Huaaaa... Saya kembali dengan chapter 2 'believe'.
Akhirnya setelah tugas kelompok yang membuat saya pusing. Saya bisa kembali bikin fanfic.
Meski Cuma 10 hari kedepan karena tanggal 25 maret saya sudah UTS hueeeeeeee... (all: jangan curcol)
Kyaaa... Jangan bully si air. #lari_melukAir. #ditebaspedangair (all: yang dibully itu kamu!)
Eh benarkah?
Hahaha... Maaf saya buat Air jadi penghianat.
Hehehe.. Cuma Air yang cocok untuk peran itu dan cuma peran itu yang cocok sama Air #halah
Ahh... iya maafkan saya VeroTherik-san karena ide yang hampir sama. Saja nggak sengaja. Hehheehe.. berarti kita sehati *tos*
Hehehehe.. Maafkan saya karena membuat Air jadi kayak gini. Maaf juga karena nggak bisa membalas semua review. Langsung aja deh cekidot.
^_^ selamat membaca ^_^
Warning : GaJe, Abal, Typo(s), kata-kata yang berbelit-belit, OOC, alurnya ribet dan ikutan motoGP a.k.a kecepatan dan segunung kesalahan lainnya.
'Datanglah ke markas kotak Adudu. Jangan katakan pada yang lain. Hanya Boboiboy dan elementalnya saja yang boleh pergi kesana. Jika aku melihat kalian datang dengan yang lain. Aku tak bisa jamin keselamatannya'
Wajah Gempa memucat ketika melihat tulisan pada kertas yang ada ditangannya. Siapa yang melakukannya? Apakah Adudu lagi? Tapi apa yang terjadi dengan kamar Petir? Mengapa penuh air seperti ini? Pikirannya kacau, semua usahanya untuk melindungi Petir sia-sia saja jika ia berhasil dibawa saat ia menguncinya di rumah. Jika saja Gempa menemaninya, jika saja Gempa membiarkannya turun dan tak mengunci pintunya. Petir pasti ada di depannya sekarang. Namun tak ada waktu untuk menyesalinya. Menyalahkan dirinya sekarang hanya akan membuat Petir semakin dalam bahaya. Ia harus segera menemui elementalnya dan pergi menyelamatkan Petir. Gempa segera berbalik dan pergi ke kedai. Dilihatnya kedua elementalnya yang sedang duduk kelelahan karena membantu kakeknya.
"Angin! Api!" Teriaknya kepada kedua elemental itu. Angin dan Api menatap Gempa bingung begitu pula Ochobot dan Tok Aba. Mereka melihat Gempa yang berlari dengan wajah panik dan juga menahan marah. Apa yang terjadi? Kenapa ia kesini? Bukannya ia menjaga Petir yang di kuncinya di rumah?
"Tenang Gempa. Ceritakan apa yang terjadi?" Ucap tok aba menenangkan salah satu pecahan dari cucunya itu. Gempa menatap mereka dengan sangat panik. Nafasnya memburu dan wajahnya begitu khawatir akan sesuatu.
"Tarik nafas. Buang.. Tarik nafas buang... Tarik, buang. Kayak orang melahirkan hahahaha.. auuu.." kata Api yang lansung diinjak oleh Angin.
"Ini bukan saatnya bercanda. Tenangkan dirimu oke? Ceritakan pelan-pelan." Omel Angin dan hanya ditanggapi Api yang menggerutu dan kesakitan karena kakinya diinjak Angin. Angin menatap Gempa dan menenangkannya.
"Heh..heh..heh... Petir.." Ucap Gempa masih terengah-engah.
"Petir? Dia kenapa?" Tanya Api berhenti menggerutu dan ikut panik ketika mendengar Gempa mengatakan sesuatu tentang BoBoiBoy pemarah itu.
"I-ini" Gempa tidak menjawab pertanyaan Api namun langsung memberikan surat yang ditemukannya di kamar pada Api. Seketika wajah Api memucat dan tubuhnya mematung. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Firasat Gempa benar, Petir di culik lagi oleh Adudu ia harus menyelamatkannya. Segera saja Api berbalik dan hendak pergi ke markas Adudu namun tangannya ditahan oleh Angin.
"Ada apa, Api?" Ucap Angin ikut panik setelah melihat reaksi yang ditunjukkan Api. Angin langsung mengambil kertas yang ada digenggaman Api dan membacanya. Dan seperti reaksi Api tadi Angin langsung berbalik dan pergi ke tempat Adudu. Ochobot dan tok aba hanya memandang mereka cemas dan ingin tahu. Hingga Gempa yang dari tadi masih mengatur nafasnya mendongak dan menatap atoknya.
"Kami akan pergi untuk menyelamatkan Petir. Atok dan ochobot pergilah ke tempat yang aman. Dan jangan katakan apapun pada teman-teman yang lain! Jika mereka tahu Petir akan.." Gempa tak bisa melanjutkan kata-katanya ia takmau itu terjadi. Ia takkan membiarkan itu terjadi.
"Pokoknya tolong jangan katakan apapun." Ucap Gempa mewanti-wanti atoknya dan Ochobot.
"Ap-apa? Apa yang terjadi sebenarnya?" Ucap tok aba bingung.
"Nanti kujelaskan!" Ucap Gempa dan segera pergi menyusul Angin yang berubah menjadi Taufan dan Api yang sudah pergi ke markas Adudu.
OooooooooO
Sementara itu di tempat Adudu. Terlihat Adudu dan Ejojo yang berada di kapal ruang angkasa Ejojo sedang mengotak atik komputer untuk mempersiapkan pengaktivean kristal. Sebuah ruangan dengan nuansa merah dan hitam disiapkan untuk menahan Petir. Disana juga terdapat kristal merah yang melayang di dalam bola dengan benang energi berwana merah di atas dan bawahnya. Banyak kamera pengintai di seluruh ruangan kapal dan komputer yang senantiasa membantu majikannya. Mereka terlihat fokus untuk mengerjakannya dan sesekali di warnai perdebatan.
"Kemana dia? Kau bodoh karena mempercayainya tadi. Kita harus menyerangnya sekarang." Ucap Ejojo sambil terus mengotak-atik komputernya. Adudu yang dari tadi selalu diejek oleh Ejojo semakin geram dan membalas perkataan alien disampingnya itu.
"Kau juga bodoh karena mempercayainya tadi. Bukannya kau yang bilang kita akan menyerang BoBoiBoy jika dia membocorkannya pada yang lain?"
"Beraninya kau mengataiku bodoh. Huhh... sudahlah kita akan membawanya secara paksa sekarang..." Ucap Ejojo menahan marah. Dan berdiri bersiap untuk menyerang BoBoiBoy.
"Itu tidak perlu." Ucap seseorang yang ada di depan pintu masuk. "Aku sudah membawanya." Lanjut orang itu lagi. Orang itu masuk kedalam ruangan dengan bola air yang mengikutinya. Ia menggerakkan tangannya ke depan dan diikuti oleh bola air yang berisi Petir yang masih tak sadarkan diri ke arah Ejojo dan Adudu. Perlahan Air yang memperangkap Petir berjatuhan. Begitu pula petir yang diturunkan secara perlahan dengan air-air yang dikawal orang itu.
"Probe bawa dia masuk." Perintah Adudu dan langsung dijalankan oleh robot ungu yang dipanggil Probe itu. Probe mengangkat Petir daanmembawanya kedalam ruangan itu. Ia meletakkan Petir dan mengangkat tangannya serta menguncinya di sebuah penahan dari baja yang cukup tebal. Begitu pula pinggang dan kakinya ditahan oleh baja-baja yang sama. Ejojo, Adudu dan Air memperhatikan pekerjaan Probe. Selesai mengikat Petir disana Pribe keluar ruangan dan melayang di dekat tuannya.
"Hahahaha.. Kau memang menepati janjimu. Kau adalah bagian dari kami sekarang. Kita akan menguasai dunia dengan kristal itu. Hahahaha" tawa Ejojo menggelegar di seluruh kapal. Ia berjalan dan merangkul Air yang masih berdiri di depan pintu dan menatap Petir datar. Ejojo menarik Air dan mendudukkannya disebuah kursi didekat tempatnya mengoprasikan komputer yang menghadap ruangan Petir yang dibatasi kaca tebal. Pandangan Air menjelajahi kapal itu. Ejojo kembali mengoprasikan komputernya untuk mengaktivekan kristal itu. Ia juga melihat tangan Ejojo yang masih bergerak gerak mengotak-atik komputernya begitu juga Adudu.
"Kita akan mengaktivekannya sekarang." Ucap Ejojo. Ia memandang layar di depannya yang menunjukkan gambar Haliintar dan kristal itu. Air yang mendengarnya tersentak dan kembali menguasai dirinya. Ia menatap layar komputer itu.
"Komputer aktivekan sekarang."
"Baik boz." Komputer segera menjalankan perintah dari tuannya. Ia mengambil alih pengoprasian program yang telah diset oleh Ejojo dan Adudu. Air mengalihkan pandangannya pada sebuah jendela besar yang menunjukkan suasana di luar kapal. Tempat Petir dan kristal itu mengeluarkan cahaya merah. Namun hanya beberapa saat sebelum cahaya itu meredup kembali. Air kembali menatap ruangan itu lagi. Dilihatnya Petir yang masih tertunduk tanda ia masih belum sadarkan diri. Ejojo, Adudu dan Probe terkejut ketika melihat cahayanya kembali meredup.
"Apa yang terjadi bukankah seharusnya dia yang bisa menggunakan kristal itu? Kenapa tidak bereaksi?" tanya Ejojo menatap bingung komputer. Komputer yang ditanyai seperti itu segera menjelaskan semuanya kepada majikannya.
"Memang Halilintarlah yang bisa menggunakannya. Namun kita tidak bisa mengaktivekannya sekarang karena Halilintar masih dalam mode Petir dan kekuatannya masih terlalu lemah untuk digunakan." Ucap Komputer menjelaskan.
"Jadi kita harus menunggu sampai dia sadar baru kita bisa mengaktivekannya?" tanya Ejojo mengambil kesimpulan.
"Iya boz" jawab komputer. Air juga mendengarkan penjelasan mereka mengangguk mengerti dan kembali menatap jendela. Di kejauhan ia melihat elemental lainnya yang berlari kearah mereka. Ia masih memperhatikan mereka.
"Mereka datang." Ucap Air datar. Pandangannya masih tertuju pada ketiga elemental selain dirinya dan Petir. Adudu dan Ejojo segera menghentikan kegiatan mereka dan menatap jendela. Ejojo dan Adudu terkejut dan segera menyiapkan diri untuk menghadapi BoBoiBoy.
"Komputer, ambil alih pengaktivean kristal itu. Aku dan Adudu akan menjamu tamu kita ini." Ucap Ejojo sambil menyeringai. Air masih menatap mereka dan enggan beranjak dari tempat duduknya. Ejojo menatap Air heran karena tak bersiap untuk bertarung.
"Kenapa kau diam saja? Kita akan bertempur. Melawan mereka tetapi kenapa kau diam saja?" Ucap Ejojo menatap Air heran. Air masih menatap elementalnya dengan tatapan datar dan menjawab pertanyaan Adudu dengan datar pula.
"Aku melihat saja"
Ejojo hanya diam dan beranjak untuk menghadapi para BoBoiBoy. Begitu pula Adudu yang berada di kepala Probe yang sudah beruah menjadi mega Probe.
OoooooooooooO
Gempa dan Api berlari diikuti dengan Taufan yang terbang menggunakan hoverboardnya. Mereka berhenti ketika melihat sebuah pesawat luar angkasa yang pernah mendatangi mereka dulu. Alien yang sama sekali tak mereka harapkan untuk datang kembali . alien dengan kekuatan dan kelicikan yang sangat sulit untuk mereka hadapi bahkan bersama teman-temannya yang lain. Namun sekarang? Mereka harus menghadapinya sendirian. Mereka harus menyelamatkan Petir sekarang. Mereka tidak boleh memikirkan ketakutan mereka sekarang. Petirlah prioritas utama mereka. Mereka hatus menyelamatkannya sebelum terjadi apa-apa padanya.
Mereka berhenti berlari ketika melihat sebuah pintu di kapal ruang angkara itu terbuka. Dari jauh terlihat robot ungu raksasa dan seseorang yang menggunakan armor berwarna merah. Mereka memasang kuda-kuda bertarung mereka.
"HAHAHAHAHA... kau cepat sekali tahu tentang rencana kami BoBoiBoy." Ucap orang berarmor merah yang mereka ketahui adalah Ejojo. Gempa terdiam merasa bingun dengan apa yang di ucapkan Ejojo. Bukankah ia meninggalkan surat untuk memintanya datang kemari? Namun kenapa dia berkata seperti itu?
"Lepaskan Petir!" teriak Taufan tidak bisa menahan diri lagi.
"Hahahahaha.. lepaskan? Hahahaha.. itu hanya dalam mimpimu. Hahahaha.. ternyata dalam dirimu juga ingin menguasai dunia seperti kami. hahahahaha Kau tahu siapa yang membawanya kemari?" kata Ejojo membalas perkataan Taufan. Taufan menggertakkan giginya geram dengan jawaban Ejojo. Namun dalam hatinya ia juga bingung apa maksud dari 'dalam dirimu'? tidak hanya Taufan Gempa dan Api juga memasang wajah bingung. Melihat hal itu, Ejojo memerintahkan komputer untuk membuka pintu diatas pesawat.
"Komputer buka pintunya. Kau bisa menunjukkan dirimu. Teman baruku!"ucap Ejojo menekankan kata 'teman'. Disana terbentang jalan kecil sepanjang 1 meter. Perlahan terlihat seorang anak dengan wajah yang sama dengannya berjalan pelan keluar dari pintu itu. Anak dengan baju biru dan topi yang biru yang diharapkan didepan seperti Halilintar. Gempa, Taufan dan Api membelalakkan matanya tak percaya. Mereka tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Mereka berharap ini hanya ilusi atau bahkan hanya mimpi mereka. Namun inilah kenyataan, orang yang dilihatnya adalah bagian dari mereka. Namun bagaimana ia keluar? Mengapa mereka tidak mengetahuinya? Dan yang paling penting kenapa? Kenapa dia melakukan itu? Apakah benar apa yang dikatakan Ejojo? Apakah benar jika jauh di lubuk hati BoBoiBoy juga ingin menguasai dunia? Ingin menghancurkan dunia? Pemikiran itu membuat mereka takut. Apakah ini keinginan yang jauh terpendam dan keluar sebagai sosok yang baru?
"Tidak mungkin" gumam mereka bersamaan. Air mendongakkan kepalanya dan menatap mereka datar.
"Kau? Kau bukan bagian dari BoBoiBoy." Bentak Taufan menyangkal. Namun apapun yang dikatakannya, anak itu memang BoBoiBoy. Anak itu mengalihkan perhatiannya pada Taufan dan tetap memndangnya tanpa ekspresi.
"Aku BoBoiBoy Air." Ucap Air datar.
"Apa? Kau? Tapi kenapa? Kenapa kau melakukan ini? Mengapa kau berhianat Air?" bentak Gempa kepada Air. Air hanya menatapnya datar dan berbalik untuk menatap Ejojo dan Adudu.
"Aku akan membantu kalian dari dalam. Kalian hadapi mereka saja." ucap Air datar.
"Baiklah, kau jaga saja anak itu." Ucap Ejojo sambil mengangkat satu tangannya. Tak lupa pula seringaian menyebalkan yang tercetak di wajahnya.
"AIR.. KAU PENGKHIANAT.. KAU BUKAN BAGIAN DARI BOBOIBOY. DASAR PENGKHIANAT!" Teriak Api frustasi. Ia segera berlari hendak melompat dan mengejar Air. Namun sebelum ia lebih jauh mendekati kapal, sebuah peluru ditembakkan kearahanya. Taufan yang melihat itu segera menarik Api menghindari peluru yang hampir mengenainya dan menenangkan Api yang masih begitu marah dan kecewa. Di dalam hatinya ia juga merasa kecewa dengan apa yang dilakukan Air namun ia tahu gegabah hanya akan menghacurkan semua orang. Begitu pula dengan Gempa, ia masih menatap Air tak percaya. Air berbalik dan masuk ke dalam luar kapal angkasa milik Ejojo. Namun selangkah sebelum ia masuk ke kapal ia menatap Gempa.
"Gempa, tolong aku tak bisa menahannya lagi." Ucap Taufan kewalahan menahan Api yang meronta-ronta hendak mengejar Air. Gempa tersentak dan berlari memengangi Api yang masih marah-marah dan ingin pergi ke tempat Air.
"BRENGSEK.. JANGAN HALANGI AKU. AKU HARUS TAU KENAPA DIA BERKHIANAT?!." Teriak Api frustasi. Tubuhnya mengeluarkan api yang siap digunakan untuk menghancurkan musuh-musuhnya. Ejojo dan Adudu bersiap untuk melawan mereka. Sebuah tembakan yang berasal dari mega Probe membuyarkan perdebatan mereka.
"Kita harus menghasapi mereka dulu. Agar kita bisa menyelamatkan Petir dan meminta penjelasan pada Air." Ucap Gempa menenangkan Api. Api memandang Adudu dan Ejojo dengan amarah yang amat sangat. Begitu pula dengan Taufan dan Gempa. Pertarungan antara mereka dimulai. Tembakan-tembakan dan serangan-serangan dari mereka bertumbrukan. Gempa yang sendirian melawan Ejojo agak kewalahan dengan kecepatan yang dimilikinya. Begitu pula Taufan dan Api yang menghadapi Adudu dan Probe.
"Golem Tanah" teriak Gempa memunculkan golem tanahnya untuk menghadapi Ejojo.
OooooooooooooO
Sementara itu di kapal luar angkasa milik Ejojo. Air terlihat menatap pertarungan mereka dan terkadang pandangannya menjelajahi ruangan itu. Ia juga melihat Petir dan kristal yang ada di dalam ruangan itu. Ada juga Komputer Ejojo yang masih fokus untuk menyiapkan pengaktivean kristal merah itu.
"Satu..Dua..Tiga.. Empat.. Lima.." gumam Air sambil terus memandangi ruangan itu.
"Anda menghitung apa?" tanya komputer yang masih tetap fokus pada pengaktiveannya. Air hanya menatapnya sebentar dan menggeleng sebagai jawaban. Ia kembali menatap ruangan itu dan terlihat tangan Petir bergerak-gerak. Perlahan Petir mendongakkan kepalanya dan menatap sekitarnya. Pandangannya terasa kabur dan masih kurang jelas. Kepalanya terasa berdenyut dan reflek ia mencoba menggerakkan tangannya untuk memegangi kepalanya. namun tangannya tak bisa digerakkan, ia merasa tangannya di tahan sesuatu. Ia mencoba menggerakkannya lagi, namun sia-sia saja. tubuhnya terasa lemas dan berat. Dengan pandangan yang kabur dan kepala yang berdenyut Petir mencoba mengenali keadaan sekitar. Merah dan hitam mendominasi pandangannya. Ia menggerakkan kepalanya sedikit pada cahaya putih yang ada disampingnya. Sebuah kaca dengan lampu putih dan seorang anak bertopi yang dihadapkan kedepan dan kebawah seperti dirinya. Samar-samar ia tahu bahwa anak itu menggunakan baju dan topi berwarna biru. Ia tak bisa melhat wajahnya dengan jelas karena matanya masih terasa mengeluarkan listrik ditangannya.
"Ughh..." dia melenguh pelan dan berhenti mengeluarkan listrik ditangannya ketika kepalanya semakin berdenyut. Kepalanya kembali tertunduk berharap dengan menundukkan kepalanya rasa sakit yang didritanya bisa berkurang. Air hanya menatapnya datar. Komputer juga menatapnya. Membiarkan Petir terbiasa dengan keadaannya sekarang.
"Boz.. Dia sudah sadar." Ucap komputer berkomunikasi dengan tuannya yang masih bertarung diluar.
"Bagus. Aktivekan sekarang." Perintah orang yang ada disebrang suara.
"Tidak bisa boz. Kita harus menunggunya sampai bisa berubah menjadi Halilintar."
"Kalau begitu biarkan dia menyentuh kristal memulihkannya."
"Tidak bisa boz jika kita melakukannya kristal itu hanya akan di kendalikan oleh Petir dan bisa membuatnya memiliki kekuatan dua kali lipat dari kekuatannya yang sesungguhnya boz." Terang Komputer menolak perintah Ejojo.
"Kalau begitu biarkan dia sampai dia bisa menjadi Halilintar." Ucap Ejojo memberi keputusan.
Petir menoleh ketika mendengar suara itu. Boz? Apa mungkin ia di bawa lagi oleh Adudu. Tapi suara komputer Adudu atau pun Probe tidak seperti ini. Pengelihatannya semakin jelas sekarang ia bisa melihat sebuah komputer yang hampir sama dengan milik Adudu. Ia kembali menatap anak tadi. Dan terkejutnya dia saat dengan jelas ia melihat wajah anak itu. Wajah yang sama dengannya. Wajah yang dia ketahui sebagai salah satu elemental seperti dirinya.
"Kau..?" ucap Petir pelan dengan suara yang serak.
"Ya. Aku adalah salah satu elemental BoBoiBoy. Aku adalah elemental baru yaitu BoBoiBoy Air." Jelas Air pada Petir.
'Apa? Apa yang terjadi? BoBoiBoy Air? Jadi yang membawaku adalah Air. Tapi kenapa? Apa dia berkhianat kepada kami.' Pikiran Petir penuh dengan pertanyaan. Ia bingung manayag akan diutarakannya kepada elemental yang ada di depannya itu. Sementara Air menatapnya dalam diam dan berbalik menatap pertempuran yang ada diluar kapal. Dilihatnya ketiga elemental itu masih bertarung melawan Adudu dan Ejojo.
To Be Continued
Eehhhhhhhhhhhh... kenapa gini jadinya?
Huhh.. ya sudahlah..
Saya suka sekali sama karakter yang dingin dan nggak terlalu banyak omong.. kayak Halilintar dan Air.
Tapi Air sikapnya Cuma menurutku saja sih... menurutku itu dia tenang dan bisa menguasai suasana. Jadi aku buat gini deh karakternya Air. (all: nggak ada yang nanya.)
Maaf minna-sama pemotongan chapternya kurang pas.
Hehehehe... dan juga pertempurannya ada di chapter depan.
Nah ada yang udah tau alasan Air?
Petunjuknya udah ada lhoo...
Saya nggak masukin Yaya, Ying, dan Gopal.
Tapi kalo Fang Cuma 30% kemungkinan ada.
Yahh... saya nggak bisa memasukkan chara banyak-banyak sihh... hehehehe.
Kalau ada yang merasa aneh. Kenapa kristal itu malah nurut ke Halilitar kalau dia menyentuhkannya Petir buat mulihin dia?
Gini kristal itukan mengandung energi yang penuh tuh. Nah kalo dia disentuhin ke Petir yang notabene nggak punya energi. Energi yang ada di dalam krital itu bakalan ngalir ke Petir bisa sampai 2 kali lipatnya kekuatan Halilintar biasanya karena semua kekuatannya terbuka. Maksudnya energinya bisa dikeluarkan bersamaan nggak ada yang tersembunyi maupun tertutup.
Nah kalo pas Petir dalam kondisi fit dan jadi Halilintar. Itu kekuatan Halilintar penuh jadi energi nya nggak bisa ngalir keh Halilintar karena energinya sudah penuh. Tapi nggak kuat-kuat banget soalnya ada potensi/energi yang masih tersembunyi dan nggak bisa sikeluarin semua secara bersamaan. nah kenapa mereka perlu Halili buat ngaktivein tu kristal. Karena kristal itu ada bagian kosong buat kunci atau gimana gitu. Nah bagian kosong itu jika diisi dengan energi yang setara dan sejenis energi yang ada di kristal maka kuncinya akan terbuka dan energinya bisa digunakan.
Itu menurut imajinasi author yang melayang kemana-mana.
Satte...satte...satte... (bener nggak tulisannya ?)
Sampai jumpa di next chapter.
REVIEW PLEASE
