Kyaaaa... Air kamu cool banget... huaa... setelah liat kamu sekali langsung fansgirlingan... huaaa... tenang Halili kamu masih nomer 1 meski kedua tergeser oleh Air. #dibakarBoBoiBoyApi
Rasanya aneh saya nulisnya beda banget sama sifat Air di cartoonnya. Yahh.. namanya juga imajinasi... #digorok.
Huahhh... pertama liat Air muncul langsung dapet ide buat perilaku Air di chapter ini meski aku yakin 99% OOC hohohoho...
Pertama saya mengucapkan banyak banyak terimakasih untuk yang telah membaca fic saya ini. terimakasih pula telah repot repot mereview fic saya. Bahkan memfollow dan mem fav fic saya. Terimakasih kepada Dhea, Nanas RabbitFox, Charllotte-chan, Believe me it's Hoshiko Namura, Shabyna, Boboiboy Air, Silver Celestia, Yuktry the Fantasy Girl, Reikokuna, Guest, Ayunf3, VeroTherik, Black Shooter, Onozuka Mikado, Makanu-chan, Dea Puspa n Fira, Rizuki-chan, Tazkya, Aiko chiharu, Dheaee, Guest, Hisa Kanagawa, DesyNAP, Marmut2002, Airen nee-chan, Aries Queenzha, Fanlady, KashikarraT, Aniki-kun, dan semua yang membaca fic ini.
Oke lah selamat membaca...
Last chapter...
Warning : GaJe, Abal, Typo(s), kata-kata yang berbelit-belit, OOC, alurnya ribet dan ikutan motoGP a.k.a kecepatan dan segunung kesalahan lainnya.
.
.
.
.
.
"Kau harus menjelaskan semuanya." kata Halilintar datar dan menatap Air tajam.
"Akan sangat banyak yang harus kuceritakan. Aku akan menceritakannya dari awal." Kata Air malas.
Flashback.
Sejak keluar menjadi elemental baru sendiri, Air sangat malas untuk pulang. Pertama kali ia keluar yang dilihatnya adalah pertempuran antara klon-klon dan teman-temannya yang lain sedang bertarung dengan sebuah robot raksasa. Ia juga melihat Elemental baru lainnya yang bisa ia ketahui adalah Api.
"Anak itu? huhh... menyebalkan lebih baik aku pergi saja." gumamnya pelan dan berjalan menjauh dari tempat pertarungan.
Air memang tak menyukai pertarungan, ia merasa pertarungan adalah hal yang membosankan. Ia sudah malas dan terlalu lelah untuk bertarung. Jadi ia memilih untuk pergi meninggalkan dirinya yang lain dan teman-temannya yang sedang bertarung melawan Adudu.
2 hari berlalu sejak Air keluar, ia belum pernah menunjukkan dirinya pada para BoBoiBoy yang lain. Ia yakin mereka belum tahu bahwa Air terbentuk, karena mereka belum mencari-cari dirinya. Kembali ia berjalan mengelilingi pulau Rintis. Tiba-tiba langit menggelap, reflek Air mendongak dan mendapati pesawat luar angkasa yang sangat besar terbang diatas pulau rintis.
"Kapal itu.."
Air segera mengikuti kapal luar angkasa itu. hingga ia sampai di markas kotak Adudu. Ia melihat Ejo Jo yang turun dari kapalnya. Ia segera berlari dan mencari tempat sembunyi. Ia bersembunyi di bawah kapal luar angkasa Ejo Jo. Disana ia bisa mendengar percakapan Ejo Jo dan Adu Du yang sedang berdebat.
"Err... Sudahlah apa rencanamu?"
"Aku memiliki satu benda hebat yang bisa mengaktivekan ratusan robot tempur untuk menguasai bumi bahakan planet Atata tiga. Benda itu ini"Ejojo memperlihatkan sebuah kristal berwana merah seperti warna kekuatan Halilintar.
"Lalu kenapa kau memberitahuku? Seharusnya kau bisa mengaktivekannya sendiri?"
"Aku memerlukan kunci untuk membuka kekuatan kristal ini."
"kunci?" gumam Air pelan.
"Lalu? Kunci apa itu?" tanya Adudu penasaran dengan penjelasan Ejojo.
"Itu adalah kekuatan listrik yang berwarna sama seperti kristal ini. Ini akan memberikannya energi agar ia bisa pulih hanya dengan memegangnya. Namun sayang sekali hanya orang itu yang bisa menggunakannya. Kau pasti tau siapa orang itu kan?"
"Halilintar."
"Ah.. aku bisa gunakan itu." ucap Air yakin
"Hahahaha...Kau benar sekali. Hahahaha.. Aku tak pernah berpikir kau akan secerdik itu, menggunakan salah satu Boboiboy itu untuk mengaktivekan robot X2000 yang tak bisa diaktivekan di planet Atata tiga. Meskipun kau sudah kalah melawan Boboiboy kan?"
"Err... Kau fikir aku bodoh sekali kah? Tapi bagaimana kita menculik Boboiboy Halilintar lagi. Dia pasti sekarang sedang dijaga oleh Boboiboy yang lain?" tanya Adudu pesimis.
Air tersenyum sangat tipis. Ia berjalan dan menampakkan dirinya pada Adu Du dan Ejo Jo.
"Aku bisa membantu membawanya" kata BoBoiBoy Air tenang sembari menurunkan topinya semakin ke bawah.
"Kau Boboiboy Air kan?" tanya Adudu bersiap menyerang Air. Hal yang sama juga dilakukan oleh Ejojo. Ia langsung menembakkan peluru dari pistol yang selalu bertengger di pinggangnya. Melihat hal itu Air segera membentuk perisai Air untuk melingdunginya. Tembakan-tembakan dari Adu Du dan Ejo Jo tak ada yang berhasil mengenainya.
"Ya. Aku Boboiboy Air. Tenang saja mereka tak tahu aku juga muncul. Mereka tak akan menggangguku membawa Halilintar. Aku akan membantu kalian membawanya." Kata Air datar dengan pandangan yang datar pula.
"Bagaimana kami bisa mempercayaimu? Kau juga salah satu Boboiboy apa tujuanmu kemari. Cepat jawab" tanya Adudu ragu dan membentak Air. Air yang dibentak hanya menunjukkan ekspresi datar dan tampak tenang. Melihat keraguan di wajah mereka Air kembali berucap untuk meyakinkan mereka.
"Aku akan membawanya. Aku tak perlu kepercayaan kalian. Aku hanya benci pada mereka karena memanfaatkanku. Aku sudah lelah melakukannya. Jadi aku ingin memberi mereka pelajaran. Aku berangkat sekarang tunggu saja." ucap Boboiboy Air dan pergi meninggalkan mereka dengan senyum amat tipis tersungging di bibirnya. Ia bisa gunakan kristal itu untuk menyembuhkan BoBoiBoy Petir.
Flashbakck end
"Itulah jadi aku perlu membawa Halilintar." Ucap Air mengakhiri penjelasannya.
"Jadi? Kau tidak berkhianat kan?" kata Taufan ragu dan langsung mendapat jitakan keras dari Api.
"Kan dia dah jelaskan tadi." Omel Api pada Taufan.
"Aku tanya je.." ucap Taufan sambil mengusap kepalanya.
"Tapi bagaiman kau tahu BoBoiBoy Petir belum sembuh?" tanya Gempa.
"Karena kalian belum mencariku, menurutku 70% Petirlah yang membuat kalian belum menacriku yang artinya kalian belum mencoba berkumpul." Ucap Air malas.
"Kenapa tak langsung kau rampas saja?" tanya Gempa pada Air.
"Bukannya sudah jelas?" Ucapnya sarkatik.
"Aih.. sudah jelas?" ucap Gempa bingung.
"Mereka perlu meningkatkan kekuatan kristal itu sebelum ku gunakan." Ucap Halilintar yang sedari tadi diam.
"Jadi kau perlu membawa Petir untuk memperoleh kepercayaan dari mereka agar kau bisa menyusup dan mengambil kristal itu. lalu kenapa kau bilang rencana Air berhasil tadi? Kau tahu rencananya ya?" ucap Fang menyimpulkan dan menunjuk dua Alien yang gosong dan terkapar ditanah.
"Itu aku tahu saat Air keluar dari kapal Ejo Jo."
"Ha? Dari kapal Ejo Jo?" ucap Api bingung dan mengingat ingat apa yang dikatakan Air.
"Saat Air bilang bahwa dia akan membantu dari dalam kepada Ejo Jo dan meminta mereka membantu dari luar. Itu sebenarnya ditujukan pada kita bukan pada Ejo Jo dan Adu Du."
"Heeee? Kenapa aku tak sadar?" kata Api.
"Itulah kau kan bodoh." Ucap Fang mengolok.
"Ape kau cakap?" kata Api marah. Api dan Fang terus saling mengolok, begitu pula Taufan yang ikut mengolok Fang.
"Biarkan saja mereka. Tapi mereka tak mati kan?" ucap Gempa sembari mendekati Ejo Jo dan Adu Du.
"Aku tak peduli." Ucap Halilintar masih marah.
"Mereka masih hidup." Ucap Gempa pelan. "Ehm.. Air?"
"Hmm?" gumam Air singkat.
"Surat itu. Kau kan yang menulis." Ucap Gempa tetap menatap Ejo Jo dan Adu Du.
"Ya." jawab Air singkat. Gempa hanya mendesah menengar jawaban dari Air. Ia tak menyangka ada dua klon dari BoBoiBoy yang tidak banyak omong sekarang.
"Bagaimana kau menolong Halilintar?" tanya Gempa bingung.
"Sabotase." Ucap Air singkat dan menunjukkan butiran-butiran air di sekitar tangannya.
"Hooo... Terbaiklah kau Air." Ucap Gempa kagum.
"Jadi apa yang harus kita lakukan dengan kristal ini?" tanya Halilintar pada Gempa dan Air.
"Kita simpan saja. itu kan bisa meningkatkan kekuatanmu." Jawab Gempa. "buang saja." ucap Air datar.
"Kenapa?" tanya Fang berhenti bertengkar ketika mendengar Halilintar bertanya tadi.
"Alien-alien bodoh itu akan kembali mengincar Halilintar dan kristal itu lagi nanti."ucap air menjelaskan.
"Kau benar." Gumam Halilintar pelan. Halilintar menatap kristal merah yang agak meredup setelah ia menggunakannya tadi. Memang kristal ini memberikan kekuatan yang besar padanya dan dengan kristal itu dia bisa melindungi teman-temannya yang lain. Tapi dengan menyimpan kristal ini bahaya juga semakin besar mengarah padanya dan teman-temannya. Bisa jadi bukan hanya Ejo Jo yang akan mengincarnya dan kristal ini. akan sangat berbahaya jika alien yang lebih kuat dari Ejo Jo akan datang ke bumi untuk menggunakan kistal ini.
"Kenapa tak disembunyikan saja?" ucap Fang. Halilintar dan Air terdiam dan saling menatap satu sama lain hingga mereka mengangguk. Gempa juga telihat mengerti dengan jalan pikiran mereka berdua.
"Ada apa?" tanya Fang bingung. mungkin hanya dia satu satunya orang disini yang tidak mengerti jalan pikiran mereka. Oh.. tentu saja merekakan BoBoiBoy.
"Kita sembunyikan saja." ucap Gempa sambil tersenyum dan mengacungkap jempolnyan kearah Fang. "Terbaiklah kau Fang."
"Te-Terimakasih." Ucap Fang sedikit gugup dan membenarkan letak kacamatanya dengan Angkuh.
"Ayo.." ucap Taufan berjalan pulang diikuti oleh yang lain.
"Lalu mereka?" ucap Gempa menunjuk Adu Du, Ejo Jo dan Probe.
"Biarkan saja. Nanti juga bangun sendiri." ucap Api riang.
"Huhhh.. Baiklah."
"Halaahh.. Ada dua orang dingin disini." Ucap Taufan kecewa dan melirik Halilintar dan Air.
"Eh.. ha'ah. Tak seru laaa.." ucap Api menimpali.
"Ape kau cakap?" ucap Halilintar marah. Ia segera membentuk keris petir dan melemparkannya kearah Pi dan Taufan yang dengan segera mereka hindari.
"Ternyata berefek padamu." Gumam Air pelan.
"..." Halilintar yang mendengar itu hanya menutup mulutnya tanpa niatan ingin menjawab perkataan Air. Gempa yang melihatnya menyerngit heran.
"Jangan bilang tubuhmu.." ucap Gempa.
"Tak apa tubuhku tak masalah. dimana kita menyembunyikan ini?" tanya Halilintar mengalihkan Gempa.
"Bagaimana kalau di bawah pohon dekat danau?" tanya Gempa memberi usul. "kau yakin disana aman Gempa?" tanya Fang agak ragu.
"Dasar danau." Ucap Halilintar singkat.
"Eh.. kau benar. Ayo ke danau." Ucap Gempa bersemangat.
"Lebih baik kita ke kedai dulu. Biarkan Ochobot memeriksa kristal ini dulu." ucap Fang.
"Baiklah. Ayo kekedai." Ucap Taufan dan meluncur bersama Api yang dan meninggalkan Gempa dan yang lainnya.
"Mereka itu. baiklah kita harus cepat. Elang bayang." Ucap Fang membentuk Elang bayang yang membawa mereka terbang ke kedai tok Aba.
OoooooO
Sesampainya di kedai Ochobot langsung berlari memeluk Halilintar dan menscan Kristal itu.
"Bagaimana Ochobot?" Tanya Gempa.
"Waaww.. ini hebat. Dengan kristal ini kita bisa mengaktivekan 1000 robot yang lebih kuat dari robot yang digunakan Adu Du kemarin." Ucap Ochobot
"Se-seribu?" ucap Taufan tak percaya. "Seribu robot seperti kemarin yang satu robot saja bisa mengalahkan kita. Jika saja Halilintar tak bisa keluar dari sana kemarin. Waww..." ucap Taufan terkagum-kagum.
"Kuat sekali dan juga berbahaya." Ucap Gempa kagum.
"Ochobot scan Halilintar juga." perintah Air kepada Ochobot.
"Eh kenapa?" ucap Ochobot bingung.
"Lakukan saja." ucap Air.
"Tidak." Tolak Halilintar singkat. Mendengar hal itu Gempa, Fang, Api, dan Taufan menatap Halilintar bingung. smentara Air menatap Halilintar tajam.
"Kenapa kamu tak mau Halilintar?" ucap Gempa lembut. Halilintar hanya diam tak menjawab. Ia tahu pasti keadaan tubuhnya saat ini sedang dalam keadaan yang tidak bagus sejak dia menggunakan kristal itu dan jika Ochobot menscan dirinya..
"Tak apa. Aku akan menyembunyikan kristal ini sekarang." ucap Halilintar dan berbalik.
"Tunggu dulu." ucap Air bersiap menahan Halilintar. "Biarkan Ochobot menscan mu."
"Sudah kukatakan. Aku tak apa. Sudahlah." Ucap Halilintar terus mengelak. Gempa hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap kekeras kepalaan dari Halilintar dan juga kegigihan Air. Begitu pula dengan Api, Taufan dan Fang yang menatap perkelahian konyol ini dengan mata berbinar-binar seperti akan mendapat pertunjukan yang seru.
"Ishh,... kalian ini." gumam Gempa pasrah.
Partikel-partikel air mulai terbentuk di sekeliling Halilintar. Halilintar yang merasakan itu segera melompat kebelakang menghindari bola air dari BoBoiBoy Air. Air-air itu terus bergerak mencobamenahan Halilintar namun pergerakan Halilintar yang cepat menyulitkan serangan BoBoiBoy Air, namun Air masih tetap tenang mengendalikan kekuatan itu.
"Tak kusangka ia masih tetap tenang." Gumam Gempa yang melihat Air dengan tenangnya menyerang Halilintar yang terus bergerak menghindari serangan Air.
"Kau itu keras kepala sekali. Tanah pencekam" ucap Gempa dan menahan pergerakan Halilintar.
"Hoii.. Gempa apa yang kau lakukan?" ucap Halilintar meronta-ronta. Tangan Halilintar mengeluarkan listrika berwarna merah.
"Air aku sudah tak bisa menahannya." Ucap Gempa masih tetap mencoba menahan Halilintar. Air segera menyelimuti tubuh Halilintar dengan Air dan Hal itu membuat Halilintar berhenti menggunakan kekuatannya karena ia tahu hal itu hanya akan berdampak buruk padanya. Ochobot segera menghapiri Halilintar dan menscan tubuhnya sebelum Halilintar kembali memberontak. Dan alangkah terkejutnya ia ketika mendapati hasil scan yang menunjukkan penurunan daya fisik dari BoBoiBoy Halilintar.
"Ini buruk kekuatan Halilintar menurun drastis karena efek dari kristal itu." ucap Ochobot membeberkan hasilnya. "tapi tak masalah kalian bisa bersatu kembali. setidaknya itu takkan mempengaruhi fisik BoBoiBoy secara utuh." Ucap Ochobot menenangkan. Halilintar hanya membuang muka mendengar penjelasan dari Ochobot. Sudah ia duga hasilnya akan seperti ini.
Partikel partikel air disekitar halilintar berjatuhan bersamaan dengan Gempa yang melepaskan cengkramannya dari Halilintar. Halilintar berdiri dan menatap mereka alas.
"Lebih baik kita segera menyembunyikan ini dan segera bersatu karena aku tak mau dijaga seperti bayi lagi." ucap Halilintar kesal.
"Baiklah. Kau dan Air ppergilah ke danau dan cepat kembali kemari."
Halilintar dan Air hanya mengangguk. Halilintar segera berjalan kearah Air dan membawanya dengan gerakan kilat menuju danau. Sesampainya didanauHalilintar menyerahkan kristal itu ke Air tanpa mengucapkan sepatah katapun begitu pula dengan Air yang menerima kristal itu tanpa berucap. Suasana terasa hening didanau itu Air membentuk gelembung air yang berisi udara di dalamnya dan meletakkan kristal itu disana. Karena kristal itu memiliki energi listrik dan jika lagsung dimasukkan kedalam air listrik itu akan menyebar dan membahayakan penduduk. Selesai menenggelamkannya ke dasar danau Air kembali kearah Halilintar yang berdiri di bawah pohon menatapnya tajam.
"Ada apa?" Ucap Air malas.
"Huhh.. aku benci mengatakan ini tapi terimakasih." Ucap Halilintar pelan.
"Kau juga aku." Sahut Air tetap menatap Halilintar. "sudahlah kita kembali saja." ucap Air mendekati Halilintar. Halilintar hanya mengangguk dan memegang tangan Air untuk membawanya dengan menggunakan gerakan kilat. Sesampainya di kedai ia bisa melihat Taufan dan Api yang sedang bermain-main, Gempa dan Fang yang sedang menikmati hot chocolate.
Gempa yang tadi sedang menikmati hot chocolate menatap Air dan Halilintar yang baru saja sampai dengan senyuman lembutnya. Entah mengapa Halilintar dan Air measa tenang dengan senyuman itu meski ia tahu Gempa merukan dirinya namun senyuman itu terasa seperti senyuman kasih dari seorang kakak kepada adiknya.
"Berhentilah tersenyum seperti itu." ucap Halilintar dingin. Meski Halilintar menyukai senyuman itu, ia merasa aneh karena 'dirinya' tersenyum lembut.
"Hahaha.. Sudahlah lebih baik kita bersatu." Ucap Gempa mengalah.
"Nanti sajalah aku masih malas. Tok Aba." Ucap Air yang mendudukkan dirinya di counter kedai.
"Ishh.. Kau ni. Meski terlihat seperti itupun kau tetap saja bersikap seperti itu." Ucap Tok Aba sambil memberikan Hot Chocolate pada Air.
"Kan aku BoBoiBoy." Ucap Air singkat sembari menyesap hot chocolatenya.
'Yahh.. sekarang aku tahu. Meskipun aku mengambil cara yang sulit dipercaya bahkan mempertaruhkan kepercayaan diriku yang lain. Mereka tetaplah BoBoiBoy yang akan terus percaya pada temannya. Meskipun itu sikap yang bodoh.' Ucapnya dalam hati sembari tersenyum sangat tipis.
"Hei.. Air kita harus segera bersatu." Ucap Gempa menarik narik Air. Ketika mereka sudah berkumpul.
"Nanti je lah..." ucap Air masih terus menikmati hot chocolatenya.
'Nanti je lah.. aku masih ingin menikmati kebersamanku dengan diriku yang lain'
END
Yoo.. minna sama. Saya umumkan bahwa chapter ini adalah 'KEGAGALAN' karena saya terlalu banyak dialog dalam chapter ini. saya nggak tahu harus nulis apa untuk menggambarkan suasana. Yahh.. begitulah kalau nulis berdasarkan mood dan gaya bahasa yang berganti ganti. Itu terjadi karena saya habis membaca komik jadi berpengaruh.. huhuhuhu...
Yahh.. sudahlah,
Ini fanfic udah selesai. Ingat SELESAI. Tapi bisa aja nanti saya terusin tapi ingat sekali lagi 'BISA AJA' jadi nggak pasti. Untuk yang menunggu secret World, Death Game, dan Misterius Boy. Itu mungkin akan memakan waktu yang cukup lama tapi sudah dalam proses kok. Tapi ya itu.. saya masih belum bisa nemuin kata-kata yang pas untuk itu.
Okay... terimakasih telah membaca dari awal sampai ini fic kelar.. dan maafkan saya karena idenya aneh dan endingnya super aneh pula.. ingat kan diatas chapter ini adalah kegagalan jadi maafkan saya.
Yosh... see next fanfiction minna.
