Sebuah fanfiksi manga Dragon Knights
Disclaimer: Dragon Knights adalah milik Mineko Ohkami. Ophelia adalah original character yang dibuat author. Chamfolk dan Aalish Castle adalah setting rekaan author.
Bab III (Cesia)
Takdir
Hari belum terlalu siang saat aku melihat Putri Glaciosa melintas sendirian di koridor menuju perpustakaan, hanya selang satu jam setelah Rath pergi ke Chamfolk untuk mengunjungi Lady Raseleane di Aalish Castle. Seminggu ini aku memang sering melihat Lady Ophelia di Dragon Castle.
Aku menghabiskan waktuku dengan melamun di salah satu halaman. Mendesah, sama sekali tidak punya gagasan tentang kegiatan yang akan kulakukan hari ini. Alih-alih melakukan sesuatu hal yang berarti, aku hanya duduk diatas sebuah dipan rotan dibawah pohon maple dengan pikiran yang melantur kemana-mana.
Kemarin untuk kedua kalinya aku bertemu dengan Lady Ophelia dalam jamuan makan malam di Dragon Castle. Lady Ophelia tidak hanya cantik dan anggun, dari sikapnya yang komunikatif dia pastilah seorang putri yang cerdas.
Saat itu Lady Ophelia sering sekali mencuri pandang kearah Rath. Ketika dia menyadari bahwa aku melihatnya, putri itu menunduk dengan muka merona karena malu. Namun sepertinya Rath tidak menyadari sikap Lady Ophelia, karena untuk hal semacam ini seseorang harus mengatakan secara langsung pada Rath. Aku mensyukuri ketidakpekaan Rath. Namun di sisi lain, aku juga merasa malu atas rasa syukur itu, karena itu sama saja aku tidak tahu diri untuk bersaing dengan seorang putri kerajaan.
Aku berusaha menekan perasaan rendah yang memalukan itu dengan menenggelamkan mukaku pada sebuah bantal.
"Memalukan. Ah, bodoh sekali aku ini."
Gadis itu sangat sesuai untuk Rath; seorang putri kerajaan. Aku tidak ingin berharap lebih. Walau dengan mata naga sekalipun aku bukanlah siapa-siapa. Meski Nadil mungkin berbohong bahwa aku tercipta untuknya – hal yang selama ini ingin kupercayai sebagai kebenaran – aku hanyalah gadis yang tidak jelas asal-usulnya yang pernah menjadi anak angkat penyihir. Lagipula waktuku yang tersisa tidak banyak.
Angin bertiup, daun-daun maple berkeresak, bayangannya bergerak-gerak diatas tanah. Lady Ophelia muncul lagi. Dia tersenyum selagi berjalan menghampiriku.
"Selamat siang," sapanya.
Aku membalas sapaannya dan mempersilakannya duduk. Ini pertama kalinya aku berdua saja bersama Lady Ophelia. Dia duduk di sampingku dengan agak canggung, kedua pipinya merona. Untuk beberapa saat kami hanya terdiam. Aku heran kemana perginya putri yang komunikatif itu.
"Hari ini Lord Rath mengunjungi Lady Raseleane," aku memberitahunya.
"Saya tahu." Ophelia mengangguk seraya tersenyum. "Ini pertama kalinya kita bicara berdua ya. Sebenarnya saya menemui Lady untuk meminta maaf atas sikap saya semalam."
Aku tidak perlu menanyakan tentang apa yang dimaksudkannya, karena tidak ingin membuatnya merasa tidak nyaman. Tetapi aku heran mengapa seorang putri seperti dia harus meminta maafku yang bukanlah siapa-siapa.
"Saya tidak mengerti mengapa Lady harus meminta maaf ."
"Karena Lady Cesia adalah tunangan Lord Rath. Seharusnya saya menyadarinya lebih awal. Maafkan kebodohan saya."
Aku nyaris tidak bisa berpikir karena dampak dari kata-kata Lady Ophelia. Bagaimana mungkin dia berpikir kalau aku adalah tunangan Rath.
"Sebenarnya tadi saya tidak sengaja mendengar Lord Thatz yang berbicara pada Lord Rune. Lord Thatz mengatakan bahwa Lady Cesia adalah calon permaisuri kaisar. Oleh karena itu, saya kemari untuk mohon maaf."
Wajahku serasa terbakar. Bisa-bisanya Thatz berkata sembarangan seperti itu.
"I-itu tidak mungkin….," kataku terbata.
"Mata berwarna keemasan itu adalah mata naga, kan."
Aku mengangguk tanpa bisa berkata sepatah pun. Tetapi Lady Ophelia kebetulan juga memiliki warna mata yang sama denganku. Lady Ophelia tersenyum, lalu meraih kedua tanganku dan meremasnya.
"Itu takdir. Takdir semacam ini tidak harus diikat oleh benang merah."
Aku tersenyum canggung. Wajahku terasa makin membara.
Tidak lama kemudian Lady Ophelia berpamitan. Lalu aku pun kembali tenggelam dalam lamunanku.
Anda salah Lady, mata naga ini bukanlah sebagai pengganti benang merah. Bukan mata naga ini yang telah mengikat Dragon Lord dan permaisurinya. Sama halnya dengan Lord Lykouleon dan Lady Raseleane, karena bagaimanapun mereka masih terikat dalam ikrar cinta mereka meski tanpa mata naga. Benang merah itu tidak mungkin mengikatku dengan Rath, karena kelak aku harus menerima takdir yang lain.
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam saat aku melihat Rath dari jendela kamarku. Rupanya dia baru saja tiba. Dia menyadari bahwa aku mengawasinya. Rath menengadah sambil memberikan seulas senyum. Aku mundur dari jendela. Aku sudah bertekad untuk tidak membiarkan perasaan ini berkembang.
Kujatuhkan diriku ke ranjang dan mencoba untuk tidur, tapi kegetiran yang membuncah merongrong tekad dan merampas ketenanganku. Aku dilanda keinginan yang dahsyat untuk menghujat Nadil dengan kata-kata paling kotor yang ada di dunia dan melumatnya hingga menjadi bagian-bagian kecil sebelum melemparnya ke mulut Cerberus. Jahanam itu telah mengacaukan segalanya. Aku menggigit bibir dengan penuh kekecewaan menyadari bahwa semua hanya tinggal angan belaka.
Keesokan harinya Rune mengatakan bahwa Rath mencariku. Belum tengah hari saat aku menemui Rath. Dia duduk di sofa, pandangannya menerawang keluar jendela. Dari ekspresinya aku bisa menebak bahwa dia sedang memikirkan sesuatu. Diatas meja di depannya terdapat sebuah kotak, sebuah jambangan, dan sebuah lilin yang menyala. Aku mengernyitkan dahi, heran mengapa benda-benda itu ada disana. Apakah dia terluka? Perutku serasa dijatuhi benda berat.
Aku menghampirinya. "Yang Mulia," kataku sambil membungkuk.
Rath berpaling dari jendela dan menoleh padaku. Alisnya bertaut dan bibirnya mengerucut karena kesal. Aku tersenyum simpul melihatnya masih bisa memasang raut wajah seperti itu. Itu adalah salah satu ekspresi yang kusukai.
"Hentikan sikap itu. Aku harus bilang berapa kali padamu. Ternyata kau ini bolot ya."
"Apa kau bilang?" Mau tidak mau aku jadi kesal mendengar kata-katanya. Ternyata walau telah menjadi kaisar Dusis, mulutnya yang suka sembarangan ngomong masih terikat pada kebiasaan lama.
"Cesia bolot," ulangnya sambil mencibir. "Itu salahmu sendiri."
Aku melotot padanya. "Dasar. Mestinya sekarang kau harus lebih bisa menata kata-kata yang kau ucapkan. Sekarang kau adalah penguasa Dusis," gerutuku.
"Jangan bawa-bawa kedudukan. Lagipula tidak ada konstitusi yang mengatur bahwa aparat pemerintah dan bangsawan harus selalu berkata sopan meski dalam situasi informal," sergah Rath.
"Memang tidak ada. Tetapi kau pasti sudah pernah dengar tentang norma kesopanan," tukasku jengkel.
Rath mendengus. "Astaga. Kedengarannya kau jadi seperti Rune," gerutunya.
"Apa maksudmu?"
"Tidak ada." Rath melambaikan tangannya acuh tak acuh. "Aku bukan orang yang kolot. Aku hanya tidak ingin berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan diriku. Berpura-pura itu melelahkan. Aku tidak mau berpura-pura lagi, terutama padamu."
Aku terdiam. Tanpa bisa kuhindari, aku bertanya-tanya apakah Rath masih menyimpan harapan kelam seperti sebelumnya. Kecemasan lama itu kembali muncul.
"Lalu ada apa sampai kau memanggilku kemari?" tanyaku. Aku mengerling benda-benda yang ada diatas meja. "Apakah kau terluka?"
"Nggak," jawabnya santai. Rath menangkap arah tatapanku. "Oh itu. Well, aku ingin kau menindik telingaku."
Aku terkesiap. "Kau memintaku untuk menindik telingamu?"
"Yeah. Kau tahu tindikanku hilang saat itu. Aku juga sudah bilang padamu kalau aku lebih suka pakai anting tindik."
"Kenapa harus aku yang melakukannya?" tanyaku bodoh. "Maksudku kau bisa meminta Rune atau….."
"Karena aku ingin Cesia yang melakukannya," potong Rath. "Please." Dia memasang tampang kekanak-kanakan seraya nyengir.
Aku tidak akan pernah sanggup untuk menolak permintaannya. "Baiklah."
Kuraih kotak yang berisi peralatan dan perlengkapan untuk luka dan mengambil beberapa barang yang kuperlukan. Aku mengambil sebuah jarum dan memanaskannya pada api. Lalu aku menuang sedikit alkohol pada sebutir kapas dan mengoleskannya pada ujung telinga Rath.
"Ini akan sedikit sakit. Kau sudah siap?" Aku menyeringai.
Rath terkekeh. "Yeah."
Aku membungkuk untuk menjangkau telinga Rath. Dengan jarak sedekat ini, jantungku berpacu. Aku berusaha mempertahankan konsentrasi dengan mengingatkan kembali diriku pada tekad yang sudah kutetapkan. Dengan sedikit gemetar aku menusuk ujung telinga Rath dengan jarum yang sudah kupanaskan tadi. Rath mengernyit.
"Jangan menangis," godaku. Aku tidak bisa menahan senyum simpul yang merekah di bibirku.
"Tidak akan," tukas Rath sambil menujukkan senyuman miring yang nakal.
Kubersihkan darah yang keluar dengan kapas beralkohol. Lalu aku meminta Rath memegangnya untuk menghentikan darahnya selagi aku menindik telinganya yang satu lagi.
"Ngomong-ngomong, putri dari Glaciosa itu cantik juga ya. Dia gadis yang pintar," ujarku. Hatiku mencelos saat mengatakannya.
"Yeah, benar," jawab Rath datar. Aku tidak menangkap minat dalam persetujuannya.
Aku masih berusaha menyusun kata-kata selanjutnya saat Rath mengalihkan topik pembicaraan yang baru saja kumulai. "Sebenarnya ada yang ingin kubicarakan denganmu," ujarnya seraya meletakkan kapas dengan noda darah dalam sebuah mangkuk kecil.
Aku terpaku. Sebagian diriku berbisik bahwa ini adalah firasat buruk. Sedangkan sebagian lagi bersorak senang dengan penuh harap.
"Apa?"
Rath terdiam. Raut wajahnya menujukkan kegusaran. Lalu dia membuang muka untuk menghindari tatapan mataku. Apa-apaan dia? Sebenarnya apa yang ingin dibicarakannya?
"Kau mau bicara apa?"
"Tidak jadi."
"Apa?"
"Besok saja."
"Bagaimana sih kau ini. Katanya mau bicara," protesku.
Rath masih tidak mau memandangku. "Kubilang besok saja. Aku tidak bisa membicarakannya sekarang."
"Ya sudah," aku mengangkat bahu. "Terserah."
Aku memeriksa hasil pekerjaanku, memastikan tidak ada darah yang keluar lagi.
"Sudah selesai. Tapi kau harus menunggu sampai lukanya kering sebelum memasukkan anting."
"Aku mengerti."
Ketika aku membersihkan tanganku yang terkena alcohol, Rath memandangiku seolah ingin mengatakan sesuatu. Aku membalas tatapannya dan Rath berkedip seperti terbangun dari lamunan.
"Ada yang ingin kaubicarakan? Tidak apa-apa kalau Rath ingin bicara sekarang," pancingku.
Rath menggeleng. "Aku kan sudah bilang besok saja."
"Daripada kepikiran terus…."
"Besok," kata Rath tanpa memandangku. Sekilas aku menangkap rona kemerahan pada pipinya.
Malamnya aku tidak bisa tidur lagi, bukan karena rasa cemburu yang menelusup, tetapi karena apa yang mungkin akan dibicarakan oleh Rath besok sore. Bukannya bermaksud terlalu percaya diri. Tetapi teringat pada kata-kata Thatz aku jadi berpikir kalau Rath hendak membicarakan hal yang selama ini membuat kegusaran yang kurasakan akan terasa lebih menyakitkan daripada yang diakibatkan oleh rasa cemburu.
Aku mondar-mandir di kamar dengan perasaan yang campur aduk, seolah-olah aku akan meledak karenanya. Suatu harapan tumbuh, namun kenyataan melindasnya dengan kejam.
Suatu kebahagiaan yang tidak akan dapat diukur dengan apapun bila cinta kita disambut. Namun itu berarti suatu saat aku akan melukai Rath, hal inilah yang membuatku gusar. Akan sulit menjelaskannya pada Rath agar dia bisa memahami dan menerima situasi. Tetapi aku juga tidak ingin membuatnya khawatir. Aku tidak ingin membebani Rath, sehingga akan lebih baik bila aku merahasiakannya.
"Oh Tuhan," aku merintih.
Aku bingung, cemas, dan putus asa. Air mata mengalir keluar tanpa bisa ditahan. Aku jatuh berlutut dan merintih dengan air mata membanjiri wajah. Cinta ini begitu besar, sedangkan waktuku terlalu sempit.
Sejak kecil aku tidak pernah diajari tentang Tuhan, sehingga aku pun tumbuh menjadi individu tanpa keyakinan. Namun selama berada disini, pelan-pelan aku belajar untuk memahami bahwa ada kekuasaan yang jauh lebih besar yang mengatur dunia ini; kekuatan itu jauh lebih besar dari kekuatan Nadil ataupun bangsa Naga.
Kini saat aku merasa tidak tertolong dan putus asa, aku ingin mencoba melakukan hal yang selama ini tidak pernah kulakukan. Aku menangkupkan kedua tanganku dan memejamkan mata.
Tuhan, bila Kau memang benar-benar ada, maka tolong dengarlah permohonanku. Hidupku ini akan segera berakhir. Tapi aku sangat mencintai Rath. Aku mencintainya dengan sepenuh jiwaku. Kalaupun benang merah itu telah mengikat kami, dengan kuasaMu, tolong jauhkan Rath dari takdirku. Berilah dia kehidupan yang lebih baik. Dan berilah aku kekuatan untuk menanggung perasaan yang kumiliki.
