Sebuah fanfiksi manga Dragon Knights

Disclaimer: Dragon Knights adalah milik Mineko Ohkami. Layla Majnun adalah milik Nizami, Romeo and Juliet adalah milik William Shakespeare.

Bab IV (Rath Illuser)

Matahari dan Rembulan

"Apalagi yang harus kita kerjakan sekarang?" tanyaku pada Rune setelah kami memeriksa setumpuk dokumen.

Aku menelungkup di atas meja kerja, membenamkan wajahku di kedua lengan. Aku nyaris mengatakannya pada Cesia. Perutku langsung melilit memikirkannya.

"Tidak ada. Semua sudah selesai," jawab Rune dengan nada puas. "Kalau Anda lelah sebaiknya cepat istirahat."

"Aku belum ingin tidur," gumamku tanpa mengangkat wajah. "Dan tolong hentikan cara bicaramu yang formal, tidak enak kudengar," tambahku.

"Tapi Yang Mulia Kaisar...,"

"Adalah Rath Illuser," potongku. "Kita ini teman lama, jadi tolong jangan memasang pagar dalam hubungan kita."

"Baiklah," terdengar Rune mendesah, terdengar menyerah dengan sikapku. "Oh ya, bagaimana tanggapan Lady Raseleane?"

Kalimat pertanyaan yang diucapkan Rune membuat perutku serasa dijatuhi benda berat. Aku tahu apa yang dimaksud Rune. Mengunjungi Lady Raseleane adalah ide Rune. Dia selalu mengusut tentang pernikahan setiap kali ada kesempatan. Sepertinya topik itu sudah berakar di kepalanya, hingga tidak mungkin ada orang atau hal apapun yang bisa membuat Rune melupakannya meski untuk sehari saja. Kelakuannya benar-benar membuatku risih setengah mati. Aku juga sudah bosan direcoki terus. Oleh karena itu aku mengunjungi Lady Raseleane untuk meminta persetujuan dan restunya.

"Yaaa… kurang lebih seperti yang kau pikirkan," jawabku dengan intonasi yang kurang jelas. Entah Rune bisa menangkap kata-kataku atau tidak. Aku sedang tidak ingin membahasnya, terlebih lagi membahasnya dengan Rune.

"Lalu apa kau sudah mengatakannya pada Cesia?"

Pertanyaan Rune terasa seperti sengatan listrik. Aku bangkit dengan cepat, membuat meja kerja sedikit berguncang, dan kursiku yang bergeser cepat tiba-tiba kehilangan keseimbangan sehingga membuatku terjatuh ke belakang. Kursiku sempat membentur rak di belakangku, membuat beberapa folder ikut terjatuh menimpaku sementara berkas-berkas di dalamnya berhamburan. Di sela-sela suara berdebum saat kursi dan tubuhku membentur lantai serta kertas-kertas yang berkeresak kudengar Rune yang memekik keras.

"Yang Mulia tidak apa-apa?" tanya Rune cemas.

Wajahku terasa panas akibat pertanyaan Rune sebelumnya. Sementara kepalaku yang membentur lantai terasa berdenyut-denyut. Entah bagaimana jadinya tampangku di depan Rune.

"Aduh….," rintihku sambil mengusap kepalaku. "Aku tidak apa-apa, cuma kaget saja."

"Syukurlah." Rune membantuku berdiri dari kekacauan yang kubuat. "Aku juga kaget dengan reaksimu." Rune terkikik geli.

Wajahku serasa terbakar. Aku menunduk untuk menghindari tatapan Rune. "Lalu harus kita apakan ini?" tanyaku sambil mengerling hasil perbuatanku untuk mengalihkan pembicaraan.

Rune mendesah. "Kita bereskan sekarang saja."

Aku mendesah juga. Apapun boleh asal Rune tidak menyinggung masalah itu. Aku dan Rune memunguti semua folder dan berkas yang berserakan.

"Maaf, aku membuat semua berantakan," ujarku setengah menyesali kekikukanku.

"Maafkan aku juga. Aku lupa kalau aku bicara dengan Rath," sindir Rune sambil tersenyum geli. "Kau masih saja polos."

Kami meletakkan semuanya diatas meja dan mulai mensortir. Dari sudut mata bisa kulihat Rune yang masih berusaha menahan tawa.

"Jangan tertawa," kataku sewot.

Rune malah terkikik lagi. "Wajahmu merah, Rath. Terlepas dari akibat kecelakaan tadi, reaksimu benar-benar…," Rune berhenti sejenak untuk mencari kata yang tepat sementara aku memelototinya. "…..benar-benar tidak terduga."

Aku mendengus kesal.

"Untung cuma aku. Kalau Thatz ada disini, kujamin dia akan menertawaimu habis-habisan," kata Rune di sela-sela tawanya.

Seketika terbayang olehku Thatz yang sedang tertawa terbahak-bahak sampai menangis, lalu dia akan memberondongku dengan berbagai pertanyaan, dan di sela-sela jawabanku dia akan melontarkan berbagai macam komentar yang ngaco. Aku mendesah tak berdaya.

"Lalu bagaimana?" tanya Rune.

"Apanya?"

"Soal Cesia."

Tanganku yang tengah sibuk mensortir berkas-berkas terhenti. Astaga, Rune masih ingin melanjutkan topik ini. Tidak ada yang bisa mengalihkan perhatiannya.

"Aku belum mengatakannya," gumamku.

"Saranku, sebaiknya segera kautanyakan. Seorang raja harus punya permaisuri. Kau harus memikirkan kelanjutan kekaisaran Dusis."

Kehangatan kembali merayapi wajahku.

"Apa Rath tidak mencintai Cesia?"

"Bukan begitu," jawabku cepat. Lalu aku menutup mulutku setelah menyadari bahwa aku setengah berteriak, merasa malu sekali.

Rune tersenyum simpul. "Benar. Hanya Cesia yang bisa memahami Rath."

Apa yang dikatakan Rune ada benarnya. Hanya Cesia yang bisa memahamiku. Hanya dengan satu alasan itukah aku mencintai Cesia? Tidak. Ada banyak sekali alasan; terlalu banyak hingga aku sendiri bingung dan tidak mampu mengungkapkannya. Namun satu alasan tersebut sudah cukup bagiku.

Aku akan mengatakannya besok sore. Hanya saja ada satu masalah yang menghadang, dengan cara bagaimana aku harus mengatakannya. Walau terlihat sederhana, tapi ini sulit sekali bagiku. Seperti halnya tadi siang, lidahku serasa tertahan dan apa yang akan kukatakan tersangkut di tenggorokan.

Bagaimanapun aku bersyukur belum mengatakannya. Dalam buku-buku yang pernah kubaca, dalam menyatakan hal macam ini orang harus melakukannya dengan cara yang berbeda untuk menimbulkan kesan tertentu. Aku tidak ingin membuat Cesia marah. Itu artinya aku tidak bisa melakukannya dengan asal-asalan.

Awalnya aku berniat untuk bertanya pada Rune atau Thatz, atau mungkin pada Ruwalk. Sayangnya aku terlalu canggung untuk meminta saran mereka. Jangan-jangan malah mereka yang tidak akan mengerti apa yang kumaksud. Gagasan selanjutnya yang terlintas di benakku adalah perpustakaan. Dari tempat itu aku akan mengembangkan gagasanku dengan mencari petunjuk apa yang sebaiknya kulakukan.

Aku bergegas menuju perpustakaan. Koridor-koridor yang kulalui sunyi dan temaram. Terdengar dentang jam di suatu ruangan di kastil ini. Jam itu berdentang sepuluh kali, gemanya mempertegas kesunyian. Aku berhenti di depan pintu ganda dengan ukiran naga pada kedua sisinya. Kedua naga itu membentangkan sebelah sayapnya seolah menyambut setiap orang yang memasuki pintu tersebut.

Kudorong salah satu sisi pintu ganda itu hingga terbuka, lalu aku menyelinap masuk. Suasana di dalam perpustakaan juga remang-remang, tapi ini tidak akan menggangguku karena aku nyaris hafal setiap sudut dari ruangan ini sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk bisa menemukan buku yang kucari. Aku bergegas menuju bagian sastra. Aku meraih beberapa buku, lalu aku keluar dan membawanya ke kamarku.

Kuletakkan semua buku diatas tempat tidur sementara aku bersila dan mulai membaca ulang cerita yang sudah pernah kubaca sebelumnya.

Apa yang harus kulakukan besok? Aku tidak mungkin memintanya dengan menciumnya, Cesia akan marah. Apakah aku harus mengatakannya dengan kata-kata yang puitis? Mungkin aku bisa mengutip beberapa kata dari buku-buku ini.

Aku membuka salah satu halaman dan membaca sebuah syair. "Wahai Layla, Cinta telah membuatku lemah tak berdaya. Seperti anak hilang, jauh dari keluarga dan tidak memiliki harta. Cinta laksana air yang menetes menimpa bebatuan. Waktu terus berlalu dan bebatuan itu akan hancur, berserak bagai pecahan kaca. Begitulah cinta yang engkau bawa padaku…" Aku merasa ada yang aneh dengan suaraku saat mengucapkannya, seolah suara itu bukanlah milikku. Saat ini hanya membacanya saja bisa membuatku merasa canggung.

Terlalu berlebihan, kurang tepat dan terlalu panjang untuk dikutip, pikirku. Lalu aku berlanjut ke buku selanjutnya.

"Jiwa yang mencari jiwamu, berusaha dengan sekuat tenaga agar mendapatkan cintamu, walaupun aku harus menjadi budak. Betapa aku takut kehilangan kesempatan untuk dapat memiliki cintamu. Aku berharap agar tetap hidup, bukan untuk kepentinganku namun demi dirimu tumpuan cinta dan kehormatanku, mengabdi untuk kebahagiaan dan kesenanganmu, hingga kematian memisahkan jiwa dari ragaku."

Aku mendesah. Semuanya terlalu berlebihan dan terlalu panjang. Aku tidak mungkin bisa menghafalkannya dalam semalam dengan pikiran sekacau sekarang. Lagipula aku akan terlihat konyol dan Cesia pasti akan bisa menebak dengan mudah kalau aku mengutip kata-kata dari buku karena mulutku tidak akan mampu merangkai kata-kata sepuitis itu. Kuletakkan buku yang tengah kubaca sambil mendesah lagi tanda menyerah. Namun aku meraih buku selanjutnya.

Waktu terus bergulir dan malam mencapai puncaknya. Sesekali pandanganku menerawang keluar jendela, dimana rembulan telah bertakhta di puncak langit. Aku berharap bisa mendapat ilham seperti halnya para penyair karena lidahku tidak pernah berucap dengan keindahan kata-kata yang tercetak pada buku-buku itu. Aku juga belum pernah berkata-kata tentang romantisme atau cinta pada seorang gadis. Sehingga ketika melihat bulan itu, yang terucap di mulutku hanya, "Indah sekali".

Namun pada menit berikutnya kata-kata itu malah menguap gara-gara pikiran yang terlintas bahwa bulan sebenarnya tidak indah. Alih-alih terlihat cantik – kalau dilihat dengan teropong – bulan terlihat bopeng, di permukaannya yang seolah mulus bila dilihat dari bumi ternyata nampak ceruk-ceruk dan kawah-kawah. Selain itu bulan sebenarnya tidak bercahaya. Matahari yang memiliki sinar sendiri dan menunjang kelangsungan hidup semua makhluk. Mataharilah yang punya keindahan sekaligus kekuatan. Maka dengan agak kecewa aku memalingkan pandangan dari bulan.

Aku kembali menekuni buku ditanganku. Namun minatku semakin surut. Maka kuletakkan buku itu. Lalu aku berbaring.

"Cesia…."

Aku ingin mengungkapkan perasaanku pada Cesia dengan cara yang benar, tetapi dengan caraku sendiri. Mungkin akan bagus bila aku mengutip kata-kata dalam buku untuk mengatakan maksudku. Namun aku lebih ingin untuk mengutarakan perasaanku sendiri, mengatakan betapa aku membutuhkan Cesia disampingku, mengatakan bahwa tiada cinta yang kuinginkan selain cintanya.

Aku kembali menatap bulan, lalu tersenyum getir.

"Bulan… Tetapi Cesia bukanlah bulan. Dia….."

Dalam kisah-kisah kuno – seperti halnya Selene dan Helios – bulan seringkali dikaitkan dengan karakter feminin, sedangkan matahari sebagai karakter maskulin. Namun bagiku tidak demikian, karena semua makhluk hidup bergantung pada matahari. Matahari lebih mirip sosok feminin, karena dia seperti ibu bagi bumi; ibu yang mencurahkan kehangatan dengan sinarnya.

Cesia bukanlah bulan. Dia adalah sebuah bintang – sebuah bintang besar yang bersinar terang – seperti matahari. Cesia adalah matahariku. Sementara aku hanyalah sebuah satelit yang mengitarinya. Mungkin seperti bulan, dapat dilihat oleh manusia hanya karena memantulkan cahaya matahari. Tanpa matahari, bulan hanyalah sebuah batu mati.

Di kejauhan sayup-sayup terdengar jam yang berdentang, entah berdentang berapa kali karena suaranya dikaburkan oleh gema. Kulihat jam dinding di kamarku menunjukkan pukul tiga. Buku-buku itu masih kubiarkan berserakan di sisi ranjang. Aku hanya berbaring dengan mata terbuka sementara hati dan pikiranku begitu sibuk.

Ternyata beginilah rasanya mencintai seseorang. Aku tidak pernah memikirkan seperti apa perasaanku pada Cesia. Aku tidak pernah mencoba menterjemahkan apa yang kurasakan. Kegetiran dan keinginan untuk mati telah membuatku tidak menyadari cinta yang disodorkan padaku.

"Cesia… Ketika aku memikirkanmu, hidup ini menjadi lebih baik, lebih mulia, dan jauh lebih indah... Cesia adalah hidupku. Hidup ini layak dijalani hanya karenanya."

Pertemuan antara raja-raja Dusis baru saja selesai. Gara-gara semalam tidak bisa tidur aku jadi ngantuk sekarang. Aku nyaris tidak bisa berkonsentrasi pada rapat karena otakku keruh oleh kantuk. Aku kembali ke ruang kerja dengan agak terhuyung.

Tidak ada seorangpun di ruang kerja. Aku menguap dan meregangkan tubuh. Lalu aku duduk di kursiku. Mungkin aku bisa tidur sebentar, pikirku. Kelopak mataku terasa berat. Lalu aku menelungkup diatas lenganku dan memejamkan mata.

Memejamkan mata rasanya nyaman sekali. Apalagi ditambah dengan semilirnya angin yang masuk dari jendela yang terbuka. Aku baru saja terseret dalam kelelapan ketika sesuatu membentur meja sehingga aku tersentak bangun.

Ada sebuah folder berwarna merah diatas meja. Lalu aku mendapati bahwa Bierrez berdiri di seberang meja.

Aku menguap lagi.

"Begadang semalaman, Yang Mulia?" tanyanya datar.

"Yeah…." Aku menegakkan badan seraya menguap lagi. "Semalam aku tidak bisa tidur."

"Tidak bisa tidur memikirkan Cesia?" tanya Bierrez getir.

Sudah lama Bierrez menyukai Cesia. Dulu aku tidak terlalu peduli dengan perasaan Bierrez pada Cesia. Tapi sekarang, tiba-tiba saja aku merasa tidak enak padanya.

"Akan kubiarkan Yang Mulia tidur lagi," ujar Bierrez seraya berbalik.

"Tunggu. Ada yang ingin kubicarakan denganmu." Kucegah dia sebelum keluar dari kantorku. Mungkin sudah saatnya bagiku untuk mengatakannya, agar kelak sesalku karena telah melukai teman akan sedikit berkurang.

Bierrez berhenti. Lalu dia duduk menghadapku. "Ada apa?"

Aku menelan ludah. Belum-belum kata-kataku sudah tersangkut, padahal yang ada didepanku bukan Cesia. Bierrez menunggu dengan ekspresi datar.

"Kurasa aku harus minta maaf padamu."

"Untuk apa?"

"Aku… Err…. Aku tahu kau menyukai Cesia. Jadi….."

"Cesia memiliki mata naga. Dialah calon permaisuri Dusis," tukas Bierrez. "Aku sudah mengerti peraturannya." Bierrez tertawa kecil, aku bisa menangkap kekecewaan di sela-sela suaranya. Ekspresi wajahnya tidak banyak berubah, tapi matanya berkata lain.

"Bagaimana pendapatmu?"

Bierrez mengangkat bahu. "Asal Cesia bahagia."

Aku terdiam. Merasa bersalah sekaligus lega. Aku hendak mengkonfirmasikan lagi ucapannya padaku barusan, tapi lidahku tertahan oleh ego yang khawatir Bierrez akan berubah pikiran.

"Terima kasih," ujarku. Aku tidak tahu kata-kata apa lagi yang bisa kuucapkan padanya.

Dia mengangguk dengan kaku. Meletakkan folder berwarna merah yang dipegangnya di mejaku, lalu berbalik sambil membisu dan tanpa perubahan ekspresi apapun di wajahnya – kecuali hanya kesedihan yang membayang di matanya.