah bikin nambah runyam deh!" tanpa sadar aku meninggikan suaraku, aku langsung menutup mulutku ketika sadar aku menjadi pusat perhatian banyak orang. Mataku membelalak ketika mendapati Utatane Piko berada beberapa langkah di depanku dan memandangku denga pandangan terluka, yang entah kenapa membuat napasku tertahan dan dadaku berdenyut sakit.

Aku langsung berlari tanpa arah, tidak memedulikan bahwa aku berjanji untuk menunggu Haku. Gumi mengikutiku dengan cepat.

.

.

.

.

Pada akhirnya aku kembali ke sini, sudut sekolah yang sepi dan jarang dikunjungi orang. Gumi terengah-engah di belakangku.

"Jangan lari-lari dong Mik, aku kan bukan atlet sepertimu." Keluh Gumi, aku tidak memedulikan keluhan Gumi dan berjongkok, memeluk diriku sendiri dengan buket yang tergeletak di sampingku. Aku merasakan cairan bening mulai turun dari manik merah mudaku.

Gumi terdiam, aku merasakan langkah kaki mendekat ke arah aku meringkuk. Gumi berjongkok di sebelahku dan mengelus-elus punggungku. Merasakan perlakuan Gumi, aku menangis semakin keras, walaupun aku tidak mengerti kenapa.

"Kau tahu,Mik. Kamu itu beruntung. Lihat aku... aku bahkan tidak bisa mengungkapkan perasaanku, bahkan walau aku juga mendapat bunga dengan makna khusus darinya, dia sendiri tidak mempunyai keberanian untuk mendekatiku... jadi, siapa yang lebih mengenaskan di sini?" gurau Gumi.

Aku masih sesunggukan tanpa membalasnya, karena aku tahu dia belum selesai.

"Saat kau berhenti melihat ke depan, maka langkahmu otomatis terhenti. Entah kau melihat ke atas atau ke bawah, pada akhirnya kau tepaku di tempatmu berdiri. Mik, kau punya sesuatu ang tidak kupunya. Sebuah kepastian. Kali ini bukan hanya dugaanmu saja, tapi dia jelas melihatmu dengan tatapan berbeda Mik. Sadari itu..." ungkap Gumi, ia beralih memeluk tubuhku.

Dapat kurasakan bahuku basah... ah, Gumi juga menangis ternyata...

"Mi, tapi aku tidak punya keberanian sepertimu, aku takut." Ungkapku.

Pelukan Gumi padaku semakin erat, "Ambil langkah pertama Mik, kembalilah melihat ke depan. Kau sebenarnya juga menyukai Utatane Piko itu kan?"

Aku terdiam sejenak... namun perlahan mengangguk, Gumi perlahan melepaskan pelukannya.

"Kalau begitu tidak ada masalah," Gumi menghapus air matanya dan tersenyum senang.

Aku mengikuti gerakannya untuk menghapus air mataku, "Kalau aku bisa mengambil langkah pertamaku, maka kau juga harus mengambil langkah pertamamu ya! Aku kan tidak mau jadi satu-satunya orang yang broken nanti," gurauku.

Wajah Gumi memerah mendengar ucapanku, aku tertawa keras dan mengambil buket yang dari tadi tergeletak tak berdosa di dekat kakiku.

'sret'

Aku terkejut saat mendapati sebuah kertas berwarna oranye jatuh dari buket bunga yang kuangkat.

.

.

.

"Selamat berjuang!

Aku selalu mendoakanmu.

Walaupun kita cuma bertemu satu kali, tapi pertemuan itu tidak bisa kulupakan.

Jadi kalau kakak ada waktu, aku mohon datanglah ke taman belakang.

Aku akan menunggu."

.

.

.

Saat itulah, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Ya, aku akan meraih kebahagiaanku. Aku tahu aku sudah megatakan hal yang buruk tentangnya tadi, tapi kali ini aku yang akan menunggunya. Jika dia bersedia mengerahkan semua keberaniannya, kenapa aku tidak?

Aku percaya, tekad akan membuka jalan untukku. Sama seperti pepatah 'Kau tidak akan berhasil jika tidak berusaha'. Jadi aku akan bertekad dan berusaha sekarang, aku akan berjuang untuk mencapai hasil terbaik... dalam hal asmara, ataupun dalam hal studiku. Karena aku percaya, kehadiranmu juga akan menjadi salah satu penyemangat batinku. Jadi kumohon, sekali lagi saja. Beri aku kesempatan sekali lagi saja, untuk menjelaskan semuanya.


[OWARI]


Yosh! Owarimashita~

Akhirnya saia bisa konsentrasi belajar lagi~

Walopun saia ngga ngerti apaan yang saia tulis ini... ._.

Omedetou minna-san udah nyelesein cerita ini! Kali ini pas two-shoots! Ngga ada perpanjangan!~

Btw, emang endingnya saia sengajain gini... nggak jelas ya? Tapi emang saia pengen Minna-san bayangin sendiri sih, soalnya saia punya beberapa ending dari ini tapi akhirnya pas ditengah-tengah ngetik saia mutusin buat jadiin gini aja~ #dor

Yah, saia udah nggak bisa berkata apa-apa lagi sih, pokoknya makasih minna-san udah meluangkan waktu baca cerita ini! Arigatou gozaimasu~