Sebuah fanfiksi manga Dragon Knights
Disclaimer: Dragon Knights adalah milik Mineko Ohkami.
Bab XIII (Cesia)
Janji yang Terlanggar
Kuakui bahwa aku masih belum bisa ikhlas menerima kenyataan. Betapa tidak, ketika seseorang harus terpisah dari orang yang dicintainya. Aku tidak bisa meninggalkan Dragon Castle. Bagaimanapun separuh jiwaku masih ada di tempat ini.
Tidak ada lagi yang bisa kulakukan. Aku hanya diam mengawasi pria yang kucintai. Mengawasinya hancur tanpa bisa mencegahnya. Setiap kali aku memandangnya hatiku terasa miris. Sosoknya kini sangat berbeda dari pemuda naïf yang kukenal dulu, bahwa kini dia telah berubah menjadi makhluk yang amat rapuh, seolah dia akan hancur berkeping-keping ketika seseorang menyentuhnya. Kegetiran yang mengiris setiap kali aku menatap kedalam bola mata ungu yang hampa kehidupan, kelopak matanya yang menghitam, dan wajah pucatnya yang tirus. Aku tidak akan mengenalinya seandainya aku tidak berada di dekatnya hingga saat ini. Tubuh kurus dalam balutan pakaian berkabung meringkuk di tengah ranjang. Berhari-hari dia tidak meninggalkan kamar ini; ruangan ini telah menjadi dunianya sekarang. Dia menolak sinar matahari sehingga dibiarkannya tirai menutup jendela-jendela. Dia mengusir setiap orang yang memasuki dunianya.
Bahkan kini dia menenggak minuman beralkohol, sesuatu yang nyaris selalu berusaha dijauhinya. Kini dia dan botol-botol cairan memabukkan itu bagai tak terpisahkan. Dan seiring kebersamaan mereka, Rath semakin hancur.
Suatu ketika Rath mengeluarkan buku agendanya dari laci dan menemukan gambar-gambar dan coretan yang sering kubuat untuk menyemangatinya dulu. Kulihat senyum merekah di wajahnya. Senyum itu hanya bertahan sesaat. Kemudian Rath mulai terisak. Dipeluknya agenda itu dan merosot ke lantai sambil menangis seperti seorang bocah kecil yang tersesat. Berhari-hari Rath bergelung di ranjang sambil memeluk gaunku. Wajahnya nyaris selalu basah oleh air mata. Bahkan ketika dia tidur, kulihat air mata yang mengalir keluar disela-sela kelopak mata kehitaman yang tertutup. Diantara isakan dan rintihannya kudengar namaku disebut.
Berkali-kali Rath memanggil namaku, tapi aku hanya bisa diam menahan tangis. Aku duduk diujung ranjang, ingin sekali menyentuh dan merengkuhnya. Ingin sekali aku memanggil namanya dan mengatakan bahwa aku tidak bisa berpisah darinya. Aku ingin mengatakan betapa aku sangat mencintainya. Aku tahu harapan itu sia-sia. Bahkan sekalipun aku bisa menyampaikan perasaanku, itu tidak akan pernah cukup. Yang kuinginkan adalah bersamanya selalu. Aku ingin menjadi seseorang yang meringankan derita yang selama ini ditanggungnya. Aku ingin menjadi bagian dari hidupnya. Namun apa yang kulakukan? Akulah wanita yang menghancurkannya. Kuberikan dia harapan, lalu kuruntuhkan harapan yang dengan susah payah dibangunnya.
Aku gagal menjadi orang yang pantas dicintai olehnya. Menurutku cara terbaik untuk melindungi Rath adalah meninggalkannya, membuatnya tidak mencintaiku, bahkan membenciku kalau itu memang diperlukan. Seandainya saja aku bisa meninggalkannya, agar aku bisa menjauhkannya dari keadaannya sekarang. Aku tidak keberatan dibenci oleh Rath asalkan dapat melindunginya dari derita yang ditanggungnya saat ini. Namun aku terlalu lemah. Aku tidak kuasa jauh dari Rath, meskipun aku tahu pada akhirnya akan menghancurkan hidupnya.
"Sudah saatnya kau pergi," kata sebuah suara.
Aku menoleh dan melihat Alfeegi bersandar di pintu.
"Ayolah, Cesia. Kau sudah lama disini. Tidak ada yang bisa kau lakukan….."
Aku memandang Rath yang bergelung dan terisak. "Aku tidak bisa….."
Alfeegi terdiam.
"Akulah orang yang membuatnya jadi seperti ini…..", ucapku lirih.
"Kita semua tahu itu bukan salahmu. Tidak seorangpun mengetahui masa depan," sahut Alfeegi.
"Kupikir keberadaanku didunia ini hanyalah sebagai boneka Nadil, hidupku tidak akan membawa manfaat demi kebaikan. Aku selalu berpikir tidak ada seorangpun yang benar-benar tulus mencintaiku. Bahkan orang tuaku pun tampaknya tidak menginginkanku, itupun kalau mereka memang ada. Hingga bangsa Naga memberiku rumah dan keluarga baru. Betapa itu amat berarti. Penolakan Rath saat itu bisa kumaklumi. Wajar, karena aku adalah youkai."
Alfeegi membisu.
"Aku tidak mengerti mengapa aku menyukai Rath. Entah sejak kapan aku jadi sangat mencintai Rath." Aku tertawa kecil. "Aku… Aku sangat mencintai Rath. Aku ingin dia bahagia. Tapi aku malah membuatnya makin menderita….," suaraku bergetar. Air mata meluncur turun.
"Cesia…"
Aku terisak. Kami berdua – aku dan Rath – sama-sama terisak. Kami menanggung kepedihan yang sama, kehilangan satu sama lain. Namun aku merasa begitu tercela telah membuat Rath jadi begini.
"Lalu apa yang ingin kaulakukan sekarang?" tanya Alfeegi.
Kuhapus air mataku. "Entahlah," aku menggeleng, "aku tidak yakin apakah aku bisa meninggalkannya."
Rath bergerak meninggalkan posisi meringkuknya. Dia tampak linglung. Kemudian Rath turun dari ranjang. Dihampirinya meja tempat botol-botol rouwa berada. Kusangka Rath hendak mencari pelampiasan untuk meringankan sakit hatinya pada rouwa, seperti yang sering dilakukannya akhir-akhir ini. Tapi ternyata tidak, Rath membungkuk untuk memungut sesuatu. Ia terhuyung-huyung sejenak ketika kembali menegakkan badannya, satu tangannya berpegangan pada pinggiran meja sedangkan tangannya yang lain menggenggam sesuatu yang berkilat dan tampak tajam.
Tercengang ketika menyadari apa yang ada di tangan Rath, aku cepat-cepat berdiri. Kedua tanganku terkepal erat. "Tidak….."
Disampingku Alfeegi tampak tegang. "Dia tidak mungkin sungguh-sungguh kan? Dia tidak boleh mengabaikan Dusis…."
Rath menjatuhkan pecahan botol di tangannya. Aku dan Alfeegi mendesah lega.
"Syukurlah…..," kata Alfeegi.
Sekarang Rath tampak kebingungan mencari sesuatu. Entah apa yang dicarinya, pastilah sesuatu yang penting hingga ia tampak panik. Ia mengacak-acak meja. Sebuah gelas terjatuh dari meja, menimbulkan suara yang nyaring di tengah keheningan malam. Rath mengacuhkan gelas pecah itu. Lalu sasaran berikutnya adalah isi laci.
"Apa yang dicarinya?" aku penasaran.
Rath celingukan, tampak putus asa. Kemudian tiba-tiba raut wajahnya berubah, ia bergegas memungut sesuatu di dekat jendela.
Aku mengenali benda yang dipegang Rath. Lonceng perak itu. Lonceng perak itu adalah Imperial Dragon Sword.
Aku menatap Rath dengan tidak percaya. Tidak lagi, pikirku. Kulihat kebulatan tekad itu dalam mata Rath. "Alfeegi!"
"Aku tahu," jawab Alfeegi.
Rath memejamkan matanya dan menempelkan pedang di lehernya. Kulurkan tanganku, berharap dapat bertindak cepat sebelum terlambat.
Aku berhasil meraih Imperial Dragon Sword tepat sebelum Rath menyayat lehernya sendiri. Kurebut pedang itu dari tangannya.
Rath membuka matanya. Ia tampak sangat terkejut. Wajar saja dia terkejut melihat almarhumah istrinya berdiri di hadapannya saat ini.
"Oh, ternyata lebih cepat dari yang kukira," ucapnya sama sekali diluar dugaan.
Aku merasa marah sekaligus lega. Apa jadinya bila aku terlambat sedetik saja. "Apa yang kau lakukan, Rath?," tuntutku.
Raut wajah Rath berubah dari kaget menjadi tidak percaya bercampur kelegaan. Aku bingung melihat reaksinya yang aneh.
"Cesia? Kau Cesia, kan?" tanyanya sedikit bersemangat.
Aku jadi makin bingung. "Rath, apa yang kau – "
"Astaga, cepat sekali. Aku bahkan tidak merasakan sakit. Hebat! Ha..ha…ha…," katanya lagi. Rath tampak benar-benar lega dan bahkan dia tersenyum.
Aku melotot padanya, masih sedikit marah dan shock melihat reaksinya yang ganjil. Rath masih tersenyum lega. Sudah lama aku tidak melihatnya tersenyum seperti ini, walau senyum itu terlihat agak aneh di wajahnya sembab yang tampak jelas menunjukkan kelelahan.
Aku menoleh pada Alfeegi. Pria itu mendesah lega. Kemudian dia menggeleng. Dia menatap kami berdua dengan sorot mata sedih. "Kutunggu," katanya. Lalu ia menghilang menembus pintu, meninggalkan kami berdua.
Aku kembali menatap Rath. Kini aku mengerti. Seketika kepedihan di hatiku meluap-luap, menekan kesegala arah. Aku sadar telah begitu menyakitinya. Kujatuhkan pedang ke lantai begitu saja. Tanganku meraih pipi Rath dan membelainya. Rath menggenggam tanganku penuh kerinduan. Rasanya aku tidak tega melukainya lagi. Tapi aku tidak akan membohonginya.
"Rath, kau belum mati," bisikku.
"Apa?" Rath tampak bingung.
"Ya. Kau belum mati. Kau masih hidup, Rath."
Rath masih kebingungan.
"Kau masih hidup, my lord."
Kini Rath tampak terguncang. Kekecewaan dan ketidaksetujuan terpancar jelas dimatanya. Ada secuil sesal dalam hatiku, tapi aku harus mengatakan kebenaran betapapun itu amat menyakitkan.
"Kenapa kau lakukan ini, Rath?" tanyaku meminta penjelasan.
Rath menunduk dan terdiam.
"Aku berjanji padamu bahwa aku tidak akan membiarkanmu mati, ingat kan? Kau ingat janji itu, kan?"
"Aku ingat," jawab Rath
"Lalu kenapa? Apakah kau tidak mau membantu menepati janjiku?"
"Bukannya janji itu sudah tidak berlaku lagi?" ucapnya dengan kegetiran yang jelas.
Aku terkejut, tidak menyangka Rath akan berkata demikian. Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku tidak mengerti mengapa janji itu sudah tidak berlaku, setidaknya bagi Rath.
"Janji itu tidak berlaku lagi, Cesia. Kau meninggalkanku. Selama ini kaulah alasanku tetap bertahan. Tapi kau pergi. Aku tidak bisa menjalani hidup ini tanpamu. Kau yang paling tahu betapa aku tidak ingin hidup sebelum ini, tapi kau memberiku alasan untuk tetap menjalaninya," kata Rath. "Sekarang setelah kau tidak ada, apa kaupikir aku masih tetap ingin berada disini?"
"Rath…" Aku kehilangan kata-kata.
"Sakit rasanya. Sangat menyakitkan, seolah separuh jiwaku benar-benar direnggut begitu saja. Bisakah kau bayangkan itu?" Rath mencengkeram dada. Air matanya kembali mengalir membasahi wajah tirusnya yang pucat.
"Maafkan aku, Rath….."
"Kaulah matahariku, Cesia. Dan kaubilang aku adalah bulan. Tahukah kau bahwa tanpa matahari, bulan bukanlah apa-apa. Aku tidak lagi bisa merasakan kehidupan. Bukankah itu berarti janjimu dulu sudah tidak ada artinya?"
Hatiku sakit mendengar pernyataannya. Aku telah menyakitinya sampai sejauh ini. "Maafkan aku, Rath. Aku tidak bermaksud demikian, sungguh. Aku tidak ingin meninggalkanmu. Aku mencintaimu, Rath. Tapi ini semua sudah takdir."
Rath menggeleng. "Aku tidak menyalahkanmu, jadi kau tidak perlu minta maaf. Janji yang terlanggar itu bukan salahmu. Selama ini aku begitu ceroboh hingga kehilangan banyak hal yang penting. Kalau saja aku dapat bertindak lebih cepat. Kalau saja aku tahu bakal begini jadinya….," suara Rath bergetar.
Aku tidak mampu lagi menahan air mataku. Sekonyong-konyong kupeluk Kaisar Dusis yang juga adalah suamiku. Rath memelukku juga, dan aku menangis dalam dekapannya.
"Berhentilah menyalahkan dirimu, Rath. Kau selalu menyalahkan dirimu."
"Aku adalah seorang bodoh yang tidak berguna. Seorang pembawa petaka…."
"Kumohon hentikan….. Aku tidak mau membuatmu menderita, Rath. Aku tidak mau kau menanggung perasaan itu lagi."
"Sungguh? Maka jangan tinggalkan aku."
Aku melepas pelukanku dengan setengah hati. Kuhapus air mataku. "Aku tidak bisa. Kau tahu itu tidak mungkin."
"Kalau begitu biarkan aku mati agar aku bisa bersamamu," kata Rath keras kepala.
Aku menggeleng tidak setuju. Bagaimanapun aku harus cari cara untuk berkompromi dengan keadaan ini. "Aku ingin memperbarui janji itu, sekarang."
"Kau tidak bisa –!" protes Rath.
"Berjanjilah. Aku akan menjaga janjiku dan kau harus berjanji untuk hidup. Berjanjilah kau akan melanjutkan hidupmu. Peliharalah takhta Dusis, demi keluarga dan rakyat yang kaukasihi."
"Tidak! Kau curang. Kau tahu aku tidak mungkin menolaknya, demi kamu. Tapi aku tidak mau," teriak Rath.
Aku tidak mau menyerah. Kuraih kedua lengan kurus Rath, mengguncangnya, berusaha memaksanya menyetujui negosiasiku yang sepihak. "Berjanjilah."
"Tidak mau!"
"Rath! Berjanjilah padaku, please."
Rath terdiam, terdesak. "Ini tidak adil. Kau tahu aku tidak bisa hidup tanpamu. Kau tidak mungkin setega ini, kan…..," rengeknya.
Aku tahu ini tidak adil. Tapi aku harus menegaskan perjanjian ini.
"Aku ingin kau tetap hidup. Berjanjilah. Demi aku, please…."
"Baiklah. Aku berjanji…..," bisik Rath.
"Terima kasih." Kuberikan senyum terbaikku, walau pilu masih menohok hati. "Tepati janjimu," pintaku.
Rath kembali terdiam dan menunduk. Aku sadar telah melukainya lagi. Bisa kurasakan rasa sakitnya.
Alfeegi kembali muncul. Ia mengangguk padaku.
Aku harus pergi.
Aku mundur selangkah, meski dengan enggan. Rath menatapku dengan pandangan yang menyayat hati.
"Kau akan pergi -," katanya.
"Ya."
"Aku tidak akan bisa menahanmu, kan?"
"Ya."
Alfeegi sudah menghilang lagi. Sementara aku harus berusaha keras untuk tidak menangis.
Rath menunduk dalam kebisuan. Sesaat kusangka dia akan menangis lagi. Ini akan jadi yang terakhir. Maka kupeluk Rath. Kupeluk dia dengan erat. Rasanya aku tidak ingin melepasnya. Perasaan ini begitu berat dengan perasaan enggan berpisah. Kupererat pelukanku. Lalu aku menengadah, berjinjit, dan mencium belahan jiwaku. Rath membalas ciumanku.
"Aku mencintaimu, Rath. Sangat mencintaimu," bisikku.
"Aku juga mencintaimu…," bisik Rath
Aku tak kuasa menahan rasa sakit di dadaku. Aku menangis lagi. Aku tidak akan bisa menanggung perpisahan ini. Tidak pernah terbayangkan olehku akan seperti ini akhirnya. Tidak pernah terlintas di benakku akan berpisah dari Rath. Kami berciuman dan berpelukan lagi. Kami saling berusaha menahan keberadaan satu sama lain, tidak ingin berpisah satu sama lain, karena apa yang hilang kini terlengkapi lagi. Maka sungguh menyakitkan bila harus kehilangan belahan jiwa, rasanya seperti mencabik roh sendiri.
Waktuku habis. Rath menatap dengan tatapan kosong selagi aku mulai menghilang. Bagaimanapun Rath tetap mempertahankan pelukannya. Hingga aku benar-benar menghilang.
Rath tetap terpaku selama beberapa saat. Raut wajahnya kosong. Lalu Rath menjatuhkan tubuhnya keatas ranjang, kembali meringkuk. Dia mencengkeram dada dan mendekatkan kedua lututnya, seolah ia berusaha melindungi sesuatu dan berusaha menjaganya agar tidak hancur. Rath terisak kembali. Hatiku serasa tercabik-cabik. Benar-benar pilu.
Maafkan aku Rath. Aku sangat mencintaimu. Sungguh mencintaimu.
