Sebuah fanfiksi manga Dragon Knights
Disclaimer: Dragon Knights adalah milik Mineko Ohkami. Galsuenda adalah original character rekaan author.
Bab V (Cesia)
Komet
Perasaanku betul-betul kacau, terbelah antara rasa cemas dan berharap. Tadi siang, saat aku sedang asyik merangkai bunga dengan Galsuenda, Rath datang menghampiri.
"Cesia, temui aku nanti malam pada pukul tujuh di gazebo dekat kolam angsa," ucapnya tanpa basa-basi.
Setelah itu dia nyelonong pergi, meninggalkanku yang melongo. Aku nyaris mengira berhalusinasi atau salah menangkap maksud perkataan Rath – karena sebagian diriku terus saja menolak untuk berharap pada kaisar muda itu – namun desah senang Galsuenda dan matanya yang berbinar membuatku sadar aku sedang tidak berkhayal.
"Aaaaah, pasti lamaran! Lord Rath pasti akan melamar Anda, Miss Cesia," ucapnya antusias. "Anda memang serasi sekali dengan Lord Rath…."
"Sssst!" desisku, menghentikan Galsuenda sebelum mulutnya meluncurkan serangkaian ocehan yang pasti akan memicu gosip. Dia berbeda sekali dengan Celnozura – Galsuenda lebih ceria dan berisik.
"Kau jangan berpikir yang tidak-tidak," kataku sambil berusaha menutupi kegugupanku.
Namun Galsuenda terus saja senyum-senyum. "Ah, saya tidak mungkin salah menduga. Semua orang di Dragon Castle membicarakan itu. Tidakkah Anda mengetahuinya?"
Disini lah aku sekarang, berjalan ragu menuju gazebo, menuju tempat Rath yang sudah menunggu. Di luar kehendakku, aku percaya dan berharap pada ketepatan dugaan Galsuenda. Namun di sisi lain, aku masih belum lupa akan takdirku..
Rath duduk di lantai, membelakangiku, menunduk dengan kedua tangan memeluk lutut. Tampaknya dia tidak menyadari kedatanganku. Aku sangat tergoda untuk berlari kembali ke kamarku yang aman dan mengunci diriku di sana untuk menghindari jangkauan jari-jari kenyataan. Namun cintaku pada Rath begitu besar, terus mendorong kakiku untuk melangkah padanya.
"Selamat sore," kataku.
Rath menoleh kaget, lalu buru-buru bangkit dan menghampiriku dengan gugup dan wajah yang merona – benar-benar berbeda dengan dia yang biasanya. Dia tampak kebingungan.
"Ada masalah apa?" tanyaku.
"Masalah? Ehmm, bukan masalah sih sebenarnya…. Ehmm, mungkin juga bisa disebut masalah," ujarnya sambil bergerak-gerak tidak tenang, wajahnya benar-benar merona hingga aku khawatir dia demam.
"Kau sakit?" tanyaku curiga, dan mau tidak mau aku jadi merasa cemas.
"Tidak. Tidak. Aku baik-baik saja kok," sergahnya buru-buru.
"Lantas apa yang mau kau bicarakan sampai kau memintaku kemari?" tanyaku penuh selidik, teringat kembali dengan dugaan Galsuenda.
Rath bereaksi seolah cemas dimarahi Rune gara-gara dia ketahuan tertidur saat sedang rapat.
"Aku ingin membicarakan hal yang penting denganmu," jawabnya gugup sambil menghindar dari tatapanku.
"Penting? Apa itu?" tanyaku lagi. Melihat reaksinya yang seperti bocah kecil, aku jadi merasa geli. Namun kutahan senyumku agar dia tidak semakin gugup.
Rath tampak semakin gusar, seolah aku mengancamnya dan menyuruhnya mengakui kesalahan yang berusaha mati-matian disembunyikannya. Namun dugaan Galsuenda terbukti tidak meleset saat Rath memuntahkan kata-kata yang ditahannya di balik kegugupan.
"Maukah kau menikah denganku?" tanyanya nyaris berteriak.
Mataku membelalak, kaget karena tidak menyangka dia akan mengatakannya sekeras itu. Dasar bocah bodoh. Rath tampaknya juga menyadari kebodohannya. Dia mengerang, dan aku sekilas mendengar dia berucap "Bodohnya aku". Meskipun demikian dia tampak lebih lega sekarang.
"Katakan sesuatu, please," katanya setengah memohon.
"Katakan apa?" tanyaku, mendadak pikiranku jadi kosong.
Rath mengerang. "Aduh, kau dengar kan apa yang kukatakan tadi?" katanya dengan raut wajah frustasi. Sesaat kemudian wajahnya kembali merona. "Masa aku harus mengulanginya lagi?"
Aku menatapnya dengan campuran perasaan bahagia sekaligus pedih. Aku dengar dengan jelas apa yang dikatakan Rath. Namun perasaan yang tengah berkecamuk di dalam hatiku begitu kontras hingga terasa menyakitkan. Aku sangat bahagia, belum pernah aku merasa sebahagia ini. Aku sangat bersyukur perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan – mengingat sikapnya yang cuek dan kekanakan sering membuatku berkecil hati karena berpikir Rath tidak akan pernah memahami tentang cinta. Namun takdir yang sudah dibentangkan Nadil dalam hidupku mencegah kebahagiaanku mekar dengan sempurna.
"Apakah kau yakin?" tanyaku.
"Ya," jawab Rath.
"Apa arti diriku bagimu?" tanyaku. Aku hanya ingin memastikan dia sungguh-sungguh atau hanya ingin menjahiliku – meski kupikir ekspresi Rath tadi sangat jujur.
Rath terdiam, tampak berpikir.
Namun aku tidak ingin menunggu lebih lama lagi, karena secercah kecemasan yang tumbuh di hatiku semakin membesar. "Baiklah, Rath. Kalau kau tidak yakin, sebaiknya tidak usah memaksakan diri. Aku tahu orang-orang di tempat ini membuatmu tertekan. Tapi kurasa lebih baik kau dengarkan kata hatimu," kataku.
Aku berbalik dan pergi. Tidak ingin memberi Rath kesempatan. Namun langkahku terhenti saat mendengar perkataannya.
"Aku sudah mendengarkan kata hatiku. Permintaanku tadi tidak main-main, Cesia. Bagiku, kau seperti matahari. Hanya kau yang bisa melepaskanku dari kungkungan kegelapan. Dan aku tidak akan mampu menjalani hidup ini tanpamu."
Aku nyaris berhenti bernapas saat mendengarnya. Merasa amat pedih. Pedih karena aku teramat mencintainya, namun tidak mungkin bagiku untuk memilikinya – bahkan mata naga ini tidak akan bisa memberiku kesempatan bersanding dengan Rath hingga dunia ini runtuh. Dan pedih karena pengakuan Rath memberiku gambaran luka macam apa yang akan kutorehkan di hatinya kelak, seandainya aku menerima permintaannya. Bagaimanapun akhirnya kebahagiaanku dimangsa oleh bayangan takdir masa depanku.
"Darimana kau dapat kata-kata puitis itu? Kau terlalu terpengaruh dengan buku sastra yang kaubaca di perpustakaan?" tanyaku skeptis, tanpa berbalik menghadapnya.
"Bukankah tadi kau tanya apa artimu bagiku?" Rath balik bertanya.
Aku berbalik menghadapnya lagi. Tidak bisa kuungkapkan dengan kata-kata ekspresi yang tergambar di wajahnya yang nyaris selalu dihiasi dengan senyum ramah yang kekanakan.
"Kedengarannya tadi itu bukan dirimu. Rath yang kukenal tidak pernah mengatakan sesuatu yang puitis tentang cinta," kataku berusaha menghindar.
"Meskipun aku tidak pernah mengatakan apapun yang puitis tentang cinta, bukan berarti aku tidak merasakannya. Aku tidak pernah berbohong padamu, Cesia. Padamu, aku tidak pernah berpura-pura menjadi seseorang yang bukan diriku. Itu adalah kebebasan yang hanya bisa kudapat darimu."
Aku terdiam. Kehilangan kata-kata untuk berkilah.
"Ada apa?" tanya Rath, tampak kecewa. "Kau tidak menyukaiku?"
"Apa? Aku….." kata-kataku terhenti begitu saja karena bulir airmata yang jatuh ke pipiku. Tanpa sadar aku menangis.
"Kau tidak senang?" tanyanya lagi. "Apa aku pernah menyakitimu? Hingga kau merasa amat marah dan menangis."
Aku menggeleng.
"Tidak mungkin tidak apa-apa. Kalau kau merasa terluka, kau pasti menangis," kata Rath. Aku bisa mendengar rasa bersalah dalam suaranya.
Airmataku rasanya susah sekali ditahan saat kepedihanku semakin membuncah, berusaha menjebol bendunganku yang mulai retak. Aku bertekad tidak akan menceritakan apapun pada Rath. Akan lebih mudah bila dia tidak mengetahuinya.
"Mungkin kau salah menafsirkan tentang diriku. Aku bukanlah matahari. Mungkin lebih tepat kalau aku ini adalah komet yang hanya kebetulan melintas di langitmu," kataku dengan suara bergetar.
Rath tampak bingung. Namun sebelum ekspresinya berubah, aku buru-buru pergi dari sana dan tidak menoleh sama sekali. Aku tidak ingin tekadku goyah karena memandang Rath atau mendengar suaranya. Aku terus berlari, menuju kamarku, meski segenap hati dan jiwaku sangat ingin kembali kepada Rath dan memeluknya dengan erat.
Aku akan pergi dari Dragon Castle. Aku tidak akan bisa tahan bila berada di tempat yang sama dan harus berpapasan dengan Rath setiap hari. Terlalu menyakitkan bila melihat seseorang yang sangat dicintai dari waktu ke waktu, sementara aku tidak akan bisa bersamanya. Tidak akan cukup bagiku waktu yang tersisa untuk melewatkan hari-hari bahagiaku bersama Rath – bahkan mungkin aku membutuhkan keabadian untuk memuaskan diriku. Aku tahu itu harapan yang sangat serakah. Namun diatas itu semua, yang paling kucemaskan adalah bayangan diriku meninggalkan Rath setelah aku menyambut cintanya. Selama ini dia sudah cukup banyak terluka, dan aku tidak ingin menjadi salah satu orang yang melukainya setelah memberinya harapan begitu banyak.
