Sebuah fanfiksi manga Dragon Knights

Disclaimer: Dragon Knights adalah milik Mineko Ohkami. Galsuenda dan Anastasia adalah original character rekaan author. Sungai Dylan dan Tremain adalah setting rekaan author.

Bab X (Rath Illuser)

Jiwa-jiwa yang hancur

Waktu berlalu begitu cepat saat kita merasa bahagia dan menikmati hidup. Sudah beberapa bulan sejak aku mengucapkan ikrarku pada Cesia. Tidak banyak yang berubah sejak saat itu. Selain pengesahan secara hukum, tidak ada banyak perubahan dalam hubunganku dengan Cesia. Kami masih sama seperti dulu. Dia masih sama cerewet dan aku masih tetap canggung dengan status hubungan kami. Seringkali aku tidak tahu apa yang mesti kulakukan bila bersama Cesia. Hal itu tampaknya membuat suasana hati Cesia seringkali buruk.

Aku terbangun dari tidurku karena panggilan dari Cesia. Lalu kurasakan ada yang mengecup bibirku.

"Selamat pagi," ucapnya dengan ceria saat aku membuka mata dengan enggan, masih mengantuk.

"Pagi," sahutku parau. "Ngapain kau...?" Seingatku semalam Cesia tidak ada di kamarku.

"Kau mau mengingatkanku tentang protokol soal aku hanya bisa datang kalau kau memanggilku?" Cesia duduk bersimpuh di ranjang sambil menatapku.

Aku masih dalam proses mengumpulkan kesadaranku, jadi untuk sekilas aku tidak mengerti apa yang dikatakannya. Cesia turun dari ranjang. Berjalan ke arah seberang ruangan dan menyingkap tirai. Matahari baru saja mulai naik diatas pegunungan.

"Uh... Bukan begitu... Aku juga tak peduli pada protokol atau semacamnya," kataku asal.

"Aku hanya ingin melayanimu, sebagaimana kewajiban istri," kata Cesia. "Lihatlah. Aku sudah menyiapkan baju yang akan kau pakai hari ini. Juga sarapan pagi. Aku menyiapkannya khusus untukmu."

Aku bangkit dari ranjang, meregangkan badan dan menguap. "Kau tidak perlu repot-repot. Kau kan biasanya sudah cukup sibuk dengan kegiatanmu menyiapkan makan siang semua orang..."

"Rath, aku menginginkan ini," tukas Cesia sambil menatapku dengan tajam.

"Menginginkan apa?" tanyaku.

"Seperti ini. Kurasa semua istri di luar dinding istana ini pasti mengurus segala keperluan suaminya saat dirumah," kata Cesia.

"Kau tampak lebih pucat dari biasanya," kataku sambil mengusap pipi Cesia. "Apa tidak apa-apa?"

Belakangan ini ada sesuatu yang mengusik pikiranku. Cesia tampaknya seringkali terlihat tidak bahagia. Dia seringkali tampak muram. Tapi dia bilang tidak apa-apa saat aku bertanya. Aku tahu dia sama sekali tidak merasa demikian.

Selama beberapa minggu ini Cesia terlihat begitu lelah dan pucat. Aku sangat mencemaskanya. Ruwalk memanggil Avis Lara untuk memeriksanya, tapi dia tidak menemukan satu hal pun yang aneh. Cesia mungkin hanya merasa lelah dan stress. Namun aku tidak bisa percaya begitu saja. Meskipun Avis Lara jelas adalah orang yang berpengalaman di bidangnya – terlepas dari segala macam prasangka dan ketidakpercayaan pada pria itu, karena dia memiliki aura yang sama dengan seseorang di masa laluku – dengan semua penjelasan yang didasarkan pada pengetahuannya, aku tetap tidak bisa menyingkirkan aneka pertanyaan yang berkecamuk di pikiranku. Aku bertanya-tanya apa yang salah dengan Cesia, dan semua ini benar-benar menyita konsentrasiku.

"Tidak apa-apa," jawab Cesia dengan mantap.

Aku tidak mempercayainya. Kupandangi wajah Cesia yang pucat dengan cemas.

"Percayalah padaku," kata Cesia. "Hari ini biarkan aku melakukan kewajibanku sebagai istrimu."

"Baiklah. Lakukan apapun yang kau inginkan," kataku dengan berat hati. Akan kuberikan apapun yang diinginkan Cesia.

"Apakah itu keputusan dari sang kaisar atau suamiku?" tanya Cesia dengan tatapan menggoda.

Aku menimbang-nimbang jawabanku, mana yang paling tepat. "Keputusan dari suamimu."

Cesia tersenyum puas. Aku lega melihat senyumnya. Meskipun wajah Cesia yang pucat kembali menumbuhkan kecemasanku seperti halnya hari-hari yang lalu.

"Cuaca hari ini cerah. Cepatlah mandi. Aku sudah menyiapkan airnya. Galsuenda dan Anastasia tadi sudah membantuku. Setelah itu kita bisa sarapan," kata Cesia.

"Iya," jawabku muram.

"Ayo jangan bengong. Matahari semakin tinggi sementara kau membuang waktumu dengan melamun," tegur Cesia. Dia turun dari ranjang dan dengan cekatan menarikku dan mendorongku ke arah kamar mandi.

"Mereka sudah keluar. Kau bisa melakukannya sendiri seperti biasa. Cepatlah, selagi airnya masih hangat," oceh Cesia.

Aku melakukan segala yang diminta Cesia. Kubiarkan dia membantuku berpakaian dan memasang antingku. Setelah itu, kami sarapan berdua. Cesia tampak ceria. Tidak ada kemuraman sedikit pun dalam tindakannya, bahkan sinar matanya juga menyorotkan hal yang sama. Namun aku belum berani berasumsi bahwa kondisi Cesia sudah membaik, karena wajahnya sama pucat sebagaimana patung-patung yang banyak berdiri di taman. Aku hanya bisa berharap ini adalah pertanda baik.

"Sudah saatnya aku memulai pekerjaan hari ini," kataku seraya beranjak dari kursi.

Cesia menatapku saat aku hendak pergi. Dia buru-buru meletakkan serbetnya, seperti baru saja mengingat sesuatu yang penting, lalu bangkit dari kursi.

"Oh, kau juga buru-buru?" tanyaku. "Baiklah, sampai ketemu lagi nanti siang."

Kukecup bibir Cesia dengan singkat, kebiasaan yang kupelajari dari Lord Lykouleon. Lady Raseleane bilang ini adalah salah satu menunjukkan rasa cinta.

"Aku pergi dulu," aku berpamitan.

Aku baru saja melangkah saat tiba-tiba ada yang menubrukku dari belakang.

"Jangan pergi…" bisik Cesia.

Kedua lengan Cesia melingkar di pinggangku, memelukku dengan erat. Dia menyandarkan kepalanya di punggungku.

"Kau ingin aku membolos hari ini?"

Kurasakan Cesia menggeleng pelan. "Sebentar saja. Berikan aku tambahan waktu bersamamu pagi ini. Kumohon."

Ini tidak biasa, pikirku. Biasanya Cesia akan menegurku agar aku tidak mengulur waktu untuk menghindar dari tugasku.

"Kau melakukan banyak sekali tindakan yang berbeda hari ini. Ada apa?" tanyaku curiga.

"Tidak apa-apa," jawab Cesia, masih menempel erat di punggungku. "Aku hanya kepingin saja. Aku ingin kita jalan-jalan di taman. Maukah kau mengabulkan permintaanku?"

"Aku akan melakukan apapun untukmu… Apapun yang kau mau."

Lalu kami berdua berjalan-jalan di taman. Cesia tampak bahagia. Cuaca hari ini cerah. Cesia sangat menikmati sinar matahari yang hangat pagi itu. Dia tampak sangat santai. Lengannya melingkar di lenganku selagi kami berjalan menyusuri taman mawar.

Setelah Cesia puas, kami beristirahat di salah satu bangku di bawah keteduhan pepohonan.

"Apa kau mencemaskan pekerjaanmu?" tanya Cesia.

Tidak, akumencemaskanmu, belakangan ini kaulah yang selalu kucemaskan. Kalimat itu hanya ada dalam benakku, tidak mampu kusuarakan karena tidak ingin merusak keceriaan Cesia.

"Tidak. Aku lebih suka bersamamu disini," jawabku.

Lalu kurebahkan diriku di bangku itu, meletakkan kepalaku di pangkuan Cesia. Rasanya nyaman sekali berada di pangkuannya. Aku menatap kedua matanya yang berwarna keemasan dan melihat bayanganku terpantul pada keduanya. Cesia tengah mengelus rambutku dengan jari-jarinya yang bergerak lembut, membalas tatapanku.

"Rath, apa kau bahagia hidup denganku?" tanya Cesia tiba-tiba.

"Mengapa kau bertanya….?"

"Aku hanya ingin memastikan. Karena Rath seringkali tidak mengatakan apa yang dipikirkan."

"Harus berapa kali kukatakan kalau aku tidak akan berbohong padamu."

"Aku tidak mengatakan kau berbohong," sergah Cesia pelan. "Hanya saja kau seringkali terlalu menutup hatimu. Mungkin kau melakukannya tanpa sadar. Aku hanya ingin memastikan kau bahagia."

"Aku bahagia bersamamu," jawabku pelan.

Cesia tersenyum. "Aku senang mendengarnya. Aku seringkali berpikir kalau aku ini adalah suatu kutukan bagimu," kata Cesia pelan, seolah dia bicara pada dirinya sendiri.

"Mengapa kau bilang begitu?" tanyaku dengan nada sedikit keras. Serta merta aku bangkit dari pangkuan Cesia.

Ucapannya mengingatkanku pada perkataan Nadil dan Kharl bahwa Cesia adalah Putri Bangsa Youkai. Aku tidak pernah benar-benar mempercayai ucapan mereka. Aku percaya Cesia masih memiliki keluarga di suatu tempat. Aku telah meminta Thatz untuk membantuku mencari informasi keberadaan keluarga Cesia. Kuharap bila suatu saat kami berhasil menemukannya, itu akan membuat Cesia bahagia.

Cesia menatapku, agak terkejut dengan reaksiku. Namun kemudian wajahnya melembut. "Itu masa lalu. Maafkan aku menyinggungnya. Tapi aku tidak ingin membicarakannya lebih lanjut dan merusak cerahnya pagi ini."

Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi aku tidak tahu harus berkata apa pada Cesia. Tangan Cesia terulur, meraih pipiku. Kugenggam tangannya dan menikmati sentuhan Cesia.

"Aku ingin kau berbahagia disini, sebagaimana aku bahagia hidup denganmu," kataku dengan sepenuh hati.

"Jangan khawatir, aku bahagia bisa mendampingimu," kata Cesia. "Kemarilah. Berbaringlah lagi di pangkuanku. Sudah cukup lama aku tidak memanjakanmu, karena kau terlalu sibuk."

Aku baru meninggalkan Cesia setelah makan siang. Saat aku muncul di kantor, Rune menyambutku dengan wajah cemberut. Setelah kuukatakan alasanku, tanpa diduga raut wajahnya melembut. Lalu dia mengingatkanku pada pertemuan dengan raja-raja Dusis yang akan dimulai. Aku bersyukur dia tidak menceramahiku seperti biasanya.

Pertemuan itu berlangsung dengan cukup lancar, meskipun aku masih belum bisa mengalihkan pikiranku dari Cesia. Aku benar-benar harus berusaha keras untuk berkonsentrasi pada apa yang kulakukan saat itu. Saat pertemuan itu berakhir, aku kembali ke kantorku dengan Rune mengekor di belakang. Kuharap tugas-tugasku hari ini cepat selesai agar aku bisa bersama Cesia lagi.

"Rath? Kau tidak apa-apa?" tanya Rune.

Aku mendongak dari berkas yang sedang kubaca, menatap Rune dengan bingung seolah dia berkata dengan bahasa asing.

Rune mulai melempar pandang curiga yang sudah sangat familiar.

"Ah, iya," kataku. "Ehm, maksudku, aku tidak apa-apa."

"Sungguh? Sejak di rapat tadi tampaknya kau sama sekali tidak bisa berkonsentrasi."

Bukan aku yang harus dikhawatirkan, batinku.

Rune meletakkan satu folder di meja. "Ini proposal untuk pembangunan jembatan melintasi Sungai Dylan di Tremain."

Kembali pada rutinitas. Kalimat itu terus kuulangi dalam benakku, hanya demi mengembalikan fokusku pada pekerjaan apapun yang harus kutangani hari ini. Walau separuh pekerjaanku hari ini agak kacau.

Rune duduk di kursi di hadapanku.

"Kau ingin membicarakannya denganku?" tanya Rune.

Aku tengah membolak-balik proposal yang baru saja dibawakan Rune saat aku mendengarnya bertanya. Tanganku terhenti. Lembar-lembar proposal itu terkulai lemas. Mendadak aku merasa tidak bisa menanggung kecemasan ini sendiri. Bagaimanapun perasaan ini sudah nyaris sebulan bercokol di hatiku dan menekan akal sehatku.

"Aku mencemaskan Cesia," kataku sambil menatap lebar-lebar proposal di depanku. Rasanya huruf-huruf pada kertas-kertas itu tidak bisa kubaca. Otakku serasa tumpul saking kalutnya.

Rune terdiam. Ekspresinya berubah lembut. Sorot matanya dipenuhi dengan rasa simpati.

Setelah beberapa saat, akhirnya Rune bersuara.

"Aku sudah dengar dari Avis Lara," katanya lirih. "Tapi dia bilang kau tidak terlalu mempercayainya."

"Itu benar," jawabku.

"Mengapa?" tanya Rune.

"Karena hawanya terasa sama dengan seorang alkemis dari Arinas," jawabku setengah menggumam.

Aku memang selalu merasa demikian. Entah mengapa aku merasa dokter itu seperti Kharl. Meskipun sekilas mereka berdua memiliki sifat yang berbeda.

"Itu tidak mungkin, Rath," timpal Rune. "Untuk apa seorang alkemis dari Arinas jauh-jauh kemari hanya untuk bekerja sebagai dokter?"

"Dia alkemis gila yang hobi memanipulasi jiwa," sahutku cepat.

"Apa?" Rune terbelalak. "Kurasa itu tidak mungkin, Rath. Lagipula aku tidak bisa membayangkan Avis Lara seperti itu. Dia sudah lumayan lama melayani keluarga kerajaan. Alfeegi yang dulu memilihnya. Kurasa sejak beberapa bulan sebelum kita berangkat ke Kainaldia. Ruwalk bilang dia sangat handal dan bisa dipercaya."

"Kau kan tidak tahu seperti apa rupa alkemis yang kubilang itu," gumamku.

Lalu aku kembali menekuni proposal.

"Iya sih. Aku kan belum pernah melihatnya. Apa dia sangat mirip dengan Avis Lara?"

"Tidak juga sih."

"Hah? Lantas? Bukannya tadi kau bilang….."

"Aku bilang hawanya terasa sama," tukasku.

Mendadak minatku untuk membaca proposal itu lenyap – walau sebenarnya hal itu tidak pernah bisa disebut minat. Aku mendongak memandang Rune, mengalihkan pandanganku dari proposal.

"Aku takut terjadi apa-apa padanya," kataku.

Rune tahu benar apa yang kumaksudkan.

"Avis Lara bilang tidak ada apapun yang salah dengan Cesia," sambung Rune. "Tapi kurasa ada sesuatu hal yang lain. Sesuatu yang mungkin tidak bisa dideteksi oleh ilmu pengetahuan."

Itu juga yang kupikirkan selama ini. Pandanganku melayang keluar jendela, ke langit diatas rimbunan pepohonan, dimana mendung telah mewarnai langit dengan warna kelabu yang muram. Padahal tadi pagi cuaca sangat cerah, seolah menjanjikan satu hari yang tidak akan ternoda oleh mendung.

"Cesia sangat rentan pada kutukan," gumamku.

Belakangan ini aku kembali teringat dengan Lord Lykouleon. Ingatan akan apa yang terjadi padanya membuatku ngeri. Bagaimana bila hal yang serupa terjadi pada Cesia? Apa yang harus kulakukan?

"Apa ada yang terjadi saat kau bersama Cesia di istana Nadil?" tanya Rune.

Aku kembali mengingat-ingat saat-saat aku terbangun kembali di istana Nadil, karena Cesia memanggilku. Saat itu dia berdua dengan Lim Kaana. Lalu kami bertiga menelusuri istana Nadil bersama. Seluruh istana berguncang seperti hendak berubah menjadi sesosok monster dan mencerna semua makhluk hidup yang terjebak di dalamnya. Kami berlari. Kugenggam tangan Cesia. Namun di tengah jalan kami terpisah. Lim Kaana juga menghilang. Aku tertinggal sendirian.

Saat aku menemukan Cesia lagi, Nadil ada bersamanya. Cesia tergeletak tak sadarkan diri di kaki Nadil.

Mungkin terjadi sesuatu sebelum aku menemukan Cesia. Suara Kharl yang kudengar dalam pikiranku berkata bahwa Cesia adalah Putri Bangsa Monster, pion penting milik Nadil. Aku menolak mempercayainya, bahkan saat Nadil juga mengatakan hal yang sama.

Secuil potongan ingatan itu membuatku tersadar. Kurasa aku telah menemukan potongan puzzle yang tepat. Namun gambar yang berhasil kususun dalam puzzle tersebut terlihat mengerikan hingga kupikir aku masih salah dalam menyusunnya.

"Rath?" Rune bertanya dengan nada cemas. "Ada apa?"

"Saat berada di istana Nadil, kami sempat terpisah. Cesia dan Lim Kaana tiba-tiba menghilang karena Nadil menarik mereka dengan sihir," kataku. Aku benar-benar merasa takut sekarang. "Kharl... Penyihir dari Arinas itu bilang kalau Cesia adalah pion Nadil..."

Kata-kataku belum terselesaikan saat pintu kantorku tiba-tiba terbuka. Seorang pelayan terengah-engah di ambang pintu.

"Maafkan saya tidak mengetuk dulu," engahnya, menjawab lebih dahulu ekspresi tidak senang di wajah Rune sebelum pria itu sempat menyemburkan tegurannya. Wajah gadis itu memerah karena habis berlari.

"Ada apa, Anastasia?" tanya Rune dengan nada menegur.

Gadis itu menatapku. Dia tampak kalut. "Yang Mulia... Lady Cesia," ucapnya.

Aku tersentak bangun dari kursiku. Tidak perlu penjelasan mendetail, aku tahu harus segera pergi.

Tanpa sepatah kata pun aku buru-buru meninggalkan ruangan. Kulewati begitu saja Anastasia. Aku berlari secepatnya menuju kamar Cesia, mengumpat dalam hati karena jarak antara kantorku dan kamar Cesia. Kupaksa kakiku berlari lebih cepat.

"Rath!" panggil Rune dari belakangku. Namun aku tidak mengacuhkannya dan terus berlari.

Saat aku tiba, yang menyambutku di depan pintu adalah Delte yang menangis sesenggukan dan tampaknya sudah tak sanggup berkata apapun. Dia mundur untuk memberikan jalan untukku yang langsung menghambur masuk. Cesia berbaring di ranjangnya, tampak lebih pucat daripada biasanya.

"Cesia!"

Avis Lara yang tengah berada di samping Cesia menoleh padaku dan berdiri.

"Apa yang terjadi padanya?" tanyaku kalut pada Avis Lara.

Avis Lara baru saja membuka mulut hendak bicara. Namun aku sudah tidak bisa menunggu lagi. Aku harus berada di dekat Cesia. Tanpa menunggu jawaban Avis Lara, aku sudah menghambur mendekati ranjang Cesia.

"Cesia," panggilku.

Cesia membuka matanya. Dia tampak begitu lemah. Namun dia tersenyum saat melihatku.

"Rath... Akhirnya kau datang," ucap Cesia lemah.

Cesia mengangkat tangannya yang kurus. Kuraih tangannya dan menggenggamnya dengan erat.

"Apa yang terjadi?"

"Maafkan aku. Aku tidak bisa mendampingimu lebih lama..." Air mata Cesia meluncur turun di pipinya yang pucat.

"Tolong jangan berkata seperti itu," kataku.

"Nadil sudah memberikan kutukan ini padaku. Maafkan aku karena tidak sanggup menjauh darimu... Sekarang aku telah membuatmu menangis."

Aku nyaris tidak menyadari air mata yang juga keluar dari kedua mataku. Ketakutan ini benar-benar menguasaiku. Dugaanku ternyata benar.

Aku takut kehilangan lagi. Cesia adalah satu-satunya wanita yang kucintai. Aku tidak bisa berpisah darinya.

"Kau berjanji akan berada disampingku. Kau sudah janji. Apa yang harus kulakukan?"

"Teruslah hidup, Rath..."

"Tidak! Kau adalah hidupku, Cesia."

"Kau harus terus hidup… Jagalah janji masa lalu kita…"

"Aku tidak mau! Kumohon jangan tinggalkan aku," rengekku. Aku menoleh ke belakang mencari Avis Lara untuk meminta bantuan. "Tolong lakukan sesuatu! Kumohon."

Namun Avis Lara hanya menatapku dengan tatapan tidak berdaya. Aku berusaha mencari bantuan lain di sisi lain ruangan, tapi yang kutemukan hanya Galsuenda yang menangis sesenggukan. Semua orang yang ada di ruangan ini tampak tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku beralih pada Cesia lagi yang pucat dan tampak seolah mengantuk.

Kurengkuh Cesia. "Kumohon. Bertahanlah."

"Aku…mencintaimu…." Suara Cesia begitu lirih, nyaris seperti bisikan yang amat pelan.

Setelah satu hembusan napas, aku tidak lagi bisa merasakan kehidupan dalam tubuh lunglai Cesia. Matanya terpejam seperti sedang tertidur. Namun yang kurasakan darinya hanyalah kehampaan. Aku tidak lagi bisa merasakan pancaran kekuatan yang biasanya selalu kurasakan darinya.

"Cesia?"

Avis Lara beringsut mendekat untuk memeriksa pergelangan tangan Cesia. Aku memandang Avis Lara, berharap kali ini dia punya ide bagaimana menolong Cesia. Lalu aku memandang Cesia, berharap bisa merasakan satu tarikan napas lagi darinya dan melihatnya membuka matanya yang cemerlang lagi. Namun yang kudengar hanyalah satu kabar buruk yang sama sekali tidak kuinginkan.

"Yang Mulia…. Ini sudah takdir Permaisuri," kata Avis Lara dengan lirih.

Di sisi lain ranjang, Galsuenda terisak sambil menunduk.

"Bohong," kataku.

Avis Lara hanya menjawabku dengan tatapan simpati. Aku tidak ingin melihat tatapan itu sekarang. Aku ingin dia, atau siapapun, maju dan datang kesampingku untuk menolong Cesia.

"Bohong! Cesia hanya sedang tidur. Tolong katakan padaku kau bisa membuatnya kembali seperti sedia kala."

"Yang Mulia…" Akhirnya Rune bersuara.

Aku menoleh pada Rune, mengharap bantuan. "Rune, tolong katakan pada mereka semua kalau Cesia hanya sedang tidur. Iya kan, Rune?" kataku kalut.

Rune membuka mulutnya, tapi kemudian dia membatalkan apapun yang hendak dikatakannya. Dia justru memberiku tatapan yang sama seperti Avis Lara.

Kupandangi Cesia dengan putus asa. Aku sama sekali tidak ingin melepasnya dari pelukanku.

"Rath…." Thatz menghampiriku. "Cesia sudah pergi," katanya pelan.

Pernyataan Thatz terasa seperti sebilah pisau yang menusukku dengan telak.

Aku menggeleng. Kupandangi semua orang yang berada di ruangan itu. Wajah-wajah sedih. Di ujung ruangan Bierrez membuang muka dan berbalik keluar dari ruangan. Rasanya aku tidak bisa berpikir. Segalanya terasa begitu sulit untuk dipahami.

"Cesia sudah pergi, Rath." Suara Thatz terdengar lagi.

Aku beralih menatapnya dengan bingung. Thatz balas memandangku dengan tatapan yang menyiratkan permintaan agar aku mempercayai kata-katanya.

Di tengah keputusasaan, aku menyerah pada penyangkalanku. Aku hancur di depan kenyataan yang terpampang dengan jelas. Tangan yang selama ini menggandeng erat tanganku tiba-tiba menghilang. Aku berusaha menggapainya lagi, tapi yang kutangkap hanya udara kosong di tengah gelap pekat. Cahaya itu telah hilang. Kini yang terasa hanya rasa sakit. Rasa sakit yang tak terperikan, seolah separuh jiwaku tercabik begitu saja.

Aku beralih memandang Cesia dalam pelukanku.

"Cesia…"

Kukecup bibir dan kening Cesia.

Satu amarah – yang kukira sudah menghilang di telan waktu – kembali membuncah dalam diriku. Nadil telah merampas segalanya dariku. Kini dia merampas satu-satunya wanita yang kucintai. Aku bahkan tidak menyadarinya. Aku tidak bisa melakukan apapun untuk mencegahnya

Airmataku kembali mengalir. Luka di jiwaku begitu perih. Bercampur dengan amarah dan keputusasaan. Kupeluk Cesia lebih erat, seolah dengan begitu aku akan bisa mengembalikan jiwanya. Namun segalanya sudah terlambat. Tidak ada yang bisa dilakukan. Aku telah kehilangan Cesia.