Loha minna-sama...

Saya kembali... adakah yang menunggu kelanjutan fic ini? (all: enggak) #pundungdialun-alun

Uaahhh... setelah saya writers block selama seminggu... akhirnya saya dapet ide juga malah dapet ide buat 2 fic baru dan 1 one shoot.. tapi entar aja deh buatnya # #dirajam

Okay... selamat Halilintar kamu bakalan ngamuk disini. #ditusukpedanghalilintar

Wuaaaaahhh... udah banyak banget yang tahu ya? hehehehe..

Minna-sama arigatou ne... terimakasih banyak untuk yang telah membaca, mereview, memfollow, dan memfav fic saya ini.

Sudah lah saya bingung mau nulis apa lagi jadi langsung aja

Selamat membaca

Warning : GaJe, Abal, Typo(s), kata-kata yang berbelit-belit, OOC, alurnya ribet dan ikutan motoGP a.k.a kecepatan dan segunung kesalahan lainnya.

.

.

.

.

Semua mata membelalak tak percaya melihatnya. Di hadapannya sekarang sang Boboiboy Halilintar berdiri dengan memegang pedang halilintar berwarna merah menyalang. Kilatan petir menguar dariri seluruh tubuhnya, menandakan betapa kuatnya orang itu sekarang. Matanya berkilat tajam siap memusnahkan siapapun yang membuat teman-teman dan dirinya menderita.

"Halilintar?!" ucap mereka bersamaan. Gempa mencoba berdiri dan tersenyum kearah Halilintar. Begitu pula yang lain namun mereka masih kebingungan dengan apa yang terjadi.

"Halilintar? Bagaimana kau bisa..?" tanya Taufan memandang Halilintar tak percaya. Mereka merasa heran karena mereka bisa merasakan kekuatan Halilintar 2 kali lipat lebih besar dari biasanya. Meski mereka senang karena mengetahui Halilintar telah selamat namun mereka juga tak bisa menahan rasa kaget dan bingung mereka dengan kebebasan dan peningkatan kekuatan Halilintar.

"Sial. Kau.." Ejo Jo berdiri dan menembakkan peluru pada Halilintar. Dengan cepat Halilintar bergerak dan menghindari serangan itu. Ia bergerak mundur menjauhkan Ejo Jo dan Adu Du dari teman-temannya yang masih belum pulih. Kecepatannya sangat mengerikan, ia bisa bergerak 2 kali lebih cepat dari biasanya ketika ia menggunakan 'Gerakan kilat' tidak ada peluru yang bisa menggoresnya bahkan menyentuhnya. Ejo Jo terus menembaki Halilintar, begitu pula dengan Adu Du. Halilintar sama sekali belum menyerang mereka dan hanya menghndari serangan mereka.

"Brengsek. Dia menipu kita.."umpat Ejo Jo yang masih terus bergerak menyerang Halilintar. Halilintar hanya berdiri diam dan menatap Ejo Jo murka. Ia sungguh marah sekarang dan dengan kekuatannya yang sekarang membunuh Ejo Jo adalah hal yang mudah baginya.

Sementara itu, Gempa dan yang lain hanya bisa menatap kagum dan ngeri secara bersamaan. Mereka kagum dengan kekuatan dan kecepatan Halilintar. Dan juga ngeri karena mereka hanya bisa melihat Halilintar yang bertarung melewan mereka sendirian.

"Wow.. Dia kuat sekali." Gumam Gempa.

"Ya" bahkan Fang yang sangat mementingkan Harga dirinya tak bisa menahan diri untuk menatap Halilintar kagum dan menimpali perkataan Gempa. Begitu pula Taufan dan Api mereka menatap Halilintar sembari memberi dukungan padanya.

"Ayo pukul. Dia..."

"Terus.. wow kereeeenn"

"TERBAIK LAH KAU HALILINTAR" Teriak mereka berdua bersamaan. Pertarungan masih berlanjut, Ejo Jo dan Adu Du terlihat kewalahan menghadapi Halilintar. Mega Probe segera menembakkan sebuah misil raksasa kearah Halilintar.

"Pedang Halilintar"

Mereka sungguh tak percaya dengan kekuatan Halilintar sekarang ini. Mega Probe yang bahkan tak bisa mereka lukai dengan serangan gabungan mereka, namun saat ini? Halilintar berhasil membelah misil yang ditembakkan kearahnya dengan hanya menggerakkan pedangnya kearah misil itu. Sementara itu, Halilintar hanya berdiri diam menatap bekas tembakan misil itu.

"HALILINTAR"teriak mereka bersamaan ketika melihat Halilintar yang akan diserang Ejo Jo dari belakang.

Halilintar hanya melirik sebentar kearah Ejo Jo dan berbalik dengan cepat sembari menyerangnya dengan pedang yang ada ditangan kirinya. Serangan Ejo Jo digagalkan Halilintar dengan mudah. Bahkan perisainya disiapkan untuk menghadapi serangan gabungan Yaya dan Ying telah terbelah dengan sekali tebas oleh pedang Halilintar.

"Ckk.. Kekuatan kristal itu." umpat Ejo Jo sedikit ketakutan. Peningkatan Halilintar yang sekarang bukan hal yang bisa ia tangani. Perisainya pun satu bersatu telah terbelah dengan tebasan demi tebasan yang dilayangkan Halilintar. Tak ada peluru yang bisa menyentuhnya. Dan bahkan Ejo Jo melihat Halilintar masih belum mau menyerangnya. Begitu pula Adu Du sejak tadi ia sudah bergetar ketika melihat kedatangan Halilintar. Ia takut dengan kekuatan yang dimiliki Halilintar sekarang.

OooooooooO

"Kristal itu sungguh mengagumkan." Gumam seseorang yang berjalan dibelakang mereka.

"AIR?" teriak Taufan dan Api bersamaan. reflek mereka mengambil kuda-kuda untuk bertarung. Fang yang tak tahu menahu tentang penghianatan Air hanya menatap bingung reaksi Api dan Taufan. Namun perkataan Gempa membuat mereka semakin bingung.

"TERBAIK LAH KAU AIR! RENCANA KAU BERHASIL.." teriak Gempa senang. Air yang melihat itu hanya menatap Gempa dan tersenyum sangat tipis.

"Ha?" gumam mereka bingung.

"Tapi bagaimana kau mengeluarkan Halilintar dan membuatnya memiliki kekuatan sehebat itu?" tanya Gempa.

Flashback

"Mungkin ini saatnya." Gumam Air sangat pelan dan menggerakkan tangannya kearah komputer yang ada didepannya. Disekitar tangan Air terbentuk titik-titik air yang semakin mengumpul dan membentuk butiran-butiran air. Air-air itu segera bergerak dan masuk kedalam komputer milik Ejo Jo. Komputer Ejo Jo yang menyadari itu segera menghubungi tuannya dan menggerakkan seluruh keamanan kapal luar angkasa Ejo Jo. Air segera berdiri dan siap untuk bertarung namun masih terus mengalirkan air-air ciptaannya kedalam komputer miliki Ejo Jo.

CRAKKKKK...

Kilatan listrik-listrik terbentuk diatara mereka. Peluru-peluru yang ditembakkanpun tidak ada yang mengenai Air. Komputer Ejo Jo yang memang tak bisa melakukan apapun lagi semakin kehilangan kendalinya karena air-air ciptaan Boboiboy Air telah memasuki tubuhnya. Air hanya menatapnya sebentar dan segera melancarkan serangan untuk memecahkan kaca penghubung ruangan itu dengan tempat dimana Petir di tahan.

"Pedang Air." Ucapnya pelan. Perlahan butiran-butiran air mengumpul dikedua tangan Air dan membentuk sepasang pedang air. Air mengayungkan pedangnya kearah kaca.

PRANGGG...

Kaca pengahalang itu telah hancur terkena serangan Air. Air segera masuk kedalam dan menatap Petir yang bersusah payah mendongakkan kepalanya untuk melihat BoBoiBoy Air. Air hanya berjalan pelan ke arah kristal Ejo Jo tersimpan. Ia mengambil kristal itu. Cukup sulit karena adanya pengaman yang digunakan Ejo Jo. Air kembali membentuk butiran air dan memasukkannya ke dalam alat itu untuk merusaknya. Setelah cukup lama terdiam Air kembali mencoba mengambil kristal itu sekali lagi. Dan berhasil, Air tersenyum amat tipis ketika usahanya berhasil. Ia berjalan kearah Petir.

"Kau? Apa yang rencanakan sebenarnya?" tanya Petir dengan suara serak.

"Bukan apa apa. Hanya kau yang bisa menolong mereka." Kata Air tenang. Halilintar mengerutkan keningnya bingung. Apa yang terjadi sebenarnya? Menolong mereka? Apa boboiboy yang lain ada disini juga? lalu kenapa Air membawanya kemari?

"Sudahlah." Kata Air pelan dan menyentuhkan kristal itu ke dahi Petir. Petir yang melihat itu hanya membelalakkan matanya dan meronta-ronta. Namun tak bisa.

"Apa yang kau lakukan?" teriak Petir panik. Ia yang tak mengetahui apa-apa tentang kristal itu mencoba memberontak. Namun tubuhnya yang masih lemas dan tangannya yang ditahan oleh besi penahan itu tak bisa bergerak leluasa untuk menghindarinya.

"Tenanglah" kata Air mencoba menenangkan Petir. Ia masih tetap menyentuhkan kristal itu pada Petir. Kristal itu bereaksi dengan bersinar.

"ARGGGHHHHHH..." teriak Petir ketika kristal itu bereaksi. Air melepaskan kristal itu dan melangkahkan kakinya mundur. Diluar dugaan kristal itu tidak terjatuh. Disekitar Petir bercahaya merah. Air menutup matanya ketika cahaya itu terlalu menyilaukan. Perlahan cahaya itu memudar dan terlihatlah disana seorang anak berpakaian hitam merah dengan topi dihadapkan ke depan sedang menatap Air datar. Tangannya mengeluarkan percikan listrik berwarna merah.

"Mereka sedang bertarung. Bantu saja mereka. Nanti aku jelaskan." Kata Air tetap tenang.

Entah mengapa Halilintar merasa percaya dengan Air. Ia berbalik dan pergi keluar kapal.

"Kau harus menjelaskannya nanti" ucap Halilintar sebelum pergi keluar dengan gerakan kilatnya.

"Kurasa akan banyak yang harus aku jelaskan nanti" gumam Air pelan. "Yahh.. setidaknya aku harus keluar dari sini dulu." gumamnya ketika melihat di seluruh ruangan itu ada berbagai macam senapan yang mengarah padanya.

Flashback end

"Dan kalian tahu kelanjutannya." Ucap Air mengakhiri ceritanya.

"Eh? Jad-jadi kamu..." ucap Taufan tak percaya.

"Yahh.. tak kusangka cukup makan waktu untuk keluar dari sana." Gerutu Air tanpa memedulikan pertanyaan Taufan. "Nanti aku jelaskan lebih baik kita lihat dia dulu."

Ditempat Halilintar.

Halilintar masih tetap bergerak menghindar tanpa keinginan untuk menyerang. Ejo Jo semakin cepat menembakkan senjatanya. Namun tetap saja tak bisa mengnai Halilintar. Dengan cepat Halilintar telah berdiri di belakang Ejo Jo dan menebasnya. Ejo Jo yang tak bisa menghindari itu hanya bisa menerimanya.

"Argg...sial." umpat Ejo Jo.

Melihat hal itu Adu Du bergerak menyerang Halilintar. Namun belum sempat mereka berada didekat Halilintar. Halilintar terlah berada di belakang mereka dan siap melancarkan serangan.

"Arggg..." teriak Adu du merasakan sengatan listrik dari Halilintar. Adu Du dan Probe terpisah dan terlempar beberapa meter.

Halilintar menatap mereka datar. Adu Du dan Ejo Jo telah tumbang dengan serangan cepat dari Halilintar tadi. Namun Probe masih tetap mencoba menembak Halilintar dengan peluru yang ada ditangannya. Halilintar yang melihat itu hanya menggerakkan kakinya sedikit menghindari peluru itu, dan langsung bergerak kearah probe untuk menebasnya.

"Uaaahh... tanganku incik bozz.." Teriak Probe panik ketika tangannya dengan mudah dipotong Halilintar.

Halilintar kembali mengangkat pedangnya dan memotong kaki Probe.

Singg...

Dengan sekali tebas salah satu kaki probe telah terpotong.

"Huaa kakiku.."

Halilintar mengangkat pedangnya dan melancarkan Halilintar slash.

"Halilintar Slash." Ucap Halilintar. Halilintar dengan cepat mencincang Probe. Kecepatannya sungguh luar biasa. BoBoiBoy yang lain membelalakkan matanya tak percaya. Setelah serangan berakhir hanya ada probe dengan versi biasanya yang sudah tak bisa bergerak dan berbagai potongan robot mega yang berserakan di sekitar Probe.

Halilintar berjalan menuju Adu Du yang masih tergeletak ketika terkena serangan Halilintar tadi. Pedang Halilintarnya diseret di tanah membuatnya terkesan sangat menyeramkan.

"Halilintar hentikan." Teriak Gempa yang melihat Halilintar mulai lepas kendali. Halilintar menghentikan langkahnya dan menatap kearah Gempa. Ia bisa melihat Gempa yang mencoba berjalan kearahnya untuk menghentikannya. Namun dicegah oleh Api, Taufan, dan Fang.

"Kau tak bisa membunuhnya." Teriak Gempa lagi.

"Gempa biarkan saja. Mereka pantas mendapatkannya." Kata Taufan mencoba menenangkan Gempa.

"Tapi kita tak bisa membiarkannya membunuh mereka." Kata Gempa panik.

"Aku yakin dia takkan membunuhnya. Biarkan saja." ucap Fang santai.

"Tapi kita tak bisa membiarkannya" ucap Gempa dan bersiap mengeluarkan Golem tanah. Namun belum sempat Golem tanah Gempa terbentuk Air telah menahannya dan menghentikannya dengan memerangkapnya dalam bola air.

"Tenanglah. Jika kau menghentikannya sekarang. Itu akan membuatnya melampiaskan kemarahannya pada kita. Biarkan saja dia." kata Air mencoba menenangkan Gempa. Gempa mencoba menggerakkan tubuhnya keluar dari perangkap air milik BoBoiBoy Air. Namun ia tetap tak bisa. Taufan, Api, dan Fang hanya menatap Air.

"Apa aku berlebihan?" tanya Air datar.

"Ehmm.. Gempa sebaiknya kau dengarkan Air dan biarkan Halilintar melampiaskan kemarahannya." Ucap Taufan kikuk ditanya Air dengan nada seperti itu. Api dan Fang hanya mengangguk setuju. Gempa yang mendengar itu berhenti memberontak. Air yang melihat Gempa telah tenang melepaskan perangkap airnya dan membiarkan Gempa.

"Hua.. uhuk..uhukk.. Apa kau membawa Petir dengan itu?" tanya Gempa disela-sela batuknya.

"Ya." Ucap Air singkat dan masih melihat jalannya pertarungan.

"Asalkan dia tidak sampai membunuh mereka. Huhh.. tak masalah." ucap Gempa memutuskan. Semua mengangguk setuju dan kembali menatap Halilintar yang mengamuk.

Halilintar hanya menatap datar klonnya yang sedang berdebat. Ia bisa melihat Gempamencoba menghentikannya lagi sekarang. Namun dia takkan menuruti kata-kata Gempa sekarang. Ia sudah sangat marah dengan kedua makhluk busuk didepannya itu. Sudah cukup mereka membuatnya dan dirinya yang lain menderita. Halilintar mengacungkan pedangnya siap untuk menebas mereka berdua. Namun ia juga tahu membunuh mereka juga bukan hal yang benar. Dia bisa melihat Adu Du dan Ejo Jo yang ada didepannya bersiap menerima serangan darinya. Halilintar menutup matanya mencoba menenangkan diri. Ia masih ingin menghabisi mereka sekarang namun dia juga harus memikir kan dampaknya setelah ini.

"Huhh... Aku tak peduli." Gumamnya pelan dan mulai menebaskan pedangnya kearah Adu Du dan Ejo Jo. Adu Du dan Ejo Jo berkali kali tersengat listrik dari pedang BoBoiBoy Halilintar. Halilintar tetap menebas mereka meskipun mereka berteriak-teriak kesakitan hingga Adu Du dan Ejo Jo terluka parah dan tak sadarkan diri.

OoooooO

Gempa dan yang lain menatap ngeri kearah Halilintar. Namun mereka mengerti mereka takkan bisa menghentikan Haliilintar sekarang. Mereka tahu sekarang bagaimana Halilintar jika sudah sangat marah. Dan mereka mengingatkan diri mereka untuk tidak membuat si BoBoiBoy pemarah itu sangat marah.

"Dia benar-benar mengerikan." Gumam Api.

"Ingatkan aku untuk tidak keterlaluan saat bercanda dengannya." Kata Taufan yang masih tetap terpaku melihat Halilintar yang masih mengamuk.

"Aku takkan mengingatkanmu karena aku ingin melihat pertunjukan ini lagi." Kata Fang dengan seringaiannya. Semua menatapnya dengan padangan heran. 'Sejak kapa Fang jadi psyco seperti itu?' pikir para BoBoiBoy selain Halilintar dan Air tentunya.

"Kenape?" tanya Fang sewot.

"Tak ada." Ucap mereka bersamaan. Mereka kembali menatap jalannya pertarungan.

OoooooO

Halilintar menatap mereka datar. Ia mendengus kesal ketika melihat dua alien busuk itu sudah tak bergerak lagi.

"Persetan jika kalian mati. Aku tak peduli!" umpatnya kesal dan berbalik. Ia melihat BoBoiBoy yang lain dan Fang berlari kearahnya. Halilintar memejamkan matanya dan mencoba melepas kekuatannya. Perlahan sinar merah menyelimuti tubuhnya. Rasanya menyakitkan namun lebih menyakitkan ketika menggunakan kekuatan ini. Ia merasa tubuhnya sangat penuh dan terasa sesak. Ia membuka matanya ketika merasa cahaya yang menyelimutinya telah menghilang. Tubuhnya terasa ringan dan tak terasa sesak tidak seperti saat ia menggunakan kekuatan dari kristal itu tadi. Ia membuka telapak tangannya dan mendapati sebuah kristal merah namun telah meredup berada digenggamannya.

"Halilintar.." Teriak Gempa.

Halilintar membalikkan badannya ketika ia mendengar suara salah satu klon BoBoiBoy memanggilnya dan melihat Gempa yang langsung memeluknya. Ia membiarkan Gempa memeluknya sesaat.

"Kau membuatku khawatir." Kata Gempa pelan. Halilintar hanya diam dan menatap BoBoiBoy yang lain dan Fang menghampiri mereka. Tatapannya langsung tertuju pada BoBoiBoy yang baru bergabung.

"Halilintar kau tak apa?"

"Bagaiman keadaanmu?"

Halillintar tak menjawab pertanyaan Api dan Taufan. Ia hanya merasa lelah sekarang namun rasa penasarannya mengalahkan rasa lelahnya. Gempa melepas pelukannya dan memeriksa tubuh Halilintar dari atas ke bawah.

"Aku rasa tak ada yang terluka." Gumamnya menyimpulkan.

"Kau harus menjelaskan semuanya." kata Halilintar datar dan menatap Air tajam.

"Akan sangat banyak yang harus kuceritakan. Aku akan menceritakannya dari awal." Kata Air malas.

To Be Continued

Well.. padahal aku bilang kemarin ini bakalan jadi last chapter. Tapi ternyata nggak jadi #dilemparmeja

Chapter depan positif last chapter. yahh... ceritanya cuma Air dan rencananya. Dan yeah jika ada yang minat baca sihh dibuatin #dilempartang

Oke oke.. disini Halilitar ngamuknya kurang puas ya? pengennya Adu Du sama Ejo Jo mati sekalian biar greget . Tapi.. nggak tega juga.. bingung ya kenapa mereka nggak kepotong potong kayak Probe? Saya ngikutin Cartoonnya sih.. di Cartoonnya kan Cuma kesetrum doank jadi saya juga bikin Cuma kesetrum doank.. aneh ya?

Gaya bahasa sumpah beda beda.. saya bikinnya diwaktu yang beda-beda juga sihh...

Pengen deh bisa bikin action yang greget gitu tapi kenapa selalu aja nggak bisa sihh... SHFVANLSJIYFSHBZXLUAGSIUJDASVH #

Saya juga coba nyempilin humor tapi masih aja nggak bisa. #pundung #dibakar

Maaf jika saya suka bikin karangan yang saya nggak bisa. Saya merasa suka gitu bikin sesuatu yang saya nggak bisa. Merasa tertantang gitu #dikeroyokmassa

Dan maaf kata-katanya ada yang kasar... saya suka bikin gitu karena ngikutin anime. Soalnya kurang greget gitu kalo di pertarungan nggak pakek ngumpat #dibejek

Oke dari pada AN saya makin nggak kelas lebih baik saya langsung undur diri saja..

Terimakasih telah membaca dan See you in last chapter..

Jangan lupa untuk mereview...