Sebuah fanfiksi manga Dragon Knights
Disclaimer: Dragon Knights adalah milik Mineko Ohkami. Ophelia, Isabella Baker dan Rosanna Baker adalah original character rekaan author. Old Flute adalah setting rekaan author.
Bab VIII (Rath Illuser)
Utuh
"Aku melihat Miss Cesia di Fiori, di salah satu rumah makan di kota. Aku sangat yakin yang kulihat itu benar-benar Miss Cesia," itu yang dikatakan Ophelia.
Pernyataannya sama mengejutkannya seperti petir yang tiba-tiba menyambar di siang bolong saat langit sedang cerah. Mengejutkan. Saat aku sudah mulai kehilangan harapan dan merasa masa bodoh dengan hari-hariku yang demikian hambar, kabar itu akhirnya datang padaku. Memberikan secercah harapan pada penantianku yang terkungkung perasaan putus asa.
Ophelia ingin mengantarku sendiri ke Fiori. Tapi aku menolaknya. Tentu saja aku tidak bisa begitu saja mengajak seorang lady dalam pencarianku, itu akan sangat tidak sopan – setidaknya itulah yang akan dipikirkan orang-orang terhadapku seandainya aku benar-benar mengijinkan Ophelia ikut denganku.
Setelah mendengar kabar dari Ophelia siang itu, aku segera menuju kantor Ruwalk, tidak sabar untuk meluapkan kegembiraanku dan menyampaikannya. Di tengah perjalanan, aku berpapasan dengan Thatz.
"Yo. Kelihatannya kau sedang senang, Rath? Apa ada kejadian yang seru di rapat barusan?" tanya Thatz.
"Begitulah. Memang ada yang seru," sahutku riang tanpa bisa menahan cengiran yang mengembang di wajahku.
"Hmmm... Kau tidak berbuat yang aneh-aneh kan?" tanya Thatz curiga. "Aku tadi bertemu Rune. Dia kelihatan lelah sekali dan hanya menggumam tak jelas saat kutanya ada apa."
"Ah, iya, benar. Aku harus minta maaf padanya untuk yang tadi," kataku santai.
Aku merasa menyesal telah menyusahkan Rune. Tapi rasa sesalku benar-benar didesak oleh perasanku yang sedang cerah.
"Jadi benar?" tanya Thatz. Mendadak wajahnya berubah cerah. "Kau tahu, Rath, tindakanmu tadi mungkin akan sedikit berpengaruh pada citramu sebagai seorang kaisar, dan itu adalah mimpi buruk bagi Rune. Tapi aku akan jujur padamu, melihatmu memasang senyuman palsu demi formalitas untuk menutupi kemurungan benar-benar membuat perutku mulas. Rasanya sudah lama sekali sejak aku melihat cengiranmu yang asli. Yang seperti ini."
Aku melongo bodoh pada Thatz, tidak memahami separuh apa yang dikatakannya – mungkin itu hanya efek dari kegembiraanku yang meluap-luap.
"Terimakasih," kataku sambil nyengir lebar. "Tapi bukan aku kok biang kerok di rapat tadi."
"Apa?" Thatz membelalak.
"Yah, walau aku juga berpartisipasi sih," imbuhku.
Sekarang gantian Thatz yang memasang wajah bodoh.
"Lady Ophelia menerobos ruang rapat," kataku. "Ayahnya menahan murka sampai rasanya aku melihat wajahnya berubah jadi ungu. Aku khawatir pada konsekuensi yang diterimanya atas tindakannya tadi."
"Lady Ophelia?!" Thatz nyaris menjerit, matanya membelalak tidak percaya.
"Yeah," sahutku dengan prihatin. "Dan kuharap kau tidak berteriak, bagaimana kalau didengar orang."
Kuharap Lady Ophelia baik-baik saja. Walaupun dia menerobos ruang rapat tanpa sengaja – karena dia mengira rapat telah usai – untuk mengatakan sesuatu pada Rune agar disampaikan padaku. Kabar yang disampaikannya sangat kutunggu-tunggu – kabar yang kuharapkan datang dari siapapun yang mengetahui keberadaan Cesia.
"Astaga. Ternyata putri raja seperti dia juga bisa melakukan tindakan yang ekstrim seperti itu," komentar Thatz.
"Jangan menilai buku dari sampulnya, Thatz," timpalku.
Thatz nyengir. "Sekarang kau bisa mengatakan hal seperti itu, eh?" godanya.
"Jangan buat aku mengulangi pernyataanku tadi," sahutku sambil nyengir.
"Baiklah, aku tak ingin di hukum gara-gara mengatai kaisar," kata Thatz. "Lalu, kenapa Lady Ophelia jadi nekad begitu?"
"Dia ingin menyampaikan kalau dia melihat Cesia," jawabku. "Aku ingin pergi ke Fiori. Aku akan menyusul Cesia dan memintanya kembali."
"Apa kaubilang?" Thatz terbelalak lagi.
"Lady Ophelia tahu dimana Cesia berada dan aku akan ke Fiori untuk menyusulnya," ulangku.
"Wow. Itu baru berita besar. Lalu kau tadi buru-buru mau kemana? Jangan bilang kau mau kabur begitu saja."
"Aku hendak menemui Ruwalk. Aku senang sekali, kupikir aku bisa berbagi kabar ini dengannya dan meminta tolong sesuatu..."
"Kau mau berkonspirasi dengannya untuk memudahkanmu kabur dari sini?" kata Thatz mendahului.
"Well, aku tidak menyebut itu konspirasi untuk kabur," kataku pelan. "Tapi tidak apa-apa sih kalau kau menyebutnya demikian."
"Aku sudah hafal dengan kebiasaanmu," timpal Thatz.
Aku nyengir. "Aku tidak mungkin meminta tolong pada Rune," bisikku.
"Tentu saja. Rune pasti dengan senang hati membantumu mencari Cesia, tapi dengan satu syarat, kau akan pergi denganku atau Theseus – atau mungkin dengan Bierrez, Gil, dan Saabel ditambah beberapa pengawal," kata Thatz.
"Aku mau mencari Cesia, bukan mau pawai," tukasku.
"Lantas?"
"Aku akan bicara pada Ruwalk, minta tolong mengambil alih pekerjaanku untuk sementara."
"Kau serius mau pergi sendirian?"
Aku mengangguk. "Thatz, nanti malam tolong bantu aku keluar dari sini."
Demikianlah, akhirnya aku mondar-mandir di Fiori sendirian. Untuk sejenak merasa bingung karena tidak tahu arah, namun bersyukur tidak ada seorang pun yang mengenaliku. Aku kabur. Thatz membantuku mencari jalan untuk menghindari pengawal istana dan keluar dari Dragon Castle. Ini adalah pelarianku yang pertama sejak aku menggantikan Lord Lykouleon.
Aku bertanya kesana-kemari, mencari informasi dimana Cesia berada. Kota ini lumayan besar, dan gadis itu bisa berada dimana saja. Aku nyaris putus asa dalam melacak keberadaannya, namun pada hari ketiga secara kebetulan kudengar seorang tukang kayu menyebut nama Cesia dan memujinya saat aku lewat di depan bengkelnya. Dari pria paruh baya itu lah aku tahu dimana Cesia bekerja.
Matahari sudah mulai bergeser dari puncak tahtanya saat kutemukan rumah makan kecil di pinggir kota. Rumah makan itu punya papan nama bertuliskan 'Old Flute' – Seruling Tua – yang sudah pudar. Bangunannya tampak tua, tapi masih terawat baik dan berdiri tepat di pinggir jalan di daerah pertanian yang agak jauh dari pusat kota. Bisa kurasakan keberadaan Cesia di tempat itu. Perasaan itu memberiku kelegaan, aku tidak berada di tempat yang salah. Saat aku masuk, kulihat tidak banyak pengunjung di dalamnya siang itu karena jam makan siang sudah lewat. Kusapa seorang wanita di belakang bar.
"Mau pesan sesuatu?" tanya wanita itu keras, namun tidak ada seorang pun di ruangan itu yang tampaknya merasa suaranya terlalu keras.
"Kopi," kataku asal.
Namun aku langsung menyesal saat pesan itu meluncur dari bibirku, apalagi saat dengan cekatan wanita itu menuang kopi hitam ke cangkir dan meletakkannya di depanku. Aku tidak suka kopi.
Kuminum sedikit kopiku. Rasanya pahit.
"Sepertinya kau tidak berasal dari sini, anak muda," ujar wanita itu.
"Ya, Nyonya. Saya datang dari Draqueen tiga hari lalu," jawabku.
"Namaku Rosanna Baker. Apa yang membawamu ke Fiori?"
"Saya sedang mencari seseorang, Mrs. Baker."
"Apa kau sudah menemukannya?"
Aku menggeleng.
"Aku kenal seseorang yang juga berasal dari tempat asalmu," kata Mrs. Baker sambil mengelap gelas.
"Ya. Kudengar juga begitu. Kudengar Cesia bekerja disini," sahutku.
Mrs. Baker nyaris menjatuhkan gelasnya. "Kau kenal Cesia?"
"Ya. Bisakah saya bertemu dengannya? Apa dia masuk kerja hari ini?"
"Jangan buru-buru dulu, anak muda. Pegawaiku yang satu itu memang cukup terkenal di sekitar sini. Tentu karena dia cantik, kau pasti sudah tahu itu. Aku juga tidak tahu apa kau benar berasal dari Draqueen atau tidak."
"Saya tidak membohongi Anda, Nyonya," kataku.
Mrs. Baker terdiam dan menatapku dengan pandangan penuh selidik seolah aku berusaha menipu atau mencuri sesuatu darinya. Aku berusaha tidak mengalihkan pandanganku darinya.
"Aku hanya tidak ingin siapapun mengganggu pegawaiku. Gadis itu anak yang baik," kata Mrs. Baker dengan nada protektif seorang ibu. "Siapa namamu, Nak?" tanyanya.
"Namaku..."
Kupikir bukan ide bagus kalau aku mengatakan namaku yang sebenarnya. Aku tidak ingin siapapun tahu – kecuali Cesia – siapa diriku. Mungkin juga Cesia tidak akan mau bertemu denganku kalau aku mengatakan namaku yang sebenarnya pada pemilik rumah makan ini.
"Namaku Lavan," kataku.
Tatapan tajam Mrs. Baker mengebor mataku, mencari dusta.
"Tunggulah. Akan kutanyakan padanya apa dia mengenalmu," kata Mrs. Baker setelah memelototiku selama beberapa saat.
Aku mengangguk. Lalu Mrs. Baker pergi dan menghilang di ujung ruangan.
Aku menoleh, melihat ke sekelilingku. Hanya ada tiga pengunjung. Seorang kakek dan pria paruh baya sedang duduk sambil mengobrol di ujung ruangan, dua gelas bir yang besar berada di meja mereka dan sesekali mereka tertawa sambil menghisap pipa. Seorang pria paruh baya lain baru saja menyelesaikan makan siangnya – yang rupanya sangat terlambat dari jamnya – beranjak dari mejanya dan menaruh uang pembayarannya di bar.
Saat aku mengamatinya, pria itu menoleh padaku dan tersenyum. "Aku sudah sering kemari, sampai hafal harga menu-menunya," ujarnya. Wajah pria itu berkerut saat tersenyum, membentuk seraut wajah yang ramah. "Semoga sukses dengan usahamu, Nak," katanya sambil menepuk pundakku.
Aku mengangguk. "Terimakasih, Pak."
Pria itu pergi, diiringi dentingan lonceng saat dia membuka pintu.
Beberapa menit berlalu. Mrs. Baker belum juga muncul. Rasa cemas mulai menggerogotiku. Mungkinkah aku gagal menemukan Cesia? Atau dia menolak bertemu denganku?
Dua pengunjung yang tersisa di ruangan itu beranjak pergi, meninggalkan pembayarannya di meja tempat mereka makan tadi.
Rasa putus asa sudah menggaruk hati. Namun aku tetap menunggu, berusaha menumbuhkan harapan di hati yang mati rasa selama beberapa minggu ini.
Bunyi manik-manik serangkaian tirai yang saling beradu satu sama lain di ujung ruangan membuatku menoleh. Sosok yang sangat familiar muncul. Rambut panjang bergelombang serupa ombak gelap berayun tertiup angin. Aku beranjak dari bangku kayu, secara otomatis melangkah mendekat seperti logam yang tertarik pada magnet.
"Akhirnya aku menemukanmu," kataku.
Kelegaan luar bisa membanjiri hatiku. Rasanya begitu ringan, seolah segala beban terangkat dari pundakku. Perasaan seperti menemukan kembali bagian yang hilang.
Cesia membelalak. Namun kemudian bibirnya melengkung membentuk senyuman selagi air matanya menetes. Senyuman yang singkat. Sekejap kemudian wajahnya berubah, menunjukkan raut kekecewaan.
"Apa yang sedang kaulakukan disini?" tanya Cesia.
"Mencoba meminta maaf apapun kesalahanku padamu dan mengajakmu pulang," jawabku.
"Ini tempat tinggalku sekarang," tukas Cesia.
Kata-kata Cesia terdengar tajam, meskipun dia tidak mengucapkan penolakannya secara lugas. Nyaliku nyaris menciut. Namun senyuman singkatnya tadi telah memberiku secercah harapan untuk mengulangi permintaanku saat di gazebo itu, sembari berharap bisa memperbaiki kesalahanku – apapun kesalahanku – yang telah membuat Cesia meninggalkanku.
Aku menghampirinya beberapa langkah. Cesia membeku menatapku.
"Dulu kau telah berjanji tidak akan membiarkanku mati," kataku. "Aku tidak bisa menjalani ini tanpamu."
Mrs. Baker dan seorang gadis kecil di belakang Cesia terkesiap.
"Oh," ucap Mrs. Baker, terkesima.
Sedangkan gadis kecil di belakang Cesia melongo dengan mata berbinar.
"Aku tidak peduli pada apa yang orang-orang Dragon Castle harapkan. Bahkan kurasa aku tidak akan peduli kau punya mata naga atau tidak. Aku ingin mengambil keputusan atas keinginanku sendiri, sekali dalam hidupku. Tapi kalaupun aku harus mengikuti tradisi untuk mengambil keputusan itu, aku tidak keberatan selama kau yang mendampingiku."
` Aku berlutut di depan Cesia, sesuai dengan saran Thatz sebelum aku pergi. Kuraih kedua tangan Cesia. Meskipun bayangan kegagalan atas penolakan Cesia membayangiku. Masih ada kemungkinan dia akan menolakku lagi. Namun aku akan mengambil resiko itu. Aku tidak akan pernah tahu hasilnya kalau tidak mencoba.
"Maukah kau menemaniku untuk waktu yang tidak terbatas, Cesia?"
"Ya, ampun," ucap Mrs. Baker dan si gadis kecil bersamaan.
Air mata Cesia bercucuran lagi. Sekejap saja aku sudah diserang kecemasan, barangkali tanpa sadar aku melakukan kesalahan, lagi. Namun satu gerakan kecil dari Cesia telah menyapu bersih semua kecemasan. Cesia mengangguk.
"Ya," jawabnya. Ada binar kelegaan di matanya yang basah oleh air mata. Bibirnya yang berwarna merah muda menyunggingkan senyum yang tidak akan pernah kulupakan. "Ya," ulangnya.
"Terimakasih," ucapku penuh syukur.
Tidak bisa kuungkapkan dengan kata-kata betapa bahagianya aku, bercampur dengan rasa gugup. Menanti Cesia di depan altar.
Musik mulai mengalun. Lim Kaana muncul dan maju dengan kikuk – mengenakan gaun merah muda yang membuatnya tampak lebih dewasa – sambil membawa dua cincin yang diletakkan pada sebuah bantal kecil beludru warna merah marun. Dia berhenti dan berdiri di sebelah kiri bergabung bersama Tetheus yang mendampingiku. Dari tempatku berdiri, bisa kulihat wajah gadis itu tegang karena gugup, sangat kontras dengan Tetheus yang berekspresi datar seperti biasanya.
Kemudian saat Cesia muncul di pintu ganda, memasuki katedral, dengan perlahan maju dibimbing oleh Ruwalk. Tangan kiri Cesia melingkar erat pada lengan Ruwalk seolah dia takut terjatuh, sedangkan tangan kanannya memegang buket bunga mawar putih. Tintlet, Kitchel, dan Delte mengekor di belakang dengan gaun yang juga berwarna merah muda. Wajah Cesia tertutup cadar putih. Melihatnya berjalan semakin mendekat, membuatku nyaris tidak bisa menahan cengiran senang.
Semua yang kami kenal dan begitu banyak undangan – para bangsawan Dusis – berkumpul di tempat ini, berada di bawah langit-langit melengkung yang menjulang tinggi. Mereka memandang Cesia berjalan perlahan dengan khidmat.
Saat berada di depan altar, Cesia melepaskan tangannya dari lengan Ruwalk dan menyambut uluran tanganku. Cesia menyerahkan buket bunganya pada Tintlet, sementara Ruwalk bergabung di sebelah Lady Raseleane. Lalu Tetheus bergabung dengan mereka, meninggalkanku berhadap-hadapan dengan Cesia. Sekilas kulihat senyum samar di balik cadar Cesia. Aku balik tersenyum padanya.
Musik berhenti. Seorang uskup tua berwajah ramah – yang juga menyerahkan mahkota dan tongkat kekuasaan di hari penobatanku – berdiri di samping kami.
"Hari ini, kita berkumpul di hadapan Tuhan dan para tamu untuk menyucikan hubungan pria dan wanita ini menjadi suami istri," ucap sang Uskup dengan lantang dan berwibawa. "Bagi yang keberatan dengan pernikahan ini, harap katakan sekarang atau selamanya diam."
Sunyi. Aku merasa was-was. Khawatir kalau ada suara keberatan dari hadirin. Yang pertama kali terlintas di pikiranku adalah Bierrez. Namun jawaban yang terdengar dari para hadirin hanyalah kesunyian. Aku menarik napas lega dalam rasa syukur.
"Jika tidak ada, mari kita hening sejenak untuk keabadian hubungan mereka," lanjut sang Uskup.
Setelah beberapa saat hening, Uskup mengucapkapkan kata-kata dalam bahasa kuno. Kemudian setelah beliau selesai, Lim Kaana mendekat. Sang uskup memberiku isyarat dengan anggukan kecil di tengah kegugupanku, saatnya mengucapkan ikrar.
"Aku, Rath Illuser, bersumpah menerima Cesia sebagai istriku. Menyayangi dan menghargainya di saat apapun juga, serta mendampinginya sepanjang hidupku."
"Aku, Cesia, bersumpah menerima Rath Illuser sebagai suamiku. Menyayangi dan menghargainya di saat apapun juga, serta mendampinginya sepanjang hidupku."
Masing-masing dari kami mengambil cincin yang dibawa Lim Kaana dan saling memasangkannya.
"Dengan ini pernikahan kalian berdua telah resmi," sang Uskup mengumumkan. Kemudian beliau tersenyum kepada kami berdua dan berkata, "Sekarang Anda boleh mencium mempelai wanita."
Kubuka cadar Cesia, sehingga aku bisa melihat wajahnya dengan jelas dan bibirnya yang menyunggingkan senyum menawan. Kedua tanganku berada di pinggang Cesia yang ramping dan kucium Cesia. Ya Tuhan, bibir Cesia sangat lembut seperti es krim. Aku belum pernah mencium Cesia sedemikian rupa, kecuali sebatas kecupan singkat yang kupelajari dari buku dongeng. Lembut dan membuat ketagihan. Kutemukan sensasi rasa red wine di bibirnya yang pasti sempat diminumnya untuk mengurangi ketegangan sebelum kemari.
"Aku mencintaimu," ucap Cesia pelan.
"Aku juga mencintaimu," kataku.
Kemudian kami menghadap ke hadirin yang masih memandang dengan khidmat. Kemudian wajah mereka berubah cerah. Mrs. Baker dan Isabella yang turut hadir bertepuk tangan dengan wajah sumringah. Deretan keluarga – orang-orang yang tinggal di Dragon Castle – memberikan senyuman bahagia mereka, bahkan Gill dan Tetheus tersenyum dengan kalem – kecuali Bierrez yang tetap dengan wajahnya yang merengut.
Segalanya terlihat cerah pada hari itu. Senyuman di setiap wajah. Langit biru yang cerah dengan awan-awan putih yang mengambang. Batu-batu kelabu di permukaan jalan-jalan di Draqueen yang kami lewati dengan kereta penuh dengan taburan kelopak bunga. Disampingku, Cesia menoleh padaku dan tersenyum. Dia akan selalu ada bersamaku, kenyataan itu membuatku merasa mampu menghadapi masa-masa yang akan datang dan membendung bayangan kegetiran masa lalu.
"Kau akan selalu bersamaku kan?"
Cesia memandangku dengan kaget. Kemudian wajahnya berubah lembut, tangannya menggenggam tanganku. "Tentu. Kalau tidak, untuk apa kita repot-repot mengundang semua orang."
