Sebuah fanfiksi manga Dragon Knights
Disclaimer: Dragon Knights adalah milik Mineko Ohkami. Isabella Baker dan Rosanna Baker adalah original character rekaan author.
Bab VII (Cesia)
Ruang Hampa
Satu lagi garis hitam yang kugoreskan di halaman terakhir buku Palmistry. Lalu aku menghitung coretan-coretan itu.
"Nyaris dua bulan," gumamku diiringi desahan.
Kututup lagi buku itu dan meletakkannya di dalam laci, bersama tumpukan kartu tarrot milikku. Aku toh tidak punya pilihan lain, pikirku muram.
Kutepuk kedua pipiku untuk mengembalikan konsentrasiku.
"Sudahlah, aku sudah disini sekarang, dan aku punya pekerjaan. Tidak perlu memikirkannya lagi," kataku pada diri sendiri.
Kata-kata punya sihir sendiri, namun sayangnya kata-kata yang kuucapkan tadi sama sekali tidak berpengaruh apapun. Sulit sekali bagiku untuk tidak memikirkan Rath. Tidak peduli apa saja yang kulakukan untuk menyibukkan diri dan mengalihkan pikiranku darinya, pemuda itu selalu saja muncul dalam pikiranku.
Merasa frustasi, kujatuhkan kepalaku di meja, menelungkup diantara lengan.
"Kenapa kau tidak mau hilang dari pikiranku," erangku.
"Siapa?" tanya sebuah suara.
Aku buru-buru menegakkan badan dan menoleh sambil merapikan rambut. Isabella, putri pemilik rumah makan tempatku bekerja, berdiri di ambang pintu apartemen yang kusewa.
"Aku tidak mendengarmu mengetuk atau membuka pintuku," kataku.
"Aku memang tidak mengetuk," sahutnya ringan.
"Kebiasaanmu mengendap-endap di belakang orang itu buruk sekali," tegurku.
"Tadinya aku mau mengejutkanmu. Ngomong-ngomong, siapa yang tidak mau hilang dari pikiranmu?" tanya gadis remaja itu tanpa peduli pada teguranku.
"Bukan siapa-siapa," tukasku.
Isabella menyeringai jahil. "Pasti pacarmu," katanya sok tahu.
"Dia bukan pacarku," kataku agak keras, mendadak kehilangan kesabaran. Namun Isabella justru nyengir semakin lebar. "Sudahlah. Apa yang kau lakukan di disini? Bukankah kau seharusnya membantu ibumu."
"Tadi ibu menyuruhku ke pasar," kata Isabella sambil menunjukkan kantong belanjaan yang penuh di bawah kakinya. "Aku mampir kemari untuk mengajakmu berangkat bersama."
"Baiklah. Tunggu sebentar," kataku sambil merapikan seragamku yang berwarna merah muda.
"Pagi-pagi begini kau sudah tampak suram, Cesia," celetuk Isabella.
Aku berusaha tidak mengacuhkan Isabella dan merapikan apron pada seragamku.
"Apa gara-gara pacarmu?"
"Sudah kubilang dia bukan pacarku," sahutku.
"Dimana dia sekarang?"
"Sibuk dengan pekerjaannya, di Draqueen," jawabku sambil menyisir rambut.
"Bukankah kau juga berasal dari sana?"
"Tidak. Aku pernah tinggal disana cukup lama."
"Lantas kenapa kau meninggalkan Draqueen?"
Karena kami tidak mungkin bersama, jawaban itu bergema di kepalaku. Namun aku bersyukur kalimat itu tidak meluncur keluar dari bibirku, karena akan lebih menyakitkan untuk menyuarakannya daripada menyimpannya dalam benak dan hatiku.
"Kenapa?" Isabella mengulang pertanyaannya sambil memainkan salah satu ujung kepangnya yang berwarna pirang.
"Itu urusanku, kenapa bocah sekecil kau harus tahu," tukasku santai sambil mengikat bandana di tengkuk.
"Aku akan berumur tiga belas tahun dua bulan lagi," sahut Isabella sambil merengut.
"Oh ya? Itu masih lama. Terlalu cepat bagimu untuk menyombongkan usiamu, Nona Kecil," kataku.
Pipi tembam Isabella bersemu merah selagi bibirnya mengerucut tidak senang. Aku tertawa melihat reaksi Isabella, merasa puas dengan kemenanganku.
"Ayo kita berangkat, jangan biarkan ibumu bekerja sendiri."
Kuangkat kantong belanjaan Isabella dan berjalan ke pintu. Isabella berjalan keluar dengan wajah murung dan menungguku mengunci pintu apartemenku yang mungil.
"Nah, sekarang siapa yang tampak suram?" sindirku.
"Kadang-kadang kau menyebalkan ya," Isabella menoleh padaku sambil menyeringai.
"Tidak lebih menyebalkan daripada kau," sahutku, balas menyeringai.
Isabella mendesah. "Ah, kau benar. Aku tahu aku juga menyebalkan."
"Wah, rupanya kau benar-benar bercermin dengan seksama ya."
Isabella terkekeh.
Hari itu berlangsung sama seperti hari-hari sebelumnya. Ada keceriaan dalam hari-hari kerjaku. Ada kenyamanan karena pemilik rumah makan sangat baik padaku, dan perasaan senang karena aku menyukai pekerjaanku. Namun segala kenikmatan ini jadi terasa tidak sempurna karena aku tidak pernah bisa melupakan Rath. Ada ruang hampa jauh di hatiku yang membuatku merasa sangat sedih saat aku mengingatnya.
Aku tidak bisa lari dari Rath, pikirku dengan getir.
"Seperti kemarin lusa, hari ini sepi pengunjung," keluhan Isabella menyeruak diantara lamunanku.
"Iya," jawabku lirih, masih belum sepenuhnya terbebas dari lamunan.
"Oh ya, bagimana kalau kau juga meramal disini? Bakatmu itu bisa menarik pengunjung lho!" kata Isabella antusias.
"Ha? Kalau aku meramal, lantas siapa yang akan membantu ibumu? Aku mencari pekerjaan disini sebagai pramusaji..."
"Cesia?" Mrs. Baker, ibu Isabella masuk ke dapur.
"Ada apa, Mrs Baker?" tanyaku sambil mengelap tanganku yang basah dengan apron setelah mencuci piring.
"Ada yang mencarimu," jawab Mrs. Baker. Wanita itu tersenyum dengan antusias, sangat mirip senyum putrinya.
"Siapa?" tanyaku bingung. Tidak banyak yang mengenalku di kota kecil ini.
"Seorang pemuda. Dia bilang dari Draqueen," Mrs. Baker tersenyum semakin lebar.
Mendengar Draqueen disebut membuatku tercekat. Orang-orang yang kukenal di kota itu adalah...
"Dia tidak mengatakan nama?" tanyaku was-was.
"Ya. Dia bilang namanya Lavan," jawab Mrs. Baker.
"Siapa?" alisku terangkat sebelah. Rasanya aku tidak kenal seseorang dengan nama itu, terlebih lagi di Draqueen.
"Lavan," ulang Mrs. Baker. "Itu yang dikatakan pemuda itu, aku yakin tidak salah dengar. Dia memang terlihat agak ragu. Apa kau mengenalnya?"
"Hmm... Kurasa tidak...," jawabku pelan setengah bergumam. Namun sebelum aku yakin dan memantapkan jawabanku, tiba-tiba saja aku teringat sesuatu.
Ya, aku ingat sesuatu tentang nama itu, atau lebih tepatnya kalau disebut dengan kata itu. Aku pernah membacanya di perpustakaan Draqueen di salah satu waktu senggangku yang tidak ada habisnya setelah pertarungan itu berakhir. Aku memang tidak pernah mengenal seseorang bernama Lavan. Itu adalah sebuah kata kuno yang berarti rembulan.
Bagiku, kau seperti matahari. Hanya kau yang bisa melepaskanku dari kungkungan kegelapan.
"Tidak mungkin...," kataku tidak percaya.
"Ada apa, Cesia?" tanya Isabella.
Tidak mungkin Rath ada disini. Tidak mungkin dia bisa menemukanku. Kalau benar demikian, lantas siapa orang yang datang dari Draqueen untuk mencariku? Aku sangat mengenal Rath. Kalau benar dia tahu aku ada disini, tidak mungkin dia menyuruh orang lain untuk mendatangiku, dia akan pergi sendiri kalau dia mau. Tidak akan ada orang atau apapun di dunia ini yang bisa menghentikannya saat dia bertekad untuk melakukan sesuatu.
"Ya Tuhan," kataku, terkesiap.
"Lekaslah temui dia, Cesia. Dia datang jauh-jauh kemari untuk menemuimu," Mrs. Baker berkata dengan nada yang sama seperti saat menyuruhku dan Isabella bekerja lebih cepat.
"Tapi...," aku berusaha memprotes, tapi sisi lain diriku yang merindukan seseorang dari Draqueen, menahan lidahku, meskipun yang datang itu belum tentu orang yang kurindukan.
"Jangan biarkan tamumu menunggu, Nak," kata Mrs. Baker sambil meraih tanganku dan menarikku keluar dari dapur.
"Tunggu, Bu, Cesia sepertinya tidak ingin menemuinya," seru Isabella, berjalan cepat di lorong untuk menyusulku dan ibunya. Tapi Mrs. Baker tampaknya tidak mendengarnya.
Mrs. Baker mendorong punggungku dengan lembut. "Nah, pastikan kau mengenal pemuda itu atau tidak, Nak. Kalau ternyata dia cuma mau iseng denganmu, aku akan membuatnya pergi dari sini," kata Mrs. Baker sambil tersenyum menenangkan. "Aku tahu kau punya banyak penggemar di kota ini."
Aku menyibakkan tirai yang terbuat dari rangkaian manik-manik dari biji-bijian, menuruti majikanku dengan setengah hati. Saat aku menegakkan tubuhku lagi dan mengangkat muka, firasatku tadi menjadi kenyataan.
"Akhirnya aku menemukanmu."
Mataku melebar dan jantungku seolah berhenti karena terkejut. Meskipun firasat itu sudah datang lebih awal, tapi melihatnya benar-benar menjadi kenyataan selalu membuatku terkejut. Kegembiraanku meledak begitu saja – meskipun akal sehatku tidak menginginkanku merasa demikian. Namun perasaan itu begitu kuat hingga membuat air mataku menetes.
Pemuda itu berdiri disana. Senyum lega mengembang di wajahnya yang begitu kurindukan. Matanya yang sendu – entah sejak kapan dia punya mata sendu yang mengingatkanku pada kaisar sebelumnya – menatapku dengan kerinduan yang terpancar jelas.
