Sebuah fanfiksi manga Dragon Knights

Disclaimer: Dragon Knights adalah milik Mineko Ohkami

Bab I (Cesia)

Jam Pasir

Seluruh kastil masih bergetar hebat, serasa ada gempa bumi. Aku berdiri diam di sebuah lorong panjang dan suram. Pikiranku kosong. Beberapa saat yang lalu suatu kekuatan yang amat kuat menarikku. Tarikannya amat sangat kuat, seperti tornado yang menghisap apapun ke dalamnya. Tanganku yang bergandengan dengan Rath terlepas begitu saja. Dia tiba-tiba menghilang dari hadapanku. Atau lebih tepatnya aku yang menghilang. Tahu-tahu aku sudah berada di sebuah koridor lain yang masih cukup utuh bila dibandingkan dengan tempat aku berlari bersama Rath tadi.

"Cesia, kau tidak apa-apa?" tanya sebuah suara gadis kecil dari belakangku.

Aku terperanjat dan menoleh. Peri muda dengan rambut merah muda panjang berkepang, kedua matanya yang lebar menatapku cemas. Aku merasa sedikit lega melihatnya. Ternyata aku tidak sendirian. Aku juga tidak menyangka Lim Kaana ada bersamaku. Sesaat tadi aku mengira dia masih bersama Rath, dan aku sendiri saja yang terpisah.

"Apa itu tadi?" tanya Lim Kaana.

"Aku tidak tahu," jawabku. Namun aku tidak bisa membendung ketakutan yang sejak tadi kurasakan. Sesaat sebelum terpisah dari Rath, aku mendengar Nadil memanggilku.

"Aku takut. Kukira tadi aku terpisah sendirian," bisik Lim Kaana. Dia melangkah lebih dekat dan menatapku lekat-lekat seakan ingin memastikan aku nyata atau tidak.

"Sesaat tadi kukira aku juga terpisah sendirian," kataku.

Dinding di sebelah kiri mulai retak. Detik berikutnya sebuah obor yang tergantung diatasnya terlepas dari tatakannya dan jatuh berdentang tepat disampingku dan Lim Kaana. Gadis peri itu dengan sigap menarik lenganku untuk menghindari obor itu. Api masih menyala di dalam obor yang berguling di lantai batu, selagi abu yang masih membara berhamburan keluar dari dalamnya.

Lim Kaana menghela napas dan melepaskanku. "Hei…. Kau benar tidak apa-apa? Kau tampak linglung."

"Nadil...," kataku.

Lim Kaana bergidik. "Aku juga merasakannya. Apa yang harus kita lakukan? Apa kita juga harus mencari Nadil? Terus terang saja, aku tidak suka dengan gagasan itu."

Kastil masih dalam gempa lokal. Pasir rontok dari langit-langit; pasir berjatuhan seperti air hujan yang lolos dari genting yang berlubang. Aku menggosok kepala dan pundakku untuk menjatuhkan pasir, walau aku tahu itu tindakan yang sia-sia. Lim Kaana menggosok matanya yang kelilipan.

"Astaga. Kurasa tempat ini akan runtuh," kata Lim yang masih menggosok matanya.

"Ayo kita pergi dari sini," kataku. Aku menarik lengan peri itu dan berlari.

Kami berlari menyusuri lorong-lorong suram kastil Nadil. Sesekali menghindari potongan batu bata yang berjatuhan dari langit-langit. Guncangan kastil ini tidak juga berhenti.

Aku merasa ada yang tidak beres. Ah, ini memang kastil Nadil, tentu saja segala yang ada disini tidak beres. Kata Rath, kastil ini berubah menjadi monster yang akan menelan orang-orang yang terjebak di dalamnya. Aku merasa ada sesuatu yang jahat sedang mendekat. Di belakangku Lim mulai melambat. "Ayo Lim! Kita harus bergegas sekarang!"

Ada tangga diujung lorong. Aku segera menarik Lim Kaana dan bergegas menaiki tangga.

"Cesia, pelan-pelan dong," keluh Lim Kaana.

"Cepat Lim!" kataku, mengabaikan keluhan Lim Kaana.

"Cesia pelan-pelan. Aku nyaris tidak bisa bernapas nih," kata Lim Kaana sambil tersengal. Aku melepaskan cengkeraman tanganku di pergelangan tangannya.

"Justru itu, kita harus cepat pergi. Cari Rath! Ada yang mengikuti kita."

"Siapa? Jangan bilang kalau itu..."

"Ssst...," desisku. "Pokoknya kita harus cepat menemukan Rath lagi."

Aku mengurangi kecepatan lariku untuk mengimbangi Lim Kaana. Rasanya penguntit itu semakin dekat. Aku celingak-celinguk panik.

Kami keluar dari tangga dan memasuki sebuah aula dengan beberapa pilar besar. Dengan cahaya remang-remang dari beberapa obor disana tampak keadaan aula yang sudah berantakan; dua pilar sudah roboh dan hancur dalam beberapa bagian yang berserakan di lantai pualam, lantai pualamnya pun juga sudah banyak yang retak. Bebatuan kasar tampak mencuat di beberapa bagian lantai dan langit-langit aula itu, seperti stalagtit dan stalagmit sebuah gua yang menikam ruangan itu.

"Cesia?"

"Ada yang mengikuti kita," ulangku.

"Siapa?" Lim Kaana mengulangi pertanyaannya yang belum terjawab olehku.

"Entah…." Fedelta dan Shadiman sedang sibuk memporak-porandakan Draqueen. Shylendra sedang berusaha merombak fondasi kastil dan memanipulasinya menjadi kastil pemangsa. "Mungkin ini….."

Terdengar suara Lim Kaana yang menjerit nyaring di belakangku. Aku berbalik, kaget bukan main. Nadil mencengkeram leher Lim Kaana. Aku mendelik ngeri.

"Kau pengkhianat kecil. Kini kau bahkan sudah jadi salah satu dari mereka." Nadil menyeringai menunjukkan taringnya. Lim Kaana meronta dalam cengkeramannya.

"Lepaskan dia!" seruku. Tanpa banyak berpikir kuserang Nadil dengan sihir angin.

Nadil menangkis seranganku dengan tangannya yang bebas. Dia mengalihkan perhatiannya padaku, tapi masih belum melepaskan Lim Kaana. "Halo Cesia. Kenapa kau berkeliaran dengan pengkhianat ini?" Matanya yang berwarna merah menujukkan sorot kelicikan. Nadil berpaling lagi pada Lim Kaana dan menunjukkan wajah jijik. Lalu di tangannya yang mencengkeram leher Lim Kaana muncul sinar gelap keunguan. Lim Kaana menjerit kesakitan.

Kuserang dia lagi. Tapi Nadil menangkis seranganku lagi. "Jangan! Kumohon jangan! Lepaskan dia!"

Lim Kaana menjerit semakin keras. Aku menyerangnya lagi, lagi, dan lagi. Tapi Nadil terus menerus menangkis seranganku semudah menghalau lalat yang beterbangan di depan hidungnya. "Lepaskan dia, brengsek!" teriakku jengkel. Nadil tertawa keras seakan menikmati suatu lelucon segar.

Gadis peri itu kini sudah berhenti menjerit. Dia tidak lagi meronta. Melihat Lim Kaana yang sudah terkulai tidak bergerak, aku melotot marah pada Nadil.

Raja Youkai itu mencampakkan Lim Kaana ke lantai. Nadil mengucapkan sesuatu, mantera, lalu muncul sebuah lubang hitam yang menelan Lim Kaana. Dia terkekeh. Lalu dia berpaling padaku. "Cesia, Cesia, Cesia," ucapnya santai seolah ini adalah obrolan santai di sore hari bersama anak gadisnya. Dia tersenyum padaku. Aku semakin jijik melihatnya. Dia menghampiriku. Aku mundur beberapa langkah dengan posisi siaga, membuat jarak beberapa meter dari Nadil. Iblis itu berhenti melangkah. "Kau takut padaku?" tanyanya.

"Tidak!" jawabku keras, berharap agar suaraku terdengar lebih tegas.

"Benarkah? Kau gemetar, Cesia," ucapnya tenang.

Dia benar, tubuhku memang gemetar. Tapi takkan kubiarkan dia menguasaiku lagi. Nadil melangkah menghampiriku lagi. "Mundur!" Aku berkata demikian, tapi malah kakiku yang mundur selangkah lebih jauh. Aku berusaha menguatkan hatiku dan bertahan di tempat aku berdiri. "Mundurlah! Atau aku akan…."

Nadil melangkah selangkah lagi, lalu dia menghilang. Detik selanjutnya, tiba-tiba dia sudah berada tepat di belakangku. Aku terlambat menghindar. Aku hendak melancarkan serangan jarak dekat, tapi Nadil bergerak jauh lebih cepat dan menahan kedua tanganku. Napasku memburu karena panik. Jantungku berdetak kencang, seluruh badanku gemetar.

"Kau tidak perlu takut, Cesia. Bukankah kita berada di pihak yang sama?" bisiknya di telingaku.

"Tidak. Memangnya kapan aku pernah mengatakan mau jadi sekutumu? Aku sudah memilih…. Aku akan bersama bangsa Naga."

"Jadi kau memutuskan untuk jadi pihak oposisi? Kau tahu, tidak ada untungnya bagimu untuk melawanku. Kau milikku."

Aku meronta, berusaha melepaskan diri, tapi sia-sia. "Aku bukan benda. Aku bukan bonekamu!"

"Begitukah? Well, kuberitahu kau satu hal, kau adalah milikku. Jangan coba menyangkalku, Cesia. Kau adalah pionku. Kau ada untuk mendukung kekuatanku. Itulah tujuan eksistensimu selama ini."

Pernyataan itu menghantamku dengan telak. Benarkah aku makhluk semacam itu? Apakah keberadaanku di dunia ini hanya untuk menjadi alat legitimasi bagi kekuasaan dan visi keji Nadil?

"Kau terkejut?" Nadil terkekeh, merasa menang.

"Kau memang monster!" geramku.

"Kita sama-sama tahu kebenarannya, kan." Nadil melepas satu cengkeramannya di pergelangan tanganku dan memutar posisiku agar menghadap padanya. Aku melotot padanya. "Hmmm… Kuberitahu kau satu hal lagi…. Kau tahu, Cesia, Mata Naga adalah simbol seorang Ratu Naga; suatu pembenaran dan bukti sah seorang Ratu Dusis. Aku merampasnya dari permaisuri Lykouleon. Tahukah kau ada dimana itu sekarang? Keduanya ada padamu, Cesia." Nadil mengatakakan semua hal itu semudah membicarakan cuaca. Dia begitu tenang dan santai mengatakan dosa-dosanya padaku.

"Kenapa? Kenapa kaulakukan itu? Dasar kau iblis jahanam!" Aku meronta kembali. "Lepaskan aku, brengsek!"

"Menghancurkan kehidupan Lykouleon adalah hal yang menarik; aku mengutuk permaisurinya dan merampas Mata Naga; aku juga mengutuk Lykouleon, sebentar lagi dia akan mati; dan kurenggut hidup pewarisnya, walau kau berkali-kali menariknya kembali dalam kehidupan, akan kupastikan semangat hidupnya tidak akan bertahan lama. Nah, Cesia, pihak yang kaupilih sebentar lagi akan hancur. Kuberi kau kesempatan terakhir untuk kembali ke tempat dimana kau seharusnya berada."

Aku tidak akan membiarkan diriku menjadi budak Nadil lagi. Aku akan tetap pada keyakinanku, sekalipun harus mati.

Aku menyerang Nadil dalam jarak dekat dengan sihir angin. Nadil melepaskanku. Aku mundur beberapa langkah. "Persetan denganmu! Sudah kubilang aku bukan bonekamu."

"Baiklah. Tidak masalah. Sebentar lagi tujuanku akan tercapai. Jadi sekarang aku akan mengeliminasi apa yang sudah tidak termasuk dalam perencanaanku, sekalian saja aku ingin memberikan hadiah selamat datang pada Rath."

"Apa yang akan…"

Nadil merapal suatu mantra, bahasanya sama sekali tidak kukenali. Nenek sihir yang mengasuhku dulu pernah mengatakan bahwa Nadil adalah seorang ahli sihir hitam kuno. Kini aku tidak bisa bergerak, diam terpaku menatap Nadil merapal manteranya. Sakit. Tubuhku seakan nyaris meledak. Aku tidak bisa bernapas. Nadil akan membunuhku. Aku jatuh berlutut, mengerang, menunduk menahan sakit. Aku akan mati….

Kemudian Nadil berhenti merapal mantera. Rasa sakit itu perlahan mereda. "Aku suka kesempurnaan dalam setiap hal yang kulakukan." Nadil menyeringai. "Aku ingin tahu bagaimana perasaan Raja Monster dari Arinas ketika aku merenggut apa yang berharga darinya."

Dia mengutukku.

"Tiga belas purnama. Itulah yang kaumiliki."

Dua purnama telah berlalu sejak saat itu, namun ingatan atas hari kelam itu masih terasa segar. Masih bisa kudengar suara Nadil yang merapal mantera, bergema di sudut benakku. Masih bisa kurasakan sakit yang menekan tubuhku.

Tiga belas purnama, selama itulah waktu yang kumiliki. Kini ada sebelas bulan yang tersisa. Apa yang hendak kulakukan dengan waktuku? Selama ini aku tidak pernah merencanakan hidupku. Aku memang ingin melakukan beberapa hal, tapi tidak pernah menentukan kapan aku akan melakukannya. Selain itu, aku tidak pernah berpikir bahwa waktuku akan demikian sempit.

Dulu aku ingin mencari kedua orang tuaku, yang sama sekali tidak kukenal dan tidak kuketahui dimana keberadaan mereka. Aku ingin mengenal mereka. Aku juga ingin bertanya mengenai alasan mereka menyerahkanku pada penyihir di Bukit Kabut. Namun Nadil berkata bahwa aku diciptakan untuk mendukung kekuatannya. Itu berarti aku bukan anak siapa-siapa. Aku bukan apa-apa. Tapi Rath berkata bahwa Nadil berbohong. Manakah yang harus kupercayai? Apa yang dikatakan Nadil mungkin benar, tapi hatiku memilih untuk mempercayai Rath.

Kini setelah Nadil mengutukku, memvonisku dengan waktu hidup tiga belas bulan, semua yang kupercaya dan kuharapkan tampaknya sia-sia. Tidak akan ada yang tersisa untukku. Aku tidak akan penah menemukan orang tuaku, tidak dengan waktu yang kumiliki sekarang. Aku juga harus menarik diri untuk tidak berharap tentang cinta lagi. Aku tidak boleh berharap untuk dicintai, tidak boleh dicintai atau aku akan melukai seseorang suatu saat nanti. Namun sulit sekali bagiku untuk menekan rasa cintaku pada Rath. Akan terlalu menyakitkan bagiku bila berharap perasaanku ini hanyalah rasa yang sepihak.