Sebuah fanfiksi manga Dragon Knights

Disclaimer: Dragon Knights adalah milik Mineko Ohkami. Galsuenda, Anastasia, dan Ophelia adalah original character rekaan author. Rhydian Abbey dan Tir Nefenhir adalah setting rekaan author.

Bab XII (Rath Illuser)

Tak Tergantikan

Aku tidak bisa tidur. Bahkan, kupikir aku tidak akan bisa benar-benar tidur setelah ini. Setiap kali tertidur, aku selalu melihat saat-saat terakhir Cesia. Ketidakmampuanku menyelamatannya selalu membayangiku. Walau tubuhku serasa nyaris remuk karena dua malam tidak tidur, ditambah dengan malam ini, tapi aku tidak ingin melihat mimpi itu lagi. Mimpi yang begitu terasa nyata. Berulang-ulang sementara aku tertidur.

Bahkan saat bangun pun ingatan itu seringkali datang. Jutaan kenangan yang kumiliki bersama Cesia juga terus berkelebatan dalam pikiranku. Semua itu terasa bagai hukuman tanpa ampun, sebagaimana puluhan bilah pedang yang dingin menembus ragaku – namun ini terasa jauh lebih pedih.

Airmataku selalu keluar saat aku teringat Cesia. Airmata itu keluar begitu saja tanpa bisa kukendalikan. Sepanjang hidupku, aku tidak pernah menangis sesering saat ini. Aku tidak kuasa menahan pedihnya kehilangan Cesia. Semua pikiran tentang dirinya tidak lagi ada di sampingku dan aku tidak akan bisa meraihnya lagi terasa begitu menyakitkan. Aku merasa kehilangan arah dan ditinggalkann begitu saja di tengah kegelapan yang pekat.

Waktu terasa begitu lambat, hingga terasa seperti diseret-seret. Satu jam yang berlalu terasa seperti seabad. Satu harapan kosong muncul di benakku, andai Cesia akan terbangun lagi. Sementara satu pikiran liar lain tiba-tiba menyeruak, bagaimana kalau aku menukar hidupku untuk mengembalikan Cesia? Gagasan kedua itu terasa lebih masuk akal. Lantas bagaimana caranya?

Aku punya kewajiban yang harus kujalankan di Dusis. Aku tidak bisa pergi begitu saja dan mengabaikan semua tanggungjawab. Tetapi aku tidak tahu bagaimana harus menjalani hidup ini tanpa Cesia, karena selama ini dia lah yang memberiku kekuatan untuk tetap menjalani hidup.

Benakku dipenuhi oleh Cesia. Dalam keputusasaanku, kupikir hanya dengan menyimpan semua kenangan Cesia dalam pikiran akan membuatku merasa puas, membiarkannya menguasaiku dan terus-menerus memperlihatkan kenangan seperti sebuah buku yang tidak akan berhenti membuka halaman-halamannya. Meskipun pedihnya kenangan itu tidak akan terelakkan – karena kini semua itu hanya menjadi sebuah bayangan yang tidak akan terulang kembali secara nyata.

Apapun akan kulakukan untuk bersama dengan Cesia selama mungkin. Meskipun tubuhnya tidak akan lagi bergerak dan merengkuhku seperti sebelumnya. Aku akan tetap berada di ruangan ini, ruang berdoa dimana Cesia berbaring diam. Tetap sangat mempesona dan begitu cantik, seolah maut masih belum menyentuhnya. Namun berapa kalipun aku memanggil namanya, dia tidak juga menjawabku.

"Rath," satu suara memanggil, menyeruak diantara lamunan. "Ini sudah larut malam. Tidakkah kau ingin kembali ke kamarmu?"

Aku mengangkat kepala untuk melihat si pemilik suara. Namun ternyata kepalaku terasa begitu berat. Rasanya sendi-sendiku kaku. Mungkin karena sudah berjam-jam ada disini. Tapi siapa yang peduli, sementara orang yang kucintai terbaring dalam pelukan maut yang dingin.

Kulihat Rune sedang berlutut di hadapanku. Ternyata tadi dia lah yang memanggil. Rasanya aku tidak lagi bisa mengenali suaranya.

"Sejak kemarin kau disini terus. Kau juga tak mau makan. Kami semua mencemaskanmu."

Kata-kata itu serasa lolos begitu saja dari kepalaku, tanpa bisa kupahami apa maknanya. Rune memegang lenganku. Aku tidak mengerti apa yang diinginkannya. Tapi aku berusaha untuk berpikir, mencoba memahami kata-katanya.

Lalu Thatz datang, ikut berlutut di sebelah Rune. Wajah mereka terlihat mirip, setidaknya dalam raut wajah yang sama-sama berkerut sedih.

"Ayolah, Rath. Ikutlah dengan kami. Aku dan Rune akan mengantarmu ke kamar. Istirahatlah. Kau tidak bisa disini terus. Besok adalah pemakaman Cesia. Kau juga harus mempersiapkan diri. Kalau kau disini terus, kurasa besok kau bakal tumbang bahkan sebelum acara pemakamannya selesai." Thatz bicara dengan nada memohon.

Aku tidak mengerti.

"Aku akan menemani Cesia disini," kataku. Kuharap mereka bisa mengerti apa yang kukatakan, meskipun aku tidak bisa menangkap maksud dari perkataan mereka.

Mereka berdua beringsut mendekat.

Aku sangat lelah. Namun aku tidak ingin meninggalkan Cesia sendiri disini. Aku ingin menemaninya.

"Aku akan menemani Cesia disini," kataku.

"Tapi kau juga butuh istirahat," kata Rune lagi. "Kumohon jangan seperti ini."

"Rath, tolong dengarkan kami," kata Thatz. "Kami semua tahu kau sangat kehilangan Cesia. Kami juga sedih karena Cesia pergi. Tapi janganlah kau menyiksa dirimu sendiri."

Tiba-tiba saja Rune menangis. Kupandangi dia. Rune sedang bersedih. Aku juga sedang bersedih.

"Dengarkan aku, Rath!" Thatz bicara dengan keras, membuatku menoleh padanya. Dia mencengkeram kedua lenganku dan mengguncangku. Untuk sesaat kurasa pandanganku memudar, dunia seperti berputar dan larut dalam pendar-pendar cahaya. Tapi suara Thatz terus terdengar, walau timbul tenggelam. "Hentikan perbuatanmu ini. Lihatlah dirimu sendiri. Jangan kaupikir kami akan tahan melihatmu seperti ini. Kami semua mencemaskanmu. Lady Raseleane juga….. Janganlah menambah kesedihannya."

Pendar-pendar cahaya itu menghilang. Namun sensasi berputar yang seperti hanyut dalam sebuah cangkir raksasa yang tengah diaduk masih ada, walau tidak sekeras yang tadi.

Satu nama yang disebutkan Thatz mengingatkanku pada seseorang yang juga memberiku kehangatan. Kupikir Lady Raseleane juga pasti bersedih saat ini. Untuk kesekian kalinya dia bersedih karena kehilangan bagian keluarganya. Itu adalah kesalahanku. Cesia yang telah menjadi bagian dari keluarga ini…

Airmataku kembali mengalir.

"Tolong tinggalkan aku sendiri disini. Aku ingin bersama Cesia lebih lama lagi," kataku.

Saat ini aku hanya ingin bersama Cesia.

"Kalau begitu aku akan tetap disini," katanya Thatz.

"Aku juga," kata Rune. "Kau adalah sahabat kami. Seorang sahabat tidak akan pergi meskipun kau menyuruhnya meninggalkanmu."

"Begitu juga dengan Cesia. Dia juga sahabat kami," sambung Thatz.

Aku bingung bagaimana mau menanggapi mereka. Kupikir mereka tidak akan dengan mudah disuruh pergi. Tapi selama mereka tidak menjauhkanku dari Cesia, mereka bisa melakukan apapun yang mereka mau.

"Terserah kalian," kataku.

Menjelang tengah malam, hujan turun dengan lebat. Suaranya menenggelamkan gema dentang jam di ruangan lain. Suara hujan yang datang diiringi tiupan angin terdengar seperti sebuah serangan yang bertubi-tubi saat air hujan terhempas di kaca jendela. Kunikmati alunan suara hujan yang bagai menyuarakan keputusasaan. Langit menangis keras. Biarkanlah hujan mewakiliku untuk menangis dan angin menyampaikan pesanku pada Cesia. Karena tangisku saja terasa tidak cukup untuk menyatakan betapa pedih jiwa ini yang telah tercabik oleh duka yang dibawa sang Maut.

Aku terjaga semalaman, lagi. Hujan sedikit mereda saat menjelang fajar. Kedua sahabatku sudah tertidur sejak sekitar tiga jam lalu. Rune tertunduk diatas kedua lututnya. Sementara Thatz berbaring terlentang di lantai, tampak sudah cukup nyaman meskipun lantai pualam ini terasa begitu dingin.

Beberapa saat kemudian – atau beberapa jam, mungkin – pintu ruang berdoa ini membuka. Galsuenda dan Anastasia muncul di ambang pintu dengan gaun hitam yang sederhana. Kelihatannya mereka terkejut Thatz dan Rune ada disini juga. Galsuenda memasuki ruangan lebih dulu, diiringi Anastasia. Setelah berada dalam jarak beberapa meter dariku, kedua gadis itu membungkuk memberi hormat.

"Yang Mulia…..," kata-kata Galsuenda terputus begitu saja. Sekilas pandangannya melayang pada peti dimana Cesia berbaring di dalamnya. Kupikir gadis itu akan menangis, tapi tampaknya dia berusaha keras untuk mengendalikan diri.

Aku tahu kata-kata yang terputus dari kalimatnya. Sudah saatnya topeng itu terpasang di wajahku dan menyembunyikan segala kerapuhan.

"Aku tahu," kataku.

Lady Raseleane mengambil alih segala persiapan pemakaman Cesia. Hari ini pemakaman itu akan diselenggarakan, setelah kami semua berdoa dan menutup petinya. Cesia akan benar-benar direnggut dariku. Aku tidak akan bisa memandangnya lagi.

Kutepuk pelan bahu Rune untuk membangunkannya. Rune segera bergerak dari posisi tidurnya yang tidak nyaman. Sesaat dia celingukan dengan bingung.

"Ada apa?" tanyanya.

"Sir, semua persiapannya telah selesai," kata Galsuenda.

"Oh.." Rune menatap Galsuenda untuk sesaat, berusaha mencerna kata-kata gadis itu selagi dia masih dalam proses mengumpulkan kembali kesadarannya. "Ya. Terimakasih banyak."

Lalu Rune beringsut ke arah Thatz dan mengguncang tubuhnya. "Bangunlah," kata Rune masih dalam suara parau sehabis bangun tidur. "Thatz. Bangun. Kita harus siap-siap."

Thatz mengerang, dan bangkit dari lantai. Dia menggosok-gosok matanya yang masih setengah terbuka. Lalu menguap, suaranya seperti lenguhan.

"Thatz, persiapannya," ulang Rune.

"Iya. Aku akan segera pergi," kata Thatz masih dalam intonasi yang tidak jelas. Lalu dia berpaling padaku. "Astaga. Kau benar-benar tidak tidur lagi."

Rune menyikut Thatz, yang segera menyadari maksudnya.

"Anda terlihat cukup berantakan, Yang Mulia," kata Thatz. Dia lalu menggeleng sambil mendesah.

"Aku tahu. Kalian pergilah lebih dulu," kataku.

Rune sudah membuka mulut hendak protes, tapi aku mendahuluinya.

"Berikan aku beberapa menit lagi. Hanya beberapa menit. Pergilah."

Thatz dan Rune bangkit dengan susah payah dari lantai. Namun tidak langsung pergi.

"Beberapa menit saja," pintaku.

Mereka berempat menatapku dengan was-was.

"Percayalah," kataku sungguh-sungguh.

"Baiklah. Kita bertemu lagi nanti," kata Thatz. "Bisa berdiri?"

Aku mengangguk pelan. Meskipun tubuhku terasa sangat pegal dan kaku karena sudah berdiam di tempat yang sama lebih dari tiga puluh jam.

Mereka berempat memandangku dengan tatapan khawatir yang membuatku merasa sangat tidak nyaman.

"Pergilah," kataku dengan nada yang lebih tegas.

Thatz akhirnya mengangguk pada yang lain, meskipun terlihat dengan jelas kalau dia bakal meninggalkan ruangan ini dengan berat hati. Dia selalu jadi orang yang paling peka diantara ksatria naga generasi sebelumnya. Lalu mereka berempat undur diri dengan cara formal. Thatz biasanya tidak seformal ini – karena dia seorang pribadi yang bebas – tapi kali ini dia bersikap berbeda karena ada Galsuenda dan Anastasia.

Saat baru beberapa langkah meninggalkanku, mereka terhenti. Dan membungkuk hormat ke arah pintu. Suara langkah yang menggema. Saat Thatz dan Rune bergeser menyamping, tampaklah sosok Lady Raseleane.

"Jadi kau masih disini? Setelah dua malam berlalu….." Lady Raseleane mendesah. Dahinya berkerut dan alisnya menekuk sedemikian rupa, membentuk seraut kecemasan.

"Iya, my lady," jawabku.

Lady Raseleane menarik napas panjang. Lalu Lady Raseleane berpaling pada Rune. "Pergilah bersiap-siap, kalian semua."

Mereka berempat mengangguk dan meninggalkan ruangan, meninggalkanku bersama Lady Raelesane.

"Aku telah mengurus semua persiapan pemakaman Cesia," kata Lady Raseleane.

"Terimakasih," ucapku. "Aku akan segera bersiap-siap. Kita tidak mau aku terlihat kacau di depan orang-orang kan. Aku tahu…"

Lady Raseleane terdiam dengan raut wajah sedih.

"Apakah aku mengatakan hal yang salah?"

Lady Raseleane menarik napas panjang. Rona merah menyebar di wajahnya disertai dengan ekspresi seperti sedang menahan sesuatu – tapi bukan kemarahan. Diantara semua orang lain yang ada di kastil ini, pasti Lady Raseleane adalah satu-satunya orang yang paling memahami posisiku.

"Atau haruskah aku bersikap jujur?" Kenangan-kenangan itu masih terus berjubel di kepalaku. Kilasan-kilasan masa lalu yang terus terlihat. Rasanya sulit untuk membedakan antara nyata dan tidak. "Apa yang harus kulakukan?"

Lady Raseleane terisak. Lalu menggeleng. "Tidak, Nak." Diusapnya airmatanya dengan sapu tangan hitam. "Kau sama sekali tidak salah."

Aku bangkit dari lantai, agak sulit. Aku nyaris berpikir tulang-tulangku bakal rontok saat berdiri. Lalu berbalik ke belakang, hanya untuk mendapati Cesia masih tengah bermimpi dalam tidur tanpa akhir. Kuharap dia bermimpi indah. Biarlah kutanggung segala mimpi buruknya.

Aku membungkuk diatas Cesia, bertumpu pada peti yang membingkai tubuhnya. Kuusap pipi Cesia yang dingin dan berbisik di dekat telinganya. "Selamat malam, Cesia-ku. Kau tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun. Selamanya….."

Lady Raseleane menyentuh pundakku dengan lembut. Aku menoleh padanya, sekali lagi merasa amat sangat terluka dan tidak mampu menahan airmata.

"Aku tahu kau sangat bersedih. Tidak akan ada penghiburan apapun yang mampu mengurangi dukamu. Namun kuharap kelak waktu akan meringankan derita itu," kata Lady Raseleane, sambil memegang tanganku. "Kemarilah." Lalu Lady Raseleane memelukku.

"Aku merasa hancur….," kataku sambil terisak.

Lady Raseleane sendiri yang membantuku bersiap-siap menghadiri upacara pemakaman. Meskipun aku sudah mengatakan kalau aku bisa melakukannya sendiri, tapi beliau bersikeras mendampingiku.

"Aku sudah mempersiapkan diriku sejak tadi pagi," ucapnya. Aku mengamati penampilannya yang memang sudah rapi. "Aku tidak bisa meninggalkanmu sendiri. Apalagi setelah tahu ternyata selama dua hari kau tidak mau pergi dari sisi istrimu," ujarnya sambil mengikat simpul dasi hitam di kerah kemejaku.

Setelah aku siap – menurut Lady Raseleane – kami bersama-sama menuju Rhydian Abbey dengan kereta darna. Cesia sudah berangkat lebih dulu ke katedral disana bersama Ruwalk, Bierrez, Tetheus, dan sekitar dua ratus pasukan naga yang mengiringinya. Sisanya berangkat bersamaku dan Lady Raseleane.

Saat kami melewati gerbang Dragon Castle, ada banyak sekali karangan bunga yang bertumpuk di depan pagar. Para penduduk berkumpul di pinggir jalan dengan wajah kusut.

Lady Raseleane menggenggam tanganku. "Negeri ini turut berduka bersama kita."

Aku tidak berkata apapun sepanjang perjalanan kami. Kualihkan pandanganku keluar jendela kereta, pada langit yang kelabu, pada raut muram para penduduk yang berkumpul di pinggir jalan, dan pada kesunyian jalanan yang kami lewati – yang hanya terisi dengan suara derap langkah darna. Lady Raseleane tidak melepaskan genggaman tangannya hingga kami sampai di depan katedral. Terakhir kali aku kemari adalah saat pernikahanku. Mendapati apa yang kulakukan sekarang ini…sungguh suatu ironi.

Pikiranku nyaris kosong sejak saat kami berangkat tadi. Namun tubuhku bergerak secara otomatis. Saat aku menyadarinya, aku sudah duduk di deretan depan, disamping Lady Raseleane. Segalanya seolah terlewat begitu saja, seperti hanyut di sungai berarus deras, aku tidak sempat memperhatikan sekelilingku.

Kidung-kidung dilantunkan dan menggema dari segala penjuru katedral. Suara-suara berpadu menjadi satu dan membuatku bingung. Semua syair dari kidung-kidung itu seolah terhapus dari ingatanku, menjadi alunan nada dan syair yang asing.

Saat semua telah berlalu, setelah kami memulai perjalanan lagi menuju pemakaman. Tir Nefenhir, tanah tempat raja-raja beristirahat di akhir perjalanan mereka. Tempat yang disebut sebagian orang sebagai Necropolis, adalah kompleks pemakaman yang megah. Terletak di sebuah lembah yang terlindung oleh bukit-bukit. Seperti yang dikatakan orang, tempat ini memang seperti kota orang mati. Makam-makam yang dibuat semegah mungkin – hanya orang-orang tertentu yang dimakamkan disana.

Perjalanan agak terhambat karena begitu banyaknya massa yang berkumpul . Walau agak kesulitan, akhirnya kami bisa berada dengan aman di area pemakaman yang dijaga oleh ratusan prajurit naga di setiap perimeternya Doa-doa diucapkan dalam bahasa kuno. Di saat peti mati dimasukkan ke dalam liang dengan karangan bunga diatasnya; saat para pengggali makam mulai mengisi liang dengan tanah; saat para pelayat mulai berbalik untuk memulai perjalanan pulang, Lady Ophelia mengulurkan tangannya dan mengenggam tanganku.

"Saya turut berduka cita," ucapnya tulus.

"Terimakasih," jawabku.

Dia membungkuk hormat padaku dan Lady Raseleane, lalu pergi.

Guntur mulai bergemuruh di langit yang semakin gelap, mengabarkan akan datangnya hujan. Angin mulai berhembus agak kencang, seolah menyuruh semua orang cepat-cepat mencari perlindungan di tempat teduh. Kedua penggali makam yang telah bekerja dengan giat sudah menyelesaikan sebagian pekerjaannya. Mereka telah menutup liang lahat dan memasang nisan. Mereka undur diri dengan sopan, meski belepotan lumpur. Tapi mereka akan kembali lagi nanti untuk menyelesaikan tugas mereka, memperbaiki makam Cesia; memasang dekorasi patung.

"Hujan akan segera turun. Ayo kita pulang," kata Lady Raseleane.

Baru saja Lady Raseleane menyelesaikan ucapanya, hujan mendadak menyerbu bumi – dengan deras, bahkan tanpa didahului oleh gerimis. Kudengar Rune ribur-ribut di belakang kami, dan datang tergopoh-gopoh untuk memayungi Lady Raseleane.

"Thatz! Payungnya satu lagi mana?" Rune berkata keras, meningkahi suara hujan.

"Rath! Kemarilah!" panggil Lady Raseleane saat aku berjalan semakin dekat ke makam Cesia.

Aku menoleh. "Rune, tolong kau antar Lady Raseleane ke kereta," pintaku.

"Pulanglah bersamaku," kata Lady Raseleane, nadanya nyaris memohon.

Aku menggeleng. "Aku ingin disini sebentar."

Rune menatapku penuh arti. Namun kemudian dia berkata pada Lady Raseleane, "Saya akan mengantar Anda ke kereta. Jangan khawatir, saya dan Thatz akan menemani Yang Mulia nanti."

Lady Raseleane memandangku sesaat. Lalu sebelum pergi beliau berkata, "Jangan terlalu lama."

Setelah mereka pergi, cukup lama aku diam terpaku di depan makam Cesia.

"Jadi…. Pada akhirnya kau tetap kehilangan dia," kata sebuah suara.

Aku menoleh. Seseorang yang berjubah dan berpayung hitam muncul dari belakang pohon cedar. Pria itu mendongakkan sedikit payungnya, menunjukkan seraut wajah yang tidak asing. Kharl.

"Halo Rath," sapanya sambil berjalan menghampiriku.

"Apa yang kau lakukan disini?"

"Tidak perlu bertanya. Kau tahu pasti jawabannya, Yang Mulia Kaisar," Kharl menekankan suaranya pada kata sapaan di akhir kalimatnya. "Semua orang di seluruh penjuru Kerajaan Dragoon berduka kehilangan ratu mereka. Dan banyak penguasa dan bangsawan dari seluruh penjuru kekaisaran yang kau pimpin ini datang untuk menyatakan belasungkawa. Aku hanyalah salah satu pelayat yang datang kemari. Apa kau tidak mau menerima tamu dari Arinas?"

"Apa yang kauinginkan?" tanyaku was-was.

Alkemis satu ini selalu sulit ditebak. Entah apa yang tengah dia pikirkan saat ini. Mendadak muncul di tempat ini dan hari ini.

Kharl mengangkat bahu dengan sikap acuh tak acuh. "Aku hanya datang sebagai pelayat. Itu saja. Mengingat dulu kita punya hubungan, kurasa sudah sewajarnya aku turut hadir dalam pemakaman istrimu. Seperti saat pernikahanmu dulu," Kharl berkata dengan santai. "Ya, aku datang di hari pernikahanmu. Karena aku menerima undangan. Kurasa itu sangat membanggakan, seorang dokter biasa menerima undangan pernikahan kaisar."

Selama ini prasangkaku terhadapnya memang benar. Aku menatap Kharl dengan tajam. Namun sepertinya dia tidak menyadari ketidaksenanganku.

"Kau pasti menyadari kalau Avis Lara adalah aku, kan?"

"Ya."

"Aku tidak pernah berbuat buruk selagi aku berperan jadi Avis Lara. Meskipun – jujur saja – dulu aku pernah berpikir untuk membunuh kaisar sebelumnya dan membunuh semua orang yang berada disana, agar kau kehilangan rumah dan kembali padaku. Tapi aku hanya memikirkannya. Tidak sungguh-sungguh kulakukan."

"Aku ingin bertanya," kataku.

"Silakan. Tanyakan saja apa yang ingin kau tanyakan," kata Kharl dengan nada yang sangat ramah.

"Apakah kau sungguh-sungguh tidak bisa menolong Cesia waktu itu? Atau kau hanya tidak ingin?"

Kharl menarik napas panjang. "Aku sudah menduga kau akan menanyakan itu."

"Jawab aku!"

Kharl menatapku dalam keteduhan payung hitamnya. Ekspresinya tenang. Tidak goyah sedikitpun.

"Pernahkah kau mendengar ada orang yang bangkit dari kematian? Apakah menurutmu itu suatu hal yang wajar?"

"Lalu bagaimana denganku? Apa Fugen no Tsue bisa melakukannya?"

"Kau berbeda," jawab Kharl tenang, dengan nada sedikit bangga yang membuatku muak. "Hanya Cesia yang tahu dimana benda itu disimpan – tentu saja dia menyimpannya dengan sihir. Lagipula apa kau tidak pernah berpikir kalau benda itu dibuat untukmu? Entah kau percaya takdir atau tidak, tapi kurasa ada kekuatan-kekuatan yang menginginkanmu untuk terus bertahan dan mengakhiri kekuasaan Nadil."

Aku mendengus kesal.

"Bagaimana dengan Fiji?" bantahku, tidak ingin menyerah untuk mencari jalan.

"Siapa?"

"Fiji!"

"Ah, gadis itu... Ya, aku ingat dia," kata Kharl masih dengan nada tenang. "Hanya untuk tempo yang terbatas. Aku mengirimnya untuk membantumu memasuki kastil Nadil. Setelah itu aku melepasnya. Kau bisa melihat sendiri seperti apa Fiji saat itu. Apa dia gadis yang sama seperti yang kautemui di Gunung Emphaza? Apa kau ingin Cesia jadi seperti itu? Dia tidak akan jadi Cesia yang sama. Apa kau tidak akan menyesal kalau seperti itu?"

Aku terdiam. Kurasa jawabannya sudah jelas tidak.

"Cesia sudah mengatakannya padaku soal kutukan itu, setelah aku menunjukkan siapa diriku sebenarnya. Dia berpesan agar aku menjaga rahasianya. Aku sudah mencari cara untuk mematahkan kutukannya. Tapi tidak ada satu pun cara…" Kharl menarik napas panjang lagi. "Aku mau melakukannya, mencoba menolong Cesia, demi kau. Meskipun aku tidak berhasil."

Kharl masih berdiri di tempatnya, tiga meter dariku, tanpa menambah satu langkah pun. Tepian jubah hitamnya yang nyaris menyapu tanah basah oleh hujan. Dia memandangi makam Cesia dengan tatapan yang seperti melamun.

"Pada akhirnya kau memutuskan untuk kembali bersama keluarga barumu dan bertempur demi mereka. Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah hidupmu, kau berjuang demi kebaikan." Kharl menarik napas panjang. "Well, kau berhak menentukan pilihan. Dan inilah hidup yang kaupilih. Aku harus menghargai keputusanmu, kan."

"Kau kemari hanya untuk mengatakan itu?"

"Tidak," kata Kharl. "Aku ingin menyampaikan sesuatu, yang mungkin bisa mengurangi sedikit penyesalanmu. Pilihan manapun yang kaupilih akan sama saja, pada saatnya kau akan terluka dan kehilangan. Semua orang pernah terluka. Semua orang kehilangan apa yang berharga bagi mereka. Bagaimanapun kerasnya kau berusaha menjaga dan bertahan. Akan selalu ada yang hilang. Begitulah hidup, Rath."

Setelah itu Kharl menghilang. Aku tidak memperhatikannya; apakah dia berjalan pergi atau benar-benar lenyap dalam sekejap. Kupikirkan kembali apa yang dikatakannya. Dia benar. Namun kebenaran itu tidak mengurangi penyesalanku. Bukankah rasa sakit dari suatu luka adalah hal yang tidak terelakkan. Aku punya hati yang bisa merasakannya. Kehilangan Cesia adalah luka yang mutlak tidak akan bisa kutanggung.

Aku terpaku lagi. Merasakan remuk redamnya hati. Hujan turun dengan deras, menyerang tanpa ampun. Aku jatuh berlutut di tanah, tak kuasa menahan tangis lebih lama lagi. Duka ini terasa begitu pedih, tidak terperikan. Tidak akan pernah ada cukup kata untuk mengatakannya. Namun setidaknya air hujan telah menyamarkan airmataku. Suara hujan seperti requiem yang mengalun dengan megah menghapus kesunyian pemakaman, dan menenggelamkan suara isak tangisku yang mengeras menjadi erangan.