Aihhh—Rz keabisan ide, kena WB , banyak tugas dan arrgghhh tetap memiliki tanggungan untuk fict drabble ini ==

Apa fict ini masih bisa dikatakan drabble ya? OAO

/suram

Yosh, silakan menikmati fict abal dengan bahasa gado2 gak bermutu ini ==

/jambak rambut prustasi


.

.

.

Ingatan pertama yang terjatuh dan merembes dalam setiap inci kulitku.

Perlahan melebur saat gesekan kedua terdengar mengaung dari indra pendengaranku.

Senar itu mengalun lirih—membawaku pada fragmen usang yang sekelebat terbayang dalam benakku.

Dan aku kembali terhenyak sekian lama.

Pedih—

Irama itu kembali menari sinis.

.

.

.

.

.

Music Part II

'Violin and Darkness'

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pairing: SasuSaku

Warning: Typo, OOC,AU,abal, gaje, payah,ancur, dll

Genre: Romance/ Angst (?)

Rated :T

Special Thanks to Reviewers and Readers

Dont Like Dont Read, okay!

/ngacungin golok

.

.

.

.

.

Sakura merapatkan jaket biru mudanya saat hawa dingin mulai merasuki pori-porinya. Ia menggigil sedikit, memincingkan pandangannya kemudian mengkerucutkan bibir perlahan saat surai merah jambunya melambai-lambai tertiup angin. Ia mulai merasa jengah saat sinar rembulan mencoba menerangi derap langkahnya yang mengintip dari balik gumpalan awan. Ia mendesah. Mempercepat pergerakannya guna menghindari jalanan yang semakin gelap. Benar. Ia membenci suasana malam. Bukan sekedar takut dengan tahayul-tahayul yang sering Naruto ceritakan padanya, namun lebih seperti—ingin menjauh dari suasana malam.

"Hey—forehead!Tunggu!"Gadis itu membalikkan sedikit kepalanya. Alisnya mengkerut sejenak saat indra penglihatannya menangkap sesosok gadis pirang yang tengah mengayunkan tangan kepadanya. Ia memutar bola malas.

"Bisakau kau tidak membuat masalah sekarang, pig? Aku sedang tidak ingin ribut denganmu—"Sakura kembali melangkahkan kakinya yang sempat terhenti. Tak menghiraukan pendelikan sahabatnya yang tengah menatapnya sebal itu.

"Bukankah kau takut pada kegelapan? Harusnya kau berterima kasih kepadaku karena kini kau memiliki teman di sampingmu agar kau tidak ketakutan lagi seperti bayi,"Sakura melotot. Ino mengejeknya remeh.

"Tarik ucapanmu—aku tidak takut!"Ia menodongkan telunjuknya tepat ke arah hidung gadis bermarga Yamanaka itu. Nampak jelas emerald itu menatapnya gusar.

"Ohoho—jadi sekarang kau mau aku menarik ucapanku sendiri—untuk tidak mengatakan kalau kau tidak takut gelap, huh?"Ino menaikkan sebelah alisnya geli saat melihat wajah cantik Sakura memerah menahan geram. Ia terkikik pelan.

"Aku bilang aku tidak takut!"Sakura menggembungkan pipi sebal, melangkahkan kakinya dengan kesal sembari membiarkan Ino mengoceh tentang dirinya. Gadis blonde itu segera mensejajarkan langkahnya dengan gadis bersurai soft pink di sampingnya.

"Sakura—kau benar-benar harus melupakannya!"Gadis cherry blossom itu tersentak. Maniknya melebar sempurna. Ia menatap tajam Ino yang sedikit bergidik ngeri melihatnya. Alis Sakura bertaut tak suka. Jemarinya terkepal.

"Apa—maksudmu—"Ino menghela napas sejenak. Irisnya menatap lurus emerald yang seolah mengintimidasinya.

"Kau tahu—hal yang membuatmu takut gelap—Sasu—"

"Cukup!"Sakura menutup erat-erat telinganya. Menatap sahabatnya itu dengan dengki kemudian berlalu meninggalkan gadis blonde yang terpekur tak percaya. Alisnya mencuat. Keningnya mengkerut. Ia menggeleng-gelengkan kepala pelan.

.

.

.

Sakura menundukkan kepalanya, ia mengelus dadanya sendiri dengan tersenggal karena ulahnya. Maniknya terpejam sebentar. Deru napasnya bergerak melemah. Ia menahan napas, otaknya kembali memutar ingatan yang paling dibencinya.

"Kalau kau merindukanku—tataplah langit malam tempat bintang-bintang berpijak—"

Sakura merutuk.

.

.

.

"Sasuke-kun, kau sungguh akan mengajariku bermain biola malam ini, bukan?"Sakura menggerutu sembari mendekatkan ponselnya pada indra pendengarannya. Irisnya yang jernih berpencar ke segala arah.

"Kau tahu kan sekarang aku sedang menuju ke rumahmu—"Ucap suara dari seberang. Suara bernada maskulin yang sejenak membuat dada Sakura berdenyut kacau.

"Cepatlah datang Sasuke-kun, kau tahu sendiri kalau aku benci gelap,"Sakura melebarkan irisnya gugup. Nampak jelas helaan napas malas terdengar mengalun melewati daun telinga gadis itu.

"Kau itu sudah dewasa, masih saja takut pada kegelapan—"Sakura cemberut. Pipinya menggembung kesal.

"Berisik!"Yang diseberang hanya berdehem datar. Khas seorang Uchiha.

"Hn,"Sakura berdecak gusar. Ia menjentik-jentikkan jemarinya tak sabar. Berulang kali iris emeraldnya menatap benda bulat berdetak di atas meja belajarnya. Ia mulai menggigit bibir bawah pelan.

"Sasuke-kun—minggu ini adalah konserku—"Sakura menggerakan bola matanya pelan. Menutup kelopak matanya untuk menikmati suasana sepi dalam apartemen kecilnya. Aneh. Meski ia membenci gelap, ia sangat menyukai suasana sepi.

"Kau sudah mengatakannya berulang kali Sakura—apa kau masih belum puas juga? Telingaku sampai tuli mendengar ocehanmu itu—"Gadis bersurai merah jambu itu kembali cemberut. Dilipatnya lengan mungilnya perlahan sembari kilat matanya memancarkan perasaan kesal.

"Kau jahat Sasuke-kun,"Lelaki Uchiha itu hanya menjawab dengan kikikan geli.

"Ah—ini sudah lewat dari jam yang telah kau tetapkan Sasuke-kun. Sudah lebih dari 30 menit, apa kau masih belum sampai juga?"lagi-lagi gadis cherry blossom itu menyiratkan kekesalan.

"Disini macet. Baka,"Sakura mengeluh manja. Ia membaringkan diri di atas ranjang kasurnya yang terasa empuk dan nyaman. Sedetik kemudian keningnya mengkerut rapat. Irisnya bergerak gelisah.

"Hey, Sasuke-kun. Aku takut gelap—"Hembusan napas malas kedua terdengar mengaung dari gendang telinga Sakura. Gadis itu malah menyibakkan surainya angkuh , mengacuhkan nada malas lelaki di seberang telfonnya.

"Nyalakan saja lampu,"Sakura melotot cepat. Ia mengomel panjang lebar kemudian mengkerucutkan bibir kecil. Uchiha Sasuke—yang mendengar omelan Sakura hanya dapat tertawa remeh. Menyebabkan gadis berjidat lebar itu mendelik sebal, setelah puas dengan tawanya, Sakura kembali memejamkan kelopak matanya pelan.

"Hey—Sasuke-kun,"

"Hn?"

"Aku—merindukanmu,"

.

Uhuk!

.

Dan sebuah sedakan tertangkap oleh indera pendengaran Sakura. Gadis itu hanya tersenyum kecil, tak paham bahwa lelaki yang di seberang tengah sedikit tersipu memerah. Kalau saja Sakura tau akan hal itu—sudah pasti lelaki berambut chicken butt itu akan malu setengah mati.

"Baka—"Sakura cekikan. Sejenak kemudian sayup-sayup ia dapat mendengar hembusan napas teratur lelaki di seberang telfonnya.

"Kalau kau merindukanku—"Sakura mengkerutkan alis. Tawanya terhenti seketika.

"Tataplah langit malam tempat bintang-bintang berpijak—sebab disitulah aku selalu memandangmu saat merindukanmu—"Sakura tersentak. Wajah cantiknya kini berubah seperti tomat merah. Kini giliran Sakura yang blushing berat akibat ucapan Sasuke.

Sakura mendesah. Sasuke tau gadis itu akan tersipu—tepat seperti dugaannya. Ia tak pernah salah jika menggoda atau sekedar membuat gadis itu menguarkan semburat merah dari pipi putih bersihnya. Jika saja saat ini Sasuke bisa menyaksikan guratan merah itu menyeruak secara jelas dari iris kelamnya, sudah pasti Uchiha itu akan tertawa terbahak-bahak melihat mimik gadis pemilik iris emerald itu. Sakura mendecakkan lidah kesal. Laki-laki ini memang suka sekali membuatnya salah tingkah. Meski begitu—ia tak bisa menyembunyikan rasa senang yang terpancar dari bibir mungilnya.

"Sasuke-kun, kau benar-benar bodoh. Dasar menye—"

.

Ckit! Brum! Duagh!

.

"—balkan"

.

Deg.

Apa yang? Dada Sakura seolah berhenti berdenyut.

Hey—Sakura tercekat. Bibir munggilnya menganga sedikit—membuat udara di sekitarnya ikut terhirup bersama deru napasnya. Ia mengerja-ngerjapkan kelopak matanya tak percaya. Kaku. Berat. Mencoba menghalau suara berisik yang menggema dari dalam telinganya—menatap kalut pada jam yang terus berdetak tak tentu arah—iris melebar, jemari membeku dan di detik kemudian ponsel yang di dekapnya terhempas meluncur pada permukaan lantai yang dingin.

Sakura mengerang—menangis dengan rakus. Menahan isakan yang mengalun perlahan dari sudut bibirnya. Hanya decit lirih samar suara yang keluar dari bibirnya—menjadi pertanda rasa sakit yang menyerang tubuhnya cepat. Bagai peluru—cepat dan akurat, perlahan merasuk dalam dada Sakura. Membuat iris emerald itu tertutup seketika. Pingsan?

Oh—iris itu bahkan terlalu sulit untuk terbuka. Bulir bening itu masih saja mengalir meski ia sudah menutup rapat-rapat kelopak matanya. Seakan enggan untuk menampakkan iris emerald yang terang, terlalu takut untuk menunjukkan bahwa iris itu telah meredup—merapuh dan hancur perlahan.

Saat itu juga gadis cherry blossom itu mengambil gesekan di sebelahnya, sebuah benda berbentuk panjang dengan benda lain yang lebih besar. Instrumen kah? Sakura bahkan tidak dapat berpikir jernih saat gesekan kedua terdengar mengaung dari benda bernama biola itu. Ia terus menggeseknya, mengesek dan terus melakukan hal seperti itu hingga jemarinya memanas. Ia tak peduli setiap melodi yang terbentuk merupakan melodi yang tak bersua. Tak memiliki irama yang teratur bahkan terkesan seperti irama yang berantakan. Ia menghentikan permainannya saat angin malam menerobos masuk melalui bilik kamarnya. Irisnya membatu dan tatapannya kosong.

"Aku benci gelap—"

Haruno Sakura kembali memainkan sebaris simfoni dari biolanya. Dan setitik cairan transparan seketika itu juga sibuk memenuhi sudut matanya.

.

.

.

.

.

"Karena di saat kegelapan mendatangiku, aku tak dapat meraih tanganmu untuk kembali. Entah mengapa—sosokmu perlahan beranjak menjauh—"

.

.

.

.

.

"Sebab kau sudah tak lagi berada di sisiku, maka tataplah aku—diantara rangkaian bintang yang mengelilingimu—"

.

.

.

.

.

"Hey—Sasuke-kun, maukah sekali lagi, kaumendengar permainanku?"

.

.

.

.

.

*Owari*


Aduh, padahal mau nyantumin efek biola sebanyak-banyaknya tapi beginilah, malah ga kerasa ya huweee QAQ

/nangis sambil salto /heh

Terus maaf ga bisa ngegambarin konflik secara mendetail, karena saya emang payah dalam deskrip selain itu saya berusaha agar fict ini tetap dalam batas 'drabble' tapi yasudahlah =A=

Minta ripiu buat ngelanjutin riders-sama WQAQW