Sebuah fanfiksi manga Dragon Knights
Disclaimer: Dragon Knights adalah milik Mineko Ohkami. Ophelia dan Afton adalah original character rekaan author.
Bab VI (Rath Illuser)
Tidak Berarti
Cesia pergi, dan ternyata aku tidak punya arti apapun baginya. Kenyataan pahit itu menghantamku dengan keras. Untuk sesaat, aku mengira dia mencintai Bierrez. Tapi aku buru-buru menyingkirkan dugaan liar yang penuh dengan kecemburuan itu dari kepalaku. Aku tidak punya bukti apapun untuk menuduh demikian. Bahkan Bierrez tampak terkejut saat tahu Cesia pergi dari Dragon Castle dan terus menerus bersikap sinis padaku – mungkin dia mengira aku mengatakan sesuatu yang buruk hingga Cesia pergi.
Hampir dua bulan berlalu sejak aku bertemu Cesia di gazebo dan menyatakan perasaanku – yang ditolaknya. Rutinitasku berjalan seperti biasa, tanpa kesan apapun. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan. Hari demi hari berlalu dengan monoton, sementara aku menjalaninya dengan mati rasa.
Awalnya Rune seringkali menanyaiku soal kejadian di gazebo itu, sedangkan yang lain lebih memilih untuk diam – dan aku sangat bersukur mereka tidak ikut-ikutan menginterogasiku. Setelah dua minggu, tampaknya Rune mulai bosan menanyaiku, karena dia tidak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskannya. Lagipula aku memang tidak punya jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan orang-orang. Cesia tidak mencintaiku, hanya itu yang kuketahui.
Namun lama-kelamaan penilaianku tentang penolakan itu mulai terasa tidak relevan. Kalau benar Cesia tidak mencintaiku, dia tidak akan menyelamatkanku dari kematian tiga kali. Tidak, bukan tiga kali. Cesia menyelamatkanku berkali-kali, saking banyaknya hingga aku tidak bisa menghitungnya – karena dialah alasan diriku untuk terus bertahan hidup. Kalau segala prasangkaku terhadapnya selama ini – sejak penolakannya – adalah salah, lantas mengapa dia pergi?
Aku belum menemukan jawabannya. Kupikir karena selama aku hidup, tidak banyak gadis yang kukenal – selain karena aku tidak pernah berpacaran seperti pemuda pada umumnya. Faktor yang satu itu mungkin telah membuatku seringkali bertindak atau berkata tidak semestinya pada Cesia. Barangkali dia marah padaku karena kesalahan yang tidak kusadari telah kulakukan Aku mengutarakan kegalauanku pada Lady Raseleane, tapi aku juga tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Saat itu masih di tengah minggu yang sibuk, ketika aku memutuskan untuk menemui Lady Raseleane. Karena aku sudah tidak tahan terombang-ambing antara rasa bingung dan putus asa. Rune tidak memprotes sama sekali saat aku meninggalkan Dragon Castle.
Lady Raseleane – yang terkejut akan kedatanganku yang mendadak – menyambutku dengan ramah dan hangat, meski awalnya aku sempat mengingatkannya akan masa lalu.
Saat itu aku teramat kacau hingga tidak memperhatikan sekelilingku. Seorang pelayan memberikan sambutan formal – dengan gugup, karena tidak menyangka aku datang tanpa pemberitahuan – tapi aku terlalu kalut untuk memperhatikannya, tanpa basa-basi aku langsung bertanya dimana Lady Raseleane. Gadis itu menjawab pertanyaanku dengan terbata. Setelah itu aku langsung nyelonong begitu saja untuk mencari Lady Raseleane.
Beliau sedang berada di taman saat aku mendekatinya, bahkan sebelum salah satu pelayan puri itu mengabarkan kunjunganku. Dari belakang aku hanya bisa melihat rambut gelapnya yang bergelombang terurai di punggungnya. Saat aku semakin dekat, Lady Raseleane serta merta berdiri, seolah aku membuatnya terkejut, dan tepat sebelum beliau berbalik, beliau memanggil satu nama yang teramat dirindukannya.
"Lykouleon?" panggilnya.
Langkahku langsung terhenti saat aku mendengar nama itu. Rasanya seperti ada bilah pisau sedingin es yang menusukku dan membuatku membeku di tempat.
"Oh…." Senyuman yang telah mekar di bibir Lady Raseleane menjadi layu. Sejenak beliau tampak terkejut. Kemudian wajahnya memerah karena malu. Namun hanya sebentar, karena kemudian beliau tampaknya sudah mengatasi kecanggungannya – keahlian yang harus dikuasai seorang ratu.
Aku masih mematung di tengah jalan. Merasa dingin di tengah hangatnya sinar mentari.
"Oh, Rath, maafkan aku," kata Lady Raseleane sambil menghampiriku. "Maafkan aku. Aku tidak tahu."
"Tidak apa-apa," kataku sambil berusaha menekan kembali kegetiran masa lalu yang kembali muncul. "Aku yang salah karena tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan. Aku minta maaf. Mungkin aku akan datang di lain waktu saja."
Aku membungkuk dengan formal dan mundur. Namun Lady Raseleane cepat-cepat menghampiri dan mencegahku pergi.
"Tidak, tidak. Kau sudah datang jauh-jauh." Lady Raseleane meraih tanganku dan membimbingku ke bangku taman yang teduh dalam bayangan pohon-pohon maple.
Aku menurut saja dan duduk di samping Lady Raseleane.
Memandangku, Lady Raseleane tersenyum lembut dan mengusap wajahku. "Hapuslah ekspresi sedih itu. Bukan itu yang ingin kulihat saat putraku datang berkunjung kemari."
"Aku membuat Lady Raseleane teringat masa lalu dan sedih," kataku murung.
Lady Raseleane menggeleng. "Tidak. Aku tidak sedih. Masa lalu itu begitu manis untuk dikenang. Aku bohong bila mengatakan tidak merindukan masa-masa saat keluarga kita masih utuh, meski saat itu kegelapan menggayut berat di langit. Namun apa yang sudah terjadi adalah takdir. Akan selalu ada korban untuk mencapai kejayaan."
"Tapi aku yang..." Kata-kataku terhenti begitu saja karena Lady Raseleane menempelkan telunjuknya yang lentik di bibirku.
"Aku tidak menyesal, Rath. Setidaknya aku tidak kehilangan segalanya. Aku masih memilikimu. Kau yang adalah bagian dari dirinya." Lady Raseleane meremas tanganku. "Bahkan langkah kakimu juga terdengar mirip dengannya." Senyum Lady Raseleane yang hangat menunjukkan rasa sayang.
Tangan Lady Raseleane yang menggenggam tanganku terasa hangat dan nyaman. Ada perasaan yang begitu akrab dan menenangkan. Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, apakah aku selalu merasa senyaman ini saat bersama Lady Raseleane? Sepertinya aku memang melewatkan banyak hal. Hal-hal sederhana yang penting. Diantara ingatan masa kecilku yang tidak terlalu jelas, aku masih mengingat perasaan hangat saat aku berada bersama Lady Raseleane. Aku ingat dekapannya yang nyaman saat ketika tubuhku jauh lebih kecil dan pendek. Kalau ada orang selain Kaistern dan Cesia yang membuatku merasa nyaman di Dragon Castle, orang itu adalah Lady Raseleane.
"Sekarang berikan aku senyum manismu seperti dulu saat kau masih kecil. Aku tidak mau hari yang cerah ini jadi terasa suram gara-gara kau cemberut," kata Lady Raseleane riang.
Aku memberinya seulas senyum. Namun senyum yang kuberikan tampaknya membuat Lady Raseleane menyadari sesuatu.
"Nah, apa lagi kali ini, Rath? Kalau cara senyummu seperti itu, aku bisa langsung tahu kau sedang sedih. Apa yang membuatmu sedih?" Lady Raseleane bertanya dengan lembut.
"Cesia. Dia pergi," kataku pelan, nyaris setengah mengerang.
"Oh," kata Lady Raseleane, tampak terkejut. "Mengapa?"
"Aku tidak tahu. Aku menyatakan perasaanku padanya, dan ditolak. Lalu tahu-tahu dia sudah pergi. Aku tidak tahu apa yang salah – tak tahu kesalahan apa yang mungkin kulakukan tanpa sadar. Mungkin dia membenciku. Dulu dia pernah bilang aku ini cuma anak manja yang suka semaunya sendiri," semburku nyaris tanpa berpikir. Aku mengeluarkan begitu saja uneg-unegku yang selama beberapa minggu bertumpuk di dasar hatiku.
Lady Raseleane menyimak tanpa menginterupsi sedikit pun, hanya tatapan matanya yang menyiratkan simpatinya.
Kukeluarkan sebentuk kotak kecil yang berisi cincin berlian dari saku jaketku dan meletakkannya di tangan Lady Raseleane – cincin yang dulu diberikan oleh Lord Lykouleon pada satu-satunya wanita yang dicintainya. Namun Lady Raseleane menahan tanganku dan menggeleng.
"Jangan kaukembalikan padaku, Rath."
"Lalu untuk apa aku menyimpannya? Cesia pergi..."
"Namun bukan berarti dia tidak mencintaimu. Seorang wanita seringkali merasa ragu. Ini adalah keputusan besar di persimpangan masa hidupnya."
Aku menatap Lady Raseleane dengan kebingungan, nyaris putus asa karena tidak mengerti.
"Cesia mencintaimu, Rath. Dia hanya merasa bingung. Menikah adalah keputusan besar bagi seorang wanita. Tolong kau pahami itu. Bagaimana pun kalian ditakdirkan untuk bersama, kan." Lady Raseleane mengedip padaku.
"Karena dia punya mata naga?"
Lady Raseleane tertawa. "Karena dia mencintaimu. Dan kau juga mencintainya."
Aku terpana melihat Lady Raseleane yang tampaknya begitu yakin. "Bagaimana Anda bisa seyakin itu?"
"Oh, ini intuisi wanita. Intuisi seorang ibu," kata Lady Raseleane lembut.
Kata-kata dan senyum Lady Raseleane membuatku merasa hangat. Suatu perasaan yang dulu tidak kusadari. Dan aku bersyukur dalam hati karena memiliki keluarga yang peduli.
"Apa yang harus kulakukan?" tanyaku lirih, lebih tepat kalau disebut bertanya pada diri sendiri.
"Jangan menyerah," jawab Lady Raseleane. "Pasti ada jalan."
Demikian akhirnya aku kembali ke Dragon Castle dengan teka-teki yang masih menyesaki otakku. Wanita benar-benar makhluk yang susah dimengerti.
Aku masih merenungi kata-kata Lady Raseleane dan bertanya-tanya apa intuisinya tepat. Aku mengingat kembali wajah Cesia di malam itu dan keraguan kembali menyergapku. Aku tidak bisa menebak perasaan mana yang benar-benar dirasakan Cesia – perasaan yang telah mendorongnya untuk meninggalkanku.
Dengan setengah melamun, aku mengikuti rapat dengan para pemimpin dari seluruh Dusis. Sulit sekali untuk memusatkan pikiranku pada pekerjaan kali ini. Rune berkali-kali melirik kearahku dengan pandangan cemas dan sesekali mendesis dengan pelan saat pikiranku sedang berkelana.
"Baiklah Tuan-tuan, rapat kali ini kita akhiri..."
Kata-kataku terpotong begitu saja saat pintu ganda di seberang ruangan menjeblak terbuka dengan keras.
Lady Ophelia berdiri di ambang pintu, terkesiap dan menutup mulutnya. Ekspresi terkejutnya berubah menjadi malu. Di belakangnya tampak dua orang pelayan yang terengah-engah, tampaknya tidak berhasil mengejar sang putri.
"Oh, kukira rapatnya sudah selesai," cicit Lady Ophelia.
Lord Afton, ayahanda Lady Ophelia, serta merta bangkit dari kursinya, wajahnya berubah merah padam.
"Dimana sopan santunmu, Ophelia? Perilakumu ini membuatku malu!" tegur Lord Afton pada putrinya.
Lady Ophelia menunduk.
Lord Afton beralih padaku. "Maaf, Yang Mulia Kaisar. Putri saya tampaknya belum bisa menguasai diri dan berlaku sepantasnya."
"Tidak apa-apa Lord Afton. Lagipula rapat ini memang sudah selesai," kataku tenang.
Lord Afton mengangguk dengan kaku dan kembali duduk. Sedangkan muka Lady Ophelia menjadi pucat, takut, karena ayahnya memelototinya dan mata seluruh hadirin terpaku padanya.
"Nah, apa keperluanmu Lady Ophelia?" tanyaku ramah. Tidak lupa juga untuk memberikan senyum pada gadis itu agar dia tidak terlalu tertekan.
"Saya... Saya ingin bicara dengan Lord Rune, tadinya... Tapi karena Yang Mulia Kaisar ada disini saya ingin menyampaikannya langsung pada Anda...," kata Lady Ophelia terbata. Kata-katanya tidak sempat di selesaikannya karena wajah merah padam ayahnya berubah ungu saking marahnya.
Lady Ophelia beralih menatapku, memberikan isyarat minta tolong.
Aku mendesah. Rune tampak tegang di sampingku.
"Tolong kau tutup rapat ini," bisikku pada Rune.
"Tapi Yang Mulia...," protes Rune.
"Tolong aku, Rune. Gadis itu pasti punya masalah serius sampai nekad kemari," bisikku lagi sambil memberikan folder berisi beberapa dokumen pada Rune.
Rune mengangguk. "Baik," katanya patuh.
Aku bangit dari kursiku, diiringi tatapan seluruh hadirin. Dimana-mana tampak sorot mata bingung dan ingin tahu.
"Maafkan aku, Tuan-tuan. Tampaknya aku harus segera pergi," kataku sesopan mungkin sebelum aku meninggalkan ruangan itu, meninggalkan Rune yang harus menghadapi mereka semua.
Lady Ophelia mundur dan menggeser tubuhnya ke samping – sambil membungkuk sedemikian rupa secara formal – agar aku bisa lewat.
"Ikut aku," desisku pada gadis itu.
Saat melalui pintu, kudapati kedua gadis pelayan yang mengejar lady Ophelia masih berdiri di samping pintu.
"Lanjutkan pekerjaan kalian yang tertunda," kataku.
Lalu aku berjalan dengan cepat menyusuri koridor. Suara langkah yang berderap cepat di belakangku kedengarannya berusaha menyusulku. Saat berada di koridor yang agak jauh dari ruangan tadi, kuhentikan langkahku dan berbalik menghadap ke belakang. Lady Ophelia berhenti beberapa langkah dariku dan buru-buru membungkuk secara formal untuk memberi hormat.
"Kita lewati saja ritual formal itu," tukasku.
Lady Ophelia terkesiap. Namun reaksi yang kuharapkan darinya benar-benar meleset, gadis itu tidak juga menegakkan badannya.
"Saya benar-benar mohon maaf telah mengganggu. Saya mengira rapat sudah selesai. Maafkan kecerobohan dan kebodohan saya."
"Aku tidak marah padamu. Pertemuan itu tadi memang sudah selesai," kataku santai. "Yah, seandainya saja kau mau mendengarkan sejenak apa kata pelayan yang mengejarmu dan menunggu beberapa menit saja di luar sebelum nekad menerobos pintu itu, tentu ayahmu tidak akan marah."
"Saya berlaku tidak sopan..."
"Kau kan tidak sengaja. Sudahlah, tegakkan badanmu. Punggungmu bisa pegal kalau membungkuk seperti itu terus," kataku.
Lady Ophelia menegakkan tubuhnya dengan hati-hati, masih tampak takut.
"Nah, itu lebih baik," kataku puas. "Sekarang katakan padaku apa yang membuatmu menerobos ruang rapat?"
Mendadak rasa takut di wajah gadis itu menghilang. Dia menegakkan tubuhnya, tampak tegas dan yakin.
"Aku melihat Miss Cesia di Fiori, di salah satu rumah makan di pinggir kota. Aku sangat yakin yang kulihat itu benar-benar Miss Cesia," kata Lady Ophelia.
Mataku langsung membelalak. Secercah harapan merekah di hatiku yang selama beberapa minggu ini terasa kebas.
"Kalau Anda menghendaki, saya akan mengantar Yang Mulia kesana dan menunjukkan tempatnya," lanjut Lady Ophelia dengan mantap.
