Sebuah fanfiksi manga Dragon Knights
Disclaimer: Dragon Knights adalah milik Mineko Ohkami. Galsuenda, Ophelia, Afton, Alasdair, dan Emily adalah original character yang dibuat author.
Bab II (Rath Illuser)
TemanLama
Matahari sudah mulai tergelincir ke barat saat rapat perencanaan pembangunan dan rehabilitasi Dusis selesai. Pertempuran melawan Nadil tidak hanya merenggut banyak jiwa, juga telah menimbulkan kehancuran fisik dan ekonomi. Kini kami harus berjuang untuk bangkit kembali, untuk memperbaiki kerusakan demi mengembalikan stabilitas negara dan demi kehidupan yang lebih baik bagi rakyat.
Sudah hampir satu bulan sejak aku menggantikan tugas Lord Lykouleon untuk memimpin kekaisaran Dusis. Sebetulnya aku tidak terlalu suka dengan ide ini, tapi tampaknya aku tidak punya pilihan. Lord Lykouleon telah merencanakan semua, termasuk masa depanku, dengan detail. Aku memang masih marah padanya, tindakannya untuk mengubahku dan menjadikanku salah satu bagian dari keluarganya tidak bisa kupahami. Apapun rencananya, kurasa Lord Lykouleon telah berhasil; Lord Lykouleon tidak hanya berhasil mengubah fisikku, tetapi juga mengubah perasaanku.
"Galsuenda, apakah kau melihat Yang Mulia?" terdengar suara dari koridor di depanku. Itu suara Rune.
"Tidak, Sir", jawab suara seorang perempuan muda dengan rambut pirang disanggul yang bernama Galsuenda. Dia adalah sepupu Cernozura yang menggantikannya sebagai kepala pengurus rumah tangga di Dragon Castle.
Aku cepat-cepat berbalik arah, berjalan cepat sambil berusaha sebisa mungkin meredam suara langkahku. Aku jadi seperti pencuri dirumahku sendiri. Sebetulnya aku hanya enggan bertemu dengan Rune. Akhir-akhir ini dia suka sekali mengangkat topik pembicaraan tentang pernikahan. Topik ini membuatku merasa sedikit tidak nyaman. Dan Rune selalu mengungkit-ngungkit topik ini kalau ada kesempatan.
Aku terus berjalan cepat, agak sedikit cemas karena koridor ini cukup panjang, sewaktu-waktu aku bisa saja berpapasan dengan Rune.
"Yang Mulia?" tiba-tiba terdengar suara di belakangku. Aku menjerit kaget, dan menoleh. Ternyata bukan Rune, tetapi Galsuenda yang sedang membawa sepelukan bunga lily putih. Aku mendesah lega.
"Maafkan saya telah membuat Anda terkejut, Yang Mulia," kata Galsuenda sambil menunduk, mukanya memerah.
"Tidak apa-apa. Kusangka tadi Rune," jawabku sambil nyengir. "Aku sedang tidak ingin bertemu dengannya."
"Tadi Lord Rune memang mencari Anda."
"Iya, aku tahu. Kalau kau bertemu dengan Rune lagi, tolong jangan bilang apa-apa padanya ya."
Galsuenda tampak ingin menanyakan sesuatu, tapi kemudian dia hanya mengangguk. "Baik Yang Mulia."
"Terimakasih," aku tersenyum padanya. "Oh ya, apakah kau melihat Cesia?".
"Tadi saya melihat Miss Cesia di taman belakang, sekitar setengah jam lalu. Mungkin sekarang dia masih ada disana," jawab Galsuenda.
"Begitu ya…. Baiklah. Terimakasih ya, Galsuenda."
Galsuenda membungkuk hormat, lalu pergi.
Aku melangkah ke sebelah kiri koridor. Keluar dari keteduhan kastil menuju sinar matahari. Taman belakang berada di sisi barat kastil. Aku mempercepat langkah, bergegas menuju rimbunan pohon dan semak yang mungkin akan melindungiku dari Rune.
Sesampainya di taman, aku tidak menemukan Cesia. Kupanggil namanya beberapa kali, tapi dia tidak muncul. Mungkin dia sudah pergi, pikirku kecewa. Aku baru saja hendak pergi dan mencari Cesia di kamarnya ketika terdengar suara Rune. Aku celingukan mencari tempat bersembunyi. Lalu aku merunduk di sela-sela tanaman mawar putih di dekat kolam. Kenapa dia bisa tahu aku ada disini, keluhku dalam hati.
"Selamat siang, Lady," kata suara Rune. Entah siapa yang disapa olehnya.
"Selamat siang, Sir", kata suara lain, suara seorang wanita muda. Entah mengapa nada dan suara wanita yang disapa Rune mengingatkanku pada guru sastraku dulu.
"Apa yang sedang Lady…?" tanya Rune.
"Nama saya Ophelia, Sir," jawab wanita itu. "Saya putri Lord Afton dari Glaciosa. Saya kemari bersama ayah yang menghadiri pertemuan Dusis Economic Cooperation Administration. Tapi saya hanya ingin melihat-lihat Dragon Castle, kudengar tempat ini sangat indah."
"Kalau begitu silakan saja, Lady Ophelia," kata Rune. "Namaku Rune."
"Oh, Andakah White Dragon Officer? Suatu kehormatan bagi saya, Sir," kata wanita itu lagi.
"Aku juga, Lady," kata Rune. "Aku permisi dulu. Ada yang harus kulakukan."
Terdengar langkah seseorang yang pergi, Rune. Aku bersyukur dia tidak melewatiku. Aku akan ke kastil sekarang. Tapi sebelumnya aku harus memikirkan rute yang aman dari Rune.
Terdengar suara gaun yang bergemerisik melintasi rerumputan. Wanita itu pergi. Tidak lama kemudian gemerisik gaunnya tidak terdengar lagi. Apakah dia sudah pergi?
Aku tidak berhasil menemukan rute yang aman untuk menghindari Rune. Dia bisa dimana saja. Aku akan memberikan berbagai macam alasan padanya kalau bertemu nanti.
Aku baru saja bangkit dari persembunyianku ketika sudut mataku menangkap sosok seseorang. Aku menoleh dan mendapati ada seorang gadis yang berdiri di belakang semak mawar putih. Gadis itu memiliki rambut sewarna buah chestnut, dengan mata berwarna keemasan yang besar dan tampak ramah. Gadis itu mengenakan gaun berwarna turquoise yang sederhana tapi tetap membuatnya terlihat anggun. Aku kaget, dan bingung mau berbuat apa, sehingga aku hanya bengong. Sementara gadis itu memandangku dengan ekspresi bingung bercampur takjub.
"Eh….. Halo….," kataku bodoh.
"Selamat siang, Sir," gadis itu mengangguk hormat. Kemudian dia berjalan menghampiriku. Dia tersenyum ramah. Tapi dia pastilah bertanya-tanya apa yang sedang kulakukan di semak-semak. Entah apa yang akan kujawab bila dia menanyakannya.
"Selamat siang, Lady," kataku sambil membalas senyumnya.
Setelah kuperhatikan lagi, sepertinya wajah gadis ini tidak terasa asing. Rasanya aku sudah pernah bertemu dengannya sebelum ini.
"Nama saya Ophelia," katanya memperkenalkan diri. "Anda…"
"Senang berkenalan denganmu, Lady Ophelia." Nama itu seperti pernah kudengar, entah dimana. "Namaku Rath."
Gadis itu terkesiap. Matanya yang lebar menunjukkan keterkejutan. Lady Ophelia mundur beberapa langkah, lalu membungkuk dengan muka yang memerah menahan malu. "Suatu kehormatan bagi saya untuk bertemu dengan Yang Mulia Kaisar. Saya mohon maaf atas ketidaksopanan saya tadi."
"Tidak apa-apa, Lady. Akulah yang konyol karena bersembunyi disini," kataku seraya nyengir padanya.
Ophelia kembali menegakkan badannya dan memandangku dengan takjub.
"Aku tadi sedang mencari seorang temanku di taman ini. Tapi tiba-tiba ada seseorang yang mengejarku."
"Oh…." Tampaknya Ophelia masih belum bisa berkata-kata. Padahal tadi dia berbicara cukup lancar di depan Rune.
"Aku tidak membuatmu takut kan, Lady?"
"Oh, tentu tidak, Yang Mulia," jawab Ophelia cepat-cepat seraya membungkuk lagi. "Saya tidak menyangka akan bertemu Yang Mulia."
"Kau tidak menyangka bertemu denganku di taman ini? Atau kau tidak menyangka akan bertemu denganku di Dragon Castle hari ini?"
Ophelia tersenyum sopan. "Saya rasa keduanya. Istana ini sangat luas. Saya rasa Yang Mulia juga sibuk. Bukankah kemungkinan saya untuk bertemu dengan Yang Mulia bisa dibilang kecil?"
Dari caranya berbicara, gadis ini adalah seorang putri yang cerdas, dan percaya diri.
Aku mengangguk. "Benar. Tapi ternyata kita bertemu."
Ophelia tersenyum lagi, kali ini sambil menunduk. Kulihat senyumnya agak berbeda dari yang sebelumnya.
"Kudengar kau kemari untuk melihat-lihat Dragon Castle," kataku. "Maaf aku tadi tidak sengaja mendengar percakapanmu dengan Rune," tambahku cepat-cepat. Aku memberinya isyarat untuk mengikutiku. Kami berjalan memutari kolam, menuju sebuah gazebo. Aku duduk di salah satu kursi, lalu mempersilakan Ophelia untuk duduk juga. Dia duduk di kursi yang lain di depanku. "Lalu, bagaimana pendapatmu tentang tempat ini, Lady?"
Ophelia tampak berpikir sejenak. "Tempat ini luar biasa, Yang Mulia. Sangat indah. Dan besar, sehingga membuat saya bingung dan khawatir tersesat", jawabnya.
Aku tergelak. "Lady benar. Dragon Castle sangat besar, dan membuat bingung. Sangat repot bila aku merencanakan untuk keluar istana diam-diam."
Ophelia memandangku terkejut.
"Aku suka berburu monster," kataku ringan.
Ophelia tampak masih kaget. Mungkin pernyataan keluar istana diam-diam untuk berburu monster terdengar agak ekstrim baginya. Kemudian dia tersenyum padaku, senyum yang memaklumi.
Salah seorang pelayan melintas tidak jauh dari gazebo. Kemudian dia menghampiri kami. Pelayan itu membungkuk hormat. "Selamat siang, Yang Mulia. Ada yang bisa saya ambilkan?"
"Selamat siang, Emily. Bisakah kau ambilkan teh dan kue untuk kami?"
Emily mengangguk. "Baik Yang Mulia." Lalu dia pergi.
"Lady Ophelia, apakah ini pertama kalinya kau mengunjungi Draqueen?" tanyaku.
"Tidak, Yang Mulia. Waktu kecil saya tinggal di Draqueen, di kediaman paman saya, Lord Alasdair. Saya tinggal di Dragueen untuk menuntut ilmu, karena lembaga pendidikan di Draqueen terkenal bagus."
Lord Alasdair adalah salah satu bangsawan dan duta Kerajaan Glaciosa di Draqueen. Aku pernah sekali ke kediaman Lord Alasdair saat aku kecil. Waktu itu adalah perayaan ulang tahun keponakannya. Dan ternyata keponakan Lord Alasdair itu adalah Ophelia. Pantas saja dia terlihat tidak asing.
"Jadi kau keponakan Lord Alasdair? Astaga. Berarti kita pernah bertemu. Aku pernah ke kediaman Lord Alasdair dulu, saat itu pesta ulang tahunmu," kataku. Tidak kusangka gadis kecil yang sangat suka menari dan menyanyi yang kutemui di pesta itu kini sedang duduk di depanku.
Ophelia mengangguk. "Saya ingat, saat itu Anda bersama Lord Lykouleon dan Lady Raseleane. Sudah lama sekali sejak saat itu. Sehingga saya tadi agak terkejut bertemu dengan Yang Mulia."
"Aku tidak seratus persen lupa kok, kalau itu yang kaumaksud," komentarku. "Tapi yeah, kau terlihat berbeda, aku jadi pangling." Yang kuingat, dulu Ophelia agak sedikit gendut.
Ophelia tersenyum.
Emily kembali sambil membawa nampan berisi dua buah cangkir, sebuah teko teh, dan keranjang kecil berisi kue castengell. Dia menuang teh untukku dan Ophelia. "Ada yang bisa saya ambilkan lagi, Yang Mulia?"
"Tidak, Emily. Terimakasih. Kau boleh pergi."
Emily membungkuk hormat kemudian pergi.
"Lalu… Berapa lama kau akan tinggal di Draqueen kali ini?"
"Sebetulnya saya berniat untuk tinggal di kediaman Lord Alasdair lagi. Saya akan belajar ilmu tata negara pada salah satu akademi di Draqueen pada bulan Juli mendatang."
"Wah, padahal kebanyakan putri bangsawan memilih untuk menjalani pendidikan privat," ujarku
Ophelia tersenyum. "Karena pendidikan privat membatasi pergaulan. Saya ingin merasakan pendidikan regular, untuk dapat mengenal dan berkomunikasi dengan banyak orang. Pastilah menyenangkan. Walaupun awalnya ibu saya kurang setuju dengan ide ini."
Aku tersenyum dan mengangguk setuju. "Aku sependapat denganmu." Aku mempersilakan Ophelia untuk meminum tehnya dan mencicipi kue. Ophelia mengangkat cangkirnya dan meminum tehnya dengan anggun.
"Sering-seringlah kemari. Perpustakaan disini punya koleksi buku-buku yang bagus, barangkali bisa berguna dalam studimu."
Ophelia mengangguk. "Terimakasih, Yang Mulia."
Tiba-tiba aku merasakan aura kekuatan yang familiar. Kulihat Cesia melintas diantara pepohonan mahogany. Aku harus mengejarnya. Ada yang ingin kubicarakan dengan Cesia. Aku ingin bertanya mengapa akhir-akhir ini dia sering menghindariku.
"Lady Ophelia,"
"Ya Yang Mulia?"
"Aku harus pergi. Ada yang harus kulakukan. Aku mohon maaf atas ketidaksopanan ini", kataku seraya bangkit.
Ophelia mendongak terkejut, lalu berdiri. "Oh, saya minta maaf telah mengganggu kelancaran aktivitas Anda, Yang Mulia." Ophelia membungkuk memohon maaf.
"Tidak, sungguh, aku yang harus meminta maaf. Aku senang bisa bertemu denganmu. Kuharap bisa berbincang-bincang lagi kapan-kapan. Maaf kan aku, Lady."
Kemudian aku bergegas meninggalkan gazebo, mencari sosok Cesia. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling taman. Lalu kulihat sekelebat sosoknya melintasi jalan setapak menuju kastil. Dia mengangkat satu tangannya untuk melindungi matanya dari silaunya sinar matahari ketika keluar dari keteduhan pepohonan.
Kupanggil namanya. Tapi dia tidak menoleh. Jadi aku berlari untuk menyusulnya. Setelah jarak diantara kami cukup dekat, kupanggil namanya sekali lagi. Cesia menoleh dan tersenyum.
"Yang Mulia." Cesia membungkuk sopan.
"Bisakah kauhentikan itu?"
"Hentikan apa?" tanyanya acuh.
"Itu tadi," jawabku jengkel. "Aku punya nama. Dan aku tidak suka kau membungkuk seperti itu."
Kami berjalan menuju koridor.
"Tapi kau kaisar Dusis sekarang, Dragon Lord Rath," Cesia menekankan intonasinya pada frase terakhir.
"Itu tidak ada hubungannya kan. Toh kita sudah lama kenal."
"Oh, tentu ada hubungannya. Fakta kita sudah lama saling kenal tidak mengubah kenyataan, my lord. Sudah seharusnya orang-orang bersikap demikian padamu."
"Tapi itu memberi kesan yang kolot, kau tahu. Aku tidak suka. Apalagi bila orang-orang yang dekat denganku berbuat demikian. Rasanya aku jadi seperti orang asing," kataku. "Ah, sudahlah. Bukan ini yang ingin kubicarakan denganmu."
"Anda ingin berbicara denganku, my lord?"
"Please, Cesia," desisku.
"Baiklah, Rath, apa yang ingin kaubicarakan?"
"Kenapa sih akhir-akhir ini kau menghindariku?"
Cesia berhenti melangkah. Aku juga berhenti melangkah.
"Kuharap kau memberiku penjelasan yang masuk akal," tambahku.
"Wow, kau tetap to the point seperti biasanya ya," komentar Cesia.
Aku tidak menanggapinya, dan menatapnya, menuntut penjelasan.
"Aku tidak menghindarimu, Rath," jawabnya. Bohong. Aku tahu dia berbohong. "Itu hanya perasaanmu saja. Aku tidak menghindarimu. Kau sibuk sekarang. Lebih baik bila aku tidak mengganggumu."
"Kenapa sih kau suka sekali membohongiku?" tuntutku.
"Membohongi apa, Rath? Aku tidak membohongimu. Aku berusaha mengerti situasi saat ini. Aku berusaha mengerti dirimu. Aku tidak mau jadi orang yang menganggu tugasmu, itu saja."
"Aku tahu kau bohong, Cesia. Jangan kaukira aku tidak tahu. Aku tahu ada yang salah dengan ini semua," tukasku. "Aku benci bila kau menghindariku," tambahku lirih.
Cesia menatapku dengan tatapan bersalah. "Maaf, Rath. Tapi aku tidak bermaksud menghindarimu. Aku tidak ingin menganggumu, itu saja." Tidak bisa kupercaya Cesia tetap bertahan dengan argumentasi itu.
"Suatu saat aku akan mendapatkan jawaban yang jujur darimu," kataku datar. Kemudian aku mulai melangkah lagi. Cesia mengikutiku di belakang.
"Hei, apa maksudmu dengan kata-kata itu?" Cesia mensejajarkan langkahnya.
"Kau tahu apa maksudku," jawabku.
"Kau betul-betul keras kepala, ya," kata Cesia jengkel.
"Kau juga," tukasku.
Kami berbelok diujung koridor, berjalan melintasi koridor lain. Kami hanya berjalan dalam diam. Tanpa tujuan.
Aku masih jengkel karena jawaban Cesia yang bagiku sama sekali tidak masuk akal, karena terasa sangat berbeda dengan Cesia yang biasanya. Aku tahu dia berbohong padaku. Entah apa yang ditutup-tutupi olehnya. Cesia juga terdiam, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu. Kuharap dia mempertimbangkan untuk berkata jujur padaku.
"Lalu siapa gadis itu?" Cesia memecah kesunyian.
"Siapa?"
"Gadis itu. Gadis yang bersamamu di taman. Tampaknya kalian cukup akrab. Maksudku, tidak biasanya kau berbicara dengan orang asing," ujar Cesia.
"Itu karena tuntutan peran," jawabku enteng. Cesia mengernyit tidak setuju dengan jawabanku. Dengan ekspresi itu entah kenapa dia jadi mirip Rune. Aku bergidik ngeri. "Tidak, bukan itu kok. Aku tadi kebetulan bertemu dengannya di taman. Dia putri dari Glaciosa dan keponakan dari duta Glaciosa di Draqueen."
"Jadi karena alasan politis? Wow, kau selalu penuh kejutan ya, Rath. Tidak kusangka secepat ini kau menguasai tugasmu," sela Cesia sinis.
"Bukan begitu. Kenapa sih kau jadi sensitif banget?" sergahku. "Itu karena aku pernah mengenalnya dulu. Waktu aku kecil, aku pernah datang di pesta ulang tahunnya. Bukan karena alasan politis seperti yang kaubilang," kataku. Aku tidak mau Cesia sampai salah paham. "Dan kau salah kalau mengatakan kata 'akrab'."
Cesia terdiam. Tapi dia terlihat jauh lebih tenang dari sebelumnya. "Begitukah?"
"Ya."
