Sebuah fanfiksi manga Dragon Knights

Disclaimer: Dragon Knights adalah milik Mineko Ohkami. Estelle, Alaric, Galsuenda dan Ophelia adalah original character rekaan author. Aphorisme Kahlil Gibran dan Sang Nabi adalah milik Kahlil Gibran, Dasa Darma Raja dikutip dari 'Sang Pemimpin Menurut Asthabrata, Wulang Reh, Tripama, Dasa Darma Raja' yang disusun oleh Pardi Suratno, Pengasingan adalah puisi karya Alejandra Pizarnik.

Bab XIV (Rath Illuser)

Senja Terakhir

Musim semi mulai menujukkan keberadaannya. Udara mulai hangat. Sisa-sisa musim dingin mencair. Seluruh alam mulai bangun dari tidur panjang, menggeliat, dan membuka mata untuk kembali melanjutkan kehidupan. Tahun demi tahun berlalu dan musim datang silih berganti, ini adalah suatu rutinitas – seperti halnya matahari yang terbit dan terbenam, lalu terbit kembali esok hari – segala yang ada di alam ini berjalan menurut takdir masing-masing.

Bagiku, kini setiap harinya adalah malam musim dingin. Tidak akan ada fajar untukku, dan tidak pula isyarat datangnya musim semi. Matahariku telah menghilang dari tata surya. Kegelapan tanpa akhir melingkupi, membuatku terpaku tidak bergerak. Hingga aku menyadari bahwa aku memiliki sebatang lilin – lilin itu bersinar cemerlang – namun sayangnya tidak cukup terang untuk menyingkirkan kegelapan, betapapun cemerlang dia bersinar. Tubuhku pun sudah terlanjur membeku, membuatku tidak bisa merasakan apapun hingga aku nyaris percaya bahwa aku sudah mati dan keberadaanku di dunia ini tidak lebih dari suatu energi abstrak.

Bertahun-tahun setelah saat itu, aku masih berada dalam keterpurukan, tidak mampu untuk melangkah, sebab aku telah kehilangan arah. Aku terdiam terpaku menatap cahaya lilin dan berharap lilin itu tetap bersinar cemerlang, meskipun jauh di lubuk hati aku merindukan matahari yang telah lama terbakar habis.

Siang itu Estelle datang ke kantor untuk menanyakan tentang Raja Youkai dari Arinas dan Raja Yokai dari Dusis. Di akhir penjelasanku, nyaris saja kukatakan siapa sebenarnya Raja Youkai dari Arinas – karena kurasa sudah saatnya Estelle mengetahui siapa ayahnya sebenarnya. Tetapi aku berhasil menahan lidahku, dan memadamkan emosi sesaat. Belum saatnya, kuyakinkan diriku sendiri. Kelak, di saat yang tepat, Ophelia akan memberitahu kebenarannya.

Estelle memainkan ujung halaman buku sejarahnya. Kedua alisnya bertaut karena berkonsentrasi.

"Ada yang ingin kautanyakan lagi?" tanyaku.

Estelle mendongak menatapku, dan menggeleng. "Kurasa tidak ada, Yah," jawabnya dengan nada ragu.

"Tanyakan saja kalau masih ada yang tidak dimengerti."

Estelle menggigit ujung bibirnya. "Er….. Kurasa aku akan berusaha memahaminya sendiri dulu. Kalau masih bingung, aku akan menanyakannya."

"Baiklah, kau bisa menanyakannya pada ibumu," ujarku.

"Kenapa ibu? Kurasa Ayah lebih berkompeten dalam hal ini."

Aku terdiam sesaat, berusaha merangkai kata-kata. "Well, mungkin saja aku sedang sibuk ketika kau menanyakannya nanti. Kau juga bisa bertanya pada Ruwalk atau Rune." Jawaban yang sangat tidak diplomatis. Aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya, bahwa waktu yang kumiliki akan segera habis. Aku tahu, karena aku bertemu Alfeegi.

Sejak beberapa bulan yang lalu, aku mulai melihat orang-orang yang tidak seharusnya terlihat; shinigami. Aku sering melihat Alfeegi – White Dragon Officer sebelumnya – di kantor, diam mengawasi kegiatan yang berlangsug di depannya. Aku juga sering melihat seorang gadis kecil yang berkeliaran di sekitar kastil. Konon orang yang melihat shinigami berarti hidupnya akan mendekati akhir.

Beberapa hari yang lalu, di suatu sore, aku melihat Alfeegi di perpustakaan. Kusapa dia, dan dia sama sekali tidak tampak terkejut.

"Kau ingin membaca buku?" tanyaku ramah.

Alfeegi tersenyum. Kemudian berjalan menghampiriku. Dia berdiri di samping meja dan menyentuh sebuah buku, jari-jari panjangnya menelusuri cetakan timbul pada sampul buku The Art of Worldly Wisdom yang sudah usang. Sekilas dia tampak tergoda untuk membacanya, tapi kemudian dia menarik kembali tangannya.

"Aku hampir lupa bahwa Anda sangat peka dalam hal ini, Lord Rath." Nada bicaranya masih formal.

Aku tertawa getir. "Alfeegi masih sama kaku seperti dulu, ya. Kau dulu hanya memanggilku dengan nama saja." desahku.

Alfeegi tersenyum seperti sedang mengenang sesuatu. "Waktu itu kau masih seorang ksatria. Hanya sedikit orang yang tahu kau adalah pewaris Lord Lykouleon."

"Yah, itu sudah ditentukan sejak lama, apa boleh buat," kataku. "Sekarang aku sudah mengerti bagaimana berada dalam posisi Lord Lykouleon. Sejak awal aku sudah menduga ini tak akan mudah. Aku harus terus menjadi pembohong baik kepada orang lain ataupun diriku sendiri, demi menjadi apa yang orang-orang harapkan. Hingga seringkali aku tidak ingat siapa diriku sebenarnya. Terlalu banyak kebohongan sampai akupun mempercayai kepalsuan itu sendiri. Apa yang tampak di luar berbeda dengan yang di dalam. Seperti sebuah boneka keramik; penampilan luar yang bagus, sedangkan dalamnya hampa."

"Hanya kau satu-satunya pewaris yang dimilikinya," kata Alfeegi.

"Benar," sahutku.

"Lord Lykouleon dan Lady Raseleane sangat menyayangimu. Bagaimanapun kau adalah putra mereka, sejak hari itu. Hingga saat ini, aku masih belum dapat memahami keputusan Lord Lykouleon untuk mengubahmu di hari itu. Namun terlepas dari semua faktor yang membuatmu berprasangka buruk, cobalah melihatnya dari sisi positif. Lord Lykouleon mencoba memberikanmu pilihan lain selain kematian, yaitu dengan memberimu sebuah keluarga," sambung Alfeegi.

"Benar," kataku. "Aku sudah dapatkan pelajaranku. Apapun hipotesis yang dipertaruhkan Lord Lykouleon saat itu, menghasilkan hasil yang positif. Aku belajar untuk mencintai. Walau betapapun kerasnya aku menyangkal di depan semua orang, bahkan meski keraguan dan prasangkaku sendiri yang mengatakan aku tidak lebih dari sekedar boneka bagi Bangsa Naga, aku tak bisa membohongi diri bahwa aku menyayangi keluargaku. Segala tindakan yang kulakukan dan pilihan yang kuambil tidak terlepas dari apa yang ditunjukkan nuraniku. Keputusanku untuk pergi ke Kainaldia saat itu tidak hanya demi merebut kembali Cesia, tapi juga demi mempertahankan keluargaku dan menyelamatkan pria yang sudah menjadi seorang ayah bagiku."

"Kupikir saat itu kau hanya ingin mati," komentar Alfeegi.

"Sebelum penyerangan Dragon Castle, benar, aku memang ingin mati. Demi kepuasanku sendiri untuk mendapatkan kebebasan, apapun bentuknya. Kupikir hanya kematian yang bisa memberikanku ketenangan, tanpa memikirkan apa kira-kira yang akan dirasakan oleh orang disekelilingku. Karena aku merasa terkurung, dan merasa takut kalau-kalau aku akan mengulangi kesalahan di masa lalu," kataku. "Seperti apa yang tertulis dalam salah satu buku di tempat ini, 'jika keberadaan hidupku mensyaratkan untuk membunuh orang lain, maka kematian lebih terhormat untukku. Dan jika aku tidak dapat menemukan seseorang untuk membunuhku demi melindungi kehormatanku, aku tidak segan-segan mengakhiri hidup dengan tanganku sendiri, sebelum keabadian datang.'"

"Lantas apa yang membuatmu berubah pikiran?" tanya Alfeegi. "Toh saat melawan Nadil secara langsung dan membunuhnya, kau tetap menghadapi resiko kematian."

"Melihat dampak kekacauan yang sudah kuakibatkan, karena kelemahanku. Membiarkan Nadil menguasaiku, karena aku tidak punya cukup tekad untuk melawannya. Aku melihatnya membunuhmu, dengan tanganku. Kudengar dia menyelesaikan kutukannya pada Lord Lykouleon, dengan mulut dan suaraku. Aku juga tidak berdaya mencegah Kaistern menyerahkan hidupnya untukku," jawabku. Aku berhenti sejenak untuk menarik napas, sambil memejamkan mata, berusaha menelan kembali segala kegetiran yang telah kuungkapkan.

Meskipun jaman sudah berubah. Saat kedamaian menjelang, menutup bayangan masa lalu yang kelam. Saat generasi baru hanya bisa membayangkan masa lalu melalui buku sejarah dan kisah lisan, sedangkan orang-orang yang lebih tua menyimpan kenangan pahit mereka sendiri.

Alfeegi terdiam.

"Aku tahu resiko yang kuhadapi saat pergi ke Kainaldia. Pada akhirnya aku tahu pecahan jiwa Nadil tertanam pada diriku. Tidak ada jalan lain. Aku sempat menyerah saat itu," kataku. "Solusi manapun yang terbaik akan kuambil. Baik dengan hidup atau mati, asal bisa melindungi apapun yang berharga bagiku."

Alfeegi tersenyum. Senyum seseorang yang telah berhasil menyelesaikan hitungan dengan rumus yang sulit.

"Jika saja hatimu masih peka dengan ketakjuban, menyaksikan kegaiban yang terjadi sehari-hari dalam kehidupan. Maka derita dari rasa pedih itu tak kurang menakjubkan ketimbang kebahagiaan. Dan engkau pun akan ridha menerima pergantian masa dalam hatimu, laksana engkau senantiasa ridha menerima silih bergantinya masa, yang merayapi sawahmu, semusim datang dan semusim lagi pergi. Meski agak pilu, maka engkau pun akan tenang memandang turunnya hujan salju yang mengiris dingin. Kala musim dingin tiba, sebagai tetamu yang menyinggahi hatimu..."

"Hakikat Derita," sahutku sambil tersenyum.

Alfeegi mengangguk. "Tentu saja. Sejak dulu kau banyak melewatkan waktumu di tempat ini."

Aku tertawa. "Berhubung kau dan Ruwalk selalu bilang aku tidak boleh ngeluyur di luar tembok Dragon Castle. Apa boleh buat. Aku toh payah dalam permainan seperti yang biasa Thatz lakukan," aku mengangkat bahu. "Tempat ini jadi pilihan terbaikku untuk melewatkan waktu luang."

"Iya. Tapi kau juga selalu cari cara untuk keluar dari Dragon Castle," sahut Alfeegi.

"Iya sih." Aku nyengir pada Alfeegi.

"Kau memang mirip dengan Lord Lykouleon," kata Alfeegi, lalu dia mendesah.

"Memang banyak yang bilang begitu. Tapi selama ini aku selalu bertanya-tanya dimana miripnya," kataku sambil membalik halaman buku yang sedang kubaca.

"Bertanyalah pada orang yang paling mengenal Lord Lykouleon, orang yang paling dekat dengannya," kata Alfeegi.

"Lady Raseleane?"

"Ya."

Dulu Lady Raseleane pernah mengatakan suara langkah kakiku mirip dengan suara langkah Lord Lykouleon. Lalu sebelum itu, saat Lady Raseleane hendak meninggalkan Dragon Castle, beliau memelukku dan berkata bahwa aku dan Lord Lykouleon telah menjadi satu.

"Kau tidak mau memberikan jawabannya padaku?" tanyaku

"Kau sendiri yang harus mencari tahu dan memahaminya, Rath," jawab Alfeegi.

Aku terdiam menatapnya. Yang terlintas di benakku adalah mungkin ini saat yang tepat bagiku untuk menanyakan tujuan kedatangan Alfeegi kemari.

"Hmm... Baiklah. Kalau begitu bisakah kita langsung ke pokok permasalahannya?"

"Pokok permasalahan?" tanya Alfeegi.

"Aku tahu kau dan temanmu sering berada di Dragon Castle akhir-akhir ini. Karena aku diam, bukan berarti aku tidak melihatmu. Aku menunggu saat yang tepat untuk menyapamu."

"Jadi kau sudah tahu?" tanya Alfeegi asal-asalan. Nada formalnya sudah menghilang.

"Tentang kenapa kalian disini? Yeah, aku tahu. Sudah lama aku tahu. Lalu kapan?" Aku meraih sebuah buku tentang legenda Arthurian dan membukanya sambil menunggu jawaban Alfeegi.

Alfeegi terdiam.

"Jadi masih rahasia, ya? Kau tidak mau memberitahuku," ujarku tanpa memandang Alfeegi.

"Apa yang terjadi dengan pernyataan bahwa kau sudah belajar?" kata Alfeegi akhirnya. "Apa hidup tidak cukup baik bagimu, Rath?"

Aku terhenti sejenak mendengar pertanyaan Alfeegi, berusaha mengendalikan perasaanku yang mulai terusik. Kuamati sebuah ilustrasi di buku – pemakaman Lady Elaine, jenazahnya berada di dalam sebuah perahu yang dihanyutkan di danau – sambil menyusun jawaban.

"Aku sudah mendapatkan kesempatan hidup yang normal. Aku sangat bersyukur untuk itu. Tetapi ternyata aku tidak bisa merasakannya dengan cukup baik."

"Ini karena Cesia kan?"

Pertanyaan Alfeegi seperti ranjau yang tiba-tiba meledak. Luka itu kembali berdarah. Tapi aku tetap berusaha menjaga sikap. Aku mendongak pada Alfeegi. "Kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Kapan?" Aku menolak menjawab pertanyaan Alfeegi dan mengajukan pertanyaanku sebelumnya yang memang belum dijawab.

Alfeegi mendesah. "Segera," jawabnya. "Kau juga belum menjawab pertanyaanku."

Aku tersenyum padanya. "Soal itu…. Kurasa aku tidak perlu menjawabnya."

Jawaban Alfeegi saat itu sangat tidak jelas. Selain 'segera', jawaban lain yang dikatakannya sebelum pergi hanya 'kau akan tahu kapan'. Aku hanya bisa memakluminya karena jawaban yang kuminta sudah pasti dirahasiakan.

"My Lord? Ayah?"

Aku mengedip, bangun dari lamunan. Estelle memandangku dengan bola mata ungu yang besar, dia mencondongkan badannya kearahku.

"Ya, Estelle? Kau mau tanya sesuatu?" tanyaku sambil kembali menata pikiran.

"Tidak," tukasnya. "Ayah bengong. Bagaimana Ayah bisa kerja kalau melamun terus?"

"Aku kan tidak sedang bekerja," kilahku.

"Iya sih….. Sudahlah, aku akan belajar menyulam bersama Galsuenda," kata Estelle.

"Estelle."

"Ya?"

"Adakah seseorang yang kausukai?" pertanyaan konyol itu tiba-tiba saja keluar dari mulutku.

"Hah? Kenapa Ayah menanyakan itu?" seru Estelle kaget. Wajahnya merona.

"Er…" Aku tidak tahu harus berkata bagaimana. Kurasa wajahku juga merona. Mungkin masih terlalu awal menanyakan hal ini pada Estelle. Kalau diingat kembali, saat masih seusia Estelle, aku juga tidak begitu mengerti tentang cinta. "Aku hanya bertanya….," jawabku panik. Sungguh bodoh mengajukan pertanyaan itu.

"Aku masih ingin banyak belajar sebelum memikirkan apa yang Ayah tanyakan."

Entah kenapa aku merasa lega mendengar jawaban Estelle.

Estelle mulai mengumpulkan buku-bukunya. "Baiklah, kalau begitu…."

"Tunggu, Estelle."

"Ada apa lagi?" Tangan Estelle terhenti. Dia memandangku dengan tatapan was-was.

"Sebelum kau pergi, ulangi Sepuluh Kebajikan Raja yang sudah kuajarkan tempo hari."

Estelle mendesah dan memutar bola mata.

"Estelle, aku belum mendengarmu."

"Oke, oke," kata Estelle bosan. "Paricaga; rela berorban. Ajava; tulus hati. Dhana; menyantuni. Tapa; bersahaja dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Susila; berperilaku luhur-mulia. Madava; ramah-tamah. Akrodha; mampu mengelola emosi. Kanthi; sabar. Avirodhana; tidak melakukan tindakan yang dapat menimbulkan permusuhan. Avihimsa; tidak kejam." Estelle mendesah lagi. "Apa dulu kakek juga menyuruhmu membaca buku membosankan itu, menyuruhmu menghafalkannya dan mengatakan hal-hal yang filosofis?"

"Aku tidak akan mengatakannya padamu," kataku, setengah menggodanya.

Estelle langsung merengut. Sementara aku tertawa melihat ekspresinya.

Lord Lykouleon tidak pernah secara langsung menyuruhku mempelajarinya. Meskipun tanpa kusadari, aku telah mempelajari banyak hal darinya. Setelah aku kembali dari Kainaldia, berharap dengan kemenangan yang telah diraih maka aku akan bisa bertemu dengannya lagi. Tapi ternyata dia sudah tidak ada. Ruwalk memberikan sebuah buku – yang dulu sekali sudah pernah kubaca sambil lalu pada jam-jam belajar – dan sebuah surat dari Lord Lykouleon. Pernyatan sesal karena dirinya tidak sempat mengajariku hal-hal yang harus kulakukan ketika menggantikannya memimpin negeri ini – hal-hal yang sudah diajarkan Dragon Lord sebelumnya secara turun-temurun.

"Pahami maknanya. Kelak kau akan membutuhkannya," kataku.

"Sebenarnya apa sih gunanya menghafal dan mempelajari itu semua? Maksudku, umurku lima belas tahun, Yah," kata Estelle. "Aku belum…."

"Aku tahu. Tidak ada ada salahnya kau mempelajarinya sekarang."

Estelle mengumpulkan buku-bukunya sambil cemberut. Dia menyibakkan rambut hitam panjang yang bergelombang ke belakang punggungnya, dan mulai beranjak. Satu tangannya memeluk buku-buku, dan satu lagi meluruskan gaunnya yang berwarna biru muda.

Estelle menarik kenop pintu hingga terbuka. "Sampai nanti, Yah," ujarnya.

"Sampai nanti, Estelle," sahutku sambil tersenyum.

Kemudian dia menyelinap pergi, membiarkan pintu sedikit terbuka.

Kupindahkan beberapa dokumen diatas meja ke lemari arsip. Kemudan aku menutup pintu. Tiba-tiba aku teringat pada buku agenda lamaku. Aku merindukan coretan-coretan dan gambar-gambar yang ada di dalamnya. Kubuka laci yang berada di depan jendela. Kuselipkan tanganku dibawah beberapa folder untuk menarik keluar buku agenda yang berada di dasar laci.

Kuusap permukaan sampul kulit berwarna hitam yang usang. Hatiku gentar untuk membukanya. Bagaimanapun, kenangan manis yang tertulis di dalamnya akan tetap menoreh luka lama.

Bertahun-tahun lalu, kuputuskan untuk bangkit dari keterpurukan. Menyegel semua kenangan itu, melanjutkan hidup demi keluarga dan tanggungjawab yang tidak bisa kuabaikan. Aku berusaha untuk mencintai lagi, namun apa yang kurasakan sangat berbeda dengan yang dulu.

Pandanganku menerawang keluar jendela, kearah taman. Seorang bocah laki-laki kecil berumur tujuh tahun dengan rambut cokelat dan bola mata berwarna ungu yang sama seperti saudarinya – puteraku, Alaric – memegang sebuah pemukul, berusaha menghantam sebuah bola tangan yang dilempar oleh seorang prajurit naga. Bola itu meleset dari pukulannya, ia cemberut karena kecewa. "Sekali lagi!" seru bocah itu.

Alaric menoleh kearahku, senyum lebar mengembang di wajahnya yang lugu. Ekspresinya cepat sekali berubah. Dia melambai padaku. "Halo, Ayah!" serunya.

Beberapa prajurit naga yang bersamanya membungkuk hormat.

Aku balas melambai dan tersenyum pada mereka. "Berkonsentrasilah pada bolanya!" seruku pada Alaric.

"Oke, Yah", seru Alaric sambil menujukkan pose bersemangat dengan mengacungkan jempol.

Kemudian aku membawa agendaku ke meja kerja.

Kupandangi dengan waspada agenda itu seakan benda itu akan meledak dan menembakkan ribuan paku. Aku bertopang dagu mempertimbangkan tindakanku. Ini konyol. Semestinya aku sudah lebih kuat dari sebelumnya.

"Cesia…" Selama bertahun-tahun, nama itu tidak pernah kubiarkan lolos dari bibirku. Nama itu menimbulkan sensasi senang yang aneh dan kerinduan pekat yang tidak bernama. Seperti mengucapkan nama kampung halaman, perasaan yang ditimbulkannya dapat menunjukkan ekspresi dari sisi lain seorang manusia.

Tanganku gemetar ketika menyentuh ujung sampul agenda. Lalu kubuka dengan cepat secara asal-asalan. Agenda terbuka di bagian tengah. Kertasnya yang sudah menguning menunjukkan rincian jadwal kegiatanku pada suatu hari di bulan Oktober. Pada halaman berikutnya terdapat beberapa coretan; ada gambar kepala kelinci beserta balon kata dengan tulisan 'Ayo semangat!', dan ada pesan pendek dengan tulisan kecil-kecil yang rapi 'Aku suka buku puisi yang kautunjukkan padaku kemarin, walau isinya terlalu sedih'.

Aku ingat buku itu. Buku yang berisi kumpulan puisi yang suram. Walau demikian, Cesia menyukainya.

Malam itu, ketika aku tengah melamun di balkon kamar, Cesia masuk ke kamarku sambil membawa buku itu, walau dia sudah mengenakan gaun tidurnya. Aku hendak masuk dan menghampirinya, tapi dia hanya mengacuhkanku, duduk di ujung ranjang dan mulai membuka buku itu. Kuputuskan untuk tetap berada di tempatku.

"Sampai kapan kau mau membaca buku itu?" tanyaku.

Cesia mengangkat mukanya, ekspresinya agak aneh; wajahnya menunjukkan kekaguman, tapi sorot matanya sendu. "Kau yang menunjukkan buku ini padaku. Apa yang kauharapkan akan kulakukan?"

"Kau bilang ingin membaca sesuatu yang menarik, kan. Mungkin lain kali kuberikan saja buku dongeng padamu," sergahku agak jengkel atas sikapnya yang acuh.

Cesia tertawa. Dia menatapku penuh arti. Aku mendengus kesal. "Kau tahu bahwa buku yang pernah kubaca adalah buku-buku tentang sihir dan semacamnya. Pertama kalinya aku membaca buku seperti ini." Cesia menutup buku itu.

"Kau menyukainya?"

"Yeah…. Indah sekali. Aku tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya. Puisi-puisi ini sangat menyentuh, begitu dalam, sedih dan kelam. Membuatku ingin menangis," kata Cesia. Dia bangkit dan menghampiriku. "Seperti dirimu. Puisi-puisi itu memiliki warna yang sama denganmu."

Aku berpaling darinya, merasa jengkel, walau mestinya aku tidak perlu merasa demikian karena Cesia sudah tahu semua tentangku. "Apa-apaan itu..."

Pada halaman berikutnya, pada celah kosong di bawah halaman terdapat ilustrasi sederhana yang menggambarkan aku yang sedang berada di ruang rapat, komentar di samping ilustrasi itu tertulis dengan huruf yang lebih kecil dijejalkan di halaman kosong yang tersisa 'Aku tidak suka dengan tampangmu yang datar begitu'.

Sesuai dugaanku, walau indah, bagaimanapun kenangan ini akan melukaiku lagi. Agenda ini yang merupakan dokumentasi pribadiku, bukti keberadaanku yang utuh di masa lalu. Aku ingin menyentuhnya untuk terakhir kali, untuk menyempurnakan ingatanku akan dirinya, untuk merasa utuh kembali walau hanya sekejap, meski fantasi itu akan membangkitkan kerinduan yang teramat pahit.

Perasaan itu muncul lagi, seperti sesuatu yang melubangi dada, membuatku tercekat dan susah bernafas. Aku menelungkup diatas agenda sambil terisak. "Cesia… Ikatan ini terlalu erat….. Aku tidak bisa….."

Semua makin terasa buruk saat rasa bersalahku pada Ophelia mulai bercampur jadi satu.

Aku yang telah hancur. Dan seorang wanita yang menawarkan cintanya padaku, rela menungguku selamanya. Aku telah melukainya selama bertahun-tahun ini. Perasaanku pada Cesia dan perasaanku pada Ophelia terasa begitu berbeda. Aku telah menyerahkan segalanya pada Cesia, sehingga aku tidak akan pernah mampu memberikan apa yang layak diterima oleh Ophelia.

Aku sadar selama ini aku tidak pernah mampu bangkit dari keterpurukan. Aku tidak pernah berhenti jadi seorang pembohong besar, selalu menipu diri dan orang-orang di sekelilingku.

"Lady Ophelia pasti akan sedih bila melihatmu seperti ini."

Aku kaget bukan main ada yang memergoki. Kuhapus air mata yang tersisa dan bangun dari posisi menelungkup.

Ruwalk berdiri di samping pintu sambil memegang sebuah folder berwarna kuning, memandang prihatin kearahku. Aku tidak pernah suka bila ada orang yang memandangku dengan tatapan seperti itu.

"Aku tidak mendengarmu masuk," ujarku, berusaha menunjukkan sikap yang wajar.

"Kau terlalu sedih untuk mendengarku masuk," tukas Ruwalk sambil menghampiriku.

Aku terdiam.

Ruwalk mengulurkan folder di tangannya. Kuterima folder itu dan meletakkannya diatas tumpukan folder lain diujung meja.

Ruwalk duduk di kursi di depanku. "Itu laporan keuangan bulan ini", ujarnya.

"Aku tahu," jawabku asal.

"Sudah kusampaikan salam darimu pada Lady Raseleane."

Aku baru ingat Ruwalk tadi siang baru kembali dari Aalish Castle untuk mengunjungi Lady Raseleane, dan mengunjungi Cernozura.

"Terimakasih. Bagaimana kabar Lady Raseleane?" tanyaku. "Dan bagaimana kabar Cernozura?" tambahku cepat.

Sekilas kulihat wajah Ruwalk yang memerah. Tidak ada yang berubah darinya sejak bertahun-tahun lalu. "Baik-baik saja. Maksudku Lady Raseleane baik-baik saja," jawab Ruwalk. Tanpa sadar dia memainkan ujung salah satu pena bulu yang tergeletak di meja kerja. "Cernozura juga baik." Ruwalk tampak salah tingkah. Cepat –cepat diletakkannya lagi pena bulu itu begitu dia sadar apa yang dilakukannya.

Aku berusaha menahan tawa melihat tingkahnya, hanya bisa menyeringai alih-alih tertawa. "Syukurlah kalau begitu." Aku nyengir puas, lega mendengar kabar baik.

"Lady Raseleane…. Beliau sangat khawatir padamu," kata Ruwalk. "Astaga, kau tampak seperti vampir," tambahnya pelan.

"Aku baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," tukasku acuh.

"Kau selalu berkata demikian," desah Ruwalk. "Kau begitu mirip dengan Lykouleon…."

"Mungkin karena aku bagian dari darah dagingnya….."

"Yeah…." Ruwalk tersenyum, senyum yang sama dengan yang selalu dia berikan untuk Lord Lykouleon. "Apa kata Avis Lara kemarin?" tanya Ruwalk dengan nada khawatir.

"Dia bilang aku baik-baik saja," jawabku santai.

"Kau membuat kesepakatan dengan Avis Lara?" tanya Ruwalk curiga

"Tidak," sanggahku cepat-cepat.

Aku memang tidak ingin membuat kesepakatan apapun dengannya. Aku tidak ingin terhubung dengannya lagi di masa mendatang. Jadi aku hanya mengatakan satu permintaan padanya; seandainya terjadi sesuatu, aku ingin dia membiarkanku pergi.

Ruwalk mendesah. "Semua khawatir padamu, Rath. Mereka menyayangimu. Lady Ophelia sangat mencintaimu."

"Aku tahu," jawabku muram. Justru karena aku menyayangi keluargaku, sebaiknya aku pergi dengan cara pilihanku sendiri. Aku tidak ingin membebani mereka dan membuat mereka terluka. Kualihkan pandanganku keluar jendela untuk menghindari tatapan khawatir Ruwalk – Alaric sudah tidak ada disana.

"Aku tahu kau tidak mencintainya. Tapi bukan berarti kau bisa mengacuhkannya demikian."

"Bukan begitu," sergahku cepat. "Aku hanya tidak ingin melukainya lebih jauh lagi. Aku tidak ingin membuatnya menanggung beban yang seharusnya jadi milikku."

"Kau masih sama keras kepala seperti dulu, Rath", kata Ruwalk pelan. Ia mendesah lagi. "Kalau itu keputusanmu, aku akan mendukungnya. Tapi kuharap kau bisa mempertimbangkannya lagi."

"Thanks. Kau memang sahabat Lord Lykouleon ya," kataku sambil nyengir.

"Hah? Apa maksudnya itu?" tanya Ruwalk bingung.

"Hahahaha… Lupakan saja deh," ujarku. "Lalu kapan kau mau menikahi Cernozura? Kasihan kalau dia menunggumu hingga selama ini. Kau tega sekali padanya."

Ekspresi Ruwalk berubah drastis, kaget bercampur malu. "A….a…..a…." Tampaknya dia kehilangan kata-kata.

"Kapan?" desakku. Aku nyengir lebar.

Ruwalk akhirnya berhasil mengendalikan diri walau wajahnya masih memerah. "Aku masih terlalu sibuk untuk memikirkan itu."

"Oh, maafkan aku. Aku bisa memberimu libur…"

"Bukan itu maksudku," tukas Ruwalk cepat. "Aduh, ternyata kau sama sekali tidak berubah," gerutu Ruwalk.

Aku tergelak menanggapinya. "Kau juga. Tahu tidak, kupikir Ruwalk akan terlihat lebih tua. Berapa umurmu?"

"Astaga…" Ruwalk tampak bingung untuk menjawabku.

"Oke, aku mau pergi dulu. Aku sudah memeriksa semua dokumen yang datang hari ini, menandatangani beberapa diantaranya. Semua ada di situ," aku menunjuk tumpukan folder diujung meja.

Kutinggalkan Ruwalk yang masih linglung di kantor.

Hari belum gelap, berarti Ophelia masih sibuk menyulam dan merajut seperti biasanya di balkon. Aku ingin menemuinya, meski aku selalu bingung apa yang harus kukatakan setiap kali bersamanya.

Aku berpapasan dengan Bierrez yang sedang membawa setumpuk dokumen di koridor. Dia selalu bad mood setiap kali bertemu denganku. Aku tahu dia marah karena Cesia meninggal.

"Banyak sekali," komentarku.

"Rune menyuruhku membawanya ke kantormu, karena dia sedang sibuk dengan kedua ceweknya," paparnya jengkel.

"Mau kubantu?"

"Tidak perlu," tukasnya ketus. Kemudian Bierrez berlalu sambil menggerutu tidak jelas tentang Rune.

Kupandangi dia, khawatir dia terjatuh karena pandangannya terhalang tumpukan dokumen yang dibawanya.

"Oh ya, Bierrez…."

"Apa lagi?" tanya Bierrez. Wajahnya tampak benar-benar jengkel ketika berbalik.

"Maaf ya." Aku tersenyum padanya.

Sudah lama aku ingin mengucapkan kata itu padanya dan – kalau bisa – pada setiap orang yang mungkin pernah kusakiti. Begitu banyak kesalahan yang sudah kubuat pada orang-orang di Dragon Castle, bahkan mungkin seluruh Dusis. Dosa-dosaku sungguh teramat besar.

Bierrez melongo memandangku. "Untuk apa?"

Aku hanya nyengir padanya. Lalu aku meninggalkannya.

Aku kembali berjalan. Berbelok ke salah satu koridor panjang di samping taman. Jendela-jendela tinggi di sepanjang koridor menampilkan pemandangan di taman. Matahari sudah mulai condong ke barat, sinarnya menembus kaca jendela dan menimbulkan berkas-berkas cahaya diatas lantai pualam.

Di salah satu jendela tampak Gil yang sedang berdiri di samping sebuah kolam ikan, di tangannya terdapat stoples yang berisi butiran-butiran makanan ikan. Ringlice melayang-layang disamping Gil.

Di jendela lain, tampak Thatz yang sedang bertengkar dengan Kitchel. Tetheus berdiri diam diantara mereka. Ekspresinya tampak senewen, mungkin dia sudah capek melerai Thatz dan Kitchel setiap kali dua mantan 'pencuri terhebat Dusis' itu ribut.

Aku pasti akan merindukan semua ini, pikirku.

Koridor berakhir di sebuah ruangan besar di samping aula. Seperti kebanyakan ruang lain di Dragon Castle, dinding ruangan ini penuh dengan lukisan. Di tengah-tengah ruangan, terdapat sebuah tangga besar yang menuju ke lantai atas.

Aku mulai menapaki tangga pelan-pelan. Namun di tengah tangga, mendadak pandanganku kabur, sejenak dunia terasa terjungkir. Aku berpegangan erat pada selusur tangga, bertahan agar tidak jatuh.

"Kumohon, tunggulah sedikit lagi...," kataku lirih pada diri sendiri.

Aku menunggu beberapa detik hingga pandanganku normal sebelum kembali melangkah.

Pintu di salah satu balkon terbuka. Aku tahu Ophelia pasti ada di sana. Sama seperti Cesia, Ophelia suka menghabiskan sore di tempat ini.

Ophelia tidak menyadari kedatanganku. Dia duduk di sebuah kursi, posisinya hampir memunggungi pintu. Pandangannya menerawang jauh. Di pangkuannya terdapat sebuah buku. Sangat tidak biasa, setahuku Ophelia tidak terlalu suka membaca.

"Hai," sapaku.

Ophelia menoleh. Dia tersenyum. "Yang Mulia."

Aku menghampirinya, lalu duduk di kursi di depannya.

"Apa yang membuatmu datang kemari?" tanya Ophelia. "Biasanya Lord Rath enggan datang kemari."

Aku hanya tersenyum menanggapinya. "Tumben kau membaca buku?"

"Aku agak bosan," jawabnya. "Jadi aku mencoba sesuatu yang berbeda dengan membaca buku ini. Kupinjam dari perpustakaan." Ophelia menujukkan buku yang tadi dibacanya.

Aku terperangah. Itu buku yang disukai Cesia.

Ophelia membuka buku itu, jari-jari lentiknya menyapu lembut salah satu halaman. "Puisi di dalamnya sangat menyentuh. 'Dan siapa tidak memendam cinta? Dan siapa tidak riang di rimbun bunga popi? Dan siapa tidak memiliki kuntum api. Selimbur maut, sebuncah takut, yang mencekam walau menyimpan bulu-bulu sayap, walau dihiasi senyum?…'"

"'Mencintai bayang adalah igauan ngeri. Bayang tak pernah mati. Dan cintaku, hanya mendekap segala yang terus mengalir, seolah lava di neraka…'," selaku. "Pengasingan, ya kan?"

Ophelia mengangguk dan tersenyum takjub. Ia mengulurkan buku itu padaku. Aku nyaris memegang buku itu, tapi aku menarik kembali tanganku.

"Lord Rath pasti tadi memikirkan Lady Cesia," ujar Ophelia. Diletakkannya buku itu di tepi meja kecil yang penuh dengan gulungan benang rajutan yang berwarna merah marun, kuning matahari, hijau gelap, dan biru laut.

Aku tergelak. Aku sudah cukup terbiasa dengan komentar Ophelia yang nyaris selalu tepat. Komentar itu selalu sukses membuatku tidak berkutik.

"Aku mengerti. Aku tahu bagaimana sorot mata Lord Rath saat memikirkan Lady Cesia," kata Ophelia. "Itu sorot mata yang sama saat di pernikahan kita".

"Maaf," kataku sambil menunduk, tidak mampu mengucapkan kata lain. Walau aku telah ribuan kali mengatakan 'maaf', rasanya itu takkan pernah cukup.

"Mengapa? Lord Rath tidak perlu meminta maaf. Aku tidak apa-apa."

"Bohong kalau kau bilang tidak apa-apa. Aku tahu kau pasti jengkel….. Karena aku tidak adil padamu. Maaf, aku sungguh-sungguh. Mungkin akan lebih baik kalau aku tidak menceritakan apa-apa padamu saat itu."

Beberapa bulan lalu, aku mengatakan semua rahasiaku pada Ophelia. Waktu itu rasanya seperti melakukan pengakuan dosa. Berbagai macam hal yang kusimpan hanya untuk diriku sendiri; siapa diriku yang sebenarnya, hubunganku dengan Lord Lykouleon dan Lady Raseleane, tentang apa yang kurasakan pada Cesia, dan apa yang mungkin akan terjadi padaku.

Aku ingat malam itu, ketika sinar bulan yang pucat menembus jendela kamarku, dan ekspresi terguncang di wajah Ophelia. Malam itu aku telah menetapkan hati, pasrah, pada segala tindakan dan reaksi yang mungkin akan ditunjukkan Ophelia. Tapi dia hanya terisak dan memelukku.

Ophelia terdiam. Sesaat kusangka dia akan menangis. "Aku mengerti bagaimana perasaanmu pada Lady Cesia, meski saat itu Lord Rath tidak mengatakannya. Dan untuk yang lainnya, kau mengatakan bahwa sebagai istrimu aku berhak untuk mengetahui siapa suamiku. Aku ingin mengenalmu, tidak peduli siapa kau di masa lalu. Aku akan menerimanya, sebagaimana kau menerimaku meskipun aku bukanlah pemilik mata naga. Bagaimanapun aku akan tetap bangga menjadi istrimu. Bagiku, Lord Rath masih sama sempurna seperti pertama kali aku mengenalmu."

Aku terkekeh. "Ternyata benar kata orang kalau cinta itu buta."

Ophelia mengangguk. "Benar. Tapi cinta juga bisa membukakan mata hati pada hal-hal yang tak kasat mata."

"Cinta membuatku bingung," tukasku.

Ophelia tersenyum. "Perasaanku pada Lord Rath tidak akan berubah," ujar Ophelia tulus.

Aku memandang Ophelia dengan takjub melihat ketulusan di matanya dan keyakinan dalam suaranya, seakan semua itu tidak akan pernah pudar darinya. Dia begitu tabah menghadapi segala tindakanku.

Aku terbahak keras. "Hati perempuan ya."

"Hati perempuan?"

"Seorang bijak dulu pernah berkata 'Hati perempuan tidak akan berubah seiring berputarnya waktu dan bergulirnya musim'. Kupikir itu relatif; tidak semua wanita begitu. Tapi untukmu mungkin kata-kata itu benar."

"Ya, aku tidak akan berubah. Salah satu keinginanku sudah tercapai, aku sudah diijinkan untuk mendampingimu. Kusangka keinginanku ini hanya akan jadi fantasiku saja. Aku tahu bahwa aku tidak akan pernah bisa menggantikan Lady Cesia. Tidak akan ada seorangpun yang bisa menggantikan posisinya di hatimu." Ophelia menatapku dengan mata sendu. Dia tampak ingin menangis. "Namun aku ingin jadi seseorang yang bisa mengobati luka di hatimu, untuk membuat jiwamu kembali utuh. Aku ingin kau berbagi segalanya denganku, segala suka-dukamu."

Aku tertegun mendengar kata-kata Ophelia. Terdiam tanpa bisa berkata-kata.

"Bagilah derita itu denganku. Aku tidak ingin kau menanggungnya sendirian. Aku tidak akan tega melihat orang yang kucintai menderita seperti ini." Ophelia menunduk dan mulai terisak. "Kumohon jangan menyingkirkan aku dari hidupmu. Akan kulakukan apapun untuk membuatmu kembali utuh."

Aku masih tertegun, bingung apa yang harus kulakukan. Ophelia tersedu, kedua tangannya berada di pangkuan, jari-jarinya mencengkeram gaunnya yang berwarna merah muda. Aku bangkit dari kursi, lalu berlutut di depannya. Kuulurkan tanganku untuk menyibakkan rambutnya dan menyeka air matanya. Matanya yang berwarna keemasan menenggelamkanku.

"Kumohon maafkan aku," kataku sambil mengusap bulir air mata di pipi Ophelia.

"Aku akan selalu memaafkanmu, Rath." Ophelia memelukku.

"Mengapa kau mau melakukan ini semua?" gumamku.

Ophelia melepas pelukannya. Ia menyeka air matanya, lalu tertawa. Dibelainya bagian yang berwarna merah pada salah satu sisi poniku. "Jawabannya sangat sederhana, sangat sederhana hingga mungkin luput dari pemikiranmu. Tetapi dari dulu kau memang tidak peka ya." Ophelia terkikik geli.

Aku memutar bola mata. "Oke, terserah deh. Lalu apa jawabannya?"

Ophelia tersenyum puas untuk kemenangannya. "Karena aku mencintaimu. Kaupikir untuk apa lagi?"

"Jadi cuma karena itu? Astaga." Aku bangkit dari posisi berlutut, lalu berpaling pada matahari yang berangsur turun menuju tempat peristirahatannya di balik pegunungan.

"Itu wajar, kan. Kau juga pasti rela melakukan apapun untuk orang-orang yang kausayangi." Ophelia mulai mengoceh tentang teori cinta. "Itu naluri makhluk hidup."

"Baiklah, kau menang," kataku. "Aku paling bingung kalau kau sudah mulai menguliahiku tentang semua hal itu. Lebih mudah bagiku untuk memahaminya secara praktis daripada teoritis."

Ophelia tersenyum ingin tahu. "Well, secara praktis, kau sudah mengalaminya. Lalu bagaimana menurut pemahamanmu?"

Aku menyeringai padanya. "Aku tidak mau mengatakannya padamu."

Ophelia cemberut. "Kau masih sama menyebalkan seperti dulu."

Aku tertawa keras.

Kemudian kami saling terdiam. Hanya ada kesunyian; bukan kesunyian yang menyembunyikan seribu kata tak terucapkan yang telah seringkali ada diantara kami, melainkan kesunyian yang menenangkan.

Langit yang putih dihiasi garis-garis mega yang memerah, serupa garis-garis luka di permukaan kulit pucat.

Menit demi menit berlalu hingga hari mulai memudar menuju rembang petang. Matahari nyaris hilang di balik pegunungan, menyisakan rona merah yang membakar langit barat.

"Indah, ya….", kata Ophelia memecah kesunyian.

"Ya," jawabku masih sambil setengah termenung menyadari begitu banyak hal yang gagal kuselesaikan.

"Kuharap kita akan lebih sering menyaksikannya bersama."

"Yeah."

Ophelia terdiam sejenak. "Apa yang terlintas di pikiranmu kali ini? Aku tidak bisa membaca ekspresimu," ujarnya pelan.

Aku menoleh padanya, terkejut campur bingung. Cepat-cepat kutata ekspresiku sambil berusaha mencari kata yang tepat. Kadang hal-hal yang kulamunkan bercampur aduk tidak jelas, sehingga sulit bagiku untuk mengeksplanasikannya secara tepat. Rasanya seperti membuat rumus atau solusi matematis untuk suatu kejadian yang abstrak.

"Aku tidak akan memaksamu untuk mengatakannya," imbuh Ophelia.

"Aku baru saja berpikir tentang putera-puteri kita. Estelle sudah cukup dewasa, well, setidaknya dia mampu berpikir dewasa. Estelle akan mampu menjadi pembimbing yang baik bagi Alaric – selain dirimu, tentu saja. Kau akan selalu menjadi pembimbing yang baik bagi mereka berdua. Akan ada banyak hal tentang mereka yang kulewatkan. Tapi aku akan puas hanya dengan mengetahui bahwa mereka akan baik-baik saja….."

"Tentu mereka akan baik-baik saja," potong Ophelia. Ophelia berdiri dan meraih wajahku dengan kedua tangannya sehingga aku bisa menatap langsung dalam matanya. "Tolong hentikan. Kumohon berhentilah berbicara seolah…" Ophelia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.

"Ophelia, aku…."

"Kau tidak akan meninggalkan aku, kan? Iya kan, Rath? Kau tidak akan meninggalkan keluargamu, kan?" tuntut Ophelia.

"Tidak," jawabku. Aku tidak punya jawaban lain selain jawaban ambigu itu. Aku memeluk Ophelia. Mungkin saat itulah pertama kalinya aku memeluk Ophelia seperti itu; memeluknya dengan perasaan yang tidak akan bisa kuterjemahkan.

Ophelia gemetar dalam pelukanku.

"Maaf, Ophelia. Maafkan aku untuk segalanya," bisikku di telinganya.

"Jangan. Jangan katakan itu. Bukan kata 'maaf' yang kuinginkan," kata Ophelia dengan suara yang bergetar. Dipeluknya aku dengan erat.

Kulepas pelukanku dan berusaha melepas pelukan Ophelia. "Ophelia," kataku sambil berusaha mendorongnya.

"Aku tidak mau," tukasnya panik masih dengan lengan yang masih melingkar di leherku.

"Jangan berlebihan, Ophelia. Aku tidak akan kemana-mana."

Pelan-pelan Ophelia melepaskan lengannya.

"Aku akan memeriksa beberapa dokumen lagi. Tidak akan butuh waktu lama," ujarku. "Kau juga jangan terlalu lama diluar."

Aku beranjak meninggalkannya. Ketika aku berada di ambang pintu, Ophelia memanggilku lagi. Aku menghentikan langkahku.

"Lord Rath tidak akan meninggalkanku, kan?"

Aku menoleh sebentar hanya untuk tersenyum padanya.